gumam sendiri

Why Always Us?

images

Mereka berkata ada seorang yg tengah berduka
Ia miskin dan papa, bukan orang berada
Tak ada yg ia punya, termasuk jamkesmas atau BPJS utk mengobati luka
Tanpa tetek bengek itu tak ada RS yg mau menerimanya
Muncullah judul “Dokter Menolak Pasien Miskin” berukuran mega di media

Why always us?

Mereka berkata tentang kesejahteraan yg menyedihkan
Para buruh berteriak di megaphone melantangkan keadilan
Guru-guru menangisi isi kantong yg merana dan penuh penderitaan
Begitu pula para dokter dan sejawat dunia kesehatan yg menginginkan perbaikan
Tapi katanya dokter tidak boleh komersil, hidupnya hanyalah pengabdian

Why always us?

Mereka menceritakan ttg kepergian seseorang yg ditangisi
Sudah semua prosedur dan tatalaksana ilmiah telah dijalani
Tapi mungkin mereka menganggap seorang yg berjas putih itu adalah dewa dan dewi
Lupakah bahwa yg menyembuhkan dan mencabut nyawa itu adalah Ia Yang Maha Menguasai?
Alaahh, tak peduli! Yg penting si dokter pemegang pisau harus dihakimi

Why always us?

Kini, mereka tidak mau terima dengan kepalsuan
Sy ingin bertanya secara tulus, apakah mereka benar-benar berpikir dokter itu ingin menyakiti pasien yg membutuhkan bantuan?
Apakah nama dan latar belakang profesi para oknum tidak mereka baca dengan pelan?
Tidakkah dipikir bahwa yg memberi suntikan itu sama saja dengan mereka, yaitu tidak tahu apa-apa?
Daripada memukul dan menyandera dokter, kenapa tidak kau potong saja tangan mereka yg jelas-jelas terdakwa?

Why always us?

Tapi biar saja apa mereka mau berkata
Tugas dokter hanyalah melayani dan bekerja, menjadi perpanjangan tangan Tuhan Semesta
Bagi mereka yg telah meninju dan menghina, dan juga Ribka Tjiptaning yg sibuk mencari simpati rakyat jelata
Jika membutuhkan bantuan, pastilah akan dilayani sepenuh hati dan tenaga
Dengan segera dokter yg melayani akan melupakan masalah lalu yg dibuat oleh Anda

Why always us? Karena kami adalah dokter

Advertisements
Categories: gumam sendiri, merenung | Tags: , , | Leave a comment

Yakin Mau Menjadi Dokter? Hal-Hal yang Perlu Kamu Ketahui Tentang Profesi Ini

DSC_0231

Dokter bisa dibilang merupakan salah satu profesi yang paling diidamkan. Adalah mimpi setiap orang tua bila bisa mengkuliahkan anaknya di fakultas kedokteran. Bagaimana tidak, profesi dokter sering diidentikkan dengan pekerjaan mulia yaitu memyembuhkan orang sakit. Jika diri kita atau orang tua menderita sakit, bahkan sakit parah, kita akan sangat berterima kasih dan mungkin kagum dengan dokter yang telah melakukan pekerjaannya. Selain itu, tidak bisa dipungkiri, dokter identik dengan penghasilan besar dan hidup mewah; barangkali ini merupakan faktor terbesar yang mendorong orang banyak untuk kuliah kedokteran.

Meskipun demikian, perjalanan untuk menjadi dokter sangatlah tidak mulus; bisa dikatakan cukup berat. Setelah menjadi dokter pun, belum tentu ekspektasi yang diharapkan bisa terpenuhi. Intinya, menjadi dokter tidaklah seindah yang dibayangkan kebanyakan orang yang tidak memahami profesi tersebut.

Kamu ingin menjadi dokter? Atau kamu ingin anak-anakmu menjadi dokter? Berikut adalah hal-hal yang harus diketahui sebelum benar-benar membulatkan tekad memilih profesi tersebut

  1. Sekolah yang Lama
Mahasiswa FK

Mahasiswa FK

Mungkin sudah banyak yang mengetahui bahwa perjalanan menjadi dokter tidaklah ringan. Di fakultas lain masa studi bisa diselesaikan dalam 4 tahun—bahkan ada yang 3,5 tahun bagi mereka yang pintar—namun untuk menjadi dokter waktu yang dibutuhkan minimal adalah 5 tahun. Malah, masih ada beberapa fakultas kedokteran (FK) di beberapa universitas yang masih menerapkan pendidikan 6 tahun.

Jenjang pendidikan kedokteran secara umum dibagi 2, yaitu tahap sarjana kedokteran dan pendidikan profesi yang lebih dikenal sebagai tahapan koas. Tahap sarjana bisa ditempuh minimal selama 3,5 atau 4 tahun, tergantung kebijakan masing-masing FK. Perlu diketahui, jika di fakultas lain mungkin ada program percepatan, maka di FK tidak ada. Tiga setengah atau empat tahun benar-benar waktu fix yang harus dilalui. Setelah diwisuda menjadi sarjana kedokteran (S.Ked), calon dokter pun langsung menjalani pendidikan profesi di rumah sakit.

Jika dihitung-hitung, saat mahasiswa fakultas lain rata-rata sudah lulus, berpenghasilan, punya istri dan anak, mahasiswa FK sedang jaga malam di RS :p

  1. Proses Pendidikan yang Berat
Ujian OSCE

Ujian OSCE (sumber: http://unprimdn.ac.id/)

Tidak hanya lama, pendidikan kedokteran juga dikenal sebagai pendidikan yang tidak mudah. Tanyakanlah kepada para mahasiswa fakultas lain yang bertetangga dengan fakultas kedokteran; mereka akan mengatakan bahwa teman-teman di FK menjalani pendidikan yang berat. Itu baru fase S.Ked; di masa koas, proses pendidikannya pun menjadi jaluh lebih menantang.

Kuliah kedokteran identik dengan banyaknya materi yang harus dipelajari. Tidak seperti kuliah teknik atau sains yang banyak bermain logika, orang yang mempelajari ilmu kedokteran dituntut untuk banyak membaca. Jika tidak banyak membaca, otomatis tidak akan banyak tahu dan dijamin ketika ujian pun bingung. Memang banyak yang harus “dihapal” layaknya pelajaran biologi ketika SMA, namun juga harus dipahami agar benar-benar bisa mengerti dan ilmunya tidak hilang begitu saja. Alhasil, pekerjaan mahasiswa FK ialah banyak membaca.

Sekarang hampir semua (atau semua ya?) FK sudah menerapkan sistem kurikulum yang menuntut mahasiswa untuk “belajar sendiri”, atau disebut dengan kurikulum problem based learning (PBL). Pada sistem ini, kuliah amat minim…di FK saya sendiri kuliah tentang ilmu kedokterannya hanya sekitar 6 jam per minggu. Sisanya dipelajari dalam kelompok diskusi PBL, yang notabene tiap mahasiswa harus mencari dan belajar sendiri. Bagaimana ketika diskusi bingung dan mentok? Jangan berharap bertanya ke dosen; mungkin ada dosen berhati malaikat yang mau menjawab, namun kebanyakan akan menjawab, “Baca sendiri, ya!” Begitulah, mahasiswa benar-benar harus membaca sendiri textbook.

Bentuk ujian di FK pun tidak hanya berupa ujian tulis. Ada bentuk ujian yang meminta mahasiswa untuk mempraktekkan keterampilan klinik, apakan itu berupa wawancara medis, pemeriksaan fisik, atau tindakan bedah. Ujian ini dikenal dengan OSCE. Keterampilan tersebut diujikan ke standard patient atau ke manekin, langsung di hadapan penguji, dan peserta rata-rata hanya diberi waktu 10 menit. Setelah selesai, peserta keluar ruangan dan berpindah ke ruangan selanjutnya untuk mempraktekkan keterampilan yang berbeda, tergantung soal. Dan, bagi yang pernah merasakannya, seperti naik roller coaster J.

Yahh, menurut saya pribadi, ujian OSCE “tidak seberapa” dibandingkan ujian SOOCA. Tidak semua FK menerapkan jenis ujian ini. Intinya, ada 15 kasus yang mesti dipelajari oleh mahasiswa. Saat ujian, kasus tersebut akan diundi, dan peserta diberi waktu 20 menit mempresentasikannya di hadapan 2 penguji. Bagi yang pernah mengalaminya, rasanya seperti jatuh dari gedung tinggi :p

  1. Tahapan Koas yang Melelahkan
Koas Jaga

Koas Jaga (sumber: https://ask.fm/abdichsan)

Koas atau “dokter muda” merupakan tahapan pendidikan profesi yang dijalani di rumah sakit. Peserta didik akan mengitari setiap departeman yang ada di RS, seperti depaertemen penyakit dalam, ilmu kesehatan anak, bedah, kebidanan dan kandungan, dst. Proses ini ditempuh selama 1,5 atau 2 tahun. Di tahapan ini, ilmu yang dipelajari di masa sarjana diterapkan di tiap bagian…walau kebanyakan sih “belajar lagi dari awal” karena apa yang ada di saat mahasiswa sudah dilupakan :p. Tidak heran kalau koas selalu dimarah-marahi oleh konsulen (dokter spesialis pengajar).

Sama seperti ketika sarjana, jangan berharap ada kuliah atau ada konsulen yang mau mengajarkan atau menjawab pertanyaan. Jika ada koas bertanya, kebanyakan akan ditanya balik, dan ujung-ujungnya disuruh belajar sendiri…dan benar-benar harus dipelajari karena keesokan hari sang konsulen bisa menagihnya. Ya karena itulah, penting untuk berdoa supaya dapat konsulen yang baik, heheh.

Kemudian, pamungkas dari tahap koas ialah jaga malam. Frekuensi jaga tergantung bagian, ada yang seminggu sekali, seminggu dua kali, dua minggu tiga kali…dan setelah selesai jaga malam, paginya langsung lanjut bertugas hingga sore. Jadi, masuk dari pagi dan baru pulang besok sorenya. Ya masih bisalah curi-curi waktu tidur. Berdoa saja residen (dokter yang sedang menempuh pendidikan dokter spesialis) baik hati dan tidak banyak menyuruh-nyuruh. Jadi tidak perlu heran setelah bertugas satu setengah hari nonstop kebanyakan koas menjadi zombie.

  1. Usai Pendidikan Selama 5-6 Tahun, Dihadapkan dengan Uji Kompetensi Nasional
Uji Kompetensi Dokter

Uji Kompetensi Dokter (sumber: https://ndinandina.wordpress.com/)

Ujian ini dulu dikenal dengan Uji Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI), sekarang berganti nama menjadi Uji Kompetensi Mahasiswa Pendidikan Profesi Dokter (UKMPPD). Setelah selesai masa koas, calon dokter belum bisa menjadi dokter jika belum lulus ujian ini.

Terdiri dari 2 bentuk, yaitu ujian tulis dan ujian OSCE, ujian ini diselenggarakan secara nasional dan standar soalnya pun skala nasional, seperti UN. Jika belum lulus ujian, calon dokter mesti menunggu 3 bulan berikutnya untuk ujian ulang. Dalam setahun, uji kompetensi diselenggarakan empat kali. Kalau belum lulus juga, terus saja ujian ulang sampai lulus. Saya dengar, ada yang ikut sampai belasan kali tapi belum lulus juga :O.

Ujian ini penting untuk menjaga kualitas dokter Indonesia. Saat ini ada 73 atau lebih FK di negeri ini dan belum semuanya terakreditasi. Ilmu kedokteran tidak berhubungan dengan mesin, benda mati, atau hewan; ia diaplikasikan untuk manusia hidup. Tentu mengerikan bukan jika kita atau keluarga kita diobati oleh dokter yang kualitasnya tidak jelas? Karena itulah, calon dokter benar-benar harus belajar keras menghadapi ujian ini, terlebih nilai minimal untuk lulus ialah 68. Weewww….

  1. Lalu Setelah Disumpah Menjadi Dokter, Wajib Mengikuti Program Penempatan Selama Setahun dengan Pemasukan di Bawah Gaji Standar Buruh
Dokter Internsip

Dokter Internsip

Program ini dikenal dengan Program Internsip Dokter Indonesia (PIDI) atau lebih dikenal dengan internsip. Program ini ialah syarat agar dokter yang baru lulus tersebut bisa menjalankan praktek. Kalau belum menjalani internsip, maka ia belum berhak untuk bekerja atau praktek.

Internsip dijalankan secara nasional dengan wahana kerja yang menyebar dari Sumatera hingga Papua. Jika beruntung, bisa dapat wahana kerja yang tidak jauh dari rumah, tapi jika kalah cepat, siap-siap untuk pergi ke daerah. Selama setahun, dokter internsip bekerja di puskesmas dan rumah sakit layaknya dokter, namun masih dalam bimbingan dokter senior. Yahh tergantung wahananya. Di daerah yang kekurangan dokter, peserta internsip akan bekerja layaknya dokter tetap.

Hal yang cukup disesalkan dari program ini ialah penghargaan kurang bagi dokter internsip. Gaji bagi mereka ialah 2.5 juta/bulan, sebelum dipotong pajak. Padahal, banyak dokter internsip yang bekerka layaknya dokter umum dan bahkan banyak juga yang sangat diberdayakan karena jumlah dokter yang kurang. Memang setiap wahana memiliki kebijakan apakah mau memberikan insentif tambahan, tapi banyak juga yang tidak memberikan apa-apa. Bisa dibayangkan bagi yang mesti ke daerah, berarti harus menyewa kostan dan mencari makan sendiri: gaji 2.5 juta tidak akan cukup memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Bagi saya, cukup menyedihkan sudah bergelar dokter namun untuk kebutuhan hidup sehari-hari masih harus disuport orang tua….

  1. Ke Depannya, Tahapan yang Harus Dilalui untuk Menjadi Dokter Sepenuhnya Terancam Menjadi 9 Tahun
Alur Pendidikan Kedokteran (sumber: http://www.slideshare.net/suhartimt/)

Alur Pendidikan Kedokteran (sumber: http://www.slideshare.net/suhartimt/)

Di Undang-Undang Pendidikan Kedokteran sudah tertuang apa yang disebut dengan Dokter Layanan Primer (DLP) untuk memenuhi kebutuhan era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Di peraturan disebutkan bahwa dokter yang ingin bekerja di fasilitas kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS di tingkat pertama (seperti puskesmas, klinik pratama, dll) WAJIB menempuh pendidikan tambahan selama 3 tahun untuk menjadi DLP (setelah menjalani internsip). Artinya, jika ingin menjadi dokter umum yang praktek di klnik atau puskesmas, tahapan yang harus ditempuh ialah 5 tahun kuliah kedokteran, 1 tahun internsip, dan 3 tahun pendidikan DLP—total 9 tahun!

Bagaimana jika ada dokter yang tidak mau menempuh DLP? Dokter tersebut tidak berhak untuk praktek. Pilihan baginya ialah menjadi peneliti atau dosen (yang tidak praktek), ambil sekolah spesialis (yang rata-rata lama pendidikannya 5 tahun), atau jadi pedagang. Apakah selama sekolah DLP digaji? Ooo…tentu tidak. Jadi setelah capek-capek kuliah 5 tahun, sudah bergelar dokter, bagaimana caranya menghidupi diri dan anak istri? Yahh, silahkan pikir sendiri.

  1. Siap-Siap Sering Digambarkan Miring oleh Media atau Dituntut Hukum
investigasi tempo

investigasi tempo

Seberapa sering laman media kita dipenuhi dengan berita-berita miring tentang dokter atau rumah sakit? Berita tentang pasien ditolak dokter atau rumah sakit selalu menarik minat pembaca. Setelah ditelusuri lebih jauh, kebanyakan berita tersebut memberikan informasi salah: bukan pasien ditolak, tapi kamar rawat inap penuh, atau pasien belum melengkapi berkas Jamkesmas/BPJS, atau tidak memenuhi kriteria perawatan menurut standar BPJS, dll. Tapi media ga mau tahu: pokoknya dokter dan rumah sakit menelantarkan pasien.

Terbaru ialah pemberitaan dari Tempo tentang suap dokter. Kewajiban setiap dokter untuk update ilmunya dengan mengikuti berbagai kegiatan ilmiah…dan untuk menyelenggarakan atau mengikuti acara ilmiah tersebut butuh biaya. Apakah negara mau membiayai? Jangan harap. Lalu dari mana lagi pembiayaan selain dari sponsor yaitu perusahaan farmasi? Namun sponsorship kegiatan ilmiah diartikan media sebagai gratifikasi.

Masih ingat kasus dokter Ayu spesialis kebidanan dan kandungan? Tidak ada prosedur yang dilanggar oleh dokter Ayu; kematian pasien terjadi akibat hal yang tidak diduga oleh dunia medis yaitu emboli paru. Tidak ada yang bisa memprediksi hal tersebut dan prosedur tetap sudah dijalankan oleh sang dokter. Tapi keberpihakan jarang kepada dokter. Media dan masyarakat lebih senang jika mendengar bahwa dokter melakukan malpraktik.

Jika menjadi dokter, bersiaplah untuk menghadapi hal-hal seperti ini.

  1. Waktu untuk Pribadi dan Keluarga Harus Rela Dikorbankan Demi Pasien
Dokter Operasi

Dokter Operasi (sumber: http://assets.kompas.com/)

Menurut saya, dokter ialah orang yang paling bisa memberikan excuse jika minimnya waktu yang diberikan untuk keluarga. Seorang pebisnis atau pegawai kantor banyak mendapat nasihat untuk mengutamakan keluarga karena mereka lebih berharga daripada pekerjaan. Tapi bagaimana dengan dokter? Bisakah menelantarkan orang sakit yang butuh bantuannya demi keluarga?

Dengan menjadi dokter, maka harus siap memiliki waktu yang sedikit untuk pribadi dan keluarga. Pun jika memiliki suami/istri/orang tua dokter, tidak perlu heran mereka pergi sangat pagi dan pulang sangat malam setiap harinya. Jaga malam, on call, dipanggil ke sana ke sini, operasi mendadak, kehangatan makan malam yang harus terganggu karena ada telepon dari RS, dll.

  1. Jangan Pernah Berpikir Ingin Menjadi Dokter Supaya Kaya
stethoscope-hand-money

Dokter dan Uang (sumber: http://www.cloudcontractmodeling.com/)

Kenyataan tidak seindah apa yang dibayangkan. Dokter internsip hanya bergaji 2.5 juta/bulan (belum dipotong pajak). Dokter umum, jika buka praktek pribadi atau bekerja di RS, pemasukannya standar gaji pegawai kantoran

Penghasilan lebih besar bisa didapat jika menjadi dokter spesialis. Kesan elegan dan berduit mungkin melekat pada dokter spesialis. Tapi tidak juga. Di era BPJS ini, jasa medis sangat sangat kecil untuk dokter spesialis. Biaya operasi yang normalnya memakan biaya belasan atau puluhan juta, hanya dihargai tidak sampai sepuluh juta oleh BPJS. Jika JKN teraplikasi sepenuhnya, maka praktek dokter spesialis ga akan laku: semua pasien harus ke praktek umum dulu dan meminta rujukan untuk menghadap dokter spesialis. Kalau mendapat pasien, ya tadi, jasa medis amatlah jauh dari ekspektasi. Kita belum berbicara proses sekolah dokter spesialis yang mahal, lama, dan sangat berat….

Percayalah, jika niatnya supaya banyak uang, lebih baik menjadi pengusaha. Sangat disayangkan jika seluruh tantangan di atas dihadapi hanya demi uang.

Jika telah membulatkan tekad ingin menjadi dokter, niatkan lah karena memang memiliki passion di profesi kesehatan, atau karena memiliki niat beramal sesuai dengan profesinya, atau karena ingin melihat senyum pasien yang telah berhasil diobati.

Jika memiliki niat mulia, maka kesulitan-kesulitan seperti yang disebutkan di atas, insyaAllah, akan dapat dilewati dengan senyuman.

Categories: gumam sendiri, kesehatan | Tags: , , , , , , | 29 Comments

Dokter yang Baik Itu Masih Banyak

investigasi tempo

investigasi tempo

Baru-baru ini saya dikejutkan oleh broadcast gambar yang menunjukkan bocoran isi majalah tempo yang akan terbit. Pada konten investigasi, tertulis besar judul “Jejak Suap Resep Obat”.

Broadcast tersebut cukup menyebar luas di kalangan dokter. Entah dari mana asal gambar tersebut, tapi tampaknya benar-benar menunjukkan isi dari majalah tempo yang akan terbit nanti.

Kolom investigasi tersebut berisi kurang lebih tentang maraknya kasus suap atau “gratifikasi” yang dilakukan perusahaan farmasi kepada para dokter dan rumah sakit. Disebutkan bahwa sebuah redaksi majalah tempo memiliki berkas berupa Microsoft excel yang berisi tentang jumlah uang atau servis yang diberikan kepada beberapa dokter dan rumah sakit. Tiap dokter menerima uang antara 5 juta – 1 milyar. Ada juga dokter-dokter yang mendapat servis tertentu seperti pembiayaan nonton balapan F1, pembelian mobil, sponsorship untuk mengikuti symposium atau seminar, dan lain-lain.

Entah dari mana tempo mendapatkan file milik sebuah perusahaan farmasi tersebut, tidak dijelaskan di artikelnya. Tertulis di dokumen itu bahwa sang perusahaan mengeluarkan 131 miliar rupiah selama 3 tahun untuk pemberian uang atau servis yang disebutkan di atas. Artikel tersebut juga menuliskan pernyataan seorang guru besar farmakologi sebuah universitas negeri bahwa biaya untuk menservis dokter mencapai 45% dari harga obat. Akibatnya, harga obat menjadi mahal.

Sebelum artikel ini, sempat beredar juga di media social tulisan sebuah blog mengenai kerja sama antara dokter dengan perusahaan farmasi yang diperantarai oleh orang-orang yang bertugas memberikan informasi suatu produk obat kepada dokter secara langsung, disebut dengan medical representative atau medrep. Perusahaan farmasi melalui medprep menjanjikan servis bagi dokter, apakah itu uang tunai, mobil, sponsor kegiatan symposium, atau yang lainnya dengan syarat sang dokter menuliskan resep obat dari perusahaannya hingga mencapai suatu target tertentu. Jika seorang dokter mendapat uang atau servis senilai sekian, maka dokter tersebut mesti menuliskan resep obat hingga mencapai lima kali lipat biaya servis tersebut.

Artikel tentang ini rencananya akan dimuat di majalah tempo tanggal 8 November 2015. Tidak tahu kenapa tiba-tiba media tersebut mengangkat tema tentang ini. Saya juga sebenarnya bertanya apakah tempo sudah mendapat izin untuk memasang foto-foto dokter yang disebutkan di dalam artikelnya dari pihak terkait.

Benarkah kondisi yang diceritakan tersebut?

Saya sebagai dokter baru tidak bisa memastikannya. Keadaan-keadaan di atas belum pernah dialami.

Memang sebuah rumah sakit banyak dipenuhi oleh para medrep yang bertugas menawarkan suatu produk obat kepada para dokter. Itu adalah tugas mereka. Ketika tengah menjalani program internsip, beberapa kali medrep pun datang kepada saya. Keadaan yang cukup mengherankan bahwa dokter yang masih internsip pun sudah menjadi sasaran para medrep.

Apa yang saya pahami adalah para medrep tersebut sedang menjalani tugas dan mencari nafkah. Sejujurnya apa yang disampaikan oleh mereka tidak menarik minat dan saya agak malas mendengarkannya. Namun saya mengerti, tanda tangan seorang dokter akan sangat bermakna bagi pekerjaan mereka. Sering para dokter ketika didatangi medrep mereka langsung tanda tangan tanpa mendengarkan penjelasan apa-apa terlebih dulu, sekedar untuk membantu para medrep tersebut. Yah, saya meniatkan tanda tangan untuk membantunya, tanpa ada keinginan sama sekali untuk menjalin kerja sama atau kesepakatan dengan pihak-pihak tertentu. Walau, hingga saat ini tidak ada yang datang untuk menawarkan keja sama. Ya tidak apa-apa sih, tidak berminat juga, heheh.

Umumnya Pasien Sendiri yang Minta Diresepkan Obat Bermerk/Paten

Perlu dipahami bahwa ketika seorang dokter meresepkan obat, hal itu dilakukan melalui berbagai pertimbangan. Banyak hal yang harus dipikirkan ketika menulis resep, tidak hanya apakah obat tersebut efektif menyembuhkan. Efek samping dan kontra indikasi juga perlu dipikirkan, terutama bagi pasien-pasien khusus seperti wanita hamil atau yang memiliki riwayat alergi.

Selain itu, salah satu faktor yang perlu dipikirkan juga ialah soal keekonomian. Dokter harus paham kisaran harga suatu obat dan kondisi ekonomi pasien yang dihadapinya. Tentu tidak sopan bila seorang dokter menanyakan penghasilan per bulan pasien. Itulah seni menjadi dokter—kemampuan menilai pasien secara kasar dan komunikasi yang baik harus dimiliki.

Adalah hal yang mustahil jika pasien tidak mampu—yang terlihat secara kasar dari penampilan luar—diresepkan obat paten yang begitu mahal. Apalagi pasien jamkesmas/BPJS. Lembaga jaminan sosial hanya mau membayar klaim obat-obatan yang terdaftar di formularium BPJS.

Bukan hal yang jarang pasien yang mampu alias menengah ke atas atau sebut saja kaya raya meminta obat paten atau bermerk. Apa jadinya jika orang-orang perlente diberi obat generik? Biasanya mereka kecewa dan minta digantikan dengan yang paten. Atau, setelah keluar dari ruang pemeriksaan muncul gossip seorang dokter yang dianggap tidak kompeten karena meresepkan obat generik. Tidak perlu menjadi kaya untuk menjadi demikian, pasien dengan penghasilan yang pas, jika berkunjung ke dokter spesialis, rata-rata akan meminta obat paten/merk.

Itu adalah kondisi nyata masyarakat saat ini. Diyakini bahwa obat paten dan bermerk lebih efektif menyembuhkan. Kondisi psikologis dapat berperan di sini. Saat mendapat obat paten, pasien merasa yakin akan sembuh, akhirnya pemikiran positif itulah yang mendorong tubuhnya untuk merespon kinerja obat lebih baik. Sebaliknya, prasangka yang buruk ketika mendapat obat generik mendorong dirinya sendiri untuk yakin bahwa ia tidak akan sembuh.

Apakah memang obat paten atau bermerk lebih efektif? Setidaknya pengalaman dan data-data empiris memang menunjukkan obat bermerk dapat lebih superior ketimbang generik.

Pasien Berhak Sepenuhnya Menentukan Pengobatan Atas Dirinya

Jadilah pasien cerdas. Tanyakan kepada dokter penyakit apa yang sedang dialami, apa penyebabnya, apa factor resikonya, apa saja pilihan-pilihan pengobatannya, apa pilihan terbaik, dan bagaimana peluang untuk sembuhnya. Jika Anda menderita penyakit jantung padahal baru berusia 30-an, dokter mungkin akan menyatakan bahwa sang penyakit disebabkan oleh rokok. Maka berhentilah merokok.

Pasien pun berhak meminta kepada dokter bila ingin diresepkan obat generic. Mungkin sang dokter akan mengatakan bahwa obat paten yang diresepkan memiliki nilai efektivitas yang lebih baik. Namun, jika pasien tetap ingin diresepkan obat generic, maka akan diganti saat itu juga. Dokter tidak akan pernah memaksa pasien untuk membeli obat paten/bermerk.

Sebelumnya saya pernah menulis tentang hak-hak pasien ketika berobat ke dokter, silakan jika ingin mampir di sini: Hak Pasien Ketika Berobat 😀

Apalagi Saat Ini Kita Hidup di Era BPJS

Sudahkah Anda daftar BPJS?

Sistem Jaminan Kesehatan Nasional atau JKN yang diselenggarakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial atau BPJS menjamin setiap warga negara yang mendaftarkan diri di sistem tersebut untuk mendapatkan pelayanan kesehatan—sesuai dengan prosedur yang diberlakukan oleh BPJS. Sistem asuransi ini seperti subsidi silang—iuran premi dari warga yang berduit mensubsidi warga miskin yang tidak perlu bayar premi namun tetap mendapat pelayanan. Tentu pemerintah juga mengalokasikan anggaran untuk mensubsidi warga miskin.

Ketika sakit, peserta BPJS tidak perlu membayar biaya pemeriksaan, pengobatan, dan obat-obatan. Kesemuanya akan dibayarkan oleh BPJS.

Penting diketahui bahwa BPJS hanya membayar klaim bila sesuai prosedur yang ditetapkan atau bila obat-obatan yang diresepkan sesuai dengan formularium BPJS—yang kebanyakan ialah generik. Contoh, jika seorang pasien ingin melahirkan, dan ia lahir secara normal tanpa ada komplikasi, maka BPJS hanya mau membayarkan jika proses persalinan dilakukan di puskesmas atau fasilitas kesehatan tingkat pertama. Begitu pula jika menderita demam berdarah tanpa adanya komplikasi shock/renjatan, BPJS tidak akan mau membayarkan pasien yang berobat ke rumah sakit atau ke spesialis. Demam berdarah tanpa renjatan dianggap bisa ditangani di puskesmas atau fasilitas yang setara.

Begitu pula dengan obat-obatan. Bila dokter meresepkan obat bermerk yang mahal dan tidak ada di formularium, atau ada namun tidak sesuai indikasi, BPJS tidak akan mau membayarkan. Akibatnya, rumah sakit akan rugi. Sehingga, bagi Anda pasien BPJS, tidak perlu khawatir soal resep obat-obat yang mahal.

Bagaimana penerapan BPJS hingga saat ini?

BPJS selalu merugi. Semenjak sistem diberlakukan, lembaga ini selalu terancam bangkrut. Penyebabnya ada beberapa. Di antaranya adalah banyaknya warga yang mampu dan sedang dalam kondisi sehat tidak mau mendaftar. Kebanyakan peserta sistem ini adalah warga miskin yang ditanggung oleh pemerintah dan mereka yang memiliki penyakit kronis sehingga secara rutin akan terus berobat. Sisanya adalah orang sehat yang hanya mendaftar ketika sakit. Setelah sakitnya sembuh, enggan untuk melanjutkan iuran per bulannya.

Kondisi ini diperparah dengan rendahnya angka premi yang ditetapkan. Jika ingin menaikkan premi demi meningkatkan kualitas pelayanan, masyarakat beserta para anggota dewannya pun protes. Bensin, tariff listrik, tabung gas, dan harga-harga komoditas boleh naik, namun biaya kesehatan dan jasa dokter tidak boleh—karena tugas tenaga kesehatan untuk mengabdi.

Tidak perlu bertanya mengenai kondisi dokter di era BPJS. Pihak yang paling rugi di era ini adalah para dokter bedah. Biaya operasi yang ditanggung oleh BPJS sangat rendah sehingga biaya yang banyak ditekan ialah jasa medis dokter. Tapi tak mengapa. Tugas dokter adalah mengabdi.

Dan banyak suara-suara protes dan tidak puas mengenani sistem jaminan sosial negara kita yang baru berjalan hampir 2 tahun ini. Jika tempo memiliki itikad baik untuk mengupas permasalahan kesehatan di Indonesia, seharusnya mereka banyak menulis tentang BPJS dan JKN.

Dan Dokter yang Baik Itu Masih Banyak

Tak terhitung malah.

Kita mungkin pernah mendengar kisah dokter Lo asal Solo. Ia membuka praktek tanpa sekalipun menetapkan tariff. Setiap pasien dibebaskan untuk membayar sesuai kemampuan. Menurut pengakuan beliau, setiap harinya sekitar 70% pasien tidak membayar karena tidak mampu. (kisah dokter Lo bisa dilihat di sini)

Mungkin kita juga pernah membaca berita tentang meninggalnya seorang dokter yang tengah bertugas di Papua akibat malaria ganas. Ya, kehadirannya seharusnya menyembuhkan orang-orang dari malaria, namun ternyata dokter sendiri tidak bisa menjamin dirinya selamat dari penyakit mematikan itu. Hanya tujuan mulia lah yang membawanya ke provinsi paling timur negara ini. Sebenarnya kontrak kerjanya sudah habis, namun ia memperpanjangnya sendiri karena masih mengabdi di bumi cenderawasih. (silakan cek di sini)

Juga kisah-kisah lainnya. Ketika kuliah, saya pernah mendengar senior yang tewas ketika tengah merujuk pasien karena mobilnya masuk jurang. Juga kisah para dokter yang rela bertugas di daerah-daerah sangat terpencil. Di sana sini banyak cerita, bahwa banyak warga-warga tidak mampu yang membayar jasa dokter dengan hewan ternak atau hasil panen. Dokter pun menerimanya dengan senang hati. Bahkan ketika pasien datang kembali hanya untuk menceritakan bahwa ia telah sembuh, itu seudah menjadi kebahagiaan bagi dokter karena ia berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik.

Pun jika pasien berterus terang ia tidak bisa membayar. Apa yang bisa dokter lakukan? Apakah menarik semua pemeriksaan yang telah dilakukan? Atau menuntutnya ke pengadilan karena tidak bisa membayar? Tentu ia dibebaskan dari biaya jasa dokter dan hanya perlu membayar obat. Itu pun tidak perlu dilakukan jika ia terdaftar di jamkesmas atau BPJS.

Apakah mungkin dokter menarik untuk dari pasien yang tidak mampu?

Apa pun Kata Media, Dokter Akan Terus Melayani

Dokter atau tenaga kesehatan atau rumah sakit sering kali dijadikan sebagai peran antagonis di media-media. Ketika ada orang yang tidak bisa dirawat karena tidak memenuhi syarat BPJS, akan diberitakan RS menolak pasien. Dokter yang sudah menjalani prosedur tetap namun tetap tidak bisa menyelematkan pasien akibat kondisi tak terduga, semisal emboli, diberitakan bahwa dokter malpraktik. Pun saat dokter mengeluhkan sistem BPJS yang masih belum baik, dikatakan dokter itu komersil atau hanya ingin mencari untung saja.

Sulit dimengerti mengapa media sering membuat berita tanpa melakukan konfirmasi terlebih dulu. Atau, sudah melakukan konfirmasi tanpa penjelasan yang ditulis hanya sepotong.

Tapi tak mengapa. Pemberitaan-pemberitaan yang ada tak akan membuat dokter pundung. Masih ingat ketika para dokter demo kasus dr. Ayu SpOG? IGD tetap buka. Operasi gawat darurat tetap dilakukan. Ada teman yang bercerita ketika ia tengah mengikuti demonstrasi, ia mendengar seorang dokter yang juga ikut demo menerima telpon dari RS, dan dokter tersebut langsung meluncur ke RS karena ada operasi gawat darurat.

Yap. Karena itu para teman sejawat, biarlah anjing menggonggong namun kita tetap memberikan pelayanan sesuai dengan sumpah yang pernah kita ucapkan 🙂

Categories: gumam sendiri, kesehatan | Tags: , , , , | 5 Comments

Paranoid Belajar dan Long Life Learning

Terus Menerus Belajar Merupakan Tuntutan bagi Setiap Dokter agar Dapat Memberikan Pelayanan Terbaik

Suatu siang hari di hari libur di pertengahan tahun 2009, beberapa mahasiswa FK Unpad tengah berkumpul di ruang kuliah. Mereka sedang tidak kuliah, tentu saja, karena hari libur. Waktu libur banyak digunakan untuk kegiatan-kegiatan kemahasiswaan; itulah yang sedang kami lakukan saat itu.

Saya tidak ingat persis ketika itu sedang kegiatan apa—semacam pelatihan manajemen dan organisasi untuk pengurus senat mahasiswa. Kegiatan dilakukan di hari Sabtu-Minggu—menginap—dan di hari Minggu siang, saya ikut duduk berkumpul dengan para panitia dan peserta di auditorium kuliah tersebut. Di tengah-tengah pembicaraan, salah satu pengurus senat senior mengangkat tangan dan berkata (kurang lebih), “Mahasiswa FK sekarang sedang mengalami paranoid belajar. Walaupun sudah berkali-kali buka buku, tetap saja dirasa tidak pernah cukup. Hal ini membuat mereka agak enggan untuk ikut kegiatan kemahasiswaan dan memilih hanya untuk belajar.”

Kegiatan Belajar yang “Tidak Pernah Cukup”

Jumlah pengurus senat yang ikut pelatihan tersebut memanglah tidak banyak—mungkin kurang dari setengah total pengurusnya. Wajar, karena saat itu sedang menjelang musim ujian. Sebagaimana suasana kampus pada umumnya, masa-masa dekat ujian merupakan waktu yang paling suram. Khusus bagi mahasiswa FK Unpad, terdapat ujian presentasi kasus di hadapan dua penguji yang bobotnya sebesar 40% dari seluruh nilai. Jika nilai ujian tersebut jatuh, maka jatuhlah seluruh nilai di semester tersebut.

Bagi orang-orang luar, mahasiswa FK mungkin dianggap tidak membaur, menutup diri, dan eksklusif. Setiap kali saya bertanya ke mahasiswa FK dari universitas lain apakah mereka dicap “eksklusif” oleh mahasiswa dari fakultas lain, jawabannya adalah iya. Buku tebal, kuliah yang padat, dan “tiada hari tanpa belajar” mungkin identik dengan mahasiswa FK. Terlebih kurikulum yang diterapkan saat ini adalah problem based learning (PBL) yang menuntut mahasiswa untuk banyak belajar sendiri ketimbang menerima kuliah.

Berkali-kali buka buku, baca slide materi kuliah, membuat tugas; rasanya ada saja yang kurang. Ketika mendapat suatu tugas untuk mempresentasikan suatu materi, lalu mendiskusikannya ke teman-teman satu kelompok tutorial, hal tersebut tidaklah cukup. Sulitnya untuk mengerti materi yang disampaikan oleh teman atau yang disampaikan sendiri adalah satu hal. Hal lain adalah banyak informasi yang telah disampaikan ternyata tidaklah cukup sebagai bekal untuk menghadapi ujian nanti. Rasanya banyak sekali, bahkan tak ada habisnya, materi yang belum dipelajari namun sepertinya akan keluar di waktu ujian.

Mungkin faktor kurikulum PBL yang meminta mahasiswa untuk mencari informasi dan belajar sendiri membuat seolah kaburnya batasan yang perlu dipelajari. Terlebih, para dosen selalu berpesan kepada mahasiswa untuk tak pernah puas dalam mencari tahu, dan menekankan bahwa tak ada batasan ruang lingkup materi untuk dipelajari. Hal ini rasanya sangat berbeda dibanding masa sekolah yang sang guru memberikan batasan bahan ujian kepada para mahasiswa.

Namun Dokter Sangat Dituntut untuk Terus Belajar

Tapi memang sistem pendidikan yang diterima ketika kuliah dahulu tidaklah salah—bahkan sangat benar. Ini benar-benar disadari ketika saya sudah bekerja menjadi dokter (walau saat ini masih sebatas dokter internship). Ilmu kedokteran benar-benar tidak memiliki batasan. Tidak ada template yang benar-benar baku saat menangani pasien. Walau ada guideline, ada keadaan tertentu yang membuatnya tidak bisa diaplikasikan. Kondisi penyakit banyak yang tidak khas sesuai dengan di buku. Banyak pula suatu penyakit yang “menyamar” sehingga terlihat seperti penyakit lain. Terlebih, kondisi-kondisi medis yang pernah dipelajari ketika kuliah hanyalah secuil dari kasus-kasus nyata yang ditemukan.

Saat ngobrol dengan dokter-dokter internship lulusan universitas lain, banyak istilah medis atau penyakit atau guideline penatalaksanaan yang saya baru dengar. Begitu pun sebaliknya, ada informasi yang saya ketahui namun mereka baru mendengarnya (walau lebih banyak yang saya tidak tahu karena waktu kuliah dulu sering skip :p). Teori-teori yang ada di buku tidak semuanya dilakukan di lapangan nyata, apalagi di rumah sakit daerah yang ketersediaan peralatan medis tidak selengkap di kota besar. Tiap rumah sakit atau dokter spesialis juga punya kebiasaan atau pilihan yang berbeda antara satu dengan yang lain dalam menghadapi kasus yang sama.

Ketika pertama kali mulai bekerja di rumah sakit, maka keadaannya bisa ditebak: saya banyak bingung, banyak salah dalam penanganan, banyak dikritik oleh rekan kerja yang lain, dan juga kondisi pamungkas TIBO (tiba-tiba bodoh). Beruntung, status saya masih dokter internship: walau sudah dianggap dokter yang kompeten, masih diberikan pendampingan atau bimbingan oleh dokter-dokter umum senior dan spesialis.

Banyaknya kebingungan dan ketidaktahuan saat bekerja ini melahirkan kembali kegelisahan dahulu yang disebut dengan paranoid. Selesainya kuliah kedokteran selama 5-6 tahun tidak berarti bahwa proses belajar sudah selesai. Sebaliknya, dengan banyak bertemu dan menangani pasien langsung oleh diri sendiri semakin menyadarkan untuk terus dan tak pernah habisnya belajar. Apalagi yang ditangani bukan mesin, bukanlah benda mati, juga bukan makhluk bernyawa bernama hewan, melainkan manusia.

Saya pernah membaca buku karangan seorang professor dari FK Unpad yang berjudul “Playing God”.  Buku yang berisikan pengalaman-pengalaman berharga ini memiliki bagian yang menyebutkan bahwa sang professor kebingungan dalam menangani seorang pasien karena kondisinya yang rumit. Professor itu pun harus “mengurung diri di perpustakaan” dan “membuka berbagai literatur”. Ya, bahkan seorang dokter dengan gelar akademis tertinggi pun masih harus membuka literatur untuk menangani kasus yang sulit.

Setelah berada di lapangan inilah saya benar-benar memahami apa yang disebut dengan long life learning. Saya pun mulai mengangguk ketika dahulu dosen meminta untuk tidak pernah puas mencari tahu dan tidak memiliki batasan dalam belajar.

Menumbuhkan Pembiasaan

Lamanya waktu studi untuk menjadi dokter dan bagi residen untuk menjadi dokter spesialis juga mulai bisa dimengerti. Rata-rata untuk menjadi dokter spesialis, dibutuhkan sekolah selama 5 tahun; waktu yang sangat lama bila dibandingkan dengan sekolah magister selama 2 tahun dan doktor selama 4 tahun. Ibu saya, seorang dokter spesialis anak, bilang bahwa sekolah spesialis itu lama karena untuk menumbuhkan “pembiasaan”.

Seorang dokter umum yang sudah lama bekerja di rumah sakit terbiasa untuk menangani pasien sesuai dengan guideline rumah sakit tersebut. Pekerjaan juga akan menuntutnya untuk membuka kembali literatur dan berkonsultasi ke dokter spesialis. Jam terbang yang tinggi dan ilmu yang terus-menerus dipakai membuatnya terbiasa untuk bekerja dengan cepat. Hal yang berbeda terjadi bagi dokter baru yang baru saja lulus dari universitas. Pengalaman praktek yang minim membuatnya butuh untuk beradaptasi.

Karena hal inilah saya merasa program “dokter internship” sangat bermanfaat. Tujuan dari program ini adalah untuk “pemahiran” bagi dokter-dokter yang baru saja lulus. Selama masa sekolah kebanyakan dokter baru belum pernah memegang dan menangani pasien sendiri, sehingga minim pengalaman. Melalui program internship, dokter-dokter baru memulai pengalamannya dengan pendampingan dokter senior. Ini menepis anggapan sebagian orang bahwa program internship tidaklah diperlukan. Terlepas dari berbagai kekurangan yang ada, seperti terbatasnya anggaran, jumlah wahana yang sedikit dibandingkan dengan jumlah dokter baru, dan gaji dokter internship yang sangat tidak layak, program pemahiran dan pembiasaan ini dapat menjadi bekal yang sangat berharga untuk bekerja secara benar-benar mandiri kelak.

Membedakan Paranoid Belajar dengan Long Life Learning

Walaupun terbiasa, kebutuhan untuk terus membuka buku dan belajar tidak bisa dinafikan. Ilmu kedokteran tidaklah bersifat kaku melainkan terus berkembang. Ada banyak kondisi medis yang sifatnya belum banyak diketahui. Begitu pun pengobatan untuk beberapa penyakit yang hingga saat ini belum menemukan standar yang memuaskan. Penelitian di bidang keodokteran terus dikembangkan agar dapat memberikan pelayanan yang maksimal. Setiap dokter wajib untuk meng-update ilmu pengetahuannya dengan mengikuti simposium atau workshop yang memaparkan informasi dan ilmu berdasarkan penelitian terbaru.

Keikutsertaan dalam kegiatan ilmiah ini menjadi syarat bagi setiap dokter agar dapat memperpanjang surat tanda registrasinya. Inilah mengapa pendidikan kedokteran disebut dengan long life learning.

Karena bersifat seumur hidup, terus belajar dan menggali ilmu pengetahuan bukan hanya merupakan kewajiban tapi juga “kebutuhan”. Karena kebutuhan, diperlukan sebuah pengaturan agar kegiatan belajar bersama kebutuhan-kebutuhan yang lain, seperti makan, tidur, rekreasi, dan berkeluarga, dapat terpenuhi. Kita bisa melihat seorang yang disebut berhasil dalam hidupnya ialah yang mampu mengelola kebutuhan hidupnya sehingga terpenuhi dan mengontrol dirinya dari keinginan-keinginanan yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Proses learning perlu dikelola sedemikian rupa agar tidak bersifat sporadis sehingga hasil pembelajaran yang didapat menjadi optimal.

Kemampuan untuk mengorganisasi kebutuhan tersebut dengan baik akan membedakan seorang yang paranoid belajar dengan long life learning. Penderita paranoid belajar akan menganggap bahwa proses belajar merupakan sebuah paksaan yang bersifat menyakitkan, berbeda dengan long life learner yang menyadarinya sebagai kebutuhan. Seorang yang belajar karena keterpaksaan dan karena kebutuhan tentu akan memiliki output yang berbeda.

Long life learning sangatlah dibutuhkan bagi manusia, terutama bagi para dokter agar dapat menjalankan profesinya dengan baik. Kebutuhan ini perlu ditanamkan sejak masa mahasiswa—saya pun menjadi sadar mengapa ketika kuliah dulu lebih banyak ditekankan untuk belajar sendiri ketimbang diberi kuliah. Jika mampu mengubah sudut pandang paranoid belajar menjadi long life learning, maka tidak perlu khawatir para pengurus organisasi senat mahasiswa meninggalkan amanahnya walaupun sedang dalam masa menjelang ujian.

Categories: gumam sendiri, pembelajaran | Leave a comment

Romantisme 10 Malam Terakhir

Sangat dianjurkan bagi setiap muslim untuk meraih malam qadar. Berdasarkan hadis-hadis yang ada, Rasulullah saw. mengindikasikan bahwa malam tersebut berada di malam ganjil 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Dan di antara malam-malam ganjil tersebut, waktu yang paling besar kemungkinannya ialah malam 25, 27, dan 29.

“Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malma terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Cariah lailatur qadar di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan pada Sembilan, tujuh, dan lima malam yang tersisa.” (HR. Bukhari)

Sangat dianjurkan untuk beri’tikaf di 10 malam terakhir Ramadhan. Untuk mendapatkan malam qadar memang tidak disyaratkan untuk beri’tikaf, misalnya bagi wanita yang tidak diizinkan untuk I’tikaf oleh suaminya, insyaAllah ia tetap bisa mendapatkan malam kemuliaan dengan menegakkan solat di rumahnya. Meski demikian, bagi yang mampu sangat dianjurkan untuk mengerjakannya.

“Rasulullah saw selalu mengerjakan I’tikaf pada sepuluh hari yang terakhir Ramadhan, sampai saat beliau wafat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

I’tikaf merupakan amal ibadah dan momen yang sangat dirindukan. Saat itu ialah ketika orang-orang berkumpul memenuhi masjid, tilawah Al Quran, mengkaji Al Quran, dan berdiri tegak untuk solat. Mungkin tidak ada momen ketika masjid begitu penuh terisi manusia untuk membaca Al Quran dan mengerjakan solat malam selain i’tikaf di 10 malam terakhir.

Saya ingin berbagi pengalaman I’tikaf sepanjang hidup hingga saat ini. Selama berada di Bandung, seingat saya hanya ada 2 masjid yang pernah saya singgahi untuk I’tikaf. Maklum, saya tipe yang kalau sudah nyaman di satu tempat sulit untuk move on. Kedua masjid itu ialah Masjid Habiburrahman yang sudah disebutkan sebelumnya dan Masjid AnNur PT Biofarma.

Menikmati Elegannya Masjid An Nur PT Biofarma

Masjid ini terbilang baru. Saya ingat masjid An Nur mulai fungsional digunakan ketika menjalani program studi profesi dokter (koas) tahun 2012. Ukurannya begitu mencolok untuk masjid sebuah perusahaan, bahkan termasuk masjid megah bila dibandingkan dengan masjid-masjid yang ada di Bandung. Sulit terpikirkan bahwa masjid yang tujuannya digunakan oleh para karyawannya untuk melaksanakan solat di waktu istirahat siang bisa sebesar itu.

Masjid An Nur PT Biofarma

Masjid An Nur PT Biofarma

Semenjak awal didirikan, masjid An Nur mulai melaksanakan kegiatan-kegaitan syiar yang sifatnya terbuka untuk umum. Salah satu agenda syiar yang pertama kali dilakukan ialah I’tikaf di tahun 2012. Ketika saya pertama kali I’tikaf, di tahun 2008, masjid yang mengadakan I’tikaf di Bandung belum terlalu banyak. Masjid-masjid tersebut di antaranya ialah Habiburrahman, Salman ITB, Daarut Tauhid, dan Al Hikmah PT Telkom. Ketika An Nur mengadakan I’tikaf untuk pertama kalinya, di tahun 2012, masih banyak yang belum tahu dan pesertanya masih sedikit.

Saya datang di waktu isya. Jamaah mengadakan solat isya, ceramah taraweh, dan solat taraweh seperti biasa. Selesai taraweh, tidak ada acara khusus. Masing-masing peserta I’tikaf mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah masing-masing. Kemudian, waktu tidur pun hampir tiba.

Di saat itulah An Nur mulai memberikan kesan pertamanya. Pihak panitia membagian bantal! Saya yakin belum ada masjid lain yang menyediakan bantal untuk tidur peserta I’tikaf. Sontak seluruh peserta terkejut dan kegirangan.

Bantal untuk peserta i'tikaf

Bantal untuk peserta i’tikaf

Hanya saja, pembagian bantal tersebut hanya dilakukan di I’tikaf tahun 2012. Di tahun-tahun selanjutnya, popularitas An Nur meningkat, peserta semakin membludak; entah bantalnya rusak atau jumlahnya tidak mencukupi, tidak ada lagi bagi-bagi bantal. Syukur saya termasuk salah satu yang pernah menikmati bantal An Nur 😀

Peserta mulai bangun sekitar jam 2 atau 3 malam. Pihak panitia mengadakan qiyamulail berjamaah. Saat itu belum ada target bacaan surat sekian juz untuk qiyamulail. Imam membaca surat-surat yang memang tidak memiliki target tertentu. Kini, An Nur rutin mengadakan qiyamulail satu malam satu juz, atau total 10 malam I’tikaf qiyamulail sebanyak 10 juz. Alhamdulillah.

Kejutan selanjutnya pun muncul ketika qiyamulail selesai dilaksanakan. Saat pertama kali I’tikaf di An Nur, saya tidak membawa bekal sahur, berencana untuk pergi keluar cari makan seadanya. Tapi ternyata panitia datang membawa kotak-kotak makanan. Kotak-kotak itu pun dibagikan, dan ternyata di kotak itu bertuliskan “Nasi Pada Simpang Raya”, ada juga yang bertuliskan “McD”! Dibagikan cuma-cuma! Kami semua pun terkekeh dan mengembangkan senyum lebar sembari menikmati santap sahur.

Menu sahur

Menu sahur

Kini penyelenggaraan I’tkaf An Nur semakin terorganisasi dengan baik. Jadwal penceramah taraweh dan tausiyah subuh disusun dengan terencana, tak jarang pula mengundang ustadz kondang di Bandung, semisal ust. Darlis. Bahkan pernah juga An Nur mendatangkan syaikh dari Palestina yang sedang melakukan safari Ramadan. Acara qiyamulail pun diimami oleh santri tahfidz Quran dari Habiburrahman, dan setiap malam seluruh peserta berdiri berjamaah mendengarkan lantunan ayat Al Quran sebanyak 1 juz. Walaupun tidak pernah berdiam di dalam masjid An Nur hingga siang atau sore hari, saya mendengar bahwa di waktu siang dan sore pun diisi dengen aktivitas seperti kajian.

Semakin baiknya pelaksanaan I’tikaf, diisinya dengan aktivitas-aktivitas yang berbobot, berkualitasnya materi tausiyah dan penceramahnya, dan tentu saja buka puasa dan ifthor gratis, membuat kegiatan An Nur Biofarma semakin banyak peminat. Bahkan ada beberapa teman saya yang biasanya beri’tikaf di Habiburrahman beralih ke An Nur.

DKM An Nur Biofarma tidak hanya mengadakana kegiatan di bulan Ramadan. Di bulan-bulan biasa pun terkadang—mungkin program syi’ar bulanan—An Nur mengadakan kajian atau mabit mengundang pengisi-pengisi yang dikenal masyarakat, seperti walikota Bandung atau gubernur Jawa Barat.

Barakallahu para jajaran direksi PT Biofarma yang mau mengalokasikan dana sangat besar untuk masjid dan kegiata syi’ar Islam. Semoga Allah memberikan berkah kepada peusahaan dan para pekerja di dalamnya.

Habiburrahman yang Tak Mungkin Dilupakan

Masjid milik PT DI yang terletak di Bandara Husen Sastranegara Bandung merupakan lokasi I’tikaf primadona. Peserta I’tikaf tidak hanya berasa dari daerah Bandung, tapi juga dari kota-kota Jawa Barat sebelah timur seperti Kuningan dan Cirebon, bahkan seingat saya ada yang dari Sumatera dan Kalimantan! Ya, masjid yang mencetak para hafidz Quran ini merupakan pelopor pelaksana I’tikaf yang mengkhatamkan 30 juz Al Quran dalam qiyamulail-nya.

“Tempat I’tikafnya para ustadz”, begitulah Habiburrahman dikenal.

Saat saya baru masuk ke terasnya, atmosfer sudah dipenuhi oleh suara-suara tilawah; tidak hanya suara orang dewasa, tapi juga suara anak-anak. Karena selalu ramai, lapak dagangan pun banyak digelar di terasnya: ada yang jual buku bacaan islami, mushaf Al Quran, peci-sarung, parfum, cd murottal, dan makanan ringan.

Di teras masjid yang (insyaAllah) diberkahi tersebut juga dapat dilihat lingkaran-lingkaran kecil manusia. Tak jarang anak-anak sekolah berombongan ber’itikaf di sana. Ada juga yang di sela-sela waktu I’tikaf beberapa orang ikhwan dan akhawat mengadakan rapat atau syuro.

Ada juga di tepi sudut sana, seorang atau beberapa mahasiswa Fakultas Kedokteran membuka kertas flip chart, mengerjakan tugas learning objectives. Ada juga yang memegang buku atau kertas-kertas sambil ia memandanginya dengan serius, mempersiapkan diri untuk ujian esok harinya.

Salah satu yang khas dari masjid ini ialah disediakan area untuk mendirikan tenda. Peserta yang beri’tikaf bersama istri dan anak-anaknya banyak membawa dan membangun tenda di teras masjid. Benar-benar seperti bumi perkemahan.

Kamp pengungsi. Itu adalah kesan yang didapat saat melihat ke bagian utama masjid di jam 11 ke atas. Benar-benar berisi kerumunan manusia yang membaringkan diri. Sebelum jam 11, orang-orang melakukan berbagai macam hal di dalam. Kebanyakan sedang tilawah, ada sedang berdiri sambil bersedekap, ada juga yang menyengir sana-sini tengah berbincang hangat.

Suasana i'tikaf Habiburrahman

Suasana i’tikaf Habiburrahman

 

Banyaknya yang i'tikaf di habiburrahman, terutama di malam ganjil

Banyaknya yang i’tikaf di habiburrahman, terutama di malam ganjil

Saat saya ke Habiburrahman di masa mahasiswa, I’tikaf di Habib sudah sepeti reuni dengan teman-teman SMA. Ada saja wajah lama yang ditemui. Menanyakan kabar, apa kesibukannya, sudah menikah atau belum, saya beserta mereka turut serta menyengir dan berbincang.

Masjid Habiburrahman melayani para peserta yang ingin memesan makanan berbuka dan sahur. Tidak seperti An Nur yang memberikan secara gratis, panitia standby sekitar jam 15.30-17.00 untuk menerima pesanan berbuka dan jam 21.00-23.00 untuk melayani pemesanan sahur. Ada 4 macam jenis menu yang disedikan—kadang-kadang 3— dan tiap menu diwakili oleh kupon merah, kuning, biru, dan hijau. Saya ingat kalau kupon merah adalah menu nasi padang dan kupon hijau adalah menu nasi dan sayuran.

Tak perlu khawatir jika tidak sempat memesan makan ke panitia. Di area belakang masjid banyak pedagang kaki lima berjualan.

Panitia mulai mematikan lampu ruangan utama masjid jam 23.00. Para peserta yang masih ingin lanjut tilawah atau ngobrol atau lain-lain akan melanjutkannya di teras. Memang sebaiknya untuk segera tidur, karena para peserta akan dibangunkan jam 00.30, dan qiyamulail dilaksanakan jam 01.00

Itu adalah 3 juz, dan itu adalah berdiri di waktu malam sekitar 3 jam. Imam yang memimpin qiyamulail, ust. Abdul Aziz Abdur Rauf, mengucapkan ayat-ayat Al Quran penuh khidmat. Para makmum di belakang mendengarkan surat-surat panjang yang dibacakan, banyak yang berusaha mengikutinya dengan solat sambil membuka mushaf.

Kesan ketika pertama kali mengkuti QL tersebut ialah kaki pegal, telapak kaki terasa menebal, dan lutut bergetar. Kelopak mata terkadang menutup sedikit lalu membuka, dan mulut membuka lebar menelan oksigen. Setiap malamnya di masjid tersebut ialah begitu melelahkan.

Sekitar jam 4 kurang, witir dilaksanakan. Ketika imam di rakaat pertama membaca “sabbihisma robbikal a’la…” rasanya begitu lega. Maklum, karena di rakaat-rakaat sebelumnya bacaannya begitu panjang dan menguji kesabaran. Saat pertama kali ikut QL di sana, saya berpikir kelelahan telah berakhir di solat witir. Tapi ternyata tidak.

Di rakaat terakhir, saat I’tidal, imam membaca doa qunut. Dan bacaan doa qunut-nya terasa begitu panjang. Benar-benar panjang. Sebenarnya doa yang dibaca bernuansa kesedihan. Para makum yang kebanyakan mengerti bahasa arab turut menangis dengan khusyu. Sedangkan saya yang tidak paham, juga ikut khusyu…khusyu menahan rasa pegal :D.

Qiyamulail dimulai dari juz 1 di malam ke-21, dan berakhir di juz ke-30 pada malam ke-29, walau sekitar setengah juz atau lebih sudah dibacakan ketika taraweh. Di rakaat ke-8 di malam terakhir, ketika imam membaca surat An Naas, muncul keharuan di dalam benak para makmum—terutama bagi mereka yang benar-benar mengikuti I’tikaf dari hari pertama. Ya, akhirnya khatam Al Quran dalam 9 malam tersebut. Selesai membaca surat An Naas, imam melanjutkan dengan membaca doa; doa yang sangat panjang. Benar-benar panjang.

Berfoto dengan ust. Abdul Aziz Abdur Rauf pagi hari setelah QL terakhir, tahun 2011

Berfoto dengan ust. Abdul Aziz Abdur Rauf pagi hari setelah QL terakhir, tahun 2011

Sekarang mulai banyak masjid di Bandung yang mengadakan I’tikaf, tapi Habiburrahman takkan pernah bisa dilupakan. Ia adalah tempat kekhusyu’an, tempat kesabaran, dan tempat penuh kenangan.

Kini, di Selong, Lombok Timur

Sebagai daerah yang didominasi oleh Nahdhatul Wathan (NW, pecahan NU), seperti kebanyakan masjid NU, mereka tidak mengadakan I’tikaf—walau perayaan nuzulul Quran cukup ramai.

Ada dua masjid yang saya ketahui mengadakan I’tikaf, dua-duanya diselenggarakan oleh kader PKS. Para pesertanya pun kebanyakan (atau semuanya?) adalah para kader dan simpatisan PKS. Karena masjid yang dijadikan tempat I’tikaf tidak begitu besar, I’tikaf hanya dilakukan oleh kaum pria.

Lokasi masjid I’tikaf, yang saya dengar, berubah-ubah tiap tahunnya. Tahun ini, lokasi I’tikaf di selong ialah masjid khairu ummah yang berada di komplek DPD PKS Lombok TImur. I’tikaf di sini tidak menyelenggarakan QL berjamaah. Umumnya peserta bangun sekitar jam 3, lalu solat dan tilawah masing-masing.

DPD PKS lombok Timur

DPD PKS lombok Timur

Suasana i'tikaf di masjid khairu ummah

Suasana i’tikaf di masjid khairu ummah

Pemandangan yang menyejukkan 😊

Pemandangan yang menyejukkan 😊

Saya cukup salut dengan penyelenggaraan i’tikaf ini yang menyediakan buka puasa dan sahur gratis. Karena peserta tidak terlalu banyak, panitia membawa box-box yang berisi nasi, lauk, sayur, kerupuk, dll. Tentu saja ketika mengambil makanan—lauk terutama—harus dikira-kira agar seluruh peserta kebagian.

Walau peserta tidak banyak, suasana kekeluargaan benar-benar terasa di masjid yang tidak begitu luas ini.

———————————————————–

Apakah bila I’tikaf dilaksanakan sudah pasti akan mendapat lailatur qadr? Tidak ada yang menjamin. Bahkan seorang yang terbangun dan solat malam di rumahnya pun bisa mendapatkannya, jika Allah menghendaki.

Dapat atau tidaknya malam qadar, kita tidak tahu. Yang harus dilakukan hanyalah mengencangkan ibadah kita. Dan kita tidak boleh melupakana tujuan kita berpuasa Ramadan: bukan untuk ikut-ikutan, bukan untuk menurunkan berat badan, bukan untuk mendapatkan kehausan dan kelaparan; tapi untuk meraih peringkat taqwa.

Sudan sejauh manakah kita melangkah untuk menjadi pribadi bertaqwa semenjak hari pertama Ramadan? Sebesar apa progresnya?

Bulan Ramadan ialah bulan tarbiyyah. Dan layaknya proses pendidikan, hasil dari pendidikan sebulan Ramadan ini bisa dilihat dari bulan-bulan sesudahnya, apakah menjadi pribadi yang lebih berkualitas atau tidak.

Wallahu a’lam

Categories: gumam sendiri, merenung | Tags: , , | Leave a comment

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: