gajelas

Bertuhan Atas Dasar Iman atau Tradisi?

Pada malam itu, tampak banyak orang berbahagia. Jalan diisi oleh orang-orang pawai membawa obor dan bedug. Gema takbir menghiasi langit. Suasana di malam itu memang seharusnya dihiasi oleh aura kebahagiaan. Tak terkecuali bagi dokter yang sedang jaga IGD.

Yahh, hari apa pun, kondisi apa pun, pelayanan gawat darurat tetap harus diberikan. Istilah “tidak ada hari libur bagi tenaga kesehatan” sangat cocok menggambarkan malam itu. Ekspektasi awal, pasien yang datang akan sedikit. Maklum, pada malam atau hari lebaran, orang-orang enggan ke rumah sakit. Jika mereka sedang sakit, banyak yang menunda pergi ke RS karena ingin menikmati ketupat di rumah dulu. Begitu pula pasien-pasien di bangsal (ruang rawat inap), kebanyakan minta pulang atas permintaan sendiri alias pulang paksa.

Tapi ternyata tidak demikian. Berbondong-bondong pasien terus berdatangan. “Serangan” ini berlanjut hingga esok harinya. Jika biasanya jumlah pasien satu shift (7 jam) hanya 15 orang, kini jumlahnya mencapai 25 orang. Kasus yang banyak muncul pada waktu itu bisa ditebak: cedera kepala ringan. Kondisi cedera tersebut umum ditemukan pada korban kecelekaan lalu lintas, pengendara motor, tidak memakai helm, ugal-ugalan, dan/atau mabok.

Rasanya benar-benar miris, di malam hari raya, banyak yang ugal-ugalan bahkan mabok. Dan ini tidak hanya di RS tempat saya bekerja saja. Keluhan yang sama juga disuarakan di RS-RS lainnya. Entah maksud orang-orang ini ingin ikut “berhari raya” atau sekedar ikut-ikutan meramaikan malam itu—meramaikan yang membuat resah. Saya pun ragu orang-orang ini berpuasa Ramadan.

Hari raya adalah selebrasi yang diperintahkan oleh agama. Tuhan memerintahkan umat Islam untuk merayakannya dengan makan dan haram untuk berpuasa. Namun, dengan memandang kejadian seperti ini, saya menjadi bertanya, atas dasar apa kita merayakan hari raya? Apakah memang atas dasar keimanan, yaitu perintah dari Allah SWT, atau sekedar budaya atau tradisi?

Pertanyaan ini membawa kita kembali ke sebuah pertanyaan yang sangat klasik: adakah tempat bagi budaya dan tradisi dalam agama?

Perlu kita pahami bahwa agama bukan sekedar ritual ibadah seperti solat, puasa, dan haji. Ia adalah petunjuk hidup atau way of life yang diturunkan oleh Tuhan agar manusia selamat. Di dalamnya terdapat rambu-rambu yang perlu diperhatikan, mana yang wajib dikerjakan, sunnah dikerjakan, makruh untuk dikerjakan, dan tidak boleh dikerjakan. Adanya aturan-aturan tersebut bukan tanpa alasan: semuanya dimaksudkan agar manusia menempuh jalan yang selamat di dunia yang sementara ini maupuan dunia kekal nanti. Betapa sayangnya Allah pada manusia karena Ia mau memberikan petunjuk jalan agar kita selamat.

Segala sesuatu yang tidak bertentangan dengan rambu-rambu tersebut adalah hal yang mubah atau boleh, termasuk budaya atau tradisi. Selama ia tidak bertabrakan dengan apa yang dilarang oleh aturan syariat, maka ia sah-sah saja dikerjakan. Islam tidak menafikan suatu kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat secara turun-temurun sehingga menjadi tradisi dan budaya.

Tulisan ini tidak bermaksud memberikan fatwa, apakah budaya ini atau tradisi itu diperbolehkan atau tidak, haram atau tidak; tapi saya ingin merenung: kegiatan keagamaan kita selama ini dijalankan sebagai bentuk keimanan kita kepada Tuhan, atau sekedar mengikuti kebiasaan nenek moyang dan masyarakat sekitar belaka? Juga alasan kita beragama, apakah benar-benar karena iman kepada Allah SWT dan Rasulullah saw., atau karena mengikuti budaya beragama?

Islam turun ke muka bumi untuk semua umat, semua manusia, entah dia di belahan utara, belahan selatan, timur, tengah, atau barat. Jalan hidup ini ditujukan dan sesuai untuk semua manusia planet bumi ini. Begitu pula ia berlaku untuk selamanya, tidak akan ada lagi agama atau wahyu yang turun setelahnya. Tidak seperti agama Yahudi yang hanya ditujukan kepada Bani Israel, kemudian diutus Nabi Isa Al Masih as. untuk menyempurnakan agama kaum Israel tersebut.

Islam bersifat syumul, kamil, dan mutakamil. Syumul berarti menyeluruh, mencakup semua aspek kehidupan, mulai dari bangun tidur, masuk WC, hukum, ekonomi, dan kenegaraan. Kamil berarti sempurna, tidak perlu lagi ada pembaharuan atau revisi. Al Quran sebagai kitab suci umat Islam tidak perlu direvisi atau ada semacam pertemuan para ulama sejagat untuk membuat pembaharuan. Mutakamil yaitu menyempurnakan, Islam menyempurnakan agama yang dibawa oleh para rasul sebelumnya, yang dibawa oleh Musa as., Daud as., dan Isa as.

Tidak perlu ia disesuaikan dengan budaya setempat. Karena itu tidak perlu istilah islam nusantara, islam arab, atau yang lain-lain. Islam hanya satu, yaitu jalan hidup yang diturunkan oleh Allah SWT, disampaikan melalui Rasulullah saw. untuk segenap umat manusia. Jika disesuaikan dengan budaya maasing-masing, maka akan terjadi kebingungan. Islam di belahan bumi sebelah sini berbeda dengan belahan bumi sebelah sana. Jika ini terjadi, itu adalah sebuah kemunduran. Di zaman Rasulullah saw. tidak dikenal istilah “islam muhajirin” atau “islam anshar” atau “islam thaif’” atau “islam persia”. Semua pembeda akibat budaya atau letak geografis disatukan melalui ikatan iman.

Agama yang mengikuti kebudayaan pernah dicetuskan oleh salah satu proklamator negara kita, Ir. Soekarno. Beliau, ketika sidang BPUPKI, mengusulkan tentang dasar negara kepada majelis. Ada lima poin yang disampaikan, dengan poin kelima ialah “Ketuhanan yang Berkebudayaan”. Bahwa berketuhanan, atau memiliki tuhan, adalah bagian dari budaya. Tradisi yang diturunkan secara turun-temurun, yaitu tradisi bertuhan, menjadi landasan masyarakat Indonesia menyembah tuhan. Bahwa bertuhan dan menjalankan hidup beragama tak lebih dari budaya.

Sidang memang berarkhir dengan disahkannya Pancasila, sesuai yang kita kenal sekarang, sebagai dasar negara. Namun, sesuai apa yang Bung Karno bilang, kenyataan bahwa berketuhanan sebagai kebudayaan tidaklah hilang. Praktek dan ritual agama atas nama “Islam” yang kita jumpai saat ini banyak yang berasal dari warisan budaya ketimbang diajarkan Rasulullah saw. Adanya “islam kejawen” adalah salah satu contoh tercampurnya islam dengan budaya, dan gawatnya yang masuk ke dalamnya ialah unsur aqidah, hal yang tidak bisa ditawar dalam Islam. Keadaan ini membuat aktivitas keagamaan semakin buram: apa yang merupakan budaya dikira agama.

Implikasinya, seorang dapat melakukan ritual agama atau berhari raya atas dasar tradisi, bukan karena iman. Seorang solat dengan suatu tata cara tertentu karena tradisi yang diajarkan. Seorang berziarah kubur dengan tata cara tertentu pun karena tradisi turun-temurun. Apakah pernah orang-orang yang menajalankan tradisi ini mencari dalil dari Al Quran dan sunnah, bagaimana tata cara yang benar? Bukankah umat Islam diperintahkan untuk mengikuti sunnah Rasulullah saw. dalam beribadah?

“Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali Imran: 32)

Mungkin keadaan inilah yang membuat dideklarasikannya “islam nusantara” sebagai oposisi dari “islam arab”. Situasi timur tengah yang penuh konflik dan darah, munculnya gerakan khawarij seperti ISIS, serta melekatnya kebudayaan dalam aktivitas beragama hingga sekarang (dan juga tumbuhnya orang-orang liberal alias “JIL”) memicu apa yang disebut dengan islam nusantara ini. Hal ini memperkedil Islam, memecah-belahnya, sehingga ada islam nusantara, islam arab, mungkin juga islam eropa, islam amerika, dll. Padahal, Rasulullah saw. dahulu berjuang mempersatukan hati-hati kaum muslimin untuk meninggalkan dan bernaung di bawah iman.

Persaudaraan atas dasar iman lebih hakiki dan abadi ketimbang persaudaraan atas dasar kesukuan, kebudayaan, warna kulit, bahasa, dan letak geografis. Seorang tidak bisa memilih untuk lahir di mana, suku apa, warna kulit apa. Namun, ia bisa memilih secara sadar dan penuh akal sehat, apakah ia beriman atau tidak.

Jika seorang beragama karena budaya, adakah iman di dalamnya? Adakah ruh dalam tiap gerak sujud kepadaNya? Adakah cintanya kepada Rasulullah saw., dibuktikan dengan mengikuti sunnahnya ketimbang mengikuti tradisi?

“Apabila dikatakan kepada mereka, ‘Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul.’ Mereka menjawab, ‘Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.’ Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?” (Al Maidah: 104)

Wallahu a’lam.

Tidak ada iman dan ruh dalam ibadah membuatnya terasa hambar. Seorang solat namun tetap bermaksiat. Hal ini dikarenakan ia hanya melakukan aktivitas fisik ibadah tanpa ada penyertaan hati dan esensi. Jika seorang benar solatnya, maka seharusnya ia terlindungi dari perbuatan keji dan munkar. Bahwa ibadah bukan sekedar gerakan fisik belaka, tapi penyertaan hati dan iman didasari dengan ilmu yang benar, dan efeknya berdampak pada akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin ini yang menjadi rahasia kenapa Islam dahulu berkembang, meraih kejayaannya, dan mensejahterakan masyarakatnya.

Seharusnya itu semua tak lagi perlu terjadi, orang-orang berbondong-bondong masuk IGD karena ugal-ugalan dan mabok di malam hari raya. Kalau setiap dari kita menjalaninya atas dasar iman dan memahami esensinya, akhlak yang baik sudah otomatis terbentuk, dan “rahmat bagi semesta alam” bukan lagi sekedar angan-angan kosong belaka.

Semoga Allah memberi petunjuk dan melindungi kita semua dari kesesatan.

Advertisements
Categories: gajelas, merenung | Tags: , , | Leave a comment

Memilih yang Dipaksakan, Memaksakan yang Dipilih

Di tengah-tengah ceramah kuliah, seorang dosen bertanya kepada teman yang sedang diam. “Apa alasan kamu jadi dokter?”

Jika mahasiswa kedokteran diberi pertanyaan seperti ini, jawaban yang umum adalah “ingin menolong orang” atau “ingin mendirikan klinik/rumah sakit gratis” atau “ingin mengubah nasib” atau bahkan “diminta oleh orang tua”. Namun sobat saya ini punya jawaban yang berbeda. Ia menjawab, “Karena tidak diterima di jurusan pilihan pertama.”

Sontak ruangan dipenuhi suara tawa, termasuk suara sang dosen. Tidak umum memang jawaban seperti itu. Siapa yang menafikan profesi dokter yang begitu prestisius dan terhormat? Selain memiliki ilmu yang menakjubkan dan penghasilan yang terjamin, profesi jas putih juga sangatlah bergengsi. Begitu banyak orang yang berlomba-lomba masuk fakultas kedokteran. Tidak sedikit pula yang merelakan ratusan juta demi anaknya bisa menjadi dokter.

Tapi tidak bagi teman saya. Kedokteran bukan keinginan utamanya, melainkan arsitektur. Ia bahkan telah mengikuti 3 macam ujian mandiri, namun ditolak semua. Saat SNMPTN, karena khawatir gagal lagi masuk jurusan kesayangannya, ia memilih kedokteran. Alhasil, fakultas kedokteran Unpad adalah bagian dari jalan hidupnya.

Mungkin kita akan menaikkan alis bila mendengar kisah di atas.Terlepas dari ilmu, penghasilan, dan status sosial yang akan diperoleh di masa depan, dunia arsitektur dan kedokteran sangatlah berbeda. Metode belajar dan cara berpikir untuk menyerap materi-materinya pun amatlah tidak sama.

6a00e554e81be38834011570595133970c-800wiKetika SMA, para siswa umumnya memiliki dua pilihan mayor jurusan yang akan diambil, yaitu “ITB atau kedokteran”. Sepengalaman pribadi, sangatlah sedikit yang mengiriskan kedua pilihan tersebut. Orang yang menulis pilihan 1 kedokteran dan pilihan 2 ITB atau sebaliknya sulit ditemukan. Umumnya siswa yang pilihan pertamanya kedokteran, pilihan keduanya adalah kedokteran di universitas lain, atau jurusan semacam kedokteran gigi, farmasi, atau biologi. Begitu juga dengan yang pilihan pertamanya ITB: pilihan keduanya akan jurusan lain di kampus yang sama, atau jurusan yang sejenis di kampus yang berbeda.

Pemilihan cabang ilmu pengetahuan tentu sangat terkait dengan “minat”. Ada juga faktor-faktor lain yang berpengaruh, yaitu faktor orang tua atau keluarga, orientasi masa depan, dll. “Minat” umumnya lahir dari pertanyaan yang terus bermunculan dalam kepala terhadap mata pelajaran tertentu. Rasa penasaran itu kemudian berbuah menjadi rasa senang dan semangat dalam mempelajarinya. Kenapa bisa muncul rasa penasaran hanya pada subjek materi tertentu? Itu dikarenakan masing-masing memiliki kecenderungan tertentu yang berbeda.

ImageSebuah penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pada otak perempuan dan laki-laki yang berpengaruh terhadap cara belajar. Otak wanita cenderung mampu mengingat hal-hal yang detil dan rinci. Sebaliknya, otak laki-laki lebih tangkas dalam mengingat konsep dan gambaran umum.

Tidaklah mengherankan bila hampir seluruh penjuru dunia memiliki kesamaan dalam hal peminat jurusan pendidikan. Kedokteran, biologi, dan semacamnya lebih banyak diminati oleh perempuan, sedangkan teknik, matematika, fisika, dan sejenisnya lebih diminati laki-laki. Hal ini mungkin terlihat di ruang kelas sekolah kita. Sebuah kajian empiris di sekolah Amerika bahkan menelurkan hasil bahwa siswa perempuan lebih terbelakang dalam pelajaran matematika dibandingkan siswa laki-laki.

Apa yang dipelajari di cabang ilmu semacam kedokteran atau biologi, seperti yang sedang saya perlajari sekarang, adalah hal-hal detil. Tak bisa dipungkiri bahwa jika ingin menguasai materi, maka hapalan haruslah kuat. Bahkan di fakultas kedokteran sendiri bisa terlihat beberapa perbedaan antara mahasiswa dan mahasiswi. Ketika menjelaskan patofisiologi (mekanisme penyakit), mahasiswa perempuan akan berkutat pada senyawa-senyawa kimia yang terlibat. Bagi mahasiswa laki-laki, proses perjalanan yang menimbulkan gejala penyakitlah yang lebih dikuasai.

Berbeda dengan dunia teknik, matematika, atau fisika. Hapalan tidaklah terlalu banyak, namun hapalan yang sedikit itu akan diuraikan untuk memecahkan masalah. Di sini, pengusaan konseplah yang dituntut. Ketika membaca soal, mahasiswa laki-laki akan lebih cepat menemukan pemecahan masalah, sedangkan mahasiswa perempuan lebih teliti dalam perhitungan.

Apakah kondisi ini kemudian mengkotak-kotakkan pendidikan antara laki-laki dan perempuan? Toh, kenyataan di lapangan tidak demikian. Tidak sedikit jumlah mahasiswa laki-laki di fakultas kedokteran, begitu pula jumlah mahasiswa perempuan di fakultas teknik. Setiap individu memiliki identitas genetik yang unik dan tidak selalu mengikuti pola di atas. Teman saya yang bermimpi jadi arsitek bisa mengikuti kegiatan perkuliahan di kedokteran dengan lancar. Saya yang lebih senang berhitung ketika sekolah pun bernasib sama.

Ini menandakan bahwa otak memiliki banyak potensi. Tidak sedikit cerita orang yang mengenyam kuliah bukan kesenangannya—karena faktor “paksaan” orang tua dan sebagainya—yang kemudian sukses di jurusan tersebut. Ternyata tubuh ini dapat “dilatih” untuk menyesuaikan diri dengan subjek yang bukan kecenderungannya.

Tentu bukan hanya minat yang menjadi penentu bagi seseorang untuk menentukan pilihan. Ada faktor-faktor lain yang penting untuk dipertimbangkan, contohnya:

a. ingin membanggakan hati orang tua;

 

b. manfaat yang diperoleh dan bisa diaplikasikan dari ilmu tersebut;

 

c. bagaimana jika menyenangi suatu cabang namun ternyata manfaatnya tidak sebanyak cabang lain?

 

d. masalah ekonomi;

 

e. tuntutan sosial; dsb.

persimpangan-jalan-hidupPenting untuk menghitung prioritas dari faktor-faktor di atas, karena pilihan pendidikan akan sangat menentukan pilihan jalan hidup. Saya mendengar salah seorang kawan orang yang sudah kuliah di kampus favorit, namun ia memutuskan berhenti di tahun ke-5 dengan alasan bukan jalannya. Tahun ke-5! Bayangkan, betapa ia tinggal selangkah lagi menyelesaikan pendidikannya. Berapa pula jutaan rupiah yang dikeluarkan demi lima tahun yang sia-sia tersebut?

Apa pun yang menjadi faktor penentu, kita tidak boleh melupakan alasan utama kita menjalani pendidikan. Seharusnya, ya, seharusnya, kita belajar dikarenakan ada tanda tanya. Setelah mendapat jawabannya di institusi pendidikan, kita akan menjawab, “Oooohh….”

man_question_markNamun, di dunia nyata tidak bisa dipungkiri bahwa pendidikan adalah bagaimana cara agar mendapat nilai A. Pendidikan adalah bagaimana agar hidup berhasil di masa mendatang. Pendidikan adalah bagaimana dapat menghidupi keluarga kelak. Itu adalah fakta yang sebaiknya tidak dibantah demi kebaikan saya, Anda, dan mereka.

Kita tidak pernah boleh berhenti bertanya, baik selama menjalani pendidikan maupun setelahnya. Tanda tanya-tanda tanya itulah yang membuat manusia memiliki peradaban seperti sekarang. Tanpa tanda tanya, manusia akan selamanya di zaman batu: berburu hewan untuk sekedar bertahan hidup tanpa mengerti alasannya. Penulis berpendapat, perbedaan masyarakat negara terbelakang dan negara maju adalah perbedaan jumlah tanda tanya dalam kepala dan usaha untuk menemukan jawabannya.

Jika pada akhirnya pilihan saat ini tidak sesuai minat, misalnya karena alasan manfaat yang bisa dihasilkan, tidaklah perlu khawatir. Adalah karunia Allah menciptakan manusia dengan berbagai potensi. Ia adalah makhluk yang mampu beradaptasi dengan zona tidak nyamannya, jika berusaha. Yang terpenting adalah tidak berhenti bertanya-tanya, dan tidak bosan dengan ucapan “Oooohh….”

Juga, tak lupa kita menuntut ilmu untuk memperoleh rahmat dari Sang Pemilik Ilmu.

“Barangsiapa yang meniti jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan untuknya jalan menuju surga” (HR.Muslim)

Categories: gagasan, gajelas | 1 Comment

Indonesia Butuh Diktator?

Diskusi dan dialog tentang kebangsaan tak pernah usai. Ada berapakah orang-orang dengan niat baik berusaha membangun negeri ini menjadi lebih baik? Tentu sangat banyak. Bukan hanya mereka yang bersemangat dalam dialog-dialog terbuka saja yang demikian, tetapi juga mereka yang berada dalam kursi parlemen dan pemerintahan. Sering terdengar niat-niat baik para wakil rakyat dan pemerintah ingin memajukan negara. Berbagai program dan kebijakan yang bertujuan mensejahterakan rakyat pun diaplikasikan. Kenyataannya? Orang-orang yang bersemangat dalam dialog terbuka tersebut juga sangat bersemangat mengecam kebijakan-kebijakan pemerintah.

Era reformasi sudah hampir 13 tahun dimasuki oleh negeri khatulistiwa ini. “Reformasi”, yang menurut bahasa berarti pembentukan formasi ulang. Tapi, formasi apakah yang diubah? Apa hasil dari penyusunan formasi ulang ini selama 13 tahun? Bukankah banyak yang mengatakan, ketika memasuki era reformasi justru angka korupsi semakin mengganas?

Ke manakah mereka para barisan yang turun ke jalan pada Mei 1999? Para nurani yang bersih, para intelektual yang terasah, para semangat yang membara? Para pita suara yang tak lelah berteriak untuk menurunkan tirani?

Mungkin mereka sekarang sedang berada di rumah, di perusahaan, di kampus kembali, atau di tempat kerja masing-masing. Namun, tak sedikit kini mereka berada di kursi-kursi parlemen atau birokrasi. Ketika para pejuang ini mengambil alih parlemen atau pemerintahan, tentu kita semua mengekspektasikan harapan baru, bukan?

Tapi, kenapa tidak ada perubahan yang berarti pada negeri ini? Kenapa angka korupsi justru semakin besar? Kenapa aktivitas politik sekarang malah jadi aksi teatrikal? Kenapa masih banyak yang miskin, melarat, bodoh, buta huruf, harga-harga semakin naik? Bukankah saat ini posisi pejabat tinggi dipegang oleh para pejuang pergerakan dan rakyat sekarang tengah menikmati demokrasi?

Mungkin sudah saatnya proses regenerasi dilakukan kembali. Saatnya para generasi muda–yang telah mengasah intelektualitas mereka di kampus, yang telah mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah melalui kajian-kajian ilmiah, yang telah mengikuti berbagai macam seminar atau pelatihan kepemimpinan–mengambil alih kepemimpinan negeri ini.

Ah, tapi akankah kita memiliki ekspektasi yang sama? Yakinkah kita para orang baru ini mampu membawa negeri ini ke arah yang lebih baik? Bukankah orang-orang yang kini duduk di kursi-kursi langit juga sama: telah mengasah intelektualitas mereka di kampus, telah mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah melalui kajian-kajian ilmiah, telah mengikuti berbagai macam seminar atau pelatihan kepemimpinan? Lalu, apa bedanya? Mampukah orang-orang yang kini bergelut di dunia normatif dan sebra ideal (baca: kampus) tetap dalam niatnya yang bersih ketika memasuki realita?

Ketika para generasi baru ini memasuki pemerintahan, mungkin tidak banyak langkah baru yang diambil: langkah-langkah yang sama seperti pemerintahan saat ini akan diambil kembali. Mereka akan memperjuangkan demokrasi agar kesejahteraan rakyat terjamin,

Ada pertanyaan menarik: apa yang sedang dicari oleh negeri ini? Demokrasi atau kesejahteraan? Tampaknya demokrasi. Indonesia telah menjelma menjadi salah satu negara paling demokratis di planet bumi. Tiap rakyat bebas berpendapat dan berbicara, termasuk menghina presiden.

Apakah demokrasi saat ini telah berhasil membawa kesejahteraan? Coba bandingkan dengan era orde baru, apakah kesejahteraan semakin tercapai? Atau, mungkin memang negeri ini hanya butuh demokrasi, tidak butuh kesejahteraan?

Benarkah setiap suara rakyat harus dipenuhi? Jika pernah berdialog dengan anak-anak jalanan yang tidak sekolah, maka dapat disimpulkan bahwa mereka tidak sekolah bukan sekedar tidak mampu–sumbangan-sumbangan untuk hal semacam ini ada banyak–tapi itu adalah pilihan mereka. Daripada susah-susah sekolah–harus belajar, mengerjakan PR, dan tidak dapat uang sepeser pun–lebih enak bebas di jalanan dan mengais rupiah melalui mengamen, bukan?

Benarkah setiap suara rakyat harus dipenuhi? Mari berhitung: berapa jumlah masyarakat yang sepakat dan tidak sepakat untuk melestarikan tontonan-tontonan yang tidak mendidik? Apa alasan orang-orang mempertahankan tayangan-tayangan yang sebenarnya membodohi masyarakat tersebut–terutama anak-anak? Mungkin karena “seni” atau “hiburan”.

Benarkah setiap suara rakyat harus dipenuhi? Agama mana yang tidak sepakat bahwa pornografi dan pornoaksi sifatnya merusak? Mengapa mengesahkan RUU itu saja susahnya minta ampun? Banyak yang bilang pornografi dan pornoaksi sifatnya relatif dan tidak ada batasan bakunya. Tapi, jika memang punya niat yang kuat, bukankah akah mudah merumuskan itu semua?

Untuk membuat negeri ini maju, ada banyak langkah-langkah nyata yang bisa diambil. Namun, tampaknya rakyat sendirilah yang akan menentang langkah-langkah itu.

Mahatir, mantan PM Malaysia, pernah bilang kurang lebih seperti ini: lebih baik menghapus demokrasi daripada harus melarat dan makan daging tikus. Moammar Khadafi dikenal sebagai tiran. Tapi di balik itu, ia mampu memprivatisasi sumber daya alam negaranya, dan mempergunakannya untuk kesejahteraan negerinya. Bahkan, bila ada mahasiswa asing yang ingin belajar di sana, ia akan mendapat beasiswa dari pemerintah.

Mungkin, ada sebuah skenario yang bisa dijalankan. Begini naskahnya.

Negeri ini membutuhkan “diktator”, tapi dalam arti yang positif. Ia memiliki niat dan usaha untuk memajukan negeri, dan untuk itu ia perlu memberlakukan kebijakan-kebijakan yang sama sekali tidak populer. Pendidikan menjadi program utamanya: untuk menyiapkan penerus-penerus bangsa puluhan tahun ke depan. Untuk itu, ia harus “memaksa” setiap elemen untuk sekolah. Bahkan bila perlu, ia menghapus tradisi atau kebudayaan setempat yang menolak kemajuan (seperti di beberapa daerah terpencil).

Setiap hiburan atau tayangan yang tidak mendidik dilarang. Sebagai gantinya, media-media yang mendidik disebarluaskan. Selebriti-selebriti asing yang menjual nilai-nilai hedonitas dilarang tampil.

Seleksi birokrat diperketat, peraturan dan kedisiplinan dibuat strik, belanja birokrat diperkecil dan nilai-nilai “melayani masyarakat” menjadi dogma. Sumber daya-sumber daya strategis diprivatisasi dan tidak boleh dikelola oleh swasta juga asing. Hukuman mati diberlakukan–walaupun aktivis HAM akan menentang–terutama bagi para koruptor. Intervensi-intervensi asing, bahkan yang sifatnya mengancam, dengan tegar tidak dihiraukan.

Lawan-lawan atau bahkan mitra politiknya tidak akan setuju dan berusaha menjegal. Namun, agar tidak mengganggu, mereka pun disingkirkan.

Apa yang akan terjadi? Ya, mudah ditebak. Demonstrasi hebat akan berlangsung di mana-mana. Media-media, walaupun telah dikontrol, secara underground akan mengecam. Pihak-pihak oposisi akan bersatu dan menyusun kekuatan. Mungkin akan ada sedikit anarki. Asing pun akan ikut memanaskan suasana. Tapi, demi belangsungnya kebijakan, semua itu diredam dengan paksa.

Usia pemerintahan itu tidak akan lama. Baik itu melalui demonstrasi rakyat yang makin menggila atau agresi militer asing yang bekerja sama dengan oposisi, ia akan dikepung dari berbagai sudut. Atau, setelah merasa tugasnya berakhir, diktator itu akan turun.

Kemudian, ia akan diganti dengan pemimpin yang demokratis dan mendengar suara rakyatnya. Kebijakan-kebijakan yang dijalankan pun sifatnya populis, walaupun tidak begitu mendidik. Namun, apa yang ada di negeri saat itu adalah hasil dari pemimpin sebelumnya. Setiap masyarakat kini berpendidikan, terbiasa dengan budaya belajar dan kerja keras, cenderung memilih hiburan dan media yang sifatnya mendidik, sumber-sumber daya dilindungi pemerintah, dan setiap pihak yang merugikan negara dihukum dengan begitu kerasnya.

Si pemimpin demokratis ini tidak perlu susah-susah menjalankan program baru. Ia tinggal melanjutkan program-program sebelumnya, ditambah beberapa kebijakan populis. Ia pun akan dicintai rakyatnya karena mendengarkan suara mereka dan membawa kesejahteraan. Sebaliknya, si pemimpin diktator akan dikucilkan, atau mencari perlindungan ke luar negeri, atau dihukum mati, atau dibunuh oleh orang-orang tak dikenal.

Dan, tidak banyak yang tahu, bahwa si pemimpin demokratis adalah sobat dari si diktator. Cerita tentang kediktatoran, turunnya diktator, dan naiknya pemimpin yang demokratis merupakan skenario yang mereka susun bersama–termasuk pengorbanan sang diktator di akhir.

 

Mengapa perlu ada konsep tiran atau pemaksaan di sini? Itu semua untuk “merestorasi budaya”. Agak pahit, tapi memang kerja keras dan belajar bukanlah budaya negeri ini. Yang ada adalah budaya santai, kerja sedikit sambil bermimpi penghasilan banyak, dan hidup seadanya tanpa memiliki cita-cita yang tinggi. Setidaknya, itulah komentar kolonial ketika datang ke Indonesia, “Pribumi yang bodoh dan malas.” Akibatnya, orang-orang pribumi harus dipaksa. Hingga sekarang budaya itu masih kuat, bahkan dilegitimasi pemerintah. Contoh program BLT–program yang sangat jitu untuk membuat masyarakat makin malas.

Salah satu contoh hasil dari pemaksaan tersebut adalah terbentangnya jalan pantura di masa Daendels. Jalan itu begitu lurusnya, tidak berkelok-kelok seperti jalur selatan. Di sana terdapat jalan cadas pangeran: jalan yang membentang di atas jurang. Mungkinkah jalan itu dibuat oleh masyarakat negeri ini tanpa pemaksaan? Hingga tahun 2012, jalur utara dan selatan masih begitu-begitu saja. Tidak ada perbaikan yang berarti, yang membuat jumlah korban terus meningkat ketika mudik lebaran.

Mungkin, kebanyakan masyarakat negeri ini seperti anak kecil, dan mendidik negeri ini pun seperti mendidik anak kecil. Mereka tidak tahu dan tidak mengerti apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Kecenderungan yang ada adalah untuk terus “bermain” dan hidup enak. Akibatnya, mereka perlu dipahamkan. Tapi, memahamkan orang banyak itu tidaklah mudah, sehingga jalan pemaksaan harus diambil, hingga mereka benar-benar mengerti apa yang mereka butuhkan, bukan apa yang mereka mau. Kecuali, ada suatu sistem yang bekerja secara sistematis dan bergerak secara massal memahamkan masyarakat–itu pun kalau ada.

Ahh, ini hanya ide gila. Tidak perlu dihiraukan. Lagipula, di manakah diktator yang berniat baik ini ada?

Power tends to corrupt. Absolute power corrupts absolutely.

Categories: gajelas | 1 Comment

Rutinitas

Seorang itu telah bersiap-siap pagi-pagi benar. Mandi pagi dan sarapan telah ia lakukan jam setengah enam dan jam enam. Jam enam kurang lima mobil sudah harus dipanaskan, dan jam enam ia sudah harus meninggalkan garasinya agar tidak terjebak macet.

Ah, sial! Sekarang sudah jam enam seperempat nih!

Sambil sedikit menguap, gas mobilnya diinjak lebih dalam, mengingat jam tujuh ia harus sudah di tempat. Kalau tidak, habislah riwayatnya.

Ia menguap lagi, mengingat semalam ia terpaksa begadang. Tujuan pun akhirnya dicapai dengan selamat–selamat dari sisi nyawa maupun waktu. Sekitar dua jam kurang laporan pagi diikuti dengan anggun.

Jam menunjukkan jam dua belas kurang sedikit. Yeah, akhirnya bisa istirahat setelah diceramahi begitu lama. Ah, tapi jam satu ada bimbingan euy. Adduuhh…belum dibaca lagi bahan presentasinya, ini sih bakal dapat tugas tambahan bonus omelan lagi!

Akhirnya jam dinding dengan bersahabat menunjukkan jam empat sore. Dengan kening agak nyut-nyutan, telinga panas, dan langkah gemulai, seseorang yang sakit kepala dengan agak lega menuju tempat parkir mobilnya.

Tapi kelegaan hanya bertahan sebentar. Yah, Bandung sekarang amat berbeda dengan ketika ia masih bocah: jalanan macet di mana-mana.

Hadeuuhh…ini sepeda motor pake jalan seenaknya aja! Ya Allah, andai ada dunia tanpa sepeda motor!

Jika keberangkatan hanya membutuhkan waktu setengah jam, kepulangan memakan waktu satu setengah jam! Tapi akhirnya garasi terlihat. Kemudian lelah, ngantuk, dan kasur. Ada yang bilang tidur sore itu bikin sinting, tapi saat itu tak ada yang peduli.

Ada tugas yang harus dikerjakan. Waktu dua setengah jam pun harus direlakan demi tugas–plus internetan plus facebookan plus twitteran. Setelah selesai, materi tugas buatan sendiri dan yang dibuat oleh kawan sekelompok harus dipelajari benar-benar kalau tidak ingin mendapat tugas dan omelan tambahan. Materi pun dipelajari dengan sedikit minat–sambil tiduran.

Kurang dari 30 detik, ingatan telah melayang entah ke mana…

Seorang itu telah bersiap-siap pagi-pagi benar. Mandi pagi dan sarapan telah ia lakukan jam setengah enam dan jam enam. Jam enam kurang lima mobil sudah harus dipanaskan, dan jam enam ia sudah harus meninggalkan garasinya agar tidak terjebak macet.

Ah, sial! Sekarang sudah jam enam seperempat nih!

Sambil sedikit menguap, gas mobilnya diinjak lebih dalam, mengingat jam tujuh ia harus sudah di tempat. Kalau tidak, habislah riwayatnya.

***

Apakah manusia memang diciptakan untuk sebuah rutinitas? Jika merenungi apa yang dilakukan oleh manusia kebanyakan setiap harinya, maka rutinitas adalah kata yang tepat.

Bangun tidur. Berangkat sekolah atau kerja. Pulang ke rumah. Mengerjakan tugas. Tidur. Bangun tidur. Berangkat sekolah atau kerja. Pulang ke rumah. Mengerjakan tugas. Tidur. Bangun tidur…

Image

Aahh…memang rutinitas bukan? Apa yang orang-orang lakukan layaknya rotasi bumi yang tidak pernah berhenti atau berbalik arah: monoton.

Tentu sudah sekian tahun kegiatan-kegiatan rutinitas telah dilalui begitu saja. Namun, mengapa selalu ada kata-kata keluhan? Bukankah itu semua sudah berkali-kali dilewati, tapi…kenapa ya tetap saja ada rasa bosan, suntuk, jenuh, malas, dan sebagainya, dan sebagainya?

Hmm, mungkin salah satu fitrah hidup adalah rutinitas. Jantung, paru-paru, liver, ginjal, mereka tak pernah bosan dengan rutinitas. Alhamdulillah, tidak terbayangkan kalau mereka jenuh dan meminta cuti sejenak…

Bahkan, disebutkan malaikat sekian tahun dan tahun dan tahun terus dan terus dan terus bertasbih. Tanpa lelah, jenuh, bosan. Ckckck…tidak terbayang kalau sekian banyak tahun kegiatannya hanya bertasbih.

Mungkin itu pula sifat manusia, bukan? Bahwa ia makhluk yang mudah jenuh, mudah bosan, ingin variasi dan bermacam-macam warna? Karena itulah, tampaknya ada banyak sekali–bahkan mungkin tidak terbatas–variasi kegiatan yang bisa dilakukan oleh satu orang manusia. Bahkan, amal-amal ibadah pun banyak macamnya. Seorang yang jenuh dengan suatu amalan, ia bisa berpindah ke amalan lainnya (sebatas bukan amalan wajib).

“Iman itu kadang naik kadang turun, maka perbaharuilah iman kalian dengan la ilaha illallah.” (HR Ibn Hibban)

Karena itu, adalah penting untuk memiliki kegiatan dengan warna beda dibandingkan dengan aktivitas keseharian. Apa yang dilakukan Sherlock Holmes ketika jenuh memikirkan kasus? Ia akan beralih ke biolanya, atau percobaan-percobaan kimianya yang baunya memuakkan.

Tapi, tetap saja ada kegiatan rutin yang tidak bisa ditinggalkan, karena telah “terjebak”.

Benarkah terjebak? Bukankah semua kegiatan yang terpaksa dilakukan rutin itu telah dipilih sebelumnya? Aku tahu kalau apa yang akan aku hadapi adalah kegiatan-kegiatan yang itu-itu saja dan tidak bisa ditinggalkan. Tapi kenapa aku tetap memilihnya? Karena ada yang hendak aku capai…

Ah, ya, mungkin inilah yang sering terlupa. Atau memang diingat tapi sengaja dilupakan. Atau, gambaran apa yang ingin dicapai itu mulai buyar dari dalam hati: tak ada lagi keinginan kuat untuk mencapai itu.

Seorang dewasa bukan lagi anak kecil yang “terpaksa” masuk sekolah karena perintah orang tuanya, tanpa mengerti kenapa ia mesti memakai pakaian putih-merah. Seorang dewasa sudah cukup kuasa untuk menentukan aktivitas apa yang ingin dilakukan. Karena itu, memikirkan tujuan yang ingin dicapai dan memantapkannya di dalam hati merupakan syarat wajib sebelum menentukan pilihan. Jika hal itu dilewat, maka pilihannya menjadi tidak sah.

Yah, sekarang saatnya memantapkan kembali di dalam hati tentang pilihan-pilihan yang telah dibuat. Dan, tampaknya memantapkan keyakinan hati pun juga merupakan sebuah “rutinitas wajib”.

Categories: gajelas | Leave a comment

Asa Abadi

26/4/2012

Jaga di ruang resusitasi RSHS, melihat pasien tua (78) sedang berbaring tak berdaya. Nafas tersengal, kesadaran entah terbangun atau tidak, dan terlihat sedang memperjuangkan sesuatu. Masker oksigen dipasang dan tanda vitalnya dimonitor.
Akanhkan ini ada gunanya? Toh, pasien sudah berusia lanjut, didiagnosis diabetes, plus komplikasi stroke.
Adakah gunanya ia terus dirawat? Jika sembuh pun, mungkin usianya takkan lama lagi, mengingat penyakitnya kronis. Lantas, kenapa ia tampak berusaha untuk terus bernafas, seolah memperjuangkan sesuatu yang amat berharga?
Beberapa waktu lagi, bukan, tidak lama lagi aku pun akan bernasib demikian: menua dengan fungsi tubuh yang mulai menurun, dengan bonus penyakit kronis.
Yah, memang normalnya begitu, bukan? Ketika tiap yang bernyawa diciptakan olehNya, di saat itu pula ia “diprogram” dan “direncanakan” untuk mati.
Kalau muncul pertanyaan, “Jika begitu, lalu untuk apa kita selama hidup bersusah payah? Untuk apa belajar dan bekerja keras, kalau pun masa depan kita begitu-begitu saja?” penulis yakin masing-masing telah memiliki jawaban yang mantap.
Hanya saja, hal-hal “rutin” seperti ini akan menguatkan pemikiran: bahwa usia muda dan produktif amatlah berharga. Ia priceless, dan jika terlewati maka takkan bisa dipanggil untuk kembali.
Ia terlalu berharga untuk diisi dengan kegiatan-kegiatan yang di saat tua akan disesali. Ia juga terlalu berharga jika diisi dengan aktivitas yang berorientasi pada kesuksesan pribadi, karena itu semua akan lenyap terkubur bersama jasad. Ia pun terlalu berharga jika hanya berisi kehidupan yang menunggu kematian.
Usia kita tidaklah lama, namun harus ada sesuatu yang membuat kita abadi. Fisik pastilah suatu saat akan mati dan membusuk, namun harus ada sesuatu dari diri kita yang diabadikan oleh mereka yang masih hidup. Apakah itu pemikiran, ide, karya nyata, atau manfaat yang luas. Entah sekian, puluhan, atau bahkan ratusan tahun kemudian.
Usia muda dan produktif adalah benda mewah dan mahal yang dihadiahkan oleh Tuhan, dan ia tersia-siakan begitu saja jika tidak dimaksudkan untuk menciptakan “keabadian”.
Jika pun kematian datang, maka itu bukanlah hal yang perlu dikhawatirkan. Karena, mungkin, kematian bukanlah untuk ditunggu, tapi untuk dicari: mencari kematian yang mulia dan terhormat.

Categories: gajelas | Leave a comment

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: