Mari Bercermin dari Presiden Kita

Nasihat Jokowi untuk Ridwan Kamil di Koran Republika (sumber: https://www.facebook.com/iqbal.farabi)

Nasihat Jokowi untuk Ridwan Kamil di Koran Republika (sumber: https://www.facebook.com/iqbal.farabi)

Akhir-akhir ini media sosial menjadi riuh rendah akibat berita mundunya Ridwan Kamil dari kompetisi calon DKI 1. Mundurnya beliau bisa tidaklah diputuskan dengan mudah dan tergesa-gesa. Secara politik, menjadi gubernur DKI Jakarta bisa dibilang sebagai ‘naik jabatan’. Siapakah yang tidak ingin berkembang ke tingkat yang lebih tinggi? Nyatanya, orang nomor 1 kota Bandung itu memilih angkat tangan setelah berhari-hari merenung, berdiskusi dengan berbagai tokoh, bahkan bertanya ke warganya sendiri.

Walikota Bandung merupakan sosok yang banyak diidolakan, tidak hanya oleh warga Bandung, tapi juga masyarakat Indonesia pada umumnya. Kemampuannya ‘menyulap’ kota Bandung menjadi memukau juga mereformasi birokrasi banyak diacungi jempol. Program-programnya pun sangat inovatif dan kreatif; tak kalah penting juga ialah beliau sering melibatkan warga, yang disebut dengan kolaborasi. Penghargaan yang beliau terima pun tidak sedikit. Tak mengejutkan jika banyak yang menginginkan agar kang Emil ‘naik kelas’ menjadi gubernur ibu kota—walau kepemimpinannya di Bandung belum 5 tahun.

Menurut RK, salah satu yang membuatnya mempertimbangkan untuk batal mencalonkan diri di pilkada DKI ialah nasihat bapak presiden. Ungkapan sang presiden dikutip oleh media nasional dan mungkin kita semua sudah membacanya.

“Beliau bilang jangan semata-mata mengejar sesuatu lebih besar tapi di depan mata belum terselesaikan.”

Nasihat dari Jokowi didengar dengan baik oleh beliau, dengan mengatakan, “Nasehat bijak dan saya pahami dengan baik.”

Banyak yang cukup merasa geli dengan berita di atas. Seorang blogger dan netizen yang memiliki banyak follower, Jonru Ginting, mengatakan bahwa ia “terbahak-bahak” setelah membacanya. Komentar di media sosial pun cukup ramai: tidak hanya tentang kebesaran hati kang RK untuk menuntaskan amanahnya, tapi juga pernyataan Jokowi yang lebih tepat jika ditujukan untuk dirinya sendiri. Tak dipungkiri, saya pribadi salah satu orang yang terkekeh-kekeh mendengar nasihat bapak presdien.

Tidaklah mengherankan. Publik masih bisa mengingat jelas janji pak Jokowi saat kampanye pilkada DKI: beliau takkan maju di pemilu presiden jika terpilih menjadi gubernur. Masyarakat pun telah mendengar dengan seksama akan pernyataan beliau. Nyatanya, beliau tetap dielu-elukan untuk menjadi presiden di pemilu 2014 kemarin. Memang, pak Jokowi menyebutkan bahwa permasalahan di ibu kota akan lebih mudah diselesaikan jika menjadi RI 1.

Itu adalah sudut pandang yang terlalu menyederhanakan persoalan. Benar saja, masalah kemacetan dan banjir ibu kota masih ada. Malah, banjir di Jakarta, menurut gubernur yang sekarang, akibat sabotase.

Persoalan yang ada di pandangan pak Jokowi kala itu, sebagai gubernur Jakarta, belum selesai. Masalah di Jakarta begitu kompleks dan besar—sangat besar sehingga pasti terlihat oleh mata sendiri. Walau demikian, beliau tetap mengejar masalah yang lebih besar lagi. Selesaikah masalah yang ditinggalkan beliau? Kita semua tahu jawabannya.

Saya ingin mengambil pelajaran dari fenomena ini. Pertama, jika suatu tanggung jawab di depan mata tidak dituntaskan, alih-alih ingin mengambil amanah yang lebih besar—semulia apa pun niatnya, seperti yakin persoalan tersebut akan tuntas jika mengambil amanah yang lebih besar—yakinlah masalah yang ditinggalkan tidak akan beres. Malah, problem yang lebih besar akan muncul. Situasi politik dan ekonomi di masa-masa awal pak Jokowi menjabat sudah cukup menjadi pelajaran.

Kedua, kita manusia lebih suka menasihati orang lain tanpa bercermin terhadap diri sendiri. Tidak perlu hal yang berkaitan dengan kepemimpinan atau politik; hal yang sederhana saja: kita sering menasihati adik atau teman untuk ini atau itu, padahal diri sendiri belum tentu telah melakukannya. Seorang bisa menjadi motivator ulung menyemangati temannya yang sedang dalam masalah. Namun, jika orang tersebut mendapat kesulitan yang sama, belum tentu apa yang dinasihatkannya bisa diaplikasikan sendiri. Menasihati memang lebih gampang daripada mempraktekkanya.

Burukkah menasihati orang? Tentu tidak. Tindakan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran itu penting untuk eksistensi manusia. Bahkan jika orang-orang enggan menasihati keburukan, dengan alasan belum bisa mengaplikasikannya untuk diri sendiri, yang akan timbul ialah becana. Kejelakan akan terus saja terjadi, sedangkan manusia ialah makhluk yang sulit untuk melaksanakan semua yang dikatakannya.

Memberi nasihat tetap diperlukan. Lalu setelahnya, bercerminlah ke diri sendiri. Sudahkah diri ini melakukan apa yang baru saja dikatakan? Jika belum, mari berkomitmen untuk melaksanakannya. Karena itu, dalam setiap nasihat yang kita keluarkan, tujukan itu bukan hanya untuk lawan bicara, tapi juga untuk diri sendiri.

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (As-Saff: 2-3)

Saya ingin berprasangka baik; saya yakin pak Jokowi menasihati demikian ke kang Emil karena menyadari kesalahan yang dibuatnya. Beliau berharap agar RK tidak seperti dirinya yang mengejar masalah yang lebih besar tapi di depan mata belum terselesaikan.

Yahh, apa pun yang ada di dalam pikiran bapak presiden, marilah kita bercermin.

Advertisements
Categories: merenung | Tags: , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: