Posts Tagged With: papua

Cerita PTT di Teluk Bintuni, Papua Barat (2): Beban Kerja yang Banyak

Keputusan saya bekerja ke Papua dilatarbelakangi oleh berbagai alasan; keinginan untuk “mengabdi” ke Papua sudah ada semenjak di bangku kuliah. Kata mengabdi sengaja saya beri tanda kutip karena makna pengabdian itu luas dan tidak harus ke tempat yang jauh. Dokter yang bekerja di dekat rumahnya atau di kota besar pun memiliki pengabdiannya tersendiri. Saya sendiri memilih jalan pengabdian ke pulau paling timur di Nusantara.

Tidak dipungkiri bahwa Surat Masa Bakti dan Surat Rekomendasi sebagai bekal untuk daftar sekolah spesialis nanti menjadi salah satu faktor pendorong untuk berangkat ke Papua Barat. Namun, faktor terbesar bagi saya ialah keinginan untuk bertualang ke tempat baru, melihat wajah-wajah baru, dan mengenal kebiasaan serta budaya baru. Menurut saya, dengan berpergian hingga ke ujung Nusantara, saya bisa mengenal negeri ini dengan lebih baik. Lagi pula, bukan kah manusia itu seperti air, jika terus diam di satu tempat ia akan menggenang dan menjadi kotor, sedangkan jika terus bergerak ia akan menjadi bersih? Itu sedikit alasan filosofis yang mendorong saya untuk pergi jauh ke timur, heheheh.

Sekilas tentang RSU Bintuni

RSU Bintuni, Khasnya ialah Bangunan UGD di Belakang Poliklinik, Tidak Seperti RS Kebanyakan

RSU Bintuni, Khasnya ialah Bangunan UGD di Belakang Poliklinik, Tidak Seperti RS Kebanyakan

Keinginan mengabdi ke daerah terpencil sekaligus belajar ilmu klinis; kedua alasan itu membuat saya memilih untuk bekerja di rumah sakit. Memang jika ingin merasakan nuansa “mengabdi di daerah terpencil” dan aroma petualangan, puskesmas adalah pilihan yang lebih pas. Namun, belajar ilmu klinis merupakan kebutuhan yang lebih utama sehingga saya pun memutuskan ke RS.

RSU Bintuni adalah rumah sakit milik pemerintah tipe D dan merupakan satu-satunya rumah sakit di Kabupaten Teluk Bintuni. Belum ada rumah sakit swasta yang berdiri di sana, dan setahu saya rumah sakit swasta di Papua Barat hanya ada di Kota Sorong (bahkan Manokwari sebagai ibukota propinsi pun belum punya). Meskipun begitu, saya tidak ragu untuk memberikan apresiasi terhadap rumah sakit ini.

Walaupun RSU Bintuni baru berdiri di tahun 2012, harus diakui bahwa RS pemerintah ini berkembang cukup progresif. Saat ini ia memiliki fasilitas yang lebih baik daripada RSU di Manokwari dan Sorong. Karena terbilang baru, bangunannya pun terlihat modern jika dibanding RSU pada umumnya. Di tahun 2016, RSU Bintuni mendapat akreditasi dari Komite Akreditasi Rumah Sakit dan telah terstandardisasi ISO. Di pertengahan tahun 2016 RS mendatangkan 8 buah alat ventilator yang satu unitnya setara dengan 2 mobil Hilux, kemudian, di akhir tahun, alat pemindai jaringan lunak duduk dengan megah di kamar radiologi, membuat Bintuni sebagai satu-satunya daerah di Papua yang memiliki alat CT-Scan.

Perawatan di RS ini sepenuhnya gratis, tidak peduli apakah pasien punya BPJS, KIS, atau embel-embel lainnya. Begitu pula dengan obat-obatan di farmasi, seluruhnya gratis, baik itu obat generik maupun obat bermerk. Mungkin kita banyak mendengar cerita susahnya dokter UGD bekerja melayani pasien BPJS karena banyak kriteria kegawatdaruratan yang diterapkan oleh BPJS. Saya ingat saat internsip dulu, jika ada pasien rawat jalan datang ke UGD, pasien tersebut tidak boleh diinfus karena jika dipasang—menurut BPJS—pasien tersebut harus dirawat. Jika ketentuan tersebut tidak dipenuhi, BPJS bisa menolak membayarkan klaim, yang berujung kerugian pihak RS. Bagaimana dokter tidak pusing jika tidak bebas bergerak dalam bekerja dan banyak dibatasi? Nah, hal-hal tersebut tidak berlaku di RS ini; pokoknya semua pengobatan dan tindakan yang dilakukan dokter ditanggung, baik oleh BPJS maupun rumah sakit.

Keadaan tersebut membuat para dokter tidak ragu dalam memberikan pengobatan. Di tempat internsip kemarin, perawat sering mengingatkan bahwa pemberian obat omeprazole injeksi bagi pasien BPJS maksimal hanya 3 hari dengan dosis pemberian sekali per hari. Di Bintuni, dokter bebas memberikan obat tersebut berhari-hari dengan dosis 2x/hari. Begitu pula ketika ada pasien yang membutuhkan transfusi albumin yang harga satu botolnya mencapai satu juta rupia, tidak ada keraguan dalam memberikannya, malah pernah ada satu pasien yang mendapat transfusi sampai empat botol, dan itu semua gratis! Masalah muncul ketika terjadi kekosongan obat-obatan tertentu. Karena RSU Bintuni mendapat suplai obat-obatan dari luar (mungkin luar Papua), kadang butuh waktu lama bagi RS untuk memenuhi stok kembali.

Tidak hanya perawatan dan pengobatan, pihak RS juga menanggung biaya trasnportasi jika pasien perlu dirujuk. Masalah yang banyak ditemui pasien miskin jika ingin dirujuk ialah biaya transportasi yang tidak ditanggung karena BPJS hanya meng-cover biaya pengobatan. Pernah satu kali saya merujuk pasien perdarahan otak ke Makassar. Untuk mencapai kota tujuan, pasien harus naik pesawat Susi Air dari Bintuni ke Sorong lalu lanjut naik pesawat Sriwijaya ke Makassar. Yap, biaya pesawat pasien dan satu keluarga pasien yang mengantar—termasuk dokter yang ikut mengantar—dibiayai oleh RS.

Menjadi Dokter Umum

Sistem kerja di RS sana tidaklah jauh berbeda dengan RS lain pada umumnya; hal yang berbeda ialah dokter yang bertugas di UGD merangkap tugas sebagai dokter ruangan. Ini terjadi dikarenakan pihak manajemen memutuskan untuk membatasi jumlah dokter umum di RS. Jumlah dokter umum semenjak saya pertama kali datang hingga selesai masa tugas tetap sama, yaitu 8 orang: 3 orang yang sudah senior di poli umum, poli konsultasi, dan medical check-up, dan 5 orang tenaga kontrak (PTT) di UGD sekaligus bangsal. Keadaan tersebut bisa membuat seorang yang sedang tidak beruntung bolak-balik ke UGD, bangsal, hingga kamar bersalin. Untungnya jumlah pasien bisa dibilang sedikit jika dibandingkan di Jawa.

Menjadi dokter tentu tidak bisa dipisahkan dari berinteraksi dengan masyarakat; saya menjadi tahu bahwa banyak orang asli yang karakternya cukup keras Di Bintuni, untuk melakukan pemasangan infus saja perlu tanda tangan persetujuan informed consent. Kata orang-orang RS, pernah terjadi pemukulan terhadap dokter akibat kesalahpahaman, penusukan jarum infus di tangan dikira tindakan menyakiti pasien. Selain itu, tidak sedikit mereka yang sebenarnya memiliki indikasi untuk dirawat tapi susahnya setengah mati untuk membujuk mereka agar mau menginap di RS. Setelah akhirnya berhasil diyakinkan, 2-3 hari kemudian mereka meminta pulang paksa. Tidak sedikit pula orang tua yang membawa anaknya ke RS karena batuk pilek dan rewel. Setelah dinilai bahwa sang anak mengalami radang paru-paru alias pneumonia, mereka menolak dilakukan pemasangan infus terhadap anak yang berujung pada penolakan rawat inap. Weww, kalau tidak mau dirawat, untuk apa jauh-jauh datang RS? Hahah. Tapi tentu banyak juga masyarakat di sana yang kooperatif dan mematuhi petunjuk dokter dan perawat.

Kasus terbanyak yang saya temukan di Bintuni tidaklah mengejutkan. Seperti yang ditulis di tulisan pertama, HIV dan tuberculosis paru (TB) menjadi 2 penyakit primadona di Papua. Pendidikan yang kurang membuat hubungan seks di luar nikah tidak sedikit dilakukan semenjak mereka masih usia sekolah. Kesadaran akan “hubungan seks aman” yang rendah memperparah penyebaran virus ganas yang membunuh sistem imun manusia tersebut, ditambah lagi adanya bangunan plus plus yang berdiri dengan tenang. Banyaknya angka infeksi paru-paru juga tidaklah mengherankan mengingat kondisi higienitas masyarakatnya yang amat kurang. Beberapa kali di RS ditemukan tuberkulosis dengan resistensi berbagai obat, yang membuat pasien-pasien tersebut harus dirujuk ke Sorong untuk mendapat penanganan dari tim khusus. Ya, minimnya kesadaran untuk patuh meminum banyak jenis obat selama 6 bulan disertai pengawasan yang lemah sudah bisa ditebak.

Selain hal di atas, kebiasaan lain yang sungguh amat disayangkan banyak terjadi di sana adalah mabuk. Masalah utama soal keamanan di Bintuni bukanlah pencurian atau begal; selama setahun di Bintuni saya tidak pernah menemukan kasus begal, bahkan pernah saya parkir motor di depan masjid dengan kuncinya masih menancap di motor, setelah ditinggal setengah jam sepeda motornya masih utuh (tapi tidak untuk dicontoh sih, heheh). Namun, yang banyak terjadi adalah kasus kekerasan, penganiayaan, dan kecelakaan yang dipicu oleh minuman beralkohol. Tengah malam adalah waktu yang umum bagi UGD menerima korban kecelakaan gara-gara pengemudinya mabuk. Pernah satu malam saya menerima empat pasien luka-luka akibat “baku potong” yang semuanya dalam pengaruh alkohol, dan yang membuatnya lebih menyedihkan ialah teranyata salah seorang dari mereka merupakan oknum penegak hukum.

Satu lagi jenis kasus yang cukup sering adalah percobaan bunuh diri dengan minum bayclin. Ketika ditanya, mereka mengaku stres atau tidak tahan dengan konflik yang terjadi di keluarga. Meskipun demikian, kebanyakan mereka meminum bayclin hanya untuk menggertak saja (tidak benar-benar ingin bunuh diri) sehingga jumlah yang diminum tidak banyak, tapi tetap saja perlu mengobservasi mereka dengan ketat kalau-kalau terjadi perdarahan di saluran cerna. Selama satu tahun di Bintuni, total ada empat kasus seperti itu yang saya terima, dengan keempat-empatnya menolak untuk dirawat inap, atau ada yang awalnya mau dirawat tapi berujung ke penandatanganan surat pulang paksa.

Saya sudah menyebutkan bahwa jumlah pasien yang masuk ke UGD rata-rata tidaklah banyak, namun jika sial, ketika sedang mencoba menangani pasien jantung di UGD, perawat di bangsal menelpon karena ada pasien henti nafas, lalu bidan di ponek meminta dokter untuk datang karena seorang pasien di sana sudah melahirkan, yang dilanjutkan permintaan dari perawat perinatologi untuk menuliskan status bayi baru lahir. Yahh, kondisi di atas bisa disebut sangat jarang.

Jumlah pasien RS yang sedikit bukan karena masyarakatnya sudah memiliki status kesehatan yang mapan, tapi karena permasalahan akses ke rumah sakit yang sulit bagi warga Teluk Bintuni yang tinggal di seberang lautan atau di atas gunung. Jika sejawat dari puskesmas di distrik yang jauh ingin merujuk, kadang mereka harus menunggu jadwal kapal, walau banyak juga yang diantar menggunakan longboat milik puskesmas. Selain itu, jumlah pasien yang enggan patuh untuk dirujuk dan lebih memilih pengobatan secara “adat” tidak sedikit. Karena kendala transportasi, bisa saja dokter puskesmas sekali mengirim pasien dalam jumlah banyak. Setidaknya saya pernah menerima 4 pasien rujukan sekaligus dari tempat dan di waktu yang sama.

Komite Medik RSU Bintuni memiliki kebiasaan ilmiah yang baik. Setiap Senin, sang ketua komite medik yang juga merupakan dokter spesialis sangat bersemangat mengajak seluruh dokter di RS untuk mengikuti morning report. Seluruh dokter UGD yang bertugas di hari Sabtu harus membuat satu laporan kasus pasien rawat inap untuk dipresentasikan. Di hari Kamis, dokter jaga secara bergilir diminta untuk membuat case report mengenai kasus menarik yang pernah ditemukan. Weww, repot banget yak? Hahahah….

Morning Report, Kadang-Kadang Sepi

Morning Report, Kadang-Kadang Sepi

Pengalaman yang paling berkesan selama satu tahun di Bintuni tentu adalah ketika merujuk pasien lewat udara. Sebelumnya saya sering mendengar cerita dokter-dokter daerah terpencil yang merujuk pasien menggunakan boat kecil menantang ombak atau pesawat kecil berbaling-baling. Menjelang habisnya masa kontrak kerja, tiba-tiba saya diminta mengantarkan seorang pasien ke Makassar. Umumnya tenaga kesehatan yang mendampingi pasien di pesawat adalah perawat, tapi karena pasien ini mengalami perdarahan otak (berdasarkan hasil CT-Scan) yang sampai menggeser otak dan memiliki kesadaran rendah, pihak dokter di bandara Sorong menginginkan agar pasien tersebut didampingi oleh dokter.

Selama di dalam pesawat, saya berkali-kali membenarkan infus yang macet gara-gara pasien gelisah, juga menyiapkan obat-obatan injeksi untuk dimasukkan sesuai jadwalnya. Walau di surat pengantar dokter penyakit dalam menulis bahwa peluang pasien ini dubia ad malam alias cenderung untuk tidak dapat bertahan, kami berhasil mencapai RSUP Wahidin tanpa kendala berarti. Setelah kembali ke Bintuni, saya mendapat kabar bahwa pemuda yang mengalami perdarahan tersebut telah selesai dioperasi dan dilaporkan kesadarannya meningkat. Alhamdulillah.

Di akhir masa kerja, akhirnya saya mendapatkan surat-surat sakti itu: surat masa bakti dan surat rekomendasi dari rumah sakit. Saya juga mengajukan permohonan surat rekomendasi ke Bapak Bupati, yang dijawab melalui direktur bahwa beliau tidak keberatan namun baru bisa dikerjakan setelah tahun baru. Tentu rasa senang tumbuh, tapi bukan itu yang saya cari di Papua. Ilmu-ilmu klinis yang diajarkan oleh para dokter spesialis merupakan ilmu yang tiada harganya. Bantuan dan kerja sama dari seluruh pegawai RS, juga keramahan mereka, insyaAllah bukan lah hal yang untuk dilupakan. Juga yang paling penting dari itu semua adalah masyarakat dan tanah Papua yang telah banyak memberikan pengalaman dan pelajaran, sesuatu yang tidak akan didapatkan jika saya enggan keluar dari zona nyaman di rumah.

Ketika koas, seorang konsulen berkata, “Jika sudah terlanjur tercebur di kolam, maka berenanglah dengan baik agar selamat.” Saya tidak menyangka masih bisa berenang dengan baik di samudera dunia kedokteran yang sangat dalam dan penuh gelombang ini. Yap, perjalanan saya masih jauh dan ombak yang lebih ganas mungkin sedang menanti. Akankah saya dapat bertahan? Hmm, mungkin itu tergantung jumlah dan kekuatan “bahan bakar” yang saya miliki. Setiap orang memiliki sumber energinya masing-masing untuk menjadi dokter, tapi saya yakin, sumber kekuatan yang paling kuat dari itu semua ialah rasa dan sifat kemanusiaan yang dianugerahkan oleh Tuhan.

Categories: catatan perjalanan, kesehatan | Tags: , , , , , , | 3 Comments

Cerita PTT di Teluk Bintuni, Papua Barat (1): Kota yang Panas

Bekerja sebagai tenaga PTT alias Pegawai Tidak Tetap masih menjadi favorit terutama bagi dokter yang baru lulus atau selesai internsip. Walaupun PTT Pusat sudah dihapuskan oleh pemerintah dan digantikan dengan Nusantara Sehat (NS)—yang mengirimkan dokter beserta tenaga kesehatan lainnya (perawat, bidan, apoteker, dll) untuk bekerja secara tim ke puskesmas di daerah terpencil—masih banyak daerah-daerah terpencil di nusantara yang membutuhkan dokter-dokter tenaga kontrak. Dokter yang sedang PTT daerah sekarang lebih tepat disebut sebagai tenaga kontrak yang diberdayakan oleh suatu daerah. Karena ia berbasis daerah, kebutuhannya pun tergantung masing-masing daerah, apakah mereka sedang membutuhkan dokter atau tidak. Lama kontraknya juga tergantung kebijakan tiap daerah masing-masing, yang biasanya di daerah kategori terpencil mau mengkontrak dokter hanya selama 1 tahun dan daerah kota menuntut dokter untuk kontrak minimal 3 tahun.

Alasan mau bekerja di daerah terpencil tentu macam-macam. Ada yang memang ingin mengabdikan ilmunya ke daerah, tidak sedikit pula yang mengincar Surat Masa Bakti (SMB) dan Surat Rekomendasi Sekolah Spesialis dari institusi daerah. Dengan kombinasi dua alasan tersebut—mengabdikan ilmu dan menginginkan surat sakti—saya pribadi memutuskan untuk sejenak mencari pengalaman ke daerah.

Mencari informasi lowongan kerja PTT daerah harus lah melalui mereka yang pernah bekerja di sana, atau jika beruntung mendapat broadcast di grup messenger. Saya sendiri mendapat informasi lowongan di Bintuni melalui senior yang baru saja pulang dari sana. Berutung, di akhir tahun 2015, RSU Bintuni masih membutuhkan tenagan dokter umum satu lagi.

Menuju Kabupaten Teluk Bintuni bisa melalui dua jalur, yaitu naik pesawat ke Kota Sorong lalu lanjut dengan pesawat kecil Susi Air menuju Bintuni, atau terbang ke Manokwari yang kemudian dilanjutkan melalui jalur udara atau darat.. Saya sendiri lebih suka opsi yang terakhir, yaitu terbang ke ibukota Propinsi Papua Barat lalu lanjut dengan jalur darat ke Bintuni.

Jadwal pesawat ke Papua tidaklah menyenangkan; seluruh pesawat yang terbang ke daerah timur berangkat di waktu dini hari dari Makassar. Jika menggunakan pesawat yang transit dulu di Makassar, penumpang harus menunggu dulu di bandara Sultan Hasanuddin selama 2-3 jam di waktu tengah malam. Di perjalanan pertama ke Bintuni, saya sampai di Makassar jam 12 malam dan menunggu hingga jam 3 pagi untuk melanjutkan perjalanan, dan akhirnya mendarat di Manokwari jam 7 pagi.

Setelah tiba di Bandara Rendani, tugas selanjutnya adalah mencari mobil Toyota Hilux yang memiliki dua gardan. Ya, jika mengintip keluar jendela pesawat saat di atas tanah Papua, kita bisa melihat hampir seluruh pulau masih ditutupi hutan, kontras dengan pulau Jawa yang sudah banyak kota, perkampungan, dan sawah. Pembangunan di Papua masihlah sangat minim; jalur darat antarkota di Papua masih jarang dan jika ada pun kondisinya memprihatinkan. Perjalanan darat ke Bintuni dari Manokwari hanya bisa ditempuh melalui mobil dengan dual gearbox dan berban besar seperti Toyota Hilux, Mitsubishi Strada, dan Toyota Land Cruiser.

Bandar Udara Rendani, Manokwari

Bandar Udara Rendani, Manokwari

Mencari kendaraan ke Bintuni sebenarnya tidaklah sulit karena mobil Hilux yang melayani perjalanan Manokwari-Bintuni jumlahnya ada banyak dan sudah menjadi transportasi umum masyarakat. Untuk mendapatkannya, kita dapat naik ojek dahulu di luar bandara (mengenal tukang ojek di Manokwari gampang karena mereka semua mengenakan helm kuning) menuju pasar Wosi. Kalau membawa koper besar, bisa sewa taksi Avanza seharga 100 ribu, menemukannya pun mudah karena begitu keluar dari bandara, berbondong-bondong orang-orang menawarkan taksi. Begitu sampai di pasar, ada banyak Hilux berjejer dan orang menawarkan transportasi ke Bintuni. Mobil Hilux yang merupakan kendaraan pickup mampu memuat hingga 5 orang termasuk supir, dan tarif perjalanan ke Bintuni sebesar 500 ribu per orang. Bisa juga mobil tersebut dicarter sendiri dengan biaya 2 juta.

Perjalanan dari Manokwari ke Bintuni ditempuh selama 7-8 jam; jika cuaca jelek dan jalanan berlumpur, waktu tempuh bisa lebih lama. Pada saat perjalanan pertama ke Bintuni, saya tertidur pulas akibat tidak bisa tidur sama sekali di pesawat, sehingga melewatkan pemandangan sepanjang perjalanan. Di perjalanan-perjalanan berikutnya barulah saya bisa melihat-lihat apa yang ada di antara Manokwari-Bintuni.

Kondisi jalan dari Manokwari menuju Ransiki, kecamatan utama Kabupaten Manokwari Selatan, beraspal baik. Di beberapa titik bisa terlihat samudera pasifik di sebelah kiri. Biasanya sang supir akan istirahat untuk makan di Oransbari atau Ransiki, dua kecamatan besar di Manokwari Selatan yang banyak dihuni transmigran, sekitar 3-4 jam dari Manokwari. Kalau pernah mendengar isu bahwa harga-harga di Papua lebih mahal, isu itu memang benar; sekali makan di warung singgah itu kena 30 ribu dengan menu nasi dan ayam goreng, jika menunya ikan maka bisa ditarik 50 ribu.

Setelah Ransiki, kendaraan akan mulai menaiki bukit dengan tebing batu yang telah dikeruk, yang orang-orang di sana menyebutnya Gunung Botak. Kadang-kadang, kalau penumpang lainnya setuju, kita bisa minta supir untuk berhenti sebentar di Gunung Botak untuk mengambil foto. Pemandangan laut disertai bukit-bukit yang membentang membuat lokasi itu cukup berharga untuk memenuhi koleksi foto di kamera.

Begitu masuk gunung botak, jalanan mulai rusak, dan tak lama kemudian masuk ke jalanan penuh lumpur yang dikenal dengan Pintu Batu. Jika cuaca sedang kering, mobil tidak akan menemui masalah melewatinya, namun jika sedang hujan, apalagi hujan deras, tidak jarang Hilux pun nyungsep. Truk-truk pengangkut barang dapat terlihat parkir di pinggir jalan; para krunya memutuskan menginap di sana sambil menunggu jalanan kembali kering. Pernah sekali mobil yang saya tumpangi harus ditarik oleh Hilux lain karena tidak bisa melewati genangan lumpur. Keadaan seperti ini lah yang bisa membuat perjalanan menjadi begitu lama.

Toyota Hilux, Kendaraan Primadona Papua

Toyota Hilux, Kendaraan Primadona Papua

Kondisi Jalanan yang Berlumpur dan Licin antara Manokwari-Bintuni

Kondisi Jalanan yang Berlumpur dan Licin antara Manokwari-Bintuni

Pemandangan Gunung Botak via http://www.kompasiana.com/eddypp86

Pemandangan Gunung Botak via http://www.kompasiana.com/eddypp86

Sisa perjalanan ialah melewati hutan yang di beberapa titik ada perkampungan kecil. Melihat kondisi perkampungan yang sepertinya hanya mendapat akses listrik di malam hari dan air bersih yang terbatas membuat saya bersyukur sekaligus prihatin. Kondisi kesehatan penduduknya pasti lah sangat rendah, apalagi Manokwari Selatan adalah kabupaten baru yang belum memiliki rumah sakit. Di balik itu semua, mungkin masih ada masyarakat yang masih tinggal di hutan dan memiliki akses ke fasilitas kesehatan adalah hal yang mewah.

Panas

Itu adalah kesan pertama saya ketika pertama kali menginjakkan kaki di Bintuni. Cukup berdiri saja di tempat terbuka, tanpa berjalan atau ­ngapa-ngapain, langsung rasa lelah mengalir ke seluruh badan seolah habis naik gunung. Pokoknya panas banget lah; panasnya Jakarta ga ada apa-apanya dibanding Bintuni.

Kabupaten Teluk Bintuni merupakan kota pesisir hasil pemekaran dari Kota Manokwati di tahun 2004. Sebagai kabupaten yang baru, pembangunannya masih belum banyak. Kota ini hanya memiliki satu jalan lurus yang membentang dari satu ujung yaitu Kantor Bupati di area transmigran sampai ke arah perbukitan yang entah berujung di mana. Pusat keramaian, atau orang-orang di sana menyebutnya “kota”, ada di daerah dekat dengan pelabuhan atau Km 0, sedangkan  rumah sakit berada di Km 7, ke arah daerah atas atau perbukitan. Karena letaknya, jika pergi ke kota orang-orang akan menyebutnya “ke bawah” sedangkan ke arah rumah sakit mereka menyebutnya “ke atas”. Teluk Bintuni juga menaungi distrik-distrik yang ada di seberang lautan, yang untuk ke sana hanya bisa ditempuh dengan kapal atau longboat.

Dokter PTT tidak perlu khawatir mengenai masalah tempat tinggal karena disediakan mess oleh Dinas Kesehatan yang terletak di Km 5. Karena milik Dinas Kesehatan, sebenarnya mess tersebut diperuntukkan untuk dokter-dokter puskesmas, sedangkan dokter-dokter rumah sakit statusnya menumpang. Namun, karena puskesmas lokasinya jauh-jauh sehingga dokternya pun harus tinggal di puskesmas, mess sehari-hari lebih banyak digunakan oleh dokter rumah sakit. Sekali-sekali dokter puskesmas “pulang” ke Bintuni untuk membuat laporan, pelatihan, atau sekedar melepas kejenuhan, tapi setelah seminggu mereka kembali ke distrik. Jadi, yah, fasilitas mess seperti dapur dan TV serasa dimiliki oleh dokter rumah sakit. Sayangnya, Km 5 merupakah daerah yang belum ter-cover sinyal 3G alias masih 2G (sinyal yang ada di Teluk Bintuni hanyalah dari provider Telkomsel). Daerah yang penduduknya bisa internet-an dengan baik adalah di dekat Puskesmas hingga masjid besar, di Km 1 dan 0.

Mess Dokter, Belakang Dinas Kesehatan

Mess Dokter, Belakang Dinas Kesehatan

Tidak sulit mencari makanan di Bintuni; “kota” merupakan tempat yang paling banyak warung makan. Para tukang jualannya kebanyakan ialah orang Jawa yang menjual lalapan ayam goreng, ikan goreng, tempe/tahu penyet, dan nasi goreng. Ada juga warung milik orang Bugis dengan menu coto dan konro. Harganya? Yup, sama seperti di tempat singgah tadi, yaitu 30 ribu/porsi. Tapi tidak perlu khawatir soal pengeluaran untuk makan karena selain besaran gaji dokter umum yang cukup untuk meng-cover biaya hidup di Papua, RS juga menyediakan nasi kotak bagi dokter yang bertugas. Kadang-kadang penghuni mess memasak sendiri kalau sudah bosan dengan makanan di luar yang itu-itu saja.

Makanan khas Papua adalah sagu yang direbus kemudian didinginkan, yang disebut dengan “papeda”. Makanan tersebut berkonsistensi kenyal seperti lem kanji, biasanya dimakan dengan ikan kuah kuning. Walau merupakan makanan khas, papeda ikan kuah kuning jarang dijual di warung dan biasanya merupakan makanan yang disajikan jika ada acara hajatan, itu pun tidak sering. Kebanyakan tempat makan di Bintuni menjual makanan seperti yang disebutkan tadi, nasi lalapan khas orang Jawa.

Papeda

Papeda

Papeda Dimakan Bersama Ikan Kuah Kuning

Papeda Dimakan Bersama Ikan Kuah Kuning

Selain makanannya yang kurang variatif, di Bintuni juga tidak ada hiburan sama sekali. Jika mengetik kata “Teluk Bintuni” di Google Maps, terlihat titik biru di tepi “mulut atas” pulau Papua yang berdekatan dengan laut. Wah, dekat laut! Tapi jangan terkecoh, jika di-zoom, bisa dilihat daratan-daratan dekat laut itu dibelah-belah sungai. Yap, di Bintuni tidak ada pantai dan tidak ada laut, yang ada hanyalah sungai. Pelabuhan di Bintuni pun berukuran kecil karena merupakan pelabuhan sungai. Tidak ada juga lokasi-lokasi menarik lain untuk dilihat. Jadi, yah, satu tahun terasa sangat lambat di Bintuni karena rasa jenuh.

Setelah beberapa minggu tinggal di sana, saya pun mulai mengenal dan memahami karakter orang Papua. Hal pertama yang saya notice adalah orang Papua tidak suka bersawah dan beternak. Pola pikir hidup yang sederhana membuat mereka lebih senang berburu rusa di hutan, membuat daging rusa lebih mudah ditemukan di pasar dan warung daripada daging sapi. Selain berburu, masyarakat di sana juga banyak berkebun pisang sehingga harga pisang di sana murah-murah. Masyarakat asli sana juga tampaknya tidak memiliki passion untuk berdagang atau berwira usaha, terlihat dari para pemilik warung dan toko yang hampir semuanya adalah pendatang. Keadaan seperti itulah yang membuat pendatang—kebanyakan dari Jawa dan Sulawesi—berperang penting dalam roda perekonomian di Bintuni.

Tentu saja kualitas pendidikan sangat jauh jika dibandingkan dengan di Jawa. Tampaknya kesadaran untuk sekolah pun masih belum tinggi; saya pernah mendengar cerita dari pengurus sebuah sekolah Islam di daerah transmigran bahwa tidak jarang orang tua siswa sendiri lah yang menarik anaknya dari sekolah. Kualitas pendidikan yang rendah tentu berimbas pada kualitas kesehatan. Penyakit yang paling banyak ditemukan di sana tidak lah mengejutkan, yaitu penyakit menular seksual dan tuberculosis (TB), dua penyakit yang banyak ditemukan di daerah yang higienitasnya kurang dan pendidikannya rendah.

Meskipun begitu, saya bersyukur memiliki pengalaman tinggal di Papua dan berinteraksi dengan orang-orangnya, walau hanya satu tahun. Dengan melihat daerah di nusantara hingga ke paling ujungnya, kita bisa lebih mengenal negara ini. Papua sudah bergabung dengan Indonesia sejak tahun 1969 namun masih banyak celah perbaikan yang perlu diisi. Siapakah yang perlu mengisinya? Tentu jari kita tidak harus melulu diarahkan ke pemerintah, tapi bisa dikembalikan ke diri sendiri dengan mengabdikan ilmu yang dimiliki di daerah yang masih membutuhkan.

Cerita pengalaman saya bekerja di RSU Bintuni bisa dibaca di sini.

Categories: catatan perjalanan, kesehatan | Tags: , , , , , | 3 Comments

Papeda, Makanan Orang Papua

Ketika berkunjung ke suatu daerah di Nusantara ini, apakah keperluan jalan-jalan, sekolah, dan bekerja, sempatkanlah untuk mencicipi makanan khasnya. Keanekaragaman jenis makanan yang ada dari ujung Sabang hingga Merauke merupakan bukti kekayaan tanah air kita.

Setelah puas menikmati makanan Lombok selama internship setahun lalu, kini saya ingin mencoba apa yang ada di Papua. Mungkin tidak banyak makanan khas yang bisa ditemukan di pulang paling timur Indonesia ini. Maklum, kebiasaan orang Papua bukanlah bercocok tanam—amat jarang ditemukan sawah di Papua, kecuali di permukiman transmigran. Petugas laboratorium yang merupakan orang asli orang Teluk Bintuni mengamininya. “Orang Papua lebih suka berburu,” katanya. Sampai sekarang pun orang-orang asli Papua masih berburu dan mengambil sayur dan buah-buahan dari hutan untuk mengisi perut. Bahan-bahan makanan yang ada di pasar kebanyakan kiriman dari kapal yang berlayar dari Jawa.

Makanan asli orang Papua ialah Papeda. Terbuat dari tepung sagu yang dilarutkan dalam air mendidih, bentuk papeda seperti lem kanji. Konsistensinya kenyal dan agak lengket—benar-benar seperti lem—dan berwarna putih-bening. Karena tebuat dari sagu, papeda memiliki kandungun nutrisi berupa glukosa dan serat sehingga ia cocok menjadi makanan pokok selain nasi. Rasa papeda memang hambar. Namun, umumnya makanan ini dinikmati bersama dengan ikan kuah kuning.

Papeda

Papeda

Papeda Dimakan Bersama Ikan Kuah Kuning

Papeda Dimakan Bersama Ikan Kuah Kuning

Selama berada di Teluk Bintuni, papeda tidak pernah saya temukan di warung makan. Selain tidak bercocok tanam, tampaknya masyarakat Papua juga tidak memiliki jiwa wirausaha yang tinggi. Kebanyakan yang membuka toko atau warung ialah para pendatang yang merupakan orang Jawa atau Makasar. Alhasil, makanan yang dijual kebanyakan di Teluk Bintuni ialah pecel ayam goreng dan coto….Jadi, papeda merupakan masakan rumahan. Selain itu, papeda juga biasanya disajikan ketika ada acara jamuan makan-makan.

Ya, papeda ikan kuah kuning merupakan makanan khas Papua. Jika suatu waktu berkesempatan mengunjungi tanah Papua, jangan lupa untuk mencicipinya ya 🙂

Categories: catatan perjalanan | Tags: , , , , , | 1 Comment

Cerita PTT: Perjalanan dari Manokwari ke Bintuni

Peta Papua Barat via http://manokwari.bpk.go.id/

Peta Papua Barat via http://manokwari.bpk.go.id/

Sudah menjadi keinginan saya dari dulu untuk mengunjungi Papua. Bekerja di daerah terpencil dan lokasi paling timur Nusantara adalah tantangan tersendiri. Pengabdian dan juga petualangan; mereka adalah dua alasan yang mendorong diri ini untuk bekerja di Teluk Bintuni, salah satu kabupaten di propinsi Papua Barat.

Beruntung saat ini Teluk Bintuni dapat dicapai melalui jalur udara dengan relatif mudah. Sebelum ke Bintuni, pengunjung harus terbang ke arah Manokwari terlebih dulu. Ada 3 maskpai penerbangan yang bisa digunakan dari bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, yaitu Express, Sriwijaya, dan Garuda. Ketiga penerbangan itu akan transit dulu di Makassar, kemudian melanjutkan perjalanan ke bandara Rendani, Manokwari.

Semua jadwal penerbangan menuju Manokwari dari Cengkareng adalah malam jelang dini hari. Akibatnya, pengunjung baru bisa menginjakkan kaki di Papua pada pagi hari; dalam keadaan kleyeng karena ngantuk. Setelah itu, untuk melanjutkan ke Bintuni, ada 2 opsi: jalur udara atau darat.

Pesawat berukuran kecil yang terbang ke Bintuni dioperatori oleh maskpai Susi Air. Waktu yang dibutuhkan pun sangat singkat, yaitu hanya 45 menit. Biaya tiketnya ya lumayanlah, sekitar 1,2 juta rupiah. Hanya saja, terbang dengan Susi Air bisa disebut untung-untungan. Ukuran pesawat yang kecil dengan baling-baling di depan membuat operasinya sangat bergantung pada cuaca. Tidak jarang maskapai menunda penerbangannya berjam-jam bahkan membatalkannya karena berbagai alasan. Dan tentu saja, pesawat mini tersebut gampang untuk ber-geol-geol di udara.

Pesawat Perintis Susi Air

Pesawat Perintis Susi Air

Duduk Tepat di Belakang Pilot

Duduk Tepat di Belakang Pilot

Pilihan ke-2 ialah menggunakan kendaraan double gearbox, yang umumnya ialah Toyota Hilux atau sejenisnya seperti Mitsubishi Strada. Kendaraan yang digunakan wajib double gearbox dan memiliki ban besarkondisi jalanan yang akan diceritakan kemudian hanya bisa dilalui mobil jenis ini.

Biaya perjalanan adalah 500 ribu per orang jika menaikinya sebagai penumpang umum. Murah memang, namun harus rela menunggu sang supir mencari-cari penumpang lain hingga terisi sampai 3-4 orang. Sering pula Hilux menjadi jasa pengiriman barang atau paket dari Manokwari ke Bintuni. Ketika pertama kali sampai Manokwari, saya harus menunggu 3 jam di bandara hingga si mobil Hilux mendapatkan jumlah penumpang yang sesuai, lalu menunggu satu jam lagi untuk mengangkut barang-barang kiriman. Jika tidak mau capek-capek menunggu, bisa menyewa/carter satu mobil Hilux, namun biayanya lebih mahal daripada naik pesawat yaitu 2 juta rupiah.

Toyota Hilux, Kendaraan Primadona Papua

Toyota Hilux, Kendaraan Primadona Papua

Penulis pribadi lebih senang menggunakan Hilux. Selain bisa melihat-lihat pemandangan—yang sebenarnya kebanyakan hutan—aroma petualangan juga lebih terasa. Waktu tempuh ialah 7-9 jam, tergantung kondisi jalan. Jika sedang musim kering, supir Hilux akan mengekspresikan passion membalapnya sehingga bisa sampai ke Bintuni dalam 7 jam. Namun jika hujan dan jalanan basah, waktu yang diperlukan bisa 8-9 jam, tergantung kendala yang didapat.

Setelah keluar dari kota Manokwari, pengguna Hilux akan memasuki Kab. Manokwari Selatan. Daerah ini juga termasuk baru karena hasil pemekaran, dan bisa dibilang bukan kabupaten maju—jauh berbeda dibandingkan Manokwari yang merupakan ibukota propinsi. Berada di pinggir laut, pengunjung bisa melihat laut di sisi kiri. Memang tidak ada pantai yang bagus, namun cukup bisa menjadi hiburan mata dan pikiran.

Awal-awal perjalanan, kondisi jalan cukup baik: aspal mulus. Setelah melewati perkampungan transmigran, distrik Oransbari, dan distrik utama Manokwari Selatan, Ransiki, jalanan pun mulai rusak. Keadaan jalan yang parah mulai terasa ketika masuk ke jalur Gunung Botak.

Gunung Botak merupakan jalur perbukitan. Terlihat bahwa jalan ini hasil pengerukan bukit. Di sebelah kanan, tampak tebing-tebing sisa hasil pengerokan, dan di sisi kiri terbentang laut. Entah jalanan yang ada tidak pernah dirawat atau setelah dikeruk pihak pengembang tidak benar-benar membangun jalan aspal, jalur berupa pasir, kerikil dan bebatuan kasar. Memang dengan menggunakan mobil beroda besar, jalan hancur tidak menjadi kendala. Pemandangan laut pun sebenarnya cukup menarik. Penumpang yang mencarter Hilux biasanya ditawari oleh supir untuk berhenti sejenak dan memfoto pemandangan. Bukit-bukit berwarna hijau yang menjorok ke laut membuat landscape terlihat cukup eksotis.

Pemandangan Gunung Botak via http://www.kompasiana.com/eddypp86

Pemandangan Gunung Botak via http://www.kompasiana.com/eddypp86

Walaupun parah, jalur Gunung Botak dapat dilewati dengan mudah. Mobil kecil seperti Avanza pun masih bisa melewatinya. Jalur setelahnya lah yang bisa menyulitkan perjalanan, terutama jika hujan.

Setelah Gunung Botak terlewati, jalanan yang ada hampir tidak beralaskan aspal sama sekali. Jalur bebatuan yang tidak rata dan dalam dapat merusak mobil yang berbadan rendah. Bagi Hilux dengan roda besar dan badan tinggi, jalan ini belum menjadi masalah. Namun di hadapan, yaitu jalur Pintu Batu, ada beberapa titik yang jalannya berupa murni tanah merah. Jika hujan, tanah tersebut akan melunak dan hampir tidak memiliki gaya gesek.

Pada jalanan menanjak, jalur ini sama sekali tidak bisa dilewati jika tidak menggunakan kendaraan dengan double gearbox. Adanya gigi di kedua sisi, yaitu roda depan dan roda belakang, membuat keempat roda berputar sehingga sangat membantu mobil untuk terdorong. Itu pun jika jalanan sangat licin, para supir Hilux mesti berkali-kali mundur ke belakang untuk mencoba menerobos kembali. Lumpur yang sangat licin membuat roda menjadi slip.

Jalanan Lumpur dan Licin di Jalur Pintu Batu

Jalanan Lumpur dan Licin di Jalur Pintu Batu

Ban Slip

Ban Slip

Pernah suatu waktu ketika perjalanan Manokwari-Bintuni, di jalur Pintu Batu, Hilux yang saya tumpangi sama sekali tidak bisa maju melewati lumpur. Keempat roda benar-benar slip. Akhirnya supir mencoba mundur untuk kemudian gas lagi. Masih tidak bisa maju. Lalu mundur, mundur, mundur…hingga ke tepi jurang. Sama sekali tidak ada kemajuan, supir pun minta bantuan mobil Hilux yang lain untuk menariknya menggunakan tambang. Yahh, bunyi delapan roda berputar kencang mendominasi udara. Asap dan bau kopling tercium; beruntung mobil itu bisa tertarik dan akhirnya dapat melewati jalan licin yang bagaikan es tersebut.

Walau semua orang tahu bahwa hanya mobil Hilux dan sejenisnya yang bisa melewati jalur lumpur, terkadang ada saja orang yang membawa Avanza. Dengan pelan-pelan dan ditarik Hilux, kendaraan minibus masih memungkinkan melewati Gunung Botak. Tapi saya sendiri belum pernah melihat bagaimana ia melewati Pintu Batu. Mungkin akhirnya ia ditarik susah payah oleh Hilux. Saya hanya membayangkan nasib keempat roda mobil kecil tersebut yang menjadi “habis” dan bodinya yang penuh lumpur. Apa pemiliknya ga merasa sayang ya?

Seorang supir menceritakan bahwa saat ini kondisi lebih mendingan karena sudah ada jalan yang menghubungkan Manokwar-Bintuni dan ada mobil Hilux. Dahulu, katanya, untuk menuju Bintuni dari Manokwari, harus menggunakan mobil Hardtop atau Landcruiser, berombongan sekitar 5 mobil. Waktu yang diperlukan pun 1 minggu. Jadi, ketika akan melakukan perjalanan ke Bintuni, dibawa lah kompor, beras, dan bahan makanan lain sebagai bekal selama perjalanan yang berhari-hari itu.

Mobil besar jenis Hilux bisa melewati jalur tanah tersebut dengan lancar, tapi tidak bagi truk yang membawa banyak barang. Kadang-kadang, di tengah perjalanan, bisa ditemukan truk-truk berhenti di pinggir jalan. Mereka berhenti dan bermalam, menunggu jalanan kering kembali. Pengiriman barang dalam jumlah besar dari Manokwari ke Bintuni pun bisa memakan waktu berhari-hari. Maklum, kondisi geografis tidak memungkinkan adanya jalur laut yang menghubungkan kedua kota ini.

Begitulah perjalanan dari Manokwari ke Bintuni, yang menurut penulis menjadi cerita tersendiri. Setelah Pintu Batu, jalanan cenderung beraspal baik dan tidak ada penyulit. Cukup mengherankan kenapa belum ada upaya maksimal untuk memperbaiki jalan. Jika ada pejabat yang melewati jalur darat tersebut, tidak terpikirkan kah untuk memperlancar akses, yang pada akhirnya akan meningkatkan sirkulasi ekonomi di kedua kota tersebut? Atau, merasa nyaman kah pejabat jika mesti melewati jalanan yang begitu menyedihkannya seperti diurakan di atas?

“Kalau ada pejabat lewat, biasanya jalur yang benar-benar rusak diperbaiki”, kata supir Hilux. “Tapi itu hanya ditambal asal saja. Setelah sang pejabat lewat, jalanan jadi rusak lagi.”

Semoga Papua terus mengalami perbaikan dan semakin diperhatikan pembangunannya oleh pemerintah.

Categories: catatan perjalanan | Tags: , , , , , | 2 Comments

Cerita PTT: Apa yang Di Bintuni

Belum genap 2 bulan saya berada di pulau paling timur nusantara ini. Entahlah, tapi sepertinya waktu berjalan lambat sekali. Apakah memang saya belum betah, belum kerasan di sini, atau karena jenuh, karena minimnya aktivitas yang bisa dilakukan?

Rasa tidak nyaman pasti ada jika sangat jauh dari rumah untuk waktu yang lama pula. Namun, pilihan yang telah dibuat ini tidaklah untuk disesali karena banyak sekali hal-hal baru dan pengalaman yang tidak akan didapat jika tidak bergerak dari rumah.

Walau baru sebentar saja di Bintuni, ada beberapa hal yang saya perhatikan mengenai kota ini dan patut untuk dituliskan. Tentu belum semua hal tentang wilayah ini saya ketahui. Terlebih, selama ini saya bekerja di Rumah Sakit Umum yang terletak di distrik utama kabupaten yaitu distrik Bintuni. Daerah-daerah pinggiran, kampung, hutan, dan daerah benar-benar terpencil belum sempat dikunjungi. Interaksi saya pun kebanyakan dengan pegawai RS dan beberapa orang di kota yang kebanyakan merupakan pendatang. Intinya, saya belum banyak mengenal Bintuni maupun Papua secara mendalam.

Berikut adalah hal-hal yang tercatat selama 2 bulan di sini yang ingin saya bagikan.

  1. Banyak Pendatang

Kabupaten Teluk Bintuni merupakan wilayah pesisir. Banyak pendatang yang menetap, bekerja, dan melahirkan keturunan; hingga jadilah mereka “orang Bintuni”. Mereka datang dari berbagai wilayah: banyak yang dari pulau Jawa, baik Jawa Tengah maupun Jawa Timur, malah saya pernah berbicara bahasa Sunda dengan salah satu pasien. Kalau diperhatikan, kebanyakan dari para pendatang ialah berasal dari Makassar. Mungkin ini sesuai dengan kecenderungan masyarakat kota tersebut yang senang berlayar dan merantau. Tempat saya bekerja sebelumnya, yaitu pulau Lombok, juga banyak dihuni orang Makassar.

Kehadiran orang-orang nonpribumi tidak bisa dipungkiri amat menguntungkan Bintuni secara ekonomi maupun intelektual. Tidak bermaksud membeda-bedakan ras, namun sepertinya cara berpikir orang Papua tidak semaju orang-orang wilayah Indonesia barat. Di Teluk Bintuni, ada permukiman transmigran yang disebut dengan “SP” (saya tidak tahu apa arti dan kepanjangannya; ketika ditanyakan, orang-orang pun kebanyakan tidak tahu). Letaknya jauh dari dari distrik utama—distrik Bintuni—dan seseorang pernah berkomentar, “Penduduk SP lebih maju daripada orang asli sini. Kalau orang-orang asli Bintuni menunggu duit dari pemerintah untuk membangun, mereka berinisiatif untuk bangun ini dan itu pakai duit mereka sendiri.”

Roda perekonomian banyak digerakkan oleh para trasnmigran dan keturunannya. Banyaknya uang yang banyak diputarkan oleh pendatang juga bisa dilihat jenis warung makan yang ada. Dari atas sampai bawah, yang banyak ditemukan ialah warung jawa timur yang menjual lalapan ayam, dan kedua terbanyak ialah warung coto Makassar. Para pedagang jika saya lihat pun hampir semuanya merupakan pendatang, seperti pedagang-pedangang di pasar maupun pemilik toko kelontong.

Di Bintuni saya tidak pernah melihat orang pedalaman Papua yang masih menggunakan pakaian adat atau koteka. Mungkin masih bisa ditemukan jika masuk ke dalam-dalam hutan atau daerah yang terpencil sekali. Tapi setidaknya, seperti kata senior saya sebelumnya, masyarakat di Bintuni untuk ukuran Papua termasuk maju.

  1. Panas

Adalah kesan pertama saya ketika menginjakkan kaki di tanah Papua. Apakah ini alasan kebanyakan warga Papua berkulit hitam dan berambut keriting, seperti Afrika? Hmm, mungkin saja…

Pernah sekali saya berangkat menuju RS dari mess dokter umum menggunakan sepeda. Terbiasa gowes saat di Lombok selamat setahun membuat saya cukup percaya diri untuk mengayuh sepeda sejauh 2 kilometer. Memang perjalanannya tidak berat karena jaraknya yang termasuk pendek dan tanjakannya tidak banyak dan tidak terjal, tapi panasnya itu loohhh….Akhirnya, saya pun kapok untuk gowes lagi.

Jika Lombok, daerah pantai, begitu panasnya, maka Papua jauh lebih panas. Mandi di sini sepertinya percuma, karena baru saja selesai bersih-bersih, dalam hitungan menit badan sudah berkeringat. Bagi saya, mustahil jika di kamar tidak ada kipas angin yang menyala.

Perlahan, sepertinya saya mulai beradaptasi, Jika dulu tanpa kipas angin badan langsung mandi keringat, sekarang kelenjar keringat saya tampaknya bisa menahan diri untuk keluar. Tapi itu jika di dalam bangunan. Jika di luar berjam-jam, nasib saya bisa seperti teman yang kulitnya menghitam dan mengelupas seperti ular akibat gosong.

  1. Hutan yang Lebat dan Alami

Tanah Papua masih didiominasi hutan-hutan lebat alami tanpa terjamah manusia karena pembangunannya yang masih minim.

Kanan dan Kiri Jalan yang Ada Hanyalah Hutan

Kanan dan Kiri Jalan yang Ada Hanyalah Hutan

Hal ini akan terlihat jelas ketika terbang di atas pulau Papua. Pepohonan lebat memenuhi hampir seluruh pulau. Masih sedikit wilayah yang sudah menjadi perkotaan. Antarkota tidak terlihat adanya jalan raya penghubung, atau jika ada hanya satu dan itu pun kecil. Di antara kota yang satu dengan lainnya tidak ada bagunan, hanya hutan saja…membentang luas dari barat hingga timur.

Pulau Papua yang masih saja penuh hutan dan sedikitnya pembangunan membuat saya berpikir, Papua Barat yang sudah puluhan tahun gabung Indonesia mengapa masih begini-begini saja?

Tentu tidak sederhana menjawabnya. Ketimpangan ekonomi antara wilayah barat dengan timur masih menjadi salah satu permasalahan negeri ini. Selain itu, tampaknya hambatan juga berasal dari dalam alias dari masyarakatnya sendiri.

Begitu alaminya hutan Papua hingga gunung-gunung di pulau ini pun sepertinya tidak memiliki jalur pendakian. Indonesia sebagai negara kepulauan yang meiliki banyak gunung tinggi tentu menjadi daya tarik wisata tersendiri. Turis dari luar negeri pun berdatangan ke negara ini untuk mendaki gunung-gunung yang populer karena keindahannya seperti Semeru, Rinjani, dan Tambora—dan tentu saja Cartenz Pyramid.

Selain 3 puncak tertinggi pegunungan Jaya Wijaya, masih banyak gunung-gunung di Papua yang belum terjamah. Padahal, provinsi ini memiliki banyak gunung dengan ketinggian di atas 3.000 meter. Belum ada jalur pendakian resmi yang aman digunakan untuk mencapai puncak. Beberapa teman saya di Wanadri sempat berkeinginan membuat jalur rintisan suatu gunung di Papua, sayang belum kesampaian hingga sekarang. Sangat berbeda dengan gunung-gunung di Sumatera dan Jawa yang telah memiliki banyak jalur pendakian.

Selain itu, hutan Papua menjadi habitatnya hewan khas yang tidak dapat ditemukan di pulau lain. Hewan ini sebangsa dengan kangguru atau golongan marsupial namun ukurannya lebih kecil. Orang-orang di sini menyebutnya Lau-Lau. Saya sendiri belum pernah melihat hewan ini secara langsung karena hidupnya di hutan dan tidak pernah berkeliaran ke kota. Sayang sekali di Bintuni sini tidak ada kebun binatang. Lau-Lau termasuk hewan langka; saya mengetahuinya dari seorang pasien yang tengah malam tangannya tertebas golok saat sedang berburu Lau-Lau.

Lau-Lau

Lau-Lau

Yah, tapi tetap saja, walau banyak hutan rindang, Bintuni memiliki cuaca yang sangat panaaasss….

  1. Tidak Perlu Mengklakson Babi yang sedang Menyeberang, Percayalah, Itu Percuma

Karena babi tidak memiliki leher sehingga ia tidak bisa menoleh ke kiri dan kanan; pandangannya hanya lurus ke depan.

Banyak Babi Berkeliaran

Banyak Babi Berkeliaran

Untuk urusan nyeberang, anjing masih lebih baik daripada babi—walau tetap saja menyebalkan. Umumnya anjing menyeberang jalan pelan-pelan, dan jika diklakson, ia akan menoleh dan berhenti. Namun, temperamen anjing sepertinya agak berubah kalau hari sudah malam. Pernah saya naik motor melewati gerombolan anjing jam 11 malam; melewati mereka pelan-pelan tanpa mengklakson…tetiba salah seekor lari mengejar sambil menggonggong. Panik, motor pun menjadi tak terkendali, jadilah jatuh. Beruntung tidak ada yang patah…

Tetapi babi lebih parah. Jika menyeberang, mereka main seruduk tanpa melihat kiri-kanan sama sekali—ya iyalah, ga punya leher. Dan ini yang terpenting: jangan pernah sampai menabraknya. Jika akhirnya menabrak, sebenarnya yang pelu dikhawatirkan ialah kondisi motor sendiri karena babi memiliki kulit yang tebal dan tulang yang kokoh. Namun, sebisa mungkin segera pergi dari lokasi kejadian sebelum ada orang yang melihatnya. Jika tidak, siap-siap untuk mendapat denda.

Babi yang berkeliaran di jalan bukanlah babi liar tapi peliharaan, yang dibiarkan bebas begitu saja. Jika ada babi tertabrak, tidak peduli apakah babinya terluka atau baik-baik saja, tidak peduli apakah motor dan pengendara yang menabrak sekarat atau baik-baik saja, penabrak harus membayar denda. Beruntung jika yang ditabrak hanya anak babi kecil, dendanya paling “hanya” 10 juta. Tapi jika yang ditabrak babi besar, siap-siap dituntut 100 juta.

Apakah tidak bisa persoalan seperti itu diselesaikan secara damai atau ditengahi oleh polisi? Tergantung dari pemilik hewan ternaknya. Jika sang pemilik adalah orang yang keras dan memegang teguh hukum adat, maka tidak ada polisi maupun penegak hukum yang berani mengintervensi.

  1. Hukum Adat Lebih Diutamakan Ketimbang Hukum Formal

Mungkin ini salah satu penyebab mengapa Papua sulit maju. Kesukuan dan adat istiadat sangat dipegang teguh, walaupun berususan dengan kemaslahatan masyarakat. Kasus penabrakan babi hanya salah satu saja. Jika ada permasalahan antar pihak, kemudian salah satu pihak mengatakan, “Di sini yang dipakai hukum adat,” maka polisi pun angkat tangan.

Pembelian lahan di Bintuni—cerita teman saya—cukup rumit. Jika hendak membeli suatu lahan dengan maksud membangun jalan, maka banyak pihak yang mesti “dibayar”. Jika lahan itu adalah milik suatu suku, maka harus bayar puluhan hingga ratus juta rupiah untuk ketua suku tersebut. Terkadang, orang-orang di sekitar ketua sukunya pun harus dibayar. Teman juga cerita, pernah di tahun 2000an akan dibangun pelabuhan yang besar di Bintuni. Namun, karena tidak mampu bayar ratusan juta untuk “biaya pembebasan lahan”, akhirnya pelabuhan tersebut dibangun di kabupaten lain.

Kita juga tahu soal pemilu di daerah tertentu di Papua yang melalui prosedur khusus, yaitu “noken”. Noken sendiri sebenarnya adalah tas jaring buatan orang Papua untuk membawa barang-barang, mulai dari barang berukuran kecil hingga babi hutan. Di daerah itu, pemilihan suatu kepala daerah ditentukan oleh kepala suku. Jika kepala suku memilih salah satu calon, seluruh anggota suku pun memilih calon tersebut. Maka digunakanlah noken untuk mengumpulkan suara dari tiap suku.

  1. Karakter Orang Timur yang Keras

Tidak perlu jauh-jauh ke Papua, di Lombok pun jangan terkejut dengan karakter orang asli pulau yang keras. Tidak bisa dibandingkan suara orang Jawa yang pelan dengan orang Lombok yang keras dan sering berteriak.

Begitu pula Papua. Karakter masyarakat yang keras menjadi tantangan tersendiri bagi dokter PTT dari luar dalam berkomunikasi. Saya juga diingatkan adanya kasus seorang dokter di puskesmas ditonjok oleh pasien atau keluarganya akibat kesalahpahaman

Walau demikian, sekeras-kerasnya karakter dan suara orang, layaknya manusia biasa, jika kita dapat berbicara dan memberikan penjelasan dengan baik, niscaya mereka pun akan mengerti. Hanya saja, tidak perlu tersinggung jika mereka bersuara keras seperti membentak, padahal tidak ada maksud menyakiti. Hal tersebut mungkin tidak biasa di Jawa. Ibu pernah bilang ke saya, jika berhadapan dengan orang bersuara keras, balaslah dengan volume sura yang sama, biasanya mereka pun akan respek.

  1. Azan Dikumandangkan dengan Pengeras Suara

Pernah mendengar berita di media nasional maupun media sosial tentang penolakan masyarakat Manokwari terhadap pembangunan masjid dengan alasan “Manokwari adalah kota injil”? Itu benar adanya. Penyebaran agama Kristen dan katolik di papua cukup massif dan sepertinya banyak membentuk penganut yang militan. Mayoritas penduduk di Bintuni juga beragama nasrani—apakah lebih banyak protestan atau katolik, saya tidak tahu—dan banyak berdiri gereja.

Namun, karena Bintuni banyak pendatang dari berbagai wilayah, penganut agama Islam pun cukup banyak, terutama di daerah pesisir. Di Bintuni, daerah “bawah” atau kota, juga pemukiman transmigran, banyak berdiri masjid dan bisa didengar kumandang azan di lima waktu. Bila ke daerah “atas” atau ke arah bukit, maka mayoritas masyarakatnya menganut agama Kristen dan masih minim masjid.

Masjid Besar di Kota. Karena Banyak Pendatang, Jumlah Masjid Ada Beberapa dan Suara Azan Dikumandangkan dengan Pengeras Suara

Masjid Besar di Kota. Karena Banyak Pendatang, Jumlah Masjid Ada Beberapa dan Suara Azan Dikumandangkan dengan Pengeras Suara

Banyaknya penganut dua agama ini membuat pernikahan beda agama—Islam dan Kristen—banyak terjadi. Ya, pernikahan berbeda agama masih memungkinkan di Bintuni. Tapi saya tidak tahu apakah mereka tercatat di pencatatan sipil atau tidak. Sepertinya pernikahan beda agama tersebut juga tidak melalui pernikahan secara agama baik di gereja maupun masjid.

Kerukunan umat beragama di sini alhamdulillah cukup baik. Bahkan wakil bupati Teluk Bintuni sendiri (periode 2010-2015) merupakan orang asli Bintuni yang beragama Islam.

Memang ada banyak masjid berdiri, namun masih sulit untuk membangun masjid di daerah “atas”. Kesulitan bukan di urusan perizinan, karena sebenarnya banyak juga penduduk sekitar yang beragama Kristen yang setuju untuk dibangun masjid di wilayahnya dan sudah diurus ke pihak polisi. Tapi tetap saja ada pihak-pihak yang tidak setuju. Setahu saya, satu-satunya masjid di daerah atas hanyalah masjid di dalam komplek militer—tentu saja tidak ada yang berani mengintervensi pembangunan di daerah milik tentara.

Kondisi di Bintuni cukup kondusif, tapi saya tidak banyak tahu keadaan di luar. Seorang senior yang kemarin PTT di Tolikara mengatakan bahkan papan nama atau plang masjid saja tidak boleh terlihat mencolok. Semoga mereka yang berada di sana diberi kekuatan dan ketabahan.

Saya sangat bersyukur di sini bisa dibangunkan oleh suara azan subuh.

  1. Tidak Ada Tempat Hiburan

Yah, ini adalah pamungkasnya, yang membuat waktu di sini berjalah lambat sekali.

Mendengar kata “Teluk”, saya berpikir akan ada pantai yang bisa dijadikan sebagai tempat mengusir kebosanan. Walaupun ga bagus-bagus amat, tapi minimal sepertil Labuhan Haji di Lombok Timur lah….

Tapi ternyata saya salah menaruh ekspektasi di sini. Tidak ada pantai, yang ada hanyalah benar-benar “teluk”. Dan di daerah terpencil, tentu saja tidak ada toko besar apalagi mall, toko buku pun tak ada…mimpi kali yee mengaharap ada begituan di kampung.

Pelabuhan Teluk Bintuni

Pelabuhan Teluk Bintuni

Mungkin ini adalah seni bekerja di daerah: mencari aktivitas dan kesibukan. Hmmm, apa ya yang bisa dilakukan untuk mengisi waktu supaya ga bosan dan bermanfaat? Hmmm….

Bagi saya, itu adalah misteri yang masih belum terjawab.

——————————————————————————————————————————————

 

Begitulah beberapa hal yang bisa saya ceritakan saat ini. Sekali lagi, saya belum memahami Bintuni dan Papua dengan sesungguhnya. Jika ada tulisan di atas yang tidak akurat, saya meminta maaf karena tidak ada maksud lain selain menceritakan apa-apa yang dilihat dan didengar.

Setidaknya masih 10 bulan waktu yang harus dilalui di Bintuni. Seiring berjalannya waktu, semoga semakin memiliki banyak pengalaman dan interaksi dengan masyarakat maupun lingkugannya.

Categories: catatan perjalanan | Tags: , , , | 5 Comments

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: