Fenomena Dokter-Dokteran yang Mencelakakan Kita

Wanita berusia 50 tahun itu datang ke UGD dengan lemas. Ia pun langsung berbaring di blangkar, menunggu dokter jaga memeriksanya.

“Kenapa, Bu?” tanya dokter.

“Sesak,” jawabnya.

“Sudah berapa lama sesaknya?” dokter bertanya kembali.

“Sudah lama, biasanya kalau lagi jalan suka muncul sesaknya.”

“Ibu punya darah tinggi?”

“Iya punya, tapi sejak 1 tahun lalu tidak pernah kontrol.”

Sang pasien merasa enggan untuk terus menerus kontrol ke dokter. Entah apa penyebabnya, tapi yang jelas bukan soal biaya. Rumah Sakit pemerintah tempat wanita itu tinggal membebaskan seluruh biaya pengobatan karena masih mendapat subsidi pemerintah daerah.

Diselidiki lebih jauh, ternyata ibu tersebut rajin mengonsumsi suplemen yang merupakan produk dari suatu perusahaan MLM. Saya tidak mengerti semanis apa janji yang diberikan, yang jelas si penjual berhasil membuatnya menghabiskan uang jutaan rupiah! Bandingkan dengan obat penurun tekanan darah yang tidak memakan biaya sama sekali alias gratis. Pada akhirnya, “obat” yang bernilai jutaan rupiah tersebut tidak memberikan kesembuhan, malah membuat sang pasien harus berbaring di rumah sakit karena gangguan pada jantungnya.

Cerita di atas hanya salah satu dari sekian banyak yang ada di dunia nyata. Berapa banyak orang yang harus menjadi korban akibat fonemena seperti ini? Terbaru yang saya lihat ialah screen shot di medsos yang menunjukkan ibu-ibu sedang bermain dokter-dokteran. Seorang anak menderita infeksi telinga, namun bukannya menuruti nasihat dari dokter THT, ibunya malah memberikan obat tetes telinga herbal—entah isi kandungannya apa. Yang lebih celaka lagi, ia disarankan oleh ibu-ibu lain untuk meneteskan ASI atau minyak zaitun ke telinga anak. Herannya, ibu-ibu ini merasa sangat yakin dengan pendapat mereka yang tidak jelas landasannya apa. Luar biasa, bahkan seorang buah hati menjadi kelinci percobaan orang tua yang bermain dokter-dokteran.

Screen Shot yang Menunjukkan Permainan Dokter-Dokteran via https://www.facebook.com/Stop-Antivaks

Screen Shot yang Menunjukkan Permainan Dokter-Dokteran via https://www.facebook.com/Stop-Antivaks

Infeksi telinga seharusnya bukanlah penyakit yang berbahaya. Namun jika tidak ditangani dengan baik, penyakitnya akan menjadi kronis; gendang telinganya yang pecah tidak akan kembali sehingga agar dapat mendengar normal perlu proses operasi. Itu belum memperhitungkan komplikasi infeksi telinga kronis—yang paling berbahaya yaitu jika menjalar sampai ke otak.

Masyarakat yang tidak paham banyak dihipnotis oleh para pengusaha yang ingin mencari untung. Bukan hal yang jarang kita melihat atau mendengar iklan suatu produk suplemen atau “obat herbal” menjanjikan kesembuhan penyakit ini dan itu. Satu obat dikatakan dapat menyembuhkan penyakit darah tinggi, penyakit ginjal, stroke, kencing manis, dll. Hebat sekali, bukan? Padahal, penyakit kronis seperti darah tinggi dan kencing manis bukanlah jenis gangguan yang bisa benar-benar sembuh. Penyakit itu akan terus ada; pengobatan yang bisa diberikan hanyalah mengontrolnya agar penderita dapat menjalani hidup dengan baik.

Tapi, mengapa masyarakat kita lebih senang untuk menjalani terapi yang tidak jelas dasarnya ketimbang ke dokter yang telah menuntut ilmu selama bertahun-tahun? Mengapa bapak-bapak tua dan miskin rela menghabiskan uang berjuta-juta rupiah demi membeli obat tetes mata herbal dengan harapan kataraknya dapat hilang? Kenapa pula ada yang mau mengirimkan uang 7 juta rupiah untuk ustad Guntur Bumi dengan harapan ambeien dan penurunan pendengarannya sembuh, padahal terapinya jelas-jelas penuh mistis?

Sejak berada di bangku kuliah, saya selalu diajarkan bahwa dokter tidak boleh menjanjikan kesembuhan kepada pasien. Yang memberikan kesembuhan bukanlah tenaga kesehatan atau obat-obatan, tapi Tuhan. Dokter hanya menjalankan tugasnya sesuai dengan keilmuan dan prosedur yang bersifat ilmiah.

Ya, ilmiah. Bahwa suatu obat yang terbukti ilmiah tidak 100% dapat menyembuhkan penyakit. Obat disebut terbukti ilmiah karena secara statistik siginifikan memberikan resolusi terhadap penyakit atau meningkatkan angka harapan hidup. Begitu pula prosedur dan tindakan medis yang dilakukan seperti operasi. Sebelum dilakukan tindakan, dokter umumnya akan memberi tahu pasien dan keluarga mengenani peluang kesembuhan bila dilakukan operasi (apakah tinggi, fifty-fifty, atau rendah) dan juga efek sampingnya. Sekali lagi, dokter bukanlah makhluk yang mampu menjanjikan bahwa seseorang akan sembuh. Dokter hanya berusaha, dan Tuhan-lah yang memberikan keputusan.

Dokter Memeriksa Pasien Sesuai dengan Keilmuannya

Dokter Memeriksa Pasien Sesuai dengan Keilmuannya via tanjungpinangpos.co.id

Hal berbeda ditunjukkan oleh para penjual produk suplemen dan obat-obatan herbal. Kalimat “dijamin sembuh” bagaikan gula yang dioleskan ke telinga orang-orang polos. Ketika ditanya bagaimana proses produk mereka dapat memberikan kesembuhan, tidak akan bisa dijawab. Mereka hanya mengandalkan “testimoni” orang-orang yang merasa sembuh untuk meyakinkan konsumen mereka. Padahal, testimoni tidaklah bernilai apa-apa. Suatu pengobatan bersifat efektif jika telah melalui proses percobaan yang panjang dan menjalani uji statistik.

Saya bukanlah orang yang anti pengobatan herbal. Ketika ada pasien yang bertanya apakah mereka boleh mengonsumsi produk herbal atau suplemen, saya jawab silakan saja, asalkan obat-obatan dari dokter tetap diminum. Produk herbal juga ada yang telah menjalani uji coba ilmiah dan terbukti efektif untuk pengobatan. Obat herbal yang telah diuji dan terstandar ini disebut dengan fitofarmaka. Dokter yang berminat dengan dunia herbal pun bisa mengikuti pelatihan khusus mengenai pengobatan herbal yang bersifat ilmiah. Hanya saja, obat herbal yang terbukti ilmiah ini masih sangat terbatas.

Perlu diketahui juga bahwa hal yang bersifat “natural” tidak berarti selalu aman. Contoh sederhana ialah arsenic dan sianida; kedua zat tersebut adalah natural namun mematikan! Begitu pula tanaman-tanaman natural seperti Belladonna dan Opium yang jika tidak digunakan sesuai prosedur dan indikasi yang benar dapat bersifat berbahaya.

Intinya, terkait urusan kesehatan, konsultasi dan tanyakanlah ke pihak yang kompeten yaitu para dokter. Jika merasa tidak enak atau sakit, silakan minum madu, minyak Habbats, berbekam, dan lain-lain. Alhamdulillah jika Tuhan memberikan kesembuhan, Namun jika tak kunjung sembuh juga, jangan tunda untuk segera ke dokter. Jangan konsultasi ke pedagang obat herbal atau orang-orang yang merusak kesehatan anak Indonesia dengan menyerukan antivaksin. Silakan bila masih ingin mengonsumsi suplemen, namun ikutilah pengobatan, saran, dan nasihat dokter.

Kepada para pedagang suplemen atau kelompok proherbal yang antidokter, silakan jika Anda tidak ingin berobat ke dokter dan memilih menjalani pengobatan menurut “keilmuan” Anda sendiri. Jika pun pada akhirnya sakit berat karena suplemen tidak mampu menyembuhkan, kami para dokter masih akan mengobati Anda dengan sekuat tenaga—jika Anda ingin berobat ke dokter. Yang terpenting, jangan ajak orang lain untuk mengikuti pemikiran sesat.

Sayangi diri kita sendiri dan keluarga dengan konsultasi urusan kesehatan kepada ahlinya. Bukankah dalam riwayat Bukhari Rasulullah saw. berkata, ““Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.”? Ahli di sini bukanlah yang bermain dokter-dokteran, melainkan mereka yang telah menempuh pendidikan yang lama—lebih lama dibandingkan bidang ilmu yang lain—dan yang telah teruji kompetensinya hingga menjadi dokter.

 

(catatan: Tulisan tentang jurnal yang menyebut efek hepatotoxic suatu produk herbal dihapus karena setelah di-peer review jurnal tersebut memiliki masalah. Terima kasih bagi yang sudah mengkoreksi)

Advertisements
Categories: gagasan, kesehatan | Tags: , , , | 57 Comments

Post navigation

57 thoughts on “Fenomena Dokter-Dokteran yang Mencelakakan Kita

  1. Adzkiya

    Kadang ke dokter pun ragu. Pasalnya punya temen-temen dokter yg reputasinya selama menempuh pendidikan sering nyontek. Sulit menerka, dokter mana yg betul-betul kompeten…

    Like

    • Salam. Kekhawatiran ketika ingin berobat adalah hal yang wajar. Perlu diketahui untuk menjadi dokter seseorang perlu menempuh pendidikan minimal 5 tahun dan mengikuti ujian kompetensi yang bersifat nasional. Calon dokter yang lulus ujian kompetensi dengan minimal nilai 68 lah yang berhak mendapat sertifikat kompetensi. Setelah itu pun, sebelum praktek, dokter baru harus diasah kembali ilmu klinisinya dengan mengikuti program magang selama setahun.
      Jika berobat ke seorang dokter dan merasa tidak yakin atau tidak ada perbaikan, silakan cari pendapat ke dokter lain (second opinion)

      Like

    • Rivera

      anda sebagai pasien memiliki hak untuk memilih. anda memiliki hak untuk mencari second opinion. maka cari lah dokter yang menurut anda kompeten. jangan hanya krn beberapa orang “yang suka nyontek” lalu anda menganggap semua dokter tidak kompeten. semua profesi pun seperti itu

      Liked by 1 person

    • swexzie

      setidakny ilmuny bnr bu… sdh diuji & diteliti dgn seksama slm puluhan thn…
      seandainy ibu tdk yakin, hak ibu u/konsultasi ke dokter lain mencari 2nd opinion
      sedangkan pengobatan herbal, dsr ilmuny saja blm tentu ad, blm tentu prnh diuji & diteliti, bgmn bs diyakini kebnranny?

      Like

    • dr Wahyu Je

      Seandainyapun benar dokter teman anda itu dulu suka nyontek, setidaknya masih mending krn tetap sj dia telah belajar ilmu kedokteran. Selain itu, dokter toh banyak sekali. Apakah mereka semua nyontek??
      sesuatu yg aneh adl, meragukan kapasitas org yg telah bertahun2 belajar di fak kedokteran. tetapi percaya 1005 pd org yg belum pernah belajar ilmu medis walo hanya sehari sj. Ilmunya hanya diambil dr google dan pengalaman pribadi.

      Like

      • Saphira

        Belajar itu yah mesti nyontek, nyontek TEXTBOOK, nyontek JURNAL, nyontek GUIDELINES. Jadi dokter itu gak bisa cuman ilmu “DENGER-DENGER” tok

        Like

    • yang sangat disayangkan adalah masih banyak sekali dokter yang dengan sengaja “menjual” pasiennya ke perusahaan farmasi, dengan memberikan resep yang mahal hanya karena iming2 bonus jalan2 atau bonus2 lainnya. jadi ya wajar kalau masih banyak kalangan yang tidak percaya dengan dokter. Saya setuju kalau praktek “dokter-dokteran” itu sangat berbahaya dan bahkan bisa membunuh seseorang, namun di luar itu teman-teman yang berprofesi sebagai dokter juga harus introspeksi diri

      Like

      • Tidak benar dokter menjual pasien ke farmasi. Setiap pasien berhak menentukan pengobatannya sendiri. Andaikan ingin obat generik, maka pasien berhak memintanya dan dokter wajib memenuhinya. Ketika meresepkan obat, dokter juga memperhitungkan banyak hal, salah satunya kondisi ekonomi pasien. Orang yang miskin tidak miskin diresepkan obat mahal. Dokter akan meresepkan obat bermerk kepada pasien yang kondisi ekonominya sesuai, itu pun si pasien kaya boleh meminta obat generik kalau mau. Kenyataannya, justru pasien sendiri yang minta diresepkan obat bermerk karena khawatir obat generik kurang ampuh.

        Silakan baca tulisan saya yang ini: https://sayyidhakam.com/2015/11/04/dokter-yang-baik-itu-masih-banyak/

        Like

  2. Bagus Dok! Salam kenal ya…

    Liked by 1 person

  3. Wah, memang sedang rame diskusi tentang mlm itu pak.. Tapi memungkinkan tidak dunia herbal suatu saat nanti tersaintifikasi dengan baik..

    Like

    • Sangat mungkin pak. Fitofarmaka adalah obat herbal yang sudah terbukti secara ilmiah dan telah digunakan di dunia medis. Memang fitofarmaka masih sangat terbatas, tapi bisa saja ke depannya akan semakin banyak penelitian obat berbahan herbal

      Like

  4. Dendku

    Wah saya sepaham sekali dengan tulisan Anda yang ini. Terutama bagian yang satu ini, “Bukankah dalam riwayat Bukhari Rasulullah saw. berkata, “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.”? Ahli di sini bukanlah yang bermain dokter-dokteran, melainkan mereka yang telah menempuh pendidikan yang lama—lebih lama dibandingkan bidang ilmu yang lain—dan yang telah teruji kompetensinya hingga menjadi dokter.”

    Harapan saya juga sama. Bukannya anti sama herbal-herbalan atau sesuatu yang berbau tradisional. Cuma ya mbok dibikin ilmiah gitu, kan jelas. Bukan modal iming-iming sama testimoni (yang kita bisa karang sendiri) yang nggak jelas. Kesehatan padahal aset utama, kok buat memeliharanya pakai terka-terka. Btw nice post you have here, Dok. Keep blogging dan salam kenal ya.

    Like

  5. Neysa NR

    Yang saya heran, beberapa penjual suplemen MLM yang membantu proses dokter-dokteran ini adalah juga sejawat kita sendiri yang mencari tambahan penghasilan.

    Like

    • Betul. Sy pribadi tidak menentang produk MLM. Adalah wajar ada perusahaan yang berjualan dengan mengharapkan keuntungan. Namun pernyataan seperti “suplemen ini dapat menyembuhkan penyakit bla bla bla” lah yang sesat dan seharusnya ada regulasi tentang iklan suplemen, Adanya sejawat kita yang ikut berjualan semoga dapat mengedukasi masyarakat tentang hal ini

      Like

  6. dhini

    Ass, sungguh sangat miris membaca artikel ini.
    tetepi malah manyalahkan satu pihak saja, yaitu masyarakat.
    coba d lihat segi tenaga medisnya, coba tenaga medis bisa menjanjikan janji semanis para pedagang MLM itu, memberikan pelayanan yg ramah dan sopan, tidak angkuh dan sombong, memberikan pelayanan yang maksimal bukan malah membiarkan pasien menunggu dan malunasi pembayaran baru bisa d tangani, dan lagi prosedurnya yang masih sangat rumit dan berbelit belit membuat orng enggan dan malah memilih MLM yg bayar trus dapat barangnya.
    syukron 😃

    Like

    • Wa’alaykumslm wrwb. Sekali lagi maaf, dokter secara etika tidak boleh menjanjikan kesembuhan. Dokter hanya berusaha dengan bekerja sesuai dengan keilmuannya yang bersifat sainstifik, urusan kesembuhan merupakan wewenang Tuhan.
      Tentang pelayanan, memang merupakan PR setiap tenaga kesehatan untuk bisa memberikan pelayanan sebaik mungkin, walau jumlah pasien khususnya di era JKN ini sangat sangat membludak.
      Tidak ada fasilitas kesehatan yang menuntut pasien untuk membayar dulu baru dilayani; semua pasien yang datang berobat akan dilayani terlebih dahulu. Jika pasien ternyata belum terdaftar sebagai peserta BPJS, pihak RS akan memberi waktu kepada keluarga untuk mengurus kepesertaannya sedangkan sang pasien akan tetap dirawat.
      Tentang prosedur, tidak bisa dipungkiri sistem JKN yang ada sekarang jauh dari kata sempurna dan punya amat sangat banyak masalah. Walau banyak yang mengatakan sistem sekarang masih “amburadul”, tetap nakes akan berusaha memberikan pelayanan semaksimal mungkin, dan semoga pemerintah dapat memperbaiki JKN yang ada sekarang ini menjadi lebih baik.

      Btw, sy tidak menyalahi masyarakat, tapi menyesali pihak MLM atau proherbalis-antidokter yang memberikan informasi yang menyesatkan

      Like

      • caca

        Tapi kenyataanya pelayanan kesehatan dr rs pemerintah kurang baik tdk usah disebutkan bagian yg mana kurang baiknya klo mau ditulis cukup untuk dibukukan.. Sedikit berbeda dgn pelayanan rs swasta mereka lebih sigap melayani pasien urusan adm dan tetek bengeknya itu no 2
        Klo di rs pemerintah kadang + sakit dgn pelayanan para nakes, perawatnya
        Mungkin dunia kesehatan indonesia tidak memberikan mata kuliah pelayanan kesehatan ataupun etika melayani dlm dunia kesehatan..

        Like

    • @caca: betul, memang RS pemerintah identik dgn pelayanan buruk sedangkan RS swasta sebaliknya. Hal ini krn RS swasta fokus ke pemberian layanan yg baik. Hal itu pula yg membuat banyak RS swasta membatasi jumlah pasien BPJS demi menjaga kualitas RS. Ini karena jumlah klaim yg dibayarkan BPJS seringkali tidak sesuai dengan biaya yg dikeluarkan RS. Sedangkan RS pemerintah tdk bisa membatasi pasien BPJS, akibatnya jumlah pengunjung sangat membludak. Setiap harinya masyarakat harus antri di loket RS dari jam 2 subuh agar mendapat layanan.
      Ini merupakan PR kita semua, yaitu memperbaiki sistem kesehatan yg ada sekarang. BPJS sangat bermanfaat buat masyarakat, tapi sistemnya masih banyak yg perlu diperbaiki. Setiap pasien berhak memilih dokter atau layanan kesehatan yg akan ditujunya utk mendapat pelayanan

      Like

  7. Oscar Tamba

    Pemerintah harus lebih ketat dalam mengawasi peredaran suplement dan obat2 herbal sehingga tidak ada yang menyalah gunakan dan merugikan masyarakat.

    Like

  8. Susilawati

    Maaf, sy punya pengalaman buruk berobat ke dokter anak dan itu tidak terjadi 1 kali ,sehingga sy
    perpandangan banyak dokter yg orientasinya bisnis semata, sehingga sy rada takut ke dokter.
    Bahkan ada dokter yg mengatakan banyak obat kimia yg dibuat dari barang haram menurut islam.

    Like

    • Jika tidak merasa cocok dengan satu dokter, silakan cari second opinion atau berobat ke dokter yang lain. Mungkin ada dokter yang kurang baik, tapi dokter yang baik ada banyak

      Anak adalah buah hati kita, juga aset masa depan bangsa. Akan sangat disayangkan jika kesehatan anak yang sangat kita cintai diletakkan kepada orang-orang yang tidak mengerti ilmu-ilmu kesehatan dasar seperti anatomi dan fisiologi, karakteristik tumbuh kembang, hingga dosis obat anak. Ilmu kesehatan anak merupakan disiplin tersendiri yang menurut saya “lebih rumit daripada penyakit orang dewasa”. Silakan dipertimbangkan, demi buah hati anda sendiri.

      Tentang obat haram, seperti vaksin, apa yang beredar di Indonesia merupakan vaksin buatan Biofarma yang sudah dilabeli halal oleh MUI

      Like

  9. Amsar AT

    Terima kasih, bagus sekali. Salam kenal. Mohon izin share ya. Wassalamu alaikum.

    Like

  10. akhmadi

    produk sekelas fitofarmaka yang melalui proses penelitian yang panjang saja berhati2 dalam mengklaim khasiatnya, lah ini produk herbal MLM yang cuman sekelas “jamu” bisa2nya klaimnya mengalahkan obat kimia, waspadalah2…

    Like

  11. anakodok

    Untuk masyarakat yg masih ragu sama dokter dan lebih yakin sama herbal, saya mau berbagi pengalaman.

    Dulu saat saya koass, salah satu konsulen saya, seorang dokter spesialis penyakit dalam, sekolah lagi ke cina selama 2 tahun untuk mempajari tentang herbal.

    Walaupun beliau sdh sekolah lagi kesana, saat mengobati pasien beliau tetap menggunakan obat konvensional biasa sebagai terapi utama. Sedangkan herbal cuma sebagai pelengkap.

    Jadi, beliau saja, seorang dokter spesialis penyakit dalam, yg kemudian sekolah lagi selama 2 tahun di cina dan berguru langsung ke shifu disana, tidak berani memakai obat herbal sebagai terapi utama.

    Tetapi anehnya, para pekerja MLM, yg cm membaca kandungan obatnya dibrosur, berani menjadikan obat herbal sebagai terapi utama dan menjanjikan penyembuhan.

    Jadi silakan anda simpulkan sendiri.

    Liked by 1 person

  12. Mustafa Subandi

    Salam kenal dokter…
    Salam Sejahtera utk kita semua…..

    Saya adalah pelaku bisnis suplemen dan vitamin dgn sistem MLM dan saat ini juga masih sdg menjalaninya dan saya sangat setuju sekali dgn apa yg dokter jabarkan. Setiap kata2 yg dokter sampaikan sangat benar dan sering terjadi di tengah2 masyarakat kita.

    Tentang saran second opinion , saya juga sangat setuju sekali. Byk kita jumpai dlm bisnis apapun , ada saja “oknum nakal” yg berusaha mengambil keuntungan pribadi. Maka kita masing2 individu masyarakat harus belajar lbh bijaksana dlm menangani kesehatan tubuh kita dan keluarga. Celakanya saat ini banyak masyarakat kita yg tidak bijaksana sehingga bisa terjerat dlm janji janji muluk sang “oknum nakal” tsb.

    Harapan saya adalah kedepannya masyarakat Indonesia bisa lebih bijaksana dlm menangani kesehatan serta mempunyai konsep pemikiran yg bijaksana pula , jangan lagi menuntut JAMINAN KESEMBUHAN dari dokter yg merawatnya maupun dgn cara mengkonsumsi suplemen & vitamin sepihak semata.

    Posting yg sgt edukatif dan inspiratif dokter… Sangat balancing baik dr sisi dunia kedokteran maupun herbal. Mohon izin share…. Keep blogging…
    Thank you very much….

    Like

    • Salam, terima kasih sudah berkomentar
      Memang sangat disayangkan pemahaman masyarakat kita masih kurang baik mengenai kesehatan. Dunia medis mengakui keberadaan vitamin dan suplemen sebagai obat tambahan untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Namun bila tubuh dalam keadaan sakit, suplemen tidaklah cukup. Perlu dilakukan evaluasi lebih mendalam oleh tenaga kesehatan untuk mengidentifikasi penyakitnya. Suplemen tetap bisa diminum, tapi pengobatan dari tenaga kesehatan merupakan yang utama

      Sy yakin bapak Mustafa bisa memberikan pemahaman kepada para pelanggan 🙂

      Like

  13. Saya masih agak bingung dgn penggunaan kata “obat herbal” saat ini dengan obat tradisional. Karena sepengetahuan saya obat tradisional adalah bahan atau campuran bahan-bahan yang diambil dari tumbuhan, hewan, mineral atau sediaan galenik lainnya yg secara turun-temurun digunakan sebagai pengobatan berdasarkan pengalaman. Sebenarnya sebelum ada pengobatan modern atau obat-obatan sintetik saat ini, obat tradisional sudah sejak lama digunakan u/ pengobatan. Dan itu sudah secara turun temurun digunakan sampai saat ini…. Mungkin yg perlu diperhatikan adalah regulasi dalam pengiklanan obat herbal. jangan sampai ada lagi “oknum-oknum” yang menjual/mengiklankan obat herbal dengan janji/ iming-iming sembuh dari segalah penyakit. Sebaiknya tetap memeriksakan diri dan berkonsultasi dengan tenaga medis yg berkopeten sekalipun menggunakan “obat herbal”….

    *semoga perkembangan fitofarmaka di indonesia semakin maju sehingga kedepan semakin banyak obat fitofarmaka yg bisa digunakan untuk tindakan medis.

    Like

  14. Ikut urun rembug Pak dr. Sayyid Hakam. Saya dan team juga memasarkan produk suplemen herbal yang sudah memenuhi standar Internasional dengan proses seleksi bahan, penelitian dan produksi yang sangat ketat. Ketika ada konsumen dengan keluhan sakit tertentu, kami tidak sembarangan memberikan produk. Sebelumnya kami meminta data lengkap konsumen termasuk diagnosa dokter, kondisi dan keluhan saat ini. selanjutkan kami konsultasi dengan dokter konsultan produk. Dan dokterlah yang memutuskan produk mana yang dianjurkan dan dosis konsumsinya. jadi kami sebagai marketing produknya tidak menjadi “dokter-dokteran”, karena ada dokter yang menganalisa dan menentukan produk dan dosis yang tepat sesuai keluhan dan diagnosa sang konsumen. Produk kami juga bukan pengganti obat dokter, tapi sebagai pendamping. Ini salah satu artikel yang saya posting di blog kesehatan setelah sebelumnya konsultasi dengan dokter konsultan produk ==> http://www.infodetoxyourbody.com/…/penjelasan-medis…

    Like

    • Salam, terima kasih sudah berkomentar
      Dunia medis mengakui obat herbal dan suplemen lainnya. Hanya saja memang masyarakt perlu diedukasi bahwa bila mengalami suatu penyakit, suplemen dan herbal tidaklah cukup, perlu evaluasi lebih mendalam apakah melalui pemeriksaan fisik atau laboratorium untuk dapat menemukan penyebab masalahnya. Adanya oknum-oknum nakal penjual obat suplemen yang hanya berorientasi keuntungan dengan memberikan informasi yang salah semakin memperburuk keadaan.

      Semoga para pelaku bisnis suplemen dan herbal juga bisa memberikan edukasi kepada masyarakat 🙂

      Like

  15. Pingback: Fenomena Dokter-Dokteran, "Obat Herbal" Dan MLM - dental.id

  16. Entah kenapa orang patah tulang lebih percaya kepada tukang urut dari pada dokter, jika tukang urut pegang2 sampe pasien menjerit2 keluarga dan pasien selalu tabah atas jeritan itu karena yakin bahwa itu adalah proses pengobatan, tapi kalau dokter yang pegang2 sedikit lalu pasien merintih, emosipun mulai terjadi, minta pegang pelan-pelanlah atau jangan terlalu kuat dok, mereka tidak tega dengan rintihan tersebut, kan dia sakit. miris :’)

    Like

  17. Muflihanah

    Karena saya gak bisa copy PDF ke FB…
    Ini jawaban ilmiahnya…bisa dicek satu-satu

    References:

    • Appelhans K, Frankos V, Shao A. Misconceptions regarding the association between
    Herbalife products and liver-related case reports in Spain. Pharmacoepidemiology
    and Drug Safety, 2012;21:333–334.
    DOI:10.1002/pds.http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/pds.3203/abstract

    • Appelhans, Kristy; Smith, C; Bejar, E; Henig, YS (2011). “Revisiting acute liver injury
    associated with herbalife products”. World Journal of Hepatology 3 (10): 275–7.
    doi:10.4254/wjh.v3.i10.275. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3208182/

    • Appelhans K, Goldstein L. Revisiting liver injury associated with dietary supplements.
    Liver Int 2011. DOI:10.1111/j.1478-
    3231.2011.02547.x. http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.1478-
    3231.2011.02547.x/abstract

    • Appelhans K, Frankos V. Herbal medicine hepatotoxicity revisited. J Hepatol
    2011.DOI:10.1016/j.jhep.2011.06.01910. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/21782
    760

    • Bejar E, Smith CR, Appelhans K, Henig YS. Correcting a misrepresentation of
    hypervitaminosis A attributed to Herbalife product consumption. Exp Mol Pathol 2011;
    90(3):320–321. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/21315714

    • Ignarro L, Heber D, Henig YS. Herbalife nutritional products and liver injury revisited.
    J Hepatol 2008.
    DOI:10.1016/j.jhep.2008.05.005. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18550201

    • K. Appelhans, R. Najeeullah & V. Frankos. Letter: retrospective reviews of liver-
    related case reports allegedly associated with Herbalife present insufficient and
    inaccurate data. Aliment Pharmacol Ther 2013; 37:73-74.
    doi:10.1111/apt.12217.http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/apt.12217/full

    • K Appelhans, R Najeeullah, & V Frankos. Letter: A correction of misinformation
    regarding Herbalife. World J Hepatol 2013 October 27; 5(10): 601-602.
    doi:10.4254/wjh.v5.i10.601. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3812465/

    • K Appelhans, R Najeeullah, V Frankos & A Shao. Outdated Perspectives Potentially
    Biased Conclusory Statements Regarding Herbalife Products. Journal of Applied
    Pharmaceutical Science Vol. 4 (02), pp. 133-134, February, 2014. DOI:
    10.7324/JAPS.2014.40222. http://www.japsonline.com/admin/php/uploads/1199_pdf.
    pdf

    • K Appelhans, R Najeeullah, & V Frankos. Considerations regarding the alleged
    association between Herbalife products and cases of hepatotoxicity. Internal and
    Emergency Medicine. January 2014. http://link.springer.com/article/10.1007/s11739-
    014-1048-9?sa_campaign=email/event/articleAuthor/onlineFirst

    • R Teschke, C Frenzel, J Schulze, A Schwarzenboeck, & A Eickhoff. Herbalife
    hepatotoxicity: Evaluation of cases with positive reexposure tests. World J Hepatol
    2013 July 27; 5(7): 353-363.
    doi:10.4254/wjh.v5.i7.353.http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articl

    Like

  18. Richard Ariesta

    Salam dunia medis dok…
    Saya mahasiswa profesi keperawatan yg sebentar lagi selesai studi…
    Dok saya pernah di ajak argumen sama org MLM herbal dgn pengetahuan dadakan cba menjudge katanya obat herbal yg di jualnya sdh digunakan di beberapa negara tp saat saya tanya ttg efeksampingnya dia malah anjurkan saya buka google untuk memastikan obatnya itu nggak ada efek sampingnya.. Saya bingung aja sih dok dgn org awam cba menghakimi kalau dgn obat herbalnya pasti sehat dan nggak ada efek samping… Dlam hati saya tertawa krna dia nggak tau kalau saya seorang perwat…. Salam dunia medis

    Like

    • Salam balik 🙂

      Like

    • rosita

      yang ngaku jual herbal itu, tanya bahan2 bakunya apa saja, kebunnya dimana? organik tidak? kalo organik cara tanamnya bagaimana? cara panennya gimana? pabriknya seperti apa? berapa lama proses dari panen ke tablet dan di kemas? apakah gunakan robot apa manusia ketika proses di dalam pabrik

      Like

  19. Dr ira

    hayati lelah bang stiap dewan medis herbalife mau mampir ke indonesia, cerita si jurnal sampah thn 2008 ada aja yg nge booming in lage, jd sya harus berkali2 posting sanggahan resmi nya dr medical advisory board herbalife corp terus menerus, kan basi bgt timeline gw jd nya, kan ngerusak isi moment path gw jadinya, hadeh hadeh..

    skrg gini deh kira2 klo emang bner gw yg udh 4th mnum tiap hari, tmn gw yg udh brpuluh2 th mnum tiap hari pastilah udh mati gegara organ failure tp knyataannya alhamdulillah makin sehat dan keren gitu

    heran, nasi uduklontong sayur dkk yg nyebabin udh psti kolesterol naik klo dikonsumsi tiap hari kok ga prnh dibikinin laporan kasusnya dan penelitiannya si. hehe
    #peace

    yg males liat link nya
    Ringkasnya begini
    ditulis by dr. riski sp tht kl

    [4/4, 8:50 AM] Dr.Riski Satria Sp.THT-KL: Itu jurnal udah lama. Dan selalu beredar saat akan ada dr.herbalife mau datang ke indonesia.

    Itu jurnal sampah. Ntah kenapa bisa masuk ke elsevier

    Itu artikel yg banyak menyalahi aturan penulisan makalah ilmiah.

    Mengapa itu jurnal sampah

    1. Mereka menulis merk bukan zat aktif.

    Contoh. Parasetamol bs menyebabkan hepatotoksik.
    Nah…
    Kita ga bisa menulis sanbe menyebabkan hepatotoksik.
    Atau sanmol menyebabkan hepatotoksik.

    Tp kita harus tulis dengan lengkap.
    Contoh : parasetamol jika dikonsumsi selama sekian waktu dengan dosis lethal atau diatas range of safety 2000mg setiap hari selama 1 bulan yg menyebabkan hepatotoksik dan sanbe punya produk yg mengandung parasetamol.
    Harus disebutkan sudah dilaporkan berapa kasus atau penelitian lab pada hewan

    2. Menyalahi tatacara metoda penelitian.
    Itu adalah laporan kasus.
    Tp ditulis seakan2 seperti penelitian. Ada metoda dan kesimpulan.

    Laporan itu tidak menyebutkan awalnya pasien punya keluhan apa.

    Sepertinya itu memang ada tendensi bisnisnya.
    Dokter atau orang yg mempercayai mentah2 artikel itu adalah orang yg kurang banget pengetahuannya ttg metode penelitian. Mungkin saat dosen metodologi penelitian ngasi kuliah dia sedikit lelah jadi ga memperhatikan atau ga masuk.
    😃😃😝😝

    #nooffense

    Like

  20. ochijazziepro

    Baby saya 8m17d, dari awal lahir sudah ganti DSA 3x. karna saya selalu mencari second opinian. Prinsip saya, DSA itu banyak di Jogja, saya cuma ingin memberikan yang terbaik untuk anak saya. Sakit pun kalopun terpaksa harus diberi obat saya selalu bilang, minta obat yang terbaik tapi dosis sedang. Mau kok ngasih. Mereka orang-orang yang berkompeten dibidangnya. Daripada saya coba-coba untuk anak saya, lebih baik konsultasi kepada ahlinya. Bukan saya anti obat herbal, saya mencari amannya saja.

    Like

  21. Saya sudah tidak percaya lagi dengan obat2an herbal tanpa rekomendasi dokter, 6 bulanan yg lalu kakak ipar saya berniat baik membelikan herbal (ramuan daun kelor dan kulit manggis) kepada orang tua saya. Supaya menyembuhkan pikun Bapak. Beberapa hari setelah minum herbal tersebut Bapak saya kakinya bengkak bukan asam urat bukan ginjal. Dan Ibu saya yang ikut2an minum dengan niat lebih fit malah mengalami pendarahan seperti menstruasi padahal usia sudah 64 an…Sejak saat itu tidak lagi mau mencoba-coba lagi obat herbal yang tidak jelas prosesnya dan bukan rekomendasi dokter.

    Like

  22. Lia

    Saya punya anak 7th, dia ada amandel, ada yg blg hrus d angkt krn dia tdr nya ngorok, kejadian pas seminggu yg lalu, ank sy hrus nya operasi wlopun dr.tht nya tdk mnyruh oprasi hanya blg, klo mau d angkt amandel nya bu, krn dia smpet sakit telinga nya habs brenang kmrn,diperiksa dr.tht nya dia kuping nya gpp, tp amandel nya mmg bsr, sabtu oprasi, tp enth knpa jumat ada yg blg jgn d oprasi pke obt herbal aja, sya jd bingung, pgn tau gmn proses klo mau oprasi, apak menyakitkan stlh oprasi nya?,sya ga tega sm ank sya liat klo abs oprasi nya😟😞, sya butuh jwabn yg bs menenangkan sy,klo mmg ini yg terbaik bwt ank sy hrs d agkt amandel nya, sy iklas deh, tp mohon pencerahan nya..need it !!

    Like

    • Hafida Qodrina

      Bu lia, dulu waktu kelas 1 SD amandel saya dipotong karna bengkak, sekarang udah punya anak 2 alhamdulillah amandel saya baik2 aja tanpa ramuan herbal, tentunya juga atas kehendak Allah.
      Anak saya 2-2nya di operasi kecil karna tongue tie dan lip tie pada umur 40 hari dan 21 hari, alhamdulillah mereka baik2 aja dan sekarang berumur 3 tahun dan 6 bulan.
      Inti cerita saya adalah pertama, operasi amandel bukan hal yang perlu ditakutkan kalo itu emang udah disarankan ahlinya, kedua, terkadang kita harus tega melihat anak kita “disakiti” untuk kebaikan mereka, dan memang harus belajar bahwa hidup tak selalu indah.
      Itu cuma sharing aja ya, keputusan di masing2 😉

      Like

  23. Diana

    Setiap orang mempunyai bidang ke ahlian masing masing
    pingin anak pinter renang…..les ke guru renang
    pingin bisa nyetir…..les pada lembaga yang ngajari nyetir
    bikin bikin kebaya…..hubungi Ivan Gunawan
    kalo sakit n pingin sembuh ikhtiarnya ya ke Dokter…yang udh sekolah dan praktek bertahun tahun
    kalo ke sales MLM yang tujuannya menjual produk herbal tapi nggak tau ilmunya….ya silhkan ditanggung resikonya…

    Like

  24. nouri

    Masalahnya sekarang juga banyak dokter yg memanfaatkan pasien untuk mencari keuntungan. Ya sama saja. Misal si A sakit X. Harusnya bisa langsung dikasih Obat Z biar langsung sembuh, ini dikasih obat Y dulu biar agak lama sembuhnya dan makin sering ke praktek dokter, lumayan pasien nambah.
    Tenaga medis di Indonesia terkenal pelit ilmu dan acuh dengan pasien, memanfaatkan keadaan pasien yg terjepit untuk kepentingannya sendiri. Atau dia memang betul2 tidak kompeten.

    Jika tidak, tak mungkin orang beramai ramai berobat ke luar negeri demi mendapat kepastian dan profesionalisme dokter. Kalopun ada dokter yg cerdas dan bagus, harganya mahaaalll, atau dokter luar biasa seperti Adnan Lelo yg punya dedikasi tinggi, dan tidak mematok tarif, hidup bersahaja, hanya satu orang diantara sejuta dokter

    Like

    • Mbak nouri yg baik, sy ingin memberi saran, sebaiknya kalau berkomentar dipikirkan dulu baik baik. Tolong berikan data yg valid dan jangan asal.
      Terima kasih

      Like

    • Bu nouri yang baik, Kalo saya pribadi justru mendapat pwngalaman yang sebaliknya dari ibu, alhamdulillah tidak pernah menemui dokter seperti yang ibu ceritakan, semua dokter yang saya temui komunikatif, gak mata duitan dan sangat care dengan pasien, bahkan menyediakan layanan konsultasi gratis by phone (sms , wa, bbm dll.) , jadi gak perlu pergi ke klinik dan gak perlu bayar, begitu bu pengalaman yang bisa saya share disini

      Like

  25. Jika kita sakit atau terkena penyakit sebaiknya langsung memeriksakan diri ke dokter serta jika kita tidak tau cara mengobatinya ya jangan sesekali melakukan pengobatanya sendiri.

    Like

  26. pada hakekatnya herbal itu sama saja ky obat farmasi, hanya tanpa dosis. jd inget rumput fatimah yg bisa bikin celaka

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: