catatan perjalanan

7 Kuliner Lombok yang Patut Dicoba

Siapa yang tak kenal pulau Lombok? Tidak hanya di dalam negeri, reputasi pulau ini sudah dikenal hingga tingkat dunia. Setidaknya pulau ini popularitasnya menduduki urutan kedua di Indonesia setelah Bali.

Barangkali kita semua sudah tahu titik-titik memukau di pulau 1000 masjid (sebutan lain pulau Lombok) ini. Sebut saja pantai Senggigi, pantai Kuta, pantai Selong Belanak, air terjun Tiu Kelep, Gili Trawangan yang tersohor, hingga gunung terindah di dunia yaitu Rinjani. Pesona pulau ini takkan habis untuk dieksplorasi karena hampir setiap sudutnya menyimpan panorama yang mengagumkan. Masih banyaknya tempat menarik namun belum terkenal—sebut saja pantai Bisalyak di Taman Gunung Tunaq dan air terjun Benang Kelambu (sudah pernah ke sana?)—karena masih minimnya pengembangan dan promosi, menjadikan daratan bulat ini cukup asik untuk dijelajahi.

Ahh, mengarungi keindahan Lombok takkan ada habisnya…

Eiittss…kekaguman kita takkan berhenti hanya pada landscape alamnya. Beginilah Indonesia, negara yang begitu kaya: sebagaimana kebanyakan daerah, Lombok pun memiliki masakan khasnya tersendiri—yang membuat orang yang pernah mengunjunginya semakin rindu.

Setahun di Lombok adalah waktu yang tidak cukup bagi saya untuk benar-benar memahami pulau tersebut. Walau demikian, saya ingin berbagi beberapa makanan khas yang pernah dicicip selama berada di Lombok.

Makanan-makanan ini akan membuat Anda kangen Lombok, terlebih kebanyakan dari mereka tidak buka cabang di luar pulau. Berikut adalah kuliner khas pulau Bumi Gora yang patut dicoba:

  1. Ayam Taliwang
Ayam Taliwang dan Bumbu Taliwang

Ayam Taliwang dan Bumbu Taliwang

Mungkin sudah banyak yang tahu tentang makanan ini. Rumah makan yang menyediakan makanan ini pun sudah banyak di pulau Jawa. Ketika ditanyakan makanan Lombok, mungkin kebanyakan orang akan menjawab ayam taliwang.

Sebenarnya ayam taliwang bukanlah makanan khas Lombok. Masakan ini berasal dari suatu daerah yang disebut Desa Taliwang di pulau Sumbawa. Mungkin asal mulanya adalah orang dari pulau tetangga tersebut membuka warung di Lombok, pulau yang memiliki banyak turis. Masakan ini, yang khas dengan rasa pedasnya, akhirnya cukup digemari oleh para wisatawan. Karena kebanyakan orang mengenal ayam taliwang di Lombok ketimbang di daerah aslinya, jadilah makanan ini melekat dengan Lombok.

Ayam Taliwang adalah masakan ayam bakar yang ditaburi dengan bumbu khas. Makanan ini dimakan bersama dengan sambal taliwang yang pedas nan gurih. Sebagian dari kita mungkin mengenal ayam taliwang sebagai ayam pedas. Memakannya akan terasa lebih lezat jika bumbu sambalnya dilumuri ke ayam. Hmmm, dijamin bisa membuat Anda menjadi rakus.

Warung ayam taliwang kebanyakan buka di kota Mataram. Seperti yang telah disebutkan, ayam taliwang bukanlah masakan asli Lombok, sehingga tidak banyak orang lokal yang memakannya. Sepanjang saya lihat, kebanyakan yang mengunjungi warung makan ayam taliwang ialah turis, baik dalam negeri maupun asing.

Salah satu warung ayam taliwang yang cukup terkenal dan banyak dikunjungi ialah Rumah Makan Taliwang Irama di Jl. Ade Irma Suryani, kota Mataram.

  1. Plecing
20141109_162134

Plecing Khas Lombok

20150522_185841

Plecingnya Lombok

Nah, kalau ini asli masakan orang Lombok. Sayuran seperti urap ini ialah sajian sayur kangkung, toge, kacang, parutan kelapa, dan bumbu pamungkasnya yaitu sambal khas Lombok alias sambal beberuk.

Kita barangkali sering mendengar bahwa Lombok identik dengan cabai dan sambal. Ini bukan karena “lombok” yang berarti “cabai” dalam bahasa Jawa, kan? Heheh.

Sambal beberuk konsistesinya lebih cair dibandingkan sambal ulek kebanyakan. Kalau melihat proses pembuatannya, jumlah tomat yang digunakan cukup banyak, sehingga wajar kalau cair. Selain tomat dan cabai, ia juga dibuat dari bumbu yang disebut dengan bumbu beberuk, yang saya pun tak mengerti terbuat dari apa.

Plecing adalah benar-benar makanan orang Lombok. Apapun lauknya, plecing sering menjadi teman makannya. Apakah makan ayam goreng/bakar, ikan goreng/bakar, tahu, tempe, bahkan makan kerupuk pun pakai plecing.

Jadi jika ingat makanan orang Lombok, ingatlah plecing 🙂

  1. Sate Rembiga
Sate Rembiga yang Benar-Benar Membuat Ketagihan

Sate Rembiga yang Benar-Benar Membuat Ketagihan

Anda pernah makan sate maranggi dari Purwakarta? Rasa dan konsistensi sate rembiga sedikit mirip maranggi. Kalau maranggi manis, sate rembiga terasa pedas.

Menurut saya pribadi, sate rembiga merupakan sate daging sapi terenak yang pernah dicoba. Sensasi gurih dan pedas—dan tentu saja lezat—akan terus berasa di bibir dan lidah hingga membuat Anda tak sadar untuk mengambil tusuk kedua, ketiga, dan seterusnya.  Jika membelinya, 10 tusuk sate rembiga tidaklah cukup, heheh 🙂

Sate rembiga merupakan sate khas dari daerah Rembiga di kota Mataram. Sepanjang pengetahuan saya, sate ini hanya dijual di daerah tersebut, jarang ditemukan di tempat lain. Jadi, jika ke Lombok, sate ini sangat direkomendasikan untuk dicoba, bahkan kalau perlu dibungkus puluhan tusuk untuk dibawa pulang :p

Warung sate rembiga terletak di Jl. Wahidin Sudirohusodo, kota Mataram. Oh ya, warung sate rembiga juga menjual sop iga sapi khas Lombok yaitu Bebalung. Namun, saya merekomendasikan untuk membelinya di tempat lain untuk mendapatkan rasa yang terbaik.

Warung Sate Rembiga

Warung Sate Rembiga

  1. Bebalung
Bebalung, bersama sambal beberuk

Bebalung, bersama sambal beberuk

Iga sapi selalu menjadi idaman untuk dibuat sop. Jika Makassar memiliki Sop Konro, maka Lombok memiliki Bebalung.

Bebalung umumnya lebih cair dan tidak sekental gule atau pun konro. Warna kuahnya pun cenderung jernih. Walau demikian, rasanya yang khas dan berbeda dengan sop iga sapi lain membuat saya merekomendasikan siapa saja yang ke Lombok untuk menyicipnya. Selain itu, tidak pernah ditemukan warung bebalung selain di Lombok. Sebagaimana ciri orang pulau tersebut, bebalung biasanya dimakan bersama plecing atau dengan sambal beberuk.

Warung Bebalung yang paling enak sepanjang pengalaman saya dan teman-teman se-internsip berada di kota Mataram, tepatnya di jalan HOS Cokroaminoto. Yang cukup disayangkan, pemiliki warung ini, yaitu warung Klebet, tidak membuat dalam jumlah banyak. Mereka hanya masak dalam jumlah yang sudah ditentukan saja. Jika sudah habis, warung pun tutup. Alhasil, jika ingin makan di warung Klebet, datanglah sebelum jam 1 siang.

Warung Klebet

Warung Klebet

Kemungkinan warung tersebut sudah buka dari jam 8 pagi. Jadi, bebalung bisa dijadikan sebagai menu sarapan pagi yang sedap.

  1. Sate Bulayak

Selain rembiga, Lombok memiliki sate khas lain yaitu sate bulayak.

Bagi saya, sate bulayak agak seperti sate padang karena berupa daging sapi dan jeroan. Bumbu sate ini terbuat dari kacang tanah yang disangrai dan ditumbuk lalu direbus dengan santan, dan dimasak dengan bumbu-bumbu lain. Jika dicicip, bumbu tersebut seperti kuah kari.

Yang menjadi khas dari sate ini ialah ia dimakan bersama bulayak. Dalam bahasa sasak (bahasa asli penduduk Lombok), bulayak berarti lontong. Tidak seperti di Jawa, bulayak umumnya berukuran lebih kecil dan dibungkus dengan daun aren. Cara membungkusnya pun unik yaitu secara spiral, sehingga ketika konsumen hendak menyantapnya, ia akan membuka secara berputar. Bulayak memiliki aroma yang berbeda dibanding lontong biasa akibat dari pengaruh daun aren.

Hal lain yang unik dari masakan ini ialah biasanya pembeli tidak disediakan sendok atau garpu. Mencocol bulayak ke bumbu sate adalah cara yang benar untuk menikmatinya.

Warung Sate Bulayak di Dekat Toko Sasaku

Warung Sate Bulayak di Dekat Toko Sasaku

Waktu yang sempit di Lombok membuat saya tidak banyak mencoba makanan ini. Warung sate bulayak yang diketahui pun hanya satu yaitu di area parkir toko pakaian Sasaku di daerah Cakranegara, kota Mataram. Menurut referensi lain, warung sate bulayak bisa ditemukan di daerah Narmada, Lombok Barat.

  1. Sate Ikan Tanjung
Sate Ikan Tanjung. Hmmm, sedaaaapppp

Sate Ikan Tanjung. Hmmm, sedaaaapppp

Makanan ini tidak akan ditemukan di tempat lain; ia hanya dijual di daerah Tanjung, pusat kota dari Kabupaten Lombok Utara.

Bahan yang digunakan umumnya adalah ikan cakalang atau ikan langoan. Daging ikan yang dikumpulkan dan dibentuk dilapisi oleh kelapa, ditusuk, kemudian dibakar. Karena terbuat dari daging ikan, ukurannya tidak begitu besar. Namun karena rasanya yang mantap, makan 15 hingga 20 tusuk benar-benar tidak terasa 🙂

Jika ingin menyicipinya, Anda harus pergi ke Tanjung, Lombok Utara, kira-kira 1 jam dari pelabuhan yang menuju Gili Trawangan (a.k.a pelabuhan Bangsal). Para pedagang sate ini yang biasanya ibu-ibu berjejer di area pasar Tanjung atau terminal Tanjung. Untuk membelinya pun hanya bisa di waktu siang. Biasanya lapak sate ikan sudah digelar dari jam 2 siang dan hanya sampai jam 6 sore. Sebagaimana kebanyakan pedagang makanan di Lombok, mereka hanya masak dalam jumlah seadanya saja. Jika sudah habis, maka tutuplah warungnya.

Ada yang bilang, para pedagang sate ikan ini akan dengan senang hati berbagi resep dan cara memasaknya. Berhubung sate ini tidak akan ditemukan di tempat lain, ada baiknya juga untuk mengingat resepnya dan mencoba membuatnya di rumah.

  1. Nasi Puyung
Nasi Puyung

Nasi Puyung

Nasi Puyung

Nasi Puyung

Satu lagi makanan yang tidak akan ditemukan di luar pulau Jawa. Jika ingin menyantapnya, Anda pun tak perlu susah-susah: cukup keluar dari Bandara Internasional Lombok (BIL) dan warung nasi puyung dapat ditemukan di seberang.

Puyung adalah nama daerah di Kabupaten Lombok Tengah. Saya sedikit sulit mendefinisikan makanan ini. Secara umum, nasi puyung ialah nasih putih yang disajikan dengan ayam suwar-suwir dan kentang kering, dan juga sambal.

Warung nasi puyung seberang bandara akan menyajikan nasi puyung beserta potongan ayam dan juga sayur. Jika keliling Lombok, kita bisa menemukan warung nasi puyung yang cukup banyak cabangnya yaitu “D Rice”. Sajian nasi puyung warung ini berbeda: ia menyediakan ayam suwar-suwir yang sudah dilumuri bumbu pedas, kentang kering, juga kacang kedelai. Kita dapat menambah telur bacem jika mau.

Yang takkan terlupakan dari nasi puyung ialah rasanya yang pedas. Walau sudah minum air bergelas-gelas dan meninggalkan warungnya, tetap saja si rasa pedas menempel di bibir. Tapi tentu bukan sekedar pedas biasa; pedas nikmat nan gurih nan membuat ketagihan, yang akan membuat Anda tidak kapok untuk menyicipnya kembali.

————————————————————————————————————————————–

Di atas adalah beberapa kuliner yang pernah saya coba dan rekomendasikan jika Anda mengunjungi Lombok. Mungkin di antara kita sudah berkali-kali mengunjungi pulau indah tersebut namun belum sempat menikmati makanan khasnya.

Makanan khas daerah bukan hanya tentang rasa di lidah dan memenuhi rasa lapar, tapi ia juga merupakan bagian dari kekayaan bangsa Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke kita bisa menemukan berbagai masakan daerah yang tidak ditemukan di tempat lain. Jika berkunjung ke suatu tempat di negara ini, maka ciciplah makanan khasnya; hal itu akan membuat kita sadar bahwa betapa Indonesia kaya akan budaya 🙂

Advertisements
Categories: catatan perjalanan | Tags: , , , , , , , , , | 5 Comments

Cerita PTT: Bintuni, Kan Setahun Ku Di Sini

20160127_143302

Mengapa harus ke Papua?

Berulang kali pertanyaan tersebut diajukan. Sudah dari lama saya memutuskan ingin bekerja sebagai dokter PTT (pegawai tidak tetap) selama setahun di pulau paling timur nusantara ini. Walaupun cukup berat menjelaskan alasannya, terutama ke keluarga, kenyataannya sudah satu bulan saya berada di Papua.

Kota tempat saya bekerja ialah Kabupaten Teluk Bintuni. Tidak ada penerbangan langsung menuju Papua dari Tangerang (dari bandara Soekarno Hatta yang ada di Tangerang). Untuk menuju Bintuni, pertama terbang dulu tujuan Manokwari. Dari Manokwari menuju Bintuni terdapat dua pilihan: menggunakan pesawat perintis—Susi Air—atau melewati jalur darat menggunakan mobil double gearbox seperti Toyota Hilux.

Penerbangan paling cepat ke Manokwari dari Tangerang ialah pesawat Sriwijaya Air yang terbang jam 22.20 menuju Makassar. Di bandara Sultan Hasanuddin, transit hanya sekitar satu setengah jam, dan penerbangan dilanjutkan langsung ke Manokwari dan sampai di sana menurut jadwal sekitar jam 7 pagi WIT.

20151227_080230

Bandar Udara Rendani, Manokwari

Saya sendiri memilih menggunakan Garuda Indonesia karena kepercayaan orang tua yang lebih kepadanya. Garuda transit lebih lama di Makassar, sekitar 3 jam. Kemudian penerbangan pun tidak langsung ke Manokwari tapi transit sebentar di Sorong sekitar 20 menit (transit tanpa turun pesawat). Akhirnya saya menapakkan kaki di tanah Papua, tepatnya Manokwari, hari Minggu, 27 Desember 2015 jam 8 pagi waktu setempat.

Menuju Bintuni dengan menggunakan pesawat tentu lebih cepat. Waktu yang diperlukan hanya sekitar 20-30 menit jika lewat jalur udara. Namun, pengguna pesawat perintis harus rela menari-nari di udara selama penerbangan karena ukurannya yang kecil membuatnya gampang digoyang angin . Walaupun lebih lama—sekitar 8-9 jam—setidaknya dengan jalur darat saya bisa tidur lebih nyenyak.

Sayangnya tidak banyak yang bisa diceritakan tentang perjalanan saya dari Manokwari menuju Bintuni menggunakan mobil double gearbox 4×4. Entah kenapa saya selalu sulit dan hampir tidak bisa tidur jika terbang. Penerbangan yang larut dan lama, dari Tangerang jam 9 malam WIB dan baru mendarat sekitar jam 8 pagi WIT, membuat saya ngantuk berat. Alhasil, hampir selama perjalanan darat itu saya tertidur.

Manusia tidak bisa menggunakan mobil biasa untuk ke Bintuni dari Manokwari. Di awal-awal jalan memang mulus beraspal, namun di tengah-tengah hingga menjelang tujuan jalannya benar-benar hancur dan menanjak. Hilux yang digunakan berkali-kali harus mengatur gearboxnya yang ada dua supaya bisa menanjak di atas jalan tanah berkawah—mobil biasa tentu tidak akan kuat melewatinya, Perjalanan akan menjadi semakin sulit jika hujan.

Orang-orang bilang selama perjalanan bisa melihat pemandangan yang cukup memukau—hamparan laut dan gunug. Sayang, semua bagian itu terlewatkan. Sebagian besar perjalanan yang saya lihat–saat melek–didominasi oleh hutan di sebelah kiri-kanan jalan. Hutan yang masih alami tak tersentuh manusia karena pembangunan di Papua masih sangat minim.

Setiba di Bintuni langit sudah gelap. Tujuan saya ialah mess dinas kesehatan. Ia adalah rumah tinggal yang disediakan untuk dokter-dokter kontrak di RS maupun puskesmas. Mess terletak di Km 5—begitu orang-orang di sini menyebutnya—terletak di dalam komplek dinas kesehatan bagian belakang.

Mess Dokter, Belakang Dinas Kesehatan

Mess Dokter, Belakang Dinas Kesehatan

Ada 5 kamar tidur dan dua kamar mandi di mess, juga ada dapur dengan peralatan masaknya yang lengkap. Kamar-kamar itu juga diisi oleh dokter-dokter puskesmas, walau mereka lebih sering tinggal di puskesmasnya. Hal ini karena perjalanan ke puskesmas cukup jauh. Ada yang bisa mencapainya dengan jalur darat, namun banyak juga yang mesti digoyang-goyang ombak di atas kapal. Bukan berarti puskesmas tersebut berada di pulau; ia terletak di daratan utama juga namun tidak ada akses darat ke sana. Kadang-kadang dokter puskesmas datang dan menginap di mess untuk sekedar “refreshing”—ada tv kabel di mess—sekitar sekali dalam satu atau dua dalambulan. Jika dokter puskesmas tidak ada, hanya saya dan tiga dokter lainnya yang menghuni mess.

Di pagi hari esoknya, saya lebih bisa melihat jelas seperti apa “kota” Bintuni. Hanya ada satu jalan raya; membentang lurus dari ujung ke ujung. Kadang-kadang ada jalan arteri yang kecil dan tidak semulus aspal jalan raya. Di kiri-kanan jalan raya membentang pohon-pohon hutan tropis; di satu sisi terdapat laut, di sisi lainnya menuju hutan belantara.

Satu Jalan Raya Lurus di Bintuni

Satu Jalan Raya Lurus dari Ujung ke Ujung

Kanan dan Kiri Jalan Berupa Hutan Belantara

Kanan dan Kiri Jalan Berupa Hutan Belantara

Tidak banyak pembangunan dan jarak antarbangunan cukup jauh. Contoh saja dinas kesehatan dan rumah sakit berjarak 2 km, yang sepanjang jalan di antaranya hampir tidak ada bangunan kecuali warung-warung kecil. Di atas udara, kita bisa melihat pulau Papua yang kebanyakan berupa hutan belantara. Jarak antar satu kota dengan lainnya cukup jauh dan di antaranya hanya ada hutan–jalan hanya terlihat sedikit dan sangat kecil. Memang ini bagus untuk direnungkan: sudah puluhan tahun Papua Barat bergabung dengan Indonesia, tapi tetap saja kebanyakan isinya masih berupa hutan.

Rumah sakit berada di Km 7—kalau orang sini menyebutnya “ke arah atas”. Disebut demikian karena jika terus berjalan melewati rumah sakit, jalan akan membawa ke arah perbukitan. Arah sebaliknya dari rumah sakit, yaitu Km 0 dan setelahnya (sy tidak tahu disebutnya apa, tapi sepertinya bukan Km -1, Km -2, dst) ialah menuju “kota”. Jika mau ke “kota”, orang-orang akan menyebutnya “ke bawah”. Setelah melewati kota, jalan raya cenderung kosong dan tidak ada bangunan ke arah permukiman transmigran, yang orang di sini menyebutnya “SP”. Katanya, ada 5 SP dari paling jauh hingga paling dekat kota.

“Kota” adalah sebutan wilayah yang banyak toko-toko dan warung makan. Toko-toko dan warung yang ada berukuran kecil-kecil. Di kota terdapat pelabuhan tempat kapal-kapal pengangkut barang-barang dari Jawa, juga manusia, berlabuh. Berbagai barang yang dijual di toko dan bahan-bahan makanan kebanyakan berasal dari Jawa. Akibatnya, jika kiriman belum datang, stok barang akan habis dan mesti menunggu kapal untuk mendapat persediaan yang baru.

Pelabuhan Bintuni. Dari Sini Pula Sejawat Saya Naik Kapal untuk ke Puskesmas

Pelabuhan Bintuni. Dari Sini Pula Sejawat Saya Naik Kapal untuk ke Puskesmas

"Kota" Bintuni. Motor yang dengan Pengendara Berhelm Kuning ialah Tukang Ojek. Tarif Ojek Sekali Jalan Rata-Rata 10-15 Ribu

“Kota” Bintuni. Motor dengan Pengendara Berhelm Kuning ialah Ojek. Tarif Ojek Sekali Jalan Rata-Rata 10-15 Ribu

Masjid Besar di Kota. Karena Banyak Pendatang, Jumlah Masjid Ada Beberapa dan Suara Azan Dikumandangkan dengan Pengeras Suara

Masjid Besar di Kota. Karena Banyak Pendatang, Jumlah Masjid Ada Beberapa dan Suara Azan Dikumandangkan dengan Pengeras Suara

Di Bintuni Ada Bandara yaitu Bandara Steenkool. Hanya Pesawat Kecil yang Mendarat di Bandara Kecil Ini. Sore Hari, Saat Sudah Tidak Ada Penerbangan, Landasan Suka Digunakan Sebagai Tempat Joging

Di Bintuni Ada Bandara yaitu Bandara Steenkool. Hanya Pesawat Kecil yang Mendarat di Bandara Kecil Ini. Sore Hari, Saat Sudah Tidak Ada Penerbangan, Landasan Suka Digunakan Sebagai Tempat Joging

Seperti yang kita tahu semua, harga-harga lebih tinggi di Papua. Rata-rata sekali makan sekitar 15-30 ribu. Menu makanan pun tidak variatif; kebanyakan yang jualan ialah orang Jawa Timur yang masak pecel lalapan ayam. Juga ada beberapa warung menjual masakan Makassar seperti coto atau konro karena banyak pendatang dari Makassar.

Rumah Sakit Umum Bintuni ialah rumah sakit tipe D. Bangunannya berupa gedung baru—mungkin baru dibangun sekitar awal tahun 2010. Beberapa alat dan sarananya juga terlihat baru. Yang cukup tidak disangka, alokasi dana untuk pemenuhan sarana rumah sakit cukup tinggi. Baru-baru ini saja RS membeli 4 mesin ventilator, yang satu mesinnya saja setara dengan dua mobil Hilux. Bangunan ICU pun sedang dalam proses pembuatan.

20151227_143426

Papan Tulisan Rumah Sakit Tidak Terlihat dari Depan dan Tertutup Semak. Tulisan “Poliklinik” adalah yang Terlihat Mencolok Saat Melintasinya

20151227_143319

Tidak Seperti Kebanyakan Rumah Sakit, yang Berada di Depan dan Terlihat Jelas ialah Bangunan Poliklinik, Bukan UGD

Meskipun demikian, masih banyak kekurangan di RS. Jumlah pekerja seperti pegawai laboratorium masih kurang sehingga tidak ada petugas lab yang standby 24 jam—jika sore atau malam, mereka bersifat on call untuk pemeriksaan darurat. Begitu juga dengan petugas radiologi. Tenaga dokter juga sebenarnya perlu ditambah. Jumlah dokter umum hanya 7 orang ditambah 3 orang dokter internship yang akan selesai masa tugasnya akhir februari. Tiga dokter internship bertugas di ruangan melakukan follow up pagi. Jika sudah siang, maka hanya ada satu dokter yang jaga satu rumah sakit—UGD, rawat inap, ponek, ruang perinatology—hingga besok paginya. Di waktu siang dan malam, dokter jaga harus melayani pasien yang datang ke UGD. Di tengah-tengahnya, ia bisa saja dipanggil ke rawat inap karena ada pasien yang mengeluh atau dalam kondisi gawat, kemudian dipanggil juga ke ponek karena ada ibu-ibu mau melahirkan. Kondisi ini diperparah dengan banyaknya orang datang ke UGD sore-sore hanya untuk rawat jalan—tidak enak untuk menolak karena rata-rata rumah mereka jaraknya jauh dari RS. Alhasil, bekerja sebagai dokter PTT di RS Bintuni cukup melelahkan. Maaf ralat: sangat melelahkan.

Dokter spesialis baru ada tiga: dokter bedah umum, anestesi, dan dua dokter kandungan. RS belum memiliki dokter penyakit dalam dan dokter anak. Hingga kini, yang mengisi pos tersebut adalah dokter residen tingkat akhir (sudah selesai stase dan menunggu ujian nasional) yang dalam program pengabdian selama 6 bulan karena mereka penerima beasiswa Kementerian Kesehatan. Dokter penyakit dalam saat ini berasal dari RS Kariadi Universitas Diponegoro dan dokter anak dari RS Soetomo Universitas Airlangga.

Peralatan pun masih kurang. Sebagaimana RS daerah pada umumnya, tidak ada pemeriksaan analisis gas darah. Bahkan pemeriksaan elektrolit pun belum ada. Walaupun saat ini sudah ada ventilator, tidak adanya analisis gas darah dan eletrolit rasanya membuat peran ventilator yang ada tidak maksimal. Apalagi sebentar lagi akan ada ICU.

Setiap senin pagi, diadakan morning report untuk mempresentasikan kasus hari Sabtu. Yang melaporkan ialah dokter jaga di hari weekend tersebut. Di hari Kamis, umumnya dokter umum diminta untuk mempresentasikan kasus rawat inap yang tidak biasa, unik, rumit, dan yang membuat pasien meninggal. Dokter umum juga diberi kewajiban untuk menjadi asisten operasi, apakah operasi bedah atau obgyn—walau sementara ini yang turun sebagai asisten ialah dokter internship. Singkatnya, pekerjaan di RS cukup banyak.

Bosan? Sudah pasti. Terlebih di Bintuni tidak ada hiburan dan tidak ada tempat rekreasi. Yah, karena sudah terlanjur di sini, jalani dan nikmati saja semua aktivitas yang ada.

Mengapa harus ke Papua?

Semenjak awal-awal menjadi mahasiswa, sudah merupakan keinginan kuat untuk ke pulau ini. Alasan utama ialah karena ingin bertualang ke wilayang paling timur Indonesia. Papua dikenal sebagai daerah yang masih tertinggal. Karena itulah, saya ingin melihat-lihat kondisinya, melihat orang-orangnya, dan merasakan menetap di daerah tertinggal. Bekerja di sarana kesehatan yang serba terbatas dan dengan kondisi masyarakat yang kurang terjaga kesehatannya karena di daerah terpencil tentu merupakan tantangan tersendiri.

Memang Bintuni lebih maju dibandingkan daerah Papua yang lain. Karena letaknya di pesisir, ada banyak pendatang dan transmigran yang tinggal dan menjalankan aktivitas ekonomi. Jika dilihat, kebanyakan penggerak roda ekonomi Bintuni ialah para pendatang,

Tidak bisa dipungkiri juga keinginan saya untuk memiliki SMB (surat masa bakti). Surat sakti ini banyak dicari-cari sebagai senjata untuk daftar sekolah ppds (program pendidikan dokter spesialis) kelak. Saya akui, saya pun menginginkannya. Maklum, tidak ada prestasi, nilai kuliah yang biasa-biasa saja, dan tidak punya kenalan pejabat membuat saya harus bekerja lebih ekstra.

Namun apa pun itu, semua saya syukuri. Ini adalah bagian dari keinginan besar untuk terus melakukan perjalanan. Mimpi untuk mendaki gunung-gunung tinggi bahkan gunung es, walau mulai sedikit memudar, masih ada. Begitu pun keinginan untuk melihat-lihat keadaan, alam, bahasa, dan wajah manusia di berbagai belahan bumi.

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (Al Jumuah: 10)

Yah, yang terpenting, semua ini diniatkan ikhlas karena Allah. Baru sebulan di sini saya sudah mulai merasakan jenuh. Namun saya pun menyadari, jika kelelahan pekerjaan ini dijalankan dengan beban berat di pikiran, maka yang ada adalah rasa tersiksa. Tapi jika pikiran dijernihkan, hati diikhlaskan, semua sebagai bentuk pengabdian kepadaNya, segalanya akan terasa ringan dan dimudahkan. InsyaAllah.

Categories: catatan perjalanan | Tags: , , , , | 8 Comments

[FOTO] Seperti Kura-Kura, Menatap Desir Ombak Pantai Sungkun, Lombok Timur

DSCN0443

Bibir selatan pulau Lombok masih menyimpan eksotismenya. Seolah-olah sedang menjaga miliknya yang berharga, pantai-pantai dengan pasir jernih dan laut biru pekat masih ia sembunyikan. Bukankah untuk memperoleh keindahan, sering manusia harus berjuang dan berkorban? Mungkin itulah yang hendak diajarkan oleh pulau Lombok.

Salah satu pantai yang masih bersih dan murni ialah pantai sungkun, atau biasa disebut juga dengan pantai kura-kura. Masih belum banyak ia dikunjungi. Lokasinya pun sulit diakses, membuat perjalanan untuk menempuhnya terasa semakin menggairahkan. Jangankan saranda dan fasilitas penunjuang rekreasi, papan petunjuk menujunya saja masih pelit untuk menampakkan diri.

Ada beberapa jalur yang bisa dilalui untuk mencapai pantai tersebut. Pantai ini terletak di desa Pemongkong, kecamatan Jerowaru, kabupaten Lombok Timur, propinsi NTB. Untuk mencapainya, ambillah jalan menuju Lombok Timur, kemudian ke arah Keruak. Di Keruak, belok ke arah kecamatan Jerowaru. Di Jeroawu sebenarnya banyak pantai yang bagus dan masih sepi. Salah satu yang terkenal ialah pantai Pink. Butir-butir alga dicampur dengan percikan air dan sinar matahari membuat pasirnya terlihat berwarna pink.

Setelah berbelok ke arah Jerowaru, ikuti papan petunjuk ke arah pantai Pink/pantai Kaliantan/pantai Surga. Kita bisa ke pantai Sungkun melalui jalur Kaliantan atau Surga. Pengguna mobil hanya bisa mencapainya melalui jalur pantai Surga. Saya pribadi belum pernah melalui pantai Kaliantan. Teman yang pernah mencoba ke Sungkun melalui Kaliantan bercerita bahwa jalan di sana benar-benar jelek dan hanya bisa dilalui oleh sepeda motor.

Ikuti Petunjuk ke Arah Panti Surga

Ikuti Petunjuk ke Arah Pantai Surga

Ikuti papan jalan ke arah pantai Surga. Ikuti jalan raya beraspal, dan di sebelah kiri akan terlihat kantor Desa Ekas. Tak jauh di depan akan ada pertigaan dengan ke kanan berupa jalan berkerikil. Ambil jalan ke kanan itu dan nikmati jalanan yang rusak. Kita pun akan diminta berhati-hati akan melalui turunan pasir yang cukup curam. Persis setelah turunan ada penginapan yang cukup dikenal warga lokal yang bernama “Planet on The Heaven”. Ambillah jalan lurus terus.

Setelah Melewati Kantor Desa Ekas, Belok Kanan untuk ke Jalanan Berkerikil

Setelah Melewati Kantor Desa Ekas, Belok Kanan untuk ke Jalanan Berkerikil

Beginilah Penampakan Jalan ke Pantai-Pantai di Lombok Timur

Beginilah Penampakan Jalan ke Pantai-Pantai di Lombok Timur

(catatan: jika tidak berbelok kanan ke arah pantai Surga, bisa juga melalui jalan lurus terus; terus hingga ke ujung dunia. Di ujung sana akan ditemui pantai juga (kami menamakannya “Pantai Ujung Dunia” karena berada di ujung). Pantai Ujung Dunia pula memiliki pemandangan yang menarik dengan bukit-bukit yang membentang. Sebelum pantai tersebut ada belokan kecil ke kanan. Ambillah belok kanan dan ikut jalan berpasir-batu dan menanjak, terus hingga jalannya menurun. Setelah turun, ada pertigaan–pertigaan dengan jalan yang ke arah pantai surga. Beloklah ke kiri. Atau, jika ingin menikmati pantai Ujung Dunia terlebih dulu, jalan ke Sungkun juga bisa dilalui dengan melewati jalan berbukit pantai Ujung Dunia. Setelah menanjak layaknya mobil off-road, ambil jalan ke kanan.)

Setelah melewati penginapan Planet, tak jauh akan ada jalan kecil belok ke kanan. Belokan ke dua (yang jalannya sempit dan berupa tanah) merupakan arah ke pantai Surga. Ambillah jalan lurus terus, menanjak, untuk ke Sungkun. Berhati-hatilah terutama yang menggunakan mobil karena tanjakan tersebut beralaskan pasir. Jika hujan sepertinya jalan tersebut akan sangat licin dan saya tidak tahu apakah memungkinkan untuk dilewati atau tidak. Setelah menanjak, jalan menurun. Gunakanlah gigi rendah (gigi 1) untuk keamanan.

Pertigaan, dengan Belok Kanan ke Pantai Surga. Ambillah Jalan Lurus untuk ke Sungkun

Pertigaan, dengan Belok Kanan ke Pantai Surga. Ambillah Jalan Lurus untuk ke Sungkun

Setelah ambil turun jalan akan menjadi datar lurus, lalu akan ada pertigaan. Di pertigaan, menempel di batang pohon, ada papan kecil bertuliskan “Pantai Kura-Kura” dengan tanda panah ke kanan. Ambillah ke kanan.

Pertigaan. Belok Kanan untuk Sampai di Sungkun

Pertigaan. Belok Kanan untuk Sampai di Sungkun

Tak lama kemudian, pantai Sungkun dengan hallmark berupa pulau kecil berbentuk seperti kura-kura di tengah laut.

Voila! Sampai juga di Sungkun

Voila! Sampai juga di Sungkun

DSCN0450

Pulau Berbentuk Kura-Kura yang Merupakan Khas dari Pantai Sungkun

DSCN0408

DSCN0414

DSCN0410

Bukit Sebelah Utara

Bersama kura-kura raksasa

Pantai Sungkun cukup luas dengan di sebelah utara dan selatan terdapat tebing membentuk bukit. Jika mau, bukit tersebut dapat dinaiki. Jalut ke bukit utara cukup terjal namun memungkinkan untuk dilalui. Di atas bukit, kita akan bisa melihat pemandangan ombak yang menderu ke arah pasir pantai dari atas. Pulau kura-kura pun terlihat jelas.

Jalan terjal ke bukit sebelah utara

Jalan terjal ke bukit sebelah utara

Pemandangan dari atas bukit

Pemandangan dari atas bukit

Pemandangan dari atas bukit

Pemandangan dari atas bukit

Selfie in front of a giant turtle :)

Selfie in front of a giant turtle 🙂

Bukit sebelah selatan juga (sepertinya) memungkinkan untuk dinaiki, dan mungkin jalurnya lebih mudah. Untuk ke sana mesti berjalan cukup jau dari bukit selatan. Jika punya tenaga dan waktu cukup luang, puaskanlah rasa penasaran dengan menaikinya.

Sedikit catatan, jika ke pantai ini di hari libur, biasanya ada orang-orang nongkrong yang akan menghampiri wisatawan. Mereka akan memalak “uang kebersihan pantai” sebesar 20 ribu atau 30 ribu. Fenomena tersebut memang sangat menjengkelkan. Meski demikian, tetap kemegahan pantai Sungkun benar-benar menyenangkan untuk dinikmati, walau harus melewati panasnya matahari Lombok selatan dan perjalanan yang sangat jauh nan rusak.

Categories: catatan perjalanan, Foto | Tags: , , , , | 1 Comment

[FOTO] Terpercik Dinginnya Butir Air Terjun Sendang Gile dan Tiu Kelep, Lombok Utara

20150524_121553Wisata pantai merupakan keunggulan dari pulau Lombok. Pulau yang hanya berukuran 5.435 m2 ini memiliki pesona pesisir yang tak kalah indah dibanding pulau Dewata. Selain tempat-tempat yang sudah banyak dikenal, seperti pantai senggigi, kuta, dan tanjung ann, masih banyak pasir putih dan laut biru yang minim popularitas namun sungguh memukau.

Tapi keindahan Lombok tidak hanya itu. Ada satu objek yang begitu terkenal dan tak pernah sepi dari kunjungan turis lokal bahkan asing. Yap, dia adalah gunung Rinjani. Memang benar-benar suatu keunikan bahwa di pulau yang ukurannya tak seberapa ini tertancap gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia (setelah gunung Kerinci di Jambi). Berita mengenai keelokan sang gunung beserta kalderanya sudah tak asing lagi di telinga dunia. Gunung yang terletak di tengah-tengah pulau Lombok sebelah utara ini membuat atraksi Lombok tak semata didominasi oleh pantai. Di daerah pegunungan Rinjani, di sekitar pinggang sang gunung, mengalir deras bermacam-macam air terjun nan menakjubkan.

Jumlah air terjun di Lombok sangat banyak dan mayoritas berada di daerah utara. Jelajah seluruh air terjun di daerah utara bisa menjadi program perjalanan tersendiri. Namun, jika Anda berkunjung ke Lombok menggunakan biro travel, besar kemungkinan Anda akan diantar ke air terjun yang sangat populer—mungkin juga yang paling banyak dikunjungi—yaitu Sendang Gile dan Tiu Kelep.

Kedua air terjun ini berada di satu lokasi, dengan Tiu Kelep berada di atas Sendang Gile. Air yang terjatuh dari Tiu Kelep kemudian mengalir dalam sungai hingga terjatuh kembali sebagai Sendang Gile. Berposisi lebih rendah, Sendang Gile memiliki ketinggian kurang lebih 30 meter, sedangkan kakaknya, Tiu Kelep, menderu melewati tebing berketinggian kurang lebih 45 meter.

Konon, dahulu kala seorang pangeran berlari dari kejaran seekor singa gila dan ia bersembunyi di balik air terjun. Legenda tersebut pun menjadi asal-usul nama Sendang Gile. Sedangkan “Tiu” merupakan bahasa sasak (bahasa daerah Lombok) yang berarti “kolam” dan “Kelep” berarti “terbang”. Kolam terbang? Diberi nama demikian karena sang air terjun begitu perkasanya hingga menerbangkan buih-buih membasahi sekitarnya layaknya gerimis. Di tempat jatuhnya Tiu Kelep pun terdapat kolam yang tidak begitu dalam, seukuran pinggang, yang cukup aman apabila pengunjung hendak berenang.

Sedang Gile dan Tiu Kelep terletak di Desa Senaru, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Tengah. Senaru sendiri merupakan salah gerbang pendakian ke gunung Rinjani. Mengenai perjalanan ke Rinjani, saya menyarankan untuk berangkat tidak melalui desa ini melainkan melalui Sembalun (cerita perjalanan ke Rinjani bisa dilihat di sini). Dikenal sebagai desa wisata, Senaru memiliki banyak penginapan, tempat informasi bagi turis yang ingin naik RInjani, dan tempat makan.

Waktu yang dibutuhkan dari Mataram-Desa Senaru kurang lebih 2,5-3 jam. Untuk masuk Senaru, pengunjung akan dikenakan biaya karcis masuk sebesar 10 ribu. Gerbang menuju air terjun tidak jauh dari lokasi parkir kendaraan. Ketika turun, akan ada orang-orang yang menawarkan untuk menjadi guide. Sebenarnya jalur ke Sendang Gile dan Tiu Kelep tidaklah sulit dan jalan setapaknya sangat jelas sehingga tidak pakai pemandu pun tidak masalah. Pengunjung mesti membayar kembali karcis 10 ribu/orang untuk dapat masuk area air terjun.

20150524_105225

Tempat Pembelian Karcis Masuk

Tempat Pembelian Karcis Masuk

Air terjun yang pertama kali akan dijumpai adalah Sendang Gile. Untuk ke sana, pengunjung harus berjalan kaki kurang lebih selama 7 menit. Jalanan berupa turunan dengan dasarnya sudah diaspal.

Jalanan Turun

Jalanan Turun

Tepat sebelum tiba di Sendang Gile, pejalan akan menuruni tangga-tangga dan kemudian menjumpai pertigaan, dengan jalan turun ke bawah menuju Sendang Gile dan belok kanan ke arah Tiu Kelep. Turunlah terlebih dulu karena ketika berada di sana berarti Sendang Gile sudah di depan mata.

Pertigaan. Lurus untuk Ke Sendang Gile, Belok Kanan untuk Ke Tiu Kelep

Pertigaan. Lurus untuk Ke Sendang Gile, Belok Kanan untuk Ke Tiu Kelep

Sendang Gile memang tidak memiliki kolam, tapi sering terlihat orang-orang bermain-main di bawahnya. Pada hari libur, ada beberapa orang yang buka lapak jualan makanan. JIka terik matahari tak terhalang awan, mudah sekali untuk menemukan lengkungan pelangi. Bagian tengah dari air terjun ini pun tertutupi oleh dedaunan tumbuhan paku.

Air Terjun Sendang Gile

Air Terjun Sendang Gile

20150524_110425

20150524_110517

20150524_110550

20150524_110705

20150524_110933

Terlihat Lengkungan Pelangi

Terlihat Lengkungan Pelangi

Okay, saatnya melanjutkan perjalanan ke Tiu Kelep. Dibutuhkan 15 menit berjalan kaki untuk menujunya dari Sendang Gile. Untuk ke sana, berjalanlah naik tangga kembali untuk kemudian berbelok kiri di pertigaan.

Jika jalanan sebelumnya telah diaspal, jalur menuju Tiu Kelep dibiarkan murni tanah dan berkerikil. Tak perlu khawatir tersesat karena jalan setapak telah terbentuk dengan jelas.

Jembatan Penyeberangan Lembah

Jembatan Penyeberangan Lembah

Berjalan Menyusuri Kanal Air

Berjalan Menyusuri Kanal Air

Tak lama, pejalan akan menemui sungai yang cukup lebar. Ia berasal dari Tiu Kelep untuk mengalir ke arah Sendang Gile. Sungai harus diseberangi dan pengunjung tak perlu ragu karena arusnya tak terlalu deras dan pejalan masih dapat berdiri dengan mantap di sungai tersebut. Lepaslah alas kaki untuk menyeberanginya agar aman. Perhatikan juga ketika melepas dan menyimpan alas kaki agar tidak terjatuh dan hanyut. Sekali saja terbawa arus, alas kaki atau barang Anda akan terseret sungai begitu cepat menuju hilirnya, dan Anda pun hanya bisa mengucapkan selamat tinggal. Simpan juga barang-barang elektronik dengan aman. Tinggi sungai tidak mencapai lutut sehingga realtif aman menyimpannya di dalam saku.

20150524_113153

Bersiap Menyeberangi Sungai

Bersiap Menyeberangi Sungai

Menyeberangi Sungai

Menyeberangi Sungai

Setidaknya pengunjung mesti menyeberangi sungai sebanyak 2 kali. Sensasi menyeberangi sungai di tengah hutan membuat wisata air terjun ini terasa menyenangkan :).

Sungai Lagi

Sungai Lagi

Menyeberangi Sungai Lagi

Menyeberangi Sungai Lagi

Berjalan Bernuansakan Hutan

Berjalan Bernuansakan Hutan

Saat Tiu Kelep mulai terlihat, pengunjung dapat mulai merasakan percikan buih-buih air membentur badan. Seolah terbang, butir-butir yang dipancarkan Tiu Kelep dihembuskan angin membasahi sekitarnya. Karena itu, ketika mendatangi Tiu Kelep, bersiap-siaplah untuk basah dan bila perlu bawa pakaian ganti.

Akhirnya Sampai di Tiu Kelep

Akhirnya Sampai di Tiu Kelep

Tiu Kelep terjun ke dasar yang membentuk kolam. Jika mau, pengunjung dapat berendam dan berenang namun jangan terkejut dengan suhu airnya yang dingin. Terkadang area Tiu Kelep dapat tertutupi oleh kabut jika titik-titik air tersebut sedang melayang rendah. Kolam Tiu Kelep yang langsung mengalir membentuk sungai membuat tempat tersebut penuh dengan genangan air, sehingga jagalah sepatu dan barang-barang berharga Anda agar tidak kebasahan.

Air terjun Tiu Kelep terlihat bertingkat dengan air yang jatuh di bagian atas terjun bebas bagaikan melompat indah. Di bagian bawah, air merambat pelan seolah menelusuri dedaunan paku, membuatnya seperti tirai tipis nan lebar.

Pijakan kebanyakan berupa bebatuan berlumut yang licin sehingga penting untuk berhati-hati dalam melangkah agar tidak terpeleset. Hal lain yang perlu diingat adalah jagalah kebersihan dan kelestarian agar kegagahan Tiu Kelep dapat terus dinikmati hingga generasi mendatang.

20150524_120138

20150524_120443

Mengagumi Tiu Kelep

Mengagumi Tiu Kelep

Kolam Tiu Kelep

Kolam Tiu Kelep

Berkali-kali mengambil foto di sana seolah takkan ada puasnya, karena memang keindahan ciptaan Allah SWT takkan pernah berhenti membuat kita bergetar. Ahh, memang banyak sekali alasan bagi kita untuk bertasbih dan memujiNya, bukan? Salah satunya dari kesempurnaan dan keindahan air terjun ini yang tak hentinya memercikkan butir air sebagai tanda salamnya kepada para manusia.

 

Bonus: saat jalan pulang, Anda bisa mencoba berjalan melewati terowongan kanal air yang terletak di jembatan penyeberangan lembah. Air yang mengalir di kanal cukup deras, namun manusia masih bisa berdiri tegak di atasnya. Lepas alas kaki agar ia tidak terbawa hanyut. Senter atau penerangan dapat digunakan karena terowongan tersebut cukup gelap. Pada akhirnya ia akan berakhir di tempat sebelum pertigaan Sendang Gile dan Tiu Kelep.

Terowongan Air

Terowongan Air

20150524_124439

Tempat Tembus Terowongan Air, di Pertigaan Tiu Kelep-Sendang Gile

Tempat Tembus Terowongan Air, di Pertigaan Tiu Kelep-Sendang Gile

Categories: catatan perjalanan, Foto | Tags: , , , , , | Leave a comment

[FOTO] Menyelami Keindahan Terumbu Karang nan Perawan di Gili Lampu, Lombok Timur

(UPDATE!!! Foto bawah air sudah sy tampilkan di laman. Gambar diambil tanggal 4/9/2015)

 

Pulau Lombok sudah banyak dikenal sebagai daerah wisata. Sebut saja Gili Trawangan, salah satu destinasi wisata yang sangat diincar oleh turis lokal hingga asing. Banyak wahana yang mampu memanjakan di sana, di antaranya ialah snorkeling. Kegiatan ini memang cukup banyak memiliki penggemar dan Lombok yang terkenal akan wisata pantainya tentu menjadi salah satu destinasi snorkeling.

Hanya saja, jika boleh berpendapat, Gili Trawangan bukanlah tempat terbaik untuk menikmati keindahan terumbu karang. Mungkin beberapa tahun lalu—waktu pulau mini tersebut masih sepi pengunjung—beragam warna-warni yang indah masih dapat dilihat. Namun, suasana Gili Trawangan yang tak pernah sepi dari pengunjung ditambah pembangunan sana sini membuat pesona terumbu karangnya berkurang. Jika ingin menikmati keindahan flora dan fauna bawah laut, ada satu tempat yang sangat direkomendasikan di Lombok. Ia adalah “Gili Lampu”.

Lombok sebenarnya masih memiliki banyak tempat yang sangat bagus untuk dikunjungi namun masih sepi pengunjung. Gili Lampu yang berada di Lombok Timur adalah salah satunya. Area timur memang belumlah sepopuler Senggigi di barat dan Gili Trawangan di utara. Ini adalah keuntungan tersendiri karena karang-karang yang ada di Gili Lampu belum  banyak terjamah.

Gili Lampu terletak di Desa Padak Guar, Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur. Awalnya ia merupakan tempat transmigrasi pensiunan tentara angkatan darat, sehingga daerah tersebut disebut “Transad”. Meskipun namanya “gili” (gili berasal dari bahasa sasak yang berarti “pulau”), tapi Gili Lampu bukanlah pulau melainkan sebuah pelabuhan kecil. Kapal-kapal nelayan berbaris di bibirnya, digunakan untuk memancing atau mengantar tamu untuk snorkeling. Selain kegiatan favorit tersebut, Gili Lampu juga menawarkan wahana-wahana lain, namun tetap wahana utama dan yang paling populer ialah wisata bawah laut.

Lama perjalanan dari Mataram – Gili Lampu kurang lebih 2-3 jam. Lombok jarang ada kendaraan umum sehingga untuk mencapainya memang harus menggunakan kendaraan pribadi. Karcis parkir di sana seharga 2.500. Pengunjung akan diberi pilihan lokasi snorkeling. Titik-titik snorkeling di sana ada Petagan, Gili Bidara, dan Gili Kondo. Jika hanya ke Gili Kondo, biaya sewa kapal sebesar 250 ribu. Kalau ingin paket lengkap—snorkeling di Petagan, Gili Bidara, GIli Kondo, dan bonus ke Gili Pasir/Gili Kapal—biayanya sebesar 450 ribu. Harga tersebut belum termasuk sewa alat snorkel dan life vest, yaitu 25 ribu/unit. Sangat direkomendasikan untuk mengambil paket lengkap karena tiap titik menawarkan keindahan yang berbeda. Oh ya, dengan harga segitu pengunjung dapat menyewa kapal sepuasnya tanpa batas waktu.

Selamat Datang di Gili Lampu

Selamat Datang di Gili Lampu

Wahana-Wahana di Gili Lampu

Wahana-Wahana di Gili Lampu

Dermaga Gili Lampu

Dermaga Gili Lampu

Pasir Pantai Gili Lampu

Pasir Pantai Gili Lampu

Pasir Pantai Gili Lampu

Pasir Pantai Gili Lampu

Naik Kapal

Naik Kapal

Meluncur Gan

Meluncur Gan

Jarak dari pelabuhan ke tempat snorkeling lumayan jauh. Pertama-tama kapal akan dilajukan melewati hutan mangrove di tengah laut. Tumbuhan berbentuk seperti semak-semak menyembul dari permukaan laut, berderet layaknya berbaris rapi membentuk hutan. Di bawahnya, tenggelam dalam laut yang tidak begitu dalam, tampak rerumputan tegak beridiri. Pengemudi mengarahkan kapal melewati mangrove yang berjajar di kanan dan kiri, seolah sedang menyusuri laut di pinggir hutan hujan tropis :).

Hutang Mangrove di Tengah Laut

Hutang Mangrove di Tengah Laut

Di Bawah Laut Terlihat Rerumputan Tegak

Di Bawah Laut Terlihat Rerumputan Tegak

Berlayar Sembari Disaksikan Pohon-Pohon Mangrove di Kanan Kiri

Berlayar Sembari Disaksikan Pohon-Pohon Mangrove di Kanan Kiri

Jika beruntung, pengunjung dapat dibuat terkesima melihat ikan-ikan kecil melompat-lompat seolah mengepakkan sayap. Sayang kala itu saya tidak sempat mempotretnya.

Titik yang pertama kami kunjungi ialah Gili Kapal. Ia sebenarnya berupa Gosong Pasir, daratan pasir mini yang muncul ke permukaan laut terutama saat terjadi surut. Saat itu kami beruntung karena gosong tersebut tengah menunjukkan wajahnya.

Gili Kapal

Gili Kapal

Daratan Gili Kapal

Daratan Gili Kapal

Pasir dan Batu Karang di Gili Kapal

Pasir dan Batu Karang di Gili Kapal

Selamat Datang di Gili Kapal

Selamat Datang di Gili Kapal

Tak lama, kapal pun menuju lokasi snorkeling pertama, suatu tempat di tengah laut yang disebut “Petagan”. Kelebihan snorkeling di Gili Lampu ialah kekayaan terumbu karangnya akan warna dan masih jernih dari perusakan manusia. Kita benar-benar bisa memuaskan mata meresapi keindahan ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Terumbu Karang, Terlihati dari Atas Laut, di Petagan

Terumbu Karang, Terlihati dari Atas Laut, di Petagan

P1030454

P1030455

Mulai Snorkeling

Mulai Snorkeling

Bersiap :)

Bersiap 🙂

DSCN0555

DSCN0559

DSCN0568

Ada ikan

DSCN0614

DSCN0560

Lokasi selanjutnya ialah Gili Bidara. Sesuai namanya, ia merupakan pulau kecil di seberang Pulau Lombok. Dekat pesisirnya berbaris terumbu karang-terumbu karang yang memukau. Di antara semua lokasi snorkeling di Gili Lampu, Gili Bidara merupakan tempat dengan terumbu karang terindah! Hanya saja perlu kewaspadaan untuk snorkeling di sini. Tempat snorkeling berada di perairan dangkal sehingga mudah bagi pengunjung untuk berdiri, dengan di dasarnya banyak terdapat bulu babi. Duri tegar kehitaman layaknya tombak muram siap menusuk kaki-kaki tanpa perlindungan. Karena itu, penting untuk berhati-hati memilih tempat untuk berdiri atau gunakan sepatu katak (di Gili Lampu juga ada penyewaan sepatu katak, disewakan terpisah dari alat snorkel). Jika tertusuk bulu babi, hancurkan si duri di kaki dengan memukul-mukulnya menggunakan batu hingga hancur, lalu gunakan peniti untuk mengeluarkannya.

Setelah snorkeling, pengunjung bisa meminta untuk dibawa ke Gili Bidara. Menurut info dari guide yang mengantar kami, Gili Bidara, meskpun berukuran mini, ditempati oleh beberapa nelayan. Terdapat beberapa bangunan rumah di dekat pinggiran pulau. Tanah di atasnya pun digarap oleh penduduk menjadi ladang (saya sempat menanyakan apa yang ditanam di sana, tapi sayangnya si ingatan gampang sekali untuk menghilang ^^”). Memang tidak ada apa-apa di sana, tapi lumayan untuk ambil foto.

Menuju Gili Bidara

Menuju Gili Bidara

Terlihat Beberapa Bangunan Rumah di Gili Bidara

Terlihat Beberapa Bangunan Rumah di Gili Bidara

Menuju Gili Bidara

Menuju Gili Bidara

Selamat Datang di Gili Bidara

Selamat Datang di Gili Bidara

Bibir Gili Bidara

Bibir Gili Bidara

Bibir Gili Bidara

Bibir Gili Bidara

Daratan Gili Bidara

Daratan Gili Bidara

Tanah Digarap di Gili Bidara

Tanah Digarap di Gili Bidara

bidara0631

bidara0644

bidara0646

bidara0649

bidara0681

bidara0697

bidara0722

Gili Kondo merupakan tempat terakhir untuk dikunjungi. Seperti Gili Bidara, ia adalah pulau kecil yang tidak dibuat pembangunan seperti Gili Trawangan, namun ukurannya sedikit lebih besar dan ada saung-saung untuk berteduh. Titik snorkeling Gili Kondo berada tepat di pinggir pesisir. Bisa dibilang warna terumbu karang di sana lebih beragam, hanya saja tidak seluas dan sekaya Gili Bidara.

Terlihat Gili Kondo

Terlihat Gili Kondo

Selamat Datang di Gili Kondo

Selamat Datang di Gili Kondo

P1030520

Katanya Batang Kayu Ini Adalah Trademark dari Gili Kondo

Katanya Batang Kayu Ini Adalah Trademark dari Gili Kondo

P1030530

Tepian Gili Kondo

Tepian Gili Kondo

Asik Nih Kayaknya Kalau Ngecamp di Sini :)

Asik Nih Kayaknya Kalau Ngecamp di Sini 🙂

Lokasi Snorkeling Ada Di Pinggir Sini

Lokasi Snorkeling Ada Di Pinggir Sini

kondo0742

kondo0753

kondo0819

kondo0757

kondo0811

Intinya, Gili Lampu, khususnya Gili Bidara, adalah tempat terbaik untuk snorkeling di Pulau Lombok—menurut saya ya, heheh—jauh jika dibandingkan Gili Trawangan. Sayang sekali jika bermain-main ke Lombok namun tidak menyapa terumbu karang di sana yang begitu jernih.

Jika Anda berkunjung ke Gili Lampu, ingatlah bahwa alam bumi bukan hanya milik generasi saat ini. Tentu sayang sekali jika keturunan kita di tahun-tahun berikutnya tidak bisa menikmati keindahannya. Peliharalah kebersihan dan kelestarian pesona terumbu karang di dalamnya. Adalah tanggung jawab kita bersama untuk menjaga segala keindahan yang masih tersisa di bumi ini :).

Categories: catatan perjalanan, Foto | Tags: , , , , , , | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: