Pernikahan Jarak Jauh Mengajarkan Kita agar Saling Mendekat

Banyak penafsiran tentang cinta. Bagi saya, tidaklah sulit untuk menemukan maknanya. Setelah merenung dan berpikir dalam, saya pun paham bahwa cinta bisa disebut “sejati” hanya bila berada dalam wadah pernikahan.

Pemahaman itu yang menggerakkan kaki ini untuk menuju seseorang yang baru saya kenal selama 6 bulan. Disebut “kenal” pun hanya sebatas luarnya karena amat jarang berkomunikasi dengannya. Tidak mengapa; saya yakin, sesuatu yang diniatkan ibadah, insyaAllah, akan dimudahkan oleh Tuhan.

Setelah dengan cepat bertanya, “Boleh saya bertemu orang tuamu?”, hal-hal sesudahnya terjadi begitu saja dengan cepat. Alhamdulillah, semua pihak yang terlibat sepakat untuk menyegerakan status kami menjadi halal. Detil-detil yang memperlama, seperti resepsi pernikahan, adalah sesuatu sekunder yang bisa ditunda.

Begitulah. Saya yang berasal dari Bandung, ia yang berasal dari Jogja, dipertemukan di Lombok lalu menjalin “ikatan yang kuat”.

Ketika menaiki panggung perayaan cinta dengan relatif mudah, masing-masing dari kami tahu bahwa masa-masa sulit siap menghadang. Ia telah meneken kontrak untuk menempuh studi selama setahun di utara sana. Begitu pun saya sudah memiliki rencana untuk melawat ke pulang paling timur di nusantara. Yah, mungkin bisa dibilang keputusan untuk tetap ke Papua adalah egois, tapi kami sepakat untuk bersabar menjalani pernikahan jarak jauh.

Setahun mungkin terdengar sebentar, tapi bagi yang baru saja memadu cinta, setahun itu terasa selamanya. Mengucapkan kata “sabar” sangatlah mudah, namun ternyata butuh waktu bagi hati kami untuk berdamai dengan kenyataan. Meski demikian, dengan menjalani cinta yang memiliki perbedaan waktu 9 jam ini, ada beberapa hal yang dapat saya pelajari darinya.

Memang penulis belum setahun menjalani rumah tangga—masih bisa disebut pengantin baru. Tulisan ini hanya hasil dari perenungan atas apa yang dialami dan membaca buku tentang pernikahan. Apa-apa yang ada di sini saya niatkan utamanya untuk menasihati diri sendiri dan semoga bermanfaat bagi yang membaca.

  1. Laki-Laki dan Perempuan yang Terikat Pernikahan Fitrahnya adalah Saling Mendekat

Saat memberikan nasihat di akad pernikahan, bapak meminta kami agar seperti ikan “mimi lan mintuno”. Mimi dan mintuno, atau belangkas, merupakan sejenis hewan beruas (arthropoda) yang hidup di perairan dangkal daerah paya-paya dan hutan mangrove. Hewan ini jika dilihat dari atas berbentuk seperti kepiting, dan jika dilihat bagian bawahnya seperti udang berukuran besar. Mimi, sebutan bagi jenis jantan, akan segera mati jika dipisahkan dari mintuno, jenis betinanya. Hewan primitif ini harus hidup berpasangan untuk dapat hidup.

Begitu pula bagi sepasang kekasih yang terikat pernikahan.

Seorang suami tetnu tidak akan mati begitu saja jika jauh dari istrinya. Fisik memang tidak mati, tapi hati serasa kehilangan nyawanya. Penulis pribadi sebenarnya sudah biasa hidup sendiri karena tinggal di kota yang berbeda dengan orang tua sejak SD. Tapi, semenjak menikah, entah kenapa terasa sangat berat menjalani hari-hari tanpa ada yang menemani.

Ya, suami dan istri ada untuk saling mendekat. Keharmonisan rumah tangga terbentuk hanya bila sepasang kekasih menjalani hari-hari bersama. Sang laki-laki akan semakin mengenal dan memahami sifat dan karakter perempuan yang tentu sangat berbeda, begitu pun sebaliknya. Cinta akan semakin tumbuh dan tak akan kadaluarsa meski puluhan tahun terlewati.

  1. Apa pun yang Terjadi, Harus Terus Mendekat, Meskipun Ada Pihak yang Mesti Mengalah

Saat ini mungkin adalah hal yang lumrah bila suami dan istri—dan juga dengan anak-anak—hidup tidak bersama dalam waktu lama. Umumnya yang menjadi penyebab hal ini adalah faktor pekerjaan dan sekolah. Suami yang bekerja di luar kota hanya bisa pulang menengok keluarganya seminggu sekali, yaitu Sabtu-Minggu. Istri harus tinggal di luar kota untuk melanjutkan studinya.

Saya tidak menentang kaum hawa bekerja. Bukan hanya sekedar untuk mencari uang, bekerja merupakan kebutuhan manusia untuk berekspresi dan mengoptimalkan potensinya. Terlebih bagi mereka yang sudah susah payah sekolah hingga perguruan tinggi. Adalah wajar jika manusia ingin mengaktualisasikan apa yang dipelajarinya bertahun-tahun. Selain itu, kehidupan ini memang membutuhkan wanita yang bekerja. Contoh sederhana adalah dokter kandungan; ibu-ibu hamil akan merasa jauh lebih nyaman jika jalan lahirnya dipegang-pegang oleh dokter perempuan. Atau bagi wanita yang menderita kelainan atau kanker payudara, pasti sangat terganggu jika dokter bedah onkologi yang ada hanya laki-laki.

Suami dan istri sama saja: mereka sama-sama berhak untuk bekerja. Khusus bagi suami, bekerja merupakan kewajiban; tak peduli walaupun penghasilannya lebih kecil dari istri, ia tetap harus menafkahi pasangan dan anak-anaknya. Nah, adanya pekerjaan ini sering membuat suami istri terpisah. Hal ini harus dihindari bagaimana pun caranya. Apakah suami mencari kerja di kota tempat kantor atau sekolah istri berada, atau istri melepas pekerjaannya demi ikut suami. Harus ada yang mengalah, tidak peduli apakah pihak laki atau bini.

Seringkali hidup bersama tidak dapat dicapai karena tidak ada yang mau mengalah, dan yang membuat seseorang sulit mengalah ialah ego. Saran saya, buang semua ambisi duniawi. Membentuk rumah tangga yang penuh cinta dan kokoh jauh lebih penting daripada nafsu meraih uang, jabatan, atau gelar akademik. Keluarga yang sederhana namun terikat dengan kuat insyaAllah akan lebih bahagia daripada yang penuh kemewahan dan sanjungan namun tiada cinta.

  1. Jika Harus Terpisah, Janganlah Tidak Jelas Sampai Kapan, Harus Ada Batasan Waktu

Pasangan yang hidup berjauhan harus memiliki target jelas kapan mengakhiri pernikahan jarak jauh. Jika terpisah karena pendidikan, maka usai sekolah segeralah kembali ke suami/istri dan jangan berlama-lama. Setelah selesai S-2, jangan berpikir untuk lanjut S-3 di kota yang berbeda dengan tempat tinggal pasangan. Cari di tempat yang satu kota dengan pasangan, atau minta pasangan pindah kerja, atau tidak perlu lanjutkan sekolah. Seperti yang telah disebutkan, ambisi dunia itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rumah tangga yang harmonis, dan tiada keharmonisan bila tidak tinggal bersama.

Pun jika terpisah karena pekerjaan. Harus punya rencana berapa lama bekerja di tempat tersebut dan mencari kerja di tempat suami/istri berada. Jika terlalu lama hidup berpisah, masing-masing akan mulai terbiasa hidup sendiri sehingga keinginan untuk hidup bersama pun bisa hilang.

Niatkan tujuan dari bekerja dan sekolah bukan untuk meraih harta dan gelar sebanyak-banyaknya, namun bagaimana agar kedua hal tersebut dapat membuat kehidupan keluarga semakin penuh kedamaian dan kebahagiaan.

  1. Walau Terpisah Jarak, Penting untuk Terus Berkomunikasi Setiap Hari

Hal yang paling dikhawatirkan dari pernikahan jarak jauh ialah perasaan mulai terbiasa. Dahulu ketika SD, saya sering bersedih bahkan menangis karena tidak tinggal bersama orang tua. Namun, saat sudah masuk SMP, rasa sedih sudah tidak muncul. Aktvitas sehari-hari mulai terbiasa dijalani tanpa harus ada orang tua. Hal seperti ini tidak boleh terjadi dalam pernikahan.

Jika tidak ada lagi kerinduan dan keinginan untuk bertemu, hal ini menunjukkan manisnya cinta mulai memudar. Semakin lama akan menjadi hilang hingga rasanya menjadi hambar. Pernikahan yang tidak lagi terasa manis akan membuat kehidupan berumah tangga menjadi membosankan. Apabila sudah bosan, bisa jadi masing-masing pihak mulai mencari sesuatu di luar rumah yang dapat memenuhi dahaga mereka…

Komunikasi dengan pasangan tidak boleh terputus, seberapa jauh pun jarak yang ada. Syukur di tempat tinggal saya saat ini di Bintuni terdapat sinyal 3G sehingga dapat menelpon istri di London sana melalui internet. Dengan menelpon tiap hari, rasa rindu akan menguat, dan keinginan untuk kembali bersama semakin menggelora.

Bayangkan hubungan jarak jauh tanpa ada komunikasi. Masing-masing tidak ingin tahu apa yang sedang dilakukan dan apa terjadi pada pasangan. Apakah ia sedang bahagia, sedang sakit, atau sedang kesulitan, tidak tahu, tidak peduli. Ketika akhirnya bertemu, muncul rasa segan dan kagok, seolah baru pertama kali mengenal. Hilang sudah kehangatan cinta dalam pernikahan.

Cari cara untuk terus menjalin komunikasi. Tidak ada sinyal, berusahalah menulis surat, walau mungkin surat itu baru sampai sebulan kemudian. Justru mungkin ketika surat sampai, akan terasa lebih manis, seperti zaman dahulu seseorang yang menunggu tukang pos lewat untuk menyampaikan surat dari kekasihnya. Heheheh, klasik sekali J.

  1. Syukurilah Saat-Saat Bersama dengan Menghindari Pertengkaran

Konflik dalam rumah tangga mungkin tidak akan pernah bisa dihindari. Laki-laki pasti memiliki perbedaan dengan perempuan karena memang karakternya tidak sama. Pun kehidupan yang dijalani dengan intim dan terus-menerus akan membuka karakter asli masing-masing. Banyak orang memutuskan untuk pacaran bertahun-tahun agar bisa mengenal luar dan dalam pasangannya. Percayalah bahwa itu percuma: karakter asli hanya akan keluar setelah menikah. Saat sifat yang sesungguhnya dikeluarkan, muncullah rasa kecewa dan tidak puas karena tidak sesuai yang dieskpektasikan.

Mencintai bukanlah mencari orang yang dapat memenuhi ekspektasi. Jika itu adalah alasan mencinta, jadi saja Arjuna, yang mendaki gunung tertinggi dan mengarungi samudera hanya untuk mendapatkan kesimpulan “…mungkin cinta sejati memang tak ada dalam cerita kehidupan ini.”

Istri bukanlah makhluk sempurna, sebagaimana kita takkan pernah meraih predikat itu. Tidak akan pernah ada manusia yang dapat memeuhi seluruh harapan manusia lain. Istri bukanlah budak bagi suami, juga sebaliknya. Sudah, terima saja kelemahan-kelemahannya, maklumi saja ketidakmampuannya memenuhi ekspektasi kita. Berumah tanggah ialah berinteraksi timbal balik. Jika ada kelemahan pada istri, tugas suami untuk menguatkannya. Bila ada yang kurang pada suami, amanah istri untuk menambahkannya.

Rumah tangga bahagia bukanlah yang diisi oleh superman dan superwoman, melainkan oleh dua manusia yang sama-sama mau memperbaiki diri dan saling mengisi.

Pertengkaran suami istri juga sering dicetus oleh hal-hal sepele. Memang mulanya remeh, tapi jika masing-masing terus terbawa ego dan emosi, dapat berakhir ke hal yang sangat serius. Atau paling tidak saling diam-diaman berhari-hari karena tidak ada pihak yang mau minta maaf. Ya wajar, karena masing-masing merasa benar.

Satu hal yang pasti dalam konflik rumah tangga ialah jika berusaha mencari siapa yang salah, maka tidak akan pernah ketemu. Tidak akan pernah, walau dicari ke ujung dunia dan selama ribuan tahun sekalipun. Tidak penting siapa yang salah, melainkan berdamai untuk mencari penyelesaian atas masalah yang ada. Agar bisa move on dari pertengkaran, perlu ada yang rela melepas egonya untuk meminta maaf.

Siapa yang pertama kali harus meminta maaf? Jawabannya adalah Anda; tidak peduli apakah Anda itu pihak suami atau istri, pihak yang memulai pertengkaran atau bukan, pokoknya Anda lah yang harus pertama kali meminta maaf. Jika kata “maaf” sudah keluar, maka insyaAllah pertengkaran akan selesai saat itu juga.

  1. Jangan Sia-Siakan Waktu yang Ada, karena Kelak akan Berpisah Selamanya

Saat itu pasti tiba. Berdiri lemas menatap tanpa kata ke arah batu nisan yang bertuliskan nama pasangan kita; atau kita berbaring tanpa daya di bawah tanah, dipandang istri/suami yang berlinang air mata. Mau berupaya sebagaimana pun, atau mengeluarkan uang sebanyak apa pun, peristiwa tersebut takkan bisa dihindari.

Apakah yang terasa, jika saat menemui ajalnya, ia tak ada di samping kita? Nun jauh di sana, yang bahkan untuk menatap mayatnya butuh waktu berhari-hari. Atau bagaimana bila kita sekarat menghadapi kematian dalam keadaan kesepian? Isak dan air mata takkan bisa memutar balik waktu. Karena itu, masih ada kah alasan untuk berlama-lama hidup terpisah? Tidak ada yang mampu, tak satu pun ada yang kuasa memprediksi takdir Tuhan.

Kuatkan lah keingingan untuk terus mendekat. Pikirkan dan cari berbagai macam cara agar tidak terpisah. Pertemuan tidak lah selamanya karena ia punya batas waktu, sedangkan perpisahan adalah hal yang pasti. Hanya karena ego dan ambisi yang tanpanya pun insyaAllah masih bisa hidup dengan berkah, relakah mengikis waktu yang semakin tipis untuk dapat bersama kekasih?

Berusalah agar terus mendekat. Selain itu, berdoalah kepadaNya, agar di kehidupan kedua nanti dapat didekatkan kembali bersama sang kekasih.

Akan sangat indah jika di dunia ini bisa terus bersama orang yang dicintai. Begitu juga di dunia yang tak mengenal batas waktu nanti. Terus bersama, selamanya.

Advertisements
Categories: gagasan, merenung | Tags: , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: