Cerita PTT: Perjalanan dari Manokwari ke Bintuni

Peta Papua Barat via http://manokwari.bpk.go.id/

Peta Papua Barat via http://manokwari.bpk.go.id/

Sudah menjadi keinginan saya dari dulu untuk mengunjungi Papua. Bekerja di daerah terpencil dan lokasi paling timur Nusantara adalah tantangan tersendiri. Pengabdian dan juga petualangan; mereka adalah dua alasan yang mendorong diri ini untuk bekerja di Teluk Bintuni, salah satu kabupaten di propinsi Papua Barat.

Beruntung saat ini Teluk Bintuni dapat dicapai melalui jalur udara dengan relatif mudah. Sebelum ke Bintuni, pengunjung harus terbang ke arah Manokwari terlebih dulu. Ada 3 maskpai penerbangan yang bisa digunakan dari bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, yaitu Express, Sriwijaya, dan Garuda. Ketiga penerbangan itu akan transit dulu di Makassar, kemudian melanjutkan perjalanan ke bandara Rendani, Manokwari.

Semua jadwal penerbangan menuju Manokwari dari Cengkareng adalah malam jelang dini hari. Akibatnya, pengunjung baru bisa menginjakkan kaki di Papua pada pagi hari; dalam keadaan kleyeng karena ngantuk. Setelah itu, untuk melanjutkan ke Bintuni, ada 2 opsi: jalur udara atau darat.

Pesawat berukuran kecil yang terbang ke Bintuni dioperatori oleh maskpai Susi Air. Waktu yang dibutuhkan pun sangat singkat, yaitu hanya 45 menit. Biaya tiketnya ya lumayanlah, sekitar 1,2 juta rupiah. Hanya saja, terbang dengan Susi Air bisa disebut untung-untungan. Ukuran pesawat yang kecil dengan baling-baling di depan membuat operasinya sangat bergantung pada cuaca. Tidak jarang maskapai menunda penerbangannya berjam-jam bahkan membatalkannya karena berbagai alasan. Dan tentu saja, pesawat mini tersebut gampang untuk ber-geol-geol di udara.

Pesawat Perintis Susi Air

Pesawat Perintis Susi Air

Duduk Tepat di Belakang Pilot

Duduk Tepat di Belakang Pilot

Pilihan ke-2 ialah menggunakan kendaraan double gearbox, yang umumnya ialah Toyota Hilux atau sejenisnya seperti Mitsubishi Strada. Kendaraan yang digunakan wajib double gearbox dan memiliki ban besarkondisi jalanan yang akan diceritakan kemudian hanya bisa dilalui mobil jenis ini.

Biaya perjalanan adalah 500 ribu per orang jika menaikinya sebagai penumpang umum. Murah memang, namun harus rela menunggu sang supir mencari-cari penumpang lain hingga terisi sampai 3-4 orang. Sering pula Hilux menjadi jasa pengiriman barang atau paket dari Manokwari ke Bintuni. Ketika pertama kali sampai Manokwari, saya harus menunggu 3 jam di bandara hingga si mobil Hilux mendapatkan jumlah penumpang yang sesuai, lalu menunggu satu jam lagi untuk mengangkut barang-barang kiriman. Jika tidak mau capek-capek menunggu, bisa menyewa/carter satu mobil Hilux, namun biayanya lebih mahal daripada naik pesawat yaitu 2 juta rupiah.

Toyota Hilux, Kendaraan Primadona Papua

Toyota Hilux, Kendaraan Primadona Papua

Penulis pribadi lebih senang menggunakan Hilux. Selain bisa melihat-lihat pemandangan—yang sebenarnya kebanyakan hutan—aroma petualangan juga lebih terasa. Waktu tempuh ialah 7-9 jam, tergantung kondisi jalan. Jika sedang musim kering, supir Hilux akan mengekspresikan passion membalapnya sehingga bisa sampai ke Bintuni dalam 7 jam. Namun jika hujan dan jalanan basah, waktu yang diperlukan bisa 8-9 jam, tergantung kendala yang didapat.

Setelah keluar dari kota Manokwari, pengguna Hilux akan memasuki Kab. Manokwari Selatan. Daerah ini juga termasuk baru karena hasil pemekaran, dan bisa dibilang bukan kabupaten maju—jauh berbeda dibandingkan Manokwari yang merupakan ibukota propinsi. Berada di pinggir laut, pengunjung bisa melihat laut di sisi kiri. Memang tidak ada pantai yang bagus, namun cukup bisa menjadi hiburan mata dan pikiran.

Awal-awal perjalanan, kondisi jalan cukup baik: aspal mulus. Setelah melewati perkampungan transmigran, distrik Oransbari, dan distrik utama Manokwari Selatan, Ransiki, jalanan pun mulai rusak. Keadaan jalan yang parah mulai terasa ketika masuk ke jalur Gunung Botak.

Gunung Botak merupakan jalur perbukitan. Terlihat bahwa jalan ini hasil pengerukan bukit. Di sebelah kanan, tampak tebing-tebing sisa hasil pengerokan, dan di sisi kiri terbentang laut. Entah jalanan yang ada tidak pernah dirawat atau setelah dikeruk pihak pengembang tidak benar-benar membangun jalan aspal, jalur berupa pasir, kerikil dan bebatuan kasar. Memang dengan menggunakan mobil beroda besar, jalan hancur tidak menjadi kendala. Pemandangan laut pun sebenarnya cukup menarik. Penumpang yang mencarter Hilux biasanya ditawari oleh supir untuk berhenti sejenak dan memfoto pemandangan. Bukit-bukit berwarna hijau yang menjorok ke laut membuat landscape terlihat cukup eksotis.

Pemandangan Gunung Botak via http://www.kompasiana.com/eddypp86

Pemandangan Gunung Botak via http://www.kompasiana.com/eddypp86

Walaupun parah, jalur Gunung Botak dapat dilewati dengan mudah. Mobil kecil seperti Avanza pun masih bisa melewatinya. Jalur setelahnya lah yang bisa menyulitkan perjalanan, terutama jika hujan.

Setelah Gunung Botak terlewati, jalanan yang ada hampir tidak beralaskan aspal sama sekali. Jalur bebatuan yang tidak rata dan dalam dapat merusak mobil yang berbadan rendah. Bagi Hilux dengan roda besar dan badan tinggi, jalan ini belum menjadi masalah. Namun di hadapan, yaitu jalur Pintu Batu, ada beberapa titik yang jalannya berupa murni tanah merah. Jika hujan, tanah tersebut akan melunak dan hampir tidak memiliki gaya gesek.

Pada jalanan menanjak, jalur ini sama sekali tidak bisa dilewati jika tidak menggunakan kendaraan dengan double gearbox. Adanya gigi di kedua sisi, yaitu roda depan dan roda belakang, membuat keempat roda berputar sehingga sangat membantu mobil untuk terdorong. Itu pun jika jalanan sangat licin, para supir Hilux mesti berkali-kali mundur ke belakang untuk mencoba menerobos kembali. Lumpur yang sangat licin membuat roda menjadi slip.

Jalanan Lumpur dan Licin di Jalur Pintu Batu

Jalanan Lumpur dan Licin di Jalur Pintu Batu

Ban Slip

Ban Slip

Pernah suatu waktu ketika perjalanan Manokwari-Bintuni, di jalur Pintu Batu, Hilux yang saya tumpangi sama sekali tidak bisa maju melewati lumpur. Keempat roda benar-benar slip. Akhirnya supir mencoba mundur untuk kemudian gas lagi. Masih tidak bisa maju. Lalu mundur, mundur, mundur…hingga ke tepi jurang. Sama sekali tidak ada kemajuan, supir pun minta bantuan mobil Hilux yang lain untuk menariknya menggunakan tambang. Yahh, bunyi delapan roda berputar kencang mendominasi udara. Asap dan bau kopling tercium; beruntung mobil itu bisa tertarik dan akhirnya dapat melewati jalan licin yang bagaikan es tersebut.

Walau semua orang tahu bahwa hanya mobil Hilux dan sejenisnya yang bisa melewati jalur lumpur, terkadang ada saja orang yang membawa Avanza. Dengan pelan-pelan dan ditarik Hilux, kendaraan minibus masih memungkinkan melewati Gunung Botak. Tapi saya sendiri belum pernah melihat bagaimana ia melewati Pintu Batu. Mungkin akhirnya ia ditarik susah payah oleh Hilux. Saya hanya membayangkan nasib keempat roda mobil kecil tersebut yang menjadi “habis” dan bodinya yang penuh lumpur. Apa pemiliknya ga merasa sayang ya?

Seorang supir menceritakan bahwa saat ini kondisi lebih mendingan karena sudah ada jalan yang menghubungkan Manokwar-Bintuni dan ada mobil Hilux. Dahulu, katanya, untuk menuju Bintuni dari Manokwari, harus menggunakan mobil Hardtop atau Landcruiser, berombongan sekitar 5 mobil. Waktu yang diperlukan pun 1 minggu. Jadi, ketika akan melakukan perjalanan ke Bintuni, dibawa lah kompor, beras, dan bahan makanan lain sebagai bekal selama perjalanan yang berhari-hari itu.

Mobil besar jenis Hilux bisa melewati jalur tanah tersebut dengan lancar, tapi tidak bagi truk yang membawa banyak barang. Kadang-kadang, di tengah perjalanan, bisa ditemukan truk-truk berhenti di pinggir jalan. Mereka berhenti dan bermalam, menunggu jalanan kering kembali. Pengiriman barang dalam jumlah besar dari Manokwari ke Bintuni pun bisa memakan waktu berhari-hari. Maklum, kondisi geografis tidak memungkinkan adanya jalur laut yang menghubungkan kedua kota ini.

Begitulah perjalanan dari Manokwari ke Bintuni, yang menurut penulis menjadi cerita tersendiri. Setelah Pintu Batu, jalanan cenderung beraspal baik dan tidak ada penyulit. Cukup mengherankan kenapa belum ada upaya maksimal untuk memperbaiki jalan. Jika ada pejabat yang melewati jalur darat tersebut, tidak terpikirkan kah untuk memperlancar akses, yang pada akhirnya akan meningkatkan sirkulasi ekonomi di kedua kota tersebut? Atau, merasa nyaman kah pejabat jika mesti melewati jalanan yang begitu menyedihkannya seperti diurakan di atas?

“Kalau ada pejabat lewat, biasanya jalur yang benar-benar rusak diperbaiki”, kata supir Hilux. “Tapi itu hanya ditambal asal saja. Setelah sang pejabat lewat, jalanan jadi rusak lagi.”

Semoga Papua terus mengalami perbaikan dan semakin diperhatikan pembangunannya oleh pemerintah.

Advertisements
Categories: catatan perjalanan | Tags: , , , , , | 4 Comments

Post navigation

4 thoughts on “Cerita PTT: Perjalanan dari Manokwari ke Bintuni

  1. Ternyata jauh dari ibukota masih ada jalanan yang bahkan jalurnya tanah merah. Padahal tanah Papua begitu kaya. Pemerintah ke mana, ya? Padahal akses transportasi adalah kebutuhan dasar bagi masyarakat di sana. Geleng-geleng sendiri baca tulisan ini, Mas. Kalau salah-salah mengendara, mobil bisa masuk jurang. Banyak pekerjaan yang harus dibenahi, nih.

    Like

  2. Durri

    Saya akan ditugaskan di Teluk Bibntuni bulan April 2017 ini. Ada yang tahu info terakhir transportasi (udara dan darat) ke Teluk Bintuni? Apakah Susi Air rute Manokwari_Teluk Bintuni masih beroperasi?

    Tahun lalu saya ke Teluk Wondama harus melalui laut karena Susi Air sudah tidak beroperasi.

    Terima kasih

    BTW, saya sudah uzur, jadi khawatir juga kalau harus jalan darat 🙂

    Like

  3. mimi

    bohong ya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: