Monthly Archives: April 2016

Apakah Memberikan Layanan Pengobatan Gratis Merupakan Hal yang Tepat?

Ada banyak cara bagi manusia untuk beramal. Bahwa hidup sebagai bentuk ibadah kepadaNya telah direalisasikan oleh banyak orang dengan memberi bantuan kepada sesama secara ikhlas. Begitu juga bagi mereka yang dipandang oleh kebanyakan masyarakat sebagai orang dengan profesi bergengsi: dokter. Tidak perlu diragukan bahwa fakultas kedokteran merupakan salah satu destinasi pendidikan yang sangat diminati. Amat banyak yang berlomba-lomba agar dapat bekerja sambil mengenakan jas putih. Apa alasannya? Tak bisa dihindari, bahwa dokter sering diidentikkan dengan kesejahteraan tinggi.

Tapi prestise seperti itu untungnya tidak melunturkan kejernihan hati mereka yang idealis. Sebut saja dokter Lo. Laki-laki yang bernama lengkap Lo Siaw Ging ini tidak pernah menetapkan tarif. Dari rata-rata 60 pasien setiap harinya yang datang berobat, sekitar 70% tidak membayar dan beliau tidak keberatan. Tempat praktek yang juga rumahnya di Solo itu tidak hanya dipenuhi oleh pasien dari kota yang sama, tapi juga dari kota-kota sebelah. Begitu pula Prof. Aznan Lelo, seorang guru besar farmakologi klinik di Medan, membuka praktik tanpa papan nama. Beliau akan merasa tersinggung jika ada pasien yang datang berobat dan menanyakan harga jasanya. Ya, beliau tidak ambil pusing berapa pun bayaran yang pasien berikan, atau bahkan jika tidak dibayar sama sekali. Tetap saja mereka dilayani dengan obat racikannya sendiri atau obat-obat resep yang harganya terjangkau.

Dokter Lo via biografiku.com

Dokter Lo via biografiku.com

Prof-Dr-Aznan-1

Prof. Dr. Aznan Lelo via silet.info

Dua di atas hanyalah sebagian dari banyak cerita yang ada. Tentu masih banyak dokter-dokter yang rela bekerja dengan tidak memikirkan apakah mereka dibayar atau tidak. Keinginan mereka hanyalah menjalankan profesi sebaik-baiknya untuk menolong yang membutuhkan. Kita harus bersyukur, di tengah persaingan ketat dan biaya sekolah kedokteran yang tidak murah, masih banyak yang ingin membaktikan dirinya untuk kemanusiaan,

Nilai positif dari hal ini tentu tidak diragukan, namun apakah memberikan layanan pengobatan gratis adalah hal yang tepat? Apalagi saat ini Indonesia sudah memasuki era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Dengan sistem kesehatan yang bermaksud meng-cover seluruh masyarakat tanpa terkecuali, masih perlukah mereka dilayani di klnik-klinik yang membebaskan biaya?

Sayangnya kesejahteraan negeri ini belumlah merata dengan baik. Ekonomi yang buruk telah membentuk mental masyarakat kita yang menyenangi semua yang bersifat gratis, bahkan menuntutnya. Lihat saja jika ada yang mengadakan bakti sosial balai pengobatan gratis. Orang-orang akan berbondong-bondong, bahkan yang tidak sakit pun ikut datang. Karena ada yang gratis, yang sehat pun akan merasa dirinya sakit demi mendapat obat secara cuma-cuma. Ketidaksenangan bisa muncul jika tidak diberi obat karena dokter memutuskan bahwa mereka sehat wal afiat. Juga jika orang-orang kesehatan dari kota ingin melakukan screening atau survey kesehatan ke desa. Mereka akan kecewa, atau bahkan kurang menyambut dengan hangat, jika tidak diiringi dengan pengobatan gratis.

Setelah balai pengobatan selesai, selesaikah masalah kesehatan masyarakat tersebut? Tentu tidak. Masalah kesehatan yang bermula dari minimnya pendidikan, gizi yang kurang, dan sanitasi buruk tidaklah terpecahkan. Untuk kontrol ke puskesmas pun bisa jadi enggan karena akses yang sulit.

Dokter Sedang Memberikan Layanan di Balai Pengobatan

Dokter Sedang Memberikan Layanan di Balai Pengobatan

Bukankah layanan klinik pengobatan cuma-cuma dapat semakin menanamkan mental mereka yang ingin serba gratis?

Adanya tempat yang memberikan layanan gratis juga dapat memberikan edukasi yang buruk kepada masyarakat. Untuk apa menjaga dan memelihara kesehatan? Toh, ada dokter yang mau memeriksa dan memberikan obat tanpa biaya. Tidak apa terus merokok atau minum alkohol atau tidak mengontrol makanan, nanti kalau merasa sakit tinggal datang ke dokter dan dapat obat. Setidaknya, senior saya yang sempat membuka tempat praktik gratis memutuskan untuk menghentikannya karena alasan di atas.

Selain itu, sebenarnya layanan klinik gratis kurang selaras dengan sistem JKN yang telah diterapkan sekarang. Bagaimana bila klinik gratis ada di mana-mana, masyarakat menjadi berpikir, “Jika bisa berobat gratis, untuk apa capek-capek bayar iuran BPJS per bulan?” Terlebih, layanan bagi peserta BPJS hingga saat ini terkenal tidak memuaskan. Bukankah lebih baik datang saja ke klinik yang bersedia tidak mematok tarif? Pemikiran ini bisa berakibat fatal.

Semenjak diluncurkan di awal tahun 2014, pelaksanaan JKN menuai banyak ketidakpuasan. Sampai sekarang, nada-nada miring tentang BPJS masih bergema. Inti permasalahan dari sistem kesehatan sekarang ialah adanya defisit (orang BPJS menolak disebut ‘defisit’ tapi ‘mismatch’).

Ralat, bukan sekedar ada, tapi sangat besar. Pada 2014, BPJS mengalami defisit sebesar 3,3 triliun dan pada tahun 2015 mengalami kenaikan menjadi 6 triliun. Ini dikarenakan jumlah peserta BPJS terus mengalami peningkatan, sedangkan penerimaan yang diperoleh sangat tidak seimbang dibanding pengeluaran. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Prinsip dari sistem asuransi kesehatan nasional ialah gotong royong. Sumber pendanaan untuk membiayai pelayanan kesehatan seluruh warga Indonesia yang terdaftar ialah dari iuran premi per bulan—selain suntikan dana dari pemerintah. Jika banyak peserta yang tidak taat untuk terus membayar per bulan, maka merugilah ia.

Peserta yang paling membebani JKN ialah golongan Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU). Tidak seperti karyawan yang langsung dipotong gajinya untuk iuran BPJS, mereka mesti membayar sendiri secara manual, dan resiko ketidakdisiplinan sangat besar. Yang sangat disayangkan lagi ialah moral yang sangat buruk dari peserta ini. Mereka akan membayar BPJS jika sedang menderita sakit atau membutuhkan perawatan. Sebagai asuransi sosial, BPJS wajib langsung menanggung biaya pengobatannya. Tapi, setelah sembuh, banyak dari mereka yang tidak mau membayar iuran lagi. Bisa dibayangkan, orang yang baru daftar BPJS dengan membayar 30 ribu langsung mendapat layanan operasi seharga belasan juta? Dan setelah selesai operasi, ia tidak mau bayar iuran lagi?

Sudah pasti BPJS defisit.

Keuangan BPJS yang “rugi” ini berbuntut panjang. Besaran kapitasi dan klaim yang dibayarkan BPJS ke faskes/RS menjadi sangat kecil. Pelayanan berharga jutaan rupiah hanya dihargai ratusan ribu. Kapitasi yang tak seberapa membuat minimnya sarana dan obat-obatan yang tersedia di faskes tingkat pertama; pasien pun kemudian dirujuk. Rumah sakit menjadi penuh sesak oleh pasien-pasien rujukan. Pembayaran klaim atas pasien BPJS yang sangat rendah membuat RS menombok cukup besar. RS sudah pasti rugi jika ada pasien BPJS masuk ICU. Akibatnya, supaya tidak gulung tikar, RS swasta membatasi jumlah bed untuk peserta BPJS. Bagi yang tidak kebagian tempat, akan dirujuk ke RS pemerintah yang disokong keuangannya oleh pemerintah.

Jumlah pasien rujukan di RS pemerintah semakin membludak. Ruangan rawat inap atau ICU yang sudah penuh memunculkan headline berita “Rumah Sakit Menolak Pasien Miskin”. Pasien harus mengantri dari jam 2 pagi di loket untuk mendaftar ke poliklinik. Malas mengantri di poli, mereka datang langsung ke Instalasi Gawat Darurat (IGD). Tapi sayang, karena tidak sesuai dengan kriteria gawat darurat yang BPJS tetapkan, akhirnya mereka harus membayar sendiri (tidak ditanggung BPJS). Tidak puas, pasien protes dan marah-marah ke dokter/RS yang hanya menjalankan protokol dari BPJS. Kondisi IGD juga seperti festival pasar malam karena saking penuhnya. Jumlah pasien yang sangat banyak membuat para dokter kelimpungan dan kelehahan; misdiagnosis seperti penyakit jantung yang dikira sakit mag pun terjadi….Tidak perlu bicara tentang besaran honor untuk tenaga kesehatan yang sudah banyak dipotong.

Merugi, BPJS pun meminta injeksi dana dari pemerintah. Karena banyak untuk BPJS, alokasi anggaran kesehatan untuk Kementerian Kesehatan menjadi berkurang. Akibatnya, dana yang ada untuk menjalankan program-program Kemenkes dan meningkatkan sarana-prasarana kesehatan menjadi tidak optimal.

Buntut dari permasalahan defisitnya anggaran BPJS sangat panjang dan berdampak besar. Sudah defisit, banyak yang tidak mau ikut sistem gotong royong ini dengan mendaftar sebagai peserta; mereka memilih berobat saja ke klnik yang gratis. Bukankah dapat membuat keadaan semakin parah?

Jika memang pengobatan serba gratis hakikatnya tidak mendidik masyarakat dan juga berdampak negatif bagi sistem kesehatan, lalu apa yang bisa dilakukan? Tidak adakah celah bagi mereka para pengabdi yang benar-benar ikhlas ingin menolong orang untuk sukarela?

Saya pribadi berpendapat, hal yang tepat di era JKN ini ialah memperbanyak fasilitas kesehatan tingkat pertama. Puskesmas dan juga klinik-klinik tingkat pertama seharusnya menjadi ujung tombak dalam sistem kesehatan sekarang. Jika pelayanan primer baik dan maksimal, jumlah rujukan akan berkurang; biaya yang dikeluarkan bisa tertekan. Dana yang ada pun bisa lebih dioptimalkan untuk peningkatan kualitas layanan.

Mungkin akan sangat baik jika memperbanyak klinik-klinik primer BPJS. Dokter di klinik itu mengajak seluruh warga di sekitarnya untuk mendaftar BPJS. Tidak hanya itu, tugas tenaga kesehatan juga untuk memotivasi mereka supaya taat bayar iuran per bulan. Kesuksesan sistem kesehatan ini sangat bergantung dari ketaatan pesertanya untuk bayar iuran. Selain pembiayaan pelayanan, BPJS juga mengalokasikan untuk program promotif dan preventif yang bisa dilaksanakan oleh klinik-klinik pratama. Syukur benar jika masyarakat benar-benar berhasil diberdayakan untuk menjaga kesehatannya sendiri, sehingga biaya untuk pengobatan juga bisa kembali dihemat.

Tantangan dari pendirian klinik BPJS ini mungkin ialah kapitasi yang tidak seberapa. Hal ini membuat klinik-klinik melakukan penghematan sebisa mungkin, contohnya penyediaan jumlah obat-obatan. Jenis-jenis obat yang ada juga terpaksa dibatasi. Bagian inilah yang bisa menjadi celah bagi seorang pengabdi. Mungkin pendirian klinik bukanlah penghasilan utamanya: ia bisa mencari nafkah dari pekerjaan lain, dan sebagian dari pemasukannya “disumbangkan” untuk pembiayaan layanan kliniknya yang tidak ter-cover kapitasi BPJS.

Semakin banyak orang yang taat membayar iuran, pemasukan BPJS akan semakin besar, defisit menurun bahkan mungkin saja bisa jadi surplus (kita berdoa supaya bisa demikian). Jika anggaran cukup, memiliki sistem asuransi kesehatan nasional yang berkualitas seperti NHS di UK bukanlah mimpi. Ah, tapi tentu saja harus diiringi dengan evaluasi dan perbaikan terus-menerus dari sistem yang ada sekarang.

Namun penghormatan besar tetaplah harus diberikan kepada mereka para pengabdi yang ikhlas. Ketika orang-orang lain mengeluhkan kondisi ekonomi yang semakin lesu, masih ada yang menyimpan energi positif untuk memberi. Yaitu mereka yang tidak takut miskin; yang memiliki pemikiran bahwa dengan semakin banyak memberi, maka akan semakin kaya. Jikalah bukan kaya harta, setidaknya memiliki kekayaan hati yang senantiasa bersyukur dengan kehidupan yang sederhana.

Semoga semakin banyak kaum profesional yang tulus seperti Prof. Aznan Lelo, dr. Lo, dan dokter-dokter lain yang bekerja dengan orientasi kemanusiaan, bukan penghasilan. Sebagai anak Indonesia, kita juga tidak boleh kehilangan rasa optimis bahwa negara ini masih bisa memperbaiki sistem kesehatannya menjadi mumpuni.

Advertisements
Categories: gagasan, kesehatan | Tags: , , , | 1 Comment

Berkomunikasi Kepada Manusia Layaknya Manusia

Mereka pasrah saat melihat rumah-rumah dibongkar. Alat-alat berat meruntuhkan hunian yang telah mereka tempati selama puluhan tahun dan lintas generasi. Ratusan Satpol PP pun sigap mengamankan orang dewasa dan anak kecil yang hendak berontak. Seolah tidak ada keadilan bagi orang terpinggirkan, yang bisa dilakukan oleh mereka hanyalah meratapi nasib.

Penggusuran bukanlah hal baru di DKI Jakarta. Kemarin, Foke membutuhkan waktu 5 tahun untuk menggusur 3200 keluarga. Bagi Ahok, waktu yang diperlukan hanya 1 tahun untuk menggusur 8145 KK dan 6283 unit usaha. Yang terbaru ialah penggusuran Kampung Nelayan, Luar Batang. Berita penggusuran yang terakhir ini masih hangat karena banyak warga yang menolak pindah ke rumah susun dan memutusukan tinggal di dalam perahu.

Salah satu hal yang menjadi masalah dalam penggusuran ini ialah minimnya komunikasi yang baik. LBH Jakarta mencatat, sepanjang tahun 2015, terjadi 113 penggusuran dan hanya 18 kasus yang didahului dengan musyawatah. Sisanya, penghancuran bangunan-bangunan dilakukan secara sepihak. Pada penggusuran Kampung Nelayan baru-baru ini, LBH Jakarta juga menerangkan bahwa warga Kampung Nelayan diusir tanpa adanya dialog dua arah. Lurah setempat mendatangi satu RW pada tanggal 21 dan 23 Maret 2016 ditemani polisi dan tentara bersenjata laras panjang. Ya, untuk bertemu warga, senjata laras panjang sampai ikut-ikutan dibawa; tidak yakin apakah itu adalah sosialisasi atau intimidasi. Penggusuran pun dilakukan pada tanggal 11 April 2016, setelah diberikan surat peringatan tiga kali, yaitu tanggal 31 Maret, 6 April, dan 9 April. Terlihat bahwa komunikasi yang dilakukan pemprov hanyalah satu arah.

Penggusuran Kampung Nelayan, Luar Batang

Penggusuran Kampung Nelayan, Luar Batang

Apakah bisa disebut manusiawi ketika akan dilakukan peruntuhan rumah-rumah yang telah ditempati selama puluhan tahun, komunikasi yang dilakukan hanya melalui surat? Dapatkah mereka yang telah menduduki wilayah tersebut berlintas-lintas generasi bisa memahami maksud pemprov jika yang mendatangi mereka ialah polisi dan tentara bersenjata api? Dari situasi tersebut, adakah niat baik pemprov melakukan dialog? Atau, gubernur DKI Jakarta sama sekali tidak butuh dialog, yang ada hanya ambisi segera meratakan kampung nelayan untuk segera melaksanakan proyeknya? Manusiawi juga kah sang gubernur, ketika mereka yang tidak mau pindah ke rusun karena jauh dari lokasi mata pencaharian, disebutnya sebagai orang belagu?

Komunikasi mungkin dianggap sebagai persoalan sepele, namun sering menjadi faktor penentu terjadinya konflik atau tidak. Jika persoalan dihadapi dengan emosi tanpa adanya kepala dingin yang rasional, sudah dipastikan komunikasi tidak akan berjalan. Ketika adanya benturan keinginan atau kepentingan, komunikasi dua arah akan menetukan hasilnya, apakah win-win, win-lose, atau bahkan lose-lose.

Setidaknya komunikasi efektif merupakan hal yang penting dimiliki oleh seorang dokter. Di bangku kuliah, para mahasiswa kedokteran pasti diajarkan bagaimana berkomunikasi yang baik kepada pasien atau keluarga pasien agar pelayanan yang diberikan dapat optimal. Teori di ruang kelas pun tidak cukup; saat menjalani fase koas, mereka mesti berlatih bagaimana berbicara dan memberikan informasi terkait kondisi kesehatan pasien dan rencana pengobatannya.

Peristiwa penganiayaan seorang dokter oleh pasien atau keluarga seperti pemukulan, bahkan penututan ke ranah hukum, seringkali diawali oleh adanya miskomunikasi. Pasien bisa saja merasa sedang disakiti ketika hendak dipasang selang kencing jika tidak ada penjelasan terlebih dahulu. Juga di UGD, tidak jarang ada orang yang marah-marah karena tidak mendapat pelayanan, padahal saat itu ruangan sedang penuh pasien gawat sedang ia sendiri masih dalam kondisi yang masih baik. Atau, ada saja dokter sampai harus diadili di pengadilan karena pihak yang dilayani tidak diinformasikan efek samping dari pengobatan atau tindakan medis.

Pasien-pasien yang menolak untuk diperiksa atau diobati pun jumlahnya tidak sedikit. Di sini, tugas dokter hanyalah menyampaikan informasi alasan pengobatan atau pemeriksaan tersebut, dan jika pasien masih menolak, ia tinggal tanda tangan. Jika sudah ada penolakan hitam di atas putih, maka kewajiban dokter sudah selesai; ia takka bisa dituntut secara hukum.

Untuk orang-orang tipe tersebut, saya pernah mencoba edukasi dengan berbagai gaya. Pertama ialah dengan gaya keras. Dengan nada tegas, pasien diinformasikan bahwa tindakan tersebut penting demi kesehatannya sendiri, yang jika tidak dilakukan, dapat berdampak buruk baginya. Umumnya, mereka akan tetap menolak, terlebih orang-orang timur yang memiliki watak keras. Cara kedua ialah dengan cara yang lembut. Saya coba bicara dengan nada baik-baik bahkan setengah membujuk. Jika pasien tetap ngotot, tetap coba dibujuk dengan nada halus. Alhamdulillah, beberapa kali pasien-pasien yang awalnya menolak diobati dan diperiksa, dengan cara kedua tersebut akhirnya hati mereka luluh.

Saya selalu percaya bahwa manusia ialah makhluk yang bisa berkompromi. Kita adalah sosok yang selalu mampu bernegosiasi dan dinegosiasikan. Tinggal bagaimana cara komunikasi dan pendekatan yang dilakukan. Ada yang akhirnya berkompromi setelah diancam karena pihak pengancam lebih kuat. Tapi percayalah, api takkan pernah bisa padam dengan api. Setan merah hanya mau berdamai jika mereka disiram dengan air. Ya, air yang sejuk, yang jika orang-orang mandi di dalamnya dapat menenangkan pikiran dan jiwa yang gelisah.

Apakah orang-orang miskin sebegitu keras hatinya sehingga mereka takkan mau direlokasi? Miskin atau kaya, manusia tetaplah manusia. Sifat dasar yang ada dalam diri setiap manusia tidaklah berbeda, dan pendekatan komunikasi yang perlu dilakukan untuk memberikan pemahaman tetaplah sama. Pada Oktober 2015, walikota Bandung berhasil meminta warga bantaran sungai Cikapundung untuk pindah ke rusun. Tidak ada kekerasan dalam prosesnya, yang ada ialah air mata haru. Setelah diskusi panjang, akhirnya warga Babakan Siliwangi menunjukkan kebesaran hati mereka. Ini adalah contoh bahwa dengan komunikasi yang baik, masyarakat pun akan mau berkompromi.

Pemimpin ialah sosok panutan bagi yang dipimpinnya. Pemimpin yang terbaik ialah yang mengayomi dan memimpin dengan cinta. Ia bukanlah mesin yang tugasnya hanya melaksanakan program-program kerja, tapi yang terpenting ialah bagaimana seorang pemimpin mampu menumbuh dan mengembangkan orang-orang yang dipimpinnya. Pada akhirnya, masyarakat akan menilai kualitas seorang penguasa dengan melihat caranya memperlakukan warganya sendiri.

Categories: gagasan, merenung | Tags: , , , , , | Leave a comment

Di balik surga untuk para istri

Reblog dari blog istri tercinta 🙂

Intan Farida Yasmin

Bismillahirrahmanirrahim…

sebelumnya, saya meminta maaf jika dalam penulisan ini masih banyak hal yg perlu diperbaiki atau jauh dari kesempurnaan. Karena kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT, dan hanya Dia lah yang Maha Paling Tahu. Saya hanya ingin menuliskan hal-hal yang saya pelajari dan dapatkan dari diskusi dan pengajian, semata-mata untuk pengingat saya sendiri yang masih banyak kekurangan sebagai hambaNya dan juga sebagai seorang istri.

Awalnya, ketika saya belajar tentang Islam, yang saya tahu adalah surga itu terletak di bawah kaki ibu, yang saya kaitkan perlunya berbakti pada orang tua terutama pada ibu karena beliaulah yang melahirkan, menyusui, membesarkan, dan mendidik kita. Karenanya saya berusaha untuk selalu menjadi anak yang menuruti orang tua, terutama ibu saya. Meskipun terkadang berbeda pendapat, namun berusaha selalu saya untuk menyenangkan dan menuruti kata-kata ibu saya. Simple. Saya hanya tak ingin jadi anak durhaka. Dan tentunya tak dipungkiri saya pun menginginkan surgaNya.

Seiring berjalan waktu, Allah SWT…

View original post 1,068 more words

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Tata Krama Kepada Guru dan Budaya Egaliter

Agaknya para koas hanya diam seribu bahasa ketika diberi pertanyaan oleh pembimbingnya. Kalau pun ada yang menjawab, suara yang dikeluarkan begitu pelan dan penuh nada ragu-ragu. Sang konsulen hanya tersenyum sambil mengernyit, seolah raut wajahnya berkata, “Kamu yakin?” Tapi kemudian, saya dan teman-teman segera menoleh ketika mahasiswa dari Itali yang sedang mengikut semacam summer course di Rumah Sakit kami menjawab dengan suara yang begitu lantang.

Mahasiswa koas dari negeri pizza ini seorang perempuan. Walaupun begitu, gendernya tak menghalanginya untuk menjawab tanpa perlu menundukkan dagu—hal yang sering kami lakukan ketika sedang berbicara dengan dosen. Memang bukan jawabannya lah yang mengagumkan, melainkan rasa percaya dirinya dan suaranya keras. Begitu pula ketika di awal pertemuan, saat nama para koas ditanya satu per satu oleh dokter spesialis. Kami suaranya begitu pelan seolah berada dalam teror. Namun suara Sofie—anggaplah namanya demikian—begitu membahana seisi ruangan.

Memang budaya kita begitu berbeda. Negara-negara Asia sangat memerhatikan budaya tata krama ketika berinteraksi dengan orang yang lebih tua terlebih guru. Seolah menjadi peraturan tak tertulis, volume suara harus dipelankan, kepala sedikit dianggukkan, dan kalau perlu beri senyuman basa-basi. Posisinya jelas: antara anak kecil yang masih belajar berhadapan dengan orang tua yang memiliki ilmu lebih tinggi. Kebiasaan seperti ini tertanam di berbagai institusi pendidikan, dan lebih terasa lagi di dunia pendidikan kedokteran.

Walaupun telah ada anak bangsa yang merasa risih bahwa budaya “tata krama terhadap guru” kini mulai memudar, tapi tetap saja apa yang telah mendarah daging di negeri ini tak bisa dihilangkan. Kebiasaan para siswa membungkukkan badan bagaikan salam hormat orang Jepang ketika berjumpa gurunya masih ada. Begitu pun ketika tengah berbicara dengannya; saat menjadi mahasiswa kedokteran, saya menyebutnya manus-scrotal and mento-sternal maneuver. Kedua tangan saling menggenggam di bawah sambil memegang kemaluan dan dagu ditempelkan ke dada. Jika manuver ini tidak dilakukan, khawatir sang guru akan kesal dan ujung-ujungnya diberi nilai yang jelek.

Para Murid Membungkukkan Badan dan Mencium Tangan Guru Sebelum Masuk kelas via tolongshare.beritaislamterbaru.org

Para Murid Membungkukkan Badan dan Mencium Tangan Guru Sebelum Masuk kelas via tolongshare.beritaislamterbaru.org

Mereka yang telah atau tengah menjalani studi di negara-negara barat mungkin menyadari akan perbedaan budaya ini. Karena belum mendapat rejeki belajar ke luar negeri, saya hanya mendengar dan membaca pengalaman orang-orang di benua seberang sana. Saat berada di kelas, umumya para mahasiswa akan mengangkat tangan tinggi-tinggi dan menanyakan berbagai hal jika ada bahan yang tidak dimengerti. Jika masih belum puas dengan jawaban yang diberikan, sang lecturer dapat mengajaknya berdiskusi setelaah kelas selesai. Suara mereka begitu lantang. Saat berhadapan one on one pun, mereka berdiskusi asik layaknya orang sederajat.

Bagaimana mahasiswa dari Indonesia? Beberapa bercerita bahwa mereka enggan untuk bertanya. Selain karena kendala bahasa, juga disebabkan kebiasaan dari tanah air yang masih terbawa-bawa.

Ya, di kampus kita ketika kuliah, seberapa penuh ruangan dipenuhi oleh tangan-tangan yang melayang karena rasa ingin tahu yang tinggi? Tentu tidak sedikit mahasiswa-mahasiswa cerdas di kampus negeri ini yang bersemangat berdiskusi dengan dosennya di ruang kuliah, tapi mari melihat kondisi secara umum. Mengapa suasana yang dijumpai lebih sering berupa keheningan ketika dosen memberikan kesempatan untuk bertanya? Alasannya, antara sudah paham—yang ini persentasenya sedikit—atau merasa enggan walaupun masih belum mengerti. Atau, sama sekali tidak peduli dengan kuliah yang diberikan (yang ini parah banget sih).

Mengapa enggan bertanya? Karena khawatir bila bertanya ke dosen, akan dibalas “Masa begitu saja kamu tidak mengerti?” atau “Kamu dengerin ga tadi saya ngomong apa?” atau “Menurut kamu apa? Kalau ga tahu baca sendiri, ya” dan lain-lain. Mungkin akan dijawab seperti itu, mungkin juga tidak, tapi setidaknya rasa khawatir itu ada.

Itu baru sesi pertanyaan, bagaimana bila sang dosen bertanya kepada mahasiswa di tengah-tengah kuliah? Orang yang paling apes kena tanya biasanya yang duduk paling depan—karena itulah pada berlomba-lomba duduk di belakang—dan orang malang itu akan menjawab sebisanya dengan suara yang pelan dan penuh keraguan. Syukur kalau jawaban benar; kalau salah, bisa-bisa si pengajar mengamuk. Atau yang lebih menyebalkan lagi: jawaban yang diberikan benar, namun sang dosen akan bertanya lagi dan bertanya lagi hingga orang malang tesebut tidak bisa menjawab.

Mengapa negara barat sana para pelajar bisa begitu bebasnya bertanya dan berdiskusi dengan pengajar, berbeda dengan di sini? Ya, ini karena budaya negara barat umumnya sangat egaliter. Mahasiswa tidak perlu menunduk, membungkukkan badan, senyum basa-basi ketika berbicara dengan dosen. Apa pun pertanyaan mahasiswa, biasanya akan dilayani, malah dosen bisa sangat senang kalau ternyata peserta didiknya begitu antusias bertanya. Jika waktu tidak cukup, sang dosen akan dengan baik hati menawarkan pertemuan berikutnya untuk menyelesaikannya. Mahasiswa dapat berbicara dengan pengajar layaknya teman.

Budaya Egaliter antara Pelajar dan Dosen di Negara Barat via gettyimages.co.uk

Budaya Egaliter antara Pelajar dan Dosen di Negara Barat via gettyimages.co.uk

Begitu pula dalam kehidupan sehari-hari. Sodara saya yang merupakan kandidat doctor di Belanda becerita bahwa ia sering bermain basket bersama profesornya. Di tengah pertandingan, si professor lebih senang adu bodi dengan sodara saya yang berbadan tinggi dan besar. “I take this guy!” kata sang professor dengan antusias.

Berbeda sekali dengan cerita pertandingan sepak bola antara para konsulen dengan residen di suatu institusi. Kalah, konsulen senior langsung berteriak kepada para residen, “Kalian semua tiarap!” Tidak terima dengan kekalahan, konsulen itu pun langsung mengumumkan bahwa besok ujian. Kejadian ini nyata terjadi—walau ini cerita dulu sekali—dan saya tak bisa menahan tawa mendengarnya.

Salahkah dengan budaya kita yang meminta para murid untuk begitu sangat tunduk kepada para gurunya? Saya tidak akan berkata demikian. Setiap negara dan bangsa memiliki adat dan budayanya tersendiri, dan masing-masing budaya harus dihormati. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Di negara barat sana, hanya ada satu kata untuk seorang pihak kedua, yaitu “you”, sedangkan di negara kita ada “kamu” dan “Anda” atau bahkan “bapak, ibu, pak guru, bu guru, pak dokter, bu dokter, dst”. Begitu pun untuk pihak ketiga, hanya ada “he” atau “she”, di Indonesia ada “dia” dan “beliau”.

Bagaimana pun juga, guru merupakan orang yang sangat berjasa dalam kehidupan kita setelah orang tua. Guru sekolah, dosen, ustadz/ustadzah merupakan orang-orang yang tidak hanya memberikan ilmu namun juga mendidik kita agar menjadi orang dewasa yang berguna dan sukses menghadapi dunia bahkan akhirat. Kalau pun mereka memiliki gaya tersendiri dalam mengajar dan mendidik, apakah paham feodal atau egaliter, itu merupakan hak masing-masing. Tugas kita sebagai murid dan pelajar ialah menghormati guru-guru kita dengan menunjukkan adab yang baik dan belajar sungguh-sungguh.

Hanya saja, mungkin, ada baiknya adab dan tata krama ketimuran kita diiringi dengan sikap egaliter. Mari kita berdikusi—saya pribadi menganggap tidap perlu sikap seperti membungkukkan badan hingga tangan memegang kemaluan. Adab dalam menimba ilmu cukup ditunjukkan dengan berbicara dengan bahasa yang sopan namun tidak perlu pelan dan ragu-ragu, tidak berbohong demi keamanan, menepati janji, dan tetap menghormatinya sebagai guru walau mungkin nanti kelak ilmu kita lebih tinggi daripada beliau.

Begitu pun bagi para guru, pengajar, dosen, dan sebagainya. Bisakah mulai membuka diri dengan para pelajar? Bahwa yang diperlukan bukanlah menunjukkan eksistensi pengajar lebih pintar daripada murid dengan meminta mereka membungkukkan badan. Apa yang penting ialah bagaimana agar ruangan kelas begitu penuh dengan tangan-tangan yang diangkat dan wajah-wajah yang penuh antusiasme. Bahwa bagaimana agar ada pelajar yang rela mencari-cari pengajarnya di luar jam pelajaran agar bisa berdiskusi tentang materi yang masih belum bisa dipahami.

Juga perihal pemberian penghargaan. Yang mendapat apresiasi bukanlah yang mendapat nilai tertinggi di rapotnya, melainkan yang begitu bergairah dan memiliki usaha terbesar dalam belajar. Seorang yang kurang pintar, bukannya mendapat motivasi tapi malah caci maki, bagaiama murid tersebut bisa berkembang? Dalam suatu artikel, Prof. Rhenald Kasali bercerita tentang anaknya yang baru pindah ke suatu sekolah di Amerika Serikat. Sang anak diberi tugas untuk menulis. Ketika melihat hasilnya, Prof. Rhenald menganggap tulisannya jelek sekali—bahasa inggrisnya amburadul. Tapi apa yang terjadi? Sang guru memberi nilai A untuk tulisan anaknya. Mengapa? “Anak Anda baru saja pindah ke sekolah ini. Saya sengaja memberinya nilai A untuk menyemangatinya agar tetap mau belajar,” kurang lebih begitu jawaban gurunya.

Namun kita perlu tetap memegang prinsip “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”. Bila diajar oleh guru yang masih bergaya feodal, tugas kita sebagai pelajar tetaplah menghormatinya. Kalau kita lebih senang dengan suasana egaliter, maka terapkanlah di kelas jika kita adalah atau kelak menjadi seorang pengajar.

Categories: gagasan, merenung | Tags: , , , , , , , , , , | Leave a comment

Fenomena Dokter-Dokteran yang Mencelakakan Kita

Wanita berusia 50 tahun itu datang ke UGD dengan lemas. Ia pun langsung berbaring di blangkar, menunggu dokter jaga memeriksanya.

“Kenapa, Bu?” tanya dokter.

“Sesak,” jawabnya.

“Sudah berapa lama sesaknya?” dokter bertanya kembali.

“Sudah lama, biasanya kalau lagi jalan suka muncul sesaknya.”

“Ibu punya darah tinggi?”

“Iya punya, tapi sejak 1 tahun lalu tidak pernah kontrol.”

Sang pasien merasa enggan untuk terus menerus kontrol ke dokter. Entah apa penyebabnya, tapi yang jelas bukan soal biaya. Rumah Sakit pemerintah tempat wanita itu tinggal membebaskan seluruh biaya pengobatan karena masih mendapat subsidi pemerintah daerah.

Diselidiki lebih jauh, ternyata ibu tersebut rajin mengonsumsi suplemen yang merupakan produk dari suatu perusahaan MLM. Saya tidak mengerti semanis apa janji yang diberikan, yang jelas si penjual berhasil membuatnya menghabiskan uang jutaan rupiah! Bandingkan dengan obat penurun tekanan darah yang tidak memakan biaya sama sekali alias gratis. Pada akhirnya, “obat” yang bernilai jutaan rupiah tersebut tidak memberikan kesembuhan, malah membuat sang pasien harus berbaring di rumah sakit karena gangguan pada jantungnya.

Cerita di atas hanya salah satu dari sekian banyak yang ada di dunia nyata. Berapa banyak orang yang harus menjadi korban akibat fonemena seperti ini? Terbaru yang saya lihat ialah screen shot di medsos yang menunjukkan ibu-ibu sedang bermain dokter-dokteran. Seorang anak menderita infeksi telinga, namun bukannya menuruti nasihat dari dokter THT, ibunya malah memberikan obat tetes telinga herbal—entah isi kandungannya apa. Yang lebih celaka lagi, ia disarankan oleh ibu-ibu lain untuk meneteskan ASI atau minyak zaitun ke telinga anak. Herannya, ibu-ibu ini merasa sangat yakin dengan pendapat mereka yang tidak jelas landasannya apa. Luar biasa, bahkan seorang buah hati menjadi kelinci percobaan orang tua yang bermain dokter-dokteran.

Screen Shot yang Menunjukkan Permainan Dokter-Dokteran via https://www.facebook.com/Stop-Antivaks

Screen Shot yang Menunjukkan Permainan Dokter-Dokteran via https://www.facebook.com/Stop-Antivaks

Infeksi telinga seharusnya bukanlah penyakit yang berbahaya. Namun jika tidak ditangani dengan baik, penyakitnya akan menjadi kronis; gendang telinganya yang pecah tidak akan kembali sehingga agar dapat mendengar normal perlu proses operasi. Itu belum memperhitungkan komplikasi infeksi telinga kronis—yang paling berbahaya yaitu jika menjalar sampai ke otak.

Masyarakat yang tidak paham banyak dihipnotis oleh para pengusaha yang ingin mencari untung. Bukan hal yang jarang kita melihat atau mendengar iklan suatu produk suplemen atau “obat herbal” menjanjikan kesembuhan penyakit ini dan itu. Satu obat dikatakan dapat menyembuhkan penyakit darah tinggi, penyakit ginjal, stroke, kencing manis, dll. Hebat sekali, bukan? Padahal, penyakit kronis seperti darah tinggi dan kencing manis bukanlah jenis gangguan yang bisa benar-benar sembuh. Penyakit itu akan terus ada; pengobatan yang bisa diberikan hanyalah mengontrolnya agar penderita dapat menjalani hidup dengan baik.

Tapi, mengapa masyarakat kita lebih senang untuk menjalani terapi yang tidak jelas dasarnya ketimbang ke dokter yang telah menuntut ilmu selama bertahun-tahun? Mengapa bapak-bapak tua dan miskin rela menghabiskan uang berjuta-juta rupiah demi membeli obat tetes mata herbal dengan harapan kataraknya dapat hilang? Kenapa pula ada yang mau mengirimkan uang 7 juta rupiah untuk ustad Guntur Bumi dengan harapan ambeien dan penurunan pendengarannya sembuh, padahal terapinya jelas-jelas penuh mistis?

Sejak berada di bangku kuliah, saya selalu diajarkan bahwa dokter tidak boleh menjanjikan kesembuhan kepada pasien. Yang memberikan kesembuhan bukanlah tenaga kesehatan atau obat-obatan, tapi Tuhan. Dokter hanya menjalankan tugasnya sesuai dengan keilmuan dan prosedur yang bersifat ilmiah.

Ya, ilmiah. Bahwa suatu obat yang terbukti ilmiah tidak 100% dapat menyembuhkan penyakit. Obat disebut terbukti ilmiah karena secara statistik siginifikan memberikan resolusi terhadap penyakit atau meningkatkan angka harapan hidup. Begitu pula prosedur dan tindakan medis yang dilakukan seperti operasi. Sebelum dilakukan tindakan, dokter umumnya akan memberi tahu pasien dan keluarga mengenani peluang kesembuhan bila dilakukan operasi (apakah tinggi, fifty-fifty, atau rendah) dan juga efek sampingnya. Sekali lagi, dokter bukanlah makhluk yang mampu menjanjikan bahwa seseorang akan sembuh. Dokter hanya berusaha, dan Tuhan-lah yang memberikan keputusan.

Dokter Memeriksa Pasien Sesuai dengan Keilmuannya

Dokter Memeriksa Pasien Sesuai dengan Keilmuannya via tanjungpinangpos.co.id

Hal berbeda ditunjukkan oleh para penjual produk suplemen dan obat-obatan herbal. Kalimat “dijamin sembuh” bagaikan gula yang dioleskan ke telinga orang-orang polos. Ketika ditanya bagaimana proses produk mereka dapat memberikan kesembuhan, tidak akan bisa dijawab. Mereka hanya mengandalkan “testimoni” orang-orang yang merasa sembuh untuk meyakinkan konsumen mereka. Padahal, testimoni tidaklah bernilai apa-apa. Suatu pengobatan bersifat efektif jika telah melalui proses percobaan yang panjang dan menjalani uji statistik.

Saya bukanlah orang yang anti pengobatan herbal. Ketika ada pasien yang bertanya apakah mereka boleh mengonsumsi produk herbal atau suplemen, saya jawab silakan saja, asalkan obat-obatan dari dokter tetap diminum. Produk herbal juga ada yang telah menjalani uji coba ilmiah dan terbukti efektif untuk pengobatan. Obat herbal yang telah diuji dan terstandar ini disebut dengan fitofarmaka. Dokter yang berminat dengan dunia herbal pun bisa mengikuti pelatihan khusus mengenai pengobatan herbal yang bersifat ilmiah. Hanya saja, obat herbal yang terbukti ilmiah ini masih sangat terbatas.

Perlu diketahui juga bahwa hal yang bersifat “natural” tidak berarti selalu aman. Contoh sederhana ialah arsenic dan sianida; kedua zat tersebut adalah natural namun mematikan! Begitu pula tanaman-tanaman natural seperti Belladonna dan Opium yang jika tidak digunakan sesuai prosedur dan indikasi yang benar dapat bersifat berbahaya.

Intinya, terkait urusan kesehatan, konsultasi dan tanyakanlah ke pihak yang kompeten yaitu para dokter. Jika merasa tidak enak atau sakit, silakan minum madu, minyak Habbats, berbekam, dan lain-lain. Alhamdulillah jika Tuhan memberikan kesembuhan, Namun jika tak kunjung sembuh juga, jangan tunda untuk segera ke dokter. Jangan konsultasi ke pedagang obat herbal atau orang-orang yang merusak kesehatan anak Indonesia dengan menyerukan antivaksin. Silakan bila masih ingin mengonsumsi suplemen, namun ikutilah pengobatan, saran, dan nasihat dokter.

Kepada para pedagang suplemen atau kelompok proherbal yang antidokter, silakan jika Anda tidak ingin berobat ke dokter dan memilih menjalani pengobatan menurut “keilmuan” Anda sendiri. Jika pun pada akhirnya sakit berat karena suplemen tidak mampu menyembuhkan, kami para dokter masih akan mengobati Anda dengan sekuat tenaga—jika Anda ingin berobat ke dokter. Yang terpenting, jangan ajak orang lain untuk mengikuti pemikiran sesat.

Sayangi diri kita sendiri dan keluarga dengan konsultasi urusan kesehatan kepada ahlinya. Bukankah dalam riwayat Bukhari Rasulullah saw. berkata, ““Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.”? Ahli di sini bukanlah yang bermain dokter-dokteran, melainkan mereka yang telah menempuh pendidikan yang lama—lebih lama dibandingkan bidang ilmu yang lain—dan yang telah teruji kompetensinya hingga menjadi dokter.

 

(catatan: Tulisan tentang jurnal yang menyebut efek hepatotoxic suatu produk herbal dihapus karena setelah di-peer review jurnal tersebut memiliki masalah. Terima kasih bagi yang sudah mengkoreksi)

Categories: gagasan, kesehatan | Tags: , , , | 57 Comments

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: