Yakin Mau Menjadi Dokter? Hal-Hal yang Perlu Kamu Ketahui Tentang Profesi Ini

DSC_0231

Dokter bisa dibilang merupakan salah satu profesi yang paling diidamkan. Adalah mimpi setiap orang tua bila bisa mengkuliahkan anaknya di fakultas kedokteran. Bagaimana tidak, profesi dokter sering diidentikkan dengan pekerjaan mulia yaitu memyembuhkan orang sakit. Jika diri kita atau orang tua menderita sakit, bahkan sakit parah, kita akan sangat berterima kasih dan mungkin kagum dengan dokter yang telah melakukan pekerjaannya. Selain itu, tidak bisa dipungkiri, dokter identik dengan penghasilan besar dan hidup mewah; barangkali ini merupakan faktor terbesar yang mendorong orang banyak untuk kuliah kedokteran.

Meskipun demikian, perjalanan untuk menjadi dokter sangatlah tidak mulus; bisa dikatakan cukup berat. Setelah menjadi dokter pun, belum tentu ekspektasi yang diharapkan bisa terpenuhi. Intinya, menjadi dokter tidaklah seindah yang dibayangkan kebanyakan orang yang tidak memahami profesi tersebut.

Kamu ingin menjadi dokter? Atau kamu ingin anak-anakmu menjadi dokter? Berikut adalah hal-hal yang harus diketahui sebelum benar-benar membulatkan tekad memilih profesi tersebut

  1. Sekolah yang Lama
Mahasiswa FK

Mahasiswa FK

Mungkin sudah banyak yang mengetahui bahwa perjalanan menjadi dokter tidaklah ringan. Di fakultas lain masa studi bisa diselesaikan dalam 4 tahun—bahkan ada yang 3,5 tahun bagi mereka yang pintar—namun untuk menjadi dokter waktu yang dibutuhkan minimal adalah 5 tahun. Malah, masih ada beberapa fakultas kedokteran (FK) di beberapa universitas yang masih menerapkan pendidikan 6 tahun.

Jenjang pendidikan kedokteran secara umum dibagi 2, yaitu tahap sarjana kedokteran dan pendidikan profesi yang lebih dikenal sebagai tahapan koas. Tahap sarjana bisa ditempuh minimal selama 3,5 atau 4 tahun, tergantung kebijakan masing-masing FK. Perlu diketahui, jika di fakultas lain mungkin ada program percepatan, maka di FK tidak ada. Tiga setengah atau empat tahun benar-benar waktu fix yang harus dilalui. Setelah diwisuda menjadi sarjana kedokteran (S.Ked), calon dokter pun langsung menjalani pendidikan profesi di rumah sakit.

Jika dihitung-hitung, saat mahasiswa fakultas lain rata-rata sudah lulus, berpenghasilan, punya istri dan anak, mahasiswa FK sedang jaga malam di RS :p

  1. Proses Pendidikan yang Berat
Ujian OSCE

Ujian OSCE (sumber: http://unprimdn.ac.id/)

Tidak hanya lama, pendidikan kedokteran juga dikenal sebagai pendidikan yang tidak mudah. Tanyakanlah kepada para mahasiswa fakultas lain yang bertetangga dengan fakultas kedokteran; mereka akan mengatakan bahwa teman-teman di FK menjalani pendidikan yang berat. Itu baru fase S.Ked; di masa koas, proses pendidikannya pun menjadi jaluh lebih menantang.

Kuliah kedokteran identik dengan banyaknya materi yang harus dipelajari. Tidak seperti kuliah teknik atau sains yang banyak bermain logika, orang yang mempelajari ilmu kedokteran dituntut untuk banyak membaca. Jika tidak banyak membaca, otomatis tidak akan banyak tahu dan dijamin ketika ujian pun bingung. Memang banyak yang harus “dihapal” layaknya pelajaran biologi ketika SMA, namun juga harus dipahami agar benar-benar bisa mengerti dan ilmunya tidak hilang begitu saja. Alhasil, pekerjaan mahasiswa FK ialah banyak membaca.

Sekarang hampir semua (atau semua ya?) FK sudah menerapkan sistem kurikulum yang menuntut mahasiswa untuk “belajar sendiri”, atau disebut dengan kurikulum problem based learning (PBL). Pada sistem ini, kuliah amat minim…di FK saya sendiri kuliah tentang ilmu kedokterannya hanya sekitar 6 jam per minggu. Sisanya dipelajari dalam kelompok diskusi PBL, yang notabene tiap mahasiswa harus mencari dan belajar sendiri. Bagaimana ketika diskusi bingung dan mentok? Jangan berharap bertanya ke dosen; mungkin ada dosen berhati malaikat yang mau menjawab, namun kebanyakan akan menjawab, “Baca sendiri, ya!” Begitulah, mahasiswa benar-benar harus membaca sendiri textbook.

Bentuk ujian di FK pun tidak hanya berupa ujian tulis. Ada bentuk ujian yang meminta mahasiswa untuk mempraktekkan keterampilan klinik, apakan itu berupa wawancara medis, pemeriksaan fisik, atau tindakan bedah. Ujian ini dikenal dengan OSCE. Keterampilan tersebut diujikan ke standard patient atau ke manekin, langsung di hadapan penguji, dan peserta rata-rata hanya diberi waktu 10 menit. Setelah selesai, peserta keluar ruangan dan berpindah ke ruangan selanjutnya untuk mempraktekkan keterampilan yang berbeda, tergantung soal. Dan, bagi yang pernah merasakannya, seperti naik roller coaster J.

Yahh, menurut saya pribadi, ujian OSCE “tidak seberapa” dibandingkan ujian SOOCA. Tidak semua FK menerapkan jenis ujian ini. Intinya, ada 15 kasus yang mesti dipelajari oleh mahasiswa. Saat ujian, kasus tersebut akan diundi, dan peserta diberi waktu 20 menit mempresentasikannya di hadapan 2 penguji. Bagi yang pernah mengalaminya, rasanya seperti jatuh dari gedung tinggi :p

  1. Tahapan Koas yang Melelahkan
Koas Jaga

Koas Jaga (sumber: https://ask.fm/abdichsan)

Koas atau “dokter muda” merupakan tahapan pendidikan profesi yang dijalani di rumah sakit. Peserta didik akan mengitari setiap departeman yang ada di RS, seperti depaertemen penyakit dalam, ilmu kesehatan anak, bedah, kebidanan dan kandungan, dst. Proses ini ditempuh selama 1,5 atau 2 tahun. Di tahapan ini, ilmu yang dipelajari di masa sarjana diterapkan di tiap bagian…walau kebanyakan sih “belajar lagi dari awal” karena apa yang ada di saat mahasiswa sudah dilupakan :p. Tidak heran kalau koas selalu dimarah-marahi oleh konsulen (dokter spesialis pengajar).

Sama seperti ketika sarjana, jangan berharap ada kuliah atau ada konsulen yang mau mengajarkan atau menjawab pertanyaan. Jika ada koas bertanya, kebanyakan akan ditanya balik, dan ujung-ujungnya disuruh belajar sendiri…dan benar-benar harus dipelajari karena keesokan hari sang konsulen bisa menagihnya. Ya karena itulah, penting untuk berdoa supaya dapat konsulen yang baik, heheh.

Kemudian, pamungkas dari tahap koas ialah jaga malam. Frekuensi jaga tergantung bagian, ada yang seminggu sekali, seminggu dua kali, dua minggu tiga kali…dan setelah selesai jaga malam, paginya langsung lanjut bertugas hingga sore. Jadi, masuk dari pagi dan baru pulang besok sorenya. Ya masih bisalah curi-curi waktu tidur. Berdoa saja residen (dokter yang sedang menempuh pendidikan dokter spesialis) baik hati dan tidak banyak menyuruh-nyuruh. Jadi tidak perlu heran setelah bertugas satu setengah hari nonstop kebanyakan koas menjadi zombie.

  1. Usai Pendidikan Selama 5-6 Tahun, Dihadapkan dengan Uji Kompetensi Nasional
Uji Kompetensi Dokter

Uji Kompetensi Dokter (sumber: https://ndinandina.wordpress.com/)

Ujian ini dulu dikenal dengan Uji Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI), sekarang berganti nama menjadi Uji Kompetensi Mahasiswa Pendidikan Profesi Dokter (UKMPPD). Setelah selesai masa koas, calon dokter belum bisa menjadi dokter jika belum lulus ujian ini.

Terdiri dari 2 bentuk, yaitu ujian tulis dan ujian OSCE, ujian ini diselenggarakan secara nasional dan standar soalnya pun skala nasional, seperti UN. Jika belum lulus ujian, calon dokter mesti menunggu 3 bulan berikutnya untuk ujian ulang. Dalam setahun, uji kompetensi diselenggarakan empat kali. Kalau belum lulus juga, terus saja ujian ulang sampai lulus. Saya dengar, ada yang ikut sampai belasan kali tapi belum lulus juga :O.

Ujian ini penting untuk menjaga kualitas dokter Indonesia. Saat ini ada 73 atau lebih FK di negeri ini dan belum semuanya terakreditasi. Ilmu kedokteran tidak berhubungan dengan mesin, benda mati, atau hewan; ia diaplikasikan untuk manusia hidup. Tentu mengerikan bukan jika kita atau keluarga kita diobati oleh dokter yang kualitasnya tidak jelas? Karena itulah, calon dokter benar-benar harus belajar keras menghadapi ujian ini, terlebih nilai minimal untuk lulus ialah 68. Weewww….

  1. Lalu Setelah Disumpah Menjadi Dokter, Wajib Mengikuti Program Penempatan Selama Setahun dengan Pemasukan di Bawah Gaji Standar Buruh
Dokter Internsip

Dokter Internsip

Program ini dikenal dengan Program Internsip Dokter Indonesia (PIDI) atau lebih dikenal dengan internsip. Program ini ialah syarat agar dokter yang baru lulus tersebut bisa menjalankan praktek. Kalau belum menjalani internsip, maka ia belum berhak untuk bekerja atau praktek.

Internsip dijalankan secara nasional dengan wahana kerja yang menyebar dari Sumatera hingga Papua. Jika beruntung, bisa dapat wahana kerja yang tidak jauh dari rumah, tapi jika kalah cepat, siap-siap untuk pergi ke daerah. Selama setahun, dokter internsip bekerja di puskesmas dan rumah sakit layaknya dokter, namun masih dalam bimbingan dokter senior. Yahh tergantung wahananya. Di daerah yang kekurangan dokter, peserta internsip akan bekerja layaknya dokter tetap.

Hal yang cukup disesalkan dari program ini ialah penghargaan kurang bagi dokter internsip. Gaji bagi mereka ialah 2.5 juta/bulan, sebelum dipotong pajak. Padahal, banyak dokter internsip yang bekerka layaknya dokter umum dan bahkan banyak juga yang sangat diberdayakan karena jumlah dokter yang kurang. Memang setiap wahana memiliki kebijakan apakah mau memberikan insentif tambahan, tapi banyak juga yang tidak memberikan apa-apa. Bisa dibayangkan bagi yang mesti ke daerah, berarti harus menyewa kostan dan mencari makan sendiri: gaji 2.5 juta tidak akan cukup memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Bagi saya, cukup menyedihkan sudah bergelar dokter namun untuk kebutuhan hidup sehari-hari masih harus disuport orang tua….

  1. Ke Depannya, Tahapan yang Harus Dilalui untuk Menjadi Dokter Sepenuhnya Terancam Menjadi 9 Tahun
Alur Pendidikan Kedokteran (sumber: http://www.slideshare.net/suhartimt/)

Alur Pendidikan Kedokteran (sumber: http://www.slideshare.net/suhartimt/)

Di Undang-Undang Pendidikan Kedokteran sudah tertuang apa yang disebut dengan Dokter Layanan Primer (DLP) untuk memenuhi kebutuhan era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Di peraturan disebutkan bahwa dokter yang ingin bekerja di fasilitas kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS di tingkat pertama (seperti puskesmas, klinik pratama, dll) WAJIB menempuh pendidikan tambahan selama 3 tahun untuk menjadi DLP (setelah menjalani internsip). Artinya, jika ingin menjadi dokter umum yang praktek di klnik atau puskesmas, tahapan yang harus ditempuh ialah 5 tahun kuliah kedokteran, 1 tahun internsip, dan 3 tahun pendidikan DLP—total 9 tahun!

Bagaimana jika ada dokter yang tidak mau menempuh DLP? Dokter tersebut tidak berhak untuk praktek. Pilihan baginya ialah menjadi peneliti atau dosen (yang tidak praktek), ambil sekolah spesialis (yang rata-rata lama pendidikannya 5 tahun), atau jadi pedagang. Apakah selama sekolah DLP digaji? Ooo…tentu tidak. Jadi setelah capek-capek kuliah 5 tahun, sudah bergelar dokter, bagaimana caranya menghidupi diri dan anak istri? Yahh, silahkan pikir sendiri.

  1. Siap-Siap Sering Digambarkan Miring oleh Media atau Dituntut Hukum
investigasi tempo

investigasi tempo

Seberapa sering laman media kita dipenuhi dengan berita-berita miring tentang dokter atau rumah sakit? Berita tentang pasien ditolak dokter atau rumah sakit selalu menarik minat pembaca. Setelah ditelusuri lebih jauh, kebanyakan berita tersebut memberikan informasi salah: bukan pasien ditolak, tapi kamar rawat inap penuh, atau pasien belum melengkapi berkas Jamkesmas/BPJS, atau tidak memenuhi kriteria perawatan menurut standar BPJS, dll. Tapi media ga mau tahu: pokoknya dokter dan rumah sakit menelantarkan pasien.

Terbaru ialah pemberitaan dari Tempo tentang suap dokter. Kewajiban setiap dokter untuk update ilmunya dengan mengikuti berbagai kegiatan ilmiah…dan untuk menyelenggarakan atau mengikuti acara ilmiah tersebut butuh biaya. Apakah negara mau membiayai? Jangan harap. Lalu dari mana lagi pembiayaan selain dari sponsor yaitu perusahaan farmasi? Namun sponsorship kegiatan ilmiah diartikan media sebagai gratifikasi.

Masih ingat kasus dokter Ayu spesialis kebidanan dan kandungan? Tidak ada prosedur yang dilanggar oleh dokter Ayu; kematian pasien terjadi akibat hal yang tidak diduga oleh dunia medis yaitu emboli paru. Tidak ada yang bisa memprediksi hal tersebut dan prosedur tetap sudah dijalankan oleh sang dokter. Tapi keberpihakan jarang kepada dokter. Media dan masyarakat lebih senang jika mendengar bahwa dokter melakukan malpraktik.

Jika menjadi dokter, bersiaplah untuk menghadapi hal-hal seperti ini.

  1. Waktu untuk Pribadi dan Keluarga Harus Rela Dikorbankan Demi Pasien
Dokter Operasi

Dokter Operasi (sumber: http://assets.kompas.com/)

Menurut saya, dokter ialah orang yang paling bisa memberikan excuse jika minimnya waktu yang diberikan untuk keluarga. Seorang pebisnis atau pegawai kantor banyak mendapat nasihat untuk mengutamakan keluarga karena mereka lebih berharga daripada pekerjaan. Tapi bagaimana dengan dokter? Bisakah menelantarkan orang sakit yang butuh bantuannya demi keluarga?

Dengan menjadi dokter, maka harus siap memiliki waktu yang sedikit untuk pribadi dan keluarga. Pun jika memiliki suami/istri/orang tua dokter, tidak perlu heran mereka pergi sangat pagi dan pulang sangat malam setiap harinya. Jaga malam, on call, dipanggil ke sana ke sini, operasi mendadak, kehangatan makan malam yang harus terganggu karena ada telepon dari RS, dll.

  1. Jangan Pernah Berpikir Ingin Menjadi Dokter Supaya Kaya
stethoscope-hand-money

Dokter dan Uang (sumber: http://www.cloudcontractmodeling.com/)

Kenyataan tidak seindah apa yang dibayangkan. Dokter internsip hanya bergaji 2.5 juta/bulan (belum dipotong pajak). Dokter umum, jika buka praktek pribadi atau bekerja di RS, pemasukannya standar gaji pegawai kantoran

Penghasilan lebih besar bisa didapat jika menjadi dokter spesialis. Kesan elegan dan berduit mungkin melekat pada dokter spesialis. Tapi tidak juga. Di era BPJS ini, jasa medis sangat sangat kecil untuk dokter spesialis. Biaya operasi yang normalnya memakan biaya belasan atau puluhan juta, hanya dihargai tidak sampai sepuluh juta oleh BPJS. Jika JKN teraplikasi sepenuhnya, maka praktek dokter spesialis ga akan laku: semua pasien harus ke praktek umum dulu dan meminta rujukan untuk menghadap dokter spesialis. Kalau mendapat pasien, ya tadi, jasa medis amatlah jauh dari ekspektasi. Kita belum berbicara proses sekolah dokter spesialis yang mahal, lama, dan sangat berat….

Percayalah, jika niatnya supaya banyak uang, lebih baik menjadi pengusaha. Sangat disayangkan jika seluruh tantangan di atas dihadapi hanya demi uang.

Jika telah membulatkan tekad ingin menjadi dokter, niatkan lah karena memang memiliki passion di profesi kesehatan, atau karena memiliki niat beramal sesuai dengan profesinya, atau karena ingin melihat senyum pasien yang telah berhasil diobati.

Jika memiliki niat mulia, maka kesulitan-kesulitan seperti yang disebutkan di atas, insyaAllah, akan dapat dilewati dengan senyuman.

Advertisements
Categories: gumam sendiri, kesehatan | Tags: , , , , , , | 29 Comments

Post navigation

29 thoughts on “Yakin Mau Menjadi Dokter? Hal-Hal yang Perlu Kamu Ketahui Tentang Profesi Ini

  1. Pingback: Yakin Mau Jadi Dokter? Ini Lho 9 Hal Yang Menghalangimu Jadi Dokter - dental.id

  2. ning

    niceinfo

    Like

  3. Aira Dinata

    Artikelnya keren… sya lulusan hukum. Tapi merasa tidak berguna karena ternyata ortu gak suka sya ikut ujian Peradi. Katanya ranah hukum adalah ranah yg rentan pada suap dan bisa disalahgunakan. Jadi ortu lebih suka sya nerusin bisnis keluarga. Jd pengusaha jujur tnp harus terima uang hasil menipu.
    Tapi belakangan, setelah menjalani bisnis keluarga. Sya jd bingung pd diri sndiri. Krn dpt uang dr hasil bekerja bukan jalur pendidikanku. Belakangan aku jd tertarik bidang kedokteran. Bukan karena dokter bnyk uang. Tp jd dokter bs menyalurkan pendidikannya buat kebaikan org laen.
    Anyway, kira2 diusia sya yg ke 27 ini. Apa msh ada wkt klu sya ambil FK???
    Meski pertanyaan sya ngaco. Mohon beri tanggapannya. Makasih ^^

    Liked by 1 person

    • insani

      pernah nonton film “patch adam” yg main Robin William? silakan ditonton, mgk bisa menginspirasi.

      Saya punya kenalan seorang perawat (S.Ners) di Bangsal syaraf RS di Soerabaya, beliau sudah ambil S2 M Kes, ternyata belum puas dengan ilmu yg ada, beliau sekolah kedokteran lagi, memang tidak bisa lewat jalur reguler di PTN tapi bisa lewat PTS. saat itu saya rasa sudah berusia di atas 35 tahun. mungkin sekarang sudah jadi dokter beliau.

      dr.insani – di sumbawa

      Like

    • navrio

      tidak ada kata terlambat selagi masih mau berusaha dan mampu

      Like

  4. Andri

    Baca ini membuat ku benar2 ngeri mau masuk FK, padahal aku udah belajar setengah disini..
    Artikelnya seperti membunuh semangat ku…
    😭😭😖😖😖

    Like

    • Wah, artikel ini sebenarnya tidak untuk membunuh minat untuk masuk FK. Silakan berusaha untuk meraih cita-cita. Mungkin hampir setiap orang yang sekarang sudah menjadi dokter pun merasa seperti mimpi kala itu bisa masuk FK. Yang terpenting ialah bagaimana kita menjernihkan niat dan tujuan kita untuk menjadi dokter. Tetap semangat!

      Like

  5. Teguh Wibowo

    Kalau orang yg sekolah dokter gigi saja bisa jd pengusaha sukses dan orang terkaya senegeri ini kenapa tidak ada yg sekolah dokter punya impian spt itu jg. Selama profesi dokter dihargai sebatas buruh/pekerja yg butuh uang dari pasien/orang lain untuk menjadi kaya maka dokter tidak akan mendapat penghargaan yg layak, apalagi di negeri yg tidak menghargai nyawa manusia dan hukum/kekuasaan bisa dibeli dengan uang.

    Like

  6. Elita Septiani

    Kak sekarang masih ada ukdi atau sudah diganti dengan exit exams?

    Like

  7. Elita Septiani

    Kak sekarang masih ada ukdi atau sudah diganti dengan exit exams?

    Like

    • Sudah lama diganti exit exam. Sekarang namanya Ujian Kompetensi Mahasiswa Pendidikan Profesi Dokter (UKMPPD). Setiap mahasiswa kedokteran harus ikut UKMPPD untuk dinyatakan “lulus” dari FK

      Like

  8. Aisyah

    nice info 2

    Like

  9. dwi

    Artikelnya super sekali. Terima kasih telah berbagi informasi. dan saya sangat senang sekali menemukan closing anda yang singkat, sederhana, tetapi mulia. Segala sesuatu memang sebaiknya diawali dengan niat yang baik.Terima kasih.

    Like

  10. betul banget, setelah lulus dokter pun akan dihadapkan pada dilema jika harus sekolah lagi jadi spesialis. gak ada matinya, sekolah terus, belajar terus. kata orang sih long life learner

    Like

  11. Elfa

    Kak saya mau nanya nih, saya kelas 3 SMA, awalnya punya niat masuk fakultas kedokteran tapi gak jadi karrna ragu dengan kemampuan, saya itu pelajar yang rata-rata ga pinter banget, menurut kakak gimana untuk siswa yang punya prestasi tak sebagus sang rangking 1 masuk kuliah kedokteran.

    Sebelumnya boleh ga kak minta Whattsap, atau email juga ga papa untuk tanya tanya lebih dalam. Makasih.

    Like

    • Salam
      Segala sesuatu itu sangat mungkin, selama ada kemauan, heheheh 🙂
      Saat saya kuliah, saya melihat banyak mereka yang ketika di bangku sekolah memiliki prestasi mentereng tapi nilai selama kuliah biasa aja. Sebaliknya, ga sedikit mereka yang biasa aja pas di bangku sekolah, tapi pas kuliah rajin membaca, mengerjakan tugas, dan berdiskusi, akhirnya memiliki IPK yang sangat baik.

      Ketika kuliah, semua kembali bermula dari nol, ga terpengaruh dengan kondisi sekolah. Setiap orang berkesempatan kuliah di FK dan menjadi dokter, selama ya itu tadi, punya keinginan kuat untuk menjadi dokter 🙂

      Like

      • Ruben

        Kak mau nanya nih, saya anak smk jurusan perminyakan. Dan saya juga ga banyak tau tentang biologi, apakah cocok saya ambil fk?

        Like

      • Cocok
        Selama punya keinginan dan mau berusaha

        Like

  12. Umi kalsum

    Wah artikel ini membuat aku makin semangat mau masuk FK:-):-):-):-):-)

    Like

  13. Ressa Stp

    Ressa jugaa mau jadi dokter :g tapi ressa jurusan akuntansi -_- kepingin jadi dokter pas mau naik kelas 11 sekarang ressa kelas 11 smk. ressa pengen jadi dokter spesialis ahli bedah :v pengen banget:g udah prepare nabung buat nambah nambahin buat kuliah, walaupun orang orang sekitar pada sirik kali tuh, komen hidup ressa aja -_- bilangnya gak nyambung lah, gak cocok. ampe bilang emang kuat luh? guru mtk ressa ampe komen pm ressa ihs gasuka, komennya gini “Ya gak nyabung ressa, kamu kalau mau masuk kedokteran, ngapain masuk smk.. org mah masuk ipa geh” nothing is impossible pan? huhu.. papah pun bilang ‘udah kerja dikantoran aja’ gak ada apa satu orang yang dukung guee.. -__-
    tapi pas nemu ini web, ressa jadi mikir om, mas, kak, *manggilnyaapaini? ressa mikir dokter umum aja kuliah bertahun tahun gitu.. banyak hafalan dan lainnya. gimana spesialis bedah?:’v belom nanti tuntutan orang tua minta cucu atau tetangga ngira gue perawan tua *setdahjauhamatpikirangue* yaa, emang gitu biar resa ganyesel nantinya, ya resaa mikir sampe sejauh itu laaah.. ngebayangin kuliah sambil ngurusin keluarga sederhana guee. ohmygod! bisa berhenti ditengan jalan kuliah gueee.. dan akhirnya ressa pun memutuskan untuk belajar sendiri tentang penyakit penyakit tugas tugas dokter dari google atau film-film meski difilm kadang diagnosa nya asal ucap doang:v cihh. tapi tak apa untuk kakak sepupu dari mamah bidan, numpang numpang belajar dari buku buku bekas dia cukup kali yaa.. 😀 siapa tau kekabul jadi dokter 😀 meskipun belajarnya otodidak :3 😮 wkwk ini mah curhatt :v panjang beuttd :d gak jadi dokter mungkin masih bisa jadi psikolog :v plis jangan bilang kagak nyambung lagi sama jurusann :v
    okee.. thankyou :d

    Like

    • Salam ressa

      Menjadi dokter itu ga bisa otodidak, harus bersabar melalui proses pendidikan yang ada. Memang sekolah dokter itu lama dan capek, tapi insyaAllah kesabaran akan berbuah manis, dan terbukti ratusan ribu orang bisa kok lulus jadi dokter, heheh. Tapi kalo ga mau jadi dokter pun ga masalah, setiap profesi itu mulia selama diniatkan ibadah. Hanya saja, untuk urusan kesehatan, serahkan lah kepada ahlinya, dan berlajar ilmu kesehatan itu tidak bisa dengan otodidak melalui buku atau internet 🙂

      Like

  14. Ressa Stp

    banyak typo ituu -__-
    om ressa cewek bukan cowok yaa.. kebanyakan yang gatau ressa kadang ngiranya ressa cowok :v

    Like

  15. Raisa

    Assalamualaikum.
    Saya pernah terinspirasi untuk menjadi Dokter dari saya SMP, tapi karna semangat saya yang
    kurang pada waktu, jadi setelah lulus SMP saya malah masuk SMK jurusan Multimedia, tapi
    hanya di jurusan ini saja yang tetap mempelajari IPA (fisika,kimia,biologi) kalo dijurusan
    lain ga ada yang mempelajari pelajaran itu. Dan pada suatu saat minat saya untuk menjadi
    Dokter kembali ada, minat itu timbul setelah saya terInspirasi saat menonton drama tentang
    dokter, saya didukung oleh orang tua saya untuk itu. Tapi setelah selang beberapa lama saya
    rasa saya ga mungkin jadi Dokter, karna saya rasa saya bukan orang yang tepat untuk bisa jadi Dokter.
    Setelah satu tahun berlalu saya pikir minat untuk menjadi Dokter kembali ada, bahkan saya
    Bersemangat sekali untuk itu, saya merasa saya bisa, dan saya mampu untuk rintangan dan
    resiko yang saya ambil dikedepannya. Bahkan saya sudah searching Universitas yang bagus
    untuk dimasuki dan sudah tanya” juga sama mantan Guru saya yang skarang kembali keSolo saya
    tanya di UNS tentang FK, saya semakin Terinspirasi dengan Semangat yang diberikan oleh Guru
    saya itu, sekarang saya semangat sekali untuk rajin membaca dan belajar.
    Saya hanya ingin tau bagaimana tanggapan Kak Sayyid Hakam tentang saya, mohon respon dan
    Semagatnya kak, Terima Kasih banyak, artikel ini sangat membantu saya, once more Thank You!

    Like

  16. Wow… Jadi gitu ya dokter.. Selama ini cuman denger2 aja koass, intersip dan segala macam.. Dari temen yg seangkatan lulus sma ada beberapa yg kuliah kedokteran, sekarang sy sudah kerja dan mereka msh berjuang dalam fase koas, kadang kalo ketemu dan ngobrol sy melihat ekspresi yg mgkn sedikit kecewa telah memilih jalan kedokteran mungkin karena proses yang harus dilewati lama dan berat

    Like

  17. Astrid

    Ass.
    saya mau nanya.. sekarang Universitas Neg. sdh bsa trima lulusan smk/blm ya? sya lulusan smk kesehatan jurusan keperawatan.. pngen masuk FK Universitas Neg. mhon penjelasanx.
    mkash

    Like

  18. Innaya Mujaddid

    makasih kak atas info-infonya –

    Like

  19. Saya masih murid sma, tapi baca artikel ini menginspirasi banget. Ternyata berat banget ya biar bisa jadi dokter, pendidikan nya bahkan bisa sampai 10tahun bahkan ada yg lebih. Saya sangat salut dengan seorang dokter👏👏👏 ga heran juga sih kalo dokter itu emang pekerjaan paling hebat di antara job yg lain

    Like

  20. rizkiridhomulya

    Aku ridho umur 13 belas tahuna aku bercita menjadi dokter bedah karna aku ingin menyelamatkan orang dan ingin membantu orang orang di desa
    Bkn karna ingin kaya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: