Monthly Archives: August 2016

Bekam dan Skeptisnya Dokter

Michael Phelps melakukannya. Ia berhasil mematahkan rekor yang dipertahankan Leonidas sejak 2.168 tahun yang lalu. Setelah berhasil memenangkan lomba renang 200 meter, medali emas individu ke-13 miliknya tercatat sebagai raihan terbanyak sepanjang sejarah olimpiade. Hingga akhir lombanya di cabang estafet 400 meter, Phelps total merengkuh 23 medali emas. Hasil ini membuatnya menjadi atlet olimpade paling sukses yang pernah ada.

Ini merupakan keempat kalinya Phelps meraih emas di lomba pesta olah raga paling bergengsi di dunia. Namun, ada yang tidak biasa di olimpiade Rio kali ini. Ia tertangkap foto memiliki banyak bekas lingkaran kemerahan di tubuhnya layaknya habis terkena tembakan paintball. Kita akhirnya tahu bahwa ia melakukan cupping atau bekam.

MIchael Phelps dan bekas bekam

MIchael Phelps dan bekas bekam

Mengapa mereka melakukannya? Kompatriot Phelps, Alex Naddour, yang berpartisipasi di cabang Gymnast, mengatakan dengan berbekam ia merasa lega dari nyeri otot yang diderita akibat latihan. Itu pula yang menjadi “rahasia” bagaimana ia menjaga kesehatan. Bahkan bekam menurutnya lebih baik daripada bayaran yang ia keluarkan untuk hal lain. Tampaknya, bekam tidak hanya dilakukan oleh atlet asal Amerika, karena bekas lingkaran merah itu terlihat di tubuh atlet dari berbagai negara. Bagi mereka, bekam adalah hal terbaik untuk menghilangkan pegal dan menjaga performa.

Meskipun olympian menganggap bekam sebagai sarana terbaik untuk penampilan mereka, kalangan ilmiah memiliki pandangan lain. Di website berita Independent asal Inggris, seorang professor farmakologi asal London mengatakan bahwa melakukan bekam hanyalah “buang-buang waktu”. Tidak ada penelitian yang menunjukkan manfaat dari bekam. Para praktisi bekam sendiri pun mengakui bahwa tidak ada fondasi ilmiah dari praktek tersebut. Manfaat dari bekam selama ini hanya diketahui berdasarkan pengalaman dan testimoni para penggunanya.

Dokter pun hingga saat ini masih skeptis dengan bekam atau pengobatan-pengobatan tradisional lainnya. Hal ini wajar karena bagi dokter, setiap obat atau tindakan yang dilakukan harus berdasarkan bukti-bukti yang teruji. Mengapa pengobatan yang dilakukan dokter selalu seputar pemberian obat-obatan kimia dan tindakan operasi? Karena penelitian telah membuktikan hal tersebut memang mampu memberikan kesembuhan bagi manusia.

Pengobatan tradisional atau alternatif banyak sekali jenisnya di dunia ini. Indonesia sendiri sejak zaman dahulu memiliki tradisi pengobatan dengan meminum minuman herbal atau jamu. Tapi, jika kita datang ke dokter mengeluhkan masuk angin, dokter tidak akan meresepkan jamu, melainkan obat-obatan kimiawi. Hal ini jelas karena dalam pendidikan kedokteran tidak dipelajari mengenai jamu.

Seorang guru besar di kampus saya mengatakan bahwa menjadi ilmuwan itu harus skepstis. Dokter, profesi yang pekerjaannya selalu berdasarkan penelitian ilmiah, bersifat skeptis dengan segala pengobatan, hingga akhirnya pengobatan tersebut telah terbukti secara ilmiah. Ini menjelaskan mengapa para dokter Indonesia, contohnya, tidak menyetujui dibukanya praktek “Jaket Warsito” untuk pengobatan kanker. Orang-orang bisa bilang melalui berbagai testimoni mengenai kemampuan jaket tersebut. Namun, kedokteran bukanlah ilmu testimoni. Dokumentasi bahwa pasien justru mengalami kondisi yang lebih buruk akibat mengenakan jaket tersebut juga tidak sedikit. Apalagi, praktek pengobatan itu dilakukan oleh seorang yang tidak berlatar belakang medis—yang tidak mempelajari ilmu dasar medicine seperti anatomi dan fisiologi. Tidak bisakah dokter untuk tidak skeptis?

Walau begitu, kedokteran tidaklah sepenuhnya ilmu hitam di atas putih. Setiap dokter pasti diajarkan bahwa tugas mereka bukanlah mengobati penyakit atau organ tubuh, melainkan mengobati manusia. Tentu harus disadari bahwa manusia bukanlah makhluk mati rasa layaknya robot. Ilmu komunikasi yang baik selalu menjadi kurikulum wajib dalam pendidikan kedokteran. Komunikasi di sini jelas bukan kepada organ tubuh atau sel-sel, melainkan manusia, makhluk yang punya rasa dan punya hati.

Mungkin sering dijumpai seseorang datang berkonsultasi ke dokter kemudian berkata bahwa jika mengalami demam, ia akan meminum madu atau habbatussauda atau obat herbal lain. Atau bertanya apakah jika mengalami nyeri punggung ia bisa menghilangkannya dengan berbekam. Bagaimana seharusnya dokter menjawab? Apakah dengan mengatakan, “Tidak perlu, itu hanya buang-buang waktu!”?

Jika itu yang dikatakan, secara keilmuan adalah benar, namun secara komunikasi adalah sangat buruk. Kita tidak boleh lupa, ilmu kedokteran takkan pernah bisa dilepaskan dari komunikasi yang baik.

Jika menghadapi kondisi di atas, saya selalu diajarkan, jawaban terbaik adalah, “Silakan. Tapi kalau setelah minum obat herbal demamnya tidak turun juga selama 3 hari, atau penyakitnya semakin parah, silakan kembali ke dokter.” Ini adalah sebuah win-win solution. Pasien dapat melakukan apa yang diyakininya dan dokter telah melaksanakan tugasnya berupa edukasi kesehatan.

Itu hanya salah satu contoh saja. Pun dengan pengobatan tradisional/alternatif yang lain. Selama diketahui bahwa pengobatan itu tidak menyakiti atau membuat lebih parah, pasien akan dipersilakan untuk melakukannya, dengan catatan jika kondisi tidak membaik kembalilah ke dokter.

Kondisi berbeda jika pengobatan tradisional itu jelas-jelas memperburuk keadaan. Contoh sederhana adalah jika mengalami patah tulang. Dokter akan melarang atau tidak akan merekomendasikan ke tukang urut. Kenapa? Karena menurut keilmuan mereka, jika mengalami patah tulang, hal pertama yang dilakukan adalah jangan menggerakkan bagian tubuh yang patah; itu hanya akan membuat patahan semakin luas dan merusak jaringan sekitar. Hal sebaliknya justru dilakukan tukang urut yaitu malah menggerak-gerakkannya. Hal terburuk, patah sederhana bisa menjadi komplikatif, yang dapat berujung kepada amputasi.

Ilmu kedokteran juga tidaklah bersifat menutup diri dari kemungkinan-kemungkinan yang ada. Ia pada hakikatnya mau membuka diri dengan pengobatan herbal atau tradisional, jika memang ternyata terbukti ilmiah. Ilmu kedokteran sendiri mengakui obat-obat herbal yang memang telah teruji secara klinis, atau fitofarmaka, dan dokter yang memiliki pemahaman tentang fitofarmaka tidak akan segan untuk meresepkannya. Begitu pula, contohnya, dengan jaket Warsito. Sejatinya dokter menerima ide tersebut dengan baik. Namun, karena belum terbukti, dan dikhawatirkan malah dapat membahayakan pasien, praktek tersebut harus dihentikan hingga secara ilmiah teruji. Sayang, salah satu anak bangsa terbaik tersebut, DR. Warsito, pada akhirnya meneruskan penelitiannya di Eropa.

Hal yang sama berlaku untuk bekam/cupping/hijama. Praktek ini memiliki sejarah yang sangat panjang, mundur hingga 1500 SM ke Mesir Kuno sana. Bekam sendiri sebenarnya merupakan praktek kedokteran yang sangat populer zaman dulu. Bahkan beberapa sumber menyebutkan bahwa Hippocrates, bapak kedokteran dunia, menyarankan bekam. Setelah scientific method atau metode ilmiah menjadi landasan para ilmuwan, bekam mulai ditinggalkan. Tapi hal ini tidak menutup kemungkinan untuk meneliti bekam dalam metode ilmiah. Jika pada akhirnya terbukti, para dokter di seluruh dunia tidak akan ragu untuk merekomendasikannya.

Segala kemungkinan sangat terbuka di dunia kedokteran. Masih banyak rahasia-rahasia alam yang belum terkuak. Hal yang dulu dianggap buang-buang waktu, bisa saja menjadi standar pengobatan ke depannya. Dahulu, para dokter merasa tidak perlu melakukan cuci tangan sebelum melakukan tindakan. Kala itu, bakteri atau kuman dianggap takhayul. Setelah terbukti, cuci tangan menjadi hal yang sangat—sangat sangat—wajib bagi seluruh tenaga kesehatan. Begitu juga, misalnya, dengan “kerokan”. Sekilas, praktek semacam itu hanya akan menimbulkan reaksi radang, hingga akhirnya pada tahun 2005 Universitas Airlangga mencari tahu tentang itu. Penelitian itu menunjukkan kerokan dapat merangsang pengeluaran senyawa kimia penghilang nyeri dan sebaliknya menghilangkan senyawa penimbul nyeri. Memang penelitian itu bukanlah uji klinis dan hanya menggunakan sampel yang sedikit, tapi setidaknya sudah ada landasan bahwa kerokan bukanlah hanya buang-buang waktu.

Di sinilah mengapa setiap manusia tidak punya hak untuk meninggikan diri. Bahkan sains yang dipuja-puja di era materalis saat ini oleh ilmuwan sendiri disebut sebagai sesuatu yang fragile. Seberapa sering di buku kuliah kedokteran terdapat tulisan, “…not fully understood”? Sains atau ilmu pasti tidaklah selalu bersifat pasti. Apa yang dahulu dianggap ilmiah bisa dianggap takhayul di kemudian hari. Begitu pula apa yang dianggap mitos hari ini bisa saja merupakan suatu fakta di masa depan. Ya, karena Sang Pemilik Ilmu, Tuhan Semesta Alam, sudah mengatakannya kepada manusia:

“…dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (Al Israa’: 85)

 

Categories: gagasan, kesehatan, merenung | Tags: , , , | Leave a comment

“Dokter Itu Lulusan Mana Sih!?”

Capture

Ada seorang lelaki, berusia sekitar 40 tahun, datang ke UGD sebuah rumah sakit. Ia terbaring lemas di atas blangkar, menunggu diperiksa. Dokter umum yang bertugas pun mendatanginya dengan mata sedikit mengantuk. Maklum, jam sudah menunjukkan lewat tengah malam.

“Dok, perut saya kok rasanya ga enak, ya?”

“Di mana?” tanya dokter.

“Di sini,” jawab bapak itu sambil meletakkan tangan di atas perutnya.

Sang dokter menekan bagian ulu hati, lalu bapak itu kesakitan. Tak lama, perawat diinstruksikan untuk memaksukan obat-obatan injeksi. Sekitar setengah jam kemudian, pasien merasa sedikit enakan. Obat minum diresepkan dan kemudian bapak itu dipulangkan.

Saat matahari mulai meninggi di langit, sang bapak datang lagi ke UGD. Hanya saja saat itu kondisinya memburuk. Dokter dinas pagi langsung memeriksanya. Saat ditanya, keluhannya sama, yaitu nyeri di ulu hatinya. Tapi, bapak itu terlihat sangat tersiksa.

Singkat cerita, pasien itu didiagnosis mengalami serangan jantung setelah dilakukan pemeriksaan rekam jantung. Sang dokter jaga pun bertanya kepada istri pasien.

“Sakitnya sudah berapa lama?”

“Dari tengah malam dok. Tadi sekitar jam 2 pagi kami sudah ke UGD,” jawab sang istri.

“Loh, tadi malam sudah ke sini? Terus, dilakukan apa sama dokternya?”

“Cuma dikasih obat penghilang nyeri saja dok. Setelah nyerinya agak berkurang, oleh dokter jaganya dibolehkan pulang.” jelas istri pasien.

“Wah, kalau bapak punya sakit di ulu hati harus waspada bu. Bapak kan punya riwayat darah tinggi. Sakit jantung kadang nyerinya tidak di dada, tapi bisa juga ulu hati. Kalau tidak segera diobati bisa berbahaya,” jelas dokter.

“Oh, begitu ya dok? Waduh, untung kami segera kembali ke sini ya dok. Soalnya kata dokter semalam ini cuma sakit asam lambung biasa.”

“Iya bu,” kata dokter sembari tersenyum. “Seharusnya semalam diperiksa rekam jantung. Kenapa bisa tidak diperiksa ya? Saya tidak tahu itu dokter semalam lulusan mana.”

***

Kalimat itu sepertinya bukanlah hal asing bagi yang bekerja sebagai klinisi. Ketidaktepatan diagnosis dan pengobatan bukan hal yang jarang terjadi, dengan berbagai faktor penyebabnya. Bisa terjadi karena tanda-tanda dan keluhan pasien yang tidak khas, minimnya alat pemeriksaan penunjang, tenaga kesehatan yang terlalu capek sehingga turun konsentrasinya, atau bahkan karena faktor ilmu dan pengetahuan yang kurang.

Ilmu yang dimiliki setiap dokter berbeda-beda. Dokter spesialis sudah pasti memiliki ilmu dan skill yang lebih dibanding dokter umum. Pengetahuan tiap dokter umum pun juga bisa berbeda. Ilmu kedokteran identik dengan pengalaman klinis, sehingga dokter umum yang telah bekerja di rumah sakit selama bertahun-tahun pasti lebih luas wawasannya ketimbang yang baru internsip. Apalagi kalau dokter umum itu sudah mengikuti berbagai macam pelatihan, tentu memiliki nilai lebih.

Harus kita pahami bahwa seorang dokter yang berpraktek berarti ia telah dianggap kompeten. Seluruh pengetahuan dan keterampilan yang minimal dimiliki oleh dokter telah dikuasainya. Apakah ia tepat dalam mendiagnosis dan merawat seorang pasien, tentu dipengaruhi oleh beberapa hal. Tapi, hal tersebut tidak serta merta menafikan kompetensinya sebagai seorang dokter.

Bertanya seorang dokter lulusan dari kampus mana tidaklah relevan. Ketika seorang sudah berjas putih, tersematkan gelar dokter atau spesialis di papan namanya, orang-orang sudah tidak peduli latar belakangnya. Apakah ia lulusan dari universitas di barat, atau timur, yang masyarakat inginkan hanyalah bagaimana agar mendapat pelayanan yang baik. Kualitas kerja dan pengetahuan seseorang juga rasanya tidak etis jika dikaitkan dengan institusi asalnya. Yang menentukan kinerja ialah orang itu sendiri, bukan tempat ia mengenyam pendidikan. Apalagi ketika sang dokter sudah lulus; semua keputusan dan tindakan yang ia buat sudahlah bukan lagi tanggung jawab universitas.

Manusia memang tempatnya penyakit hati, dan mungkin kita akan merasa bangga apabila berhasil menemukan diagnosis yang tepat atas suatu penyakit yang sebelumnya telah diobati namun tak kunjung membaik. Demi menunjukkan kepintaran di hadapan pasien, dengan santainya disampaikan bahwa pengobatan yang diberikan oleh dokter sebelumnya adalah ngaco. Hal itu diungkapkan sekedar untuk melampiaskan rasa bangga, atau mungkin supaya pasien itu kembali ke kita lagi karena dianggap cerdas. Tapi, tidak sadarkah bahwa pernyataan merendahkan sejawat secara terang-terangan semacam itu justru akan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap dokter?

Saat ini kredibilitas dokter tengah terjatuh ke lembah yang amat curam. Maraknya pemberitaan negatif dari media, seperti anggapan bahwa dokter itu sering menolak pasien BPJS, sudah amat banyak memengaruhi masyarakat kita. Para (oknum) pengacara juga tidak akan lelahnya mencari klien untuk ia dorong supaya mau menuntut dokter ke pengadilan; apalagi tujuannya kalau bukan uang? Terakhir, kasus pemukulan dokter di suatu rumah sakit akibat hebohnya pemberitaan vaksin palsu semakin menyudutkan posisi dokter Indonesia. Akankah kelak seluruh warga Indonesia lebih senang berobat ke dokter asing?

Demi kemaslahatan, pasien yang merasa tidak mendapat pengobatan yang tepat dari dokter sebelumnya mesti ditenangkan oleh dokter yang tengah menanganinya. Perlu dipahamkan bahwa dokter sebelumnya tidaklah bertujuan mencelakakan, dan yang terpenting adalah ia sudah ditangani dengan benar. Apa yang akan terjadi jika si dokter itu malah ikut memanas-manasi? Beruntung jika pasien tidak cukup punya banyak waktu untuk menyewa pengacara, tapi jangan remehkan kekuatan “mulut ke mulut”. Yang jatuh martabatnya bukan hanya dokter yang disebut, tapi dokter secara keseluruhan. Kalau berobat ke dokter pun bisa mendapat penanganan yang salah, kenapa tidak ke dukun saja?

Dokter yang mendengar bahwa ia direndahkan oleh sejawatnya akan memiliki 2 respon: menyerang balik atau, ini yang lebih berbahaya, berkecil hati. Jika sudah berkecil hati, tidak mustahil untuk gantung stetoskop. Padahal, kesalahan yang dilakukan mungkin tidak seberapa dibandingkan dengan manfaat yang telah diberikan.

Haruskah pendidikan selama 6 tahun yang begitu melelahkan harus sia-sia begitu saja karena perkataan menyakitkan dari rekan seprofesinya? Setiap orang bisa berbuat salah, dan sebaik-baik yang berbuat salah ialah yang belajar untuk memperbaikinya. Sebaliknya, seburuk-buruk yang berbuat salah ialah yang berputus asa.

Kita harus belajar lebih mendalam lagi tentang sikap respek. Kesalahan penanganan yang ditambah hinaan tidak akan menyelesaikan masalah, tidak akan membuat kondisi pasien membaik. Jauh lebih baik memberikan masukan langsung kepada dokter yang melakukan kesalahan tersebut, daripada mengumbar-umbarnya di depan pasien atau perawat.

Ini juga menjadi pemicu bagi setiap dokter untuk terus belajar. Walau terus menggali ke dasar bumi sekalipun, pengetahuan tentang kesehatan manusia tidak akan ada habisnya. Bukankah Tuhan tidak memberikan manusia ilmu melainkan hanya sedikit? Menuntut ilmu mungkin tidaklah melulu menggelontorkan segepok uang untuk ikut seminar atau simposium. Buku-buku bacaan ketika kuliah yang tersimpan rapih di lemari, selama tidak terlalu jadul, sebagian besarnya masih relevan. Terlebih di masa sekarang, teknologi amat memanjakan kita untuk mengakses pembelajaran ke berbagai sumber, selama memiliki keinginan.

Agaknya mari diingat kembali dengan apa yang telah diucapkan ketika akan menjalani profesi ini. Semua dokter telah mengucapkan sumpahnya, bahwa “…Saya akan memperlakukan teman sejawat saya sebagaimana saya sendiri ingin diperlakukan.” Bukankah tidak pernah ada orang yang ingin direndahkan oleh orang lain, terlebih oleh teman seprofesi? Komunikasi yang baik dan rasa saling menghormati akan menjaga nama baik profesi ini di hadapan masyarakat, sebagaimana juga yang telah diucapkan dahulu, “…Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur kedokteran.”

Categories: kesehatan, merenung | Tags: , | 5 Comments

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: