pembelajaran

Paranoid Belajar dan Long Life Learning

Terus Menerus Belajar Merupakan Tuntutan bagi Setiap Dokter agar Dapat Memberikan Pelayanan Terbaik

Suatu siang hari di hari libur di pertengahan tahun 2009, beberapa mahasiswa FK Unpad tengah berkumpul di ruang kuliah. Mereka sedang tidak kuliah, tentu saja, karena hari libur. Waktu libur banyak digunakan untuk kegiatan-kegiatan kemahasiswaan; itulah yang sedang kami lakukan saat itu.

Saya tidak ingat persis ketika itu sedang kegiatan apa—semacam pelatihan manajemen dan organisasi untuk pengurus senat mahasiswa. Kegiatan dilakukan di hari Sabtu-Minggu—menginap—dan di hari Minggu siang, saya ikut duduk berkumpul dengan para panitia dan peserta di auditorium kuliah tersebut. Di tengah-tengah pembicaraan, salah satu pengurus senat senior mengangkat tangan dan berkata (kurang lebih), “Mahasiswa FK sekarang sedang mengalami paranoid belajar. Walaupun sudah berkali-kali buka buku, tetap saja dirasa tidak pernah cukup. Hal ini membuat mereka agak enggan untuk ikut kegiatan kemahasiswaan dan memilih hanya untuk belajar.”

Kegiatan Belajar yang “Tidak Pernah Cukup”

Jumlah pengurus senat yang ikut pelatihan tersebut memanglah tidak banyak—mungkin kurang dari setengah total pengurusnya. Wajar, karena saat itu sedang menjelang musim ujian. Sebagaimana suasana kampus pada umumnya, masa-masa dekat ujian merupakan waktu yang paling suram. Khusus bagi mahasiswa FK Unpad, terdapat ujian presentasi kasus di hadapan dua penguji yang bobotnya sebesar 40% dari seluruh nilai. Jika nilai ujian tersebut jatuh, maka jatuhlah seluruh nilai di semester tersebut.

Bagi orang-orang luar, mahasiswa FK mungkin dianggap tidak membaur, menutup diri, dan eksklusif. Setiap kali saya bertanya ke mahasiswa FK dari universitas lain apakah mereka dicap “eksklusif” oleh mahasiswa dari fakultas lain, jawabannya adalah iya. Buku tebal, kuliah yang padat, dan “tiada hari tanpa belajar” mungkin identik dengan mahasiswa FK. Terlebih kurikulum yang diterapkan saat ini adalah problem based learning (PBL) yang menuntut mahasiswa untuk banyak belajar sendiri ketimbang menerima kuliah.

Berkali-kali buka buku, baca slide materi kuliah, membuat tugas; rasanya ada saja yang kurang. Ketika mendapat suatu tugas untuk mempresentasikan suatu materi, lalu mendiskusikannya ke teman-teman satu kelompok tutorial, hal tersebut tidaklah cukup. Sulitnya untuk mengerti materi yang disampaikan oleh teman atau yang disampaikan sendiri adalah satu hal. Hal lain adalah banyak informasi yang telah disampaikan ternyata tidaklah cukup sebagai bekal untuk menghadapi ujian nanti. Rasanya banyak sekali, bahkan tak ada habisnya, materi yang belum dipelajari namun sepertinya akan keluar di waktu ujian.

Mungkin faktor kurikulum PBL yang meminta mahasiswa untuk mencari informasi dan belajar sendiri membuat seolah kaburnya batasan yang perlu dipelajari. Terlebih, para dosen selalu berpesan kepada mahasiswa untuk tak pernah puas dalam mencari tahu, dan menekankan bahwa tak ada batasan ruang lingkup materi untuk dipelajari. Hal ini rasanya sangat berbeda dibanding masa sekolah yang sang guru memberikan batasan bahan ujian kepada para mahasiswa.

Namun Dokter Sangat Dituntut untuk Terus Belajar

Tapi memang sistem pendidikan yang diterima ketika kuliah dahulu tidaklah salah—bahkan sangat benar. Ini benar-benar disadari ketika saya sudah bekerja menjadi dokter (walau saat ini masih sebatas dokter internship). Ilmu kedokteran benar-benar tidak memiliki batasan. Tidak ada template yang benar-benar baku saat menangani pasien. Walau ada guideline, ada keadaan tertentu yang membuatnya tidak bisa diaplikasikan. Kondisi penyakit banyak yang tidak khas sesuai dengan di buku. Banyak pula suatu penyakit yang “menyamar” sehingga terlihat seperti penyakit lain. Terlebih, kondisi-kondisi medis yang pernah dipelajari ketika kuliah hanyalah secuil dari kasus-kasus nyata yang ditemukan.

Saat ngobrol dengan dokter-dokter internship lulusan universitas lain, banyak istilah medis atau penyakit atau guideline penatalaksanaan yang saya baru dengar. Begitu pun sebaliknya, ada informasi yang saya ketahui namun mereka baru mendengarnya (walau lebih banyak yang saya tidak tahu karena waktu kuliah dulu sering skip :p). Teori-teori yang ada di buku tidak semuanya dilakukan di lapangan nyata, apalagi di rumah sakit daerah yang ketersediaan peralatan medis tidak selengkap di kota besar. Tiap rumah sakit atau dokter spesialis juga punya kebiasaan atau pilihan yang berbeda antara satu dengan yang lain dalam menghadapi kasus yang sama.

Ketika pertama kali mulai bekerja di rumah sakit, maka keadaannya bisa ditebak: saya banyak bingung, banyak salah dalam penanganan, banyak dikritik oleh rekan kerja yang lain, dan juga kondisi pamungkas TIBO (tiba-tiba bodoh). Beruntung, status saya masih dokter internship: walau sudah dianggap dokter yang kompeten, masih diberikan pendampingan atau bimbingan oleh dokter-dokter umum senior dan spesialis.

Banyaknya kebingungan dan ketidaktahuan saat bekerja ini melahirkan kembali kegelisahan dahulu yang disebut dengan paranoid. Selesainya kuliah kedokteran selama 5-6 tahun tidak berarti bahwa proses belajar sudah selesai. Sebaliknya, dengan banyak bertemu dan menangani pasien langsung oleh diri sendiri semakin menyadarkan untuk terus dan tak pernah habisnya belajar. Apalagi yang ditangani bukan mesin, bukanlah benda mati, juga bukan makhluk bernyawa bernama hewan, melainkan manusia.

Saya pernah membaca buku karangan seorang professor dari FK Unpad yang berjudul “Playing God”.  Buku yang berisikan pengalaman-pengalaman berharga ini memiliki bagian yang menyebutkan bahwa sang professor kebingungan dalam menangani seorang pasien karena kondisinya yang rumit. Professor itu pun harus “mengurung diri di perpustakaan” dan “membuka berbagai literatur”. Ya, bahkan seorang dokter dengan gelar akademis tertinggi pun masih harus membuka literatur untuk menangani kasus yang sulit.

Setelah berada di lapangan inilah saya benar-benar memahami apa yang disebut dengan long life learning. Saya pun mulai mengangguk ketika dahulu dosen meminta untuk tidak pernah puas mencari tahu dan tidak memiliki batasan dalam belajar.

Menumbuhkan Pembiasaan

Lamanya waktu studi untuk menjadi dokter dan bagi residen untuk menjadi dokter spesialis juga mulai bisa dimengerti. Rata-rata untuk menjadi dokter spesialis, dibutuhkan sekolah selama 5 tahun; waktu yang sangat lama bila dibandingkan dengan sekolah magister selama 2 tahun dan doktor selama 4 tahun. Ibu saya, seorang dokter spesialis anak, bilang bahwa sekolah spesialis itu lama karena untuk menumbuhkan “pembiasaan”.

Seorang dokter umum yang sudah lama bekerja di rumah sakit terbiasa untuk menangani pasien sesuai dengan guideline rumah sakit tersebut. Pekerjaan juga akan menuntutnya untuk membuka kembali literatur dan berkonsultasi ke dokter spesialis. Jam terbang yang tinggi dan ilmu yang terus-menerus dipakai membuatnya terbiasa untuk bekerja dengan cepat. Hal yang berbeda terjadi bagi dokter baru yang baru saja lulus dari universitas. Pengalaman praktek yang minim membuatnya butuh untuk beradaptasi.

Karena hal inilah saya merasa program “dokter internship” sangat bermanfaat. Tujuan dari program ini adalah untuk “pemahiran” bagi dokter-dokter yang baru saja lulus. Selama masa sekolah kebanyakan dokter baru belum pernah memegang dan menangani pasien sendiri, sehingga minim pengalaman. Melalui program internship, dokter-dokter baru memulai pengalamannya dengan pendampingan dokter senior. Ini menepis anggapan sebagian orang bahwa program internship tidaklah diperlukan. Terlepas dari berbagai kekurangan yang ada, seperti terbatasnya anggaran, jumlah wahana yang sedikit dibandingkan dengan jumlah dokter baru, dan gaji dokter internship yang sangat tidak layak, program pemahiran dan pembiasaan ini dapat menjadi bekal yang sangat berharga untuk bekerja secara benar-benar mandiri kelak.

Membedakan Paranoid Belajar dengan Long Life Learning

Walaupun terbiasa, kebutuhan untuk terus membuka buku dan belajar tidak bisa dinafikan. Ilmu kedokteran tidaklah bersifat kaku melainkan terus berkembang. Ada banyak kondisi medis yang sifatnya belum banyak diketahui. Begitu pun pengobatan untuk beberapa penyakit yang hingga saat ini belum menemukan standar yang memuaskan. Penelitian di bidang keodokteran terus dikembangkan agar dapat memberikan pelayanan yang maksimal. Setiap dokter wajib untuk meng-update ilmu pengetahuannya dengan mengikuti simposium atau workshop yang memaparkan informasi dan ilmu berdasarkan penelitian terbaru.

Keikutsertaan dalam kegiatan ilmiah ini menjadi syarat bagi setiap dokter agar dapat memperpanjang surat tanda registrasinya. Inilah mengapa pendidikan kedokteran disebut dengan long life learning.

Karena bersifat seumur hidup, terus belajar dan menggali ilmu pengetahuan bukan hanya merupakan kewajiban tapi juga “kebutuhan”. Karena kebutuhan, diperlukan sebuah pengaturan agar kegiatan belajar bersama kebutuhan-kebutuhan yang lain, seperti makan, tidur, rekreasi, dan berkeluarga, dapat terpenuhi. Kita bisa melihat seorang yang disebut berhasil dalam hidupnya ialah yang mampu mengelola kebutuhan hidupnya sehingga terpenuhi dan mengontrol dirinya dari keinginan-keinginanan yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Proses learning perlu dikelola sedemikian rupa agar tidak bersifat sporadis sehingga hasil pembelajaran yang didapat menjadi optimal.

Kemampuan untuk mengorganisasi kebutuhan tersebut dengan baik akan membedakan seorang yang paranoid belajar dengan long life learning. Penderita paranoid belajar akan menganggap bahwa proses belajar merupakan sebuah paksaan yang bersifat menyakitkan, berbeda dengan long life learner yang menyadarinya sebagai kebutuhan. Seorang yang belajar karena keterpaksaan dan karena kebutuhan tentu akan memiliki output yang berbeda.

Long life learning sangatlah dibutuhkan bagi manusia, terutama bagi para dokter agar dapat menjalankan profesinya dengan baik. Kebutuhan ini perlu ditanamkan sejak masa mahasiswa—saya pun menjadi sadar mengapa ketika kuliah dulu lebih banyak ditekankan untuk belajar sendiri ketimbang diberi kuliah. Jika mampu mengubah sudut pandang paranoid belajar menjadi long life learning, maka tidak perlu khawatir para pengurus organisasi senat mahasiswa meninggalkan amanahnya walaupun sedang dalam masa menjelang ujian.

Categories: gumam sendiri, pembelajaran | Leave a comment

Mengabdi, Menjemput Kematian?

Baru-baru ini ramai di media sosial berita tentang meninggalnya salah satu dokter yang tengah bertugas di Papua. Dunia kedokteran dan kesehatan berduka setelah dr. Dhanny Elya Tangke tidak bertahan menghadapi malaria. Dokter lulusan Universitas Hasanudin tahun 2012 itu sedang menjalani tahun ketiganya mengabdi di distrik Weime, Kabupaten Pegunungan Bintang, Propinsi Papua. Berita kepergiannya menjadi viral di jagat dunia maya dan ucapan belasungkawa mengalir deras.

Indonesia timur memang terkenal sebagai daerah endemis malaria. Tidak hanya di Papua, tapi juga di Maluku bahkan di kepulauan Indonesia tengah seperti NTB dan NTT. Berita semacam ini sebenarnya bukanlah hal yang aneh. Jumlah dokter yang meninggal dalam tugas tak terhitung dengan berbagai penyebabnya. Selain malaria yang berkomplikasi ke otak, sering terdengar di telinga para dokter tentang gugurnya para sejawat mereka karena kecelakaan dalam tugas seperti tenggelam dan jatuh ke jurang.

Tugas ke daerah terpencil dan sangat terpencil tentu memiliki resiko lebih ketimbang di daerah kota padat. Sarana dan prasarana amatlah kurang, terutama fasilias kesehatan. Seorang yang terkena malaria yang berkomplikasi ke mana-mana tidak bisa ditangani di rumah sakit yang berada di pegunungan, namun harus dirujuk minimal ke rumah sakit rujukan propinsi (RSUP). Perjalanan ke RSUP sendiri membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Pada kasus dr, Dhanny, ia terlambat dievakuasi BEBERAPA HARI karena kendala cuaca.

Sangat banyak kasus pasien meninggal dalam perjalanan atau di RS daerah akibat terlambat dirujuk. Ada berapa banyak jumlah pasien meninggal akibat cedera kepala berat? Indonesia salah satu negara dengan angka kejadian cedera kepala berat yang tinggi. Penyebabnya bisa ditebak: banyaknya pengguna sepeda motor yang berkendara semena-mena, tanpa rem, tanpa kaca spion, bonceng 3 hingga 4, dan paling parah tanpa helm. Seorang yang terkena cedera kepala berat harus cepat dinilai melalui pemeriksaan CT-Scan dan SEGERA dievakuasi perdarahan otaknya di meja operasi. Sayangnya, fasilitas CT-Scan hanya ada di RSUP. Sebelum sempat discan pun banyak yang sudah tewas duluan.

Itu adalah sebagian cerita tentang menyedihkannya fasilitas sarana kesehatan kita. Alih-alih pemerintah menyediakan dana untuk meningkatkan sarana kesehatan yang merata, anggaran kesehatan yang tidak mencapai 5% banyak terpakai untuk program Jaminan Kesehatan Nasional atau yang kita kenal sebagai BPJS. Insan kesehatan sudah menyuarakan bahwa premi BPJS terlalu rendah, yang awalnya disarankan oleh Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) sebesar 66 ribu, setelah melewati DPR menjadi 23 ribu. Beberapa waktu lalu pun banyak masukan untuk menaikkan premi, namun lagi-lagi ditolak oleh DPR, dan mereka menyarankan untuk meningkatkan alokasi anggaran dari pemerintah untuk penanggungan BPJS. Memang program jaminan nasional berbasis asuransi ini banyak bermanfaat, namun bisakah terbayangkan alokasi untuk peningkatan kualitas jasa dan fasilitas kesehatan yang terkena dampaknya? Kondisi ini diperparah dengan belum tersebarluasnya kepesertaan BPJS, atau keadaan yang sangat sering dijumpai di RS: sudah sakit baru daftar BPJS. Jangan tanyakan besar jasa para tenaga kesehatan yang melayani jumlah peserta BPJS yang tiap harinya makin meningkat.

Tapi profesi kesehatan ialah pengabdian. Berapa pun besaran jasanya, dokter dan RS tak pernah boleh menolak untuk memberikan pelayanan. Para buruh dapat menurunkan massanya ke tengah jalan jika upah dirasa tak layak, namun dokter dan tenaga kesehatan lainnya tidak seperti demikian. Para dokter telah terikat dengan sumpah yang mereka ucapkan saat dilantik, “Saya aka membaktikan hidup saya demi kepentingan perikemanusiaan”.

Ributnya kondisi di atas tidak menyurutkan semangat pengabdian sebagian dokter untuk menjelajah ke pegunungan atau ke tengah hutan atau ke pualu terpencil. Daerah- daerah demikian tidak hanya minim fasilitas tapi juga tenaga kesehatan terutama dokter. Bertugas ke daerah terpencil tentu mengorbankan banyak hal. Terasing meninggalkan kenyamanan dan kemewahan metropolitan, jauhnya dari rumah dan keluarga, bertemu wajah-wajah asing dengan watak dan budaya yang sangat berbeda, dan berhadapan dengan ganasnya nyamuk anopheles atau jurang terjal atau amukan ombak atau bahkan adu parang dan peluru antarwarga.

Tentang malaria, ada kisah dari seorang senior yang pernah menjadi dokter PTT (pegawai tidak tetap) di Maluku. Umumnya, seorang yang akan datang ke daerah endemis malaria akan minum obat profilaksis (pencegahan). Dari 8 orang yang bertugas di sana, yang pertama kali terkena malaria adalah orang yang minum obat profilaksis! Senior saya sendiri selama PTT setahun sudah dua kali terkena malaria, sekali terkena malaria ringan (jenis malaria vivax) dan sekali malaria ganas (jenis malaria falciparum).

Ia juga bercerita tentang dokter satu almamater angkatan 2001 yang terkena malaria berkomplikasi ke otak (malaria cerebral). Ia dievakuasi ke RS Cipto Mangunkusumo dan berhasil selamat, setelah yang mengantarkannya selama perjalanan tidak bosan-bosannya melakukan resusitasi jantung paru dan menyuntikkan adrenalin.

“Untuk adik-adik yang mau PTT ke daerah endemik, saran saya ga usah repot-repot minum obat profilaksis…pasti kena,” petuah senior saya tersebut. Yang terpenting, menurutnya, yakinkan ada fasilitas pemeriksaan apus darah tepi dan obat malaria di puskesmas. Gejala awal malaria falciparum yang tidak khas, berupa nyeri perut, dikasih obat mag tidak mempan, setelah diberi obat malaria baru hilang. Ketika diperiksa apus darah tepi, positif malaria ganas….

DIGITAL CAMERA

Salah Seorang Dokter PTT Bertugas di Pedalaman Papua (sumber gambar: http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2013/01/15/dedikasi-dokter-di-daerah-terpenil-525430.html)

Itu baru malaria, belum kisah-kisah berbahaya lainnya yang tidak terekam media.

Tidakkah mengabdi itu seolah seperti menjemput kematian sendiri? Jika mengabdi itu memang berbahaya, apakah ia adalah alasan bagi kita untuk menghindarinya? Lalu, jika tidak ada satu pun yang mau mengabdi karena takut mati, masih adakah kata “kemanusiaan” di buku kamus bahasa?

“Hidup hakikatnya adalah perjalanan, dari satu waktu ke waktu lain menuju mati,” begitu seorang tokoh senior Wanadri dan seniman asal Bandung, Abah Iwan, bernyanyi. Jika yang dikhawatirkan adalah kematian, maka solusi terbaik ialah tidak pernah dilahirkan ke dunia. Sejak lahir pun seluruh sel dalam tubuh kita sudah memiliki kode untuk menghancurkan dirinya sendiri jika waktunya tiba. Kematian adalah keniscayaan; yang membedakan adalah bagaimana manusia berada di dalamnya, dalam kehinaan atau kemuliaan.

Adakah berada di kota besar akan mengamankan kita dari kematian? Tidak. Tak satu pun yang mampu lari darinya jika telah ditakdirkan.

“Setiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya akan disempurnakan pahala kalian pada hari kiamat. Barangsiapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka ia benar-benar telah beruntung. Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya” (QS. Ali Imran: 185)

Mengabdi bukanlah menjemput mati, melainkan justru menjemput kehidupan. Awalnya manusia berada di dalam ruangan yang sangat sempit, di dalam rahim sang ibu. Kemudian, sambil menghembuskan nafas ia keluar menuju tempat yang lebih luas, dunia. Di masa kanak-kanak, area kehidupannya hanya berkisar rumah dan sekitarnya. Setelah beranjak dewasa, kehidupannya tumbuh seiring dengan meluasnya tempat hidupnya. Hingga kemudian, nafas-nafas kehidupannya melebar ke sudut-sudut yang terlupakan, terpencil dan jauh dari keramaian manusia, untuk berbagi senyum kehidupan. Jika enggan untuk melakukan perjalanan hingga ke sudut-sudut tersebut, tidakkah kehidupan kan terasa terlalu sempit?

Mengabdi ialah melakukan perjalanan. Langkah demi langkah harus terus dijejakkan. Manusia takkan pernah bisa hidup diam dan tak bergerak. Pepatah Arab mengatakan kehidupan manusia bagaikan air; jika mengalir ia menjadi jernih, namun jika diam dan menggenang ia kan kotor.

Jika mendengar kisah betapa berbahaya dan menantangnya di jalan pengabdian, maka yang muncul seharusnya ialah bukan takut melainkan bertambah semangat. Tentu melakukan perjalanan bukanlah untuk bunuh diri.

Tujuan dari perjalanan ialah “sampai di tujuan dan pulang kembali dengan selamat”. Berhasil atau tidaknya perjalanan sangat ditentukan oleh matangnya persiapan. Prinsipnya ialah “jangan lakukan perjalanan jika tidak memiliki persiapan”. Kadar persiapan tiap perjalanan tentu berbeda. Mendaki gunung es tentu memiliki persiapan yang jauh berbeda ketimbang mendaki gunung non-es. Menempuh rimba selama seminggu butuh persiapan ekstra ketimbang berkemah hanya semalam. Begitu pun ketika bertugas ke pedalaman: lakukan persiapan sebaik mungkin dan gali informasi yang banyak sebelum berangkat.

Ini pula yang membedakan antara “nekat” dan “berani”: orang yang berani berjalan menantang bahaya namun telah memiliki perhitungan, berbeda dengan nekat.

Mungkin kita kan bertanya, menyesalkah dr. Dhanny masuk ke pedalaman Papua setelah ia tahu kondisinya demikian? Tidak ada yang tahu. Tapi saya yakin—maafkan saya yang sok tahu ini—ia tidak menyesal, karena ia sendiri pernah bertutur, “Adalah kegembiraan dan kehormatan bagi saya bila dapat membantu dan melayani masyarakat di daerah terpencil”.

Jasadnya telah mati, seperti kita semua yang juga akan mati. Tapi, apakah jasa-jasa kita juga kan terkenang? Adakah nama kita kan juga mengabadi dan memberi inspirasi? Itulah perbedaannya antara pengabdi dan orang biasa.

Di akhir, saya ingin mengutip lirik “Balada Prajurit” yang diciptakan oleh Abah Iwan, berisi tentang para prajurit yang bertugas demi tanah air. Ya, para dokter yang mengabdi dan profesi apa pun yang mencurahkan pengorbanannya demi bangsa dan negara pada hakikatnya adalah para prajurit tanah air.

BALADA SEORANG PRAJURIT

Bangunlah hai prajurit, Siagakan dirimu

Berlatih tak pernah kenal berhenti

Gembirakan hatimu, Kobarkan semangatmu

Putus asa jauhkan dari dirimu

 

Bertempur pantang mundur

Lebih baik hancur lebur

Bila perlu demi tugas rela gugur

Bagi seorang ksatria kehormatan yang utama

Keringat dan darah siap kukorbankan

 

Gunung-gunung kudaki, Jurang curam kuturuni

Biar siang biar malam tak peduli

Hutan rimba kuarungi, Sungai deras kuseberangi

Biar hujan biar panas tak peduli

 

Sungguh jauh dari rumah, Rasa rindu tak tertahan

Namun tugas bagiku lebih utama

Demi kehormatan bangsa, Demi rakyat yang tercinta

Jiwa raga bila perlu kukorbankan

Bangunlah hai prajurit Siagakan dirimu

Categories: kesehatan, merenung, pembelajaran | Tags: , , , , | Leave a comment

Kebahagiaan yang Sederhana

Tak disangka perjalanan turun ke danau Segara Anak cukup jauh. Awalnya sy berpikir untuk mencapainya dari pelawangan Sembalun cukup berjalan turun menuruni punggungan secara lurus. Tapi ternyata danau itu terletak di sisi yang berlainan. Tidak hanya turun, pendaki pun mesti menyeberangi lembahan-lembahan. Akibatnya, perjalanan terasa jauh karena jaraknya yang panjang.

Kelelahan, seorang teman perjalanan berhenti dan berbicara ke arah sy, “Kang, minta minum.” Setelah dua hingga tiga kali tegukan, ia berujar, “Ahh…di sini air putih aja terasa nikmat ya.”

Yang diminumnya memang hanya air putih—air tawar biasa yang sehari-hari manusia minum dan hampir bisa ditemukan di mana saja—namun baginya kala itu terasa begitu nikmat. Apakah rasanya berbeda? Tidak. Tidak ada yang berbeda, kecuali lokasi dan keadaan saat itu.

Kami tengah berada di padang rumput, tengah perjalanan dari pelawangan Sembalun menuju danau Segara Anak—di alam terbuka. Tidak seperti kota, alam tidaklah memiliki fasilitas yang dapat memanjakan manusia. Semuanya serba alami. Untuk memenuhi kebutuhan atau kesenangan, manusia perlu membawa perlengkapan dan perbekalan sendiri dari rumahnya. Atau, jika membutuhkan sesuatu dari alam—misalnya api unggun untuk menghangatkan tubuh atau bahan makanan ketika dalam kondisi survival—usaha lebih perlu dikerahkan. Tidak seperti di kota yang hampir segala kebutuhan bisa dipenuhi sambil duduk, di alam terbuka manusia harus melawan rasa malas untuk bergerak dan bergerak.

Keadaan kami saat itu bisa dikatakan tengah kelelahan. Itu adalah hari ketiga kami berada di area pendakian gunung Rinjani. Hari pertama merupakan hari yang paling melelahkan, 9 jam mendaki hingga ke pelawangan. Hanya sempat tidur 4 jam, kegiatan dilanjutkan dengan summit attack selama 5 jam. Di hari ketiga ini perjalanan dilanjutkan dengan menuruni lembah menuju danau Segara Anak selama 2,5 jam. Ketika kelelahan dan cairan keluar dari tubuh dalam jumlah banyak, seteguk air pun terasa nikmat.

Memang, saat mendaki gunung, tegukan minuman—apalagi minuman manis—dan snack bisa memicu keluarnya hormone kenyamanan. Seringkali di tengah-tengah pendakian muncul keinginan untuk makan macam-macam—nasi padang, ayam goreng, dan sebagainya—makanan yang sebenarnya kalau tengah berada di kota sifatnya biasa saja. Tapi sedikit minuman manis, atau secuil jilatan coklat, bisa membuatmu bergumam, “Aahh…nikmat”. Tentu saja karena di alam terbuka tidak ada apa-apa. Bisa merasakan sedikit saja sesuatu yang berasa benar-benar menyenangkan.

Salah satu kondisi tersulit yang pernah sy rasakan ialah ketika menjalani Pendidikan Dasar Wanadri (PDW). Pendidikan tersebut bisa disebut “pendidikan militer tanpa senjata”, karena tata tertib dan kedisiplinannya terinspirasi dari pelatihan komando. Beberapa anggota senior Wanadri menjalani pendidikan militer ala komando, dan setelah pulang, beliau-beliau menerapkannya dalam PDW. Tidak hanya itu, pendidikan ini membuat para pesertanya berada di hutan selama 28 hari, sangat jauh dari kenyamanan rumah.

Saat awal-awal pendidikan, siswa tidur di dalam barak, yang tentu saja sangat tidak nyaman dibandingkan dengan kasur rumah. Namun setelah 3 hari, siswa diwajibkan membuat bivak untuk istirahat malam. Saat itu sy berpikir betapa nikmat dan bahagianya jika bisa tidur kembali di dalam barak. Kemudian di hari-hari berikutnya, tahap pendidikan beralih ke bivak solo/mandiri—dan saat itu pula sy bergumam betapa nikmatnya jika bisa tidur dalam bivak regu.

Tahap akhir dari pendidikan adalah survival. Di tahap ini semua siswa hanya boleh makan dari bahan-bahan yang ada di alam. Semua perbekalan makanan termasuk snack disita. Bahan bakar pun diambil, sehingga jika mau masak harus mengeluarkan energi lebih: menebas kayu-kayu kering, mengumpulkannya, dan membuat api unggun. Usaha yang lebih berat lagi mesti dikeluarkan ketika bangun tidur jam 4 pagi; tak ada waktu untuk melamun karena harus segera bergerak mengumpulkan kayu untuk membuat api. Makanan yang dimasak sebenarnya cukup variatif: pakis, bonggol pisang, jantung pisang, begonia, rotan, jika beruntung bisa mendapatkan cacing sondari dan kadal. Pelatih sebebarnya cukup berbaik hati karena memberikan garam sebagai bumbu.

Tentu saja di kala itu semua bayangan makanan keluar. Mulai dari yang mewah seperti nasi padang, nasi goreng, ayam goreng, hingga yang sederhana yang sebenarnya dimasak sehari-hari dalam pendidikan sebelum tahap survival seperti dendeng dan ikan asin. Kala itu, kami membayangkan jika bisa makan ikan asin saja, atau bisa minum seteguk energen, rasanya akan sangat, sangat membahagiakan.

Dan memang betul. H-1 akhir pendidikan, di siang hari, tahap survival ditutup dan semua siswa “buka puasa”. Makanan bebuka diberikan oleh pelatih berupa 1 buah pisang, 1 buah tempe bacem, 1 lontong, dan 1 bungkus energen. Yang pertama dimakan ialah buah pisang…bagaimana rasanya? “Allahu Akbar! Eeeennnnnaaaaakkkkkk…!” Itu adalah makanan terenak yang pernah dirasakan dalam seumur hidup sy. Air mata pun mengalir karena bisa merasakan lezatnya buah pisang. Ya, air mata bahagia.

Saat itu adalah masa-masa yang sangat membahagiakan. Benar-benar membahagiakan, walaupun sederhana.

Apa yang membuat seseorang bisa begitu bahagia? Mungkin kita sudah pernah mendengar kisah seorang pemuda yang bertanya ke seorang kakek yang bijaksana: sang pemuda bingung dengan apa yang sebenarnya paling ia inginkan dalam hidup ini. Ketika kepalanya dicerbukan ke dalam air secara paksa oleh sang kakek, si pemuda merintih dan berontak, namun si kakek tetap mendorong kepalanya ke dalam air. Kepala sang pemuda pun dibebaskan, kemudian ia ditanyai, “Apa yang paling kamu inginkan saat itu?” Sang pemuda menjawab bahwa yang paling ia inginkan adalah udara. Ya, hanya udara. Bernafas ialah kegiatan sederhana yang sehari-hari dilakukan ketika berpikir. Namun bagi manusia yang dalam kondisi sesak, bernafas merupakan hal yang paling mampu membuatnya bahagia.

_476928_0978981001406704454.png

Memangkah kebahagiaan itu bersifat relatif? Karena tidak ada satu pun yang berani memberinya definisi secara mutlak. Andai kebahagiaan itu berada di suatu tempat, tentu sudah tidak ada lagi ruang untuk kita karena para manusia dari berbagai belahan dunia akan berebut untuk mendesakinya. Andai kebahagiaan itu bisa dibeli, tentu ia sudah habis karena diborong oleh orang-orang kaya.

Tapi kebahagiaan itu tidak ada di mana-mana; ia ada di dalam hati dan pikiran setiap manusia. Cara berpikir seseorang terhadap kehidupan akan sangat menentukan apakah ia akan bahagia atau tidak. Hati yang jernih dari kerakusan dan ketamakan adalah sumber energi kebahagiaan terbesar yang dimiliki manusia.

Bahagia itu sederhana. Sesederhana seseorang yang mampu mensyukuri apa yang dimilikinya.

Alam terbuka mengajarkan kita tentang kebahagiaan yang sederhana. Hanya dengan meneguk air tawar di bawah teriknya matahari dalam kegersangan padang rumput mampu membuatmu bahagia. Hanya dengan berteduh di bawah tenda atau bivak setelah menempuh keletihan dan hawa dingin mampu membuatmu bahagia. Hal-hal yang sangat sederhana seperti itu saja ternyata bisa memunculkan rasa bahagia.

Tentu kondisi di kota berbeda dengan alam terbuka. Memiliki fasilitas yang nyaman merupakan impian setiap orang. Bekerja keras untuk memperoleh materi memang penting, karena harta dapat memberi kebahagiaan, tapi itu semua hanyalah sarana, bukan esensi. Apalah arti kemewahan bagi seorang yang isi pikirannya hanya ingin terus menambah dan menambah kekayaan. Semua yang dimilikinya, yang bagi sebagian orang hanya angan-angan, tidak mampu memberinya apa-apa.

Karena itulah Islam sangat menganjurkan untuk hidup qana’ah atau serba merasa cukup. Selain mencegah jiwa terkotori oleh ketamakan dunia yang takkan pernah habis, hal itu juga akan memberikan rasa tenang dan bahagia.

Hiduplah dengan sederhana, karena dengan hidup sederhana kita akan mudah untuk merasakan kebahagiaan.

 

 

Alam terbuka mengajarkan kita kebahagiaan yang sederhana
Tinggalkanlah dulu kenyamanan dan kemewahan kota
Yang berbagai makanan lezat nan gemerlap terus mendahaga
Tak pernah puas rasa haus ini seberapa banyak pun dihamburkan harta
Tapi ke mana, ke mana kah apa yang disebut-sebut sebagai bahagia?

Bergurulah kepada alam terbuka
Di bawah kegagahan panas mentari yang dipantulkan oleh rel kereta
Di tengah lelah dan letihnya berjalan rendah menyeberangi rawa
Di tepi lemahnya tubuh yang hanya menyantap daun berbumbukan garam tiada selera
Di dalam kondisi tidak menyenangkan itu semua, apa yang bisa membuatmua bahagia?

Hanya seteguk air yang tidak berasa
Air yang mengaliri tenggorokan yang penuh dahaga
Hanya sesederhana itu, di tengah alam terbuka, mampu membuatmu bahagia

11201608_1033329123346132_1174561553870858018_n

Foto PDW 2012

 

Categories: merenung, pembelajaran | Tags: , , , | 1 Comment

[FOTO] Pulau Tanpa Air, Gili Maringkik

Pulang Maringkik di Timur-Selatan Pulau Lombok

Pulang Maringkik di Timur-Selatan Pulau Lombok

Apa jadinya menjadi penghuni pulau? Istilah “orang pulau” biasanya menunjukkan orang yang terbelakang dan jauh dari peradaban. Tinggal di pulau kecil, terpisah dengan pulau utama oleh laut, tentu fasilitas yang ada pun sangat terbatas. Termasuk kualitas pendidikan dan kesehatan orang-orang yang terpisah dari peradaban utama. Jika tiang listrik sudah ditegakkan, maka ia sudah beruntung.

Pulau Maringkik termasuk yang beruntung itu. Gili/pulau mini ini terletak di daerah selatan pulau Lombok, masuk ke kawasan kabupaten Lombok Timur. Jika mendengar kata pulau Lombok, mungkin yang terlintas adalah liburan, tempat berbulan madu, pantai yang indah, dan sebagainya. Memang bayangan indah itu bisa dilukiskan di pulau ini, tapi hanya di sebelah barat. Daerah tempat saya berteduh sekarang, yaitu Lombok Timur, bisa disebut sebagai “kampung”. Tidak ada apa-apa, tidak ada hiburan, wajar saja teman-temanku rela mengorbankan waktu berharga mereka untuk nongkrong di Mataram, setidaknya seminggu sekali.

Di sisi selatan Lombok Timur, terdapat kecamatan yang ruhnya merupakan pelabuhan, yaitu Tanjung Luar. Saya pernah menulis mengenai “Jika Ingin Mencari Penyakit, maka Pergilah ke Pelabuhan’. Anekdot ini untuk menggambarkan kondisi pelabuhan Tanjung Luar yang sumpek, kumuh, bau, jorok, dan padatnya minta ampun. Penyakit menular seperti campak dan TBC sangat mudah ditemukan. Namun, daerah ini merupakan tempat para nelayan mencari nafkah. Ada warga yang bilang bahwa penduduk lokal hanya bekerja sebagai buruh nelayan, sedangkan kebanyakan sang pemilik kapal—alias orang berduit—kebanyakan adalah pendatang. Entah bagaimana sejarahnya, tapi konon mudah untuk menemukan orang bugis di sudut ini—juga orang-orang dari daerah luar Lombok.

Pelabuhan Tanjung Luar

Pelabuhan Tanjung Luar

Nelayan Tanjung Luar

Nelayan Tanjung Luar

Pelabuhan Tanjung Luar

Pelabuhan Tanjung Luar

Mancing

Mancing

Tapi setidaknya pelabuhan ini masih merupakan bagian dari mainland. Jika melihat ke seberang laut, terdapat outerland yang dihuni oleh manusia. Nasibnya tak jauh beda: kumuh, kotor, padat, dll. Tapi apa jadinya penghuni pulau? Manusia di sana jika ingin mandi, mencuci, maupun memasak air, mesti membeli air bersih seharga 5000 per galon, dengan satu galon sekitar 33 liter. Saking tidak ada airnya, orang-orang menyarankan lebih baik meminta makanan daripada memohon air ke penduduk sana. Sebentar, jika tidak ada air, berarti ga ada toilet dong? Bagaimana jika ingin buang air? “Ke laut!” timpal seorang ibu Maringkik dengan suara keras.

Itu baru tentang air, mengenai fasilitas-fasilitas lain pun kita tidak bisa berharap banyak. Bagaimana dengan sarana transportasinya? Ada banyak kapal yang sudah bermotor—tidak perlu khawatir harus mendayung untuk menyeberang—namun seperti kata warga di atas, kebanyakan pemiliknya adalah orang-orang berduit. Konon harga satu kapal bisa mencapai ratusan juta rupiah—setara dengan harga mobil. Orang biasa jika ingin menyeberang mesti menggunakan kapal angkutan umum, yang beroperasi dari pagi hanya sampai jam 10 siang saja. Jika lebih dari jam tersebut, penyeberang harus menggelontorkan uang untuk sewa kapal. Akibatnya, jika ada orang pulau yang ingin berobat, tak jarang harus menginap di rumah kerabatnya di mainland.

20141203_100441

Sewa Kapal Meyeberang Menuju Maringkik

20141203_100456

Entah Berapa Harga Sewa Menyeberang. Kegiatan Sekarang Dibiayai oleh Puskesmas 😛

20141203_101915

Ada Beberapa Gili/Pulau yang Tidak Berpenghuni

20141203_102419

Di Tengah Perjalanan Ada Daerah yang Dangkal. Terlihat Terumbu Karang yang Sepertinya Masih Bagus

20141203_103237

Tiang-Tiang Listrik Didirikan di Perairan Dangkal/Berpasir. Listrik Membuat Hidup Jadi Lebih Baik ~PLN

20141203_103524

Dermaga Maringkik

Oh ya, bicara tentang transportasi kapal di Tanjung Luar, sebagian di antara kita mungkin pernah mendengar hikayat pantai pink nan indah di Lombok Timur. Pantai tersebut terletak lebih ke sebelah selatan. Bagi yang pernah jalan-jalan ke Lombok, mungkin pernah dapat tawaran tur ke pantai pink. Terkadang, ada beberapa travel yang enggan ke sana dikarenakan jalannya rusak. Sebenarnya, kadar kerusakan ga parah-parah amat, tapi ya tetap aja tidak menyenangkan. Wisatawan yang tidak ingin diganggu oleh jalan bergelombang dan berkawah bisa mencapai pantai pink dengan naik kapal di Tanjung Luar. Biasanya agen di sana menawarkan harga sekitar 500 ribu (atau lebih) untuk sewa kapal seharian. Selain ke pantai pink, penyewa bisa minta mampir untuk ke gili (pulau) kecil. Bisa juga snorkeling, namun ada biaya tambahan.

Kembali ke Gili Maringkik. Memang tidak bisa berekspektasi besar di sana, karena memang bukan lokasi wisata (jika ingin berwisata, ada beberapa wahana yang bagus di Lombok Timur, seperti Gili Kondo yang sedikit ke utara). Pulau tersebut telah menjadi desa semenjak tahun 2012 dan terbagi menjadi tiga dusun. Jika perumahan di pelabuhan begitu rapatnya, maka di pulau ini lebih lagi. Tidak ada aspal dan jalan—lantai pulau murni pasir—sehingga percuma membawa sepeda motor. Pulau yang mulanya datar terbuka telah berubah menjadi gang-gang kecil. Rumah di sana kebanyakan terbuat dari kayu dan bambu; ada yang menyentuh tanah, ada juga berupa rumah panggung. Tersesat di pulau kecil ini tidaklah mustahil, mengingat banyaknya gang yang kompleks diapet rumah-rumah. Duh, ingin kencing….wah, pilihannya antara harus tahan sampai kembali ke mainland atau langsung ke laut.

Hajat saya dan teman-teman ke pulau ini ialah menyertai rombongan puskesmas memberikan pelayanan KB. Kegiatan berlokasi di kantor kepala desa, dan sesuai dugaan, di kantor ini tidak ada toilet.

Di tepi-tepi rumah banyak ditemukan baskom; sekarang sedang musim hujan: berkah bagi penduduk pulau. Ketika air tumpah dari langit, baskom-baskom tersebut dijajarkan, anak-anak menyambut gembira air yang menggenang, dan baju-baju kotor dikeluarkan—waktu yang baik untuk mencuci, mumpung banyak air.

20141203_103957

Dari Dermaga Menuju Pemukiman Maringkik

20141203_104158

Rumah-Rumah Maringkik yang Begitu Rapat Seakan Berangkulan, Tak Ingin Kesepian

20141203_104226

Gang Sempit, Gang Sempit Everywhere

20141203_104355

Mungkin Anak-Anak di Sini Tidak Pernah Merasakan Selfie

20141203_104517

Lantai Maringkik Murni Hanya Pasir: Tak Ada Paving Block, Tak Ada Aspal

20141203_104523

Domba Dibiarkan Berkeliaran. Katanya Domba di Pulau Tidak Makan Rumput, Melainkan Kertas dan Batu, Katanya ya

20141203_105318

Anak Sekolah Baru Pulang dari UAS, Malu untuk Difoto. Di Pulau Hanya Ada Satu Atap Sekolah yang Menaungi SD dan SMP. Jika Ingin Lanjut SMA, Mereka Mesti Menyeberang

20141203_105418

Kantor Kepala Desa. Tidak Ada Toilet

20141203_131108

Baskom-Baskom Penampung Air

20141203_130035

Baskom Menampung Air. Terlihat di Belakang Beberapa Baskom Dijajarkan. Hujan adalah Berkah Bagi Maringkik

20141203_130733

Kambing pun Turut Berteduh Terhadap hujan 😀

Ketika tiba waktu pulang, hujan belum mau berhenti. Akhirnya pakaian pun direlakan untuk basah, karena tampaknya awan mendung belum mau menyingkir hingga sore hari.

Mengapa tak menunggu saja?

Maklum, mungkin sulit menemukan anak kota yang betah berlama-lama di pulau ini. Yahh, sulit membayangkan bagaimana mereka mampu hidup bertahun-tahun dalam kondisi sangat minim fasilitas. Hal seperti ini, selain menunjukkan kualitas kesejahteraan masyarakat negeri kita, pun seharusnya membuat kita lebih mampu bersyukur atas nikmat yang masih dikaruniai-Nya.

Categories: Foto, pembelajaran | Tags: , , , , , , , | 4 Comments

Jangan Bagi-Bagi Kondom, tapi Mari Peringati #hariAIDS dengan Mengkampanyekan #nofreesex #nodrugs dan #stopstigma

1. Selamat #hariAIDS. Jangan peringati dengan bagi-bagi kondom, tapi mari kampanyekan dgn #nofreesex #nodrugs dan #stopstigma

 

2. #hariAIDS penyebaran terbesar HIV/AIDS adalah melalui kontak seksual, kaum homoseksual lebih beresiko ketimbang heteroseksual #nofreesex

 

3. #hariAIDS kalangan yg paling besar terkena HIV/AIDS adalah IRT, korban dari suaminya yg suka ‘jajan’ #nofreesex

 

4. #hariAIDS Suatu studi dari Harvard di Afrika menunjukkan bahwa negara dgn populasi muslim besar memiliki angka HIV/AIDS yg rendah #nofreesex

 

5. #hariAIDS ada hubungan antara beragama Islam dgn angka HIV/AIDS, semakin besar penduduk muslim, semakin rendah angka HIV/AIDS #nofreesex

 

6. #hariAIDS mengapa demikian? Jelas, Islam sama sekali ga memberi celah utk penyakit menular seksual #nofreesex

 

7. #hariAIDS berhubungan sex hanya dgn istri/dlm pernikahan adalah cara efektif menekan angka HIV/AIDS #nofreesex

 

8. #hariAIDS selain melalui cairan kelamin (sperma, cairan vagina), virus HIV jg menular melalui darah #nodrugs

 

9. #hariAIDS korban terbesar dari penularan ini pemakai narkoba suntik,yg mereka memakai jarum suntik secara bersama #nodrugs

 

10. #hariAIDS narkoba, free sex, dan alkohol adalah 3 hal yg identik, dan ketiganya merupakan faktor resiko utk HIV/AIDS #nodrugs

 

11. #hariAIDS alkohol membuat orang tidak berpikir panjang, sehingga memperbesar resiko perilaku sex tidak aman #nodrugs

 

12. #hariAIDS satu yg menjadi masalah di negri ini adlh fenomena gunung es,kasus seolah ga bgtu banyak,tp itu krn pelaporan yg buruk #stopstigma

 

13. #hariAIDS pelaporan yg buruk krn rendahnya kesadaran org yg beresiko (pelaku freesex dan pengguna narkoba) utk memeriksakan diri #stopstigma

 

14. #hariAIDS knp enggan lapor? bisa krn merasa ga terkena AIDS krn tidak merasakan apa2 #stopstigma

 

15. #hariAIDS dibutuhkan waktu lama antara setelah terpapar dgn muncul gejala AIDS, yaitu sepuluh hingga belasan tahun #stopstigma

 

16. #hariAIDS gejala AIDS pun ga spesifik,krn HIV menyerang sistem imun,membuat penderita mudah terkena penyakit dan sulit sembuh #stopstigma

 

17. #hariAIDS gejala yg sering adalah batuk lama (TBC),diare lama,mulut & lidah kotor krn jamuran (kandidiasis),BB turun,herpes, dll #stopstigma

 

18. #hariAIDS faktor lain yg membuat orang beresiko enggan utk memeriksakan diri adalah rasa malu, terlebih adanya stigma dari masyarakat #stopstigma

 

19. #hariAIDS seorang yg (+) HIV/AIDS lantas dijauhi,dikucilkan,dianggap hina,atau takut tertular #stopstigma

 

20. #hariAIDS perlu diketahui HIV ga menular melalui kontak fisik dan kulit,jadi ga akan tertular bagi yg bergaul dgn penderita #stopstigma

 

21. #hariAIDS HIV HANYA menular melalui darah, cairan kelamin, dari ibu ke kandungannya, dan ASI, selain itu tidak #stopstigma

 

22. #hariAIDS #stopstigma penting,krn penderita punya hak hidup jg,penderita yg berobat dgn patuh dan teratur punya harapan hidup yg cukup baik

 

23. #hariAIDS selain itu,org beresiko mesti memberanikan diri utk memeriksakan dirinya,krn jika tdk,ia berpotensi menularkan #stopstigma

 

24. #hariAIDS penderita yg (+) HARUS mendapat support, dukungan moral, juga agama agar kembali kpd Tuhannya #stopstigma

 

25. #hariAIDS ampunan Allah begitu luas, insyaAllah Ia membuka pintu tobat selebar-lebarnya, termasuk kpd penderita AIDS #stopstigma

 

26. #hariAIDS sekali lagi,penderita AIDS yg berobat patuh & teratur punya harapan hidup yg cukup baik dan dpt beraktivitas spt org normal #stopstigma

 

27. Krn itu,mari peringati #hariAIDS dgn mengkampanyekan #nofreesex #nodrugs dan #stopstigma

 

28. #hariAIDS semoga Allah menurunka kasih sayang dan keberkahanNya kpd negeri ini. Aamiinn #nofreesex #nodrugs #stopstigma

Categories: gagasan, pembelajaran | Tags: , , , , , , | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: