Tata Krama Kepada Guru dan Budaya Egaliter

Agaknya para koas hanya diam seribu bahasa ketika diberi pertanyaan oleh pembimbingnya. Kalau pun ada yang menjawab, suara yang dikeluarkan begitu pelan dan penuh nada ragu-ragu. Sang konsulen hanya tersenyum sambil mengernyit, seolah raut wajahnya berkata, “Kamu yakin?” Tapi kemudian, saya dan teman-teman segera menoleh ketika mahasiswa dari Itali yang sedang mengikut semacam summer course di Rumah Sakit kami menjawab dengan suara yang begitu lantang.

Mahasiswa koas dari negeri pizza ini seorang perempuan. Walaupun begitu, gendernya tak menghalanginya untuk menjawab tanpa perlu menundukkan dagu—hal yang sering kami lakukan ketika sedang berbicara dengan dosen. Memang bukan jawabannya lah yang mengagumkan, melainkan rasa percaya dirinya dan suaranya keras. Begitu pula ketika di awal pertemuan, saat nama para koas ditanya satu per satu oleh dokter spesialis. Kami suaranya begitu pelan seolah berada dalam teror. Namun suara Sofie—anggaplah namanya demikian—begitu membahana seisi ruangan.

Memang budaya kita begitu berbeda. Negara-negara Asia sangat memerhatikan budaya tata krama ketika berinteraksi dengan orang yang lebih tua terlebih guru. Seolah menjadi peraturan tak tertulis, volume suara harus dipelankan, kepala sedikit dianggukkan, dan kalau perlu beri senyuman basa-basi. Posisinya jelas: antara anak kecil yang masih belajar berhadapan dengan orang tua yang memiliki ilmu lebih tinggi. Kebiasaan seperti ini tertanam di berbagai institusi pendidikan, dan lebih terasa lagi di dunia pendidikan kedokteran.

Walaupun telah ada anak bangsa yang merasa risih bahwa budaya “tata krama terhadap guru” kini mulai memudar, tapi tetap saja apa yang telah mendarah daging di negeri ini tak bisa dihilangkan. Kebiasaan para siswa membungkukkan badan bagaikan salam hormat orang Jepang ketika berjumpa gurunya masih ada. Begitu pun ketika tengah berbicara dengannya; saat menjadi mahasiswa kedokteran, saya menyebutnya manus-scrotal and mento-sternal maneuver. Kedua tangan saling menggenggam di bawah sambil memegang kemaluan dan dagu ditempelkan ke dada. Jika manuver ini tidak dilakukan, khawatir sang guru akan kesal dan ujung-ujungnya diberi nilai yang jelek.

Para Murid Membungkukkan Badan dan Mencium Tangan Guru Sebelum Masuk kelas via tolongshare.beritaislamterbaru.org

Para Murid Membungkukkan Badan dan Mencium Tangan Guru Sebelum Masuk kelas via tolongshare.beritaislamterbaru.org

Mereka yang telah atau tengah menjalani studi di negara-negara barat mungkin menyadari akan perbedaan budaya ini. Karena belum mendapat rejeki belajar ke luar negeri, saya hanya mendengar dan membaca pengalaman orang-orang di benua seberang sana. Saat berada di kelas, umumya para mahasiswa akan mengangkat tangan tinggi-tinggi dan menanyakan berbagai hal jika ada bahan yang tidak dimengerti. Jika masih belum puas dengan jawaban yang diberikan, sang lecturer dapat mengajaknya berdiskusi setelaah kelas selesai. Suara mereka begitu lantang. Saat berhadapan one on one pun, mereka berdiskusi asik layaknya orang sederajat.

Bagaimana mahasiswa dari Indonesia? Beberapa bercerita bahwa mereka enggan untuk bertanya. Selain karena kendala bahasa, juga disebabkan kebiasaan dari tanah air yang masih terbawa-bawa.

Ya, di kampus kita ketika kuliah, seberapa penuh ruangan dipenuhi oleh tangan-tangan yang melayang karena rasa ingin tahu yang tinggi? Tentu tidak sedikit mahasiswa-mahasiswa cerdas di kampus negeri ini yang bersemangat berdiskusi dengan dosennya di ruang kuliah, tapi mari melihat kondisi secara umum. Mengapa suasana yang dijumpai lebih sering berupa keheningan ketika dosen memberikan kesempatan untuk bertanya? Alasannya, antara sudah paham—yang ini persentasenya sedikit—atau merasa enggan walaupun masih belum mengerti. Atau, sama sekali tidak peduli dengan kuliah yang diberikan (yang ini parah banget sih).

Mengapa enggan bertanya? Karena khawatir bila bertanya ke dosen, akan dibalas “Masa begitu saja kamu tidak mengerti?” atau “Kamu dengerin ga tadi saya ngomong apa?” atau “Menurut kamu apa? Kalau ga tahu baca sendiri, ya” dan lain-lain. Mungkin akan dijawab seperti itu, mungkin juga tidak, tapi setidaknya rasa khawatir itu ada.

Itu baru sesi pertanyaan, bagaimana bila sang dosen bertanya kepada mahasiswa di tengah-tengah kuliah? Orang yang paling apes kena tanya biasanya yang duduk paling depan—karena itulah pada berlomba-lomba duduk di belakang—dan orang malang itu akan menjawab sebisanya dengan suara yang pelan dan penuh keraguan. Syukur kalau jawaban benar; kalau salah, bisa-bisa si pengajar mengamuk. Atau yang lebih menyebalkan lagi: jawaban yang diberikan benar, namun sang dosen akan bertanya lagi dan bertanya lagi hingga orang malang tesebut tidak bisa menjawab.

Mengapa negara barat sana para pelajar bisa begitu bebasnya bertanya dan berdiskusi dengan pengajar, berbeda dengan di sini? Ya, ini karena budaya negara barat umumnya sangat egaliter. Mahasiswa tidak perlu menunduk, membungkukkan badan, senyum basa-basi ketika berbicara dengan dosen. Apa pun pertanyaan mahasiswa, biasanya akan dilayani, malah dosen bisa sangat senang kalau ternyata peserta didiknya begitu antusias bertanya. Jika waktu tidak cukup, sang dosen akan dengan baik hati menawarkan pertemuan berikutnya untuk menyelesaikannya. Mahasiswa dapat berbicara dengan pengajar layaknya teman.

Budaya Egaliter antara Pelajar dan Dosen di Negara Barat via gettyimages.co.uk

Budaya Egaliter antara Pelajar dan Dosen di Negara Barat via gettyimages.co.uk

Begitu pula dalam kehidupan sehari-hari. Sodara saya yang merupakan kandidat doctor di Belanda becerita bahwa ia sering bermain basket bersama profesornya. Di tengah pertandingan, si professor lebih senang adu bodi dengan sodara saya yang berbadan tinggi dan besar. “I take this guy!” kata sang professor dengan antusias.

Berbeda sekali dengan cerita pertandingan sepak bola antara para konsulen dengan residen di suatu institusi. Kalah, konsulen senior langsung berteriak kepada para residen, “Kalian semua tiarap!” Tidak terima dengan kekalahan, konsulen itu pun langsung mengumumkan bahwa besok ujian. Kejadian ini nyata terjadi—walau ini cerita dulu sekali—dan saya tak bisa menahan tawa mendengarnya.

Salahkah dengan budaya kita yang meminta para murid untuk begitu sangat tunduk kepada para gurunya? Saya tidak akan berkata demikian. Setiap negara dan bangsa memiliki adat dan budayanya tersendiri, dan masing-masing budaya harus dihormati. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Di negara barat sana, hanya ada satu kata untuk seorang pihak kedua, yaitu “you”, sedangkan di negara kita ada “kamu” dan “Anda” atau bahkan “bapak, ibu, pak guru, bu guru, pak dokter, bu dokter, dst”. Begitu pun untuk pihak ketiga, hanya ada “he” atau “she”, di Indonesia ada “dia” dan “beliau”.

Bagaimana pun juga, guru merupakan orang yang sangat berjasa dalam kehidupan kita setelah orang tua. Guru sekolah, dosen, ustadz/ustadzah merupakan orang-orang yang tidak hanya memberikan ilmu namun juga mendidik kita agar menjadi orang dewasa yang berguna dan sukses menghadapi dunia bahkan akhirat. Kalau pun mereka memiliki gaya tersendiri dalam mengajar dan mendidik, apakah paham feodal atau egaliter, itu merupakan hak masing-masing. Tugas kita sebagai murid dan pelajar ialah menghormati guru-guru kita dengan menunjukkan adab yang baik dan belajar sungguh-sungguh.

Hanya saja, mungkin, ada baiknya adab dan tata krama ketimuran kita diiringi dengan sikap egaliter. Mari kita berdikusi—saya pribadi menganggap tidap perlu sikap seperti membungkukkan badan hingga tangan memegang kemaluan. Adab dalam menimba ilmu cukup ditunjukkan dengan berbicara dengan bahasa yang sopan namun tidak perlu pelan dan ragu-ragu, tidak berbohong demi keamanan, menepati janji, dan tetap menghormatinya sebagai guru walau mungkin nanti kelak ilmu kita lebih tinggi daripada beliau.

Begitu pun bagi para guru, pengajar, dosen, dan sebagainya. Bisakah mulai membuka diri dengan para pelajar? Bahwa yang diperlukan bukanlah menunjukkan eksistensi pengajar lebih pintar daripada murid dengan meminta mereka membungkukkan badan. Apa yang penting ialah bagaimana agar ruangan kelas begitu penuh dengan tangan-tangan yang diangkat dan wajah-wajah yang penuh antusiasme. Bahwa bagaimana agar ada pelajar yang rela mencari-cari pengajarnya di luar jam pelajaran agar bisa berdiskusi tentang materi yang masih belum bisa dipahami.

Juga perihal pemberian penghargaan. Yang mendapat apresiasi bukanlah yang mendapat nilai tertinggi di rapotnya, melainkan yang begitu bergairah dan memiliki usaha terbesar dalam belajar. Seorang yang kurang pintar, bukannya mendapat motivasi tapi malah caci maki, bagaiama murid tersebut bisa berkembang? Dalam suatu artikel, Prof. Rhenald Kasali bercerita tentang anaknya yang baru pindah ke suatu sekolah di Amerika Serikat. Sang anak diberi tugas untuk menulis. Ketika melihat hasilnya, Prof. Rhenald menganggap tulisannya jelek sekali—bahasa inggrisnya amburadul. Tapi apa yang terjadi? Sang guru memberi nilai A untuk tulisan anaknya. Mengapa? “Anak Anda baru saja pindah ke sekolah ini. Saya sengaja memberinya nilai A untuk menyemangatinya agar tetap mau belajar,” kurang lebih begitu jawaban gurunya.

Namun kita perlu tetap memegang prinsip “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”. Bila diajar oleh guru yang masih bergaya feodal, tugas kita sebagai pelajar tetaplah menghormatinya. Kalau kita lebih senang dengan suasana egaliter, maka terapkanlah di kelas jika kita adalah atau kelak menjadi seorang pengajar.

Advertisements
Categories: gagasan, merenung | Tags: , , , , , , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: