Posts Tagged With: RSU Bintuni

Cerita PTT di Teluk Bintuni, Papua Barat (2): Beban Kerja yang Banyak

Keputusan saya bekerja ke Papua dilatarbelakangi oleh berbagai alasan; keinginan untuk “mengabdi” ke Papua sudah ada semenjak di bangku kuliah. Kata mengabdi sengaja saya beri tanda kutip karena makna pengabdian itu luas dan tidak harus ke tempat yang jauh. Dokter yang bekerja di dekat rumahnya atau di kota besar pun memiliki pengabdiannya tersendiri. Saya sendiri memilih jalan pengabdian ke pulau paling timur di Nusantara.

Tidak dipungkiri bahwa Surat Masa Bakti dan Surat Rekomendasi sebagai bekal untuk daftar sekolah spesialis nanti menjadi salah satu faktor pendorong untuk berangkat ke Papua Barat. Namun, faktor terbesar bagi saya ialah keinginan untuk bertualang ke tempat baru, melihat wajah-wajah baru, dan mengenal kebiasaan serta budaya baru. Menurut saya, dengan berpergian hingga ke ujung Nusantara, saya bisa mengenal negeri ini dengan lebih baik. Lagi pula, bukan kah manusia itu seperti air, jika terus diam di satu tempat ia akan menggenang dan menjadi kotor, sedangkan jika terus bergerak ia akan menjadi bersih? Itu sedikit alasan filosofis yang mendorong saya untuk pergi jauh ke timur, heheheh.

Sekilas tentang RSU Bintuni

RSU Bintuni, Khasnya ialah Bangunan UGD di Belakang Poliklinik, Tidak Seperti RS Kebanyakan

RSU Bintuni, Khasnya ialah Bangunan UGD di Belakang Poliklinik, Tidak Seperti RS Kebanyakan

Keinginan mengabdi ke daerah terpencil sekaligus belajar ilmu klinis; kedua alasan itu membuat saya memilih untuk bekerja di rumah sakit. Memang jika ingin merasakan nuansa “mengabdi di daerah terpencil” dan aroma petualangan, puskesmas adalah pilihan yang lebih pas. Namun, belajar ilmu klinis merupakan kebutuhan yang lebih utama sehingga saya pun memutuskan ke RS.

RSU Bintuni adalah rumah sakit milik pemerintah tipe D dan merupakan satu-satunya rumah sakit di Kabupaten Teluk Bintuni. Belum ada rumah sakit swasta yang berdiri di sana, dan setahu saya rumah sakit swasta di Papua Barat hanya ada di Kota Sorong (bahkan Manokwari sebagai ibukota propinsi pun belum punya). Meskipun begitu, saya tidak ragu untuk memberikan apresiasi terhadap rumah sakit ini.

Walaupun RSU Bintuni baru berdiri di tahun 2012, harus diakui bahwa RS pemerintah ini berkembang cukup progresif. Saat ini ia memiliki fasilitas yang lebih baik daripada RSU di Manokwari dan Sorong. Karena terbilang baru, bangunannya pun terlihat modern jika dibanding RSU pada umumnya. Di tahun 2016, RSU Bintuni mendapat akreditasi dari Komite Akreditasi Rumah Sakit dan telah terstandardisasi ISO. Di pertengahan tahun 2016 RS mendatangkan 8 buah alat ventilator yang satu unitnya setara dengan 2 mobil Hilux, kemudian, di akhir tahun, alat pemindai jaringan lunak duduk dengan megah di kamar radiologi, membuat Bintuni sebagai satu-satunya daerah di Papua yang memiliki alat CT-Scan.

Perawatan di RS ini sepenuhnya gratis, tidak peduli apakah pasien punya BPJS, KIS, atau embel-embel lainnya. Begitu pula dengan obat-obatan di farmasi, seluruhnya gratis, baik itu obat generik maupun obat bermerk. Mungkin kita banyak mendengar cerita susahnya dokter UGD bekerja melayani pasien BPJS karena banyak kriteria kegawatdaruratan yang diterapkan oleh BPJS. Saya ingat saat internsip dulu, jika ada pasien rawat jalan datang ke UGD, pasien tersebut tidak boleh diinfus karena jika dipasang—menurut BPJS—pasien tersebut harus dirawat. Jika ketentuan tersebut tidak dipenuhi, BPJS bisa menolak membayarkan klaim, yang berujung kerugian pihak RS. Bagaimana dokter tidak pusing jika tidak bebas bergerak dalam bekerja dan banyak dibatasi? Nah, hal-hal tersebut tidak berlaku di RS ini; pokoknya semua pengobatan dan tindakan yang dilakukan dokter ditanggung, baik oleh BPJS maupun rumah sakit.

Keadaan tersebut membuat para dokter tidak ragu dalam memberikan pengobatan. Di tempat internsip kemarin, perawat sering mengingatkan bahwa pemberian obat omeprazole injeksi bagi pasien BPJS maksimal hanya 3 hari dengan dosis pemberian sekali per hari. Di Bintuni, dokter bebas memberikan obat tersebut berhari-hari dengan dosis 2x/hari. Begitu pula ketika ada pasien yang membutuhkan transfusi albumin yang harga satu botolnya mencapai satu juta rupia, tidak ada keraguan dalam memberikannya, malah pernah ada satu pasien yang mendapat transfusi sampai empat botol, dan itu semua gratis! Masalah muncul ketika terjadi kekosongan obat-obatan tertentu. Karena RSU Bintuni mendapat suplai obat-obatan dari luar (mungkin luar Papua), kadang butuh waktu lama bagi RS untuk memenuhi stok kembali.

Tidak hanya perawatan dan pengobatan, pihak RS juga menanggung biaya trasnportasi jika pasien perlu dirujuk. Masalah yang banyak ditemui pasien miskin jika ingin dirujuk ialah biaya transportasi yang tidak ditanggung karena BPJS hanya meng-cover biaya pengobatan. Pernah satu kali saya merujuk pasien perdarahan otak ke Makassar. Untuk mencapai kota tujuan, pasien harus naik pesawat Susi Air dari Bintuni ke Sorong lalu lanjut naik pesawat Sriwijaya ke Makassar. Yap, biaya pesawat pasien dan satu keluarga pasien yang mengantar—termasuk dokter yang ikut mengantar—dibiayai oleh RS.

Menjadi Dokter Umum

Sistem kerja di RS sana tidaklah jauh berbeda dengan RS lain pada umumnya; hal yang berbeda ialah dokter yang bertugas di UGD merangkap tugas sebagai dokter ruangan. Ini terjadi dikarenakan pihak manajemen memutuskan untuk membatasi jumlah dokter umum di RS. Jumlah dokter umum semenjak saya pertama kali datang hingga selesai masa tugas tetap sama, yaitu 8 orang: 3 orang yang sudah senior di poli umum, poli konsultasi, dan medical check-up, dan 5 orang tenaga kontrak (PTT) di UGD sekaligus bangsal. Keadaan tersebut bisa membuat seorang yang sedang tidak beruntung bolak-balik ke UGD, bangsal, hingga kamar bersalin. Untungnya jumlah pasien bisa dibilang sedikit jika dibandingkan di Jawa.

Menjadi dokter tentu tidak bisa dipisahkan dari berinteraksi dengan masyarakat; saya menjadi tahu bahwa banyak orang asli yang karakternya cukup keras Di Bintuni, untuk melakukan pemasangan infus saja perlu tanda tangan persetujuan informed consent. Kata orang-orang RS, pernah terjadi pemukulan terhadap dokter akibat kesalahpahaman, penusukan jarum infus di tangan dikira tindakan menyakiti pasien. Selain itu, tidak sedikit mereka yang sebenarnya memiliki indikasi untuk dirawat tapi susahnya setengah mati untuk membujuk mereka agar mau menginap di RS. Setelah akhirnya berhasil diyakinkan, 2-3 hari kemudian mereka meminta pulang paksa. Tidak sedikit pula orang tua yang membawa anaknya ke RS karena batuk pilek dan rewel. Setelah dinilai bahwa sang anak mengalami radang paru-paru alias pneumonia, mereka menolak dilakukan pemasangan infus terhadap anak yang berujung pada penolakan rawat inap. Weww, kalau tidak mau dirawat, untuk apa jauh-jauh datang RS? Hahah. Tapi tentu banyak juga masyarakat di sana yang kooperatif dan mematuhi petunjuk dokter dan perawat.

Kasus terbanyak yang saya temukan di Bintuni tidaklah mengejutkan. Seperti yang ditulis di tulisan pertama, HIV dan tuberculosis paru (TB) menjadi 2 penyakit primadona di Papua. Pendidikan yang kurang membuat hubungan seks di luar nikah tidak sedikit dilakukan semenjak mereka masih usia sekolah. Kesadaran akan “hubungan seks aman” yang rendah memperparah penyebaran virus ganas yang membunuh sistem imun manusia tersebut, ditambah lagi adanya bangunan plus plus yang berdiri dengan tenang. Banyaknya angka infeksi paru-paru juga tidaklah mengherankan mengingat kondisi higienitas masyarakatnya yang amat kurang. Beberapa kali di RS ditemukan tuberkulosis dengan resistensi berbagai obat, yang membuat pasien-pasien tersebut harus dirujuk ke Sorong untuk mendapat penanganan dari tim khusus. Ya, minimnya kesadaran untuk patuh meminum banyak jenis obat selama 6 bulan disertai pengawasan yang lemah sudah bisa ditebak.

Selain hal di atas, kebiasaan lain yang sungguh amat disayangkan banyak terjadi di sana adalah mabuk. Masalah utama soal keamanan di Bintuni bukanlah pencurian atau begal; selama setahun di Bintuni saya tidak pernah menemukan kasus begal, bahkan pernah saya parkir motor di depan masjid dengan kuncinya masih menancap di motor, setelah ditinggal setengah jam sepeda motornya masih utuh (tapi tidak untuk dicontoh sih, heheh). Namun, yang banyak terjadi adalah kasus kekerasan, penganiayaan, dan kecelakaan yang dipicu oleh minuman beralkohol. Tengah malam adalah waktu yang umum bagi UGD menerima korban kecelakaan gara-gara pengemudinya mabuk. Pernah satu malam saya menerima empat pasien luka-luka akibat “baku potong” yang semuanya dalam pengaruh alkohol, dan yang membuatnya lebih menyedihkan ialah teranyata salah seorang dari mereka merupakan oknum penegak hukum.

Satu lagi jenis kasus yang cukup sering adalah percobaan bunuh diri dengan minum bayclin. Ketika ditanya, mereka mengaku stres atau tidak tahan dengan konflik yang terjadi di keluarga. Meskipun demikian, kebanyakan mereka meminum bayclin hanya untuk menggertak saja (tidak benar-benar ingin bunuh diri) sehingga jumlah yang diminum tidak banyak, tapi tetap saja perlu mengobservasi mereka dengan ketat kalau-kalau terjadi perdarahan di saluran cerna. Selama satu tahun di Bintuni, total ada empat kasus seperti itu yang saya terima, dengan keempat-empatnya menolak untuk dirawat inap, atau ada yang awalnya mau dirawat tapi berujung ke penandatanganan surat pulang paksa.

Saya sudah menyebutkan bahwa jumlah pasien yang masuk ke UGD rata-rata tidaklah banyak, namun jika sial, ketika sedang mencoba menangani pasien jantung di UGD, perawat di bangsal menelpon karena ada pasien henti nafas, lalu bidan di ponek meminta dokter untuk datang karena seorang pasien di sana sudah melahirkan, yang dilanjutkan permintaan dari perawat perinatologi untuk menuliskan status bayi baru lahir. Yahh, kondisi di atas bisa disebut sangat jarang.

Jumlah pasien RS yang sedikit bukan karena masyarakatnya sudah memiliki status kesehatan yang mapan, tapi karena permasalahan akses ke rumah sakit yang sulit bagi warga Teluk Bintuni yang tinggal di seberang lautan atau di atas gunung. Jika sejawat dari puskesmas di distrik yang jauh ingin merujuk, kadang mereka harus menunggu jadwal kapal, walau banyak juga yang diantar menggunakan longboat milik puskesmas. Selain itu, jumlah pasien yang enggan patuh untuk dirujuk dan lebih memilih pengobatan secara “adat” tidak sedikit. Karena kendala transportasi, bisa saja dokter puskesmas sekali mengirim pasien dalam jumlah banyak. Setidaknya saya pernah menerima 4 pasien rujukan sekaligus dari tempat dan di waktu yang sama.

Komite Medik RSU Bintuni memiliki kebiasaan ilmiah yang baik. Setiap Senin, sang ketua komite medik yang juga merupakan dokter spesialis sangat bersemangat mengajak seluruh dokter di RS untuk mengikuti morning report. Seluruh dokter UGD yang bertugas di hari Sabtu harus membuat satu laporan kasus pasien rawat inap untuk dipresentasikan. Di hari Kamis, dokter jaga secara bergilir diminta untuk membuat case report mengenai kasus menarik yang pernah ditemukan. Weww, repot banget yak? Hahahah….

Morning Report, Kadang-Kadang Sepi

Morning Report, Kadang-Kadang Sepi

Pengalaman yang paling berkesan selama satu tahun di Bintuni tentu adalah ketika merujuk pasien lewat udara. Sebelumnya saya sering mendengar cerita dokter-dokter daerah terpencil yang merujuk pasien menggunakan boat kecil menantang ombak atau pesawat kecil berbaling-baling. Menjelang habisnya masa kontrak kerja, tiba-tiba saya diminta mengantarkan seorang pasien ke Makassar. Umumnya tenaga kesehatan yang mendampingi pasien di pesawat adalah perawat, tapi karena pasien ini mengalami perdarahan otak (berdasarkan hasil CT-Scan) yang sampai menggeser otak dan memiliki kesadaran rendah, pihak dokter di bandara Sorong menginginkan agar pasien tersebut didampingi oleh dokter.

Selama di dalam pesawat, saya berkali-kali membenarkan infus yang macet gara-gara pasien gelisah, juga menyiapkan obat-obatan injeksi untuk dimasukkan sesuai jadwalnya. Walau di surat pengantar dokter penyakit dalam menulis bahwa peluang pasien ini dubia ad malam alias cenderung untuk tidak dapat bertahan, kami berhasil mencapai RSUP Wahidin tanpa kendala berarti. Setelah kembali ke Bintuni, saya mendapat kabar bahwa pemuda yang mengalami perdarahan tersebut telah selesai dioperasi dan dilaporkan kesadarannya meningkat. Alhamdulillah.

Di akhir masa kerja, akhirnya saya mendapatkan surat-surat sakti itu: surat masa bakti dan surat rekomendasi dari rumah sakit. Saya juga mengajukan permohonan surat rekomendasi ke Bapak Bupati, yang dijawab melalui direktur bahwa beliau tidak keberatan namun baru bisa dikerjakan setelah tahun baru. Tentu rasa senang tumbuh, tapi bukan itu yang saya cari di Papua. Ilmu-ilmu klinis yang diajarkan oleh para dokter spesialis merupakan ilmu yang tiada harganya. Bantuan dan kerja sama dari seluruh pegawai RS, juga keramahan mereka, insyaAllah bukan lah hal yang untuk dilupakan. Juga yang paling penting dari itu semua adalah masyarakat dan tanah Papua yang telah banyak memberikan pengalaman dan pelajaran, sesuatu yang tidak akan didapatkan jika saya enggan keluar dari zona nyaman di rumah.

Ketika koas, seorang konsulen berkata, “Jika sudah terlanjur tercebur di kolam, maka berenanglah dengan baik agar selamat.” Saya tidak menyangka masih bisa berenang dengan baik di samudera dunia kedokteran yang sangat dalam dan penuh gelombang ini. Yap, perjalanan saya masih jauh dan ombak yang lebih ganas mungkin sedang menanti. Akankah saya dapat bertahan? Hmm, mungkin itu tergantung jumlah dan kekuatan “bahan bakar” yang saya miliki. Setiap orang memiliki sumber energinya masing-masing untuk menjadi dokter, tapi saya yakin, sumber kekuatan yang paling kuat dari itu semua ialah rasa dan sifat kemanusiaan yang dianugerahkan oleh Tuhan.

Categories: catatan perjalanan, kesehatan | Tags: , , , , , , | 3 Comments

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: