Posts Tagged With: teluk bintuni

Cerita PTT di Teluk Bintuni, Papua Barat (2): Beban Kerja yang Banyak

Keputusan saya bekerja ke Papua dilatarbelakangi oleh berbagai alasan; keinginan untuk “mengabdi” ke Papua sudah ada semenjak di bangku kuliah. Kata mengabdi sengaja saya beri tanda kutip karena makna pengabdian itu luas dan tidak harus ke tempat yang jauh. Dokter yang bekerja di dekat rumahnya atau di kota besar pun memiliki pengabdiannya tersendiri. Saya sendiri memilih jalan pengabdian ke pulau paling timur di Nusantara.

Tidak dipungkiri bahwa Surat Masa Bakti dan Surat Rekomendasi sebagai bekal untuk daftar sekolah spesialis nanti menjadi salah satu faktor pendorong untuk berangkat ke Papua Barat. Namun, faktor terbesar bagi saya ialah keinginan untuk bertualang ke tempat baru, melihat wajah-wajah baru, dan mengenal kebiasaan serta budaya baru. Menurut saya, dengan berpergian hingga ke ujung Nusantara, saya bisa mengenal negeri ini dengan lebih baik. Lagi pula, bukan kah manusia itu seperti air, jika terus diam di satu tempat ia akan menggenang dan menjadi kotor, sedangkan jika terus bergerak ia akan menjadi bersih? Itu sedikit alasan filosofis yang mendorong saya untuk pergi jauh ke timur, heheheh.

Sekilas tentang RSU Bintuni

RSU Bintuni, Khasnya ialah Bangunan UGD di Belakang Poliklinik, Tidak Seperti RS Kebanyakan

RSU Bintuni, Khasnya ialah Bangunan UGD di Belakang Poliklinik, Tidak Seperti RS Kebanyakan

Keinginan mengabdi ke daerah terpencil sekaligus belajar ilmu klinis; kedua alasan itu membuat saya memilih untuk bekerja di rumah sakit. Memang jika ingin merasakan nuansa “mengabdi di daerah terpencil” dan aroma petualangan, puskesmas adalah pilihan yang lebih pas. Namun, belajar ilmu klinis merupakan kebutuhan yang lebih utama sehingga saya pun memutuskan ke RS.

RSU Bintuni adalah rumah sakit milik pemerintah tipe D dan merupakan satu-satunya rumah sakit di Kabupaten Teluk Bintuni. Belum ada rumah sakit swasta yang berdiri di sana, dan setahu saya rumah sakit swasta di Papua Barat hanya ada di Kota Sorong (bahkan Manokwari sebagai ibukota propinsi pun belum punya). Meskipun begitu, saya tidak ragu untuk memberikan apresiasi terhadap rumah sakit ini.

Walaupun RSU Bintuni baru berdiri di tahun 2012, harus diakui bahwa RS pemerintah ini berkembang cukup progresif. Saat ini ia memiliki fasilitas yang lebih baik daripada RSU di Manokwari dan Sorong. Karena terbilang baru, bangunannya pun terlihat modern jika dibanding RSU pada umumnya. Di tahun 2016, RSU Bintuni mendapat akreditasi dari Komite Akreditasi Rumah Sakit dan telah terstandardisasi ISO. Di pertengahan tahun 2016 RS mendatangkan 8 buah alat ventilator yang satu unitnya setara dengan 2 mobil Hilux, kemudian, di akhir tahun, alat pemindai jaringan lunak duduk dengan megah di kamar radiologi, membuat Bintuni sebagai satu-satunya daerah di Papua yang memiliki alat CT-Scan.

Perawatan di RS ini sepenuhnya gratis, tidak peduli apakah pasien punya BPJS, KIS, atau embel-embel lainnya. Begitu pula dengan obat-obatan di farmasi, seluruhnya gratis, baik itu obat generik maupun obat bermerk. Mungkin kita banyak mendengar cerita susahnya dokter UGD bekerja melayani pasien BPJS karena banyak kriteria kegawatdaruratan yang diterapkan oleh BPJS. Saya ingat saat internsip dulu, jika ada pasien rawat jalan datang ke UGD, pasien tersebut tidak boleh diinfus karena jika dipasang—menurut BPJS—pasien tersebut harus dirawat. Jika ketentuan tersebut tidak dipenuhi, BPJS bisa menolak membayarkan klaim, yang berujung kerugian pihak RS. Bagaimana dokter tidak pusing jika tidak bebas bergerak dalam bekerja dan banyak dibatasi? Nah, hal-hal tersebut tidak berlaku di RS ini; pokoknya semua pengobatan dan tindakan yang dilakukan dokter ditanggung, baik oleh BPJS maupun rumah sakit.

Keadaan tersebut membuat para dokter tidak ragu dalam memberikan pengobatan. Di tempat internsip kemarin, perawat sering mengingatkan bahwa pemberian obat omeprazole injeksi bagi pasien BPJS maksimal hanya 3 hari dengan dosis pemberian sekali per hari. Di Bintuni, dokter bebas memberikan obat tersebut berhari-hari dengan dosis 2x/hari. Begitu pula ketika ada pasien yang membutuhkan transfusi albumin yang harga satu botolnya mencapai satu juta rupia, tidak ada keraguan dalam memberikannya, malah pernah ada satu pasien yang mendapat transfusi sampai empat botol, dan itu semua gratis! Masalah muncul ketika terjadi kekosongan obat-obatan tertentu. Karena RSU Bintuni mendapat suplai obat-obatan dari luar (mungkin luar Papua), kadang butuh waktu lama bagi RS untuk memenuhi stok kembali.

Tidak hanya perawatan dan pengobatan, pihak RS juga menanggung biaya trasnportasi jika pasien perlu dirujuk. Masalah yang banyak ditemui pasien miskin jika ingin dirujuk ialah biaya transportasi yang tidak ditanggung karena BPJS hanya meng-cover biaya pengobatan. Pernah satu kali saya merujuk pasien perdarahan otak ke Makassar. Untuk mencapai kota tujuan, pasien harus naik pesawat Susi Air dari Bintuni ke Sorong lalu lanjut naik pesawat Sriwijaya ke Makassar. Yap, biaya pesawat pasien dan satu keluarga pasien yang mengantar—termasuk dokter yang ikut mengantar—dibiayai oleh RS.

Menjadi Dokter Umum

Sistem kerja di RS sana tidaklah jauh berbeda dengan RS lain pada umumnya; hal yang berbeda ialah dokter yang bertugas di UGD merangkap tugas sebagai dokter ruangan. Ini terjadi dikarenakan pihak manajemen memutuskan untuk membatasi jumlah dokter umum di RS. Jumlah dokter umum semenjak saya pertama kali datang hingga selesai masa tugas tetap sama, yaitu 8 orang: 3 orang yang sudah senior di poli umum, poli konsultasi, dan medical check-up, dan 5 orang tenaga kontrak (PTT) di UGD sekaligus bangsal. Keadaan tersebut bisa membuat seorang yang sedang tidak beruntung bolak-balik ke UGD, bangsal, hingga kamar bersalin. Untungnya jumlah pasien bisa dibilang sedikit jika dibandingkan di Jawa.

Menjadi dokter tentu tidak bisa dipisahkan dari berinteraksi dengan masyarakat; saya menjadi tahu bahwa banyak orang asli yang karakternya cukup keras Di Bintuni, untuk melakukan pemasangan infus saja perlu tanda tangan persetujuan informed consent. Kata orang-orang RS, pernah terjadi pemukulan terhadap dokter akibat kesalahpahaman, penusukan jarum infus di tangan dikira tindakan menyakiti pasien. Selain itu, tidak sedikit mereka yang sebenarnya memiliki indikasi untuk dirawat tapi susahnya setengah mati untuk membujuk mereka agar mau menginap di RS. Setelah akhirnya berhasil diyakinkan, 2-3 hari kemudian mereka meminta pulang paksa. Tidak sedikit pula orang tua yang membawa anaknya ke RS karena batuk pilek dan rewel. Setelah dinilai bahwa sang anak mengalami radang paru-paru alias pneumonia, mereka menolak dilakukan pemasangan infus terhadap anak yang berujung pada penolakan rawat inap. Weww, kalau tidak mau dirawat, untuk apa jauh-jauh datang RS? Hahah. Tapi tentu banyak juga masyarakat di sana yang kooperatif dan mematuhi petunjuk dokter dan perawat.

Kasus terbanyak yang saya temukan di Bintuni tidaklah mengejutkan. Seperti yang ditulis di tulisan pertama, HIV dan tuberculosis paru (TB) menjadi 2 penyakit primadona di Papua. Pendidikan yang kurang membuat hubungan seks di luar nikah tidak sedikit dilakukan semenjak mereka masih usia sekolah. Kesadaran akan “hubungan seks aman” yang rendah memperparah penyebaran virus ganas yang membunuh sistem imun manusia tersebut, ditambah lagi adanya bangunan plus plus yang berdiri dengan tenang. Banyaknya angka infeksi paru-paru juga tidaklah mengherankan mengingat kondisi higienitas masyarakatnya yang amat kurang. Beberapa kali di RS ditemukan tuberkulosis dengan resistensi berbagai obat, yang membuat pasien-pasien tersebut harus dirujuk ke Sorong untuk mendapat penanganan dari tim khusus. Ya, minimnya kesadaran untuk patuh meminum banyak jenis obat selama 6 bulan disertai pengawasan yang lemah sudah bisa ditebak.

Selain hal di atas, kebiasaan lain yang sungguh amat disayangkan banyak terjadi di sana adalah mabuk. Masalah utama soal keamanan di Bintuni bukanlah pencurian atau begal; selama setahun di Bintuni saya tidak pernah menemukan kasus begal, bahkan pernah saya parkir motor di depan masjid dengan kuncinya masih menancap di motor, setelah ditinggal setengah jam sepeda motornya masih utuh (tapi tidak untuk dicontoh sih, heheh). Namun, yang banyak terjadi adalah kasus kekerasan, penganiayaan, dan kecelakaan yang dipicu oleh minuman beralkohol. Tengah malam adalah waktu yang umum bagi UGD menerima korban kecelakaan gara-gara pengemudinya mabuk. Pernah satu malam saya menerima empat pasien luka-luka akibat “baku potong” yang semuanya dalam pengaruh alkohol, dan yang membuatnya lebih menyedihkan ialah teranyata salah seorang dari mereka merupakan oknum penegak hukum.

Satu lagi jenis kasus yang cukup sering adalah percobaan bunuh diri dengan minum bayclin. Ketika ditanya, mereka mengaku stres atau tidak tahan dengan konflik yang terjadi di keluarga. Meskipun demikian, kebanyakan mereka meminum bayclin hanya untuk menggertak saja (tidak benar-benar ingin bunuh diri) sehingga jumlah yang diminum tidak banyak, tapi tetap saja perlu mengobservasi mereka dengan ketat kalau-kalau terjadi perdarahan di saluran cerna. Selama satu tahun di Bintuni, total ada empat kasus seperti itu yang saya terima, dengan keempat-empatnya menolak untuk dirawat inap, atau ada yang awalnya mau dirawat tapi berujung ke penandatanganan surat pulang paksa.

Saya sudah menyebutkan bahwa jumlah pasien yang masuk ke UGD rata-rata tidaklah banyak, namun jika sial, ketika sedang mencoba menangani pasien jantung di UGD, perawat di bangsal menelpon karena ada pasien henti nafas, lalu bidan di ponek meminta dokter untuk datang karena seorang pasien di sana sudah melahirkan, yang dilanjutkan permintaan dari perawat perinatologi untuk menuliskan status bayi baru lahir. Yahh, kondisi di atas bisa disebut sangat jarang.

Jumlah pasien RS yang sedikit bukan karena masyarakatnya sudah memiliki status kesehatan yang mapan, tapi karena permasalahan akses ke rumah sakit yang sulit bagi warga Teluk Bintuni yang tinggal di seberang lautan atau di atas gunung. Jika sejawat dari puskesmas di distrik yang jauh ingin merujuk, kadang mereka harus menunggu jadwal kapal, walau banyak juga yang diantar menggunakan longboat milik puskesmas. Selain itu, jumlah pasien yang enggan patuh untuk dirujuk dan lebih memilih pengobatan secara “adat” tidak sedikit. Karena kendala transportasi, bisa saja dokter puskesmas sekali mengirim pasien dalam jumlah banyak. Setidaknya saya pernah menerima 4 pasien rujukan sekaligus dari tempat dan di waktu yang sama.

Komite Medik RSU Bintuni memiliki kebiasaan ilmiah yang baik. Setiap Senin, sang ketua komite medik yang juga merupakan dokter spesialis sangat bersemangat mengajak seluruh dokter di RS untuk mengikuti morning report. Seluruh dokter UGD yang bertugas di hari Sabtu harus membuat satu laporan kasus pasien rawat inap untuk dipresentasikan. Di hari Kamis, dokter jaga secara bergilir diminta untuk membuat case report mengenai kasus menarik yang pernah ditemukan. Weww, repot banget yak? Hahahah….

Morning Report, Kadang-Kadang Sepi

Morning Report, Kadang-Kadang Sepi

Pengalaman yang paling berkesan selama satu tahun di Bintuni tentu adalah ketika merujuk pasien lewat udara. Sebelumnya saya sering mendengar cerita dokter-dokter daerah terpencil yang merujuk pasien menggunakan boat kecil menantang ombak atau pesawat kecil berbaling-baling. Menjelang habisnya masa kontrak kerja, tiba-tiba saya diminta mengantarkan seorang pasien ke Makassar. Umumnya tenaga kesehatan yang mendampingi pasien di pesawat adalah perawat, tapi karena pasien ini mengalami perdarahan otak (berdasarkan hasil CT-Scan) yang sampai menggeser otak dan memiliki kesadaran rendah, pihak dokter di bandara Sorong menginginkan agar pasien tersebut didampingi oleh dokter.

Selama di dalam pesawat, saya berkali-kali membenarkan infus yang macet gara-gara pasien gelisah, juga menyiapkan obat-obatan injeksi untuk dimasukkan sesuai jadwalnya. Walau di surat pengantar dokter penyakit dalam menulis bahwa peluang pasien ini dubia ad malam alias cenderung untuk tidak dapat bertahan, kami berhasil mencapai RSUP Wahidin tanpa kendala berarti. Setelah kembali ke Bintuni, saya mendapat kabar bahwa pemuda yang mengalami perdarahan tersebut telah selesai dioperasi dan dilaporkan kesadarannya meningkat. Alhamdulillah.

Di akhir masa kerja, akhirnya saya mendapatkan surat-surat sakti itu: surat masa bakti dan surat rekomendasi dari rumah sakit. Saya juga mengajukan permohonan surat rekomendasi ke Bapak Bupati, yang dijawab melalui direktur bahwa beliau tidak keberatan namun baru bisa dikerjakan setelah tahun baru. Tentu rasa senang tumbuh, tapi bukan itu yang saya cari di Papua. Ilmu-ilmu klinis yang diajarkan oleh para dokter spesialis merupakan ilmu yang tiada harganya. Bantuan dan kerja sama dari seluruh pegawai RS, juga keramahan mereka, insyaAllah bukan lah hal yang untuk dilupakan. Juga yang paling penting dari itu semua adalah masyarakat dan tanah Papua yang telah banyak memberikan pengalaman dan pelajaran, sesuatu yang tidak akan didapatkan jika saya enggan keluar dari zona nyaman di rumah.

Ketika koas, seorang konsulen berkata, “Jika sudah terlanjur tercebur di kolam, maka berenanglah dengan baik agar selamat.” Saya tidak menyangka masih bisa berenang dengan baik di samudera dunia kedokteran yang sangat dalam dan penuh gelombang ini. Yap, perjalanan saya masih jauh dan ombak yang lebih ganas mungkin sedang menanti. Akankah saya dapat bertahan? Hmm, mungkin itu tergantung jumlah dan kekuatan “bahan bakar” yang saya miliki. Setiap orang memiliki sumber energinya masing-masing untuk menjadi dokter, tapi saya yakin, sumber kekuatan yang paling kuat dari itu semua ialah rasa dan sifat kemanusiaan yang dianugerahkan oleh Tuhan.

Categories: catatan perjalanan, kesehatan | Tags: , , , , , , | 3 Comments

Cerita PTT di Teluk Bintuni, Papua Barat (1): Kota yang Panas

Bekerja sebagai tenaga PTT alias Pegawai Tidak Tetap masih menjadi favorit terutama bagi dokter yang baru lulus atau selesai internsip. Walaupun PTT Pusat sudah dihapuskan oleh pemerintah dan digantikan dengan Nusantara Sehat (NS)—yang mengirimkan dokter beserta tenaga kesehatan lainnya (perawat, bidan, apoteker, dll) untuk bekerja secara tim ke puskesmas di daerah terpencil—masih banyak daerah-daerah terpencil di nusantara yang membutuhkan dokter-dokter tenaga kontrak. Dokter yang sedang PTT daerah sekarang lebih tepat disebut sebagai tenaga kontrak yang diberdayakan oleh suatu daerah. Karena ia berbasis daerah, kebutuhannya pun tergantung masing-masing daerah, apakah mereka sedang membutuhkan dokter atau tidak. Lama kontraknya juga tergantung kebijakan tiap daerah masing-masing, yang biasanya di daerah kategori terpencil mau mengkontrak dokter hanya selama 1 tahun dan daerah kota menuntut dokter untuk kontrak minimal 3 tahun.

Alasan mau bekerja di daerah terpencil tentu macam-macam. Ada yang memang ingin mengabdikan ilmunya ke daerah, tidak sedikit pula yang mengincar Surat Masa Bakti (SMB) dan Surat Rekomendasi Sekolah Spesialis dari institusi daerah. Dengan kombinasi dua alasan tersebut—mengabdikan ilmu dan menginginkan surat sakti—saya pribadi memutuskan untuk sejenak mencari pengalaman ke daerah.

Mencari informasi lowongan kerja PTT daerah harus lah melalui mereka yang pernah bekerja di sana, atau jika beruntung mendapat broadcast di grup messenger. Saya sendiri mendapat informasi lowongan di Bintuni melalui senior yang baru saja pulang dari sana. Berutung, di akhir tahun 2015, RSU Bintuni masih membutuhkan tenagan dokter umum satu lagi.

Menuju Kabupaten Teluk Bintuni bisa melalui dua jalur, yaitu naik pesawat ke Kota Sorong lalu lanjut dengan pesawat kecil Susi Air menuju Bintuni, atau terbang ke Manokwari yang kemudian dilanjutkan melalui jalur udara atau darat.. Saya sendiri lebih suka opsi yang terakhir, yaitu terbang ke ibukota Propinsi Papua Barat lalu lanjut dengan jalur darat ke Bintuni.

Jadwal pesawat ke Papua tidaklah menyenangkan; seluruh pesawat yang terbang ke daerah timur berangkat di waktu dini hari dari Makassar. Jika menggunakan pesawat yang transit dulu di Makassar, penumpang harus menunggu dulu di bandara Sultan Hasanuddin selama 2-3 jam di waktu tengah malam. Di perjalanan pertama ke Bintuni, saya sampai di Makassar jam 12 malam dan menunggu hingga jam 3 pagi untuk melanjutkan perjalanan, dan akhirnya mendarat di Manokwari jam 7 pagi.

Setelah tiba di Bandara Rendani, tugas selanjutnya adalah mencari mobil Toyota Hilux yang memiliki dua gardan. Ya, jika mengintip keluar jendela pesawat saat di atas tanah Papua, kita bisa melihat hampir seluruh pulau masih ditutupi hutan, kontras dengan pulau Jawa yang sudah banyak kota, perkampungan, dan sawah. Pembangunan di Papua masihlah sangat minim; jalur darat antarkota di Papua masih jarang dan jika ada pun kondisinya memprihatinkan. Perjalanan darat ke Bintuni dari Manokwari hanya bisa ditempuh melalui mobil dengan dual gearbox dan berban besar seperti Toyota Hilux, Mitsubishi Strada, dan Toyota Land Cruiser.

Bandar Udara Rendani, Manokwari

Bandar Udara Rendani, Manokwari

Mencari kendaraan ke Bintuni sebenarnya tidaklah sulit karena mobil Hilux yang melayani perjalanan Manokwari-Bintuni jumlahnya ada banyak dan sudah menjadi transportasi umum masyarakat. Untuk mendapatkannya, kita dapat naik ojek dahulu di luar bandara (mengenal tukang ojek di Manokwari gampang karena mereka semua mengenakan helm kuning) menuju pasar Wosi. Kalau membawa koper besar, bisa sewa taksi Avanza seharga 100 ribu, menemukannya pun mudah karena begitu keluar dari bandara, berbondong-bondong orang-orang menawarkan taksi. Begitu sampai di pasar, ada banyak Hilux berjejer dan orang menawarkan transportasi ke Bintuni. Mobil Hilux yang merupakan kendaraan pickup mampu memuat hingga 5 orang termasuk supir, dan tarif perjalanan ke Bintuni sebesar 500 ribu per orang. Bisa juga mobil tersebut dicarter sendiri dengan biaya 2 juta.

Perjalanan dari Manokwari ke Bintuni ditempuh selama 7-8 jam; jika cuaca jelek dan jalanan berlumpur, waktu tempuh bisa lebih lama. Pada saat perjalanan pertama ke Bintuni, saya tertidur pulas akibat tidak bisa tidur sama sekali di pesawat, sehingga melewatkan pemandangan sepanjang perjalanan. Di perjalanan-perjalanan berikutnya barulah saya bisa melihat-lihat apa yang ada di antara Manokwari-Bintuni.

Kondisi jalan dari Manokwari menuju Ransiki, kecamatan utama Kabupaten Manokwari Selatan, beraspal baik. Di beberapa titik bisa terlihat samudera pasifik di sebelah kiri. Biasanya sang supir akan istirahat untuk makan di Oransbari atau Ransiki, dua kecamatan besar di Manokwari Selatan yang banyak dihuni transmigran, sekitar 3-4 jam dari Manokwari. Kalau pernah mendengar isu bahwa harga-harga di Papua lebih mahal, isu itu memang benar; sekali makan di warung singgah itu kena 30 ribu dengan menu nasi dan ayam goreng, jika menunya ikan maka bisa ditarik 50 ribu.

Setelah Ransiki, kendaraan akan mulai menaiki bukit dengan tebing batu yang telah dikeruk, yang orang-orang di sana menyebutnya Gunung Botak. Kadang-kadang, kalau penumpang lainnya setuju, kita bisa minta supir untuk berhenti sebentar di Gunung Botak untuk mengambil foto. Pemandangan laut disertai bukit-bukit yang membentang membuat lokasi itu cukup berharga untuk memenuhi koleksi foto di kamera.

Begitu masuk gunung botak, jalanan mulai rusak, dan tak lama kemudian masuk ke jalanan penuh lumpur yang dikenal dengan Pintu Batu. Jika cuaca sedang kering, mobil tidak akan menemui masalah melewatinya, namun jika sedang hujan, apalagi hujan deras, tidak jarang Hilux pun nyungsep. Truk-truk pengangkut barang dapat terlihat parkir di pinggir jalan; para krunya memutuskan menginap di sana sambil menunggu jalanan kembali kering. Pernah sekali mobil yang saya tumpangi harus ditarik oleh Hilux lain karena tidak bisa melewati genangan lumpur. Keadaan seperti ini lah yang bisa membuat perjalanan menjadi begitu lama.

Toyota Hilux, Kendaraan Primadona Papua

Toyota Hilux, Kendaraan Primadona Papua

Kondisi Jalanan yang Berlumpur dan Licin antara Manokwari-Bintuni

Kondisi Jalanan yang Berlumpur dan Licin antara Manokwari-Bintuni

Pemandangan Gunung Botak via http://www.kompasiana.com/eddypp86

Pemandangan Gunung Botak via http://www.kompasiana.com/eddypp86

Sisa perjalanan ialah melewati hutan yang di beberapa titik ada perkampungan kecil. Melihat kondisi perkampungan yang sepertinya hanya mendapat akses listrik di malam hari dan air bersih yang terbatas membuat saya bersyukur sekaligus prihatin. Kondisi kesehatan penduduknya pasti lah sangat rendah, apalagi Manokwari Selatan adalah kabupaten baru yang belum memiliki rumah sakit. Di balik itu semua, mungkin masih ada masyarakat yang masih tinggal di hutan dan memiliki akses ke fasilitas kesehatan adalah hal yang mewah.

Panas

Itu adalah kesan pertama saya ketika pertama kali menginjakkan kaki di Bintuni. Cukup berdiri saja di tempat terbuka, tanpa berjalan atau ­ngapa-ngapain, langsung rasa lelah mengalir ke seluruh badan seolah habis naik gunung. Pokoknya panas banget lah; panasnya Jakarta ga ada apa-apanya dibanding Bintuni.

Kabupaten Teluk Bintuni merupakan kota pesisir hasil pemekaran dari Kota Manokwati di tahun 2004. Sebagai kabupaten yang baru, pembangunannya masih belum banyak. Kota ini hanya memiliki satu jalan lurus yang membentang dari satu ujung yaitu Kantor Bupati di area transmigran sampai ke arah perbukitan yang entah berujung di mana. Pusat keramaian, atau orang-orang di sana menyebutnya “kota”, ada di daerah dekat dengan pelabuhan atau Km 0, sedangkan  rumah sakit berada di Km 7, ke arah daerah atas atau perbukitan. Karena letaknya, jika pergi ke kota orang-orang akan menyebutnya “ke bawah” sedangkan ke arah rumah sakit mereka menyebutnya “ke atas”. Teluk Bintuni juga menaungi distrik-distrik yang ada di seberang lautan, yang untuk ke sana hanya bisa ditempuh dengan kapal atau longboat.

Dokter PTT tidak perlu khawatir mengenai masalah tempat tinggal karena disediakan mess oleh Dinas Kesehatan yang terletak di Km 5. Karena milik Dinas Kesehatan, sebenarnya mess tersebut diperuntukkan untuk dokter-dokter puskesmas, sedangkan dokter-dokter rumah sakit statusnya menumpang. Namun, karena puskesmas lokasinya jauh-jauh sehingga dokternya pun harus tinggal di puskesmas, mess sehari-hari lebih banyak digunakan oleh dokter rumah sakit. Sekali-sekali dokter puskesmas “pulang” ke Bintuni untuk membuat laporan, pelatihan, atau sekedar melepas kejenuhan, tapi setelah seminggu mereka kembali ke distrik. Jadi, yah, fasilitas mess seperti dapur dan TV serasa dimiliki oleh dokter rumah sakit. Sayangnya, Km 5 merupakah daerah yang belum ter-cover sinyal 3G alias masih 2G (sinyal yang ada di Teluk Bintuni hanyalah dari provider Telkomsel). Daerah yang penduduknya bisa internet-an dengan baik adalah di dekat Puskesmas hingga masjid besar, di Km 1 dan 0.

Mess Dokter, Belakang Dinas Kesehatan

Mess Dokter, Belakang Dinas Kesehatan

Tidak sulit mencari makanan di Bintuni; “kota” merupakan tempat yang paling banyak warung makan. Para tukang jualannya kebanyakan ialah orang Jawa yang menjual lalapan ayam goreng, ikan goreng, tempe/tahu penyet, dan nasi goreng. Ada juga warung milik orang Bugis dengan menu coto dan konro. Harganya? Yup, sama seperti di tempat singgah tadi, yaitu 30 ribu/porsi. Tapi tidak perlu khawatir soal pengeluaran untuk makan karena selain besaran gaji dokter umum yang cukup untuk meng-cover biaya hidup di Papua, RS juga menyediakan nasi kotak bagi dokter yang bertugas. Kadang-kadang penghuni mess memasak sendiri kalau sudah bosan dengan makanan di luar yang itu-itu saja.

Makanan khas Papua adalah sagu yang direbus kemudian didinginkan, yang disebut dengan “papeda”. Makanan tersebut berkonsistensi kenyal seperti lem kanji, biasanya dimakan dengan ikan kuah kuning. Walau merupakan makanan khas, papeda ikan kuah kuning jarang dijual di warung dan biasanya merupakan makanan yang disajikan jika ada acara hajatan, itu pun tidak sering. Kebanyakan tempat makan di Bintuni menjual makanan seperti yang disebutkan tadi, nasi lalapan khas orang Jawa.

Papeda

Papeda

Papeda Dimakan Bersama Ikan Kuah Kuning

Papeda Dimakan Bersama Ikan Kuah Kuning

Selain makanannya yang kurang variatif, di Bintuni juga tidak ada hiburan sama sekali. Jika mengetik kata “Teluk Bintuni” di Google Maps, terlihat titik biru di tepi “mulut atas” pulau Papua yang berdekatan dengan laut. Wah, dekat laut! Tapi jangan terkecoh, jika di-zoom, bisa dilihat daratan-daratan dekat laut itu dibelah-belah sungai. Yap, di Bintuni tidak ada pantai dan tidak ada laut, yang ada hanyalah sungai. Pelabuhan di Bintuni pun berukuran kecil karena merupakan pelabuhan sungai. Tidak ada juga lokasi-lokasi menarik lain untuk dilihat. Jadi, yah, satu tahun terasa sangat lambat di Bintuni karena rasa jenuh.

Setelah beberapa minggu tinggal di sana, saya pun mulai mengenal dan memahami karakter orang Papua. Hal pertama yang saya notice adalah orang Papua tidak suka bersawah dan beternak. Pola pikir hidup yang sederhana membuat mereka lebih senang berburu rusa di hutan, membuat daging rusa lebih mudah ditemukan di pasar dan warung daripada daging sapi. Selain berburu, masyarakat di sana juga banyak berkebun pisang sehingga harga pisang di sana murah-murah. Masyarakat asli sana juga tampaknya tidak memiliki passion untuk berdagang atau berwira usaha, terlihat dari para pemilik warung dan toko yang hampir semuanya adalah pendatang. Keadaan seperti itulah yang membuat pendatang—kebanyakan dari Jawa dan Sulawesi—berperang penting dalam roda perekonomian di Bintuni.

Tentu saja kualitas pendidikan sangat jauh jika dibandingkan dengan di Jawa. Tampaknya kesadaran untuk sekolah pun masih belum tinggi; saya pernah mendengar cerita dari pengurus sebuah sekolah Islam di daerah transmigran bahwa tidak jarang orang tua siswa sendiri lah yang menarik anaknya dari sekolah. Kualitas pendidikan yang rendah tentu berimbas pada kualitas kesehatan. Penyakit yang paling banyak ditemukan di sana tidak lah mengejutkan, yaitu penyakit menular seksual dan tuberculosis (TB), dua penyakit yang banyak ditemukan di daerah yang higienitasnya kurang dan pendidikannya rendah.

Meskipun begitu, saya bersyukur memiliki pengalaman tinggal di Papua dan berinteraksi dengan orang-orangnya, walau hanya satu tahun. Dengan melihat daerah di nusantara hingga ke paling ujungnya, kita bisa lebih mengenal negara ini. Papua sudah bergabung dengan Indonesia sejak tahun 1969 namun masih banyak celah perbaikan yang perlu diisi. Siapakah yang perlu mengisinya? Tentu jari kita tidak harus melulu diarahkan ke pemerintah, tapi bisa dikembalikan ke diri sendiri dengan mengabdikan ilmu yang dimiliki di daerah yang masih membutuhkan.

Cerita pengalaman saya bekerja di RSU Bintuni bisa dibaca di sini.

Categories: catatan perjalanan, kesehatan | Tags: , , , , , | 3 Comments

Papeda, Makanan Orang Papua

Ketika berkunjung ke suatu daerah di Nusantara ini, apakah keperluan jalan-jalan, sekolah, dan bekerja, sempatkanlah untuk mencicipi makanan khasnya. Keanekaragaman jenis makanan yang ada dari ujung Sabang hingga Merauke merupakan bukti kekayaan tanah air kita.

Setelah puas menikmati makanan Lombok selama internship setahun lalu, kini saya ingin mencoba apa yang ada di Papua. Mungkin tidak banyak makanan khas yang bisa ditemukan di pulang paling timur Indonesia ini. Maklum, kebiasaan orang Papua bukanlah bercocok tanam—amat jarang ditemukan sawah di Papua, kecuali di permukiman transmigran. Petugas laboratorium yang merupakan orang asli orang Teluk Bintuni mengamininya. “Orang Papua lebih suka berburu,” katanya. Sampai sekarang pun orang-orang asli Papua masih berburu dan mengambil sayur dan buah-buahan dari hutan untuk mengisi perut. Bahan-bahan makanan yang ada di pasar kebanyakan kiriman dari kapal yang berlayar dari Jawa.

Makanan asli orang Papua ialah Papeda. Terbuat dari tepung sagu yang dilarutkan dalam air mendidih, bentuk papeda seperti lem kanji. Konsistensinya kenyal dan agak lengket—benar-benar seperti lem—dan berwarna putih-bening. Karena tebuat dari sagu, papeda memiliki kandungun nutrisi berupa glukosa dan serat sehingga ia cocok menjadi makanan pokok selain nasi. Rasa papeda memang hambar. Namun, umumnya makanan ini dinikmati bersama dengan ikan kuah kuning.

Papeda

Papeda

Papeda Dimakan Bersama Ikan Kuah Kuning

Papeda Dimakan Bersama Ikan Kuah Kuning

Selama berada di Teluk Bintuni, papeda tidak pernah saya temukan di warung makan. Selain tidak bercocok tanam, tampaknya masyarakat Papua juga tidak memiliki jiwa wirausaha yang tinggi. Kebanyakan yang membuka toko atau warung ialah para pendatang yang merupakan orang Jawa atau Makasar. Alhasil, makanan yang dijual kebanyakan di Teluk Bintuni ialah pecel ayam goreng dan coto….Jadi, papeda merupakan masakan rumahan. Selain itu, papeda juga biasanya disajikan ketika ada acara jamuan makan-makan.

Ya, papeda ikan kuah kuning merupakan makanan khas Papua. Jika suatu waktu berkesempatan mengunjungi tanah Papua, jangan lupa untuk mencicipinya ya 🙂

Categories: catatan perjalanan | Tags: , , , , , | 1 Comment

Cerita PTT: Perjalanan dari Manokwari ke Bintuni

Peta Papua Barat via http://manokwari.bpk.go.id/

Peta Papua Barat via http://manokwari.bpk.go.id/

Sudah menjadi keinginan saya dari dulu untuk mengunjungi Papua. Bekerja di daerah terpencil dan lokasi paling timur Nusantara adalah tantangan tersendiri. Pengabdian dan juga petualangan; mereka adalah dua alasan yang mendorong diri ini untuk bekerja di Teluk Bintuni, salah satu kabupaten di propinsi Papua Barat.

Beruntung saat ini Teluk Bintuni dapat dicapai melalui jalur udara dengan relatif mudah. Sebelum ke Bintuni, pengunjung harus terbang ke arah Manokwari terlebih dulu. Ada 3 maskpai penerbangan yang bisa digunakan dari bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, yaitu Express, Sriwijaya, dan Garuda. Ketiga penerbangan itu akan transit dulu di Makassar, kemudian melanjutkan perjalanan ke bandara Rendani, Manokwari.

Semua jadwal penerbangan menuju Manokwari dari Cengkareng adalah malam jelang dini hari. Akibatnya, pengunjung baru bisa menginjakkan kaki di Papua pada pagi hari; dalam keadaan kleyeng karena ngantuk. Setelah itu, untuk melanjutkan ke Bintuni, ada 2 opsi: jalur udara atau darat.

Pesawat berukuran kecil yang terbang ke Bintuni dioperatori oleh maskpai Susi Air. Waktu yang dibutuhkan pun sangat singkat, yaitu hanya 45 menit. Biaya tiketnya ya lumayanlah, sekitar 1,2 juta rupiah. Hanya saja, terbang dengan Susi Air bisa disebut untung-untungan. Ukuran pesawat yang kecil dengan baling-baling di depan membuat operasinya sangat bergantung pada cuaca. Tidak jarang maskapai menunda penerbangannya berjam-jam bahkan membatalkannya karena berbagai alasan. Dan tentu saja, pesawat mini tersebut gampang untuk ber-geol-geol di udara.

Pesawat Perintis Susi Air

Pesawat Perintis Susi Air

Duduk Tepat di Belakang Pilot

Duduk Tepat di Belakang Pilot

Pilihan ke-2 ialah menggunakan kendaraan double gearbox, yang umumnya ialah Toyota Hilux atau sejenisnya seperti Mitsubishi Strada. Kendaraan yang digunakan wajib double gearbox dan memiliki ban besarkondisi jalanan yang akan diceritakan kemudian hanya bisa dilalui mobil jenis ini.

Biaya perjalanan adalah 500 ribu per orang jika menaikinya sebagai penumpang umum. Murah memang, namun harus rela menunggu sang supir mencari-cari penumpang lain hingga terisi sampai 3-4 orang. Sering pula Hilux menjadi jasa pengiriman barang atau paket dari Manokwari ke Bintuni. Ketika pertama kali sampai Manokwari, saya harus menunggu 3 jam di bandara hingga si mobil Hilux mendapatkan jumlah penumpang yang sesuai, lalu menunggu satu jam lagi untuk mengangkut barang-barang kiriman. Jika tidak mau capek-capek menunggu, bisa menyewa/carter satu mobil Hilux, namun biayanya lebih mahal daripada naik pesawat yaitu 2 juta rupiah.

Toyota Hilux, Kendaraan Primadona Papua

Toyota Hilux, Kendaraan Primadona Papua

Penulis pribadi lebih senang menggunakan Hilux. Selain bisa melihat-lihat pemandangan—yang sebenarnya kebanyakan hutan—aroma petualangan juga lebih terasa. Waktu tempuh ialah 7-9 jam, tergantung kondisi jalan. Jika sedang musim kering, supir Hilux akan mengekspresikan passion membalapnya sehingga bisa sampai ke Bintuni dalam 7 jam. Namun jika hujan dan jalanan basah, waktu yang diperlukan bisa 8-9 jam, tergantung kendala yang didapat.

Setelah keluar dari kota Manokwari, pengguna Hilux akan memasuki Kab. Manokwari Selatan. Daerah ini juga termasuk baru karena hasil pemekaran, dan bisa dibilang bukan kabupaten maju—jauh berbeda dibandingkan Manokwari yang merupakan ibukota propinsi. Berada di pinggir laut, pengunjung bisa melihat laut di sisi kiri. Memang tidak ada pantai yang bagus, namun cukup bisa menjadi hiburan mata dan pikiran.

Awal-awal perjalanan, kondisi jalan cukup baik: aspal mulus. Setelah melewati perkampungan transmigran, distrik Oransbari, dan distrik utama Manokwari Selatan, Ransiki, jalanan pun mulai rusak. Keadaan jalan yang parah mulai terasa ketika masuk ke jalur Gunung Botak.

Gunung Botak merupakan jalur perbukitan. Terlihat bahwa jalan ini hasil pengerukan bukit. Di sebelah kanan, tampak tebing-tebing sisa hasil pengerokan, dan di sisi kiri terbentang laut. Entah jalanan yang ada tidak pernah dirawat atau setelah dikeruk pihak pengembang tidak benar-benar membangun jalan aspal, jalur berupa pasir, kerikil dan bebatuan kasar. Memang dengan menggunakan mobil beroda besar, jalan hancur tidak menjadi kendala. Pemandangan laut pun sebenarnya cukup menarik. Penumpang yang mencarter Hilux biasanya ditawari oleh supir untuk berhenti sejenak dan memfoto pemandangan. Bukit-bukit berwarna hijau yang menjorok ke laut membuat landscape terlihat cukup eksotis.

Pemandangan Gunung Botak via http://www.kompasiana.com/eddypp86

Pemandangan Gunung Botak via http://www.kompasiana.com/eddypp86

Walaupun parah, jalur Gunung Botak dapat dilewati dengan mudah. Mobil kecil seperti Avanza pun masih bisa melewatinya. Jalur setelahnya lah yang bisa menyulitkan perjalanan, terutama jika hujan.

Setelah Gunung Botak terlewati, jalanan yang ada hampir tidak beralaskan aspal sama sekali. Jalur bebatuan yang tidak rata dan dalam dapat merusak mobil yang berbadan rendah. Bagi Hilux dengan roda besar dan badan tinggi, jalan ini belum menjadi masalah. Namun di hadapan, yaitu jalur Pintu Batu, ada beberapa titik yang jalannya berupa murni tanah merah. Jika hujan, tanah tersebut akan melunak dan hampir tidak memiliki gaya gesek.

Pada jalanan menanjak, jalur ini sama sekali tidak bisa dilewati jika tidak menggunakan kendaraan dengan double gearbox. Adanya gigi di kedua sisi, yaitu roda depan dan roda belakang, membuat keempat roda berputar sehingga sangat membantu mobil untuk terdorong. Itu pun jika jalanan sangat licin, para supir Hilux mesti berkali-kali mundur ke belakang untuk mencoba menerobos kembali. Lumpur yang sangat licin membuat roda menjadi slip.

Jalanan Lumpur dan Licin di Jalur Pintu Batu

Jalanan Lumpur dan Licin di Jalur Pintu Batu

Ban Slip

Ban Slip

Pernah suatu waktu ketika perjalanan Manokwari-Bintuni, di jalur Pintu Batu, Hilux yang saya tumpangi sama sekali tidak bisa maju melewati lumpur. Keempat roda benar-benar slip. Akhirnya supir mencoba mundur untuk kemudian gas lagi. Masih tidak bisa maju. Lalu mundur, mundur, mundur…hingga ke tepi jurang. Sama sekali tidak ada kemajuan, supir pun minta bantuan mobil Hilux yang lain untuk menariknya menggunakan tambang. Yahh, bunyi delapan roda berputar kencang mendominasi udara. Asap dan bau kopling tercium; beruntung mobil itu bisa tertarik dan akhirnya dapat melewati jalan licin yang bagaikan es tersebut.

Walau semua orang tahu bahwa hanya mobil Hilux dan sejenisnya yang bisa melewati jalur lumpur, terkadang ada saja orang yang membawa Avanza. Dengan pelan-pelan dan ditarik Hilux, kendaraan minibus masih memungkinkan melewati Gunung Botak. Tapi saya sendiri belum pernah melihat bagaimana ia melewati Pintu Batu. Mungkin akhirnya ia ditarik susah payah oleh Hilux. Saya hanya membayangkan nasib keempat roda mobil kecil tersebut yang menjadi “habis” dan bodinya yang penuh lumpur. Apa pemiliknya ga merasa sayang ya?

Seorang supir menceritakan bahwa saat ini kondisi lebih mendingan karena sudah ada jalan yang menghubungkan Manokwar-Bintuni dan ada mobil Hilux. Dahulu, katanya, untuk menuju Bintuni dari Manokwari, harus menggunakan mobil Hardtop atau Landcruiser, berombongan sekitar 5 mobil. Waktu yang diperlukan pun 1 minggu. Jadi, ketika akan melakukan perjalanan ke Bintuni, dibawa lah kompor, beras, dan bahan makanan lain sebagai bekal selama perjalanan yang berhari-hari itu.

Mobil besar jenis Hilux bisa melewati jalur tanah tersebut dengan lancar, tapi tidak bagi truk yang membawa banyak barang. Kadang-kadang, di tengah perjalanan, bisa ditemukan truk-truk berhenti di pinggir jalan. Mereka berhenti dan bermalam, menunggu jalanan kering kembali. Pengiriman barang dalam jumlah besar dari Manokwari ke Bintuni pun bisa memakan waktu berhari-hari. Maklum, kondisi geografis tidak memungkinkan adanya jalur laut yang menghubungkan kedua kota ini.

Begitulah perjalanan dari Manokwari ke Bintuni, yang menurut penulis menjadi cerita tersendiri. Setelah Pintu Batu, jalanan cenderung beraspal baik dan tidak ada penyulit. Cukup mengherankan kenapa belum ada upaya maksimal untuk memperbaiki jalan. Jika ada pejabat yang melewati jalur darat tersebut, tidak terpikirkan kah untuk memperlancar akses, yang pada akhirnya akan meningkatkan sirkulasi ekonomi di kedua kota tersebut? Atau, merasa nyaman kah pejabat jika mesti melewati jalanan yang begitu menyedihkannya seperti diurakan di atas?

“Kalau ada pejabat lewat, biasanya jalur yang benar-benar rusak diperbaiki”, kata supir Hilux. “Tapi itu hanya ditambal asal saja. Setelah sang pejabat lewat, jalanan jadi rusak lagi.”

Semoga Papua terus mengalami perbaikan dan semakin diperhatikan pembangunannya oleh pemerintah.

Categories: catatan perjalanan | Tags: , , , , , | 2 Comments

Cerita PTT: Bintuni, Kan Setahun Ku Di Sini

20160127_143302

Mengapa harus ke Papua?

Berulang kali pertanyaan tersebut diajukan. Sudah dari lama saya memutuskan ingin bekerja sebagai dokter PTT (pegawai tidak tetap) selama setahun di pulau paling timur nusantara ini. Walaupun cukup berat menjelaskan alasannya, terutama ke keluarga, kenyataannya sudah satu bulan saya berada di Papua.

Kota tempat saya bekerja ialah Kabupaten Teluk Bintuni. Tidak ada penerbangan langsung menuju Papua dari Tangerang (dari bandara Soekarno Hatta yang ada di Tangerang). Untuk menuju Bintuni, pertama terbang dulu tujuan Manokwari. Dari Manokwari menuju Bintuni terdapat dua pilihan: menggunakan pesawat perintis—Susi Air—atau melewati jalur darat menggunakan mobil double gearbox seperti Toyota Hilux.

Penerbangan paling cepat ke Manokwari dari Tangerang ialah pesawat Sriwijaya Air yang terbang jam 22.20 menuju Makassar. Di bandara Sultan Hasanuddin, transit hanya sekitar satu setengah jam, dan penerbangan dilanjutkan langsung ke Manokwari dan sampai di sana menurut jadwal sekitar jam 7 pagi WIT.

20151227_080230

Bandar Udara Rendani, Manokwari

Saya sendiri memilih menggunakan Garuda Indonesia karena kepercayaan orang tua yang lebih kepadanya. Garuda transit lebih lama di Makassar, sekitar 3 jam. Kemudian penerbangan pun tidak langsung ke Manokwari tapi transit sebentar di Sorong sekitar 20 menit (transit tanpa turun pesawat). Akhirnya saya menapakkan kaki di tanah Papua, tepatnya Manokwari, hari Minggu, 27 Desember 2015 jam 8 pagi waktu setempat.

Menuju Bintuni dengan menggunakan pesawat tentu lebih cepat. Waktu yang diperlukan hanya sekitar 20-30 menit jika lewat jalur udara. Namun, pengguna pesawat perintis harus rela menari-nari di udara selama penerbangan karena ukurannya yang kecil membuatnya gampang digoyang angin . Walaupun lebih lama—sekitar 8-9 jam—setidaknya dengan jalur darat saya bisa tidur lebih nyenyak.

Sayangnya tidak banyak yang bisa diceritakan tentang perjalanan saya dari Manokwari menuju Bintuni menggunakan mobil double gearbox 4×4. Entah kenapa saya selalu sulit dan hampir tidak bisa tidur jika terbang. Penerbangan yang larut dan lama, dari Tangerang jam 9 malam WIB dan baru mendarat sekitar jam 8 pagi WIT, membuat saya ngantuk berat. Alhasil, hampir selama perjalanan darat itu saya tertidur.

Manusia tidak bisa menggunakan mobil biasa untuk ke Bintuni dari Manokwari. Di awal-awal jalan memang mulus beraspal, namun di tengah-tengah hingga menjelang tujuan jalannya benar-benar hancur dan menanjak. Hilux yang digunakan berkali-kali harus mengatur gearboxnya yang ada dua supaya bisa menanjak di atas jalan tanah berkawah—mobil biasa tentu tidak akan kuat melewatinya, Perjalanan akan menjadi semakin sulit jika hujan.

Orang-orang bilang selama perjalanan bisa melihat pemandangan yang cukup memukau—hamparan laut dan gunug. Sayang, semua bagian itu terlewatkan. Sebagian besar perjalanan yang saya lihat–saat melek–didominasi oleh hutan di sebelah kiri-kanan jalan. Hutan yang masih alami tak tersentuh manusia karena pembangunan di Papua masih sangat minim.

Setiba di Bintuni langit sudah gelap. Tujuan saya ialah mess dinas kesehatan. Ia adalah rumah tinggal yang disediakan untuk dokter-dokter kontrak di RS maupun puskesmas. Mess terletak di Km 5—begitu orang-orang di sini menyebutnya—terletak di dalam komplek dinas kesehatan bagian belakang.

Mess Dokter, Belakang Dinas Kesehatan

Mess Dokter, Belakang Dinas Kesehatan

Ada 5 kamar tidur dan dua kamar mandi di mess, juga ada dapur dengan peralatan masaknya yang lengkap. Kamar-kamar itu juga diisi oleh dokter-dokter puskesmas, walau mereka lebih sering tinggal di puskesmasnya. Hal ini karena perjalanan ke puskesmas cukup jauh. Ada yang bisa mencapainya dengan jalur darat, namun banyak juga yang mesti digoyang-goyang ombak di atas kapal. Bukan berarti puskesmas tersebut berada di pulau; ia terletak di daratan utama juga namun tidak ada akses darat ke sana. Kadang-kadang dokter puskesmas datang dan menginap di mess untuk sekedar “refreshing”—ada tv kabel di mess—sekitar sekali dalam satu atau dua dalambulan. Jika dokter puskesmas tidak ada, hanya saya dan tiga dokter lainnya yang menghuni mess.

Di pagi hari esoknya, saya lebih bisa melihat jelas seperti apa “kota” Bintuni. Hanya ada satu jalan raya; membentang lurus dari ujung ke ujung. Kadang-kadang ada jalan arteri yang kecil dan tidak semulus aspal jalan raya. Di kiri-kanan jalan raya membentang pohon-pohon hutan tropis; di satu sisi terdapat laut, di sisi lainnya menuju hutan belantara.

Satu Jalan Raya Lurus di Bintuni

Satu Jalan Raya Lurus dari Ujung ke Ujung

Kanan dan Kiri Jalan Berupa Hutan Belantara

Kanan dan Kiri Jalan Berupa Hutan Belantara

Tidak banyak pembangunan dan jarak antarbangunan cukup jauh. Contoh saja dinas kesehatan dan rumah sakit berjarak 2 km, yang sepanjang jalan di antaranya hampir tidak ada bangunan kecuali warung-warung kecil. Di atas udara, kita bisa melihat pulau Papua yang kebanyakan berupa hutan belantara. Jarak antar satu kota dengan lainnya cukup jauh dan di antaranya hanya ada hutan–jalan hanya terlihat sedikit dan sangat kecil. Memang ini bagus untuk direnungkan: sudah puluhan tahun Papua Barat bergabung dengan Indonesia, tapi tetap saja kebanyakan isinya masih berupa hutan.

Rumah sakit berada di Km 7—kalau orang sini menyebutnya “ke arah atas”. Disebut demikian karena jika terus berjalan melewati rumah sakit, jalan akan membawa ke arah perbukitan. Arah sebaliknya dari rumah sakit, yaitu Km 0 dan setelahnya (sy tidak tahu disebutnya apa, tapi sepertinya bukan Km -1, Km -2, dst) ialah menuju “kota”. Jika mau ke “kota”, orang-orang akan menyebutnya “ke bawah”. Setelah melewati kota, jalan raya cenderung kosong dan tidak ada bangunan ke arah permukiman transmigran, yang orang di sini menyebutnya “SP”. Katanya, ada 5 SP dari paling jauh hingga paling dekat kota.

“Kota” adalah sebutan wilayah yang banyak toko-toko dan warung makan. Toko-toko dan warung yang ada berukuran kecil-kecil. Di kota terdapat pelabuhan tempat kapal-kapal pengangkut barang-barang dari Jawa, juga manusia, berlabuh. Berbagai barang yang dijual di toko dan bahan-bahan makanan kebanyakan berasal dari Jawa. Akibatnya, jika kiriman belum datang, stok barang akan habis dan mesti menunggu kapal untuk mendapat persediaan yang baru.

Pelabuhan Bintuni. Dari Sini Pula Sejawat Saya Naik Kapal untuk ke Puskesmas

Pelabuhan Bintuni. Dari Sini Pula Sejawat Saya Naik Kapal untuk ke Puskesmas

"Kota" Bintuni. Motor yang dengan Pengendara Berhelm Kuning ialah Tukang Ojek. Tarif Ojek Sekali Jalan Rata-Rata 10-15 Ribu

“Kota” Bintuni. Motor dengan Pengendara Berhelm Kuning ialah Ojek. Tarif Ojek Sekali Jalan Rata-Rata 10-15 Ribu

Masjid Besar di Kota. Karena Banyak Pendatang, Jumlah Masjid Ada Beberapa dan Suara Azan Dikumandangkan dengan Pengeras Suara

Masjid Besar di Kota. Karena Banyak Pendatang, Jumlah Masjid Ada Beberapa dan Suara Azan Dikumandangkan dengan Pengeras Suara

Di Bintuni Ada Bandara yaitu Bandara Steenkool. Hanya Pesawat Kecil yang Mendarat di Bandara Kecil Ini. Sore Hari, Saat Sudah Tidak Ada Penerbangan, Landasan Suka Digunakan Sebagai Tempat Joging

Di Bintuni Ada Bandara yaitu Bandara Steenkool. Hanya Pesawat Kecil yang Mendarat di Bandara Kecil Ini. Sore Hari, Saat Sudah Tidak Ada Penerbangan, Landasan Suka Digunakan Sebagai Tempat Joging

Seperti yang kita tahu semua, harga-harga lebih tinggi di Papua. Rata-rata sekali makan sekitar 15-30 ribu. Menu makanan pun tidak variatif; kebanyakan yang jualan ialah orang Jawa Timur yang masak pecel lalapan ayam. Juga ada beberapa warung menjual masakan Makassar seperti coto atau konro karena banyak pendatang dari Makassar.

Rumah Sakit Umum Bintuni ialah rumah sakit tipe D. Bangunannya berupa gedung baru—mungkin baru dibangun sekitar awal tahun 2010. Beberapa alat dan sarananya juga terlihat baru. Yang cukup tidak disangka, alokasi dana untuk pemenuhan sarana rumah sakit cukup tinggi. Baru-baru ini saja RS membeli 4 mesin ventilator, yang satu mesinnya saja setara dengan dua mobil Hilux. Bangunan ICU pun sedang dalam proses pembuatan.

20151227_143426

Papan Tulisan Rumah Sakit Tidak Terlihat dari Depan dan Tertutup Semak. Tulisan “Poliklinik” adalah yang Terlihat Mencolok Saat Melintasinya

20151227_143319

Tidak Seperti Kebanyakan Rumah Sakit, yang Berada di Depan dan Terlihat Jelas ialah Bangunan Poliklinik, Bukan UGD

Meskipun demikian, masih banyak kekurangan di RS. Jumlah pekerja seperti pegawai laboratorium masih kurang sehingga tidak ada petugas lab yang standby 24 jam—jika sore atau malam, mereka bersifat on call untuk pemeriksaan darurat. Begitu juga dengan petugas radiologi. Tenaga dokter juga sebenarnya perlu ditambah. Jumlah dokter umum hanya 7 orang ditambah 3 orang dokter internship yang akan selesai masa tugasnya akhir februari. Tiga dokter internship bertugas di ruangan melakukan follow up pagi. Jika sudah siang, maka hanya ada satu dokter yang jaga satu rumah sakit—UGD, rawat inap, ponek, ruang perinatology—hingga besok paginya. Di waktu siang dan malam, dokter jaga harus melayani pasien yang datang ke UGD. Di tengah-tengahnya, ia bisa saja dipanggil ke rawat inap karena ada pasien yang mengeluh atau dalam kondisi gawat, kemudian dipanggil juga ke ponek karena ada ibu-ibu mau melahirkan. Kondisi ini diperparah dengan banyaknya orang datang ke UGD sore-sore hanya untuk rawat jalan—tidak enak untuk menolak karena rata-rata rumah mereka jaraknya jauh dari RS. Alhasil, bekerja sebagai dokter PTT di RS Bintuni cukup melelahkan. Maaf ralat: sangat melelahkan.

Dokter spesialis baru ada tiga: dokter bedah umum, anestesi, dan dua dokter kandungan. RS belum memiliki dokter penyakit dalam dan dokter anak. Hingga kini, yang mengisi pos tersebut adalah dokter residen tingkat akhir (sudah selesai stase dan menunggu ujian nasional) yang dalam program pengabdian selama 6 bulan karena mereka penerima beasiswa Kementerian Kesehatan. Dokter penyakit dalam saat ini berasal dari RS Kariadi Universitas Diponegoro dan dokter anak dari RS Soetomo Universitas Airlangga.

Peralatan pun masih kurang. Sebagaimana RS daerah pada umumnya, tidak ada pemeriksaan analisis gas darah. Bahkan pemeriksaan elektrolit pun belum ada. Walaupun saat ini sudah ada ventilator, tidak adanya analisis gas darah dan eletrolit rasanya membuat peran ventilator yang ada tidak maksimal. Apalagi sebentar lagi akan ada ICU.

Setiap senin pagi, diadakan morning report untuk mempresentasikan kasus hari Sabtu. Yang melaporkan ialah dokter jaga di hari weekend tersebut. Di hari Kamis, umumnya dokter umum diminta untuk mempresentasikan kasus rawat inap yang tidak biasa, unik, rumit, dan yang membuat pasien meninggal. Dokter umum juga diberi kewajiban untuk menjadi asisten operasi, apakah operasi bedah atau obgyn—walau sementara ini yang turun sebagai asisten ialah dokter internship. Singkatnya, pekerjaan di RS cukup banyak.

Bosan? Sudah pasti. Terlebih di Bintuni tidak ada hiburan dan tidak ada tempat rekreasi. Yah, karena sudah terlanjur di sini, jalani dan nikmati saja semua aktivitas yang ada.

Mengapa harus ke Papua?

Semenjak awal-awal menjadi mahasiswa, sudah merupakan keinginan kuat untuk ke pulau ini. Alasan utama ialah karena ingin bertualang ke wilayang paling timur Indonesia. Papua dikenal sebagai daerah yang masih tertinggal. Karena itulah, saya ingin melihat-lihat kondisinya, melihat orang-orangnya, dan merasakan menetap di daerah tertinggal. Bekerja di sarana kesehatan yang serba terbatas dan dengan kondisi masyarakat yang kurang terjaga kesehatannya karena di daerah terpencil tentu merupakan tantangan tersendiri.

Memang Bintuni lebih maju dibandingkan daerah Papua yang lain. Karena letaknya di pesisir, ada banyak pendatang dan transmigran yang tinggal dan menjalankan aktivitas ekonomi. Jika dilihat, kebanyakan penggerak roda ekonomi Bintuni ialah para pendatang,

Tidak bisa dipungkiri juga keinginan saya untuk memiliki SMB (surat masa bakti). Surat sakti ini banyak dicari-cari sebagai senjata untuk daftar sekolah ppds (program pendidikan dokter spesialis) kelak. Saya akui, saya pun menginginkannya. Maklum, tidak ada prestasi, nilai kuliah yang biasa-biasa saja, dan tidak punya kenalan pejabat membuat saya harus bekerja lebih ekstra.

Namun apa pun itu, semua saya syukuri. Ini adalah bagian dari keinginan besar untuk terus melakukan perjalanan. Mimpi untuk mendaki gunung-gunung tinggi bahkan gunung es, walau mulai sedikit memudar, masih ada. Begitu pun keinginan untuk melihat-lihat keadaan, alam, bahasa, dan wajah manusia di berbagai belahan bumi.

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (Al Jumuah: 10)

Yah, yang terpenting, semua ini diniatkan ikhlas karena Allah. Baru sebulan di sini saya sudah mulai merasakan jenuh. Namun saya pun menyadari, jika kelelahan pekerjaan ini dijalankan dengan beban berat di pikiran, maka yang ada adalah rasa tersiksa. Tapi jika pikiran dijernihkan, hati diikhlaskan, semua sebagai bentuk pengabdian kepadaNya, segalanya akan terasa ringan dan dimudahkan. InsyaAllah.

Categories: catatan perjalanan | Tags: , , , , | 5 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: