Posts Tagged With: dokter ptt

Papeda, Makanan Orang Papua

Ketika berkunjung ke suatu daerah di Nusantara ini, apakah keperluan jalan-jalan, sekolah, dan bekerja, sempatkanlah untuk mencicipi makanan khasnya. Keanekaragaman jenis makanan yang ada dari ujung Sabang hingga Merauke merupakan bukti kekayaan tanah air kita.

Setelah puas menikmati makanan Lombok selama internship setahun lalu, kini saya ingin mencoba apa yang ada di Papua. Mungkin tidak banyak makanan khas yang bisa ditemukan di pulang paling timur Indonesia ini. Maklum, kebiasaan orang Papua bukanlah bercocok tanam—amat jarang ditemukan sawah di Papua, kecuali di permukiman transmigran. Petugas laboratorium yang merupakan orang asli orang Teluk Bintuni mengamininya. “Orang Papua lebih suka berburu,” katanya. Sampai sekarang pun orang-orang asli Papua masih berburu dan mengambil sayur dan buah-buahan dari hutan untuk mengisi perut. Bahan-bahan makanan yang ada di pasar kebanyakan kiriman dari kapal yang berlayar dari Jawa.

Makanan asli orang Papua ialah Papeda. Terbuat dari tepung sagu yang dilarutkan dalam air mendidih, bentuk papeda seperti lem kanji. Konsistensinya kenyal dan agak lengket—benar-benar seperti lem—dan berwarna putih-bening. Karena tebuat dari sagu, papeda memiliki kandungun nutrisi berupa glukosa dan serat sehingga ia cocok menjadi makanan pokok selain nasi. Rasa papeda memang hambar. Namun, umumnya makanan ini dinikmati bersama dengan ikan kuah kuning.

Papeda

Papeda

Papeda Dimakan Bersama Ikan Kuah Kuning

Papeda Dimakan Bersama Ikan Kuah Kuning

Selama berada di Teluk Bintuni, papeda tidak pernah saya temukan di warung makan. Selain tidak bercocok tanam, tampaknya masyarakat Papua juga tidak memiliki jiwa wirausaha yang tinggi. Kebanyakan yang membuka toko atau warung ialah para pendatang yang merupakan orang Jawa atau Makasar. Alhasil, makanan yang dijual kebanyakan di Teluk Bintuni ialah pecel ayam goreng dan coto….Jadi, papeda merupakan masakan rumahan. Selain itu, papeda juga biasanya disajikan ketika ada acara jamuan makan-makan.

Ya, papeda ikan kuah kuning merupakan makanan khas Papua. Jika suatu waktu berkesempatan mengunjungi tanah Papua, jangan lupa untuk mencicipinya ya 🙂

Advertisements
Categories: catatan perjalanan | Tags: , , , , , | 1 Comment

Cerita PTT: Perjalanan dari Manokwari ke Bintuni

Peta Papua Barat via http://manokwari.bpk.go.id/

Peta Papua Barat via http://manokwari.bpk.go.id/

Sudah menjadi keinginan saya dari dulu untuk mengunjungi Papua. Bekerja di daerah terpencil dan lokasi paling timur Nusantara adalah tantangan tersendiri. Pengabdian dan juga petualangan; mereka adalah dua alasan yang mendorong diri ini untuk bekerja di Teluk Bintuni, salah satu kabupaten di propinsi Papua Barat.

Beruntung saat ini Teluk Bintuni dapat dicapai melalui jalur udara dengan relatif mudah. Sebelum ke Bintuni, pengunjung harus terbang ke arah Manokwari terlebih dulu. Ada 3 maskpai penerbangan yang bisa digunakan dari bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, yaitu Express, Sriwijaya, dan Garuda. Ketiga penerbangan itu akan transit dulu di Makassar, kemudian melanjutkan perjalanan ke bandara Rendani, Manokwari.

Semua jadwal penerbangan menuju Manokwari dari Cengkareng adalah malam jelang dini hari. Akibatnya, pengunjung baru bisa menginjakkan kaki di Papua pada pagi hari; dalam keadaan kleyeng karena ngantuk. Setelah itu, untuk melanjutkan ke Bintuni, ada 2 opsi: jalur udara atau darat.

Pesawat berukuran kecil yang terbang ke Bintuni dioperatori oleh maskpai Susi Air. Waktu yang dibutuhkan pun sangat singkat, yaitu hanya 45 menit. Biaya tiketnya ya lumayanlah, sekitar 1,2 juta rupiah. Hanya saja, terbang dengan Susi Air bisa disebut untung-untungan. Ukuran pesawat yang kecil dengan baling-baling di depan membuat operasinya sangat bergantung pada cuaca. Tidak jarang maskapai menunda penerbangannya berjam-jam bahkan membatalkannya karena berbagai alasan. Dan tentu saja, pesawat mini tersebut gampang untuk ber-geol-geol di udara.

Pesawat Perintis Susi Air

Pesawat Perintis Susi Air

Duduk Tepat di Belakang Pilot

Duduk Tepat di Belakang Pilot

Pilihan ke-2 ialah menggunakan kendaraan double gearbox, yang umumnya ialah Toyota Hilux atau sejenisnya seperti Mitsubishi Strada. Kendaraan yang digunakan wajib double gearbox dan memiliki ban besarkondisi jalanan yang akan diceritakan kemudian hanya bisa dilalui mobil jenis ini.

Biaya perjalanan adalah 500 ribu per orang jika menaikinya sebagai penumpang umum. Murah memang, namun harus rela menunggu sang supir mencari-cari penumpang lain hingga terisi sampai 3-4 orang. Sering pula Hilux menjadi jasa pengiriman barang atau paket dari Manokwari ke Bintuni. Ketika pertama kali sampai Manokwari, saya harus menunggu 3 jam di bandara hingga si mobil Hilux mendapatkan jumlah penumpang yang sesuai, lalu menunggu satu jam lagi untuk mengangkut barang-barang kiriman. Jika tidak mau capek-capek menunggu, bisa menyewa/carter satu mobil Hilux, namun biayanya lebih mahal daripada naik pesawat yaitu 2 juta rupiah.

Toyota Hilux, Kendaraan Primadona Papua

Toyota Hilux, Kendaraan Primadona Papua

Penulis pribadi lebih senang menggunakan Hilux. Selain bisa melihat-lihat pemandangan—yang sebenarnya kebanyakan hutan—aroma petualangan juga lebih terasa. Waktu tempuh ialah 7-9 jam, tergantung kondisi jalan. Jika sedang musim kering, supir Hilux akan mengekspresikan passion membalapnya sehingga bisa sampai ke Bintuni dalam 7 jam. Namun jika hujan dan jalanan basah, waktu yang diperlukan bisa 8-9 jam, tergantung kendala yang didapat.

Setelah keluar dari kota Manokwari, pengguna Hilux akan memasuki Kab. Manokwari Selatan. Daerah ini juga termasuk baru karena hasil pemekaran, dan bisa dibilang bukan kabupaten maju—jauh berbeda dibandingkan Manokwari yang merupakan ibukota propinsi. Berada di pinggir laut, pengunjung bisa melihat laut di sisi kiri. Memang tidak ada pantai yang bagus, namun cukup bisa menjadi hiburan mata dan pikiran.

Awal-awal perjalanan, kondisi jalan cukup baik: aspal mulus. Setelah melewati perkampungan transmigran, distrik Oransbari, dan distrik utama Manokwari Selatan, Ransiki, jalanan pun mulai rusak. Keadaan jalan yang parah mulai terasa ketika masuk ke jalur Gunung Botak.

Gunung Botak merupakan jalur perbukitan. Terlihat bahwa jalan ini hasil pengerukan bukit. Di sebelah kanan, tampak tebing-tebing sisa hasil pengerokan, dan di sisi kiri terbentang laut. Entah jalanan yang ada tidak pernah dirawat atau setelah dikeruk pihak pengembang tidak benar-benar membangun jalan aspal, jalur berupa pasir, kerikil dan bebatuan kasar. Memang dengan menggunakan mobil beroda besar, jalan hancur tidak menjadi kendala. Pemandangan laut pun sebenarnya cukup menarik. Penumpang yang mencarter Hilux biasanya ditawari oleh supir untuk berhenti sejenak dan memfoto pemandangan. Bukit-bukit berwarna hijau yang menjorok ke laut membuat landscape terlihat cukup eksotis.

Pemandangan Gunung Botak via http://www.kompasiana.com/eddypp86

Pemandangan Gunung Botak via http://www.kompasiana.com/eddypp86

Walaupun parah, jalur Gunung Botak dapat dilewati dengan mudah. Mobil kecil seperti Avanza pun masih bisa melewatinya. Jalur setelahnya lah yang bisa menyulitkan perjalanan, terutama jika hujan.

Setelah Gunung Botak terlewati, jalanan yang ada hampir tidak beralaskan aspal sama sekali. Jalur bebatuan yang tidak rata dan dalam dapat merusak mobil yang berbadan rendah. Bagi Hilux dengan roda besar dan badan tinggi, jalan ini belum menjadi masalah. Namun di hadapan, yaitu jalur Pintu Batu, ada beberapa titik yang jalannya berupa murni tanah merah. Jika hujan, tanah tersebut akan melunak dan hampir tidak memiliki gaya gesek.

Pada jalanan menanjak, jalur ini sama sekali tidak bisa dilewati jika tidak menggunakan kendaraan dengan double gearbox. Adanya gigi di kedua sisi, yaitu roda depan dan roda belakang, membuat keempat roda berputar sehingga sangat membantu mobil untuk terdorong. Itu pun jika jalanan sangat licin, para supir Hilux mesti berkali-kali mundur ke belakang untuk mencoba menerobos kembali. Lumpur yang sangat licin membuat roda menjadi slip.

Jalanan Lumpur dan Licin di Jalur Pintu Batu

Jalanan Lumpur dan Licin di Jalur Pintu Batu

Ban Slip

Ban Slip

Pernah suatu waktu ketika perjalanan Manokwari-Bintuni, di jalur Pintu Batu, Hilux yang saya tumpangi sama sekali tidak bisa maju melewati lumpur. Keempat roda benar-benar slip. Akhirnya supir mencoba mundur untuk kemudian gas lagi. Masih tidak bisa maju. Lalu mundur, mundur, mundur…hingga ke tepi jurang. Sama sekali tidak ada kemajuan, supir pun minta bantuan mobil Hilux yang lain untuk menariknya menggunakan tambang. Yahh, bunyi delapan roda berputar kencang mendominasi udara. Asap dan bau kopling tercium; beruntung mobil itu bisa tertarik dan akhirnya dapat melewati jalan licin yang bagaikan es tersebut.

Walau semua orang tahu bahwa hanya mobil Hilux dan sejenisnya yang bisa melewati jalur lumpur, terkadang ada saja orang yang membawa Avanza. Dengan pelan-pelan dan ditarik Hilux, kendaraan minibus masih memungkinkan melewati Gunung Botak. Tapi saya sendiri belum pernah melihat bagaimana ia melewati Pintu Batu. Mungkin akhirnya ia ditarik susah payah oleh Hilux. Saya hanya membayangkan nasib keempat roda mobil kecil tersebut yang menjadi “habis” dan bodinya yang penuh lumpur. Apa pemiliknya ga merasa sayang ya?

Seorang supir menceritakan bahwa saat ini kondisi lebih mendingan karena sudah ada jalan yang menghubungkan Manokwar-Bintuni dan ada mobil Hilux. Dahulu, katanya, untuk menuju Bintuni dari Manokwari, harus menggunakan mobil Hardtop atau Landcruiser, berombongan sekitar 5 mobil. Waktu yang diperlukan pun 1 minggu. Jadi, ketika akan melakukan perjalanan ke Bintuni, dibawa lah kompor, beras, dan bahan makanan lain sebagai bekal selama perjalanan yang berhari-hari itu.

Mobil besar jenis Hilux bisa melewati jalur tanah tersebut dengan lancar, tapi tidak bagi truk yang membawa banyak barang. Kadang-kadang, di tengah perjalanan, bisa ditemukan truk-truk berhenti di pinggir jalan. Mereka berhenti dan bermalam, menunggu jalanan kering kembali. Pengiriman barang dalam jumlah besar dari Manokwari ke Bintuni pun bisa memakan waktu berhari-hari. Maklum, kondisi geografis tidak memungkinkan adanya jalur laut yang menghubungkan kedua kota ini.

Begitulah perjalanan dari Manokwari ke Bintuni, yang menurut penulis menjadi cerita tersendiri. Setelah Pintu Batu, jalanan cenderung beraspal baik dan tidak ada penyulit. Cukup mengherankan kenapa belum ada upaya maksimal untuk memperbaiki jalan. Jika ada pejabat yang melewati jalur darat tersebut, tidak terpikirkan kah untuk memperlancar akses, yang pada akhirnya akan meningkatkan sirkulasi ekonomi di kedua kota tersebut? Atau, merasa nyaman kah pejabat jika mesti melewati jalanan yang begitu menyedihkannya seperti diurakan di atas?

“Kalau ada pejabat lewat, biasanya jalur yang benar-benar rusak diperbaiki”, kata supir Hilux. “Tapi itu hanya ditambal asal saja. Setelah sang pejabat lewat, jalanan jadi rusak lagi.”

Semoga Papua terus mengalami perbaikan dan semakin diperhatikan pembangunannya oleh pemerintah.

Categories: catatan perjalanan | Tags: , , , , , | 5 Comments

Cerita PTT: Bintuni, Kan Setahun Ku Di Sini

20160127_143302

Mengapa harus ke Papua?

Berulang kali pertanyaan tersebut diajukan. Sudah dari lama saya memutuskan ingin bekerja sebagai dokter PTT (pegawai tidak tetap) selama setahun di pulau paling timur nusantara ini. Walaupun cukup berat menjelaskan alasannya, terutama ke keluarga, kenyataannya sudah satu bulan saya berada di Papua.

Kota tempat saya bekerja ialah Kabupaten Teluk Bintuni. Tidak ada penerbangan langsung menuju Papua dari Tangerang (dari bandara Soekarno Hatta yang ada di Tangerang). Untuk menuju Bintuni, pertama terbang dulu tujuan Manokwari. Dari Manokwari menuju Bintuni terdapat dua pilihan: menggunakan pesawat perintis—Susi Air—atau melewati jalur darat menggunakan mobil double gearbox seperti Toyota Hilux.

Penerbangan paling cepat ke Manokwari dari Tangerang ialah pesawat Sriwijaya Air yang terbang jam 22.20 menuju Makassar. Di bandara Sultan Hasanuddin, transit hanya sekitar satu setengah jam, dan penerbangan dilanjutkan langsung ke Manokwari dan sampai di sana menurut jadwal sekitar jam 7 pagi WIT.

20151227_080230

Bandar Udara Rendani, Manokwari

Saya sendiri memilih menggunakan Garuda Indonesia karena kepercayaan orang tua yang lebih kepadanya. Garuda transit lebih lama di Makassar, sekitar 3 jam. Kemudian penerbangan pun tidak langsung ke Manokwari tapi transit sebentar di Sorong sekitar 20 menit (transit tanpa turun pesawat). Akhirnya saya menapakkan kaki di tanah Papua, tepatnya Manokwari, hari Minggu, 27 Desember 2015 jam 8 pagi waktu setempat.

Menuju Bintuni dengan menggunakan pesawat tentu lebih cepat. Waktu yang diperlukan hanya sekitar 20-30 menit jika lewat jalur udara. Namun, pengguna pesawat perintis harus rela menari-nari di udara selama penerbangan karena ukurannya yang kecil membuatnya gampang digoyang angin . Walaupun lebih lama—sekitar 8-9 jam—setidaknya dengan jalur darat saya bisa tidur lebih nyenyak.

Sayangnya tidak banyak yang bisa diceritakan tentang perjalanan saya dari Manokwari menuju Bintuni menggunakan mobil double gearbox 4×4. Entah kenapa saya selalu sulit dan hampir tidak bisa tidur jika terbang. Penerbangan yang larut dan lama, dari Tangerang jam 9 malam WIB dan baru mendarat sekitar jam 8 pagi WIT, membuat saya ngantuk berat. Alhasil, hampir selama perjalanan darat itu saya tertidur.

Manusia tidak bisa menggunakan mobil biasa untuk ke Bintuni dari Manokwari. Di awal-awal jalan memang mulus beraspal, namun di tengah-tengah hingga menjelang tujuan jalannya benar-benar hancur dan menanjak. Hilux yang digunakan berkali-kali harus mengatur gearboxnya yang ada dua supaya bisa menanjak di atas jalan tanah berkawah—mobil biasa tentu tidak akan kuat melewatinya, Perjalanan akan menjadi semakin sulit jika hujan.

Orang-orang bilang selama perjalanan bisa melihat pemandangan yang cukup memukau—hamparan laut dan gunug. Sayang, semua bagian itu terlewatkan. Sebagian besar perjalanan yang saya lihat–saat melek–didominasi oleh hutan di sebelah kiri-kanan jalan. Hutan yang masih alami tak tersentuh manusia karena pembangunan di Papua masih sangat minim.

Setiba di Bintuni langit sudah gelap. Tujuan saya ialah mess dinas kesehatan. Ia adalah rumah tinggal yang disediakan untuk dokter-dokter kontrak di RS maupun puskesmas. Mess terletak di Km 5—begitu orang-orang di sini menyebutnya—terletak di dalam komplek dinas kesehatan bagian belakang.

Mess Dokter, Belakang Dinas Kesehatan

Mess Dokter, Belakang Dinas Kesehatan

Ada 5 kamar tidur dan dua kamar mandi di mess, juga ada dapur dengan peralatan masaknya yang lengkap. Kamar-kamar itu juga diisi oleh dokter-dokter puskesmas, walau mereka lebih sering tinggal di puskesmasnya. Hal ini karena perjalanan ke puskesmas cukup jauh. Ada yang bisa mencapainya dengan jalur darat, namun banyak juga yang mesti digoyang-goyang ombak di atas kapal. Bukan berarti puskesmas tersebut berada di pulau; ia terletak di daratan utama juga namun tidak ada akses darat ke sana. Kadang-kadang dokter puskesmas datang dan menginap di mess untuk sekedar “refreshing”—ada tv kabel di mess—sekitar sekali dalam satu atau dua dalambulan. Jika dokter puskesmas tidak ada, hanya saya dan tiga dokter lainnya yang menghuni mess.

Di pagi hari esoknya, saya lebih bisa melihat jelas seperti apa “kota” Bintuni. Hanya ada satu jalan raya; membentang lurus dari ujung ke ujung. Kadang-kadang ada jalan arteri yang kecil dan tidak semulus aspal jalan raya. Di kiri-kanan jalan raya membentang pohon-pohon hutan tropis; di satu sisi terdapat laut, di sisi lainnya menuju hutan belantara.

Satu Jalan Raya Lurus di Bintuni

Satu Jalan Raya Lurus dari Ujung ke Ujung

Kanan dan Kiri Jalan Berupa Hutan Belantara

Kanan dan Kiri Jalan Berupa Hutan Belantara

Tidak banyak pembangunan dan jarak antarbangunan cukup jauh. Contoh saja dinas kesehatan dan rumah sakit berjarak 2 km, yang sepanjang jalan di antaranya hampir tidak ada bangunan kecuali warung-warung kecil. Di atas udara, kita bisa melihat pulau Papua yang kebanyakan berupa hutan belantara. Jarak antar satu kota dengan lainnya cukup jauh dan di antaranya hanya ada hutan–jalan hanya terlihat sedikit dan sangat kecil. Memang ini bagus untuk direnungkan: sudah puluhan tahun Papua Barat bergabung dengan Indonesia, tapi tetap saja kebanyakan isinya masih berupa hutan.

Rumah sakit berada di Km 7—kalau orang sini menyebutnya “ke arah atas”. Disebut demikian karena jika terus berjalan melewati rumah sakit, jalan akan membawa ke arah perbukitan. Arah sebaliknya dari rumah sakit, yaitu Km 0 dan setelahnya (sy tidak tahu disebutnya apa, tapi sepertinya bukan Km -1, Km -2, dst) ialah menuju “kota”. Jika mau ke “kota”, orang-orang akan menyebutnya “ke bawah”. Setelah melewati kota, jalan raya cenderung kosong dan tidak ada bangunan ke arah permukiman transmigran, yang orang di sini menyebutnya “SP”. Katanya, ada 5 SP dari paling jauh hingga paling dekat kota.

“Kota” adalah sebutan wilayah yang banyak toko-toko dan warung makan. Toko-toko dan warung yang ada berukuran kecil-kecil. Di kota terdapat pelabuhan tempat kapal-kapal pengangkut barang-barang dari Jawa, juga manusia, berlabuh. Berbagai barang yang dijual di toko dan bahan-bahan makanan kebanyakan berasal dari Jawa. Akibatnya, jika kiriman belum datang, stok barang akan habis dan mesti menunggu kapal untuk mendapat persediaan yang baru.

Pelabuhan Bintuni. Dari Sini Pula Sejawat Saya Naik Kapal untuk ke Puskesmas

Pelabuhan Bintuni. Dari Sini Pula Sejawat Saya Naik Kapal untuk ke Puskesmas

"Kota" Bintuni. Motor yang dengan Pengendara Berhelm Kuning ialah Tukang Ojek. Tarif Ojek Sekali Jalan Rata-Rata 10-15 Ribu

“Kota” Bintuni. Motor dengan Pengendara Berhelm Kuning ialah Ojek. Tarif Ojek Sekali Jalan Rata-Rata 10-15 Ribu

Masjid Besar di Kota. Karena Banyak Pendatang, Jumlah Masjid Ada Beberapa dan Suara Azan Dikumandangkan dengan Pengeras Suara

Masjid Besar di Kota. Karena Banyak Pendatang, Jumlah Masjid Ada Beberapa dan Suara Azan Dikumandangkan dengan Pengeras Suara

Di Bintuni Ada Bandara yaitu Bandara Steenkool. Hanya Pesawat Kecil yang Mendarat di Bandara Kecil Ini. Sore Hari, Saat Sudah Tidak Ada Penerbangan, Landasan Suka Digunakan Sebagai Tempat Joging

Di Bintuni Ada Bandara yaitu Bandara Steenkool. Hanya Pesawat Kecil yang Mendarat di Bandara Kecil Ini. Sore Hari, Saat Sudah Tidak Ada Penerbangan, Landasan Suka Digunakan Sebagai Tempat Joging

Seperti yang kita tahu semua, harga-harga lebih tinggi di Papua. Rata-rata sekali makan sekitar 15-30 ribu. Menu makanan pun tidak variatif; kebanyakan yang jualan ialah orang Jawa Timur yang masak pecel lalapan ayam. Juga ada beberapa warung menjual masakan Makassar seperti coto atau konro karena banyak pendatang dari Makassar.

Rumah Sakit Umum Bintuni ialah rumah sakit tipe D. Bangunannya berupa gedung baru—mungkin baru dibangun sekitar awal tahun 2010. Beberapa alat dan sarananya juga terlihat baru. Yang cukup tidak disangka, alokasi dana untuk pemenuhan sarana rumah sakit cukup tinggi. Baru-baru ini saja RS membeli 4 mesin ventilator, yang satu mesinnya saja setara dengan dua mobil Hilux. Bangunan ICU pun sedang dalam proses pembuatan.

20151227_143426

Papan Tulisan Rumah Sakit Tidak Terlihat dari Depan dan Tertutup Semak. Tulisan “Poliklinik” adalah yang Terlihat Mencolok Saat Melintasinya

20151227_143319

Tidak Seperti Kebanyakan Rumah Sakit, yang Berada di Depan dan Terlihat Jelas ialah Bangunan Poliklinik, Bukan UGD

Meskipun demikian, masih banyak kekurangan di RS. Jumlah pekerja seperti pegawai laboratorium masih kurang sehingga tidak ada petugas lab yang standby 24 jam—jika sore atau malam, mereka bersifat on call untuk pemeriksaan darurat. Begitu juga dengan petugas radiologi. Tenaga dokter juga sebenarnya perlu ditambah. Jumlah dokter umum hanya 7 orang ditambah 3 orang dokter internship yang akan selesai masa tugasnya akhir februari. Tiga dokter internship bertugas di ruangan melakukan follow up pagi. Jika sudah siang, maka hanya ada satu dokter yang jaga satu rumah sakit—UGD, rawat inap, ponek, ruang perinatology—hingga besok paginya. Di waktu siang dan malam, dokter jaga harus melayani pasien yang datang ke UGD. Di tengah-tengahnya, ia bisa saja dipanggil ke rawat inap karena ada pasien yang mengeluh atau dalam kondisi gawat, kemudian dipanggil juga ke ponek karena ada ibu-ibu mau melahirkan. Kondisi ini diperparah dengan banyaknya orang datang ke UGD sore-sore hanya untuk rawat jalan—tidak enak untuk menolak karena rata-rata rumah mereka jaraknya jauh dari RS. Alhasil, bekerja sebagai dokter PTT di RS Bintuni cukup melelahkan. Maaf ralat: sangat melelahkan.

Dokter spesialis baru ada tiga: dokter bedah umum, anestesi, dan dua dokter kandungan. RS belum memiliki dokter penyakit dalam dan dokter anak. Hingga kini, yang mengisi pos tersebut adalah dokter residen tingkat akhir (sudah selesai stase dan menunggu ujian nasional) yang dalam program pengabdian selama 6 bulan karena mereka penerima beasiswa Kementerian Kesehatan. Dokter penyakit dalam saat ini berasal dari RS Kariadi Universitas Diponegoro dan dokter anak dari RS Soetomo Universitas Airlangga.

Peralatan pun masih kurang. Sebagaimana RS daerah pada umumnya, tidak ada pemeriksaan analisis gas darah. Bahkan pemeriksaan elektrolit pun belum ada. Walaupun saat ini sudah ada ventilator, tidak adanya analisis gas darah dan eletrolit rasanya membuat peran ventilator yang ada tidak maksimal. Apalagi sebentar lagi akan ada ICU.

Setiap senin pagi, diadakan morning report untuk mempresentasikan kasus hari Sabtu. Yang melaporkan ialah dokter jaga di hari weekend tersebut. Di hari Kamis, umumnya dokter umum diminta untuk mempresentasikan kasus rawat inap yang tidak biasa, unik, rumit, dan yang membuat pasien meninggal. Dokter umum juga diberi kewajiban untuk menjadi asisten operasi, apakah operasi bedah atau obgyn—walau sementara ini yang turun sebagai asisten ialah dokter internship. Singkatnya, pekerjaan di RS cukup banyak.

Bosan? Sudah pasti. Terlebih di Bintuni tidak ada hiburan dan tidak ada tempat rekreasi. Yah, karena sudah terlanjur di sini, jalani dan nikmati saja semua aktivitas yang ada.

Mengapa harus ke Papua?

Semenjak awal-awal menjadi mahasiswa, sudah merupakan keinginan kuat untuk ke pulau ini. Alasan utama ialah karena ingin bertualang ke wilayang paling timur Indonesia. Papua dikenal sebagai daerah yang masih tertinggal. Karena itulah, saya ingin melihat-lihat kondisinya, melihat orang-orangnya, dan merasakan menetap di daerah tertinggal. Bekerja di sarana kesehatan yang serba terbatas dan dengan kondisi masyarakat yang kurang terjaga kesehatannya karena di daerah terpencil tentu merupakan tantangan tersendiri.

Memang Bintuni lebih maju dibandingkan daerah Papua yang lain. Karena letaknya di pesisir, ada banyak pendatang dan transmigran yang tinggal dan menjalankan aktivitas ekonomi. Jika dilihat, kebanyakan penggerak roda ekonomi Bintuni ialah para pendatang,

Tidak bisa dipungkiri juga keinginan saya untuk memiliki SMB (surat masa bakti). Surat sakti ini banyak dicari-cari sebagai senjata untuk daftar sekolah ppds (program pendidikan dokter spesialis) kelak. Saya akui, saya pun menginginkannya. Maklum, tidak ada prestasi, nilai kuliah yang biasa-biasa saja, dan tidak punya kenalan pejabat membuat saya harus bekerja lebih ekstra.

Namun apa pun itu, semua saya syukuri. Ini adalah bagian dari keinginan besar untuk terus melakukan perjalanan. Mimpi untuk mendaki gunung-gunung tinggi bahkan gunung es, walau mulai sedikit memudar, masih ada. Begitu pun keinginan untuk melihat-lihat keadaan, alam, bahasa, dan wajah manusia di berbagai belahan bumi.

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (Al Jumuah: 10)

Yah, yang terpenting, semua ini diniatkan ikhlas karena Allah. Baru sebulan di sini saya sudah mulai merasakan jenuh. Namun saya pun menyadari, jika kelelahan pekerjaan ini dijalankan dengan beban berat di pikiran, maka yang ada adalah rasa tersiksa. Tapi jika pikiran dijernihkan, hati diikhlaskan, semua sebagai bentuk pengabdian kepadaNya, segalanya akan terasa ringan dan dimudahkan. InsyaAllah.

Categories: catatan perjalanan | Tags: , , , , | 8 Comments

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: