Posts Tagged With: ptt

Cerita PTT: Bintuni, Kan Setahun Ku Di Sini

20160127_143302

Mengapa harus ke Papua?

Berulang kali pertanyaan tersebut diajukan. Sudah dari lama saya memutuskan ingin bekerja sebagai dokter PTT (pegawai tidak tetap) selama setahun di pulau paling timur nusantara ini. Walaupun cukup berat menjelaskan alasannya, terutama ke keluarga, kenyataannya sudah satu bulan saya berada di Papua.

Kota tempat saya bekerja ialah Kabupaten Teluk Bintuni. Tidak ada penerbangan langsung menuju Papua dari Tangerang (dari bandara Soekarno Hatta yang ada di Tangerang). Untuk menuju Bintuni, pertama terbang dulu tujuan Manokwari. Dari Manokwari menuju Bintuni terdapat dua pilihan: menggunakan pesawat perintis—Susi Air—atau melewati jalur darat menggunakan mobil double gearbox seperti Toyota Hilux.

Penerbangan paling cepat ke Manokwari dari Tangerang ialah pesawat Sriwijaya Air yang terbang jam 22.20 menuju Makassar. Di bandara Sultan Hasanuddin, transit hanya sekitar satu setengah jam, dan penerbangan dilanjutkan langsung ke Manokwari dan sampai di sana menurut jadwal sekitar jam 7 pagi WIT.

20151227_080230

Bandar Udara Rendani, Manokwari

Saya sendiri memilih menggunakan Garuda Indonesia karena kepercayaan orang tua yang lebih kepadanya. Garuda transit lebih lama di Makassar, sekitar 3 jam. Kemudian penerbangan pun tidak langsung ke Manokwari tapi transit sebentar di Sorong sekitar 20 menit (transit tanpa turun pesawat). Akhirnya saya menapakkan kaki di tanah Papua, tepatnya Manokwari, hari Minggu, 27 Desember 2015 jam 8 pagi waktu setempat.

Menuju Bintuni dengan menggunakan pesawat tentu lebih cepat. Waktu yang diperlukan hanya sekitar 20-30 menit jika lewat jalur udara. Namun, pengguna pesawat perintis harus rela menari-nari di udara selama penerbangan karena ukurannya yang kecil membuatnya gampang digoyang angin . Walaupun lebih lama—sekitar 8-9 jam—setidaknya dengan jalur darat saya bisa tidur lebih nyenyak.

Sayangnya tidak banyak yang bisa diceritakan tentang perjalanan saya dari Manokwari menuju Bintuni menggunakan mobil double gearbox 4×4. Entah kenapa saya selalu sulit dan hampir tidak bisa tidur jika terbang. Penerbangan yang larut dan lama, dari Tangerang jam 9 malam WIB dan baru mendarat sekitar jam 8 pagi WIT, membuat saya ngantuk berat. Alhasil, hampir selama perjalanan darat itu saya tertidur.

Manusia tidak bisa menggunakan mobil biasa untuk ke Bintuni dari Manokwari. Di awal-awal jalan memang mulus beraspal, namun di tengah-tengah hingga menjelang tujuan jalannya benar-benar hancur dan menanjak. Hilux yang digunakan berkali-kali harus mengatur gearboxnya yang ada dua supaya bisa menanjak di atas jalan tanah berkawah—mobil biasa tentu tidak akan kuat melewatinya, Perjalanan akan menjadi semakin sulit jika hujan.

Orang-orang bilang selama perjalanan bisa melihat pemandangan yang cukup memukau—hamparan laut dan gunug. Sayang, semua bagian itu terlewatkan. Sebagian besar perjalanan yang saya lihat–saat melek–didominasi oleh hutan di sebelah kiri-kanan jalan. Hutan yang masih alami tak tersentuh manusia karena pembangunan di Papua masih sangat minim.

Setiba di Bintuni langit sudah gelap. Tujuan saya ialah mess dinas kesehatan. Ia adalah rumah tinggal yang disediakan untuk dokter-dokter kontrak di RS maupun puskesmas. Mess terletak di Km 5—begitu orang-orang di sini menyebutnya—terletak di dalam komplek dinas kesehatan bagian belakang.

Mess Dokter, Belakang Dinas Kesehatan

Mess Dokter, Belakang Dinas Kesehatan

Ada 5 kamar tidur dan dua kamar mandi di mess, juga ada dapur dengan peralatan masaknya yang lengkap. Kamar-kamar itu juga diisi oleh dokter-dokter puskesmas, walau mereka lebih sering tinggal di puskesmasnya. Hal ini karena perjalanan ke puskesmas cukup jauh. Ada yang bisa mencapainya dengan jalur darat, namun banyak juga yang mesti digoyang-goyang ombak di atas kapal. Bukan berarti puskesmas tersebut berada di pulau; ia terletak di daratan utama juga namun tidak ada akses darat ke sana. Kadang-kadang dokter puskesmas datang dan menginap di mess untuk sekedar “refreshing”—ada tv kabel di mess—sekitar sekali dalam satu atau dua dalambulan. Jika dokter puskesmas tidak ada, hanya saya dan tiga dokter lainnya yang menghuni mess.

Di pagi hari esoknya, saya lebih bisa melihat jelas seperti apa “kota” Bintuni. Hanya ada satu jalan raya; membentang lurus dari ujung ke ujung. Kadang-kadang ada jalan arteri yang kecil dan tidak semulus aspal jalan raya. Di kiri-kanan jalan raya membentang pohon-pohon hutan tropis; di satu sisi terdapat laut, di sisi lainnya menuju hutan belantara.

Satu Jalan Raya Lurus di Bintuni

Satu Jalan Raya Lurus dari Ujung ke Ujung

Kanan dan Kiri Jalan Berupa Hutan Belantara

Kanan dan Kiri Jalan Berupa Hutan Belantara

Tidak banyak pembangunan dan jarak antarbangunan cukup jauh. Contoh saja dinas kesehatan dan rumah sakit berjarak 2 km, yang sepanjang jalan di antaranya hampir tidak ada bangunan kecuali warung-warung kecil. Di atas udara, kita bisa melihat pulau Papua yang kebanyakan berupa hutan belantara. Jarak antar satu kota dengan lainnya cukup jauh dan di antaranya hanya ada hutan–jalan hanya terlihat sedikit dan sangat kecil. Memang ini bagus untuk direnungkan: sudah puluhan tahun Papua Barat bergabung dengan Indonesia, tapi tetap saja kebanyakan isinya masih berupa hutan.

Rumah sakit berada di Km 7—kalau orang sini menyebutnya “ke arah atas”. Disebut demikian karena jika terus berjalan melewati rumah sakit, jalan akan membawa ke arah perbukitan. Arah sebaliknya dari rumah sakit, yaitu Km 0 dan setelahnya (sy tidak tahu disebutnya apa, tapi sepertinya bukan Km -1, Km -2, dst) ialah menuju “kota”. Jika mau ke “kota”, orang-orang akan menyebutnya “ke bawah”. Setelah melewati kota, jalan raya cenderung kosong dan tidak ada bangunan ke arah permukiman transmigran, yang orang di sini menyebutnya “SP”. Katanya, ada 5 SP dari paling jauh hingga paling dekat kota.

“Kota” adalah sebutan wilayah yang banyak toko-toko dan warung makan. Toko-toko dan warung yang ada berukuran kecil-kecil. Di kota terdapat pelabuhan tempat kapal-kapal pengangkut barang-barang dari Jawa, juga manusia, berlabuh. Berbagai barang yang dijual di toko dan bahan-bahan makanan kebanyakan berasal dari Jawa. Akibatnya, jika kiriman belum datang, stok barang akan habis dan mesti menunggu kapal untuk mendapat persediaan yang baru.

Pelabuhan Bintuni. Dari Sini Pula Sejawat Saya Naik Kapal untuk ke Puskesmas

Pelabuhan Bintuni. Dari Sini Pula Sejawat Saya Naik Kapal untuk ke Puskesmas

"Kota" Bintuni. Motor yang dengan Pengendara Berhelm Kuning ialah Tukang Ojek. Tarif Ojek Sekali Jalan Rata-Rata 10-15 Ribu

“Kota” Bintuni. Motor dengan Pengendara Berhelm Kuning ialah Ojek. Tarif Ojek Sekali Jalan Rata-Rata 10-15 Ribu

Masjid Besar di Kota. Karena Banyak Pendatang, Jumlah Masjid Ada Beberapa dan Suara Azan Dikumandangkan dengan Pengeras Suara

Masjid Besar di Kota. Karena Banyak Pendatang, Jumlah Masjid Ada Beberapa dan Suara Azan Dikumandangkan dengan Pengeras Suara

Di Bintuni Ada Bandara yaitu Bandara Steenkool. Hanya Pesawat Kecil yang Mendarat di Bandara Kecil Ini. Sore Hari, Saat Sudah Tidak Ada Penerbangan, Landasan Suka Digunakan Sebagai Tempat Joging

Di Bintuni Ada Bandara yaitu Bandara Steenkool. Hanya Pesawat Kecil yang Mendarat di Bandara Kecil Ini. Sore Hari, Saat Sudah Tidak Ada Penerbangan, Landasan Suka Digunakan Sebagai Tempat Joging

Seperti yang kita tahu semua, harga-harga lebih tinggi di Papua. Rata-rata sekali makan sekitar 15-30 ribu. Menu makanan pun tidak variatif; kebanyakan yang jualan ialah orang Jawa Timur yang masak pecel lalapan ayam. Juga ada beberapa warung menjual masakan Makassar seperti coto atau konro karena banyak pendatang dari Makassar.

Rumah Sakit Umum Bintuni ialah rumah sakit tipe D. Bangunannya berupa gedung baru—mungkin baru dibangun sekitar awal tahun 2010. Beberapa alat dan sarananya juga terlihat baru. Yang cukup tidak disangka, alokasi dana untuk pemenuhan sarana rumah sakit cukup tinggi. Baru-baru ini saja RS membeli 4 mesin ventilator, yang satu mesinnya saja setara dengan dua mobil Hilux. Bangunan ICU pun sedang dalam proses pembuatan.

20151227_143426

Papan Tulisan Rumah Sakit Tidak Terlihat dari Depan dan Tertutup Semak. Tulisan “Poliklinik” adalah yang Terlihat Mencolok Saat Melintasinya

20151227_143319

Tidak Seperti Kebanyakan Rumah Sakit, yang Berada di Depan dan Terlihat Jelas ialah Bangunan Poliklinik, Bukan UGD

Meskipun demikian, masih banyak kekurangan di RS. Jumlah pekerja seperti pegawai laboratorium masih kurang sehingga tidak ada petugas lab yang standby 24 jam—jika sore atau malam, mereka bersifat on call untuk pemeriksaan darurat. Begitu juga dengan petugas radiologi. Tenaga dokter juga sebenarnya perlu ditambah. Jumlah dokter umum hanya 7 orang ditambah 3 orang dokter internship yang akan selesai masa tugasnya akhir februari. Tiga dokter internship bertugas di ruangan melakukan follow up pagi. Jika sudah siang, maka hanya ada satu dokter yang jaga satu rumah sakit—UGD, rawat inap, ponek, ruang perinatology—hingga besok paginya. Di waktu siang dan malam, dokter jaga harus melayani pasien yang datang ke UGD. Di tengah-tengahnya, ia bisa saja dipanggil ke rawat inap karena ada pasien yang mengeluh atau dalam kondisi gawat, kemudian dipanggil juga ke ponek karena ada ibu-ibu mau melahirkan. Kondisi ini diperparah dengan banyaknya orang datang ke UGD sore-sore hanya untuk rawat jalan—tidak enak untuk menolak karena rata-rata rumah mereka jaraknya jauh dari RS. Alhasil, bekerja sebagai dokter PTT di RS Bintuni cukup melelahkan. Maaf ralat: sangat melelahkan.

Dokter spesialis baru ada tiga: dokter bedah umum, anestesi, dan dua dokter kandungan. RS belum memiliki dokter penyakit dalam dan dokter anak. Hingga kini, yang mengisi pos tersebut adalah dokter residen tingkat akhir (sudah selesai stase dan menunggu ujian nasional) yang dalam program pengabdian selama 6 bulan karena mereka penerima beasiswa Kementerian Kesehatan. Dokter penyakit dalam saat ini berasal dari RS Kariadi Universitas Diponegoro dan dokter anak dari RS Soetomo Universitas Airlangga.

Peralatan pun masih kurang. Sebagaimana RS daerah pada umumnya, tidak ada pemeriksaan analisis gas darah. Bahkan pemeriksaan elektrolit pun belum ada. Walaupun saat ini sudah ada ventilator, tidak adanya analisis gas darah dan eletrolit rasanya membuat peran ventilator yang ada tidak maksimal. Apalagi sebentar lagi akan ada ICU.

Setiap senin pagi, diadakan morning report untuk mempresentasikan kasus hari Sabtu. Yang melaporkan ialah dokter jaga di hari weekend tersebut. Di hari Kamis, umumnya dokter umum diminta untuk mempresentasikan kasus rawat inap yang tidak biasa, unik, rumit, dan yang membuat pasien meninggal. Dokter umum juga diberi kewajiban untuk menjadi asisten operasi, apakah operasi bedah atau obgyn—walau sementara ini yang turun sebagai asisten ialah dokter internship. Singkatnya, pekerjaan di RS cukup banyak.

Bosan? Sudah pasti. Terlebih di Bintuni tidak ada hiburan dan tidak ada tempat rekreasi. Yah, karena sudah terlanjur di sini, jalani dan nikmati saja semua aktivitas yang ada.

Mengapa harus ke Papua?

Semenjak awal-awal menjadi mahasiswa, sudah merupakan keinginan kuat untuk ke pulau ini. Alasan utama ialah karena ingin bertualang ke wilayang paling timur Indonesia. Papua dikenal sebagai daerah yang masih tertinggal. Karena itulah, saya ingin melihat-lihat kondisinya, melihat orang-orangnya, dan merasakan menetap di daerah tertinggal. Bekerja di sarana kesehatan yang serba terbatas dan dengan kondisi masyarakat yang kurang terjaga kesehatannya karena di daerah terpencil tentu merupakan tantangan tersendiri.

Memang Bintuni lebih maju dibandingkan daerah Papua yang lain. Karena letaknya di pesisir, ada banyak pendatang dan transmigran yang tinggal dan menjalankan aktivitas ekonomi. Jika dilihat, kebanyakan penggerak roda ekonomi Bintuni ialah para pendatang,

Tidak bisa dipungkiri juga keinginan saya untuk memiliki SMB (surat masa bakti). Surat sakti ini banyak dicari-cari sebagai senjata untuk daftar sekolah ppds (program pendidikan dokter spesialis) kelak. Saya akui, saya pun menginginkannya. Maklum, tidak ada prestasi, nilai kuliah yang biasa-biasa saja, dan tidak punya kenalan pejabat membuat saya harus bekerja lebih ekstra.

Namun apa pun itu, semua saya syukuri. Ini adalah bagian dari keinginan besar untuk terus melakukan perjalanan. Mimpi untuk mendaki gunung-gunung tinggi bahkan gunung es, walau mulai sedikit memudar, masih ada. Begitu pun keinginan untuk melihat-lihat keadaan, alam, bahasa, dan wajah manusia di berbagai belahan bumi.

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (Al Jumuah: 10)

Yah, yang terpenting, semua ini diniatkan ikhlas karena Allah. Baru sebulan di sini saya sudah mulai merasakan jenuh. Namun saya pun menyadari, jika kelelahan pekerjaan ini dijalankan dengan beban berat di pikiran, maka yang ada adalah rasa tersiksa. Tapi jika pikiran dijernihkan, hati diikhlaskan, semua sebagai bentuk pengabdian kepadaNya, segalanya akan terasa ringan dan dimudahkan. InsyaAllah.

Advertisements
Categories: catatan perjalanan | Tags: , , , , | 8 Comments

Mengabdi, Menjemput Kematian?

Baru-baru ini ramai di media sosial berita tentang meninggalnya salah satu dokter yang tengah bertugas di Papua. Dunia kedokteran dan kesehatan berduka setelah dr. Dhanny Elya Tangke tidak bertahan menghadapi malaria. Dokter lulusan Universitas Hasanudin tahun 2012 itu sedang menjalani tahun ketiganya mengabdi di distrik Weime, Kabupaten Pegunungan Bintang, Propinsi Papua. Berita kepergiannya menjadi viral di jagat dunia maya dan ucapan belasungkawa mengalir deras.

Indonesia timur memang terkenal sebagai daerah endemis malaria. Tidak hanya di Papua, tapi juga di Maluku bahkan di kepulauan Indonesia tengah seperti NTB dan NTT. Berita semacam ini sebenarnya bukanlah hal yang aneh. Jumlah dokter yang meninggal dalam tugas tak terhitung dengan berbagai penyebabnya. Selain malaria yang berkomplikasi ke otak, sering terdengar di telinga para dokter tentang gugurnya para sejawat mereka karena kecelakaan dalam tugas seperti tenggelam dan jatuh ke jurang.

Tugas ke daerah terpencil dan sangat terpencil tentu memiliki resiko lebih ketimbang di daerah kota padat. Sarana dan prasarana amatlah kurang, terutama fasilias kesehatan. Seorang yang terkena malaria yang berkomplikasi ke mana-mana tidak bisa ditangani di rumah sakit yang berada di pegunungan, namun harus dirujuk minimal ke rumah sakit rujukan propinsi (RSUP). Perjalanan ke RSUP sendiri membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Pada kasus dr, Dhanny, ia terlambat dievakuasi BEBERAPA HARI karena kendala cuaca.

Sangat banyak kasus pasien meninggal dalam perjalanan atau di RS daerah akibat terlambat dirujuk. Ada berapa banyak jumlah pasien meninggal akibat cedera kepala berat? Indonesia salah satu negara dengan angka kejadian cedera kepala berat yang tinggi. Penyebabnya bisa ditebak: banyaknya pengguna sepeda motor yang berkendara semena-mena, tanpa rem, tanpa kaca spion, bonceng 3 hingga 4, dan paling parah tanpa helm. Seorang yang terkena cedera kepala berat harus cepat dinilai melalui pemeriksaan CT-Scan dan SEGERA dievakuasi perdarahan otaknya di meja operasi. Sayangnya, fasilitas CT-Scan hanya ada di RSUP. Sebelum sempat discan pun banyak yang sudah tewas duluan.

Itu adalah sebagian cerita tentang menyedihkannya fasilitas sarana kesehatan kita. Alih-alih pemerintah menyediakan dana untuk meningkatkan sarana kesehatan yang merata, anggaran kesehatan yang tidak mencapai 5% banyak terpakai untuk program Jaminan Kesehatan Nasional atau yang kita kenal sebagai BPJS. Insan kesehatan sudah menyuarakan bahwa premi BPJS terlalu rendah, yang awalnya disarankan oleh Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) sebesar 66 ribu, setelah melewati DPR menjadi 23 ribu. Beberapa waktu lalu pun banyak masukan untuk menaikkan premi, namun lagi-lagi ditolak oleh DPR, dan mereka menyarankan untuk meningkatkan alokasi anggaran dari pemerintah untuk penanggungan BPJS. Memang program jaminan nasional berbasis asuransi ini banyak bermanfaat, namun bisakah terbayangkan alokasi untuk peningkatan kualitas jasa dan fasilitas kesehatan yang terkena dampaknya? Kondisi ini diperparah dengan belum tersebarluasnya kepesertaan BPJS, atau keadaan yang sangat sering dijumpai di RS: sudah sakit baru daftar BPJS. Jangan tanyakan besar jasa para tenaga kesehatan yang melayani jumlah peserta BPJS yang tiap harinya makin meningkat.

Tapi profesi kesehatan ialah pengabdian. Berapa pun besaran jasanya, dokter dan RS tak pernah boleh menolak untuk memberikan pelayanan. Para buruh dapat menurunkan massanya ke tengah jalan jika upah dirasa tak layak, namun dokter dan tenaga kesehatan lainnya tidak seperti demikian. Para dokter telah terikat dengan sumpah yang mereka ucapkan saat dilantik, “Saya aka membaktikan hidup saya demi kepentingan perikemanusiaan”.

Ributnya kondisi di atas tidak menyurutkan semangat pengabdian sebagian dokter untuk menjelajah ke pegunungan atau ke tengah hutan atau ke pualu terpencil. Daerah- daerah demikian tidak hanya minim fasilitas tapi juga tenaga kesehatan terutama dokter. Bertugas ke daerah terpencil tentu mengorbankan banyak hal. Terasing meninggalkan kenyamanan dan kemewahan metropolitan, jauhnya dari rumah dan keluarga, bertemu wajah-wajah asing dengan watak dan budaya yang sangat berbeda, dan berhadapan dengan ganasnya nyamuk anopheles atau jurang terjal atau amukan ombak atau bahkan adu parang dan peluru antarwarga.

Tentang malaria, ada kisah dari seorang senior yang pernah menjadi dokter PTT (pegawai tidak tetap) di Maluku. Umumnya, seorang yang akan datang ke daerah endemis malaria akan minum obat profilaksis (pencegahan). Dari 8 orang yang bertugas di sana, yang pertama kali terkena malaria adalah orang yang minum obat profilaksis! Senior saya sendiri selama PTT setahun sudah dua kali terkena malaria, sekali terkena malaria ringan (jenis malaria vivax) dan sekali malaria ganas (jenis malaria falciparum).

Ia juga bercerita tentang dokter satu almamater angkatan 2001 yang terkena malaria berkomplikasi ke otak (malaria cerebral). Ia dievakuasi ke RS Cipto Mangunkusumo dan berhasil selamat, setelah yang mengantarkannya selama perjalanan tidak bosan-bosannya melakukan resusitasi jantung paru dan menyuntikkan adrenalin.

“Untuk adik-adik yang mau PTT ke daerah endemik, saran saya ga usah repot-repot minum obat profilaksis…pasti kena,” petuah senior saya tersebut. Yang terpenting, menurutnya, yakinkan ada fasilitas pemeriksaan apus darah tepi dan obat malaria di puskesmas. Gejala awal malaria falciparum yang tidak khas, berupa nyeri perut, dikasih obat mag tidak mempan, setelah diberi obat malaria baru hilang. Ketika diperiksa apus darah tepi, positif malaria ganas….

DIGITAL CAMERA

Salah Seorang Dokter PTT Bertugas di Pedalaman Papua (sumber gambar: http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2013/01/15/dedikasi-dokter-di-daerah-terpenil-525430.html)

Itu baru malaria, belum kisah-kisah berbahaya lainnya yang tidak terekam media.

Tidakkah mengabdi itu seolah seperti menjemput kematian sendiri? Jika mengabdi itu memang berbahaya, apakah ia adalah alasan bagi kita untuk menghindarinya? Lalu, jika tidak ada satu pun yang mau mengabdi karena takut mati, masih adakah kata “kemanusiaan” di buku kamus bahasa?

“Hidup hakikatnya adalah perjalanan, dari satu waktu ke waktu lain menuju mati,” begitu seorang tokoh senior Wanadri dan seniman asal Bandung, Abah Iwan, bernyanyi. Jika yang dikhawatirkan adalah kematian, maka solusi terbaik ialah tidak pernah dilahirkan ke dunia. Sejak lahir pun seluruh sel dalam tubuh kita sudah memiliki kode untuk menghancurkan dirinya sendiri jika waktunya tiba. Kematian adalah keniscayaan; yang membedakan adalah bagaimana manusia berada di dalamnya, dalam kehinaan atau kemuliaan.

Adakah berada di kota besar akan mengamankan kita dari kematian? Tidak. Tak satu pun yang mampu lari darinya jika telah ditakdirkan.

“Setiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya akan disempurnakan pahala kalian pada hari kiamat. Barangsiapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka ia benar-benar telah beruntung. Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya” (QS. Ali Imran: 185)

Mengabdi bukanlah menjemput mati, melainkan justru menjemput kehidupan. Awalnya manusia berada di dalam ruangan yang sangat sempit, di dalam rahim sang ibu. Kemudian, sambil menghembuskan nafas ia keluar menuju tempat yang lebih luas, dunia. Di masa kanak-kanak, area kehidupannya hanya berkisar rumah dan sekitarnya. Setelah beranjak dewasa, kehidupannya tumbuh seiring dengan meluasnya tempat hidupnya. Hingga kemudian, nafas-nafas kehidupannya melebar ke sudut-sudut yang terlupakan, terpencil dan jauh dari keramaian manusia, untuk berbagi senyum kehidupan. Jika enggan untuk melakukan perjalanan hingga ke sudut-sudut tersebut, tidakkah kehidupan kan terasa terlalu sempit?

Mengabdi ialah melakukan perjalanan. Langkah demi langkah harus terus dijejakkan. Manusia takkan pernah bisa hidup diam dan tak bergerak. Pepatah Arab mengatakan kehidupan manusia bagaikan air; jika mengalir ia menjadi jernih, namun jika diam dan menggenang ia kan kotor.

Jika mendengar kisah betapa berbahaya dan menantangnya di jalan pengabdian, maka yang muncul seharusnya ialah bukan takut melainkan bertambah semangat. Tentu melakukan perjalanan bukanlah untuk bunuh diri.

Tujuan dari perjalanan ialah “sampai di tujuan dan pulang kembali dengan selamat”. Berhasil atau tidaknya perjalanan sangat ditentukan oleh matangnya persiapan. Prinsipnya ialah “jangan lakukan perjalanan jika tidak memiliki persiapan”. Kadar persiapan tiap perjalanan tentu berbeda. Mendaki gunung es tentu memiliki persiapan yang jauh berbeda ketimbang mendaki gunung non-es. Menempuh rimba selama seminggu butuh persiapan ekstra ketimbang berkemah hanya semalam. Begitu pun ketika bertugas ke pedalaman: lakukan persiapan sebaik mungkin dan gali informasi yang banyak sebelum berangkat.

Ini pula yang membedakan antara “nekat” dan “berani”: orang yang berani berjalan menantang bahaya namun telah memiliki perhitungan, berbeda dengan nekat.

Mungkin kita kan bertanya, menyesalkah dr. Dhanny masuk ke pedalaman Papua setelah ia tahu kondisinya demikian? Tidak ada yang tahu. Tapi saya yakin—maafkan saya yang sok tahu ini—ia tidak menyesal, karena ia sendiri pernah bertutur, “Adalah kegembiraan dan kehormatan bagi saya bila dapat membantu dan melayani masyarakat di daerah terpencil”.

Jasadnya telah mati, seperti kita semua yang juga akan mati. Tapi, apakah jasa-jasa kita juga kan terkenang? Adakah nama kita kan juga mengabadi dan memberi inspirasi? Itulah perbedaannya antara pengabdi dan orang biasa.

Di akhir, saya ingin mengutip lirik “Balada Prajurit” yang diciptakan oleh Abah Iwan, berisi tentang para prajurit yang bertugas demi tanah air. Ya, para dokter yang mengabdi dan profesi apa pun yang mencurahkan pengorbanannya demi bangsa dan negara pada hakikatnya adalah para prajurit tanah air.

BALADA SEORANG PRAJURIT

Bangunlah hai prajurit, Siagakan dirimu

Berlatih tak pernah kenal berhenti

Gembirakan hatimu, Kobarkan semangatmu

Putus asa jauhkan dari dirimu

 

Bertempur pantang mundur

Lebih baik hancur lebur

Bila perlu demi tugas rela gugur

Bagi seorang ksatria kehormatan yang utama

Keringat dan darah siap kukorbankan

 

Gunung-gunung kudaki, Jurang curam kuturuni

Biar siang biar malam tak peduli

Hutan rimba kuarungi, Sungai deras kuseberangi

Biar hujan biar panas tak peduli

 

Sungguh jauh dari rumah, Rasa rindu tak tertahan

Namun tugas bagiku lebih utama

Demi kehormatan bangsa, Demi rakyat yang tercinta

Jiwa raga bila perlu kukorbankan

Bangunlah hai prajurit Siagakan dirimu

Categories: kesehatan, merenung, pembelajaran | Tags: , , , , | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: