Foto

[FOTO] Seperti Kura-Kura, Menatap Desir Ombak Pantai Sungkun, Lombok Timur

DSCN0443

Bibir selatan pulau Lombok masih menyimpan eksotismenya. Seolah-olah sedang menjaga miliknya yang berharga, pantai-pantai dengan pasir jernih dan laut biru pekat masih ia sembunyikan. Bukankah untuk memperoleh keindahan, sering manusia harus berjuang dan berkorban? Mungkin itulah yang hendak diajarkan oleh pulau Lombok.

Salah satu pantai yang masih bersih dan murni ialah pantai sungkun, atau biasa disebut juga dengan pantai kura-kura. Masih belum banyak ia dikunjungi. Lokasinya pun sulit diakses, membuat perjalanan untuk menempuhnya terasa semakin menggairahkan. Jangankan saranda dan fasilitas penunjuang rekreasi, papan petunjuk menujunya saja masih pelit untuk menampakkan diri.

Ada beberapa jalur yang bisa dilalui untuk mencapai pantai tersebut. Pantai ini terletak di desa Pemongkong, kecamatan Jerowaru, kabupaten Lombok Timur, propinsi NTB. Untuk mencapainya, ambillah jalan menuju Lombok Timur, kemudian ke arah Keruak. Di Keruak, belok ke arah kecamatan Jerowaru. Di Jeroawu sebenarnya banyak pantai yang bagus dan masih sepi. Salah satu yang terkenal ialah pantai Pink. Butir-butir alga dicampur dengan percikan air dan sinar matahari membuat pasirnya terlihat berwarna pink.

Setelah berbelok ke arah Jerowaru, ikuti papan petunjuk ke arah pantai Pink/pantai Kaliantan/pantai Surga. Kita bisa ke pantai Sungkun melalui jalur Kaliantan atau Surga. Pengguna mobil hanya bisa mencapainya melalui jalur pantai Surga. Saya pribadi belum pernah melalui pantai Kaliantan. Teman yang pernah mencoba ke Sungkun melalui Kaliantan bercerita bahwa jalan di sana benar-benar jelek dan hanya bisa dilalui oleh sepeda motor.

Ikuti Petunjuk ke Arah Panti Surga

Ikuti Petunjuk ke Arah Pantai Surga

Ikuti papan jalan ke arah pantai Surga. Ikuti jalan raya beraspal, dan di sebelah kiri akan terlihat kantor Desa Ekas. Tak jauh di depan akan ada pertigaan dengan ke kanan berupa jalan berkerikil. Ambil jalan ke kanan itu dan nikmati jalanan yang rusak. Kita pun akan diminta berhati-hati akan melalui turunan pasir yang cukup curam. Persis setelah turunan ada penginapan yang cukup dikenal warga lokal yang bernama “Planet on The Heaven”. Ambillah jalan lurus terus.

Setelah Melewati Kantor Desa Ekas, Belok Kanan untuk ke Jalanan Berkerikil

Setelah Melewati Kantor Desa Ekas, Belok Kanan untuk ke Jalanan Berkerikil

Beginilah Penampakan Jalan ke Pantai-Pantai di Lombok Timur

Beginilah Penampakan Jalan ke Pantai-Pantai di Lombok Timur

(catatan: jika tidak berbelok kanan ke arah pantai Surga, bisa juga melalui jalan lurus terus; terus hingga ke ujung dunia. Di ujung sana akan ditemui pantai juga (kami menamakannya “Pantai Ujung Dunia” karena berada di ujung). Pantai Ujung Dunia pula memiliki pemandangan yang menarik dengan bukit-bukit yang membentang. Sebelum pantai tersebut ada belokan kecil ke kanan. Ambillah belok kanan dan ikut jalan berpasir-batu dan menanjak, terus hingga jalannya menurun. Setelah turun, ada pertigaan–pertigaan dengan jalan yang ke arah pantai surga. Beloklah ke kiri. Atau, jika ingin menikmati pantai Ujung Dunia terlebih dulu, jalan ke Sungkun juga bisa dilalui dengan melewati jalan berbukit pantai Ujung Dunia. Setelah menanjak layaknya mobil off-road, ambil jalan ke kanan.)

Setelah melewati penginapan Planet, tak jauh akan ada jalan kecil belok ke kanan. Belokan ke dua (yang jalannya sempit dan berupa tanah) merupakan arah ke pantai Surga. Ambillah jalan lurus terus, menanjak, untuk ke Sungkun. Berhati-hatilah terutama yang menggunakan mobil karena tanjakan tersebut beralaskan pasir. Jika hujan sepertinya jalan tersebut akan sangat licin dan saya tidak tahu apakah memungkinkan untuk dilewati atau tidak. Setelah menanjak, jalan menurun. Gunakanlah gigi rendah (gigi 1) untuk keamanan.

Pertigaan, dengan Belok Kanan ke Pantai Surga. Ambillah Jalan Lurus untuk ke Sungkun

Pertigaan, dengan Belok Kanan ke Pantai Surga. Ambillah Jalan Lurus untuk ke Sungkun

Setelah ambil turun jalan akan menjadi datar lurus, lalu akan ada pertigaan. Di pertigaan, menempel di batang pohon, ada papan kecil bertuliskan “Pantai Kura-Kura” dengan tanda panah ke kanan. Ambillah ke kanan.

Pertigaan. Belok Kanan untuk Sampai di Sungkun

Pertigaan. Belok Kanan untuk Sampai di Sungkun

Tak lama kemudian, pantai Sungkun dengan hallmark berupa pulau kecil berbentuk seperti kura-kura di tengah laut.

Voila! Sampai juga di Sungkun

Voila! Sampai juga di Sungkun

DSCN0450

Pulau Berbentuk Kura-Kura yang Merupakan Khas dari Pantai Sungkun

DSCN0408

DSCN0414

DSCN0410

Bukit Sebelah Utara

Bersama kura-kura raksasa

Pantai Sungkun cukup luas dengan di sebelah utara dan selatan terdapat tebing membentuk bukit. Jika mau, bukit tersebut dapat dinaiki. Jalut ke bukit utara cukup terjal namun memungkinkan untuk dilalui. Di atas bukit, kita akan bisa melihat pemandangan ombak yang menderu ke arah pasir pantai dari atas. Pulau kura-kura pun terlihat jelas.

Jalan terjal ke bukit sebelah utara

Jalan terjal ke bukit sebelah utara

Pemandangan dari atas bukit

Pemandangan dari atas bukit

Pemandangan dari atas bukit

Pemandangan dari atas bukit

Selfie in front of a giant turtle :)

Selfie in front of a giant turtle 🙂

Bukit sebelah selatan juga (sepertinya) memungkinkan untuk dinaiki, dan mungkin jalurnya lebih mudah. Untuk ke sana mesti berjalan cukup jau dari bukit selatan. Jika punya tenaga dan waktu cukup luang, puaskanlah rasa penasaran dengan menaikinya.

Sedikit catatan, jika ke pantai ini di hari libur, biasanya ada orang-orang nongkrong yang akan menghampiri wisatawan. Mereka akan memalak “uang kebersihan pantai” sebesar 20 ribu atau 30 ribu. Fenomena tersebut memang sangat menjengkelkan. Meski demikian, tetap kemegahan pantai Sungkun benar-benar menyenangkan untuk dinikmati, walau harus melewati panasnya matahari Lombok selatan dan perjalanan yang sangat jauh nan rusak.

Advertisements
Categories: catatan perjalanan, Foto | Tags: , , , , | 1 Comment

[FOTO] Terpercik Dinginnya Butir Air Terjun Sendang Gile dan Tiu Kelep, Lombok Utara

20150524_121553Wisata pantai merupakan keunggulan dari pulau Lombok. Pulau yang hanya berukuran 5.435 m2 ini memiliki pesona pesisir yang tak kalah indah dibanding pulau Dewata. Selain tempat-tempat yang sudah banyak dikenal, seperti pantai senggigi, kuta, dan tanjung ann, masih banyak pasir putih dan laut biru yang minim popularitas namun sungguh memukau.

Tapi keindahan Lombok tidak hanya itu. Ada satu objek yang begitu terkenal dan tak pernah sepi dari kunjungan turis lokal bahkan asing. Yap, dia adalah gunung Rinjani. Memang benar-benar suatu keunikan bahwa di pulau yang ukurannya tak seberapa ini tertancap gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia (setelah gunung Kerinci di Jambi). Berita mengenai keelokan sang gunung beserta kalderanya sudah tak asing lagi di telinga dunia. Gunung yang terletak di tengah-tengah pulau Lombok sebelah utara ini membuat atraksi Lombok tak semata didominasi oleh pantai. Di daerah pegunungan Rinjani, di sekitar pinggang sang gunung, mengalir deras bermacam-macam air terjun nan menakjubkan.

Jumlah air terjun di Lombok sangat banyak dan mayoritas berada di daerah utara. Jelajah seluruh air terjun di daerah utara bisa menjadi program perjalanan tersendiri. Namun, jika Anda berkunjung ke Lombok menggunakan biro travel, besar kemungkinan Anda akan diantar ke air terjun yang sangat populer—mungkin juga yang paling banyak dikunjungi—yaitu Sendang Gile dan Tiu Kelep.

Kedua air terjun ini berada di satu lokasi, dengan Tiu Kelep berada di atas Sendang Gile. Air yang terjatuh dari Tiu Kelep kemudian mengalir dalam sungai hingga terjatuh kembali sebagai Sendang Gile. Berposisi lebih rendah, Sendang Gile memiliki ketinggian kurang lebih 30 meter, sedangkan kakaknya, Tiu Kelep, menderu melewati tebing berketinggian kurang lebih 45 meter.

Konon, dahulu kala seorang pangeran berlari dari kejaran seekor singa gila dan ia bersembunyi di balik air terjun. Legenda tersebut pun menjadi asal-usul nama Sendang Gile. Sedangkan “Tiu” merupakan bahasa sasak (bahasa daerah Lombok) yang berarti “kolam” dan “Kelep” berarti “terbang”. Kolam terbang? Diberi nama demikian karena sang air terjun begitu perkasanya hingga menerbangkan buih-buih membasahi sekitarnya layaknya gerimis. Di tempat jatuhnya Tiu Kelep pun terdapat kolam yang tidak begitu dalam, seukuran pinggang, yang cukup aman apabila pengunjung hendak berenang.

Sedang Gile dan Tiu Kelep terletak di Desa Senaru, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Tengah. Senaru sendiri merupakan salah gerbang pendakian ke gunung Rinjani. Mengenai perjalanan ke Rinjani, saya menyarankan untuk berangkat tidak melalui desa ini melainkan melalui Sembalun (cerita perjalanan ke Rinjani bisa dilihat di sini). Dikenal sebagai desa wisata, Senaru memiliki banyak penginapan, tempat informasi bagi turis yang ingin naik RInjani, dan tempat makan.

Waktu yang dibutuhkan dari Mataram-Desa Senaru kurang lebih 2,5-3 jam. Untuk masuk Senaru, pengunjung akan dikenakan biaya karcis masuk sebesar 10 ribu. Gerbang menuju air terjun tidak jauh dari lokasi parkir kendaraan. Ketika turun, akan ada orang-orang yang menawarkan untuk menjadi guide. Sebenarnya jalur ke Sendang Gile dan Tiu Kelep tidaklah sulit dan jalan setapaknya sangat jelas sehingga tidak pakai pemandu pun tidak masalah. Pengunjung mesti membayar kembali karcis 10 ribu/orang untuk dapat masuk area air terjun.

20150524_105225

Tempat Pembelian Karcis Masuk

Tempat Pembelian Karcis Masuk

Air terjun yang pertama kali akan dijumpai adalah Sendang Gile. Untuk ke sana, pengunjung harus berjalan kaki kurang lebih selama 7 menit. Jalanan berupa turunan dengan dasarnya sudah diaspal.

Jalanan Turun

Jalanan Turun

Tepat sebelum tiba di Sendang Gile, pejalan akan menuruni tangga-tangga dan kemudian menjumpai pertigaan, dengan jalan turun ke bawah menuju Sendang Gile dan belok kanan ke arah Tiu Kelep. Turunlah terlebih dulu karena ketika berada di sana berarti Sendang Gile sudah di depan mata.

Pertigaan. Lurus untuk Ke Sendang Gile, Belok Kanan untuk Ke Tiu Kelep

Pertigaan. Lurus untuk Ke Sendang Gile, Belok Kanan untuk Ke Tiu Kelep

Sendang Gile memang tidak memiliki kolam, tapi sering terlihat orang-orang bermain-main di bawahnya. Pada hari libur, ada beberapa orang yang buka lapak jualan makanan. JIka terik matahari tak terhalang awan, mudah sekali untuk menemukan lengkungan pelangi. Bagian tengah dari air terjun ini pun tertutupi oleh dedaunan tumbuhan paku.

Air Terjun Sendang Gile

Air Terjun Sendang Gile

20150524_110425

20150524_110517

20150524_110550

20150524_110705

20150524_110933

Terlihat Lengkungan Pelangi

Terlihat Lengkungan Pelangi

Okay, saatnya melanjutkan perjalanan ke Tiu Kelep. Dibutuhkan 15 menit berjalan kaki untuk menujunya dari Sendang Gile. Untuk ke sana, berjalanlah naik tangga kembali untuk kemudian berbelok kiri di pertigaan.

Jika jalanan sebelumnya telah diaspal, jalur menuju Tiu Kelep dibiarkan murni tanah dan berkerikil. Tak perlu khawatir tersesat karena jalan setapak telah terbentuk dengan jelas.

Jembatan Penyeberangan Lembah

Jembatan Penyeberangan Lembah

Berjalan Menyusuri Kanal Air

Berjalan Menyusuri Kanal Air

Tak lama, pejalan akan menemui sungai yang cukup lebar. Ia berasal dari Tiu Kelep untuk mengalir ke arah Sendang Gile. Sungai harus diseberangi dan pengunjung tak perlu ragu karena arusnya tak terlalu deras dan pejalan masih dapat berdiri dengan mantap di sungai tersebut. Lepaslah alas kaki untuk menyeberanginya agar aman. Perhatikan juga ketika melepas dan menyimpan alas kaki agar tidak terjatuh dan hanyut. Sekali saja terbawa arus, alas kaki atau barang Anda akan terseret sungai begitu cepat menuju hilirnya, dan Anda pun hanya bisa mengucapkan selamat tinggal. Simpan juga barang-barang elektronik dengan aman. Tinggi sungai tidak mencapai lutut sehingga realtif aman menyimpannya di dalam saku.

20150524_113153

Bersiap Menyeberangi Sungai

Bersiap Menyeberangi Sungai

Menyeberangi Sungai

Menyeberangi Sungai

Setidaknya pengunjung mesti menyeberangi sungai sebanyak 2 kali. Sensasi menyeberangi sungai di tengah hutan membuat wisata air terjun ini terasa menyenangkan :).

Sungai Lagi

Sungai Lagi

Menyeberangi Sungai Lagi

Menyeberangi Sungai Lagi

Berjalan Bernuansakan Hutan

Berjalan Bernuansakan Hutan

Saat Tiu Kelep mulai terlihat, pengunjung dapat mulai merasakan percikan buih-buih air membentur badan. Seolah terbang, butir-butir yang dipancarkan Tiu Kelep dihembuskan angin membasahi sekitarnya. Karena itu, ketika mendatangi Tiu Kelep, bersiap-siaplah untuk basah dan bila perlu bawa pakaian ganti.

Akhirnya Sampai di Tiu Kelep

Akhirnya Sampai di Tiu Kelep

Tiu Kelep terjun ke dasar yang membentuk kolam. Jika mau, pengunjung dapat berendam dan berenang namun jangan terkejut dengan suhu airnya yang dingin. Terkadang area Tiu Kelep dapat tertutupi oleh kabut jika titik-titik air tersebut sedang melayang rendah. Kolam Tiu Kelep yang langsung mengalir membentuk sungai membuat tempat tersebut penuh dengan genangan air, sehingga jagalah sepatu dan barang-barang berharga Anda agar tidak kebasahan.

Air terjun Tiu Kelep terlihat bertingkat dengan air yang jatuh di bagian atas terjun bebas bagaikan melompat indah. Di bagian bawah, air merambat pelan seolah menelusuri dedaunan paku, membuatnya seperti tirai tipis nan lebar.

Pijakan kebanyakan berupa bebatuan berlumut yang licin sehingga penting untuk berhati-hati dalam melangkah agar tidak terpeleset. Hal lain yang perlu diingat adalah jagalah kebersihan dan kelestarian agar kegagahan Tiu Kelep dapat terus dinikmati hingga generasi mendatang.

20150524_120138

20150524_120443

Mengagumi Tiu Kelep

Mengagumi Tiu Kelep

Kolam Tiu Kelep

Kolam Tiu Kelep

Berkali-kali mengambil foto di sana seolah takkan ada puasnya, karena memang keindahan ciptaan Allah SWT takkan pernah berhenti membuat kita bergetar. Ahh, memang banyak sekali alasan bagi kita untuk bertasbih dan memujiNya, bukan? Salah satunya dari kesempurnaan dan keindahan air terjun ini yang tak hentinya memercikkan butir air sebagai tanda salamnya kepada para manusia.

 

Bonus: saat jalan pulang, Anda bisa mencoba berjalan melewati terowongan kanal air yang terletak di jembatan penyeberangan lembah. Air yang mengalir di kanal cukup deras, namun manusia masih bisa berdiri tegak di atasnya. Lepas alas kaki agar ia tidak terbawa hanyut. Senter atau penerangan dapat digunakan karena terowongan tersebut cukup gelap. Pada akhirnya ia akan berakhir di tempat sebelum pertigaan Sendang Gile dan Tiu Kelep.

Terowongan Air

Terowongan Air

20150524_124439

Tempat Tembus Terowongan Air, di Pertigaan Tiu Kelep-Sendang Gile

Tempat Tembus Terowongan Air, di Pertigaan Tiu Kelep-Sendang Gile

Categories: catatan perjalanan, Foto | Tags: , , , , , | Leave a comment

[FOTO] Menyelami Keindahan Terumbu Karang nan Perawan di Gili Lampu, Lombok Timur

(UPDATE!!! Foto bawah air sudah sy tampilkan di laman. Gambar diambil tanggal 4/9/2015)

 

Pulau Lombok sudah banyak dikenal sebagai daerah wisata. Sebut saja Gili Trawangan, salah satu destinasi wisata yang sangat diincar oleh turis lokal hingga asing. Banyak wahana yang mampu memanjakan di sana, di antaranya ialah snorkeling. Kegiatan ini memang cukup banyak memiliki penggemar dan Lombok yang terkenal akan wisata pantainya tentu menjadi salah satu destinasi snorkeling.

Hanya saja, jika boleh berpendapat, Gili Trawangan bukanlah tempat terbaik untuk menikmati keindahan terumbu karang. Mungkin beberapa tahun lalu—waktu pulau mini tersebut masih sepi pengunjung—beragam warna-warni yang indah masih dapat dilihat. Namun, suasana Gili Trawangan yang tak pernah sepi dari pengunjung ditambah pembangunan sana sini membuat pesona terumbu karangnya berkurang. Jika ingin menikmati keindahan flora dan fauna bawah laut, ada satu tempat yang sangat direkomendasikan di Lombok. Ia adalah “Gili Lampu”.

Lombok sebenarnya masih memiliki banyak tempat yang sangat bagus untuk dikunjungi namun masih sepi pengunjung. Gili Lampu yang berada di Lombok Timur adalah salah satunya. Area timur memang belumlah sepopuler Senggigi di barat dan Gili Trawangan di utara. Ini adalah keuntungan tersendiri karena karang-karang yang ada di Gili Lampu belum  banyak terjamah.

Gili Lampu terletak di Desa Padak Guar, Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur. Awalnya ia merupakan tempat transmigrasi pensiunan tentara angkatan darat, sehingga daerah tersebut disebut “Transad”. Meskipun namanya “gili” (gili berasal dari bahasa sasak yang berarti “pulau”), tapi Gili Lampu bukanlah pulau melainkan sebuah pelabuhan kecil. Kapal-kapal nelayan berbaris di bibirnya, digunakan untuk memancing atau mengantar tamu untuk snorkeling. Selain kegiatan favorit tersebut, Gili Lampu juga menawarkan wahana-wahana lain, namun tetap wahana utama dan yang paling populer ialah wisata bawah laut.

Lama perjalanan dari Mataram – Gili Lampu kurang lebih 2-3 jam. Lombok jarang ada kendaraan umum sehingga untuk mencapainya memang harus menggunakan kendaraan pribadi. Karcis parkir di sana seharga 2.500. Pengunjung akan diberi pilihan lokasi snorkeling. Titik-titik snorkeling di sana ada Petagan, Gili Bidara, dan Gili Kondo. Jika hanya ke Gili Kondo, biaya sewa kapal sebesar 250 ribu. Kalau ingin paket lengkap—snorkeling di Petagan, Gili Bidara, GIli Kondo, dan bonus ke Gili Pasir/Gili Kapal—biayanya sebesar 450 ribu. Harga tersebut belum termasuk sewa alat snorkel dan life vest, yaitu 25 ribu/unit. Sangat direkomendasikan untuk mengambil paket lengkap karena tiap titik menawarkan keindahan yang berbeda. Oh ya, dengan harga segitu pengunjung dapat menyewa kapal sepuasnya tanpa batas waktu.

Selamat Datang di Gili Lampu

Selamat Datang di Gili Lampu

Wahana-Wahana di Gili Lampu

Wahana-Wahana di Gili Lampu

Dermaga Gili Lampu

Dermaga Gili Lampu

Pasir Pantai Gili Lampu

Pasir Pantai Gili Lampu

Pasir Pantai Gili Lampu

Pasir Pantai Gili Lampu

Naik Kapal

Naik Kapal

Meluncur Gan

Meluncur Gan

Jarak dari pelabuhan ke tempat snorkeling lumayan jauh. Pertama-tama kapal akan dilajukan melewati hutan mangrove di tengah laut. Tumbuhan berbentuk seperti semak-semak menyembul dari permukaan laut, berderet layaknya berbaris rapi membentuk hutan. Di bawahnya, tenggelam dalam laut yang tidak begitu dalam, tampak rerumputan tegak beridiri. Pengemudi mengarahkan kapal melewati mangrove yang berjajar di kanan dan kiri, seolah sedang menyusuri laut di pinggir hutan hujan tropis :).

Hutang Mangrove di Tengah Laut

Hutang Mangrove di Tengah Laut

Di Bawah Laut Terlihat Rerumputan Tegak

Di Bawah Laut Terlihat Rerumputan Tegak

Berlayar Sembari Disaksikan Pohon-Pohon Mangrove di Kanan Kiri

Berlayar Sembari Disaksikan Pohon-Pohon Mangrove di Kanan Kiri

Jika beruntung, pengunjung dapat dibuat terkesima melihat ikan-ikan kecil melompat-lompat seolah mengepakkan sayap. Sayang kala itu saya tidak sempat mempotretnya.

Titik yang pertama kami kunjungi ialah Gili Kapal. Ia sebenarnya berupa Gosong Pasir, daratan pasir mini yang muncul ke permukaan laut terutama saat terjadi surut. Saat itu kami beruntung karena gosong tersebut tengah menunjukkan wajahnya.

Gili Kapal

Gili Kapal

Daratan Gili Kapal

Daratan Gili Kapal

Pasir dan Batu Karang di Gili Kapal

Pasir dan Batu Karang di Gili Kapal

Selamat Datang di Gili Kapal

Selamat Datang di Gili Kapal

Tak lama, kapal pun menuju lokasi snorkeling pertama, suatu tempat di tengah laut yang disebut “Petagan”. Kelebihan snorkeling di Gili Lampu ialah kekayaan terumbu karangnya akan warna dan masih jernih dari perusakan manusia. Kita benar-benar bisa memuaskan mata meresapi keindahan ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Terumbu Karang, Terlihati dari Atas Laut, di Petagan

Terumbu Karang, Terlihati dari Atas Laut, di Petagan

P1030454

P1030455

Mulai Snorkeling

Mulai Snorkeling

Bersiap :)

Bersiap 🙂

DSCN0555

DSCN0559

DSCN0568

Ada ikan

DSCN0614

DSCN0560

Lokasi selanjutnya ialah Gili Bidara. Sesuai namanya, ia merupakan pulau kecil di seberang Pulau Lombok. Dekat pesisirnya berbaris terumbu karang-terumbu karang yang memukau. Di antara semua lokasi snorkeling di Gili Lampu, Gili Bidara merupakan tempat dengan terumbu karang terindah! Hanya saja perlu kewaspadaan untuk snorkeling di sini. Tempat snorkeling berada di perairan dangkal sehingga mudah bagi pengunjung untuk berdiri, dengan di dasarnya banyak terdapat bulu babi. Duri tegar kehitaman layaknya tombak muram siap menusuk kaki-kaki tanpa perlindungan. Karena itu, penting untuk berhati-hati memilih tempat untuk berdiri atau gunakan sepatu katak (di Gili Lampu juga ada penyewaan sepatu katak, disewakan terpisah dari alat snorkel). Jika tertusuk bulu babi, hancurkan si duri di kaki dengan memukul-mukulnya menggunakan batu hingga hancur, lalu gunakan peniti untuk mengeluarkannya.

Setelah snorkeling, pengunjung bisa meminta untuk dibawa ke Gili Bidara. Menurut info dari guide yang mengantar kami, Gili Bidara, meskpun berukuran mini, ditempati oleh beberapa nelayan. Terdapat beberapa bangunan rumah di dekat pinggiran pulau. Tanah di atasnya pun digarap oleh penduduk menjadi ladang (saya sempat menanyakan apa yang ditanam di sana, tapi sayangnya si ingatan gampang sekali untuk menghilang ^^”). Memang tidak ada apa-apa di sana, tapi lumayan untuk ambil foto.

Menuju Gili Bidara

Menuju Gili Bidara

Terlihat Beberapa Bangunan Rumah di Gili Bidara

Terlihat Beberapa Bangunan Rumah di Gili Bidara

Menuju Gili Bidara

Menuju Gili Bidara

Selamat Datang di Gili Bidara

Selamat Datang di Gili Bidara

Bibir Gili Bidara

Bibir Gili Bidara

Bibir Gili Bidara

Bibir Gili Bidara

Daratan Gili Bidara

Daratan Gili Bidara

Tanah Digarap di Gili Bidara

Tanah Digarap di Gili Bidara

bidara0631

bidara0644

bidara0646

bidara0649

bidara0681

bidara0697

bidara0722

Gili Kondo merupakan tempat terakhir untuk dikunjungi. Seperti Gili Bidara, ia adalah pulau kecil yang tidak dibuat pembangunan seperti Gili Trawangan, namun ukurannya sedikit lebih besar dan ada saung-saung untuk berteduh. Titik snorkeling Gili Kondo berada tepat di pinggir pesisir. Bisa dibilang warna terumbu karang di sana lebih beragam, hanya saja tidak seluas dan sekaya Gili Bidara.

Terlihat Gili Kondo

Terlihat Gili Kondo

Selamat Datang di Gili Kondo

Selamat Datang di Gili Kondo

P1030520

Katanya Batang Kayu Ini Adalah Trademark dari Gili Kondo

Katanya Batang Kayu Ini Adalah Trademark dari Gili Kondo

P1030530

Tepian Gili Kondo

Tepian Gili Kondo

Asik Nih Kayaknya Kalau Ngecamp di Sini :)

Asik Nih Kayaknya Kalau Ngecamp di Sini 🙂

Lokasi Snorkeling Ada Di Pinggir Sini

Lokasi Snorkeling Ada Di Pinggir Sini

kondo0742

kondo0753

kondo0819

kondo0757

kondo0811

Intinya, Gili Lampu, khususnya Gili Bidara, adalah tempat terbaik untuk snorkeling di Pulau Lombok—menurut saya ya, heheh—jauh jika dibandingkan Gili Trawangan. Sayang sekali jika bermain-main ke Lombok namun tidak menyapa terumbu karang di sana yang begitu jernih.

Jika Anda berkunjung ke Gili Lampu, ingatlah bahwa alam bumi bukan hanya milik generasi saat ini. Tentu sayang sekali jika keturunan kita di tahun-tahun berikutnya tidak bisa menikmati keindahannya. Peliharalah kebersihan dan kelestarian pesona terumbu karang di dalamnya. Adalah tanggung jawab kita bersama untuk menjaga segala keindahan yang masih tersisa di bumi ini :).

Categories: catatan perjalanan, Foto | Tags: , , , , , , | Leave a comment

[FOTO] Catatatan Perjalanan Gunung Rinjani, Jalur: Berangkat Sembalun-Pulang Sembalun, 23-26 April 2015

Catatan: banyak foto di tulisan ini hasil tangkapan dari kamera digital yang belum di-setting tanggalnya; mohon dimaklumi hasil pengambilan gambar yang amatiran ini ^^’

Gunung Rinjani adalah salah satu gunung terindah di dunia. Danau Segara Anak yang menganga di kalderanya mampu menarik para pendaki maupun wisatawan—lokal dan asing—untuk mengunjunginya. Rinjani memiliki ketinggian 3.726 mdpl (meter di atas permukaan laut), gunung vulkanik tertinggi kedua di Indonesia setelah Kerinci, dan gunung tertinggi nomor 3 di Indonesia, dengan nomor satunya ialah Cartenz Pyramid.

Ada 2 gerbang pendakian utama untuk menuju puncak Rinjani, yaitu Desa Sembalun dan Desa Senaru. Umumnya turis maupun pendaki berangkat melalui gerbang Sembalun. Hal ini bisa dilihat dari peta topografi yang dipampang di kantor sekretariat Taman Nasional Gunung Rinjani. Di jalur desa Sembalun, pos terakhir sebelum puncak ialah pelawangan sembalun. Pendaki bisa langsung menuju puncak dari pos tersebut. Sedangkan bila dari desa Senaru, pos terakhir ialah pelawangan Senaru, dan bila ingin menuju puncak tertinggi, pendaki harus turun dulu ke danau Segara Anak, naik ke pelawangan Sembalun, lalu ke puncak. Tentu sangat tidak efektif dan melelahkan bila naik dari gerbang Senaru.

Senaru banyak digunakan sebagai jalur pulang. Menurut orang yang telah berkali-kali ke Rinjani, perjalanan dari danau Segara Anak ke desa Senaru hanya sekitar 6 jam, jauh lebih singkat jika dibandingkan ke desa Sembalun yang memakan waktu sekitar 9 jam. Hanya saja sayangnya sy dan teman-teman saat naik tidak mengetahui informasi ini, sehingga memilih Sembalun sebagai tujuan jalan pulang.

Pendakian dimulai di hari Kamis, 23 April 2015. Pendaftaran di sekretarian Taman Nasional Gunung Rinjani cukup sederhana. Pengunjung menuliskan nama peserta rombongan ke buku pendaftaran, membayar tiket 5000/hari/orang, dan mendapat label untuk dipasang di ransel. Karena estimasi perjalanan kami selama 4 hari dan jumlah kami 4 orang, kami pun membayar 80 ribu. Bagaimana jika ternyata lebih dari hari yang diperkirakan? Sepertinya tidak dilakukan pengecekan ulang, karena pelaporan ketika sudah selesai mendaki di sekretariat dilakukan seadanya.

Kantor Taman Nasional Gunung Rinjani

Kantor Taman Nasional Gunung Rinjani

Maket peta topografi gunung RInjani, bisa dilihat di Kantor TNGR

Maket peta topografi gunung RInjani, bisa dilihat di Kantor TNGR

Saung di sekretarian TNGR bisa dimanfaatkan sebagai tempat istirahat dan bermalam

Saung di sekretariat TNGR bisa dimanfaatkan sebagai tempat istirahat dan bermalam

Gunung Bukan Tempat Sampah

Gunung Bukan Tempat Sampah

Yang terlihat di gambar ini bukanlah puncak Rinjani

Yang terlihat di gambar ini bukanlah puncak Rinjani

Semenjak di sekretariat kita sudah bisa melihat banyak turis asing, entah dari Amerika, Eropa, atau Asia. Tampaknya turis asing diwajibkan menyewa guide dan porter; sy tidak melihat ada turis asing yang naik tanpa mereka. Pendaki lokal sendiri tidak diwajibkan menyewa porter. Dari informasi yang didengar, biaya sewa satu porter sebesar 200.000/hari, dengan seorang porter membawa beban maksimal 30 kg.

Pendaki bisa menyewa tumpangan mobil pick up seharga 80 ribu untuk menghemat perjalanan selama 30-45 menit. Pengguna porter bahkan—katanya—bisa nyewa kendaraan untuk mempersingkat perjalanan sampai ke pos 1.

Waktu yang dibutuhkan dari titik awal pendakian sampai pos 1 kurang lebih 3 jam. Tak lama dari lokasi start, dapat ditemukan gapura Taman Nasional Gunung Rinjani.

Berpose sebelum berangkat

Berpose sebelum berangkat

Numpang pick-up untuk menghemat perjalanan

Numpang pick-up untuk menghemat perjalanan

Gapura TNGR. Setiap hari banyak turis asing di Rinjani

Gapura TNGR. Setiap hari banyak turis asing di Rinjani

Total ada 4 pos sepanjang perjalanan, dengan pos terakhir ialah pelawangan. Khas jalur sembalun ialah kebanyakan jalan yang dilalui berupa padang rumput. Jika dilihat di peta, dari Sembalun menuju pelawangan pendaki akan menyeberangi punggungan-punggungan dan lembahan-lembahan, setidaknya sampai pos 3. Tidak heran jika jalur yang dilalui berupa naikan dan turunan. Sedangkan jalur Senaru—kata orang-orang—jalurnya berupa hutan rindang. Peta topografi menunjukkan jalur senaru ke pelawangan senaru lebih pendek, namun lurus menanjak.

Pemandangan padang savana sembalun benar-benar menyejukkan untuk diresapi. Hampir tidak adanya pepohonan membuat mata dapat menjangkau hingga ke horizon. Di tengah perjalanan, dapat ditemukan batang-batang tipis bunga lavender terayun-ayun oleh angin.

P1030153 - Copy P1030157 - Copy P1030161 - Copy

Cuaca saat itu didominasi oleh kabut dan hujan—yang tentu saja menghalangi pemandangan. Namun jika cerah, orang-orang bilang panasnya terik matahari di padang rumput bisa cepat membuatmu dehidrasi. Hmm, sy pun berpikir cuaca saat itu perlu disyukuri; walaupun sering menutupi keindahan alamnya, setidaknya tidak membuat kami kepanasan.

Seperti yang sudah sy sebutkan sebelumnya, jalan yang dilalui banyak menyeberangi lembahan. Jembatan-jembatan buatan dibentangkan untuk memfasilitasi turis maupun pendaki. Beberapa kali juga sungai-sungai kering dilewati. Satu hal yang perlu diwaspadai adalah, walaupun terbuka dan cenderung landai, pejalan perlu mewaspadai langkahnya karena banyak kotoran sapi bersilewaran.

Menyeberangi sungai kering

Menyeberangi sungai kering

Belok kiri untuk menuju jembatan

Belok kiri untuk menuju jembatan

Perjalanan dari gerbang Sembalun ke Pelawangan melintasi lembahan-lembahan, sehingga banyak didirikan jembatan

Perjalanan dari gerbang Sembalun ke Pelawangan melintasi lembahan-lembahan, sehingga banyak didirikan jembatan

Ketika tiba di pos 1, kabut sedang menebalkan diri. Ada pos yang bisa digunakan untuk berteduh, walaupun biasanya rame ditempati oleh turis dan pendaki lain. Untuk meneruskan perjalanan ke pos 2, pendaki mesti menemukan jalan setapak ke arah kanan. Waktu yang ditempuh ke pos 2 dari pos 1 sekitar 35 menit.

Pos 1, tertutup kabut

Pos 1, tertutup kabut

Setelah tiba di pos 1, belok kanan untuk menemukan jalan setapak menuju pos 2

Setelah tiba di pos 1, belok kanan untuk menemukan jalan setapak menuju pos 2

Perjalanan dari pos 1 ke pos 2 masih berupa punggungan dan lembahan landai. Pos 2 cukup luas, dan juga ada bangunan yang beratap. Saat itu jam menunjukkan setengah 12, jam makan siang. Para porter membentangkan tenda, mengeluarkan kompor dan bahan masakan. Wangi aroma makanan mengudara ke mana-mana. Yah, bagi turis yang menyewa porter, tidak hanya barang-barang dibawakan, tapi mereka juga dimasakkan makanan dan dipasangkan tenda. Masakan yang mereka hidangkan pun seperti yang bisa ditemukan di rumah atau warung makan. Bagaimana kualitas makanannya? Ada yang bilang enak, ada yang bilang kurang. Mungkin untung-untungan dapat porter yang jago masak atau tidak.

Pos 2

Pos 2

Para porter sedang menyiapkan makanan

Para porter sedang menyiapkan makanan

Para porter merupakan penduduk asli desa Sembalun. Menjadi porter ialah mata pencaharian mereka. Mungkin mereka sudah berpuluh atau ratusan kali mendaki Rinjani. Tidak hanya mampu memanggul beban 30 kg dan mendaki dengan kecepatan mengagumkan, pakaian mereka pun amat sederhana. Kaos tipis sudah cukup untuk bertahan dari suhu dingin—bahkan ada juga yang memilih hanya memakai celana pendek. Alas kaki pun hanya sandal jepit, ada pula yang nyeker.

Para porter membawa barang, beralaskan sendal jepit

Para porter membawa barang, beralaskan sendal jepit

Catatan-catatan perjalanan lain menuliskan kalau di pos 2 terdapat sumber air, namun harus jalan cukup jauh untuk mengambilnya. Selain di pos 2, sumber air juga bisa ditemukan di pelawangan Sembalun dan dekat danau Segara Anak. Para porter sendiri–dan juga para pendaki–paling sering mengisi air di pelawangan. Kami pun memutuskan untuk tetap bertahan dengan air yang ada hingga pelawangan nanti.

Perjalanan dari pos 2 ke pos 3—kata porter—membutuhkan waktu sejam,namun kenyataannya kami menempuhnya selama 1,5 jam. Jalanan mulai cenderung menanjak. Sekitar 10 menit sebelum pos 3 ada semacam saung dari besi. Berpikir bahwa pos 3 akan penuh oleh orang-orang, kami pun memutuskan istirahat di sana.

Padang lavender

Padang lavender

Makan siang di saung sebelum pos 3

Makan siang di saung sebelum pos 3

Pos 3 berada di dekat sungai kering. Seberangi sungai kering untuk menuju

Pos 3 berada di dekat sungai kering. Seberangi sungai kering untuk menuju “7 bukit penyesalan”

Istilah yang cukup populer untuk jalan dari pos 3 ke pelawangan sembalun ialah “7 Bukit Penyesalan”. Pernyataan itu untuk menunjukkan jalan yang terus-menerus menanjak. Sebenarnya istilah “bukit” kuranglah tepat, karena medan sepanjang perjalanan ialah punggungan. Jika sebelumnya menyeberangi punggungan dan lembahan landai, sehingga ada jalan naik dan turunnya, saat itu jalan yang ada ialah terus menanjak, dengan sedikit punggungan yang datar sebelum kemudian menanjak lagi.

Perjalanan menuju pelawangan sembalun merupakan yang paling melelahkan juga membosankan karena mulai tiadanya pemandangan yang bisa dilihat. Vegetasi pepohonan mulai muncul, walau tidak sampai membentuk hutan yang rindang. Mulai kelelahan, kami pun banyak berisitirahat. Bahkan ada yang merasa sangat berat untuk melanjutkan perjalanan. Namun, salah seorang dari kami memotivasi, “Manusia tidak akan pernah bisa menaklukkan gunung, namun dengan menaklukkan gunung manusia menaklukkan diri sendiri.”

Terus menanjak

Terus menanjak

Perjalanan yang melelahkan

Perjalanan yang melelahkan

Sekitar 3 jam, kami pun sampai di tanah datar yang luas. Untuk menuju pelawangan pendaki mesti belok kiri, mengikuti jalur setapak, dan 5 menit kemudian pun sampai di area perkemahan pelawangan.

Total waktu tempuh dari titik start sampai pelawangan ialah 9 jam, termasuk waktu isitrahat satu jam. Ketika menegakkan tenda, barulah kami tahu bahwa kebanyakan pendaki—yang membawa beban sendiri tanpa porter—berkemah dulu di pos 3, baru di hari kedua melanjutkan perjalanan dan berkemah di pelawangan.

Akhirnya sampai juga di pelawangan

Akhirnya sampai juga di pelawangan

Mendirikan tenda

Mendirikan tenda

Saat itu kami tidak banyak membuang waktu dan segera beristirahat. Kurang lebih waktu yang dibutuhkan untuk mencapai puncak tertinggi dari pelawangan ialah 5 jam. Agar tidak terlalu siang, kami berencana mulai summit attack jam setengah 2. Puncak Rinjani tidak seperti Semeru. Jika di puncak Semeru tidak boleh lebih dari jam 10 karena di atas jam tersebut mulai muncul asap beracun, puncak Rinjani tidaklah memberi batas waktu.

Harapan berangkat jam setengah 2, apa daya sy dan kawan-kawan baru mulai berangkat jam 3. Jika dilihat ke arah puncaknya, jalur summit attack Rinjani lebih panjang dari Semeru. Orang-orang juga bercerita tentang tanah berpasir menuju puncak. Namun, semua mengatakan bahwa pasir Rinjani tidaklah selicin pasir Semeru. Omong-omong tentang Semeru, sy jadi ingat summit attack yang memakan waktu 7 jam, yang sebagian besar waktunya habis oleh rasa lelah karena kaki merosot terus saking licinnya.

Tapi Rinjani tidaklah seperti Semeru. Di tengah-tengah perjalanan, permukaan tanah mulai berupa pasir. Pasirnya memang licin dan bisa membuat kaki merosot, namun di bawahnya masih terdapat tanah yang agak keras dan bisa diinjak. Tapi tetap saja, jika tekniknya salah kaki bisa merosot, dan jika terus-menerus merosot energi akan terkuras percuma.

Di catatan perjalanan ke Semeru, sy sudah menulis tentang teknik mendaki di jalur berpasir. Konsepnya ialah usahakan luas permukaan sepatu yang menginjak pasir sekecil mungkin, sehingga beban tubuh yang menimpa pasir tidak begitu besar. Semakin kecil beban tubuh, semakin kecil pula kemungkinan untuk merosot. Teknik agar bisa seperti ini ialah mendaki dengan menggunakan ujung sepatu atau seperti berjalan jinjit. Cara yang lebih sering dipakai ialah dengan mencangkulkan/menusukkan ujung sepatu ke pasir, kemudian naik dengan tumpuan ujung sepatu tersebut. Teknik ini sangat jitu ketika muncak di Semeru. Karena jika sekali saja merosot, energi dan waktu yang terbuang bisa begitu besar.

Di tengah pendakian, kita bisa melihat sunrise di pinggiran jalan setapak. Memandang garis putih matahari di ketinggian seperti ini seolah sedang mengintip subuh dari jendela pesawat terbang. Banyak pendaki berhenti sejenak untuk berfoto bersama mentari.

Bunga abadi, Edelweis, terdiam bisu menyaksikan para pendaki menuju puncak

Bunga abadi, Edelweis, terdiam bisu menyaksikan para pendaki menuju puncak

Sunrise

Sunrise

Memandangi awan di bawah

Memandangi awan di bawah

Terlihat danau Segara Anak

Terlihat danau Segara Anak

Jalur yang berpasir nan licin

Jalur yang berpasir nan licin

Mendaki terus ke puncak

Mendaki terus ke puncak

Jalur summit attack dilihat dari atas

Jalur summit attack dilihat dari atas

P1030286 - Copy

Sekitar jam 8 pagi akhirnya kami sampai di puncak. Voila! Inilah puncak rinjani, 3.726 meter di atas permukaan laut. Di sebelah kanan, jauh di bawah sana terlihat danau Segara Anak melintang berbentuk bulan sabit. Kawah Rinjani menganga di sebelah kiri puncak.

Cukup lama kami menghabiskan waktu di puncak, hingga jam 11. Kabut yang terus merangkak naik membuat kami mesti menunggu dengan sabar untuk memotret pemandangan. Ini keuntungan dari puncak Rinjani: tidak ada batas waktu. Hingga terik siang pun pendaki masih bisa menikmati puncak.

P1030287 - Copy

Kawah gunung Rinjani

Kawah gunung Rinjani

Kaldera Rinjani yang terisi air membentuk danau berbentuk bulan sabit

Kaldera Rinjani yang terisi air membentuk danau berbentuk bulan sabit

IMG_3945 IMG_3947 IMG_3952 IMG_3960wpid-img_7400723805189.jpeg

Bertemu seorang nenek berambut putih dari Malaysia yang mendaki ke puncak seorang diri

Bertemu seorang nenek berambut putih dari Malaysia yang mendaki ke puncak seorang diri

Jika perjalanan naik membutuhkan waktu sekitar 5 jam, perjalanan turun hanya membutuhkan waktu kurang dari setengahnya, sekitar 2 jam. Hari kedua ini kami putuskan untuk istirahat sepenuhnya. Maklum, hanya sempat tidur 3 jam-an. Apalagi, yang kami dengar, jarang ada pendaki yang langsung berkemah di pelawangan di hari pertama dan malamnya langsung summit attack. Memang sangat melelahkan. Begitu sampai tenda, kami pun terlelap hingga magrib.

Makan malam yang terasa spesial

Makan malam yang terasa spesial

Pemandangan sembalun di pagi hari

Pemandangan pelawangan sembalun di pagi hari

Pemandangan dari pelawangan

Pemandangan dari pelawangan

Danau Segara Anak dilihat dari pelawangan

Danau Segara Anak dilihat dari pelawangan

Hari ketiga direncakan untuk menikmati danau Segara Anak. Jarak dari pelawangan sembalun ke Segara Anak ternyata cukup jauh. Jalurnya bukanlah berupa garis lurus turun langsung ke danau, tapi—seperti jalan naik dari sembalun ke pelawangan—mesti melintasi lembahan-lembahan. Jalanan didominasi oleh bebatuan, sehingga pendaki harus melangkah dengan hati-hati. Di tengah perjalanan, kita bisa menikmati pemandangan yang begitu memukau: jurang lembahan, badan-badang gunung di seberang, dan tentu, danau Segara Anak di kejauhan.

Jalan turun ke Segara Anak berupa bebatuan

Jalan turun ke Segara Anak berupa bebatuan

Rasanya hendak memeluk Segara Anak

Rasanya hendak memeluk Segara Anak

Menyeberangi lembahan dan jembatan

Menyeberangi lembahan dan jembatan

2,5 jam adalah waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tepi danau. Terlihat banyak turis asing maupun pendaki memasang tenda di danau ini. Sebenarnya kami pun ingin bermalam di pinggir danau, namun karena berencana untuk pulang besoknya, yang dibentangkan pun hanya flysheet.

Selain genangan air yang amat luas, hal yang tidak bisa kami lupakan dari Segara Anak adalah sampah! Benar-benar memprihatinkan kondisi kebersihannya. Kalau pelawangan sembalun sudah benar-benar kotor, maka Segara Anak lebih kotor lagi. Begitulah. Menyedihkan benar kondisi alam terbuka kita. Memang manusia bukanlah makhluk yang pandai bersyukur: sudah dikarunai alam yang memesona, rasa terima kasih yang diberikan ialah tumpukan sampah.

Di tengah-tengah danau dapat terlihat pulau kecil dengan gunung yang mengeluarkan asap di puncaknya. “Gunung Baru”, begitu ucap salah satu porter ketika kami menanyakan nama gunung tersebut. Di pelawangan sembalun, pengunjung bisa melihat panel-panel yang menjelaskan proses pembentukan kaldera gunung rinjani secara historis. Adalah kaldera luas yang menaungi Segara Anak terbentuk sekitar abad ke-13. Letusan yang dahsyat mengangakan celah seluas 7×6 km berbentuk elips. Seiring berjalannya waktu, kaldera pun terisi air membentuk danau, dan anak-anak gunung Rinjani pun tumbuh. Hingga sekarang gunung Rinjani beserta anak-anaknya: gunung Barujari, gunung Rombongan, dan gunung Anak Barujari merupakan volcano yang masih aktif.

P1030325 P1030329

Gunung kecil di tengah-tengah danau

Gunung kecil di tengah-tengah danau

Landscape Segara Anak

Landscape Segara Anak

Waktu kami isi dengan memasak, memancing, dan berendam air panas. Ikan berlimpah di danau dan tidaklah terlalu sulit memancingnya. Satu ikan berukuran sedang dan empat ikan berukuran kecil berhasil mengisi kantong plastik kami. Terima kasih kepada rombongan pendaki dari Universitas Mataram (Unram) yang membantu untuk membuat api dan mengajarkan bagaimana membakar ikan. Setelah dikeluarkan isi perutnya dan disisik, mentega dilulurkan di badan ikan, yang kemudian aluminium foil membungkus tubuhnya untuk kemudian dibakar. Akibat api unggun yang tidak begitu sempurna, hanya satu ikan yang berhasil dibakar. Dimakan bersama saos dan kecap, hmmm, nikmat cooyy!

Yeah dapat ikan! Walau ga seberapa ukurannya

Yeah dapat ikan! Walau ga seberapa ukurannya

Mancing mania

Mancing mania

Bakar ikan dengan aluminium foil

Bakar ikan dengan aluminium foil

Ikan bakar Segara Anak :9

Ikan bakar Segara Anak :9

Di dekat danau ada sumber air panas. Dengan berjalan sekitar 5 menit, pendaki bisa melemaskan otot-otot dan melancarkan aliran darah. Searah dengan jalan menuju kolam air panas juga terdapat sumber air. Banyak informasi yang mengatakan kalau air danau segara anak tidak direkomendasikan untuk digunakan, kecuali kalau dimasak dulu. Namun kalau ingin memperoleh air yang langsung bisa diminum, lebih baik mengambilnya di area sumber air.

Kolam air panas di dekat danau Segara Anak

Kolam air panas di dekat danau Segara Anak

Sudah 4 jam waktu dihabiskan di Segara Anak, kami pun berjalan pulang ke pelawangan sembalun. Dari rombongan Unram lah kami tahu kalau waktu tempuh dari danau Segara Anak ke desa Senaru hanya 6 jam. Jika dari pelawangan sembalun menuju danau jalannya berupa penyeberangan lembahan-lembahan, jalan dari danau ke pelawangan senaru berupa tanjakan lurus. Apa daya nasi sudah menjadi bubur: tenda dan peralatan-peralatan lain kami tinggal di pelawangan sembalun. Sebenarnya riskan meniggalkan barang tanpa pengawasan. Dari pendaki lain kami mendengar kalau sering terjadi kehilangan barang-barang elektronik di pelawangan ketika tenda ditinggal. Bahkan ada yang perbekalannya diambil! Wah, mungkin memang sangat merugi kalau kehilangan barang elektronik, tapi kalau sampai tidak punya perbekalan itu akibatnya bisa sangat fatal.

Perjalanan naik kembali ke pelawangan ternyata memakan waktu yang sama dengan turun, yaitu 2,5 jam. Jalan naik dengan medan bebatuan di malam hari perlu kewaspadaan. Karena jalurnya sempit dan tidak sejelas jalan setapak, pendaki mesti memperhatikan jalannya dengan baik. Adanya coretan vandalisme di batu-batuan ironisnya membantu kami menemukan jalan.

Sekitar jam 18.30 kami tiba di pelawangan, tepat dengan waktu terjadinya badai! Entah kenapa waktu itu angin lembah sedang ribut-ributnya. Jam 00.00-01.00 adalah puncaknya badai. Bunyi angin yang berisik bagaikan bunyi ombak yang menderu, tapi saat itu bukanlah di pantai. Flysheet tenda kami hampir terbawa angin dan salah satu frame tenda remuk. Jam 01.00 kami terbangun untuk membenarkan tenda. Suara-suara lain juga terdengar, ada juga suara meminta pertolongan: salah satu penghuni tenda tetangga kami ada yang mengalami hipotermi. Beruntung ada tetangga yang lain bawa tabung oksigen.

Hingga jam 3 pagi kami terjaga, mewaspadai tenda kalau-kalau flysheet­nya lepas lagi atau bahkan roboh. Jam 6 pagi angin lembah masih belum berhenti bertiup, walau sudah lumayan mereda. Posisi tenda kami memang termasuk daerah yang terbuka menghadap lembah, namun berada di punggungan yang agak lebar. Agak sulit dibayangkan bagaimana nasib tenda-tenda turis yang membentang sepanjang punggungan sempit di jalan setapak yang mengarah ke puncak. Saat perjalanan turun kami berpapasan dengan satu keluarga turis asing dari Perancis, dan dari guide­-nya lah kami tahu kalau malam itu ada beberapa tenda yang roboh. Weww, malam itu kami termasuk yang beruntung. Pelajaran yang bisa diambil adalah, jika berkemah, sebaiknya hindari titik yang menghadap langsung ke lembah; carilah daerah yang tertutup oleh bukit atau batu yang bisa melindungi tenda dari angin.

Badai yang masih bertiup perlahan di hari MInggu, 26 Mei 2015 itu pun menjadi perpisahan kami dengan Rinjani.

Categories: catatan perjalanan, Foto | Tags: , , , , , , | 9 Comments

[FOTO] Gowes Hingga ke Pantai Surga

Ini adalah pertama kalinya saya menulis tentang perjalanan gowes. Maklum, sebelumnya tidak punya sepeda, dan hanya bisa ngiler melihat orang-orang gowes dengan gagah. Selain untuk olahraga, perjalanan gowes juga menghadirkan sensasi bertualang. Beberapa kali mendengar cerita gowes berhari-hari yang membuat mereka nge-camp di tengah perjalanan, bahkan hingga melintasi berbagai negara. Baru-baru ini ada berita beberapa lansia yang gowes dari Indonesia melewati negara-negara Asia Tenggara. Tentu saja saya belum punya kapasitas untuk petualangan seperti itu. Selain kendala waktu dan biaya, kondisi fisik sendiri masih cupu, heheheh :p.

Keinginan untuk memiliki sepeda pun tercapai setelah menerima gaji dokter internship. Kendaraan yang akan menjadi teman hidup ini adalah Polygon tipe Monarch 27 inci. Sebuah toko yang cukup besar dan terkenal di kawasan Selong, Lombok Timur, menghargainya 2,3 juta. Untuk alasan safety, helm tidak bisa diabaikan, terutama jika ingin gowes jarak jauh. Demi pengaman kepala merk Nuke Head—tipe ini saya pilih karena selain untuk sepeda, helm ini juga bisa digunakan untuk ORAD atau panjat tebing—duit 220 ribu pun harus direlakan. Jangan lupa gembok pengaman, karena walaupun pencurian sepeda di tempat ini bukanlah hal umum—memang orang Indonesia tidak seperti orang Belanda yang senang mencuri sepeda—namun mengunci kendaraan adalah bagian dari tawakal, begitu menurut hadis Rasulullah saw. Ada dua tipe gembok merk polygon, yang kata sang penjual keduanya sama-sama tidak akan bisa digergaji atau dipoting pakai tang. Beralasan penghematan, gembok seharga 50 ribu pun akhirnya masuk kantong.

Peralatan sudah ada, kini tinggal menentukan waktu dan tempat perjalanan. Kostan yang tengah didiami terletak di kecamatan Selong, tepat seberang RSUD Dr. Soedjono, Kab. Lombok Timur. Memang di kabupaten ini tidak ada hiburan anak kota seperti mall atau warkop tempat nongkrong, namun ia tidak terlalu jauh dari pantai. Ada banyak pantai yang bagus di daerah selatan, yang paling terkenal adalah pantai pink. Ke sana menggunakan kendaraan mobil memerlukan waktu 2-3 jam, yang bila menggunakan sepeda sepertinya bisa memakan waktu 5-6 jam. Opsi ini pun di-skip, karena kalau bolak-balik bisa hingga 12 jam. Tidak masalah kalau setelahnya bisa full day recovery, namun apalah daya libur hanya sekali dalam seminggu.

Screenshot_2014-12-14-08-43-17

Lokasi Titik Start

 

20141214_090510

Kendaraan Tempur yang Digunakan, Polygon Monarch 27 inch

Pilihan lainnya adalah pantai-pantai yang menurut warga lokal lumayan bagus, yaitu pantai Cemara, Surga, dan Kaliantan. Sebenarnya 2 minggu sebelumnya saya pernah gowes ke pantai Cemara—pinjam sepeda teman—namun sayangnya tidak banyak melakukan dokumentasi sehingga tidak bisa dibuat catatan perjalanannya. Akhirnya, yang menjadi tujuan adalah pantai Surga. Kata-nya, pantai Surga tidak kalah bagus dengan pantai pink, namun jalan ke sananya sangat jelek dan hanya bisa dilalui mobil ukuran besar atau sepeda motor. Kalau bisa dilalui motor, tentu sepeda juga bisa, bukan? Penasaran, pedal pun kemudian kugowes dengan semangat.

Jam menunjukkan pk 09.00 WITA ketika memulai keberangkatan. Tak lupa perbekalan secukupnya disiapkan, seperti air minum, bekal makan siang, dan snack, begitu pula jaket hujan berhubung December is a rainy month. Di bawah matahari terik, sepeda pun meluncur menuju daerah Labuhan Haji.

Pantai Surga terletak di selatan Lombok Timur, tepatnya di Desa Ekas, kecamatan Jerowaru. Jalur yang dilewati adalah Selong-Labuhan Haji-Sakra Timur-Keruak-Jerowaru. Estimasi waktu tempuh sekali jalan adalah 3,5 jam plus istirahat 1 jam.

20141214_090809

Meluncur Turun di Pelabuhan Haji

20141214_091813

Saat Downhill, Gear Max pun Tak Masalah

Bagaikan angin, Monju (begitu nama sepeda saya) mengalir menuruni jalanan landai (jalur turun ini sangat landai, yang terasa signifikansinya ketika jalan pulang). Jalanan naik-turun mula terasa saat mencapai Sakra Timur. Ketika gowes naik, terasa semua otot di badan berkontraksi. Semua kelelahan itu terbalaskan saat downhill, momen yang sangat tepat untuk melemaskan otot-otot tadi.

20141214_092749

Berbelok Ke Arah Sakra Timur

Saat di Sakra Timur, garis pantai memanjang di sebelah timur. Sejenak pun disisihkan untuk menepi, melipir dari jalan raya menuju pantai Rambang. Di hari Minggu, beberapa warga kampung sekitar sering ke pantai tersebut. Pasir di lokasi ini agak hitam, tapi lumayan untuk foto-foto, dan tentu saja, selfie 🙂

20141214_094327

Mengintip Pantai Rambang

Screenshot_2014-12-14-09-49-40

Lokasi Pantai Rambang

20141214_094557

Monju Lagi Berpose

20141214_094454

Ada Ular Mati

20141214_094824

Maafkan Kalau Saya Tidak Jago Selfie :p

20141214_095616

Menyusuri Jalanan Pasir Pinggir Pantai Rambang

20141214_095916

Nemu Lagi Benda Aneh: Bangkai Bayi Kuda

Kembali ke jalan raya, jalanan naik-turun kembali mesti dilalui. Di sebelah kiri kanan terlihat sawah-sawah, walaupun tidak banyak. Pengairan masih menggunakan tadah hujan—tidak ada irigasi—sehingga memang kurang begitu produktif.

20141214_101122

Kembali Menyusuri Jalan Naik-Turun

20141214_101527

Muara Sungai

20141214_101543

Batu Besar di Pinggir Muara Sungai. Konon Jika Batu Ini Digelindingkan, Ia akan Kembali ke Atas Besoknya, yang Kemudian Si Penggelinding akan Terjatuh Menggantikannya

20141214_173650

Sapi-Sapi sedang Bersantai. NTB Memang Provinsi dengan Sapi yang Melimpah

Baju lumayan basah oleh keringat—hasil menggowes, namun yang terutama adalah hadiah dari matahari—dan akhinrya sekitar jam 10.45 sampai di pasar Keruak, di pertigaan. Jika belok kanan, akan segera menemukan tempat saya internship saat ini, yaitu puskesmas Keruak. Setelah istirahat secukupnya, Monju meluncur kembali, ke arah Jerowaru.

20141214_104400

Pertigaan Pasar Keruak

 

Screenshot_2014-12-14-10-56-05

Lokasi Pasar Keruak

Langit memang seolah enggan berbelas kasih. Mungkin karena kita sebagai manusia terlalu sombong terhadap alam, yang membuat awan-awan tidak mau melindungi para manusia dari panasnya siang hari. Lombok Timur memang cenderung panas, terutama area selatan yang dekat pantai. Jika umumnya hujan turun di bulan Oktober-November, namun ia membasahi daerah ini di bulan Desember. Dan menurut warga, musim hujan akan berakhir di bulan Februari. Ya, panas dan keringat, adalah teman perjalanan kali ini.

Kondisi minimnya hujan membuat dunia persawahan kurang subur, yang mendorong warga di sini beralih ke tanaman lain: tembakau. Surga tembakau, luasnya hamparan ladang penghasil asap ini agaknya sedikit memperbaiki kesejahteraan warga. Tak perlu ke warung, cukup linting tembakau hasil panen, dan duit hasil penjualannya pun bisa dipakai untuk naik haji.

20141214_110819

Bunga Flamboyan yang Berguguran di Tepi Jalan (y)

20141214_112742

Surga Tembakau

20141214_114110

Belok Kanan Menuju Pantai Surga. Jika Ingin Menuju Pantai Pink, Jalur yang Diambil adalah Lurus

Sekitar jam 11.55, Monju ingin beristirahat sejenak, lalu ia pun meringkuk di saung petani yang berada di tepian jalan. Kebetulan si petani tidak ada, saya pun berteduh sambil meregangkan otot-otot yang memendek. “Di mana pun kalian berada, berhenti jam 12 untuk istirahat siang,” agaknya instruksi itu masih terngiang-ngiang, yang membuat saya memilih istirahat di pinggir jalan—yang entah di mana, di sekitarnya pun tidak ada rumah penduduk.

Satu kesalahan mendasar pun baru disadari, yaitu membungkus bekal berminyak tanpa memisahkan nasi dengan lauknya. Alhasil, isi tas pun basah oleh minyak lauk. Ah, tapi itu semua bukanlah halangan untuk menikmati salah satu masakan khas Lombok: nasi puyung :D.

20141214_115742

Istirahat Siang di Saung Pinggir Jalan

Screenshot_2014-12-14-12-02-23

Lokasi Istirahat Siang

20141214_121158

Khas Lombok, Nasi Puyung: Nasi, Ayam Suwir Pedas, Kentang Kering, Kacang, dan Sambal yang Pedasnya Mantap. Foto Ini Mungkin Tidak Terlihat Menarik karena Hasil Dibungkus, tapi Rasanya Maknyus! 🙂

Jalanan yang seperti biasa, yaitu turun-naik kembali dihadapi Monju, setelah meyelesaikan istirahatnya jam 12.45. Kemudian, desa terakhir pun akhirnya dijumpai, yaitu Desa Ekas. Tak lama setelah melewati kantor desa, ada pertigaan dengan belokan ke kanan berupa jalan pasir berbatu. Ke sana lah arah pantai surga.

20141214_114354

Mengalir ke Desa Ekas

20141214_125126

Kantor Desa Ekas. Pantai Surga Sudah Tidak Terlalu Jauh Lagi

20141214_130055

Pertigaan. Belok Kanan untuk Menuju Pantai Surga. Terlihat Jalannya Berpasir Batu nan Jelek

Semoga saja ban Monju tidak langsung kempes dan tipis. Menurut penjual, ban sepeda bisa bertahan hingga 2 tahun, kalau jarang digunakan bisa sampai 3 tahun.

20141214_130424

Jalanan yang Mengikis Ban

Tak lama, muncul turunan yang cukup terjal—saya menyebutnya turunan planet, atau tanjakan planet kalau perjalanan pulang—tepat sebelum penginapan Heaven on The Planet. Memang ada beberapa penginapan bagi turis, terutama turis asing, di sepanjang jalan berbatu ini. Tapi saya sedikit penasaran dengan fasilitasnya. Tidak seperti Senggigi, pantai Selatan sangatlah minim sarana dan fasilitas. Jangankan penginapan, mencari warung pun agak sulit. Jalanan jelek tak perlu ditanya lagi. Tapi kabarnya pantai Surga banyak dikunjungi orang-orang bule yang ingin surfing, jadi mungkin karena itu lah di daerah ini ada banyak penginapan.

20141214_130844

Turunan/Tanjakan Planet. Saat Turun, Seolah Sedang Naik Roller Coster, Asyik namun Menegangkan karena Rentan Jatuh. Ketika Jalan Pulang, Saya Memilih Melewati Medan Ini dengan Menenteng Sepeda Ketimbang Menggowes :p

20141214_130916

Penginapan Heaven on The Planet, Penginapan Ini Cukup Dikenal oleh Warga Sekitar

Terus menelusuri jalan berbatu, kemudian menemukan belokan ke kanan yang jalannya berupa tanah. Di pertigaan itu ada papan penunjuk berukuran kecil, agak tidak terlihat jelas. Jalur ini tidak bisa dilewati oleh dua mobil secara parallel. Jalannya yang bertanah, yang akan menjadi lumpur jika hujan, menyarankan para pengunjung untuk menggunakan mobil ukuran besar. Sebaiknya juga kendaraan manual karena kondisinya yang naik turun. Sepeda motor pun bisa melewatinya, namun akan menjadi mimpi buruk jika tanahnya digenangi hujan.

20141214_131359

Belok Kanan Menuju Jalan Tanah

20141214_131438

Papan Petunjuk yang Ukurannya Kecil

20141214_131657

Jalur Tanah seperti Jalut Off Road. Ketika Hujan, Jalan Ini Berubah Menjadi Genangan Lumpur

20141214_132043

Memasuki Jalur Hutan Pinggir Pantai

Tak jauh, ada palang dan beberapa petugas yang siap menarik bayaran. Yahh, bukan petugas resmi, alias “preman”.

“Pantai surga, bos?” tanya saya penuh harap. “Ya,” jawabnya.

“Los?”

“Ya dah, lewat aja”

Begitulah keuntungan bagi para goweser.

Akhirnya setelah 3,5 jam gowes di bawah matahari serta 1 jam istirahat, pantai Surga terlihat juga. Saat itu waktu menunjukkan pk. 14.30. Untuk ke sana, mesti melewati pintu belakang suatu penginapan. Entah baru dibangun, atau ditinggalkan, atau hanya buka di musim libur, penginapan tersebut sepertinya tidak terurus, dan tidak ada penjaganya. Namun, terlihat adanya pembangunan fasilitas seperti ubin, kebun, dan banyak saung/gazebo.

20141214_132216

Foto Ini Membuktikan Bahwa Kendaraan Ini Mampu Melewati Medan Tadi

20141214_132429

Voila! Pantai Surga! 🙂

Screenshot_2014-12-14-13-33-15

Lokasi Pantai Surga

20141214_132455

Penginapan yang Tidak Ada Pengurusnya

20141214_132444

20141214_132505

Terlihat Adanya Ubin yang Dibuat, Mungkin Oleh Pihak Penginapan

20141214_132632

Terlihat di Atas Tebing Terdapat Saung

20141214_132707

Dikelilingi Tebing

20141214_132814

Monju Berpose

20141214_132917

20141214_133022

Pantai Ini Memiliki Ombak yang Deras


20141214_133124
20141214_133136
20141214_133202

Tidak banyak orang di jam saat itu…para pengungjung sudah banyak yang pulang. Mungkin sebelum jam 12 adalah waktu pantai ini ditemani oleh banyak manusia. Meskipun begitu, mengingat jalurnya yang agak sulit dan jelek, sepertinya lokasi wisata ini tidak seramai pantai pink. Mana lagi kondisi tempat yang begitu menyenangkan selain pantai indah dengan ombak perkasa, dan sepi pula?

Seperti yang tadi disebutkan, adanya pembuatan fasilitas di pinggir pantai ini membuat saya ingin meluruskan kaki di salah satu dari sekian banyak saung yang ada. Langit mendung dan gerimis pun turun, menambah keheningan yang sepi, yang dipecahkan oleh suara ombak. Sejenak menutup mata, melepas lelah sambil menikmati segala suasana yang ada. Mendarat di pantai dengan menggowes seperti ini memang berbeda: rasanya lebih puas.

20141214_135026

Istirahat Sambil Menikmati Pemandangan di Saung 🙂

Tapi, begitulah resiko menggowes, jika mencapainya harus dalam kelelahan, begitu pula pulangnya. Pikiran harus kembali menggowes berjam-jam agaknya sedikit mengganggu kekhidmatan deburan ombak pantai surga.

 

#catatan:

Kendaraan yang paling direkomendasikan ke pantai surga adalah yang tinggi dan beroda besar. Saat perjalanan pulang yang diguyur hujan, Monju begitu babak belur oleh jalanan yang telah berubah menjadi kolam lumpur, terlebih pengendaranya :D. Atau jika sayang kendaraan Anda, datanglah di waktu musim kering atau sebelum hujan turun.

20141214_155327

Dalam Perjalanan Pulang, Monju Babak Belur oleh Jalanan Berlumpur XD

 

Categories: catatan perjalanan, Foto | Tags: , , , | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: