Berkomunikasi Kepada Manusia Layaknya Manusia

Mereka pasrah saat melihat rumah-rumah dibongkar. Alat-alat berat meruntuhkan hunian yang telah mereka tempati selama puluhan tahun dan lintas generasi. Ratusan Satpol PP pun sigap mengamankan orang dewasa dan anak kecil yang hendak berontak. Seolah tidak ada keadilan bagi orang terpinggirkan, yang bisa dilakukan oleh mereka hanyalah meratapi nasib.

Penggusuran bukanlah hal baru di DKI Jakarta. Kemarin, Foke membutuhkan waktu 5 tahun untuk menggusur 3200 keluarga. Bagi Ahok, waktu yang diperlukan hanya 1 tahun untuk menggusur 8145 KK dan 6283 unit usaha. Yang terbaru ialah penggusuran Kampung Nelayan, Luar Batang. Berita penggusuran yang terakhir ini masih hangat karena banyak warga yang menolak pindah ke rumah susun dan memutusukan tinggal di dalam perahu.

Salah satu hal yang menjadi masalah dalam penggusuran ini ialah minimnya komunikasi yang baik. LBH Jakarta mencatat, sepanjang tahun 2015, terjadi 113 penggusuran dan hanya 18 kasus yang didahului dengan musyawatah. Sisanya, penghancuran bangunan-bangunan dilakukan secara sepihak. Pada penggusuran Kampung Nelayan baru-baru ini, LBH Jakarta juga menerangkan bahwa warga Kampung Nelayan diusir tanpa adanya dialog dua arah. Lurah setempat mendatangi satu RW pada tanggal 21 dan 23 Maret 2016 ditemani polisi dan tentara bersenjata laras panjang. Ya, untuk bertemu warga, senjata laras panjang sampai ikut-ikutan dibawa; tidak yakin apakah itu adalah sosialisasi atau intimidasi. Penggusuran pun dilakukan pada tanggal 11 April 2016, setelah diberikan surat peringatan tiga kali, yaitu tanggal 31 Maret, 6 April, dan 9 April. Terlihat bahwa komunikasi yang dilakukan pemprov hanyalah satu arah.

Penggusuran Kampung Nelayan, Luar Batang

Penggusuran Kampung Nelayan, Luar Batang

Apakah bisa disebut manusiawi ketika akan dilakukan peruntuhan rumah-rumah yang telah ditempati selama puluhan tahun, komunikasi yang dilakukan hanya melalui surat? Dapatkah mereka yang telah menduduki wilayah tersebut berlintas-lintas generasi bisa memahami maksud pemprov jika yang mendatangi mereka ialah polisi dan tentara bersenjata api? Dari situasi tersebut, adakah niat baik pemprov melakukan dialog? Atau, gubernur DKI Jakarta sama sekali tidak butuh dialog, yang ada hanya ambisi segera meratakan kampung nelayan untuk segera melaksanakan proyeknya? Manusiawi juga kah sang gubernur, ketika mereka yang tidak mau pindah ke rusun karena jauh dari lokasi mata pencaharian, disebutnya sebagai orang belagu?

Komunikasi mungkin dianggap sebagai persoalan sepele, namun sering menjadi faktor penentu terjadinya konflik atau tidak. Jika persoalan dihadapi dengan emosi tanpa adanya kepala dingin yang rasional, sudah dipastikan komunikasi tidak akan berjalan. Ketika adanya benturan keinginan atau kepentingan, komunikasi dua arah akan menetukan hasilnya, apakah win-win, win-lose, atau bahkan lose-lose.

Setidaknya komunikasi efektif merupakan hal yang penting dimiliki oleh seorang dokter. Di bangku kuliah, para mahasiswa kedokteran pasti diajarkan bagaimana berkomunikasi yang baik kepada pasien atau keluarga pasien agar pelayanan yang diberikan dapat optimal. Teori di ruang kelas pun tidak cukup; saat menjalani fase koas, mereka mesti berlatih bagaimana berbicara dan memberikan informasi terkait kondisi kesehatan pasien dan rencana pengobatannya.

Peristiwa penganiayaan seorang dokter oleh pasien atau keluarga seperti pemukulan, bahkan penututan ke ranah hukum, seringkali diawali oleh adanya miskomunikasi. Pasien bisa saja merasa sedang disakiti ketika hendak dipasang selang kencing jika tidak ada penjelasan terlebih dahulu. Juga di UGD, tidak jarang ada orang yang marah-marah karena tidak mendapat pelayanan, padahal saat itu ruangan sedang penuh pasien gawat sedang ia sendiri masih dalam kondisi yang masih baik. Atau, ada saja dokter sampai harus diadili di pengadilan karena pihak yang dilayani tidak diinformasikan efek samping dari pengobatan atau tindakan medis.

Pasien-pasien yang menolak untuk diperiksa atau diobati pun jumlahnya tidak sedikit. Di sini, tugas dokter hanyalah menyampaikan informasi alasan pengobatan atau pemeriksaan tersebut, dan jika pasien masih menolak, ia tinggal tanda tangan. Jika sudah ada penolakan hitam di atas putih, maka kewajiban dokter sudah selesai; ia takka bisa dituntut secara hukum.

Untuk orang-orang tipe tersebut, saya pernah mencoba edukasi dengan berbagai gaya. Pertama ialah dengan gaya keras. Dengan nada tegas, pasien diinformasikan bahwa tindakan tersebut penting demi kesehatannya sendiri, yang jika tidak dilakukan, dapat berdampak buruk baginya. Umumnya, mereka akan tetap menolak, terlebih orang-orang timur yang memiliki watak keras. Cara kedua ialah dengan cara yang lembut. Saya coba bicara dengan nada baik-baik bahkan setengah membujuk. Jika pasien tetap ngotot, tetap coba dibujuk dengan nada halus. Alhamdulillah, beberapa kali pasien-pasien yang awalnya menolak diobati dan diperiksa, dengan cara kedua tersebut akhirnya hati mereka luluh.

Saya selalu percaya bahwa manusia ialah makhluk yang bisa berkompromi. Kita adalah sosok yang selalu mampu bernegosiasi dan dinegosiasikan. Tinggal bagaimana cara komunikasi dan pendekatan yang dilakukan. Ada yang akhirnya berkompromi setelah diancam karena pihak pengancam lebih kuat. Tapi percayalah, api takkan pernah bisa padam dengan api. Setan merah hanya mau berdamai jika mereka disiram dengan air. Ya, air yang sejuk, yang jika orang-orang mandi di dalamnya dapat menenangkan pikiran dan jiwa yang gelisah.

Apakah orang-orang miskin sebegitu keras hatinya sehingga mereka takkan mau direlokasi? Miskin atau kaya, manusia tetaplah manusia. Sifat dasar yang ada dalam diri setiap manusia tidaklah berbeda, dan pendekatan komunikasi yang perlu dilakukan untuk memberikan pemahaman tetaplah sama. Pada Oktober 2015, walikota Bandung berhasil meminta warga bantaran sungai Cikapundung untuk pindah ke rusun. Tidak ada kekerasan dalam prosesnya, yang ada ialah air mata haru. Setelah diskusi panjang, akhirnya warga Babakan Siliwangi menunjukkan kebesaran hati mereka. Ini adalah contoh bahwa dengan komunikasi yang baik, masyarakat pun akan mau berkompromi.

Pemimpin ialah sosok panutan bagi yang dipimpinnya. Pemimpin yang terbaik ialah yang mengayomi dan memimpin dengan cinta. Ia bukanlah mesin yang tugasnya hanya melaksanakan program-program kerja, tapi yang terpenting ialah bagaimana seorang pemimpin mampu menumbuh dan mengembangkan orang-orang yang dipimpinnya. Pada akhirnya, masyarakat akan menilai kualitas seorang penguasa dengan melihat caranya memperlakukan warganya sendiri.

Advertisements
Categories: gagasan, merenung | Tags: , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: