Adakah ‘Hari Tanpa Tembakau Sedunia’ Memiliki Arti Bagi Indonesia?

Awal-awal tahun 2015 kemarin, seorang pelawak Stand Up Comedy masuk IGD Rumah Sakit dalam keadaan kesakitan. “Rasanya seperti mau mati,” begitulah ia mendeskripsikan keadaannya kala itu. Dodit Mulyanto, komik asal Blitar, kemudian divonis mengidap penyakit jantung koroner dan harus dirawat dengan pengawasan ketat di ICU.

Loh, kenapa bisa sakit jantung? Bukankah Dodit masih muda? Bahkan usianya belum mencapai kepala tiga, yaitu baru 29 tahun. Tapi terkena serangan jantung? Bukankah biasanya penyakit ini baru dialami usia 40 tahun ke atas? Apa penyebabnya?

Karena rokok. Seleb tersebut mengatakan bahwa ia memang perokok. Kandungan racun dalam rokok yang banyak dihisapnya akhirnya mengakibatkan gangguan pembuluh darah jantungya hingga membuat sumbatan.

Tren serangan jantung akibat sumbatan pembuluh darah koroner kini semakin bergeser ke usia muda. Bukan hal yang aneh lagi jika IGD didatangi orang usia 30 tahun mengeluh sakit dada. Muncul keringat dingin sampai menetes, mual-mual, dan rasa sakit yang seperti dihimpit atau ditekan seolah nyawanya hendak dicabut saat itu juga. Bagi Anda yang sekarang berusia 20 tahunan pun jangan merasa dirinya aman dari serangan mematikan ini. Tidak perlu usia tua bagi rokok yang Anda hirup untuk merusak jantung dan pembuluh darahnya.

Kemarin, dunia memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) atau World No Tobacco Day. Peringatan yang diinisiasi oleh WHO ini berulang setiap tanggal 31 Mei. Pada tahun 2016 ini, WHO mengusung tema “Get Ready for Plain Packaging” atau kemasan sederhana untuk bungkus rokok. Lembaga dunia ini berargumen bahwa kemasan harus dibuat sederhana untuk menghindari informasi salah yang disuguhkan pabrik rokok dan menurunkan minat masyarakat terhadapnya. Setidaknya, di Australia metode ini terbukti efektif menjatuhkan angka perokok.

Kampanye WHO pada World No Tobacco Day 2016

Kampanye WHO pada World No Tobacco Day 2016

Sebagai lembaga kesehatan dunia, WHO gencar mengajak negara-negara di dunia untuk menekan angka perokok. Tampaknya para pemimpin dunia merespon inisiatif tersebut dengan baik. Terbukti, pada konferensi WHO di Abu Dhabi, Maret 2015, disebutkan terjadi penurunan penggunaan rokok dan meningkatnya jumlah nonperokok di dunia.

Bagaimana dengan Indonesia?

Yang terjadi adalah sebaliknya. Di Indonesia, jumlah perokok cenderung naik tiap tahunnya. Jika pada tahun 2001 angka perokok sebesar 9,5% dari total penduduk, pada tahun 2013 menjadi 18%.

Saat ini pun negara-negara di dunia menggerakkan jemari kebijakannya ke pengontrolan tembakau. Pada awal 2005, WHO mencanangkan perjanjian kesehatan publik global pertama di dunia. Konvensi yang disebut dengan “Framework Convention on Tobacco Control” atau FCTC ini menjabarkan 38 artikel yang berisi komitmen yang harus dilakukan setiap negara di dunia untuk mengontrol tembakau. Beberapa di antara komitmen tersebut adalah menyederhanakan pelabelan bungkus rokok, melarang segala jenis iklan, menaikkan harga dan cukai rokok, dan program pemerintah untuk menyembuhkan masyarakat dari adiksi rokok. Konvensi ini telah ditandatangani 168 negara dan memiliki 180 negara anggota.

fctc-wallpaper - Copy

Di mana posisi Indonesia?

Tidak ada. Dari 180 negara dunia tersebut, tidak ada nama “Indonesia”. Negara terakhir yang menjadi anggota konvesi FCTC adalah Zimbabwe. Tahu Zimbabwe? Ya, negara ini mengalami krisis dan inflasi parah pada 2009, yang mengakibatkan dolar Zimbabwe menjadi mata uang sampah. Uang 100 miliar dolar Zimbabwe hanya bisa membeli 3 butir telur. Pada 2015, pemerintah menawarkan rakyatnya untuk menukarkan uang lokal dengan Dolar AS, dengan nilai 1 USD = 35.000 triliun dolar Zimbabwe. Walaupun demikian, ternyata negara ini lebih menghargai nyawa rakyatnya daripada Indonesia.

Anggota dewan dan pemerintah selalu berkilah bahwa mereka tidak mau meratifikasi FCTC untuk melindungi petani tembakau dan perekonomian negara. Indonesia memang surga tembakau. Banyaknya pabrik rokok yang berdiri diklaim memberi pendapatan pajak yang sangat besar dan memperkerjakan banyak masyarakat menjadi petani tembakau.

Sebuah alasan omong kosong.

Menurut Prof. Hasbullah Thabrani, professor kesehatan masyarakat dari Universitas Indonesia, penghasilan petani tembakau tidak akan menurun dengan turunnya konsumsi rokok. Penghasilan petani tembakau terbilang sedikit karena industri rokok lebih banyak impor tembakau, yaitu sekitar 2/3 dari seluruh kebutuhan.

Selain itu, industri rokok sangatlah tidak manusiawi. Berdasarkan data WHO, pabrik rokok memberikan upah buruh yang paling rendah dibandingkan industri lainnya. Sebagai gambaran, tahun 2008 industri makanan memberi upah sebesar 886,5 ribu rupiah, sedangkan buruh rokok hanya mendapat 753,4 ribu rupiah. Begitu pula nasib para petaninya. Lembaga Demografi Universitas Indonesia menyatakan petani tembakau hanya diberi upah 15.000-17.000 untuk 5-7 jam kerja per hari. Angka ini tidak sebanding dengan resiko sakit yang diterima akibat kontak terus-menerus dengan tembakau.*

Jika dikatakan cukai rokok memberi penghasilan besar, berapakah kerugian negara akibat rokok?

Kerugian yang ditimbulkan dapat dihitung dari total tahun produktif yang hilang akibat penyakit yang berhubungan dengan tembakau, total pengeluaran masyarakat untuk membeli tembakau, dan biaya kesehatan yang dikeluarkan akibat penyakit yang berhubungan dengan tambakau. Komnas Pengendalian Tembakau menyatakan, setelah ditotal, kerugian yang diakibatkan sekitar 245,41 triliun rupiah per tahunnya. Besaran ini tidak sebanding dengan pemasukan negara dari industry rokok sebesar 80 triliun per tahunnya.*

Diperliharanya pabrik rokok di Indonesia juga hanya merugikan masyarakat miskin. Bisa dibayangkan, 70% dari perokok di Indonesia adalah orang miskin yang menyisihkan 20% pendapatannya untuk membeli rokok. Yang lebih menyedihkannya lagi, uang yang dikeluarkan untuk rokok 5 kali lipat lebih besar dibandingkan untuk membeli asupan nutrisi keluarga.*

Belum lagi masyarakat miskin jarang berobat dan mengontrol kesehatan mereka karena pendidikan dan kesadaran yang kurang, akses ke fasilitas kesehatan yang sulit, tidak biaya transportasi, dan lain-lain. Jadilah mereka datang dalam keadaan sudah stroke atau serangan jantung atau penyakit-penyakit parah lainnya. Memang sih mereka ter-cover Jamkesmas atau BPJS, sehingga biaya pengobatan dibayar oleh negara. Jadi, berapa pengeluaran yang mesti dibayarkan negara gara-gara rokok?

Lalu, siapakah yang paling untung dari industri ini?

Jelas pengusaha rokok. Berkat produk adiktif yang menyengsarakan orang miskin, mereka menjadi salah satu dari orang-orang terkaya di Indonesia. Padahal, belum tentu mereka sendiri merokok. Tentu saja bukan? Kalau merokok, mereka akan terancam penyakit-penyakit kronis dan berbahaya, sehingga bagaimana bisa menikmati kekayaan yang ada? Sebuah logika yang sederhana saja.

Tidak ingin kekayaan yang sudah besar tersebut hilang, mereka pun bisik-bisik kepada anggota dewan dan pemerintah. Segala upaya dilakukan agar Indonesia tidak ikut meratifikasi FCTC dengan jurus yang disebutkan tadi: menyelematkan petani tembakau dan perekonomian negara. Dibuat pula isu-isu bahwa FCTC hanyalah kepentingan pihak asing untuk meruntuhkah keuangan negara yang menerima banyak pendapatan dari rokok.

Tanggal 31 Mei kemarin, dunia memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Australia telah memerintahkan pabrik rokok agar menyederhanakan bungkusnya. Cina melarang adanya mesin penjual rokok di wilayah negaranya. Negara-negara Eropa sudah lama melarang iklan rokok di seluruh media massa. Sedangkan Indonesia, jumlah perokok usia muda terus meningkat akibat tertarik dengan iklan rokok yang terkesan keren dan harganya yang murah.

Tidak perlu lagi dituliskan bahaya tembakau di sini. Setidaknya, kisah pilu yang menimpa Robby Indra Wahyuda bisa menjadi renungan bagi kita semua. Lelaki yang baru berusia 27 tahun ini sengaja memamerkan ceritanya bahwa lehernya dilubangi. Kisah ia mengalami kanker pita suara disebarluaskan agar tumbuh kesadaran bagi yang membacanya. Saat difoto, ia masih tersenyum. Tapi akhirnya, pemuda yang seharusnya masih memiliki masa depan panjang ini harus tewas dibunuh rokok.

Robby Indra Wahyuda

Robby Indra Wahyuda

Namun tampaknya ini tidak berarti apa-apa bagi para orang atas negara ini. Hati mereka sudah dilapisi semen oleh para pengusaha tembakau agar tidak tersentuh kisah menyedihkan tersebut. Begitu pula peringatan HTTS kemarin, tidak berarti apa-apa. Agaknya, rakyat harus terus berteriak keras agar dapat memecahkan kotoran bernama keangkuhan yang telah memenuhi telinga mereka.

 

keterangan:

*: dikutip dari Kertas Posisi YLBHI-RUU Pertembakauan, bisa diakses di sini

 

Advertisements
Categories: kesehatan, merenung | Tags: , , , , , , | 1 Comment

Post navigation

One thought on “Adakah ‘Hari Tanpa Tembakau Sedunia’ Memiliki Arti Bagi Indonesia?

  1. kalo menurut saya, selain isinya yang bagus, saya lebih suka liat kemasan artikelnya keren banget gan, patut dicontoh..he

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: