“Dokter Itu Lulusan Mana Sih!?”

Capture

Ada seorang lelaki, berusia sekitar 40 tahun, datang ke UGD sebuah rumah sakit. Ia terbaring lemas di atas blangkar, menunggu diperiksa. Dokter umum yang bertugas pun mendatanginya dengan mata sedikit mengantuk. Maklum, jam sudah menunjukkan lewat tengah malam.

“Dok, perut saya kok rasanya ga enak, ya?”

“Di mana?” tanya dokter.

“Di sini,” jawab bapak itu sambil meletakkan tangan di atas perutnya.

Sang dokter menekan bagian ulu hati, lalu bapak itu kesakitan. Tak lama, perawat diinstruksikan untuk memaksukan obat-obatan injeksi. Sekitar setengah jam kemudian, pasien merasa sedikit enakan. Obat minum diresepkan dan kemudian bapak itu dipulangkan.

Saat matahari mulai meninggi di langit, sang bapak datang lagi ke UGD. Hanya saja saat itu kondisinya memburuk. Dokter dinas pagi langsung memeriksanya. Saat ditanya, keluhannya sama, yaitu nyeri di ulu hatinya. Tapi, bapak itu terlihat sangat tersiksa.

Singkat cerita, pasien itu didiagnosis mengalami serangan jantung setelah dilakukan pemeriksaan rekam jantung. Sang dokter jaga pun bertanya kepada istri pasien.

“Sakitnya sudah berapa lama?”

“Dari tengah malam dok. Tadi sekitar jam 2 pagi kami sudah ke UGD,” jawab sang istri.

“Loh, tadi malam sudah ke sini? Terus, dilakukan apa sama dokternya?”

“Cuma dikasih obat penghilang nyeri saja dok. Setelah nyerinya agak berkurang, oleh dokter jaganya dibolehkan pulang.” jelas istri pasien.

“Wah, kalau bapak punya sakit di ulu hati harus waspada bu. Bapak kan punya riwayat darah tinggi. Sakit jantung kadang nyerinya tidak di dada, tapi bisa juga ulu hati. Kalau tidak segera diobati bisa berbahaya,” jelas dokter.

“Oh, begitu ya dok? Waduh, untung kami segera kembali ke sini ya dok. Soalnya kata dokter semalam ini cuma sakit asam lambung biasa.”

“Iya bu,” kata dokter sembari tersenyum. “Seharusnya semalam diperiksa rekam jantung. Kenapa bisa tidak diperiksa ya? Saya tidak tahu itu dokter semalam lulusan mana.”

***

Kalimat itu sepertinya bukanlah hal asing bagi yang bekerja sebagai klinisi. Ketidaktepatan diagnosis dan pengobatan bukan hal yang jarang terjadi, dengan berbagai faktor penyebabnya. Bisa terjadi karena tanda-tanda dan keluhan pasien yang tidak khas, minimnya alat pemeriksaan penunjang, tenaga kesehatan yang terlalu capek sehingga turun konsentrasinya, atau bahkan karena faktor ilmu dan pengetahuan yang kurang.

Ilmu yang dimiliki setiap dokter berbeda-beda. Dokter spesialis sudah pasti memiliki ilmu dan skill yang lebih dibanding dokter umum. Pengetahuan tiap dokter umum pun juga bisa berbeda. Ilmu kedokteran identik dengan pengalaman klinis, sehingga dokter umum yang telah bekerja di rumah sakit selama bertahun-tahun pasti lebih luas wawasannya ketimbang yang baru internsip. Apalagi kalau dokter umum itu sudah mengikuti berbagai macam pelatihan, tentu memiliki nilai lebih.

Harus kita pahami bahwa seorang dokter yang berpraktek berarti ia telah dianggap kompeten. Seluruh pengetahuan dan keterampilan yang minimal dimiliki oleh dokter telah dikuasainya. Apakah ia tepat dalam mendiagnosis dan merawat seorang pasien, tentu dipengaruhi oleh beberapa hal. Tapi, hal tersebut tidak serta merta menafikan kompetensinya sebagai seorang dokter.

Bertanya seorang dokter lulusan dari kampus mana tidaklah relevan. Ketika seorang sudah berjas putih, tersematkan gelar dokter atau spesialis di papan namanya, orang-orang sudah tidak peduli latar belakangnya. Apakah ia lulusan dari universitas di barat, atau timur, yang masyarakat inginkan hanyalah bagaimana agar mendapat pelayanan yang baik. Kualitas kerja dan pengetahuan seseorang juga rasanya tidak etis jika dikaitkan dengan institusi asalnya. Yang menentukan kinerja ialah orang itu sendiri, bukan tempat ia mengenyam pendidikan. Apalagi ketika sang dokter sudah lulus; semua keputusan dan tindakan yang ia buat sudahlah bukan lagi tanggung jawab universitas.

Manusia memang tempatnya penyakit hati, dan mungkin kita akan merasa bangga apabila berhasil menemukan diagnosis yang tepat atas suatu penyakit yang sebelumnya telah diobati namun tak kunjung membaik. Demi menunjukkan kepintaran di hadapan pasien, dengan santainya disampaikan bahwa pengobatan yang diberikan oleh dokter sebelumnya adalah ngaco. Hal itu diungkapkan sekedar untuk melampiaskan rasa bangga, atau mungkin supaya pasien itu kembali ke kita lagi karena dianggap cerdas. Tapi, tidak sadarkah bahwa pernyataan merendahkan sejawat secara terang-terangan semacam itu justru akan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap dokter?

Saat ini kredibilitas dokter tengah terjatuh ke lembah yang amat curam. Maraknya pemberitaan negatif dari media, seperti anggapan bahwa dokter itu sering menolak pasien BPJS, sudah amat banyak memengaruhi masyarakat kita. Para (oknum) pengacara juga tidak akan lelahnya mencari klien untuk ia dorong supaya mau menuntut dokter ke pengadilan; apalagi tujuannya kalau bukan uang? Terakhir, kasus pemukulan dokter di suatu rumah sakit akibat hebohnya pemberitaan vaksin palsu semakin menyudutkan posisi dokter Indonesia. Akankah kelak seluruh warga Indonesia lebih senang berobat ke dokter asing?

Demi kemaslahatan, pasien yang merasa tidak mendapat pengobatan yang tepat dari dokter sebelumnya mesti ditenangkan oleh dokter yang tengah menanganinya. Perlu dipahamkan bahwa dokter sebelumnya tidaklah bertujuan mencelakakan, dan yang terpenting adalah ia sudah ditangani dengan benar. Apa yang akan terjadi jika si dokter itu malah ikut memanas-manasi? Beruntung jika pasien tidak cukup punya banyak waktu untuk menyewa pengacara, tapi jangan remehkan kekuatan “mulut ke mulut”. Yang jatuh martabatnya bukan hanya dokter yang disebut, tapi dokter secara keseluruhan. Kalau berobat ke dokter pun bisa mendapat penanganan yang salah, kenapa tidak ke dukun saja?

Dokter yang mendengar bahwa ia direndahkan oleh sejawatnya akan memiliki 2 respon: menyerang balik atau, ini yang lebih berbahaya, berkecil hati. Jika sudah berkecil hati, tidak mustahil untuk gantung stetoskop. Padahal, kesalahan yang dilakukan mungkin tidak seberapa dibandingkan dengan manfaat yang telah diberikan.

Haruskah pendidikan selama 6 tahun yang begitu melelahkan harus sia-sia begitu saja karena perkataan menyakitkan dari rekan seprofesinya? Setiap orang bisa berbuat salah, dan sebaik-baik yang berbuat salah ialah yang belajar untuk memperbaikinya. Sebaliknya, seburuk-buruk yang berbuat salah ialah yang berputus asa.

Kita harus belajar lebih mendalam lagi tentang sikap respek. Kesalahan penanganan yang ditambah hinaan tidak akan menyelesaikan masalah, tidak akan membuat kondisi pasien membaik. Jauh lebih baik memberikan masukan langsung kepada dokter yang melakukan kesalahan tersebut, daripada mengumbar-umbarnya di depan pasien atau perawat.

Ini juga menjadi pemicu bagi setiap dokter untuk terus belajar. Walau terus menggali ke dasar bumi sekalipun, pengetahuan tentang kesehatan manusia tidak akan ada habisnya. Bukankah Tuhan tidak memberikan manusia ilmu melainkan hanya sedikit? Menuntut ilmu mungkin tidaklah melulu menggelontorkan segepok uang untuk ikut seminar atau simposium. Buku-buku bacaan ketika kuliah yang tersimpan rapih di lemari, selama tidak terlalu jadul, sebagian besarnya masih relevan. Terlebih di masa sekarang, teknologi amat memanjakan kita untuk mengakses pembelajaran ke berbagai sumber, selama memiliki keinginan.

Agaknya mari diingat kembali dengan apa yang telah diucapkan ketika akan menjalani profesi ini. Semua dokter telah mengucapkan sumpahnya, bahwa “…Saya akan memperlakukan teman sejawat saya sebagaimana saya sendiri ingin diperlakukan.” Bukankah tidak pernah ada orang yang ingin direndahkan oleh orang lain, terlebih oleh teman seprofesi? Komunikasi yang baik dan rasa saling menghormati akan menjaga nama baik profesi ini di hadapan masyarakat, sebagaimana juga yang telah diucapkan dahulu, “…Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur kedokteran.”

Advertisements
Categories: kesehatan, merenung | Tags: , | 5 Comments

Post navigation

5 thoughts on ““Dokter Itu Lulusan Mana Sih!?”

  1. Jimmy Octavia

    Orang yang sudah ganteng ga perlu menjelekkan orang jelek… Cuma orang jelek saja yang perlu menjelekkan supaya terlihat ganteng… 😁

    Like

  2. IIM RAKIMAN S.

    Setahu saya(sebagai seorang Muslim), mengungkapkan kekurangan(kejelekan) orang lain disebut “ghibah”. Hukumnya haram berdasarkan kata sepakat ulama. Ghibah termasuk dosa besar. Bila yang diungkapkan itu tidak benar, disebut “fitnah”.

    Like

  3. Setuju banget sama postingannya dok, sebagai sejawat justru seharusnya saling melindungi…

    Like

  4. Ohya, salam kenal ya dok 🙂

    Like

  5. Tapi mengingatkan kesalahan sejawat rasanya juga penting. tentu dengan cara yang baik dan bukan berlepas tangan bilang “demi menjaga kesehatan” toh nyawa pasien jadi taruhannya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: