narasi

Program Internsip Dokter yang Takkan Terlupakan

Mulai dari tahun 2010, setiap dokter yang baru lulus harus mengikuti Program Internsip Dokter Indonsia (PIDI), yang lebih dikenal sebagai internsip. Iya, ‘internsip’, bukan ‘internship’. Jika dalam kamus bahasa inggris kata internship bisa diartikan sebagai magang, makna internsip tidak bisa ditemukan di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Namun secara garis besar, internsip bisa diartikan sebagai program pemahiran dan pemandirian bagi dokter baru dalam menjalankan praktik kedokteran.

Sebelum bisa praktek secara mandiri, mereka yang baru lulus pendidikan kedokteran harus melalui tahap ini selama setahun. Program internsip dijalani di rumah sakit dan puskesmas yang ditunjuk oleh Kementerian Kesehatan di kota/kabupaten seluruh Indonesia. Selama proses tersebut, idealnya, dokter baru bekerja dalam supervisi dokter-dokter senior di tempat bekerja. Setelah selesai, barulah para dokter fresh graduate ini bisa bekerja sesuai dengan pilihan masing-masing. Jadi jika dijumlahkan, waktu yang harus ditempuh seseorang agar bisa menjadi dokter secara penuh ialah 5-6 tahun pendidikan ditambah 1 tahun internsip. Cukup lama, bukan?

Program internsip menyimpan banyak cerita. Selalu ada suka dan duka, dan setiap wahana menyimpan kisah unik tersendiri.Berikut adalah beberapa pengalaman dan hal yang tidak akan terlupakan ketika menjalani internsip.

1. Pengalaman Pertama Memegang Pasien

Dokter Internsip Bekerja di UGD

Dokter Internsip Bekerja di UGD

Mungkin ini adalah satu pengalaman yang paling mendebarkan. Ketika masih kuliah, praktis calon dokter tidak memegang atau bertanggung jawab terhadap pasien sama sekali. Memang biasanya beberapa dokter, sebelum internsip, sudah bekerja di klinik-klinik dan mengobati pasien secara mandiri. Tapi biasanya kasus yang ditangani hanya penyakit ringan.

Di saat internsip inilah pertama kalinya menangani, memeriksa, dan mengobati berbagai pasien dengan bermacam-macam penyakit. Juga tidak seperti mahasiswa yang masih belajar, dokter internsip bertanggung jawab penuh terhadap kondisi pasien yang ditanganinya. Pasien pun tidak akan peduli apakah mereka merupakan internsip atau bukan, yang pasien tahu hanyalah mereka itu dokter. Di saat seperti inilah lulusan baru benar-benar belajar bagaimana berkomunikasi, menerangkan, dan memberi penjelasan kepada pasien dan keluarganya.

2. Tempat Pertama Mempelajari Ilmu Klinis Praktis

Dokter Internsip di UGD bersama Dokter Tetap RS dan Perawat

Dokter Internsip di UGD bersama Dokter Tetap RS dan Perawat

Di bangku kuliah, yang paling banyak dipelajari ialah ilmu teori. Saat masih mahasiswa, ilmu-ilmu kedokteran dasar seperti anatomi dan fisiologi memiliki porsi paling besar dibanding ilmu klinis. Baru saat tahap koas ilmu kilnis banyak dipelajari, tapi itu pun tidak seberapa karena tidak memegang pasien.

Nah, di masa internsip inilah waktu paling pertama mendalami ilmu klinis praktis. Banyak hal yang baru diketahui setelah bekerja sebagai dokter. Contohnya, orang yang datang kesakitan perutnya cukup dengan obat-obatan injeksi sekali pemberian lalu boleh pulang. Pasien yang sesak hebat karena gangguan jantung bisa menjadi lega setelah diberi obat pembuat banyak kencing. Jika ada yang datang tidak sadarkan diri, hal yang paling pertama diperiksa adalah gula darah. Dan masih banyak lagi.

Memang banyak yang kurang suka dengan program internsip karena memperpanjang proses untuk menjadi dokter. Tapi manfaat besar yang diperoleh dari pemahiran ini tentu tak bisa disangkal.

3. Akhirnya dipanggil “Dok”, Bukan Lagi “Dek”

Dokter Internsip Bersama Dokter Tetap dan Para Perawat

Dokter Internsip Bersama Dokter Tetap dan Para Perawat

“Dek koas! Tolong pasien yang baru datang itu ditensi, ya!”

“Dek koas! Pasien yang itu kenapa belum di-EKG?”

Panggilan yang sangat lumrah didengar saat menjalani tahap koas. Yahh, rasanya seperti orang yang rendah sekali ketika dipanggil seperti itu.

Tapi saat internsip akhirnya julukan menyebalkan itu tidak lagi melekat. Bahkan naik kasta. Hal yang paling sering terdengar di telinga sekarang adalah “Pak dok” atau “Bu dok”. Pasien, perawat, hingga satpam pun akan menyapa, “Pagi, pak dokter.”

Rasanya membanggakan sekali, bukan? Engga sih, lama-lama juga biasa saja.

“Pak dok, pasien ini perlu diberi obat apa?” tanya perawat.

“Errr…sebentar ya saya tanyakan dulu ke dokter yang senior”

Untunglah, walau mendapat jawaban semacam itu, perawat tidak akan membalas, “Iya, dek koas.”

4. Kekompakan yang Akan Terus Terkenang

Teman Baru di Program Internsip

Teman Baru di Program Internsip

Bagi kebanyakan, internsip adalah berada di tempat kerja atau kota yang pertama kali dikunjungi. Di tempat yang tidak ada saudara, tidak ada teman main, tidak ada kenalan; tentu ini membuat para dokter internsip lebih banyak bergaul dengan sesama di antara mereka. Apakah pergi makan, jalan-jalan, atau sekedar belanja kebutuhan sehari-hari pun selalu bersama-sama dengan teman internsip.

Program internsip merupakan pengalaman pertama lulusan FK di dunia kerja. Bukan hal yang aneh jika ada beberapa kesalahan yang dilakukan, atau dimarahi dokter spesialis, atau ditegur pendamping dan manajemen, dan sebagainya. Beruntunglah penyesuaian diri di dunia kerja ini tidak dihadapi sendiri, melainkan bersama sejawat-sejawat lain yang bernasib sama. Biasanya dalam satu wahana, ada satu orang yang menjadi tempat bertanya atau resource person dan sebaliknya ada orang yang kerjaannya bertanya melulu. Yahh, begitulah fenomena dunia internsip. Dan hal yang tidak luput tentu adalah saling menutupi kesalahan atau mem-backup satu sama lain 🙂

Setiap aktivitas yang selalu dikerjakan bersama dan bareng-bareng ini selama satu tahun, bagaimana mungkin tidak menumbuhkan kekompakan? Awalnya tidak saling mengenal dan ngobrol dengan canggung, akhirnya pun mengenal baik karakter, saling menjahili satu sama lain, dan bercanda bersama. Ya, internsip tidak hanya soal mendapatkan ilmu dan pengalaman, tapi juga teman-teman dan sahabat baru.

5. Jalan-Jalan dan Makan-Makan

Jalan-Jalan Dokter Internsip

Jalan-Jalan Dokter Internsip

Jika diingat apa yang paling berkesan saat menjalani internsip, jawabannya takkan jauh-jauh dari jalan-jalan dan makan-makan. Apalagi bagi yang menjalani internsip di dearah yang baru pertama kali dikunjungi, plus banyak tempat menarik. Seolah saja internsip seperti “kegiatan jalan-jalan yang dibiayai pemerintah.” Heheheh.

Yang cukup unik, dokter internsip bisa lebih banyak mengunjungi objek wisata ketimbang dokter yang merupakan orang asli daerah tersebut. Hmmm, mungkin sudah dorongan pendatang untuk lebih banyak explore tempat ketimbang penduduk asli. Terlebih, hari-hari internsip sebenarnya waktu kosongnya. Daripada jenuh di kostan, lebih baik jalan-jalan dan wisata kuliner bersama teman-teman baru, bukan? 🙂

6. Bertemu Jodoh

Bertemu Jodoh di Tempat Internsip

Bertemu Jodoh di Tempat Internsip

Siapa yang ketemu jodohnya di tempat internsip? Saya adalah salah satunya. Yak, foto di atas adalah gambar pernikahan penulis dengan sejawat internsip, heheheh.

Jangan salah, saya bukanlah satu-satunya. Tidak sedikit mereka yang akhirnya bertemu belahan jiwa saat menjalani internsip. Ceritanya pun bermacam-macam. Ada yang sebenarnya teman satu kampus, tapi baru menjalani kisah cinta di wahana internsip. Juga yang satu dari FK di Bandung dan satu lagi dari FK di Jogja, bertemu di Lombok (itu cerita saya, hahahah). Bahkan ada pula yang menikah dengan bukan sejawatnya, melainkan dengan orang asli daerah tempatnya internsip.

Jika sudah jodoh memang tidak ke mana. Yang perlu dilakukan tinggal lah berusaha menjemputnya dengan cara yang diridoi olehNya 🙂

7. Mempelajari Bahasa dan Budaya Baru

Dokter Internsip Melayani Pasien di Acara Baksos

Dokter Internsip Melayani Pasien di Acara Baksos

Ini terutama yang memilih wahana internsip yang bukan merupakan kota asalnya atau bukan tempat FKnya berdri. Bagi dokter, berbicara bahasa daerah secara praktis adalah kemampuan yang diperlukan. Orang yang sudah berusia sepuh, berasal dari kampung, umumnya tidak lancar bahasa Indonesia dan hanya berbicara bahasa daerah. Akibatnya, dokter jika berhadapan dengan pasien seperti itu harus menggunakan bahasa daerah.

Biasanya saat masih mahasiswa, calon dokter sudah mempelajari beberapa bahasa daerah praktis, sesuai dengan kota tempat FKnya berada. Sebagai contoh, saya yang kuliah di Unpad, sudah pasti belajar bahasa sunda. Tapi bagaimana jika bertemu pasien orang asli Lombok, tempat saya internsip?

Ku naon, ibu?” Kadang-kadang suka keceplosan seperti itu.

Akhirnya, mau tidak mau, mesti belajar lagi bahasa baru. Yah, walaupun praktisnya saja untuk keperluan pekerjaan.

8. “Jadi Dok, Gaji Segitu per Bulan Apa Cukup untuk Sehari-Hari?”

Dokter Internsip Memberi Penyuluhan di Sekolah

Dokter Internsip Memberi Penyuluhan di Sekolah

Ya, ini adalah poin yang paling banyak diprotes perihal program ini. Yup, masalah gaji. Ups, salah. Istilah yang digunakan bukanlah gaji, melainkan bantuan hidup dasar (BHD).

Besaran BHD bagi dokter internsip sangatlah minim. Kira-kira, dengan penghasilan 2.5 juta per bulan, bisa untuk beli apa? Itu pun besaran BHD seperti itu belum termasuk dipotong pajak.

Kondisi semakin diperumit dengan banyak wahana yang tidak menyediakan tempat tinggal. Para dokter internsip harus mencari kostan sendiri, dan tentu saja, biaya ditanggung masing-masing. Berapa banyakkah RS yang menyediakan makan/konsumsi untuk dokter internsip? Sepertinya juga tidak banyak.

Jadi, bagaimana cara dokter internsip memenuhi kebutuhan hidup? Ada yang bercerita bahwa seorang dokter internsip bekerja sambilan dengan “mengamen” atau naik turun panggung sebagai penyanyi. Beberapa yang beruntung bisa menyambi dengan jaga klinik swasta, jika ada lowongan. Sisanya?

“Pak dok, jadi pak dok masih dikirimi uang oleh orang tua?” tanya seorang pegawai puskesmas. Saya hanya tersenyum simpul, terlalu malu untuk menjawab.

9. Mengisi Borang di Detik-Detik Terakhir

Berjuang Mengisi Borang

Berjuang Mengisi Borang

Borang, alias log book, sering kali terlupakan. Waktu terlalu asyik diisi dengan jalan-jalan, jadi deh buku hijau itu tersisihkan.

Walhasil, beberapa hari menjelang selesai program, barulah borang diisi. Log book tersebut seharusnya diisi dengan daftar pasien yang ditangani sendiri selama internsip, berikut diagnosis dan terapi yang diberikan. Minimal harus ada 400 pasien yang ditangani.

Yahh, 400 sih cuman sedikit. Sudah pasti selama setahun internsip jumlah pasien yang dipegang jauh lebih dari itu. Tapi masalahnya, nama dan jenis penyakit mereka sudah pasti dilupakan, wong sudah berbulan-bulan lalu. Tapi tetap harus disii. Jadi bagaimana?

“Eh, pinjam buku borangmu, dong.” Beruntung, ada teman satu kelompok yang rajin isi borang, heheheh.

Menulis empat ratus daftar dalam waktu kurang dari seminggu? Gampang, toh sudah terlatih menulis cepat. Makanya, hanya orang-orang tertentu saja yang bisa baca tulisan dokter 🙂

10. Gagal Move On Setelah Selesai

Internsip yang Sulit Dilupakan

Internsip yang Sulit Dilupakan

Sebuah pertemanan telah terbentuk selama setahun. Bekerja bersama-sama, jalan-jalan bareng, makan juga bareng, ke mana-mana selalu bareng. Terlalu berat jika harus diakhiri, bukan?

Memang sih biasanya waktu awal-awal internsip, ingin rasanya segera mengakhirinya. Mau pulang, kangen rumah, ingin cari kerja dengan penghasilan layak, dan lain-lain. Tapi cerita selama setahun sudah terlanjur terbentuk. Diawali dengan interaksi yang serba canggung, hingga saling menjahili lalu tertawa lepas bersama; rasanya sulit dilepas begitu saja.

Tapi hidup terus berjalan, dan satu tahun internsip hanyalah bagian kecil darinya. Wajah baru, pengetahuan baru, pengalaman baru; semua tidak akan dilupakan. Itu adalah bekal yang sangat berharga, yang akan terus digenggam kuat, untuk memulai sebuah perjalanan baru yang panjang.

Ya, perjalanan hidup sebagai dokter.

 

Categories: narasi | Tags: , , , , , | 1 Comment

Sepi Pangeran Sandri

Burung itu terus bernyanyi. Seolah teriringi, para tamu mengayun-ayunkan tangan dan tubuh mereka, kemudian berputar, terus demikian. Raja pun merapatkan mata dalam tahtanya, terbuai dalam alunan. Semua yang di sana, di balairung kastil mewah itu, menari dan menggerakkan kaki, tersenyum memamerkan gigi. Sepekan sekali atau dua kali balairung terisi dengan pesta keluarga raja dan para bangsawan. Di sana tak ada yang berwajah muram, bermuka sedih, dan mengernyitkan dahi, karena adalah bahagia. Hingga larut malam para manusia pesta terhanyut, dan burung itu terus bernyanyi.

Kecuali seorang yang hanya duduk tanpa ekspresi. Ia bertelekan di tahta menawan, tepat di samping kiri raja. Tapi raja dan ratu sedang tak berada di tahta mereka, karena aroma malam serta rasa alcohol membuat mereka turun ke tengah untuk meletakkan sedikit kehormatan. Tapi seorang itu tetap saja diam. Matanya yang persis ayahnya dan rambutnya yang keriting persis ibunya hanya memandang melamun. Tanpa arti, sebagaimana hatinya yang sepi.

***

Raja dan ratu belum terbangun—percuma mengharapkan mereka, meski matahari mulai menaiki bukit. Samar-samar cahaya pagi yang malu memasuki celah-celah jendela, hingga Sandri mampu melihat wajahnya di cermin tanpa lilin. Tak pernah ada yang dirasakannya di kastil, karena tak pernah ada kehidupan yang berbeda. Sedikit ia melirik dua orang berbadan tegap yang menjaga pintu kamarnya dengan tombak panjang—namun dua orang itu diperintahkan tak bergerak seinci pun saat berjaga—kemudian berpapasan dengan bendaharawan kerajaan. Tak seperti semalam, kini mukanya yang tak bahagia menatap Sandri penuh harap. “Percuma”—begitu mata Sandri berkata. Tanpa kuasa untuk mengetuk pintu raja, kembali sang bendaharawan menekan kacamata tebalnya dan berputar dengan gelisah.

Lapangan tengah kastil selalu indah pada pagi cerah. Kebun yang dipangkas sedemikian rupa oleh para tukang dan air mancur tepat di tengahnya, dilengkapi kursi-kursi berjajar yang dihinggapi para bangsawan. Seorang pustakawan berkaca mata dan jenggot tebal sekilas menengadah, memandang Sandri yang menjadi gelisah. Tapi tak ada alasan baginya untuk gelisah karena sepekan sekali Sandri tak perlu dikurung di kamar baca sang pustakawan, dan itu adalah hari ini.

Layaknya anak-anak penduduk miskin yang diizinkan memasuki halaman kastil pada hari libur, Sandri mondar-mandir dan para penjaga tidak mengacuhkannya—sebagaimana sesuai harapan. Hingga ia tepat di sudut yang sudah sangat familiar. Sudut yang tak pernah berubah. Mengherankan memang kerajaan yang mengklaim kaya raya tak pernah memerhatikan bagian sudut kastil yang sedikit retak. Dan sandri kemudian sedikit membungkuk.

***

Padang rumput yang membentang luas ditemani bukit-bukit. Bukan bukit yang tinggi sehingga seorang bocah seperti Sandri tak perlu khawatir kelelahan. Juga pohon rindang di atas, semak-semak yang sedikit, dan petak-petak ladang. Adalah sempurna ciptaan Sang Maha yang menciptakannya tanpa ada cacat. Perlu waktu jutaan tahun? Ratusan juta tahun? Atau kah lebih untuk menciptakan kesempurnaan ini? Setidaknya tidak masuk akal perkataan sang pustakawan kalau ini semua terjadi begitu saja secara kebetulan—begitulah pikir Sandri setiap melintas padang rumput di luar kastil.

Tak lama, sebuah lembah beralaskan padang rumput membiarkan anak-anak desa berenang di danaunya. Tiga, empat, lima anak saling bersahut dan tertawa girang, yang kemudian diputus oleh suara nyaring bagaikan kicauan di tepian. Ia adalah anak yang lebih besar, mungkin sebaya dengan Sandri. Kemudian tangannya ditepukkan satu sama lain, yang membuat anak-anak danau menepi, memakai pakaian, kemudian berlari.

“Kamu tinggal di komplek kastil, bukan begitu?” si anak lelaki itu pun secepat kilat menghampiri Sandri. “Ah,” Sandri melihat pakaian lawan bicaranya, khas pakaian penduduk desa yang lusuh. “Ya,” pandangan Sandri beralih ke pakaiannya sendiri. Agaknya aneh bahwa si anak yang berpakaian baguslah yang merasa malu. “Bukan hal yang wajar anak penghuni komplek kastil berjalan tanpa pengawal di luar. Tapi kamu tidak perlu resah.”

“Ah, ya. Suasana kastil menyesakkan. Tak kutemukan ketenangan hati selain di sini, alam lestari.”

“Kalau begitu,” si anak lusuh membentangkan tangan lusuhnya. “Untuk ketenanganmu, maukah kau mendengarkanku bernyanyi?”

“Tentu menyenangkan sekali mendengar nyanyian di tepi danau ini. Aku akan mendengarkanmu.”

“Walaupun suaraku takkan sebagus para penyanyi di kastil,” ia menengadahkan kepala ke langit, seolah baitnya berada di awan. “Tapi dengarkanlah,” mulutnya membuka lebar, nada nyanyian dalam suara nyaring bagaikan kicauan pun keluar perlahan-lahan.

Padang pasir nan gersang dan terik, tak berbelas kasih kepada manusia

Walau ia kelaparan di hari ke tujuh, hingga tak ada lagi air tersisa di hari ke sepuluh

Tak sehembus nafas pun di sana, selain miliknya yang tersengal-sengal

Bahkan tak pula kudanya, yang terjatuh mati kehausan

Malang nasibnya, laki-laki gagah dari taman indah yang pergi berjelajah

Kulitnya kering, bibirnya pecah, dan halusinasi menggerogoti nyawanya.

Tak ada yang mampu menolongnya, hingga nyanyian merdu membangunkan jiwanya

Menggerakkan tangannya, memacu jantungnya, membuka matanya

Tak pernah semerdu ia mendengar nyanyian, tak pula di taman-taman istananya

Dan seeokor burung pun berbicara, bahwa ia utusan Sang Maha

Menyampaikan pesan bahwa tanah legenda hanya bisa dimasuki jiwa yang tenang

Maka masuklah ia ke tanah di balik padang pasir, tanah legenda yang memberi harapan

Bukit mentari, hingga sang laki-laki mendirikan kerajaan di sana, Kerajaan Kebahagiaan

“Aku tahu lagu itu,” Sandri memberikan senyuman penghargaan kepada sang penyanyi. “Tentu saja. Seluruh penduduk Bukit Mentari tahu lagu itu. Legenda Raja Tanriy. Asal mula berdirinya kerajaan ini,” balas si anak lusuh.”

“Dengan begini telahlah kita menjadi teman.”

“Teman?” Sandri terheran seolah pertama kali ia mendengar kata itu.

“Ya. Teman adalah orang yang mau mendengarkan kita bernyanyi, meskipun sumbang, meskipun sudah tahu lagunya.”

“Ah, ya. Baiklah, teman,” Sandri yang sedari tadi duduk tegak mulai melonggarkan posisinya. “Apa yang bisa kuberikan sebagai balas budi atas nyanyianmu, teman?”

“Ceritakan kepadaku mengenai kastil. Kami anak-anak desa hanya bisa melihat kegagahannya dari jauh. Terkadang kembang api meluncur tinggi pada hari Rabu atau Sabtu. Lagipula, bagaimana kau bisa ke sini tanpa pengawasan penjaga, teman?”

“Ada bagian dinding yang retak di sisi utara. Memang di sana adalah lapisan paling tipis. Para pekerja kastil yang dibuai oleh alkohol membuatnya selama bertahun-tahun dibiarkan. Komplek kastil sangatlah luas, kau tahu, teman? Bahkan di bawah tanah ada lorong dan jalan-jalan rahasia. Akan kuceritakan padamu besok bersama peta kastil.”

Si anak desa tersenyum memamerkan lebar bibirnya yang kotor. “Terima kasih, teman. Besok, di jam yang sama, mari saling bertukar cerita di tepi danau ini.”

***

Tidak biasanya pagi sudah berisik di gedung utama kastil. Seorang wanita kerabat Raja berteriak marah dan menangis, setelah semalam melihat cairan kekuningan dari kemaluan suaminya. Skandal perselingkuhan bukanlah yang pertama dan tidak lagi sebagai kejadian luar biasa. Gosip di antara penghuni kastil mengalir ke berbagai arah hingga ke setiap sudut sempit.

Tapi bukan itu keributan terbesar. Raja sakit. Burung bersuara merdu di sangkar yang sebelumnya mampu mengobati semua penyakit raja tak lagi dapat menyembuhkan. Berkali-kali Raja meminta sang burung bernyanyi, tapi tetaplah sama.

Keributan bukan hal yang menyenangkan bagi Sandri. Hingga ia tepat di sudut yang sudah sangat familiar. Sudut yang tak pernah berubah. Mengherankan memang kerajaan yang mengklaim kaya raya tak pernah memerhatikan bagian sudut kastil yang sedikit retak. Dan sandri kemudian sedikit membungkuk.

***

“Ada apa teman?” Sandri menghampiri teman barunya yang bermuka sedih.

“Ayah temanku di desa baru saja memejamkan mata untuk selamanya.”

“Ah, turut berduka, teman.”

“Masyarakat desa sangat miskin, kau tahu itu, temanku yang tinggal di komplek kastil?” ujar teman Sandri. “Ironis, bukan? Walau memiliki nama Kerajaan Kebahagiaan, seluruh rakyatnya kelaparan. Hampir setiap hari selalu ada warga yang meninggal, seolah nyawa mereka begitu murah.

“Tapi itu tak terjadi padamu bukan, teman penghuni kastil?” Sandri sedikit menundukkan kepala mendengarnya. “Walau pun, sering kami didatangi burung bulbul bersuara merdu. Ia adalah utusan Sang Maha, berkeliling negeri semenjak subuh. Adalah kesaksian atas penderitaan rakyat yang kan ia sampaikan, juga tugasnya melantukan melodi yang dapat menyembuhkan.”

“Burung bulbul?” Sandri teringat dengan apa yang menggantung di samping tahta ayahnya. “Ya. Kini ia sudah ditangkap oleh Raja, dan kabarnya burung mulia itu terus dipaksa bernyanyi hanya demi kepuasan Raja. Betapa malangnya dia.

“Tapi itu semua adalah skenario Sang Maha. Tak lama lagi, tugas burung bulbul kan segera selesai,” tetiba teman Sandri tersenyum lebar, pandangannya menusuk tajam langit. “Ah, teman, mari penuhi janji kita kemarin. Di tepian danau ini, mungkin saja kelak kan ada penyair yang menuliskan lagu tentang pertemanan anak desa dan anak penghuni kastil.”

“Ah. Aku ingin sekali mendengarnya, jika kan ada,” ujar Sandri.

“Aku yakin kelak kan ada. Sekarang, kau bawa peta kastilmu?”

***

Kaki Raja menghitam dan berbau busuk. Di tahtanya, Raja mencak-mencak kepada burung yang bertengger di sangkar mewah di samping tahtanya. Kemudian, burung itu tak terlihat lagi di sangkar, dan Sandri mendengar bahwa Raja akan menyantap hidangan khusus malam tersebut: daging burung.

Tapi keributan belum berhenti. Sepertinya para penasihat Raja, terutama panglima pasukan kerajaan, terlihat panik dan berkeringat deras. Sedikit Sandri mendengar pertemuan yang berisik itu. Bahwa ribuan pasukan berbaju besi dan ketapel api dan menara perang siap memberikan kunjungan. Tersiar juga desas desus masyarakat desa yang memberikan bantuan perbekalan—yang sangat sedikit itu—kepada mereka. Sebagai gantinya mereka diberi tombak, pedang, dan perisai: siap bergabung untuk menjatuhkan kastil.

Tapi Raja seolah tak peduli. Baru saja kakinya yang membusuk dipotong. Ia hanya berbaring dalam air mata dalam peraduannya, tak percaya dirinya yang begitu mulia menjadi manusia tanpa kaki. Akhirnya, dalam keadaan kehilangan pemimpin, panglima bergerak sendiri menyiapkan pasukan. Tapi kapan terakhir kali mereka berlatih perang? Pesta pora telah melemahkan pegangan mereka, meruntuhkan mental mereka.

Tak lama pun, di hari bersejarah itu—mungkin saja akan ada penyair yang menggubah lagu Tembok Rapuh Kerajaan Kebahagiaan—benteng dihancurkan dengan mudah. Di sana, di sudut yang tak pernah berubah. Mengherankan memang kerajaan yang mengklaim kaya raya tak pernah memerhatikan bagian sudut kastil yang sedikit retak. Pasukan musuh pun dengan mudah melewatinya, layak tamu yang sopan.

Raja dan Ratu entah di mana. Mereka sudah kabur melalui lorong rahasia, tapi tak lama. Entah bagaimana caranya namun sepertinya musuh sudah mengetahui detil seluruh lorong dan jalan rahasia. Raja dan seluruh keluarganya tak ada yang lolos dari hukuman pancung.

Sandri pun sendiri. Tak ada yang memedulikan kehadiran anak kecil di tengah perang. Tak ragu sedikit pun bahwa ia akan ditinggal kabur oleh orang tuanya. Seharian ia duduk di padang rumput di bukit mentari, memandangi kastil yang dulu didiaminya diporak-porandakan musuh.

Kemudian, bertepatan dengan terbitnya matahari di ufuk timur, perang usai. Bendera baru berkibar. Seluruh rakyat yang dahulunya bagian dari Kerajaan Kebahagiaan bersorak bahagia, meyambut harapan baru. Tapi Sandri hanya seorang diri, berjalan perlahan menuju reruntuhan kastilnya. Ia memandang keramaian selebrasi dalam lamunan. Tanpa arti, sebagaimana hatinya yang sepi.

Dua tiga manusia berbaju besi nan gagah pun menghampirinya, menaikkan tangan mereka untuk mengusirnya, namun diputus oleh suara nyaring bagaikan kicauan.

“Suatu saat, aku yakin akan ada yang menyanyikan lagu mengenai kita, teman.” Teman Sandri kini tak lagi lusuh, namun memakai baju megah dengan emblem kerajaan di dadanya. “Jika kita bertemu kembali nanti, maukah kau menyanyikan lagu itu untukku, teman?”

Sandri diam. Memandang temannya tanpa arti, sebagaimana kini fisiknya pun merasa sepi. “Ya, teman. Walaupun kelak kita bertemu dalam keadaan saling berhadapan, aku akan menyanyikannya. Hari ini adalah terakhir kalinya aku memanggilmu ‘teman’, tapi aku yakin, walau suaraku sumbang, walau kau sudah tahu lagunya, kau akan tetap mendengarkannya.” Sandri menatap tajam lawan bicaranya, tak memedulikan pasukan berbadan besar dan berwajah keras di sekitarnya. “ Aku akan sangat menunggu waktu itu, Sandri.”

“Ah, aku pun begitu, Pundra. Selamat tinggal.”

Bertepatan dengan terbitnya matahari di ufuk timur, Raja baru berdiri tegak di Bukit Mentari. Namun alam di sana masih sama. Padang rumput yang membentang luas ditemani bukit-bukit. Bukan bukit yang tinggi sehingga seorang bocah seperti Sandri tak perlu khawatir kelelahan. Juga pohon rindang di atas, semak-semak yang sedikit, dan petak-petak ladang. Namun, di balik semua keindahan itu, terdapat padang pasir yang tak berbelas kasihan kepada manusia. Enam ratus tahun lalu terdapat nyanyian mengenai raja pertama yang melintasi keganasan tersebut. Kini, seolah ingin mengulangi sejarahnya, seorang anak melangkahkan kakinya di sana dengan mantap.

Langkah anak tersebut penuh arti, walaupun hatinya selalu sepi.

Categories: narasi | 1 Comment

RAWA KEPUTUSASAAN

Setelah sekian lama tak menulis, tiba-tiba muncul keinginan untuk mengenang kembali salah satu pengalaman paling berkesan dalam hidup. Saya sudah lama tidak terlibat dalam segala kegiatan Wanadri. Selepas PDW, ada program pendidikan lanjutan yang disebut dengan mamud (masa bimbingan anggota muda) kurang lebih selama 2 tahun.

Sekitar 3 bulan pertama kegiatan mamud saya ikuti. Pendidikan Gunung Hutan 2 dan 3 (saya absen Gunung Hutan 1 karena agenda akademik) masih ingat dalam ingatan. Bagaimana membaca topografi, menghitung sudut, menentukan titik-titik cek poin di peta, hingga membuat ROP (Rencana Operasi) dalam sebuah proposal perjalanan. Apa daya memori manusia tidaklah bersifat kekal, dan perlahan-lahan itu semua memudar. Yah, pilihan adalah pilihan. Tidak ada pilihan bodoh, kecuali pilihan yang disesali.

PDW berlangsung kurang lebih sebulan. Dua minggu pertama merupakan tahap basic di tanah pendidikan Situ Lembang. Setelah itu memasuki tahap medan operasi, yaitu ORAD-tebing terjal selama 2 hari, longmarch kereta api 1 hari, rawa laut 2 hari, longmarch jalan raya 2 hari 1 malam, dan sisanya tahap gunung hutan termasuk survival. Sekilas tahap survival pernah saya kenangkan dalam tulisan di blog ini. Sangat berkesan. Namun, menurut saya pribadi, tahap rawa laut merupakan tahap terberat dan tersulit.

PDW 2012 bukanlah PDW yang pertama kali saya ikut. Tahun 2010 saya juga pernah mengikutinya, namun gugur di tahap ini, rawa laut. Sambil mengorek ingatan yang semakin kabur, keinginan untuk menulis pun ingin saya tumbuhkan lagi.

***

Siang itu terik. Panas, dan juga kering. Namun tidak sempat lagi untuk memikirkannya. Karena kami harus terus berjalan, menelusuri pematang, sambil memanggul ransel yang begitu beratnya.

Tempat itu begitu terbuka. Tampak cakrawala seelurus area pandangan. Beberapa warna hijau terlihat di sisi, namun tidak tinggi, kebanyakan hanya berupa semak-semak. Warna yang dominan saat itu adalah coklat. Tanah bercampur lumpur coklat terlihat di mana-mana, di pematang, di pakaian, di tangan, juga di wajah. Begitu pula tambak-tambak petak yang membentang seluas mata memandang.

Kami berada di medan latihan rawa laut. Latihan ini merupakan bagian dari tahapan medan operasi, setelah sebelumnya melewati tahap basic selama 2 minggu. Tahap ini adalah tahap “terberat”: pakaian dan sepatu menjadi berat karena lumpur, terlebih ransel.

Walau telah melewati 2 minggu pertama PDW, tapi itu tidaklah menjadi penambah semangat bagiku. Tahun 2010 itu, langkah yang ada adalah langkah gontai, pandangan yang ada adalah pandangan yang buram, semangat yang ada adalah keputusasaan, pikiran yang ada adalah ingin pulang.

Berat! Ransel ini begitu berat! Sepertinya banyak sekali air yang masuk ke ransel, dampak dari packing yang asal-asalan. Dapat dirasakan lilitan saraf di bahu terjepit. Di medan ini, siswa diwajibkan memakai pelampung. Namun, mengenakan ransel di atas pelampung sangat sangat tidak nyaman, dan seolah menambah beban saraf bahu.

Perlahan, sensasi di ujung-ujung jari menghilang. Lengan terasa lemas untuk diayunkan.

“Tuan! Cepat jalannya, Tuan!”

Kapan berhenti untuk istirahat? Rasanya ingin duduk, melepas ransel, dan mengayun-ayunkan tangan.

“Tuan! Hei, Tuan! Rapatkan barisan dengan yang depan, Tuan!”

Jauh. Pematang masih jauh membentang. Tidak kuat lagi memanggul ransel sialan ini. Ingin kubuang! Benda brengsek ini kubuang saja!

“TUAANNN!!!”

Aku oleng. Bergoyang ke kanan, kemudian ke kiri. Pelatih itu cuman menggampar sekali, namun begitu kerasnya. Beberapa detik kemudian, setelah berdiri dengan stabil, terdengar suaraku sendiri yang berteriak, “Pelatih, saya ingin pulang, Pelatih…!”

***

“Tuan Sayyid, kamu mau pulang lagi, Tuan!!?”

Tahun itu 2012. Aku berjalan, pelan. Di dalam kolam tambak yang penuh lumpur bagaikan rawa, semua siswa hanya bisa berjalan pelan. Tidaklah mungkin berjalan tegap gagah, karena hanya akan membuatmu terhisap ke kegelapan. Terlihat, seluruh siswa, termasuk pelatih, melaju menggunakan kedua lututnya.

Lutut kanan kubawa ke depan. Badan menjadi sedikit oleng karena terbawa oleh ransel yang berat. Kemudian, lutut kiri menyusul ke depan. Lalu lutut kanan, kemudian lutut kiri lagi.

Seperempat hari pertama rawa laut digunakan untuk navigasi rawa. Awalnya aku berpikir, bagaimana mungkin bernavigasi di rawa yang sama sekali tidak ada titik ekstrem seperti puncak gunung atau bukit? Yang ada di sini hanyalah bentangan kolam tambak dan pematang, membentuk petak-petak rawa yang terjemur oleh terik matahari. Mungkin ada teori khususnya untuk bernavigasi di tanah yang datar, tapi itu tidak diajarkan di pendidikan dasar. Di hari itu, pelatih langsung memberi koordinat titik awal dan titik akhir, sehingga tugas siswa hanya memplotting di peta dan membidikkan kompas ke sudut tujuan.

Medan rawa laut hari pertama kebanyakan kolam yang dalam. Para siswa cukup melepas ransel, meletakkannya di depan untuk dijadikan pelampung, dan menggerakkan kaki seperti menggowes sepeda. Kami pun berenang.

“Nanti kalian kalau lulus PDW, ikut Klub Gowes Wanadri,” ujar seorang pelatih.

“Kalau lulus, hahahah,” timpal pelatih lain.

Akhir dari hari pertama, sekitar jam 2 siang, ialah “langkah kesabaran”, begitu aku menyebutnya. Sekitar 2 jam siswa berjalan mengikuti pelatih menyusuri pematang, entah ke mana. Mungkin terdengar seperti mudah, namun kondisi saat itu ialah kelelahan setelah menyeberangi rawa yang luas. Itu tidak seberapa, yang paling parah adalah bahu yang kesakitan karena harus memanggul ransel yang berat.

Sebelum berangkat ke medan rawa, pelatih memberi arahan cara packing yang benar agar tidak bocor kemasukan air rawa. Kalau biasanya isi ransel cukup dibungkus dengan satu lapis plastik ikan, kali ini dengan dua lapis, bahkan ada yang tiga. Namun, tetap saja, terasa ada air yang masuk ke dalam. Bahkan bercak lumpur yang menumpuk di luar ransel sudah cukup membuatnya menjadi lebih berat berkali lipat.

Aku sedikit membungkukkan badan, menggoyang-goyangkan bahu, dan menggerak-gerakkan ransel agar dinamis. Membiarkan bahu memanggul ransel dengan statis selama berjam-jam hanya akan membuat diri tersiksa.

Kala itu tidaklah saraf bahuku terjepit. Namun, terlihat dua siswa yang terlihat tersiksa. Yang satu mengernyit, menahan sakit di bahunya. Yang satu lagi membuka mulutnya, terengah-engah, dan air matanya mengucur.

Tersiksa. Itulah gambaran kondisi “langkah kesabaran” selama 2-3 jam itu. Rasanya ingin berhenti, duduk, menyandarkan ransel, bahkan melepasnya. Aku memandang ke barisan depan, lalu belakang. Para siswa membungkuk dan menggoyang-goyangkan bahunya, sambil melakukan “zikir”, “Wanadri…Wanadri…Wanadri” dengan suara pelan.

Tiba-tiba, seorang teman reguku di depan terjatuh di atas jembatan bambu. Kakinya tersangkut. Ia mengeran. Aku berusaha mengangkat bambu yang mengait kakinya, namun gagal. Akhirnya ia terbebas setelah dibantu seorang pelatih. Namun, setelah itu ada yang aneh dengannya. Bola matanya ke atas, mulutnya membuka, lidahnya menjulur, dan ia terus berucap, “Wanadri…Wanadri…Wanadri…”

Seorang pelatih berteriak keras di hadapannya, namun terus saja ia berujar, “Wanadri…Wanadri…Wanadri”, seolah tak sadar dengan lingkungannya. Kemudian pelatih itu menyiram wajah siswa itu dengan air. Ucapan “zikir”nya berhenti, bola matanya tak lagi ke atas. Akhirnya, ia pun menjawab dengan keras teriakan pelatih di hadapannya.

 

Hari ke-2 itu neraka sesungguhnya. Itu adalah ancaman pelatih di malam sebelumnya. Memang, tak butuh waktu lama untuk membuktikannya.

Tidak seperti rawa hari pertama yang kebanyakan kolam penuh air, medan yang para siswa lewati hari itu benar-benar lumpur. Ketika mendaratkan lutut, tampak lumpur itu menghisap tubuh kami perlahan. Kalau tidak segera maju, bisa-bisa tertanam. Karena terhisap, berat sekali untuk mengangkat lutut ke depan, ditambah beban ransel yang semakin berat. Tak jarang aku harus merangkak sambil menendang-nendangkan kaki dengan liar agar bisa menyeberang.

Ransel yang berat mendorong tubuh saat mendaratkan lutut. Bila gagal menjaga keseimbangan, yang terjadi adalah jatuh tengkurap, ditindih oleh ransel yang beratnya 20 kg lebih. Itulah yang terjadi pada seorang siswa di sebelah.

“Tolong…tolong…,” rintih siswa tersebut dalam nada putus asa. Ia tidak bisa bangun. Saat itu sebenarnya tiap siswa sangat sibuk untuk membebaskan diri sendiri dari hisapan lumpur. Aku pun hanya mampu memberi saran, “Lepas ranselmu….” Siswa itu melepasnya, dan berhasil bangun. Ia merangkak ke depan sambil menarik-narik ranselnya kesusahan. Aku pun sedikit membantu menariknya.

Setelah berjam-jam kepayahan melewati kesuraman, kami pun dibawa ke suatu tempat yang sepertinya adalah ujung dari padang tambak. Di sebelah utara, terlihat laut yang bergulung saling mengejar. Biasanya, jika menghirup aroma garam dan mendengar desir ombak, yang terbayang adalah pasir pantai. Tapi tidak ada yang semacam itu di sana.

Kami berdiri di atas pematang, memandang ombak. Tak lama, seorang pelatih memberi instruksi, dan kami bergerak mengikuti pelatih yang memimpin rombongan. Seorang pelatih yang berdiri di pinggir pematang tersenyum aneh, dan berkata pelan, “Selamat datang di rawa laut, Tuan.”

Para siswa di barisan depan diminta turun. Di sana, aku bisa melihat para siswa yang sepenuhnya berwarna coklat merangkak pelan, sangat pelan. Ransel dilepas dan diletakkan di depan. Mereka berjalan dengan cara mendorong ransel, kemudian menendang-nendang.

Giliranku pun tiba. Kuletakkan ransel di depan, kudorong, lalu dalam posisi merangkak kakiku menendang-nendang. Berhasil maju, beberapa senti. Kudorong lagi ranselku, kumerangkak, dan menendang-nendang. Kembali berhasil maju, sekian senti.

Terengah-tengah, aku mengintip pemandangan di depan melalui kacamataku yang penuh lumpur.

Terkesima.

Itu adalah luas. Rawa hitam yang luas. Ujung depan tidak terlihat, sedangkan ujung belakangnya dekat sekali, tempatku tadi start. Sambil mengedan, aku maju kembali. Mengangkat lutut kanan sambil menimpa ransel. Mengangkat lutut kiri dan kembali menimpa ransel. Berhasil meluncur, beberapa senti saja. Pinggangku sakit. Kaki pegal. Nafas memendek. Pikiran berandai-andai apakah kalori makan siang tadi masih tersisa.

Itu adalah rawa keputusasaan. Tidak tahu rawa ini berujung di mana. Tidak tahu ke mana. Namun, kami harus terus maju, tak ada lagi hal lain yang bisa dilakukan. Percuma minta pertolongan. Setiap siswa sibuk berjuang melewati rawa hitam ini. Bahkan ada juga yang tidak maju-maju.

Tidak tahu berapa lama. Tidak peduli berhasil atau tidak. Hanya satu yang perlu dipikirkan, yaitu melangkah. Dan melangkah. Dan melangkah.

***

Pernahkah kita berada di medan yang begitu luas? Begitu luas. Begitu luas. Begitu luas. Tidak terlihat ujungnya di mana. Tidak terbayangkan tujuannya seperti apa. Namun kita telah berada di tengah-tengah jalannya. Harus ke manakah kita? Apakah kembali? Benar, kembali? Benarkah harus menyesal di tengah jalan? Lalu pulang, sebagai pecundang?

Apakah kita merasa terjebak? Seperti berada di tengah-tengah kemacetan jalan raya? Mau berteriak sekeras apa pun, mau mengumpat-ngumpat sekasar apa pun, tetap tak ada yang bisa dilakukan, kecuali maju. Maju, walau perlahan, begitu pelan. Jika sabar, kelak akan tiba di tujuan juga. Benar begitu, bukan?

Untuk tiba di tujuan, yang dibutuhkan bukanlah kecepatan. Tapi kesabaran.

***

Kenapakah aku ada sini? Di suatu tempat yang entah di mana? Apa pula yang kulakukan? Seharusnya aku berada di sana, Di suatu titik di utara kota Bandung. Sedang belajar, bersama teman-teman kelompok. Membaca materi-materi. Mengikuti bimbingan. Membacakan presentasi kasus.

Tapi nyatanya aku berada di tengah rawa. Sedang merangkak.

Menyesal?

“Tuan Sayyid! Kamu mau pulang lagi di sini, Tuan!!?” teriak seorang pelatih.

Pecundang.

“Pulang saja kamu! 2 tahun lalu kamu pulang di sini kan, Tuan!”

Tahukah rasanya menjadi seorang pecundang?

“Kamu ini! Meninggalkan teman-teman kamu 2 tahun lalu!”

Penuh penyesalan. Saat pulang, tidak ada satu pun yang menyambut. Hanya tertawaan, hinaan, dan sindiran. Memang itulah yang pantas didapat bagi seorang pecundang.

Apa yang dirasakan saat melihat teman-teman yang kau tinggal di tengah latihan pada akhirnya menyanyikan lagu kemenangan? Apa yang dirasakan ketika melihat wajah temanmu pulang dengan wajah penuh kepuasan?

Mimpi apa yang selalu muncul di dalam lelap tidurmu?

Pecundang, mungkin adalah orang terlalu banyak berpikir saat seharusnya hanya fokus memikirkan satu hal. Tidak perlu memikirkan hal yang lain. Fokus saja ke hal yang harus dilakukan saat ini. Ketika berada di tengah-tengah jalan, hanya satu yang perlu dipikirkan: melangkah.

Penyesalan sejati itu adalah ketika memutuskan untuk menyerah dan kemudian menjadi pecundang.

***

Akhirnya memang aku pun tidak sampai garis akhir. Ketika berada di tengah-tengah, seorang pelatih meniup peluit, dan serentak para pelatih lain menginstruksikan kami untuk menepi. “Tuan, cepat menepi, Tuan! Air laut mau pasang, Tuan!” Meskipun sebagian besar menepi, tapi beredar kabar ada 4 atau 5 siswa berhasil mencapai garis finish.

Para siswa dibariskan di pematang, kemudian diinstruksikan mengikuti pelatih. Waktu itu sudah amat sore, mungkin sekitar jam 5. Tujuan dari perjalanan saat itu adalah “pulang” menuju truk angkutan.

Medan rawa laut sudah selesai. Ya. Yang perlu dilewati tinggal “langkah kesabaran”. Memang selama langkah itu kami begitu kelalahan. Berjalan dari ujung rawa menuju ujung satunya lagi setelah merangkak berjam-jam kembali menguji kesabaran.

Pada akhirnya, tujuan pun terlihat. Sebelum diangkut ke truk, kami “mandi” terlebih dahulu. Berendam di kolam air tawar, menggosok-gosok baju, celana, tangan, dan wajah agar terbebas dari lumpur.

Medan rawa laut telah terlewati. Tidak tahu bagi siswa yang lain, tapi bagiku medan ini dilewati bukan dengan kekuatan, tapi dengan ketabahan.

Ada seorang pemimpin negara yang berujar ketika negaranya sedang perang dengan tetangga. Pasukannya banyak menderita kekalahan, namun dengan percaya diri ia membuat pernyataan yang pantas diabadikan. Bahwa yang akan memenangkan perang bukanlah yang membunuh musuh paling banyak, tapi yang paling bertahan hingga akhir.

Categories: narasi, wanadri | 5 Comments

Sebuah Pelajaran dari PDW 2012 (3): Menghargai Hidup

Samar-samar terdengar suara pelatih di kejauhan. Mereka membangunkan para siswa ke sana kemari. Jam yang terpasang di tangan menunjukkan pukul empat lebih, memerintahkan kami untuk bangun di subuh yang dingin. Ini salah satu perjuangan terberat: bangun pagi. Bivak yang basah oleh embun dan suhu yang dingin membuat para siswa enggan melepas sarung bagnya.

Tapi kami tidak boleh berlama-lama. Dua orang harus segera mengumpulkan nyawa dalam hitungan detik, memakai kaos kaki dan sepatu yang basah, dan berkumpul untuk mengambil air. Sisa orang dalam regu bisanya butuh hitungan menit untuk bergerak ke luar bivak. Setelah lamunan yang agak panjang, parafin pun dibakar dan diletakkan di kompor lapangan. Yang paling pertama dimasak tentu adalah air.

“Masak minuman apa nih?” kata saya sambil menuang air ke misting.

“Energen aja, campur milo,” jawaban dari dalam bivak terdengar. “Siap!” Dua bungkus energen dan satu bungkus milo pun kusiapkan.

Sekian menit kemudian dua orang yang tadinya mengambil air kembali. Setelah melempar veldples yang baru saja diisi, mereka langsung memburu energen-milo yang tinggal tersisa setengah misting,

“Keluarin semua lauk yang nyisa. Tempe orek, kentang, ikan asin, dendeng, abon…”

“Yang engga masak langsung ganti baju dan packing ya!”

“Masak air lagi dari veldples yang baru aja diisi!”

Para siswa mulai sibuk dengan rutinitas pagi masing-masing. Sepertinya pagi itu akan berjalan normal layaknya tiap pagi di tahap gunung-hutan. Namun, bunyi yang tidak disangka-sangka mengejutkan kami. Prriiittt…prriiittt…prrriiiiitttt. Sejenak kami menghentikan aktivitas sambil berusaha mengidentifikasi bunyi tersebut—bunyi yang sebenarnya sangat familiar.

“Hei, itu bunyi peluit tiga kali. Berarti…”

“Semua harus kumpul.”

“Masa sih? Sekarang baru kan baru jam 5, dan kita belum makan pagi.”

“Itu panggilan buat danlas mungkin…”

Prriiittt…prriiittt…prrriiiiitttt. Bunyi itu terdengar lagi, diikuti teriakan, “Semua kumpuuulll!!!”

Kami masih bergeming, tidak percaya. Akhirnya teriakan pelatih memecahnya. “Tuan! Segera packing, Tuan! Cepat, Tuan!”

Kami bergerak terburu-buru dengan agak kebingungan. Jelas kami belum makan pagi sama sekali, kecuali beberapa teguk energen. Beberapa di antara kami belum ganti baju, bivak belum dibongkar, barang-barang masih tercecer, dan ransel masih berantakan.

“Tuan! Cepat, Tuan! Kamu segera ganti baju, Tuan! Yang sudah ganti baju bongkar bivak dan packing!” Pagi itu diliputi dengan kepanikan, walau akhirnya kami turun juga menuju tempat berkumpul. Ternyata regu kami termasuk yang cepat, karena masih banyak yang di atas. Kami dapat melihat tidak sedikit siswa yang harus turun sambil jalan jongkok.

Setelah prosesi seremonial—yaitu hukuman—barulah kami tahu bahwa misting tidak akan lagi diisi dengan beras. Harum dendeng atau ikan asin tidak akan lagi tercium di pagi, siang, dan malam. Tidaklah akan lagi memasak energen atau milo sang pemicu hormon endorphin. Karena, “Mulai hari ini kalian masuk tahap Survival!”

“Waaaanaaaaadrrriiiii!”

Menu pagi hari itu adalah yang apa tersedia di lembahan. Lima belas menit dianggap sebagai waktu yang cukup bagi kami untuk “belanja” makanan. Serentak siswa menyerosot ke lembahan, bersenjatakan golok tebas, berburu makanan sebanyak-banyaknya. Lembahan adalah ladang sumber makanan, dan regu saya mendapatkan pakis, batang pohon pisang, buah pisang mentah, batang palem, dan begonia.

Berbeda dengan hari-hari biasa, yang cukup membakar parafin dengan korek, di tahap ini kami harus membuat api unggun untuk memasak. Maklum, tidak hanya bahan makanan, segala bahan bakar telah disita oleh pelatih. Hanya beberapa blok parafin dibagikan oleh pelatih sebagai pemicu api, bukan sebagai bahan bakar utama karena jumlahnya tidak akan cukup.

“Tuan Sayyid! Coba baca tulisan ini,” seorang pelatih menghampiri dan menunjukkan bungkus makanan.

“Biskuit gandum,” saya menjawab pelan. “Baca bawahnya.” “Kaya akan bla…bla…bla.” Kemudian pelatih itu mendorong bungkusan itu. “Coba cium baunya.” Setelah mendekatkan hidung, dan mendengar tawa pelan pelatih, saya kembali berusaha membuat api.

Para siswa membuat “sop”, terdiri dari bahan makanan yang disebutkan barusan berbumbu garam. Karena dimasak menggunakan api yang langsung membakar misting, aroma gosong sedikit tercium. Rasanya?

“(Srrruuppuuuttt) Hmmm…enak, enak…”

“Iya. Enak, enak…(srruupuutt…ssrrruupp). Kayaknya kurang asin, tambah lagi garamnya.”

“Bener, enak…” saya mencoba mengikuti.

Pergerakan di tahap survival tidaklah banyak. Kami berjalan berombongan—survival dinamis—mengikuti pelatih, melintasi punggungan dan lembahan. Jalurnya tidaklah menanjak, cenderung datar dan landai. Seingat saya, selama survival paling lama kami berjalan tidak sampai dua jam. Waktu banyak diisi dengan berhenti untuk berbelanja.

Di hari pertama, jam 14 pelatih sudah memerintah kami untuk mendirikan bivak alam, sebagai tempat perlindungan untuk ransel. Benar. Setelah susah payah membuat bivak, kami langsung disuruh ganti pakaian tidur dan membawa ponco.

“Malam ini kalian akan tidur kalong, tidur di pohon!” kata pelatih pada pukul empat sore. “Lewati malam ini dengan tabah!” pelatih itu menambahkan. Saya pikir kalimat terakhir hanya untuk memhiperbolakan suasana. Ternyata bukan: itu adalah kata-kata motivasi yang diteriakkan dengan tulus.

Tiap regu memiliki pohonnya masing-masing, dengan tingkat kesulitan panjat yang berbeda-beda. Menoleh ke sebelah kanan, saya bisa melihat seorang siswa berbadan kecil memanjat pohon dengan cepatnya seperti monyet. Namun, setelah siswa itu bergatung di dahan tempat tidurnya, orang berikutnya terlihat memanjat dengan kesulitan. Para pelatih meneriakinya dari bawah, tapi kurang membantu. Kemudian ia bergelantungan, dan tangannya tidak kuat menahan tubuhnya lama-lama, jadilah ia terjatuh. “Go****!” teriak seorang pelatih.

Melihat seorang teman terjatuh, saya tidak terlalu peduli karena sedang sibuk mempelajari bagaimana memanjat pohon sendiri. Ketika pelatih bertanya, “Siapa yang tidak bisa memanjat pohon?” spontan saya langsung mengangkat tangan.

Saat mulai memanjat, saya mengira akan bernasib lebih buruk daripada orang yang jatuh tadi. Ternyata tidak, malah mendapat pujian, “Tuh, akhirnya kami bisa manjat juga Tuan Sayyid!”

Tapi malam itu belum berakhir. Masih pukul setengah tujuh, dan saya masih kebingungan membuat jangkar untuk menahan tubuh. Tali temali adalah salah satu materi yang masuk telinga kiri keluar terlinga kiri (baca: mantul).

Pukul delapan, dan saya masih berkeringat berusaha membuat jangkar. Tidak hanya itu, sarung bag saya juga terjatuh. “Tuan Sayyid! Turun kamu! Ambil sarung bag kamu!” Merasa itu adalah salah perintah tergila di PDW, saya menjawab, “Tidak mungkin turun, Pelatih…”

Pukul sembilan: jangkar asal-asalan sukses dibuat. Karena tidak percaya dengan jangkar buatan sendiri, saya memilih tidur sambil memeluk pohon. Sehingga, posisi tidurnya adalah duduk dengan kaki menggelantung. Membiarkan kaki menggantung di udara hingga subuh adalah tidak mungkin! Akhirnya, kedua kaki saya tekuk menginjak pohon sambil duduk: jadilah tidur dalam posisi seperti jongkok. Posisi ini membuat saya harus terbangun tiap 2-4 jam untuk berdiri, meluruskan kaki, kemudian jongkok lagi, merem.

Kekhusyu’an tersebut tiba-tiba diganggu oleh suara pelatih. “Tuan, sarung bag siapa ini, Tuan!”

“Punya saya, Pelatih,” saya menjawab.

“’Saya’ itu siapa!?”

“Sayyid, W 1093.”

“Kamu turun sekarang juga! Ambil sarung bag kamu!”

“Tidak bisa turun, Pelatih.”

“Kalau tidak turun, saya suruh kamu dan teman-teman seregu kamu untuk laporan sampai pagi. Lakukan sekarang!”

Kami pun laporan satu per satu, menyebut nama dan nomor siswa. Satu putaran selesai. “Lanjutkan!” kata pelatih itu. Dua putaran selesai. “Lagi!” Tiga putaran selesai. “Terus, sampai pagiii…” Putaran ke empat selesai. “Ini! Ini! Ambil sarung bag kamu! Kalau ga pakai sarung bag bisa mati kedinginan kamu! Besok pagi regu ini menghadap saya!” Hingga tulisan ini dibuat, saya tidak tahu siapa pelatih misterius tersebut karena regu saya tidak jadi menghadap.

Dalam keadaan duduk jongkok, saya mengerti kenapa malam ini harus dilewati dengan tabah. Gelap, angin yang dingin, sedikit rasa takut kalau-kalau jatuh, dan posisi tidur yang tidak nyaman; ini adalah satu-satunya malam di PDW yang ingin cepat diakhiri. Benar kata pelatih itu, malam tersebut hanya bisa dilewati bukan dengan fisik yang kuat, tapi dengan ketabahan.

Beberapa suara aksesori terdengar malam itu. Pertama adalah suara tangisan perempuan. Ckckck, serem amat gelap-gelap gini ada suara orang nangis. “Hei, kamu kenapa nangis?” suara siswa perempuan mengikuti tangisan itu, diikuti hembusan nafas lega dari hidung saya.

Kedua adalah suara gedebug, diikuti suara beberapa pelatih yang marah-marah, dan teriakan “Wanadri! Wanadri!” dari siswa berbadan gemuk.

Ketiga, suara seorang siswa yang tiba-tiba laporan di tengah malam yang seharusnya sunyi. Seorang pelatih mendekat, “Tuan! Siapa yang suruh laporan, Tuan!” Di waktu itu, para pelatih sebenarnya tengah berkumpul untuk briefing, sehingga tidak mungkin ada pelatih yang meminta laporan. “Tadi ada dua orang pelatih yang meminta saya laporan, Pelatih,”siswa tersebut menjawab.

“Pelatih siapa?”

“Tidak tahu, Pelatih.”

Hening.

Saya kurang tahu kelanjutan ceritanya. Tak lama, para pelatih berkeliaran ke pohon para siswa, membangunkan kami semua, dan memerintahkan kami untuk laporan. Seusai PDW, barulah saya diceritakan kalau pernah ada seorang siswa meninggal ketika tidur pohon gara-gara “berpuasa”/memilih tidak makan di tahap survival.

Hari kedua tidaklah berbeda. Kami berjalan tidak terlalu cepat dalam satu baris, diiringi pelatih yang kadang-kadang berteriak, “Tuan, teriakan ‘Wanadri’nya, Tuan!”, menapaki punggungan, lembahan, dan berhenti untuk berbelanja.

Mulai hari kedua hasil belanjaan siswa mulai variatif. Ada yang berhasil mendapatkan kadal Sedangkan pendapatan regu saya tidak jauh beda: pakis, batang pisang, begonia.

Bicara begonia, awalnya saya agak heran kalau tumbuhan yang suka mengapung di air itu bisa dimakan. Ternyata, tumbuhan yang kata bu guru merupakan hama itu rasanya sangat “lezat” dan menjadi “snack” favorit. Asam-kecut, itu adalah satu-satunya rasa yang kutemukan di hutan. “Jangan terlalu banyak makan begonia, nanti jadi bego-nian!” komentar pelatih.

Selain begonia, ada juga tanaman (atau buah?) honje. Yang ini rasanya sangat amat betul-betul kecut, jauh lebih kecut dibanding jeruk sunkist. Ketika memakannya, lidah dan bibir terasa perih, tapi itu bukan penghalang untuk menikmati rasa.

Air terlihat mendidih, kami pun menyiapkan sendok dan berdoa. Srrruuupppuuuttt. Ketika itu, saya mulai belajar, bahwa makanan di gunung hutan hanya dikenal satu istilah: enak. Tidak dikenal istilah yang lain.

Hari kedua tahap survival bukanlah hari yang akan dilupakan bagi angkatan Elang Kabut-Cantigi. Siang itu hujan, untuk pertama kalinya semenjak PDW 2012 dilangsungkan. Namun, sekalinya hujan, ia langsung deras—sangat deras! Pelatih langsung membariskan kami yang kala itu sedang berbelanja.

“Keluarkan ponco kalian! Topi rimba dikenakan di atas ponco!”

“Tuan, tidak diam, Tuan! Gerak-gerakkan tubuh kalian!”

“Danru, kamu perintahkan anggota kamu untuk terus gerak. Kalau ada anggota kamu yang diam, saya gampar kamu!”

Saya sangat paham bahwa di saat dingin, terutama hujan, tubuh sama sekali tidak boleh diam. Ia harus terus digerakkan, harus ada panas yang dihasilkan, dan pembuluh darah harus diusahakan agar tidak menyempit. Salah satu pembunuh pendaki gunung tersering adalah hipotermi.

Hujan itu begitu derasnya, sampai-sampai pelatih membatalkan perintah membangun bivak alam solo, diganti dengan bivak alam regu. “Semuanya bergerak! Semuanya bekerja! Tidak ada yang diam! Ada yang mencari kayu dan daun, ada yang membangun bivak, ada yang membuat api!”

Menyalakan api di tengah hujan adalah skill tersendiri dalam membuat api. Tapi, karena hujan itu, kami pun diajarkan bagaimana mengerjakannya.

“Keinginan! Yang paling penting dalam survival adalah keinginan untuk bertahan hidup!” teriak pelatih pendamping sambil menarik-narik topi saya.

Setelah mengikuti berbagai instruksi, api pun berkobar menyala. Tidak hanya di sana, tapi juga di dalam hati; benar kata teman bahwa api dapat membangkitkan semangat di tengah dingin seperti itu. “Ini saya dengar di Lampung: kalau kalian bisa membuat api di tengah hujan, berarti sudah bisa mengurus bini dan anak.” Itu adalah pernyataan pelatih yang hingga kini tidak saya lupakan.

Jam 4 pagi di hari ketiga survival: ampun dinginnya dan ampun basahnya. Tapi kami harus segera bangun dan duduk, dan bergerak. Di tahap survival ini, setelah bangun tidur hal pertama yang harus dilakukan adalah membuat api. Jika tidak ada api, kami akan kedinginan dan tentu saja tidak bisa masak.

Pakai sepatu, mencari kayu, mengumpulkannya, mengiris-ngirisnya, memotong-motongnya, menyusunnya, menyalakannya. Pagi itu alam telah mengajarkan, bahwa kami harus membunuh rasa malas untuk dapat bertahan hidup.

Hari ketiga adalah hari Jumat. Awal hari diawali dengan survival statis: belanja bahan makanan di sekitar bivak. Saya pun menggenggam golok tebas, mengamati pohon pisang, menebangnya, membelahnya, dan mengambil bagian tengahnya. Batang pisang lagi, pakis lagi, begonia lagi. Kebosanan mulai hadir. Rasanya ingin makan martabak coklat spesial campur keju dekat stasiun Bandung.

“Tuan Sayyid, coba lihat. Ini apa, Tuan?” Seorang pelatih menghampiri api unggun kami.

“Roti bakar, Pelatih.” Ada coklat di dalamnya dan dibakar dengan mentega.

“Coba cium baunya, Tuan. Hahahah.” Saat itu ada yang di dalam kepala tiap siswa adalah bayangan makanan yang ingin dimakan pertama kali begitu PDW usai.

Sop pakis-batang pisang telah mendidih. Sepertinya masih ada getah di airnya, tapi kami harus tetap makan. “Semuanya makan! Tidak boleh ada yang puasa!” Itu adalah instruksi yang diucapkan berulang kali. Sebenarnya adalah ide gila memilih puasa di tahap surival ini. Sudah pasti lemas, tak ada tenaga, dan saya tak berani membayangkan kondisi seperti itu di tengah hutan.

Sekitar jam 11, danlas berkeliling dan mengumumkan bahwa salat jumat akan segera dilaksanakan, dan tiap regu harus menyediakan dua ponco. Itu adalah salat jumat yang ke-4 di PDW, dua hari menjelang pelantikan. Dan, salat jumat adalah satu-satunya waktu di PDW yang dikumandangkan azan.

Sayangnya, kami tidak bisa mengikuti khutbah dengan khusyu. Meskipun khatib tampak bersemangat menyampaikan pesan-pesannya, namun kepala kami terus mematuk-matuk ke bawah.

Ada satu waktu, ketika di tengah-tengah khutbah, sang khatib berdoa. Umumnya jamaah akan menjawab “Amin”. Tapi ada satu siswa yang entah terlalu lelah atau apa, ia menjawab dengan “Wanadri!” Saat itu tak ada satupun yang tertawa, namun beberapa hari kemudian kami terbahak-bahak mengenangnya.

Survival memasuki hari ke-4. Apa saja yang kudapatkan selama itu? Kucoba untuk mengingat itu semua. “Survival bukanlah tentang mencari makanan, melainkan tentang menghargai hidup” Itu adalah perkataan pelatih saat seremoni pembukaan survival.

Menghargai hidup. Suatu hal yang jarang sekali kuperhatikan ketika di tengah kota. Di sini, tengah-tengah belantara ini, hakikatnya kami tengah berjuang untuk bertahan hidup. Bagaimana agar bertahan hidup? Adalah segala yang kami lakukan dalam empat hari ini. Menyiapkan golok, turun ke lembahan, memotong-motong tumbuhan untuk dimasak—bahkan sampai menusuk daka-daka dengan harapan mendapat cacing. Mencari-cari ranting dan kayu, mengupas kulitnya, memotong-motongnya, menyusunnya agar api menyala, sehingga kami bisa memasak. Menebas-nebas dedaunan dan batang kayu, menancapkannya untuk menjadi tiang pancang, menyusunnya agar menjadi atap (sambil berdoa supaya tidak hujan karena bivak yang saya buat berantakan).

Itu semua harus dilakukan walau lapar, walau makanannya itu lagi itu lagi, walau terbayang berbagai macam cemilan dalam khyalan, walau tubuh ini begitu tak bertenaga karena minimnya asupan karbohidrat. Tapi itu semua harus dilakukan walau malas, walau dingin, walau basah kehujanan, walau ingin terus istirahat dan istirahat. Jika tak dilakukan, kami akan mati.

Alam telah mengajarkan bahwa untuk bertahan hidup, kami harus menghargai hidup, dan untuk menghargai hidup, kami tidak boleh malas. Jika malas, kami akan menggigil dalam kedinginan, basah dalam kehujanan, terkapar dalam kelaparan, dan mati dalam kesia-siaan.

Siang hari, kami tiba di lapangan rumput dan berbaris. Seorang pelatih maju ke depan: pelatih yang sama yang membuka tahap survival. Beliau berdiri di hadapan kami, kemudian berteriak, “Dengan ini, tahap survival DITUTUP!”

Bunyi DUUUAARRR!!! membahana di lembah itu, menaikkan asa para siswa untuk terus berteriak, “Wanaadrriiiiiiii!!!”

Kami pun duduk melingkar, mengelilingi bungkusan-bungkusan plastik yang dibawa oleh panitia.Isinya adalah buah pisang—buah pisang asli, bukan batang pisang atau jantung pisang—tempe bacem, lontong, dan energen.

Saya berani bersumpah, buah pisang yang saya makan kala itu adalah makanan terlezat yang pernah kumakan! Begitu pula lontong dan tempe bacemnya. Buyar sudah segala bayangan makanan lezat yang sebelumnya terus dibayangkan.

Alhamdulillah…” kataku sambil memenjamkan mata, menikmati lezatnya buah pisang.

Beberapa menit kemudian, kami bersiap-siap kembali. Ransel dikenakan dan bendera regu diangkat. Perjalanan kami kali ini berupa pendakian punggungan yang lumayan terjal. Saya menengadah, tersenyum, karena tahu bahwa kami sedang menuju tanah pelantikan: kawah upas.

Categories: narasi, pembelajaran, wanadri | 4 Comments

Ustad Lubis

Assalamu’alaykum, Ustad Lubis

Wa’alaykumsalam warahmatullah wabarakatuh

Ustad Lubis, perkenalkan, kami mahasiswa yang ingin silaturahim dengan Ustad.

Oh, ya, silakan.

Ustad Lubis, kami ingin memberikan sumbangan untuk masjid sebagai kenang-kenangan. Kami berencana untuk memperbaiki atap masjid yang bolong-bolong.

Alhamdulillah. Jazakallah atas bantuannya. Saya sangat menerima niat baik kalian.

Senang sekali kami bisa membantu. Mengapa atap masjid bisa begitu rusak, Ustad Lubis?

Yah, dulu pernah ada hujan besar di sini. Masjid pun sampai terkena bajir. Waktu itu banyak sekali atap yang lepas, bahkan sampai mau runtuh. Akhirnya waktu itu saya pasang saja tiang dari kayu. Tuh, kamu lihat kan? Ada dua balok kayu yang dipasang. Sebenarnya niatnya hanya untuk sementara, sebelum seluruh atapnya yang terbuat dari internit diganti.

Ustad Lubis sendiri yang memasang dua balok kayu itu?

Iya, dibantu sama….ada babeh, yang biasa bantu-bantu untuk konstruksi masjid.

Ustad Lubis, kami lihat atap masjid itu terbuat dari internit. Bukankah akan lebih baik jika kami menyumbang bukan dalam bentuk uang tapi langsung berupa internit? Cukupkah demikian? Selain internit, apa lagi yang harus kami sumbangkan?

Silakan. Ini, saya tulis apa saja yang perlu dibeli. Biar kalian saja yang membelinya sehingga apa yang saya terima adalah langsung barangnya.

Ustad Lubis, kami telah membali barang-barang yang telah dipesan oleh Ustad. Diletakkan di halaman masjid saja, eh? Rasanya ingin pula kami membantu dalam pemasangan, sehingga silaturahim yang terjalin di antara kita tidak hanya dalam bentuk materi.

Tidak apa, tidak perlu. Tangganya hanya satu. Besok akan mulai saya kerjakan bersama babeh. Ya, letakkan saja di halaman masjid. Mudah-mudahan dalam waktu 3 hari semua atap masjid yang terlepas sudah terpasang kembali.

Ustad Lubis, tidak seperti biasanya Ustad memakai celana tiga perempat dan pakaian santai yang penuh dengan cat. Sedang membuat perekat adalah yang sedang dilakukan oleh Ustad, bukan?

Iya. Internitnya perlu dicat dulu sebelum dipasang. Ini perekat yang diperlukan untuk pemasangannya. Huh….capek juga ya, hahaha (sambil melap keringat).

Mengapa nama ustad adalah Lubis? Apakah ustad berasal dari Medan?

Tidak, tempat tinggal saya aslinya tidak jauh dari sini. Entah kenapa juga orang tua memberi nama saya Lubis, mungkin hanya sekedar ikut-ikutan, hahah. Dulu saya pertama kali ke masjid ini sekitar lima tahun yang lalu. Halaman masjid kala itu tidak seperti sekarang, dahulu penuh dengan rerumputan tinggi. Saya pun memotong rumput-rumput itu, dan seperti yang kalian lihat, sekarang halaman masjid sudah disemen.

Nama tentulah bukan hal yang sembarang diberikan oleh orang tua kita. Nama adalah doa, bukankah begitu, sehingga Rasulullah saw. mengubah nama Yatsrib yang berkonotasi ‘memaki’ atau ‘kotor’ menjadi Madinah Al Munawaroh atau ‘Kota yang Disinari’? Ah, halaman masjid ini cukup luas untuk berbagai kegiatan, ya kan Ustad Lubis?

Benar. Seperti yang kalian saksikan sendiri. Halaman ini digunakan untuk wisuda sekolah pengajian untuk anak-anak. Panggung pun bisa didirikan di sini, tidak hanya di halaman balai desa yang kemarin dipakai dangdutan. Waktu itu pun kalian ikut lomba makan kerupuk di halaman ini, hingga membuat anak-anak tertawa (tersenyum).

Kami ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada Ustad Lubis dan para warga yang telah mengundang kami ke acara tersebut, hingga kami disuguhi makan gratis, padahal kami tidak membawa apa-apa. Saat itu, jelas kami melihat tidak semua tamu undangan disuguhi makanan.

(Tersenyum)

Kami lihat Ustad Lubis ketika itu menjadi MC. Apakah Ustad Lubis pula yang merancang acara wisuda tersebut? Apakah panggung dan proyektor juga diurus oleh Ustad Lubis? Kemudian baju toga anak-anak itu, dipesan oleh Ustad Lubis juga kan?

Ya. Saya menjadi seksi Acara merangkap MC, seksi logistik, pengisi acara, yang mengundang para orang tua siswa, dan pelantik kelulusan anak-anak. Tentu warga juga ikut membantu. Saya berharap anak-anak tetap menanamkan nilai Islam di masing-masing hatinya, dan tak henti mau belajar Islam. Saya yakin, salah satu dari mereka kelak akan menjadi pemimpin negeri ini, entah menteri atau pejabat. Jika para menteri atau pejabat adalah mereka yang menanamkan nilai Islam di hatinya dan menyatakannya dalam kehidupan, negeri ini menjadi negara maju bukan hanya mimpi….

Ustad Lubis, maaf kami berkunjung malam-malam ke rumah Ustad. Kami ingin menanyakan kabar pemasangan atap masjid. Lebih dari tiga hari telah terlewati. Mengapa Ustad Lubis tidak meminta bantun warga saja? Toh, masjid ini digunakan dan dinikmati bersama-sama.

Biarlah. Kalau meminta bantuan warga, mereka harus dibayar. Belum tentu mereka mau bekerja tanpa dibayar alias gratis. Tidak apa-apa, pekerjaannya juga tinggal sebentar lagi. InsyaAllah di hari ke lima semua internit telah terpasang.

Ustad Lubis, kami melihat ustad mengajar anak-anak setiap siang hingga sore dari hari Senin-Sabtu. Adakah guru ngaji lain selain Ustad Lubis?

Ah, ya. Siang sampe sore jadwal ngaji anak-anak yang lebih besar, sedangkan sore jadwalnya anak-anak yang lebih kecil. Pengajarnya hanya saya dan istri saya saja….tidak ada yang lain. Sebenarnya saya ingin meminta tolong kalian untuk bantu ngajar ngaji juga, tapi saya ga enak, khawatir kalian sibuk, hahahah.

Tidak, seharusnya kamilah yang menawarkan diri. Mungkin bukan hanya untuk transfer ilmu kami yang tidak seberapa, tapi untuk menjalin tali silaturahim yang bukan hanya berbasiskan materi. Dan….waktu tidak terasa hingga kami harus pergi dari sini. Kami ingin izin pamit, sekaligus memberi kenang-kenangan. Memang lagi-lagi ini bersifat materil. Tapi, semoga setiap kali Ustad mengenakan baju koko yang tidak seberapa ini, tali silaturahim yang tak kasatmata ini dapat tersusun kembali. Terima kasih Ustad, jika Allah mengizinkan melalui kehendakNya, mungkin ada kesempatan bagi kita untuk lebih mengokohkan persaudaraan.

Ya, demikianlah. Begitu pula terima kasih terucap kepada teman-teman semua. Kehadiran kalian insyaAllah bukanlah hal untuk dilupakan. Memang ditakdirkan bahwa manusia akan selalu datang dan pergi, bukan? Tapi setidaknya bukan hanya untuk sekedar lewat; ada air mata yang jatuh mengiringi kepergian, bukankah itu tanda bahwa kalian pernah menetap di hati kami? Selamat jalan. Semoga silaturahim di antara kita layaknya persaudaraan atas dasar keimanan: tetap kekal hingga membawa kita ke alam keabadian. Dan kelak kalian telah tumbuh menjadi pemimpin negeri ini, semoga tak melupakan masjid kecil di suatu desa, anak-anak yang belajar di sana sambil tertawa kegirangan, dan para manusia yang ikhlas mendidik karakter dan moral melalui ajaran agama.

Categories: narasi | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: