Rio dan Riza

Kesedihan

“Kapankah berakhir kesedihan?”

Riza memalingkan kepalanya ke arah sobatnya, “Akhir dari kesedihan?”

“Ya,” Rio berdiri lemas seraya menundukkan kepalanya. “Mengapa harus ada kesedihan? Bukankah hidup di dunia yang penuh tantangan ini saja sudah berat? Begitu banyak pekerjaan, tanggung jawab, dan amanah; kesedihan hanya memperparah semua itu.”

“Ah,” Riza meletakkan gadget yang sedari tadi ia asik dengannya. “Memang tidak ada seorang pun yang mau berada dalam kesedihan. Seseorang bersedih karena terpaksa, tak ada satu pun yang menginginkannya, bukan?”

“Tidakkah hidup itu unik? Terkadang kita merasa begitu gembira, namun bisa segera berganti menjadi sedih. Yang parahnya lagi, manusia amat mudah terpengaruh oleh kondisi emosionalnya. Performa kita untuk menyelesaikan tugas dan pekerjaan akan terhambat kalau sedang dalam kondisi bersedih. Tak perlu tanyakan tentang produktivitas hidup,” balas Rio.

“Jika tidak ada kesedihan,” Riza menyandarkan punggungnya, berposisi duduk santai. “Maka tak akan ada kegembiraan. Bisa kau bayangkan jika hidup ini hanya datar, atau hanya gembira tanpa ada gelombang-gelombang kesedihan yang menghadang? Esensi kegembiraan pun akan hilang. Pernah kan kau merasa begitu bergembira—benar-benar bergembira hingga rasanya mau terbang—setelah kau berhasil melewati kesedihan?”

Rio ikut menyandarkan punggungnya, kepalanya makin tertunduk. “Lagipula, kesedihan menyimpan banyak hikmah. Rasa sedih muncul jika ternyata kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Manusia memiliki berjuta harapan yg setinggi langit. Berbagai usaha dikerahkan untuk mencapainya, apakah sudah maksimal atau belum, dan apakah harapan tersebut realistis atau tidak. Kesedihan akan menjawab itu semua,” Riza melempar senyumnya.

Rio masih terdiam. “Manusia memiliki keinginan, Allah lah yang memberikan hasilnya. Seringkali kita sudah berusaha hingga titik penghabisan, namun kesedihan tetap ada. Mengapa? Saya yakin, yang terjadi ialah apa yang terbaik dari Allah.”

“Lalu, mengapa ada air mata? Tidak cukupkah air hujan membasahi wajah dan pipi kita? Haruskah manusia menangis layaknya awan menurunkan hujan, padahal ia tidak membawa berkah?” tanya Rio.

Riza kembali tersenyum. “Air mata, sobat, adalah nikmat yang harus kita syukuri. Jika kau bersedih, menangislah. Ya, menangislah. Air matamu adalah obat bagi kesedihanmu, kan melegakan hatimu. Air matamu juga yang akan membawamu mengingat Tuhanmu ketika kau bersedih.”

“Kalau memang demikian,” balas Rio. “Apakah kesedihan memang takkan pernah berakhir?”

“Tidak. Kesedihan pun pada akhirnya akan berakhir. Ketika manusia menginjakkan kedua kakinya di lantai surga dan menatap wajah Tuhannya, di sanalah akhir kesedihan. Namun, selama kita masih berada di dunia ini, kesedihan akan terus ada. Dan selama itu pula, sobat,” Riza menepuk halus bahu kanannya sendiri sembari tersenyum lebar. “Bahu ini akan selalu ada sebagai tempat tumpahan air matamu.”

Categories: Rio dan Riza | Leave a comment

Tidak Perlu Buka Topengmu

“Aku ingin berhenti!” Rio tiba-tiba berdiri dari kursinya lalu mondar-mandir. “Apa? Berhenti Apa?” Riza yang tengah asyik dengan laptopnya menoleh ke arah sobatnya.

“Tidak pantas, tentu saja! Bukankah telah kusampaikan ini berkali-kali sejak dulu? Mungkin penampilan luarku terlalu mengagumkan…Nah! Itu dia salahnya!” Rio melipat tangannya, menunduk, melihat cermin sejenak, kemudian, mondar-mandir kembali.

Riza akhirnya melepaskan jemari-jemarinya dari keyboard laptop. Seluruh badannya ia putar, punggung ia sandarkan. “Apa masalahmu dengan penampilan luar yang mengagumkan? Itu tidak salah, bukan, selama bukan niat takabur?”

“Tentu saja! Semua kulakukan dengan niat seoptimal dan sebaik mungkin. Tapi, seolah itu hanya sandiwara. Orang-orang pun menaruh harapan yang besar. Huh, padahal mengurus diri sendiri aja masih tidak becus!” Ia meraih kursi di sudur ruangan, kemudian duduk.

“Ah, aku mengerti yang kau rasa.” Riza mengelus-elus kedua telapak tangannya dan tersenyum. “Aku sangat mengenal dirimu, sobat. Kesukaanmu, kesibukanmu, aktivitas sehari-harimu, hal-hal yang tidak biasa darimu, juga kebiasaan-kebiasaan burukmu.” Riza menjauh dari laptopnya dan fokus kepada lawan bicaranya.

“Yah. Memang, aku apa adanya, kau tahu persis. Aku tidak bisa lagi menyembunyikan wajahku di balik topeng. Kau sudah tahu semuanya.” Rio menepuk pahanya, menunduk.

“Setiap orang memiliki topeng masing-masing.” Mulut Riza sedikit membuka, hal yang biasa ia lakukan ketika berbicara penuh pertimbangan. “Jangan kira aku pun tidak mengenakan topeng di luar sana. Justru, fungsi topeng harus kita syukuri dan maksimalkan.”

Rio sedikit terkejut “Hee? Bukankah itu hanya akan membuat kita menjadi seorang munafik?”

Senyuman Riza makin lebar. Matanya memejam sejenak, menunduk, kemudian menatap sobatnya dengan antusias. “Kau pikir, kita adalah sempurna, selalu melakukan hal dengan benar tanpa salah? Setiap orang punya kesalahan, besar atau kecil, dan aku yakin tiap orang pun punya sisi kebrengsekannya sendiri.”

Rio bersender pada kursinya, mendengarkan dengan serius. “Tidak menyebut sosok seperti Rasulullah saw. dan para sahabat beliau,” Riza melanjutkan, “entah besar atau kecil, tetap saja kesalahan itu bila diketahui orang lain, akan sangat memalukan. Wajarlah jika disembunyikan.”

“Untuk apa disembunyikan? Biarkanlah semua orang tahu betapa brengseknya diriku. Ini supaya tidak ada lagi orang yang berekspektasi lebih. Selama ini, seolah apa yang kulakukan adalah kemunafikan.”

“Walaupun memang kau orang brengsek,” Riza memajukan tubuhnya, tatapan matanya menjadi serius, “tapi itu bukan niat dan keinginanmu, kan? Sebaik aku mengenalmu, sebaik itulah pemahamanku akan keinginanmu untuk melakukan perbaikan. Lagipula, orang-orang di sekitarmu tak akan peduli dengan cerita melankolismu.”

“Setiap orang melakukan kesalahan atau kejahatan. Sama saja. Yang membedakan adalah keberanian mereka untuk menghadapi proses tanggung jawab,” lanjut Riza.

“Ahh…ya,” Rio mematukkan kepalanya ke depan, mencoba merenung.

“Tidak banyak orang berani mengakui kesalahannya, sebagaimana tidak banyak orang berani jujur terhadap dirinya sendiri. Ketika seseorang melepas tanggung jawab, ketika itulah ia merepotkan orang lain. Di sinilah poin utamanya. Kamu mengerti kan?”

Rio mengangguk pelan. “Bahasa kasarnya, ‘Silakan kamu membuat kesalahan atau kejahatan sebesar apa pun, tapi jangan merepotkan orang lain.’ Saat membuat kesalahan, mungkin kau akan merepotkan teman-temanmu. Nah, di sanalah kau harus mengaku, meminta maaf, dan bertanggub jawab kepada mereka.”

“Iya, aku mengerti. Aku tidak akan lari, insyaAllah tidak akan pernah lari dari kenyataan pahit. Tapi, orang-orang tidak akan merasa repot jika semenjak awal mereka tidak menaruh harapan padaku, bukan?”

“Jika atas dasar itu kau melepas harapan-harapan yang mereka letakkan di bahumu, maka kau telah menyusahkan mereka.” Riza menutup laptopnya, mencabut baterai darinya, menggulung-gulungnya, kemudian berdiri. “Menyerah pada kesalahan yang dibuat, kemudian menghilang dari peradaban, benar-benar tingkah laku bocah tengil.”

Ia mengambil tas yang tergeletak di atas meja, membuka resletingnya, dan memasukkan laptop ke dalamnya. “Gunakan akal sehatmu, bukan emosi,” Riza meraba-raba jaket di dalam lemari. “Pikirkan dengan jernih, apakah dengan melepas harapan mereka, apakah dengan membuka topengmu, itu semua akan memecahkan masalah? Bukan! Berbadan tegaplah, bersuara lantanglah! Hadapi proses tanggung jawab—baik itu dihukum, dipermalukan, dihina, atau bahkan ditendang—dengan berani.”

Rio masih terdiam. Pandangannya menunduk, hal yang biasa ia lakukan jika sedang merenung. “Kemudian, setelah prosesi itu selesai, lanjutkan apa yang seharusnya kau kerjakan dengan semangat baru.” Bunyi resleting jaket terdengar. Ransel terpasang di bahu Riza. Ia kemudian menuju helm dan motornya.

“Apakah memang itu yang Tuhan harapkan dari manusia? Terus berjalan ke luar sambil mengenakan topeng, dan membiarkan orang lain tertipu dengan apa yang mereka lihat?” Rio berdiri menyusul Riza di dekat motornya.

“Kau harus terus mengenakan topengmu agar orang-orang di sekitarmu tidak kerepotan dengan kebusukanmu. Dunia tidak akan peduli, tapi kau harus tetap memenuhi kewajiban untuk mereka.” Bunyi deru mesin motor terdengar. Rio pun melihat Riza melangkah mundur bersama motornya. “Yang jelas, Ia memerintahkan agar kita tidak berputus asa. Percayalah padaNya yang mengampuni semua dosa.” Riza mengenakan helm dan memutar gas.

“Ampunan….Jika demikian adalah tobat sambal yang selama ini kulakukan.”

“Tobat sambal atau apa pun namanya itu, insyaAllah Ia tak pernah bosan mengampuni hambaNya, hingga hambaNya sendiri yang bosan bertobat.” Dari balik helmnya, Rio bisa melihat Riza tersenyum, Bersama bunyi mesin yang semakin kecil, ia menjauhi Rio yang masih menundukkan kepalanya.

Categories: Rio dan Riza | Leave a comment

Benar-Benar Bodoh

“Jadi, kamu sudah membuat keputusan?”

Riza yang tiba-tiba memunculkan suaranya mengejutkan lawan bicaranya yang tengah melamun. “Ah, ya. Saya sudah membuat keputusan. Dan kamu sendiri tahu apa itu.”

“Kamu tetap memilih keputusan itu?”

“Ya. Saya sudah mantap.”

“Lalu bagaimana dengan orang-orang di sekelilingmu?”

Rio terdiam sejenak, berusaha berpikir dalam, tapi tidak berhasil. “Entahlah, saya tidak memedulikannya. Ini adalah keputusan saya sendiri, pilihan saya sendiri, dan akibatnya pun untuk diri saya sendiri. Walaupun, saya sendiri sebenarnya ga yakin…” kata-katanya diakhiri dengan suara yang pelan.

“Kenapa ga yakin? Katanya kamu sudah membuat keputusan? Kenapa sekarang malah mempertanyakan keputusanmu sendiri?”

“Iya. Saya sudah mencoba memikirkannya dengan sejernih mungkin. Mungkin memang masih banyak pilihan lain yang bisa diambil dengan hasil yang sama. Tapi…meskipun sudah berusaha menyingkirkan sisi emosi, kata hati saya tidak pernah berubah.”

“Ya sudah kalau begitu. Itu pilihanmu sendiri, resiko dan akibat ditanggung sendiri.”

“Memang benar, tapi sepertinya ini adalah kebodohan. Benar-benar bodoh.”

“Itu suatu kebodohan atau tidak,” Riza melipat tangannya dan mulai mondar-mandir, “apa yang sudah kamu putuskan tidak bisa kamu tarik lagi. Dunia ini memang keras bagi kita untuk menentukan pilihan.”

“Ya, tapi, tapi…banyak hal yang akan dilewatkan kalau keputusan ini tetap diambil. Berat melihat semua itu terbang begitu saja. Saya masih ingin menggenggam mereka semuanya, erat-erat.”

Riza berhenti dari langkah-langkahnya dan menghela nafas sejenak. “Itulah yang dinamakan dengan pengorbanan.”

“Pengorbanan? Benarkah setiap keputusan diambil harus ada yang terkorbankan?”

“Ya. Pepatah mengatakan ‘banyak jalan menuju Roma’. Begitu juga ada banyak jalan yang disediakan dalam hidup, dan ga mungkin kita ambil semuanya!”

Rio diam. Ia menundukkan kepala dan bola matanya, hal yang selalu ia lakukan ketika berpikir.

“Seperti ketika kamu menyetir mobil menuju rumah,” Riza mengambil kursi lalu duduk, “ada banyak jalannya, bukan? Semuanya sama, menuju tujuanmu, tapi kamu harus memilih salat satu. Ga terbayang kan kalau kamu bisa mengambil semua jalannya?”

Rio masih diam. Ia menatap sobatnya itu. Mata Riza yang seperti melamun dan bibirnya yang sedikit membuka telah Rio lihat berkali-kali pada kesempatan yang sama: ketika Riza membicarakan hal-hal yang penuh dengan pertimbangan.

“Karena itu, tiap kali kamu memutuskan sesuatu, pada saat itu juga ada yang dikorbankan. Dan pengorbanan adalah sesuatu yang sangat mahal harganya.”

Riza kemudian bersandar dan duduk lebih relaks, “Sangat-sangat mahal,” jari nomor duanya menunjuk ke atas. “Kalau kamu sampai ga yakin sama yang kamu pilih dan yang kamu korbankan, berarti kamu telah membuang sesuatu yang sangat, sangat mewah.”

“Menurut kamu, keputusan yang saya buat ini apakah memang tepat?”

Riza tersenyum lebar. “Tepat atau tidak, hanya kamu sendiri yang bisa menjawab. Tapi, menurut saya, keputusan yang kamu buat itu adalah bodoh. Benar-benar bodoh.”

Rio tidak merespon, karena jawaban itu telah ia duga sejak lama. Riza pun bangkit dari kursinya, “Tapi, saya yakin ada tujuan jelas yang ingin kamu capai dari keputusan ini kan?”

Rio menganngguk pelan.

“Karena banyak yang akan dikorbankan, dan mahal harganya, kita harus yakin dengayn tujuan yang ingin kita capai dari keputusan diambil. Untuk membuktikan apakah kita yakin atau tidak, coba kita wujudkan tujuan itu dalam bentuk vision: ia dapat kita lihat dan bayangkan dalam kepala kita. Sekarang, kamu bisa melihat dan bayangkan apa yang ingin kamu capai dari keputusanmu?”

Rio kemudian menengadah, menatap ke kejauhan. “Yah, saya bisa melihatnya…meskipun agak samar-samar.”

Jaket hujan di sofa disambar Riza, sakunya dirogoh, kemudian helm yang ada di kamar ia ambil.

“Keputusan yang bodoh adalah keputusan yang dibuat tanpa kita bisa melihat apa tujuan dari keputusan itu.”

Sebuah kunci yang dipegang Riza dipasangkan ke lubang kuncinya, diputar, disusul dengan suara deru mesin. “Kalau kamu telah membuat keputusan dengan tujuan yang jelas, kemudian orang-orang menyebutnya itu sebagai keputusan bodoh, tapi kamu tetap memilihnya, berarti itu adalah keputusan yang berani.”

Rio melihat sobatnya itu naik ke atas motornya, mengenakan helm, dan mundur perlahan-lahan. “Dan kamu tahu apa itu ‘keberanian’ kan? Orang yang berani adalah orang sebenarnya takut, dan orang-orang memintanya berhenti, tapi ia tetap maju.”

Kaca helm diturunkan dan deru mesin berbunyi semakin kencang. “Apakah keputusan saya ini bodoh atau tidak, pada akhirnya harus saya buktikan sendiri. Di akhir nanti mungkin kita akan sama-sama tahu, apakah orang-orang akan menertawai atau mengakui,” kata Rio menjelang sobatnya melajukan motor.

Riza tersenyum, dan tak lama ia menghilang dari pandangan Rio.

Categories: Rio dan Riza | Tags: | Leave a comment

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: