gagasan

Mudahnya Masyarakat Indonesia dalam Memperoleh Obat

Dunia usaha kini semakin kreatif. Usaha yang selama ini dikenal bergerak di bidang trasnportasi, Go-Jek, terus memperlebar sayap bisnisnya di tengah persaingan usaha trasnportasi ojek online yang semakin banyak. Fitur terbaru yang diluncurkan ialah Go-Med. Melalui pilihan baru ini, masyarakat cukup menggenggam ponsel pintarnya agar obat yang diinginkan diantar ke rumah.

Go-Med

Fitur-fitur di Go-Jek seolah mendukung style masyarakat modern yang meminimalisasi gerakan otot tubuhnya. Tidak ingin capek ke luar untuk membeli makan? Cukup pesan Go-Food. Begitu pula untuk urusan service kendaraan atau cuci mobil. Namun, keberadaan Go-Med tidak hanya memperkokoh kemalasan warga kota untuk bergerak ke luar rumah, tapi juga kemudahan untuk memperoleh obat.

Apakah semakin mudahnya masyarakat memperoleh obat maka bisa disebut sebagai hal yang positif? Kita tentu yakin bahwa aplikasi ini bertujuan untuk semakin mempermudah kehidupan manusia—selain untuk memperoleh keuntungan bisnis. Tapi kemudahan ini akan semakin membuat kita lupa tentang hakihat sebenarnya dari obat: sebuah senyawa kimia yang memengaruhi sistem organ tubuh.

Obat adalah penemuan besar dalam ilmu kedokteran—pengertian obat di sini bukan sekedar obat tradisional melainkan sesuatu yang telah teruji secara klinis. Karena ia merupakan senyawa kimia sintetis maka penggunaannya harus tepat, tidak bisa sembarang, agar efek yang diinginkan tercapai. Sebaliknya, senyawa kimia olahan tersebut jika dikonsumsi tidak dengan aturan dan cara pakai yang benar, justru pengaruh-pengaruh berbahayalah yang akan didapat tubuh.

Sebagaimana kita semua ketahui, obat itu bermacam-macam dan setidaknya terdiri dari 4 golongan: obat bebas, obat bebas terbatas, obat keras, dan obat psikotropika dan narkotika. Obat bebas berlogo hijau bisa diperoleh masyarakat secara bebas dan untuk mendapatkannya pun cukup ke toko terdekat kesayangan masing-masing. Jika merasa badan panas, atau tidak enak badan, kita dapat membeli penurun panas seperti paracetamol dan vitamin tanpa perlu ke apotek. Sedangkan obat bebas terbatas—seharusnya—hanya bisa didapat di apotek atau toko obat yang memiliki izin. Obat berlogo biru ini bisa dibeli tanpa resep dokter, namun di labelnya bisa ditemukan peringatan tentang cara pakainya.

Masalah mulai muncul jika masyarakat hendak membeli obat keras bahkan psikotropika tanpa resep dokter. Sebagai contoh, seorang ibu pasti sangat sayang pada anaknya. Saking sayangnya, sang ibu pun langsung memberikan sirup amoxicillin kepada anaknya yang sedang demam tanpa berkonsultasi ke dokter. Setiap jenis antibiotik merupakan tipe obat keras berlogo merah dan hanya bisa dimiliki melalui resep dokter. Kenyataannya, betapa mudahnya masyarakat membeli antibiotik seperti amoxicillin atau cefadroxil tanpa resep. Obat pun diberikan begitu saja, tanpa pihak apotek menanyakan resep atau penyakit yang sedang diderita sang pembeli. Bisa terbayangkan, dengan semakin mudahnya masyarakat mengakses obat dengan aplikasi Go-Med, peredaran obat keras tanpa resep akan semakin merajalela.

Masalah bebasnya konsumsi antibiotik tanpa indikasi tidak hanya dimiliki Indonesia, tapi juga dunia, khususnya negara-negara berkembang. Ketidakdisiplinan dalam konsumsi antibiotik membuat PBB menyelenggarakan konvensi tingkat tinggi yang dihadiri oleh seluruh 193 negara anggota. “Resistensi antibiotik akan membuat penyelenggaraan jaminan kesehatan universal menjadi sulit, dan mengacaukan Sustainable Development Goals,” kata Ban Ki Moon, sekjen PBB. Konvensi tingkat tinggi yang dihadiri oleh seluruh negara anggota ini bukan tanpa dasar. Data yang ada saat ini menunjukkan sekitar 700 ribu orang meninggal setiap tahunnya akibat infeksi “superbug”. Angka kematian yang sebenarnya akibat kuman kebal antibiotik kemungkinan lebih tinggi, berhubung penyediaan data kematian akibat infeksi yang resisten antibiotik tidak mudah diperoleh dari seluruh dunia. Pada tahun 2050, diperkirakan 10 juta manusia akan kehilangan nyawanya akibat infeksi superbug.

“Jika tren ini berlanjut, suatu saat, ketika ada penderita gonorrhoe (kencing nanah), dokter hanya bisa berkata, ‘Maaf, tidak ada yang bisa saya lakukan,’” kata Margaret Chan, direktur jenderal WHO. Ia juga menekankan bahwa kuman yang paling banyak mengembangkan kekebalan terhadap antibiotik ialah bakteri Gram Negatif, yang dapat mengakibatkan infeksi seperti pneumonia (pembunuh bayi nomor 1) dan meningitis (infeksi selaput otak).

Penggunaan antibiotik yang kebablasan tidak hanya dikarenakan mudahnya masyarakat mengonsumsinya tanpa resep. Banyak dokter meresepkan antibiotik tanpa menunggu hasil laboratorium yang membuktikan adanya infeksi. Antibiotik juga banyak digunakan sebagai bentuk “pencegahan”, dan memang hal tersebut direkomendasikan oleh literatur-literatur kedokteran. Akibat tingginya angka resistensi, dunia sedang merekomendasikan untuk tidak memberikan antibiotik pencegahan sampai pasien benar-benar terbukti terinfeksi. Ringkasnya, masyarakat dunia saat ini sedang menghadapi krisis tumbuhnya kuman-kuman kebal antibiotik, yang dapat mengancam jiwa manusia semudah mereka menyerang pengidap HIV/AIDS.

Penyaluran obat-obatan keras perlu diperketat. Pada aplikasi Go-Med, disediakan fitur untuk meng-upload foto atau hasil scan resep dokter. Mungkin ini untuk memfasilitasi mereka yang hendak menebus resep dokter. Namun, tidakkah kita melihat betapa besarnya celah yang disediakan aplikasi ini? Bagaimana jika itu adalah resep palsu buatan dukun tukang urut? Bagaimana jika itu adalah resep yang lama dan sudah dipakai berulang kali? Siapa yang menjamin bahwa resep itu benar untuk dirinya, bukan milik orang lain yang ia upload di Go-Med untuk dirinya sendiri?

Layanan Go-Med ini juga dapat meminimalkan peran apoteker. Saat ini, di setiap apotek dapat ditemukan papan praktek yang menunjukkan nama apoteker dan surat izinnya. Rapat Kerja Ikatan Apoteker Indonesia tahun 2014 pun mengukuhkan profesi apoteker agar lebih dikenal masyarakat, yaitu dengan memperkenalkan “jas apoteker”. Jika di Rumah Sakit atau fasilitas kesehatan kita melihat seseorang memakai jas putih tulang (bukan jas putih polos seperti yang dikenakan dokter), kita tidak perlu heran karena itu merupakan identitas apoteker.

Praktek apoteker, atau praktek kefarmasian, telah diatur dalam payung hukum, tepatnya Perturan Pemerintah no. 51 tahun 2009. Di pasal 1 ayat 1 peraturan itu dijelaskan bahwa praktek/pekerjaan kefarmasian, selain menyediakan, memproduksi, dan menyalurkan obat, juga memberikan layanan informasi obat. Masyarakat dapat berkonsultasi ke apotek mengenai obat yang diresepkan, misalnya dosis, aturan pakai, efek samping, dan sebagainya

Dalam setiap peresepan obat di kertas resep, umumnya dokter menuliskan 2 baris. Baris pertama merupakan instruksi kepada tenaga farmasi untuk menyiapkan sediaan obat dalam jumlah tertentu. Baris kedua, atau signa, merupakan instruksi tentang tata cara atau aturan pakai obat. Kepada siapa instruksi aturan pakai itu diberikan? Kertas resep selalu ditulis dengan “bahasa” peresepan yang berlaku secara internasional. Tentu saja masyarakat awam tidak bisa membaca bahasa tersebut. Tugas apoteker atau asistennya lah menerjemahkannya untuk pasien. Memang seharusnya dokter sekalian menerangkan cara mengonsumsi obat saat memberikan resep, tapi bisa saja karena banyak pasien tak sabar dalam antrian membuat hal tersebut tak sempat dilakukan. Di sinilah apoteker, sebagai salah satu tenaga kesehatan, berperan. Begitu pula, misalnya, obat-obatan bebas terbatas. Apoteker berperan penting dalam menasihati pasien tentang peringatan yang ada pada obat tersebut.

Jika pasien memperoleh obat tersebut dari pihak ketiga, yaitu Go-Med, maka interaksi apoteker atau asisten apoteker kepada pasien menjadi berkurang. Setelah pihak farmasi memberikan informasi panjang lebar mengenai cara konsumsi obatnya, akankah penjelasan itu akan disampaikan pihak Go-Med kepada pembeli sesuai panjang dan lebarnya? Jika disampaikan, akan kah utuh? Siapa yang bisa menjamin tidak akan terjadi reduksi atau misinformasi?

Kesehatan merupakan hal yang sangat mendasar dalam kehidupan manusia. Indeks Pembangunan Manusia menempatkan kesehatan menjadi salah satu dari tiga komponen kuncinya. Jika kesehatan manusianya buruk, perkembangan ekonomi dan kesejahteraan suatu negara akan terhambat. Bahkan negara-negara luar akan berpikir berkali-kali untuk menanamkan uangnya di negara yang angka kesehatannya rendah.

Mengingat pentingya kesehatan, sewajarnya hal ini benar-benar diserahkan kepada ahlinya. Konsultasi kesehatan melalui sms, website, WhatsApp, atau media sosial tidak akan pernah bisa menggantikan konsultasi langsung di hadapan dokter. Jika seseorang menanyakan tentang keluhan yang dideritanya melalui sms kepada dokter, kurang lebih dokter hanya akan menasihati untuk mengonsumsi obat untuk mengatasi gejalanya namun harus segera ke tempat praktek dokter. Untuk bisa memberikan pengobatan yang tepat, tidak cukup pemeriksaan dilakukan melalui dunia maya, namun dokter harus melihat keadaan umum pasien, menggali informasi sejelas-jelasnya, melakukan pememeriksaan, hingga mengecek hasil laboratorium. Pengobatan optimal tidak akan didapat jika masayarakat awam hanya mengetikkan keluhannya di mesin google kemudian mencari tahu penyakit apa yang dideritanya. Yang akan terjadi hanyalah kesalahan pengobatan, yang pada akhirnya tiba di rumah sakit dalam keadaan sudah lanjut.

Begitu pula obat-obatan. Adanya pembatasan akses terhadap obat-obatan tertentu bukan tanpa sebab. Pengobatan diri sendiri atau swamedikasi tidaklah pernah dianjurkan. Memang masyarakat bisa swamedikasi dengan meminta obat ke apoteker, yang kemudian apoteker tersebut memberi obat sesuai Daftar Obat Wajib Apotek (DOWA). Walau demikia, jumlah yang bisa diberikan hanyalah terbatas. Lagipula, inti dari pengobatan bukanlah menyembuhkan gejala-gejala yang dirasakan, tapi menemunkan apa penyebab seseorang bisa menjadi “sakit” dengan menegakkan diagnosisnya. Setelah penyebabnya diketahui, barulah sumber masalahnya diselesaikan—bukan hanya meredakan gejala.

PBB kini tengah menghadapi persoalan resistensi antibiotik secara serius. Apabila kekebalan kuman terhadap antibiotik terus meningkat, kelak manusia hanya akan seperti rangka rapuh, siap dilahap oleh mikroba yang lapar. Negara tidak boleh melihat permasalahan ini dengan sebelah mata. Regulasi distribusi dan penyaluran obat ke masyarakat harus diperketat. Pengawasan terhadap apotek-apotek harus dilakukan agar tidak ada obat keras yang begitu mudahnya dikeluarkan tanpa resep. Pun dengan resep dokter: regulasi yang paling aman ialah dicantumkannya nama dokter, nomor kontak praktek, bahkan nomor surat izin prakteknya pada kertas resep. Perkembangan teknologi dan inovasi bisnis tidak boleh memperkecil peran tenaga kesehatan dalam memberikan layanan.

Pada tahun 1945, penemu penicillin, Alexander Fleming, membuat pernyataan ketika meraih hadiah nobelnya. “Adalah suatu bahaya ketika orang yang angkuh meminum antibiotik dalam dosis yang tidak tepat hingga membuat dirinya terpapar kuman yang resisten.” Apa yang dikatakan sang penemu antibiotik pun menjadi kenyataan. Karena itu, pengawasan pemerintah, kebijakan yang tegas, dan kesadaran masyarakat diperlukan untuk mencegah semakin tumbuhnya kuman yang resisten.

Advertisements
Categories: gagasan, kesehatan | Tags: , , , , , , , , | 1 Comment

Penambahan Jumlah FK Tiada Henti, untuk Melahirkan Dokter-Dokter Neolib

Tidak ada yang bisa dilakukan selain menunggu. Seharusnya mereka tengah memasuki tahap selanjutnya dari pendidikan kedokteran, yaitu pendidikan profesi atau yang lebih dikenal sebagai koasistensi. Tapi apa daya, tidak ada Rumah Sakit yang dapat menampung. Memang Fakultas Kedokteran tempat mereka belajar telah bermitra dengan sebuah Rumah Sakit untuk dijadikan sebagai wahana pendidikan, tapi jumlah tenaga pengajarnya amat terbatas. Akhirnya, kerja sama pun dijalin dengan RS-RS lain, bahkan yang di luar propinsi nuh jauh di sana. Tapi tetap saja, jumlah koasisten yang mencapai angka ratusan itu tak mampu terserap semuanya. “Mengantri” untuk masuk RS pun tak bisa dihindari.

Itu hanya salah satu problem yang dihadapi oleh para mahasiswa fakultas kedokteran yang belum terakreditasi dengan baik. Seorang mahasiswa semester VII juga terpaksa “mengantri” untuk melakukan praktikum karena terbatasnya sarana membuat satu ruangan berperan multifungsi sebagai laboratorium histologi, anatomi, mikrobiologi, dll. Begitu pula di suatu daerah sana, satu kelas yang pengap lebih terlihat sebagai tempat seminar daripada ruang kuliah karena satu dosen harus berbicara di hadapan 260 mahasiswa.

Masalah-masalah di atas dialami oleh fakultas kedokteran. Anda tentu tahu kan, apa itu fakultas kedokteran? Yaitu tempat dilahirkannya orang-orang yang bertugas melayani kesehatan seseorang. Ketika ada salah satu anggota keluarga kita tiba-tiba jatuh pingsan, atau terkena serangan jantung, orang-orang lulusan fakultas itulah yang bertanggung jawab memberikan pertolongan pertama. Melalui pertolongan pertama yang sangat krusial (dan tentu saja kehendak Tuhan) segalanya ditentukan: bertahan hidup karena penanganan yang baik atau meninggal karena ketidaktepatan dan keterlambatan penatalaksanaan. Tentu saja kita masyarakat sangat menginginkan petugas yang menangani kesehatan keluarga kita itu alias dokter memiliki kapasitas yang mumpuni. Tapi, dengan membaca kembali masalah-masalah yang dimiliki sarana pendidikan tempat mereka belajar, apakah kita terlalu lugu untuk berekspektasi demikian?

Semenjak tahun 2013, kalangan akademisi dunia kedokteran mendesak pemerintah untuk menghentikan pendirian FK baru. Kenapa? Alasannya karena pada tahun itu sudah berdiri 73 fakultas kedokteran dan banyak dari FK tersebut yang tidak terpantau kualitasnya. Dari jumlah sebanyak itu, hanya belasan FK yang berakreditasi A, dan lebih dari 20 berakreditasi C. Tapi sepertinya desakan itu tidak dianggap, dengan alasan “besarnya kebutuhan dokter” sehingga diambil logika dibukanya FK-FK baru untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Universitas Teknik Tak Ingin Ketinggalan Membuka FK

Universitas Teknik Tak Ingin Ketinggalan Membuka FK

Benarkah Indonesia kekurangan dokter? Mari kita lihat sama-sama. Menurut perbandingan yang dianut oleh dunia, perbandingan ideal adalah satu FK untuk 4 juta penduduk dan satu dokter untuk 2.500 jiwa. Jadi, berdasarkan rasio universal tersebut, dengan estimasi jumlah penduduka negara ini sebesar 240 juta orang, Indonesia hanya butuh 60 FK dan 96.000 dokter. Kenyataannya, hingga saat ini sudah ada 83 FK (termasuk 8 FK yang dibuka baru-baru ini) dan tercatat 110.000-an dokter memiliki Surat Tanda Registrasi.

Masalah yang dihadapi republik ini bukanlah jumlah yang kurang melainkan distribusi yang sangat timpang. Sudah kita ketahui bersama nilai konsentrasi tenaga kesehatan di ibukota sangat tinggi, terlebih dokter spesialis. Sering terdengar pemerintah-pemerintah daerah terpencil mengeluhkan minimnya dokter. Naifnya, masalah tersebut dikira bisa diselesaikan dengan membuka FK baru, begitu kata pemerintah pusat. Tidakkah tidak bisa dilihat bahwa dari 8 FK yang baru saja dibuka, lima kampus tersebut berada di ibukota propinsi?

Sekarang mari kita berpikir lagi, berapakah biaya yang dikeluarkan suatu universitas untuk membuka fakultas kedokteran? Uang yang mesti digelontorkan untuk membangun gedung, ruangan-ruangan laboratorium dan peralatannya, manekin-manekin dan alat kedokteran untuk keterampilan klinik dasar; tentu itu semua tidak murah. Siapa yang membiayai semua pengeluaran itu? Jangan bermimpi dibiayai oleh pemerintah. Bukan hal yang mengherankan untuk masuk suatu fakultas kedokteran, terlebih swasta, perlu membayar uang pangkal/uang gedung hingga 500 juta rupiah. Belasan hingga puluhan juta adalah besaran yang harus dirogoh orang tua mahasiswa tiap semesternya.

Jika seseorang mesti mengeluarkan puluhan hingga ratusan juta rupiah demi mengenyam pendidikan, tentu setelah lulus yang menjadi orientasinya adalah bagaimana agar bisa segera balik modal. Para orang tua yang “menanam” uang sekian besar tersebut pada pendidikan anaknya tentu berharap anaknya kelak dapat berpenghasilan melebihi yang telah dikeluarkan tersebut. Akhirnya, fakultas kedokteran bukan lagi sebagai tempat mendidik orang-orang untuk melayani kesehatan manusia, melainkan mencetak lulusan-lulusan yang berburu gelar dokter spesialis agar kelak bergaji puluhan juta. Adakah hasil pendidikan seperti ini membentuk dokter-dokter yang siap mengabdi ke daerah terpencil?

Uang masuk dan spp yang begitu besar itu pun ternyata belum dianggap mampu membalikkan modal atas investasi besar untuk membuka sebuah FK. Universitas-universitas yang baru saja membuka FK itu pun membuka pendaftaran sebanyak-banyaknya bagi mahasiswa baru. Tak tanggung-tanggung, FK berakreditasi C dengan jumlah dosen yang hanya dua puluhan berani menerima hampir 300 mahasiswa baru. Padahal, telah ada regulasi yang mengatur jumlah mahasiswa baru suatu FK. Nilai akreditasi suatu FK disertai persentase mahasiswa yang lulusan ujian kompetensi untuk menjadi dokter berbanding lurus dengan jumlah mahasiswa yang boleh diterima. Sebagai contoh, suatu FK akreditasi C dengan persentase kelulusan ujian kompetensi dokter di bawah 50%, hanya berhak menerima 50 mahasiswa baru. Tapi memang otak sudah komersil, tanpa memedulikan himbauan Dirjen Dikti tersebut, FK akreditasi C dengan persentase kelulusan sekitar 20% nekat mengambil 200 mahasiswa baru.

Akankah masyarakat Indonesia dapat berharap dokter-dokter yang semenjak masuk isi kepalanya sudah dipenuhi angka juta-juta rupiah untuk mengabdi? Apakah institusi pendidikan yang begitu kekurangan tenaga pengajar dan sarana yang layak akan menghasilkan lulusan-lulusan yang kompeten? Sadarkah kesehatan kita semua kelak akan bergantung kepada dokter-dokter lulusan institusi yang telah disebut di atas?

Sebagian berargumen bahwa tidak mengapa jumlah FK terus ditambah demi menambah jumlah dokter, yang paling penting adalah tetap adanya ujian kompetensi. Bagi dokter-dokter yang sudah senior, mungkin kata “ujian kompetensi” terasa asing. Dahulu, tidak dikenal ujian semacam ini; setelah menyelesaikan masa koasistensi, mahasiswa kedokteran dianggap telah kompeten dan disumpah menjadi dokter. Tapi, dengan banyaknya sekolah kedokteran yang kualitasnya tidak terawasi seperti sekarang, tentu cara di atas sudah tidak bisa dipakai lagi. Perlu ada ujian untuk menjamin kualitas dokter-dokter baru. Berlatar belakang masalah seperti ini, ujian kompetensi pun lahir. Dan memang, FK berakreditasi A dan telah punya nama dapat meluluskan >90% mahasiswanya. Sebaliknya, FK yang kualitasnya belum ternilai hanya 20% mahasiswa yang lulus. Dan setiap periode ujian kompetensi hal ini terus berulang. Ada mahasiswa yang sampai ikut ujian 17x tapi tidak lulus-lulus juga….Ribuan sarjana kedokteran menganggur karena belum cukup kompeten menjawab soal-soal ujian.

Peluang bisnis tercium, akhirnya tumbuhlah bimbingan-bimbingan belajar. Saat ini jumlahnya mungkin sudah banyak sekali. Dalam waktu 3 bulan, peserta bimbel disiapkan agar dapat menjawab pertanyaan soal-soal ujian tulis dan praktikum. Jika lembaga bimbel tersebut dipenuhi oleh retaker atau mereka yang sebelumnya tidak lulus ujian, sepetinya hal tersebut tidak mengagetkan. Entahlah. Saya percaya ini sesuatu yang positif dalam membantu orang-orang untuk mencapai cita-cita mereka. Tapi menurut penulis, yang membuat seseorang menjadi “dokter” bukanlah karena ia lulus ujian. Setiap proses dari mempelajari berbagai macam kasus hingga berinteraksi dengan para pasien yang menjadi “guru” mereka; menurut saya, pengalaman-pengalaman itulah yang menjadi bekal berharga ketika sudah masuk dunia kerja.

Mengapa begitu banyak universitas tergiur untuk membuka fakultas kedokteran? Jelas, karena FK adalah sapi perah yang sangat produktif. Jumlah orang yang bercita-cita menjadi dokter tak pernah kurang. Termasuk peminat 8 FK yang baru saja dibuka menjelang tahun ajaran baru ini. Satu kursi mereka diperebutkan empat orang, bahkan ada yang enam orang. Suatu FK yang baru saja dibuka hanya boleh menyediakan 50 kursi, sehingga peminat mereka tidak kurang dari 200 orang. Ya, fakultas kedokteran adalah bisnis yang menggiurkan bagi universitas yang begitu haus akan kucuran dana.

Mengapa amat banyak anak-anak muda yang bercita-cita menjadi dokter? Tidak bisa dipungkiri, kesan glamor dan hidup mewah sering dilekatkan pada profesi dokter. Calon mertua mana yang berani menolak lamaran seseorang yang berjas putih dan berkalung stetoskop?

Tujuan tersebut tak bisa ditutupi. Hal itu memang tidaklah salah; adalah hak setiap orang menentukan bentuk jalannya untuk mencapai kesuksesan. Namun, semoga apa yang pernah diucapkan Hippocrates, “…dokter bertujuan menolong si sakit…” ribuan tahun yang lalu tidak serta merta memudar. Semoga pula niat mulia dr. Radjiman Wedyodiningrat yang tekun mempelajari ilmu kedokteran karena prihatin dengan masyarakat Ngawi yang terkena wabah pes tidak kita lupakan.

Tapi, apabila ini terus dibiarkan, apabila pembukaan fakultas kedokteran baru yang bertujuan mengeruk keuntungan tidak dihentikan, jangan salahkan jika lahir generasi-generasi muda NKRI yang neolib. Setiap orang bebas saling sikut sana dan sini hanya demi tujuan materi. Keselamatan dan kualitas hidup pasien bukan lagi menjadi prioritas, karena yang dipikirkan bagaimana agar segera mendapat keuntungan. Kegiatan pasar begitu bebasnya sehingga dokter pun bebas melabrak etikanya dengan ikut-ikutan berdagang kepada pasien. Generasi ini pula lah yang mengganggap rumah di pinggiran kali sebagai polusi semata dan bangga dengan resort-resort mewah di atas pulau reklamasi, tak peduli dengan kaum tergusur yang kehilangan mata pencahariannya. 

Marwah profesi ini perlu diselamatkan. Pembukaan FK baru harus dihentikan. Institusi-institusi yang jumlah pengajar dan sarananya tak layak ada baiknya ditutup. Biarlah jumlah FK dan dokter tidak banyak, toh jumlahnya kini sudah berlebih. Yang penting adalah bagaimana setiap lembaga pendidikan kedokteran tidak hanya mendidik ilmu anatomi dan ilmu patofisiologi, tapi mencetak mereka yang bukan mengobati penyakit melainkan menyembuhkan manusia, dan rela ditugaskan di mana pun mereka dibutuhkan.

nb: sy tahu penggunaan istilah “neolib” terlalu lebay. Kata ini dipilih agar kekinian saja.

 

Categories: gagasan, kesehatan, merenung | Tags: , , , | 3 Comments

Bekam dan Skeptisnya Dokter

Michael Phelps melakukannya. Ia berhasil mematahkan rekor yang dipertahankan Leonidas sejak 2.168 tahun yang lalu. Setelah berhasil memenangkan lomba renang 200 meter, medali emas individu ke-13 miliknya tercatat sebagai raihan terbanyak sepanjang sejarah olimpiade. Hingga akhir lombanya di cabang estafet 400 meter, Phelps total merengkuh 23 medali emas. Hasil ini membuatnya menjadi atlet olimpade paling sukses yang pernah ada.

Ini merupakan keempat kalinya Phelps meraih emas di lomba pesta olah raga paling bergengsi di dunia. Namun, ada yang tidak biasa di olimpiade Rio kali ini. Ia tertangkap foto memiliki banyak bekas lingkaran kemerahan di tubuhnya layaknya habis terkena tembakan paintball. Kita akhirnya tahu bahwa ia melakukan cupping atau bekam.

MIchael Phelps dan bekas bekam

MIchael Phelps dan bekas bekam

Mengapa mereka melakukannya? Kompatriot Phelps, Alex Naddour, yang berpartisipasi di cabang Gymnast, mengatakan dengan berbekam ia merasa lega dari nyeri otot yang diderita akibat latihan. Itu pula yang menjadi “rahasia” bagaimana ia menjaga kesehatan. Bahkan bekam menurutnya lebih baik daripada bayaran yang ia keluarkan untuk hal lain. Tampaknya, bekam tidak hanya dilakukan oleh atlet asal Amerika, karena bekas lingkaran merah itu terlihat di tubuh atlet dari berbagai negara. Bagi mereka, bekam adalah hal terbaik untuk menghilangkan pegal dan menjaga performa.

Meskipun olympian menganggap bekam sebagai sarana terbaik untuk penampilan mereka, kalangan ilmiah memiliki pandangan lain. Di website berita Independent asal Inggris, seorang professor farmakologi asal London mengatakan bahwa melakukan bekam hanyalah “buang-buang waktu”. Tidak ada penelitian yang menunjukkan manfaat dari bekam. Para praktisi bekam sendiri pun mengakui bahwa tidak ada fondasi ilmiah dari praktek tersebut. Manfaat dari bekam selama ini hanya diketahui berdasarkan pengalaman dan testimoni para penggunanya.

Dokter pun hingga saat ini masih skeptis dengan bekam atau pengobatan-pengobatan tradisional lainnya. Hal ini wajar karena bagi dokter, setiap obat atau tindakan yang dilakukan harus berdasarkan bukti-bukti yang teruji. Mengapa pengobatan yang dilakukan dokter selalu seputar pemberian obat-obatan kimia dan tindakan operasi? Karena penelitian telah membuktikan hal tersebut memang mampu memberikan kesembuhan bagi manusia.

Pengobatan tradisional atau alternatif banyak sekali jenisnya di dunia ini. Indonesia sendiri sejak zaman dahulu memiliki tradisi pengobatan dengan meminum minuman herbal atau jamu. Tapi, jika kita datang ke dokter mengeluhkan masuk angin, dokter tidak akan meresepkan jamu, melainkan obat-obatan kimiawi. Hal ini jelas karena dalam pendidikan kedokteran tidak dipelajari mengenai jamu.

Seorang guru besar di kampus saya mengatakan bahwa menjadi ilmuwan itu harus skepstis. Dokter, profesi yang pekerjaannya selalu berdasarkan penelitian ilmiah, bersifat skeptis dengan segala pengobatan, hingga akhirnya pengobatan tersebut telah terbukti secara ilmiah. Ini menjelaskan mengapa para dokter Indonesia, contohnya, tidak menyetujui dibukanya praktek “Jaket Warsito” untuk pengobatan kanker. Orang-orang bisa bilang melalui berbagai testimoni mengenai kemampuan jaket tersebut. Namun, kedokteran bukanlah ilmu testimoni. Dokumentasi bahwa pasien justru mengalami kondisi yang lebih buruk akibat mengenakan jaket tersebut juga tidak sedikit. Apalagi, praktek pengobatan itu dilakukan oleh seorang yang tidak berlatar belakang medis—yang tidak mempelajari ilmu dasar medicine seperti anatomi dan fisiologi. Tidak bisakah dokter untuk tidak skeptis?

Walau begitu, kedokteran tidaklah sepenuhnya ilmu hitam di atas putih. Setiap dokter pasti diajarkan bahwa tugas mereka bukanlah mengobati penyakit atau organ tubuh, melainkan mengobati manusia. Tentu harus disadari bahwa manusia bukanlah makhluk mati rasa layaknya robot. Ilmu komunikasi yang baik selalu menjadi kurikulum wajib dalam pendidikan kedokteran. Komunikasi di sini jelas bukan kepada organ tubuh atau sel-sel, melainkan manusia, makhluk yang punya rasa dan punya hati.

Mungkin sering dijumpai seseorang datang berkonsultasi ke dokter kemudian berkata bahwa jika mengalami demam, ia akan meminum madu atau habbatussauda atau obat herbal lain. Atau bertanya apakah jika mengalami nyeri punggung ia bisa menghilangkannya dengan berbekam. Bagaimana seharusnya dokter menjawab? Apakah dengan mengatakan, “Tidak perlu, itu hanya buang-buang waktu!”?

Jika itu yang dikatakan, secara keilmuan adalah benar, namun secara komunikasi adalah sangat buruk. Kita tidak boleh lupa, ilmu kedokteran takkan pernah bisa dilepaskan dari komunikasi yang baik.

Jika menghadapi kondisi di atas, saya selalu diajarkan, jawaban terbaik adalah, “Silakan. Tapi kalau setelah minum obat herbal demamnya tidak turun juga selama 3 hari, atau penyakitnya semakin parah, silakan kembali ke dokter.” Ini adalah sebuah win-win solution. Pasien dapat melakukan apa yang diyakininya dan dokter telah melaksanakan tugasnya berupa edukasi kesehatan.

Itu hanya salah satu contoh saja. Pun dengan pengobatan tradisional/alternatif yang lain. Selama diketahui bahwa pengobatan itu tidak menyakiti atau membuat lebih parah, pasien akan dipersilakan untuk melakukannya, dengan catatan jika kondisi tidak membaik kembalilah ke dokter.

Kondisi berbeda jika pengobatan tradisional itu jelas-jelas memperburuk keadaan. Contoh sederhana adalah jika mengalami patah tulang. Dokter akan melarang atau tidak akan merekomendasikan ke tukang urut. Kenapa? Karena menurut keilmuan mereka, jika mengalami patah tulang, hal pertama yang dilakukan adalah jangan menggerakkan bagian tubuh yang patah; itu hanya akan membuat patahan semakin luas dan merusak jaringan sekitar. Hal sebaliknya justru dilakukan tukang urut yaitu malah menggerak-gerakkannya. Hal terburuk, patah sederhana bisa menjadi komplikatif, yang dapat berujung kepada amputasi.

Ilmu kedokteran juga tidaklah bersifat menutup diri dari kemungkinan-kemungkinan yang ada. Ia pada hakikatnya mau membuka diri dengan pengobatan herbal atau tradisional, jika memang ternyata terbukti ilmiah. Ilmu kedokteran sendiri mengakui obat-obat herbal yang memang telah teruji secara klinis, atau fitofarmaka, dan dokter yang memiliki pemahaman tentang fitofarmaka tidak akan segan untuk meresepkannya. Begitu pula, contohnya, dengan jaket Warsito. Sejatinya dokter menerima ide tersebut dengan baik. Namun, karena belum terbukti, dan dikhawatirkan malah dapat membahayakan pasien, praktek tersebut harus dihentikan hingga secara ilmiah teruji. Sayang, salah satu anak bangsa terbaik tersebut, DR. Warsito, pada akhirnya meneruskan penelitiannya di Eropa.

Hal yang sama berlaku untuk bekam/cupping/hijama. Praktek ini memiliki sejarah yang sangat panjang, mundur hingga 1500 SM ke Mesir Kuno sana. Bekam sendiri sebenarnya merupakan praktek kedokteran yang sangat populer zaman dulu. Bahkan beberapa sumber menyebutkan bahwa Hippocrates, bapak kedokteran dunia, menyarankan bekam. Setelah scientific method atau metode ilmiah menjadi landasan para ilmuwan, bekam mulai ditinggalkan. Tapi hal ini tidak menutup kemungkinan untuk meneliti bekam dalam metode ilmiah. Jika pada akhirnya terbukti, para dokter di seluruh dunia tidak akan ragu untuk merekomendasikannya.

Segala kemungkinan sangat terbuka di dunia kedokteran. Masih banyak rahasia-rahasia alam yang belum terkuak. Hal yang dulu dianggap buang-buang waktu, bisa saja menjadi standar pengobatan ke depannya. Dahulu, para dokter merasa tidak perlu melakukan cuci tangan sebelum melakukan tindakan. Kala itu, bakteri atau kuman dianggap takhayul. Setelah terbukti, cuci tangan menjadi hal yang sangat—sangat sangat—wajib bagi seluruh tenaga kesehatan. Begitu juga, misalnya, dengan “kerokan”. Sekilas, praktek semacam itu hanya akan menimbulkan reaksi radang, hingga akhirnya pada tahun 2005 Universitas Airlangga mencari tahu tentang itu. Penelitian itu menunjukkan kerokan dapat merangsang pengeluaran senyawa kimia penghilang nyeri dan sebaliknya menghilangkan senyawa penimbul nyeri. Memang penelitian itu bukanlah uji klinis dan hanya menggunakan sampel yang sedikit, tapi setidaknya sudah ada landasan bahwa kerokan bukanlah hanya buang-buang waktu.

Di sinilah mengapa setiap manusia tidak punya hak untuk meninggikan diri. Bahkan sains yang dipuja-puja di era materalis saat ini oleh ilmuwan sendiri disebut sebagai sesuatu yang fragile. Seberapa sering di buku kuliah kedokteran terdapat tulisan, “…not fully understood”? Sains atau ilmu pasti tidaklah selalu bersifat pasti. Apa yang dahulu dianggap ilmiah bisa dianggap takhayul di kemudian hari. Begitu pula apa yang dianggap mitos hari ini bisa saja merupakan suatu fakta di masa depan. Ya, karena Sang Pemilik Ilmu, Tuhan Semesta Alam, sudah mengatakannya kepada manusia:

“…dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (Al Israa’: 85)

 

Categories: gagasan, kesehatan, merenung | Tags: , , , | Leave a comment

“Dokter Itu Lulusan Mana Sih!?”

Capture

Ada seorang lelaki, berusia sekitar 40 tahun, datang ke UGD sebuah rumah sakit. Ia terbaring lemas di atas blangkar, menunggu diperiksa. Dokter umum yang bertugas pun mendatanginya dengan mata sedikit mengantuk. Maklum, jam sudah menunjukkan lewat tengah malam.

“Dok, perut saya kok rasanya ga enak, ya?”

“Di mana?” tanya dokter.

“Di sini,” jawab bapak itu sambil meletakkan tangan di atas perutnya.

Sang dokter menekan bagian ulu hati, lalu bapak itu kesakitan. Tak lama, perawat diinstruksikan untuk memaksukan obat-obatan injeksi. Sekitar setengah jam kemudian, pasien merasa sedikit enakan. Obat minum diresepkan dan kemudian bapak itu dipulangkan.

Saat matahari mulai meninggi di langit, sang bapak datang lagi ke UGD. Hanya saja saat itu kondisinya memburuk. Dokter dinas pagi langsung memeriksanya. Saat ditanya, keluhannya sama, yaitu nyeri di ulu hatinya. Tapi, bapak itu terlihat sangat tersiksa.

Singkat cerita, pasien itu didiagnosis mengalami serangan jantung setelah dilakukan pemeriksaan rekam jantung. Sang dokter jaga pun bertanya kepada istri pasien.

“Sakitnya sudah berapa lama?”

“Dari tengah malam dok. Tadi sekitar jam 2 pagi kami sudah ke UGD,” jawab sang istri.

“Loh, tadi malam sudah ke sini? Terus, dilakukan apa sama dokternya?”

“Cuma dikasih obat penghilang nyeri saja dok. Setelah nyerinya agak berkurang, oleh dokter jaganya dibolehkan pulang.” jelas istri pasien.

“Wah, kalau bapak punya sakit di ulu hati harus waspada bu. Bapak kan punya riwayat darah tinggi. Sakit jantung kadang nyerinya tidak di dada, tapi bisa juga ulu hati. Kalau tidak segera diobati bisa berbahaya,” jelas dokter.

“Oh, begitu ya dok? Waduh, untung kami segera kembali ke sini ya dok. Soalnya kata dokter semalam ini cuma sakit asam lambung biasa.”

“Iya bu,” kata dokter sembari tersenyum. “Seharusnya semalam diperiksa rekam jantung. Kenapa bisa tidak diperiksa ya? Saya tidak tahu itu dokter semalam lulusan mana.”

***

Kalimat itu sepertinya bukanlah hal asing bagi yang bekerja sebagai klinisi. Ketidaktepatan diagnosis dan pengobatan bukan hal yang jarang terjadi, dengan berbagai faktor penyebabnya. Bisa terjadi karena tanda-tanda dan keluhan pasien yang tidak khas, minimnya alat pemeriksaan penunjang, tenaga kesehatan yang terlalu capek sehingga turun konsentrasinya, atau bahkan karena faktor ilmu dan pengetahuan yang kurang.

Ilmu yang dimiliki setiap dokter berbeda-beda. Dokter spesialis sudah pasti memiliki ilmu dan skill yang lebih dibanding dokter umum. Pengetahuan tiap dokter umum pun juga bisa berbeda. Ilmu kedokteran identik dengan pengalaman klinis, sehingga dokter umum yang telah bekerja di rumah sakit selama bertahun-tahun pasti lebih luas wawasannya ketimbang yang baru internsip. Apalagi kalau dokter umum itu sudah mengikuti berbagai macam pelatihan, tentu memiliki nilai lebih.

Harus kita pahami bahwa seorang dokter yang berpraktek berarti ia telah dianggap kompeten. Seluruh pengetahuan dan keterampilan yang minimal dimiliki oleh dokter telah dikuasainya. Apakah ia tepat dalam mendiagnosis dan merawat seorang pasien, tentu dipengaruhi oleh beberapa hal. Tapi, hal tersebut tidak serta merta menafikan kompetensinya sebagai seorang dokter.

Bertanya seorang dokter lulusan dari kampus mana tidaklah relevan. Ketika seorang sudah berjas putih, tersematkan gelar dokter atau spesialis di papan namanya, orang-orang sudah tidak peduli latar belakangnya. Apakah ia lulusan dari universitas di barat, atau timur, yang masyarakat inginkan hanyalah bagaimana agar mendapat pelayanan yang baik. Kualitas kerja dan pengetahuan seseorang juga rasanya tidak etis jika dikaitkan dengan institusi asalnya. Yang menentukan kinerja ialah orang itu sendiri, bukan tempat ia mengenyam pendidikan. Apalagi ketika sang dokter sudah lulus; semua keputusan dan tindakan yang ia buat sudahlah bukan lagi tanggung jawab universitas.

Manusia memang tempatnya penyakit hati, dan mungkin kita akan merasa bangga apabila berhasil menemukan diagnosis yang tepat atas suatu penyakit yang sebelumnya telah diobati namun tak kunjung membaik. Demi menunjukkan kepintaran di hadapan pasien, dengan santainya disampaikan bahwa pengobatan yang diberikan oleh dokter sebelumnya adalah ngaco. Hal itu diungkapkan sekedar untuk melampiaskan rasa bangga, atau mungkin supaya pasien itu kembali ke kita lagi karena dianggap cerdas. Tapi, tidak sadarkah bahwa pernyataan merendahkan sejawat secara terang-terangan semacam itu justru akan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap dokter?

Saat ini kredibilitas dokter tengah terjatuh ke lembah yang amat curam. Maraknya pemberitaan negatif dari media, seperti anggapan bahwa dokter itu sering menolak pasien BPJS, sudah amat banyak memengaruhi masyarakat kita. Para (oknum) pengacara juga tidak akan lelahnya mencari klien untuk ia dorong supaya mau menuntut dokter ke pengadilan; apalagi tujuannya kalau bukan uang? Terakhir, kasus pemukulan dokter di suatu rumah sakit akibat hebohnya pemberitaan vaksin palsu semakin menyudutkan posisi dokter Indonesia. Akankah kelak seluruh warga Indonesia lebih senang berobat ke dokter asing?

Demi kemaslahatan, pasien yang merasa tidak mendapat pengobatan yang tepat dari dokter sebelumnya mesti ditenangkan oleh dokter yang tengah menanganinya. Perlu dipahamkan bahwa dokter sebelumnya tidaklah bertujuan mencelakakan, dan yang terpenting adalah ia sudah ditangani dengan benar. Apa yang akan terjadi jika si dokter itu malah ikut memanas-manasi? Beruntung jika pasien tidak cukup punya banyak waktu untuk menyewa pengacara, tapi jangan remehkan kekuatan “mulut ke mulut”. Yang jatuh martabatnya bukan hanya dokter yang disebut, tapi dokter secara keseluruhan. Kalau berobat ke dokter pun bisa mendapat penanganan yang salah, kenapa tidak ke dukun saja?

Dokter yang mendengar bahwa ia direndahkan oleh sejawatnya akan memiliki 2 respon: menyerang balik atau, ini yang lebih berbahaya, berkecil hati. Jika sudah berkecil hati, tidak mustahil untuk gantung stetoskop. Padahal, kesalahan yang dilakukan mungkin tidak seberapa dibandingkan dengan manfaat yang telah diberikan.

Haruskah pendidikan selama 6 tahun yang begitu melelahkan harus sia-sia begitu saja karena perkataan menyakitkan dari rekan seprofesinya? Setiap orang bisa berbuat salah, dan sebaik-baik yang berbuat salah ialah yang belajar untuk memperbaikinya. Sebaliknya, seburuk-buruk yang berbuat salah ialah yang berputus asa.

Kita harus belajar lebih mendalam lagi tentang sikap respek. Kesalahan penanganan yang ditambah hinaan tidak akan menyelesaikan masalah, tidak akan membuat kondisi pasien membaik. Jauh lebih baik memberikan masukan langsung kepada dokter yang melakukan kesalahan tersebut, daripada mengumbar-umbarnya di depan pasien atau perawat.

Ini juga menjadi pemicu bagi setiap dokter untuk terus belajar. Walau terus menggali ke dasar bumi sekalipun, pengetahuan tentang kesehatan manusia tidak akan ada habisnya. Bukankah Tuhan tidak memberikan manusia ilmu melainkan hanya sedikit? Menuntut ilmu mungkin tidaklah melulu menggelontorkan segepok uang untuk ikut seminar atau simposium. Buku-buku bacaan ketika kuliah yang tersimpan rapih di lemari, selama tidak terlalu jadul, sebagian besarnya masih relevan. Terlebih di masa sekarang, teknologi amat memanjakan kita untuk mengakses pembelajaran ke berbagai sumber, selama memiliki keinginan.

Agaknya mari diingat kembali dengan apa yang telah diucapkan ketika akan menjalani profesi ini. Semua dokter telah mengucapkan sumpahnya, bahwa “…Saya akan memperlakukan teman sejawat saya sebagaimana saya sendiri ingin diperlakukan.” Bukankah tidak pernah ada orang yang ingin direndahkan oleh orang lain, terlebih oleh teman seprofesi? Komunikasi yang baik dan rasa saling menghormati akan menjaga nama baik profesi ini di hadapan masyarakat, sebagaimana juga yang telah diucapkan dahulu, “…Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur kedokteran.”

Categories: kesehatan, merenung | Tags: , | 5 Comments

Why Always Us?

images

Mereka berkata ada seorang yg tengah berduka
Ia miskin dan papa, bukan orang berada
Tak ada yg ia punya, termasuk jamkesmas atau BPJS utk mengobati luka
Tanpa tetek bengek itu tak ada RS yg mau menerimanya
Muncullah judul “Dokter Menolak Pasien Miskin” berukuran mega di media

Why always us?

Mereka berkata tentang kesejahteraan yg menyedihkan
Para buruh berteriak di megaphone melantangkan keadilan
Guru-guru menangisi isi kantong yg merana dan penuh penderitaan
Begitu pula para dokter dan sejawat dunia kesehatan yg menginginkan perbaikan
Tapi katanya dokter tidak boleh komersil, hidupnya hanyalah pengabdian

Why always us?

Mereka menceritakan ttg kepergian seseorang yg ditangisi
Sudah semua prosedur dan tatalaksana ilmiah telah dijalani
Tapi mungkin mereka menganggap seorang yg berjas putih itu adalah dewa dan dewi
Lupakah bahwa yg menyembuhkan dan mencabut nyawa itu adalah Ia Yang Maha Menguasai?
Alaahh, tak peduli! Yg penting si dokter pemegang pisau harus dihakimi

Why always us?

Kini, mereka tidak mau terima dengan kepalsuan
Sy ingin bertanya secara tulus, apakah mereka benar-benar berpikir dokter itu ingin menyakiti pasien yg membutuhkan bantuan?
Apakah nama dan latar belakang profesi para oknum tidak mereka baca dengan pelan?
Tidakkah dipikir bahwa yg memberi suntikan itu sama saja dengan mereka, yaitu tidak tahu apa-apa?
Daripada memukul dan menyandera dokter, kenapa tidak kau potong saja tangan mereka yg jelas-jelas terdakwa?

Why always us?

Tapi biar saja apa mereka mau berkata
Tugas dokter hanyalah melayani dan bekerja, menjadi perpanjangan tangan Tuhan Semesta
Bagi mereka yg telah meninju dan menghina, dan juga Ribka Tjiptaning yg sibuk mencari simpati rakyat jelata
Jika membutuhkan bantuan, pastilah akan dilayani sepenuh hati dan tenaga
Dengan segera dokter yg melayani akan melupakan masalah lalu yg dibuat oleh Anda

Why always us? Karena kami adalah dokter

Categories: gumam sendiri, merenung | Tags: , , | Leave a comment

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: