Cerita PTT di Teluk Bintuni, Papua Barat (1): Kota yang Panas

Bekerja sebagai tenaga PTT alias Pegawai Tidak Tetap masih menjadi favorit terutama bagi dokter yang baru lulus atau selesai internsip. Walaupun PTT Pusat sudah dihapuskan oleh pemerintah dan digantikan dengan Nusantara Sehat (NS)—yang mengirimkan dokter beserta tenaga kesehatan lainnya (perawat, bidan, apoteker, dll) untuk bekerja secara tim ke puskesmas di daerah terpencil—masih banyak daerah-daerah terpencil di nusantara yang membutuhkan dokter-dokter tenaga kontrak. Dokter yang sedang PTT daerah sekarang lebih tepat disebut sebagai tenaga kontrak yang diberdayakan oleh suatu daerah. Karena ia berbasis daerah, kebutuhannya pun tergantung masing-masing daerah, apakah mereka sedang membutuhkan dokter atau tidak. Lama kontraknya juga tergantung kebijakan tiap daerah masing-masing, yang biasanya di daerah kategori terpencil mau mengkontrak dokter hanya selama 1 tahun dan daerah kota menuntut dokter untuk kontrak minimal 3 tahun.

Alasan mau bekerja di daerah terpencil tentu macam-macam. Ada yang memang ingin mengabdikan ilmunya ke daerah, tidak sedikit pula yang mengincar Surat Masa Bakti (SMB) dan Surat Rekomendasi Sekolah Spesialis dari institusi daerah. Dengan kombinasi dua alasan tersebut—mengabdikan ilmu dan menginginkan surat sakti—saya pribadi memutuskan untuk sejenak mencari pengalaman ke daerah.

Mencari informasi lowongan kerja PTT daerah harus lah melalui mereka yang pernah bekerja di sana, atau jika beruntung mendapat broadcast di grup messenger. Saya sendiri mendapat informasi lowongan di Bintuni melalui senior yang baru saja pulang dari sana. Berutung, di akhir tahun 2015, RSU Bintuni masih membutuhkan tenagan dokter umum satu lagi.

Menuju Kabupaten Teluk Bintuni bisa melalui dua jalur, yaitu naik pesawat ke Kota Sorong lalu lanjut dengan pesawat kecil Susi Air menuju Bintuni, atau terbang ke Manokwari yang kemudian dilanjutkan melalui jalur udara atau darat.. Saya sendiri lebih suka opsi yang terakhir, yaitu terbang ke ibukota Propinsi Papua Barat lalu lanjut dengan jalur darat ke Bintuni.

Jadwal pesawat ke Papua tidaklah menyenangkan; seluruh pesawat yang terbang ke daerah timur berangkat di waktu dini hari dari Makassar. Jika menggunakan pesawat yang transit dulu di Makassar, penumpang harus menunggu dulu di bandara Sultan Hasanuddin selama 2-3 jam di waktu tengah malam. Di perjalanan pertama ke Bintuni, saya sampai di Makassar jam 12 malam dan menunggu hingga jam 3 pagi untuk melanjutkan perjalanan, dan akhirnya mendarat di Manokwari jam 7 pagi.

Setelah tiba di Bandara Rendani, tugas selanjutnya adalah mencari mobil Toyota Hilux yang memiliki dua gardan. Ya, jika mengintip keluar jendela pesawat saat di atas tanah Papua, kita bisa melihat hampir seluruh pulau masih ditutupi hutan, kontras dengan pulau Jawa yang sudah banyak kota, perkampungan, dan sawah. Pembangunan di Papua masihlah sangat minim; jalur darat antarkota di Papua masih jarang dan jika ada pun kondisinya memprihatinkan. Perjalanan darat ke Bintuni dari Manokwari hanya bisa ditempuh melalui mobil dengan dual gearbox dan berban besar seperti Toyota Hilux, Mitsubishi Strada, dan Toyota Land Cruiser.

Bandar Udara Rendani, Manokwari

Bandar Udara Rendani, Manokwari

Mencari kendaraan ke Bintuni sebenarnya tidaklah sulit karena mobil Hilux yang melayani perjalanan Manokwari-Bintuni jumlahnya ada banyak dan sudah menjadi transportasi umum masyarakat. Untuk mendapatkannya, kita dapat naik ojek dahulu di luar bandara (mengenal tukang ojek di Manokwari gampang karena mereka semua mengenakan helm kuning) menuju pasar Wosi. Kalau membawa koper besar, bisa sewa taksi Avanza seharga 100 ribu, menemukannya pun mudah karena begitu keluar dari bandara, berbondong-bondong orang-orang menawarkan taksi. Begitu sampai di pasar, ada banyak Hilux berjejer dan orang menawarkan transportasi ke Bintuni. Mobil Hilux yang merupakan kendaraan pickup mampu memuat hingga 5 orang termasuk supir, dan tarif perjalanan ke Bintuni sebesar 500 ribu per orang. Bisa juga mobil tersebut dicarter sendiri dengan biaya 2 juta.

Perjalanan dari Manokwari ke Bintuni ditempuh selama 7-8 jam; jika cuaca jelek dan jalanan berlumpur, waktu tempuh bisa lebih lama. Pada saat perjalanan pertama ke Bintuni, saya tertidur pulas akibat tidak bisa tidur sama sekali di pesawat, sehingga melewatkan pemandangan sepanjang perjalanan. Di perjalanan-perjalanan berikutnya barulah saya bisa melihat-lihat apa yang ada di antara Manokwari-Bintuni.

Kondisi jalan dari Manokwari menuju Ransiki, kecamatan utama Kabupaten Manokwari Selatan, beraspal baik. Di beberapa titik bisa terlihat samudera pasifik di sebelah kiri. Biasanya sang supir akan istirahat untuk makan di Oransbari atau Ransiki, dua kecamatan besar di Manokwari Selatan yang banyak dihuni transmigran, sekitar 3-4 jam dari Manokwari. Kalau pernah mendengar isu bahwa harga-harga di Papua lebih mahal, isu itu memang benar; sekali makan di warung singgah itu kena 30 ribu dengan menu nasi dan ayam goreng, jika menunya ikan maka bisa ditarik 50 ribu.

Setelah Ransiki, kendaraan akan mulai menaiki bukit dengan tebing batu yang telah dikeruk, yang orang-orang di sana menyebutnya Gunung Botak. Kadang-kadang, kalau penumpang lainnya setuju, kita bisa minta supir untuk berhenti sebentar di Gunung Botak untuk mengambil foto. Pemandangan laut disertai bukit-bukit yang membentang membuat lokasi itu cukup berharga untuk memenuhi koleksi foto di kamera.

Begitu masuk gunung botak, jalanan mulai rusak, dan tak lama kemudian masuk ke jalanan penuh lumpur yang dikenal dengan Pintu Batu. Jika cuaca sedang kering, mobil tidak akan menemui masalah melewatinya, namun jika sedang hujan, apalagi hujan deras, tidak jarang Hilux pun nyungsep. Truk-truk pengangkut barang dapat terlihat parkir di pinggir jalan; para krunya memutuskan menginap di sana sambil menunggu jalanan kembali kering. Pernah sekali mobil yang saya tumpangi harus ditarik oleh Hilux lain karena tidak bisa melewati genangan lumpur. Keadaan seperti ini lah yang bisa membuat perjalanan menjadi begitu lama.

Toyota Hilux, Kendaraan Primadona Papua

Toyota Hilux, Kendaraan Primadona Papua

Kondisi Jalanan yang Berlumpur dan Licin antara Manokwari-Bintuni

Kondisi Jalanan yang Berlumpur dan Licin antara Manokwari-Bintuni

Pemandangan Gunung Botak via http://www.kompasiana.com/eddypp86

Pemandangan Gunung Botak via http://www.kompasiana.com/eddypp86

Sisa perjalanan ialah melewati hutan yang di beberapa titik ada perkampungan kecil. Melihat kondisi perkampungan yang sepertinya hanya mendapat akses listrik di malam hari dan air bersih yang terbatas membuat saya bersyukur sekaligus prihatin. Kondisi kesehatan penduduknya pasti lah sangat rendah, apalagi Manokwari Selatan adalah kabupaten baru yang belum memiliki rumah sakit. Di balik itu semua, mungkin masih ada masyarakat yang masih tinggal di hutan dan memiliki akses ke fasilitas kesehatan adalah hal yang mewah.

Panas

Itu adalah kesan pertama saya ketika pertama kali menginjakkan kaki di Bintuni. Cukup berdiri saja di tempat terbuka, tanpa berjalan atau ­ngapa-ngapain, langsung rasa lelah mengalir ke seluruh badan seolah habis naik gunung. Pokoknya panas banget lah; panasnya Jakarta ga ada apa-apanya dibanding Bintuni.

Kabupaten Teluk Bintuni merupakan kota pesisir hasil pemekaran dari Kota Manokwati di tahun 2004. Sebagai kabupaten yang baru, pembangunannya masih belum banyak. Kota ini hanya memiliki satu jalan lurus yang membentang dari satu ujung yaitu Kantor Bupati di area transmigran sampai ke arah perbukitan yang entah berujung di mana. Pusat keramaian, atau orang-orang di sana menyebutnya “kota”, ada di daerah dekat dengan pelabuhan atau Km 0, sedangkan  rumah sakit berada di Km 7, ke arah daerah atas atau perbukitan. Karena letaknya, jika pergi ke kota orang-orang akan menyebutnya “ke bawah” sedangkan ke arah rumah sakit mereka menyebutnya “ke atas”. Teluk Bintuni juga menaungi distrik-distrik yang ada di seberang lautan, yang untuk ke sana hanya bisa ditempuh dengan kapal atau longboat.

Dokter PTT tidak perlu khawatir mengenai masalah tempat tinggal karena disediakan mess oleh Dinas Kesehatan yang terletak di Km 5. Karena milik Dinas Kesehatan, sebenarnya mess tersebut diperuntukkan untuk dokter-dokter puskesmas, sedangkan dokter-dokter rumah sakit statusnya menumpang. Namun, karena puskesmas lokasinya jauh-jauh sehingga dokternya pun harus tinggal di puskesmas, mess sehari-hari lebih banyak digunakan oleh dokter rumah sakit. Sekali-sekali dokter puskesmas “pulang” ke Bintuni untuk membuat laporan, pelatihan, atau sekedar melepas kejenuhan, tapi setelah seminggu mereka kembali ke distrik. Jadi, yah, fasilitas mess seperti dapur dan TV serasa dimiliki oleh dokter rumah sakit. Sayangnya, Km 5 merupakah daerah yang belum ter-cover sinyal 3G alias masih 2G (sinyal yang ada di Teluk Bintuni hanyalah dari provider Telkomsel). Daerah yang penduduknya bisa internet-an dengan baik adalah di dekat Puskesmas hingga masjid besar, di Km 1 dan 0.

Mess Dokter, Belakang Dinas Kesehatan

Mess Dokter, Belakang Dinas Kesehatan

Tidak sulit mencari makanan di Bintuni; “kota” merupakan tempat yang paling banyak warung makan. Para tukang jualannya kebanyakan ialah orang Jawa yang menjual lalapan ayam goreng, ikan goreng, tempe/tahu penyet, dan nasi goreng. Ada juga warung milik orang Bugis dengan menu coto dan konro. Harganya? Yup, sama seperti di tempat singgah tadi, yaitu 30 ribu/porsi. Tapi tidak perlu khawatir soal pengeluaran untuk makan karena selain besaran gaji dokter umum yang cukup untuk meng-cover biaya hidup di Papua, RS juga menyediakan nasi kotak bagi dokter yang bertugas. Kadang-kadang penghuni mess memasak sendiri kalau sudah bosan dengan makanan di luar yang itu-itu saja.

Makanan khas Papua adalah sagu yang direbus kemudian didinginkan, yang disebut dengan “papeda”. Makanan tersebut berkonsistensi kenyal seperti lem kanji, biasanya dimakan dengan ikan kuah kuning. Walau merupakan makanan khas, papeda ikan kuah kuning jarang dijual di warung dan biasanya merupakan makanan yang disajikan jika ada acara hajatan, itu pun tidak sering. Kebanyakan tempat makan di Bintuni menjual makanan seperti yang disebutkan tadi, nasi lalapan khas orang Jawa.

Papeda

Papeda

Papeda Dimakan Bersama Ikan Kuah Kuning

Papeda Dimakan Bersama Ikan Kuah Kuning

Selain makanannya yang kurang variatif, di Bintuni juga tidak ada hiburan sama sekali. Jika mengetik kata “Teluk Bintuni” di Google Maps, terlihat titik biru di tepi “mulut atas” pulau Papua yang berdekatan dengan laut. Wah, dekat laut! Tapi jangan terkecoh, jika di-zoom, bisa dilihat daratan-daratan dekat laut itu dibelah-belah sungai. Yap, di Bintuni tidak ada pantai dan tidak ada laut, yang ada hanyalah sungai. Pelabuhan di Bintuni pun berukuran kecil karena merupakan pelabuhan sungai. Tidak ada juga lokasi-lokasi menarik lain untuk dilihat. Jadi, yah, satu tahun terasa sangat lambat di Bintuni karena rasa jenuh.

Setelah beberapa minggu tinggal di sana, saya pun mulai mengenal dan memahami karakter orang Papua. Hal pertama yang saya notice adalah orang Papua tidak suka bersawah dan beternak. Pola pikir hidup yang sederhana membuat mereka lebih senang berburu rusa di hutan, membuat daging rusa lebih mudah ditemukan di pasar dan warung daripada daging sapi. Selain berburu, masyarakat di sana juga banyak berkebun pisang sehingga harga pisang di sana murah-murah. Masyarakat asli sana juga tampaknya tidak memiliki passion untuk berdagang atau berwira usaha, terlihat dari para pemilik warung dan toko yang hampir semuanya adalah pendatang. Keadaan seperti itulah yang membuat pendatang—kebanyakan dari Jawa dan Sulawesi—berperang penting dalam roda perekonomian di Bintuni.

Tentu saja kualitas pendidikan sangat jauh jika dibandingkan dengan di Jawa. Tampaknya kesadaran untuk sekolah pun masih belum tinggi; saya pernah mendengar cerita dari pengurus sebuah sekolah Islam di daerah transmigran bahwa tidak jarang orang tua siswa sendiri lah yang menarik anaknya dari sekolah. Kualitas pendidikan yang rendah tentu berimbas pada kualitas kesehatan. Penyakit yang paling banyak ditemukan di sana tidak lah mengejutkan, yaitu penyakit menular seksual dan tuberculosis (TB), dua penyakit yang banyak ditemukan di daerah yang higienitasnya kurang dan pendidikannya rendah.

Meskipun begitu, saya bersyukur memiliki pengalaman tinggal di Papua dan berinteraksi dengan orang-orangnya, walau hanya satu tahun. Dengan melihat daerah di nusantara hingga ke paling ujungnya, kita bisa lebih mengenal negara ini. Papua sudah bergabung dengan Indonesia sejak tahun 1969 namun masih banyak celah perbaikan yang perlu diisi. Siapakah yang perlu mengisinya? Tentu jari kita tidak harus melulu diarahkan ke pemerintah, tapi bisa dikembalikan ke diri sendiri dengan mengabdikan ilmu yang dimiliki di daerah yang masih membutuhkan.

Cerita pengalaman saya bekerja di RSU Bintuni bisa dibaca di sini.

Advertisements
Categories: catatan perjalanan, kesehatan | Tags: , , , , , | 3 Comments

Post navigation

3 thoughts on “Cerita PTT di Teluk Bintuni, Papua Barat (1): Kota yang Panas

  1. Bintuni, ingat kota itu jadi kangen mas. Kemarin saya ke Bintuni, naik Kapal Laut….. dari Sorong mas, jadi gak cuma lewat udara dan darat saja.

    Like

  2. Listrik mati 12 jam pun semakin membuat panas Bintuni

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: