Monthly Archives: March 2016

Papeda, Makanan Orang Papua

Ketika berkunjung ke suatu daerah di Nusantara ini, apakah keperluan jalan-jalan, sekolah, dan bekerja, sempatkanlah untuk mencicipi makanan khasnya. Keanekaragaman jenis makanan yang ada dari ujung Sabang hingga Merauke merupakan bukti kekayaan tanah air kita.

Setelah puas menikmati makanan Lombok selama internship setahun lalu, kini saya ingin mencoba apa yang ada di Papua. Mungkin tidak banyak makanan khas yang bisa ditemukan di pulang paling timur Indonesia ini. Maklum, kebiasaan orang Papua bukanlah bercocok tanam—amat jarang ditemukan sawah di Papua, kecuali di permukiman transmigran. Petugas laboratorium yang merupakan orang asli orang Teluk Bintuni mengamininya. “Orang Papua lebih suka berburu,” katanya. Sampai sekarang pun orang-orang asli Papua masih berburu dan mengambil sayur dan buah-buahan dari hutan untuk mengisi perut. Bahan-bahan makanan yang ada di pasar kebanyakan kiriman dari kapal yang berlayar dari Jawa.

Makanan asli orang Papua ialah Papeda. Terbuat dari tepung sagu yang dilarutkan dalam air mendidih, bentuk papeda seperti lem kanji. Konsistensinya kenyal dan agak lengket—benar-benar seperti lem—dan berwarna putih-bening. Karena tebuat dari sagu, papeda memiliki kandungun nutrisi berupa glukosa dan serat sehingga ia cocok menjadi makanan pokok selain nasi. Rasa papeda memang hambar. Namun, umumnya makanan ini dinikmati bersama dengan ikan kuah kuning.

Papeda

Papeda

Papeda Dimakan Bersama Ikan Kuah Kuning

Papeda Dimakan Bersama Ikan Kuah Kuning

Selama berada di Teluk Bintuni, papeda tidak pernah saya temukan di warung makan. Selain tidak bercocok tanam, tampaknya masyarakat Papua juga tidak memiliki jiwa wirausaha yang tinggi. Kebanyakan yang membuka toko atau warung ialah para pendatang yang merupakan orang Jawa atau Makasar. Alhasil, makanan yang dijual kebanyakan di Teluk Bintuni ialah pecel ayam goreng dan coto….Jadi, papeda merupakan masakan rumahan. Selain itu, papeda juga biasanya disajikan ketika ada acara jamuan makan-makan.

Ya, papeda ikan kuah kuning merupakan makanan khas Papua. Jika suatu waktu berkesempatan mengunjungi tanah Papua, jangan lupa untuk mencicipinya ya 🙂

Categories: catatan perjalanan | Tags: , , , , , | 1 Comment

Cerita PTT: Perjalanan dari Manokwari ke Bintuni

Peta Papua Barat via http://manokwari.bpk.go.id/

Peta Papua Barat via http://manokwari.bpk.go.id/

Sudah menjadi keinginan saya dari dulu untuk mengunjungi Papua. Bekerja di daerah terpencil dan lokasi paling timur Nusantara adalah tantangan tersendiri. Pengabdian dan juga petualangan; mereka adalah dua alasan yang mendorong diri ini untuk bekerja di Teluk Bintuni, salah satu kabupaten di propinsi Papua Barat.

Beruntung saat ini Teluk Bintuni dapat dicapai melalui jalur udara dengan relatif mudah. Sebelum ke Bintuni, pengunjung harus terbang ke arah Manokwari terlebih dulu. Ada 3 maskpai penerbangan yang bisa digunakan dari bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, yaitu Express, Sriwijaya, dan Garuda. Ketiga penerbangan itu akan transit dulu di Makassar, kemudian melanjutkan perjalanan ke bandara Rendani, Manokwari.

Semua jadwal penerbangan menuju Manokwari dari Cengkareng adalah malam jelang dini hari. Akibatnya, pengunjung baru bisa menginjakkan kaki di Papua pada pagi hari; dalam keadaan kleyeng karena ngantuk. Setelah itu, untuk melanjutkan ke Bintuni, ada 2 opsi: jalur udara atau darat.

Pesawat berukuran kecil yang terbang ke Bintuni dioperatori oleh maskpai Susi Air. Waktu yang dibutuhkan pun sangat singkat, yaitu hanya 45 menit. Biaya tiketnya ya lumayanlah, sekitar 1,2 juta rupiah. Hanya saja, terbang dengan Susi Air bisa disebut untung-untungan. Ukuran pesawat yang kecil dengan baling-baling di depan membuat operasinya sangat bergantung pada cuaca. Tidak jarang maskapai menunda penerbangannya berjam-jam bahkan membatalkannya karena berbagai alasan. Dan tentu saja, pesawat mini tersebut gampang untuk ber-geol-geol di udara.

Pesawat Perintis Susi Air

Pesawat Perintis Susi Air

Duduk Tepat di Belakang Pilot

Duduk Tepat di Belakang Pilot

Pilihan ke-2 ialah menggunakan kendaraan double gearbox, yang umumnya ialah Toyota Hilux atau sejenisnya seperti Mitsubishi Strada. Kendaraan yang digunakan wajib double gearbox dan memiliki ban besarkondisi jalanan yang akan diceritakan kemudian hanya bisa dilalui mobil jenis ini.

Biaya perjalanan adalah 500 ribu per orang jika menaikinya sebagai penumpang umum. Murah memang, namun harus rela menunggu sang supir mencari-cari penumpang lain hingga terisi sampai 3-4 orang. Sering pula Hilux menjadi jasa pengiriman barang atau paket dari Manokwari ke Bintuni. Ketika pertama kali sampai Manokwari, saya harus menunggu 3 jam di bandara hingga si mobil Hilux mendapatkan jumlah penumpang yang sesuai, lalu menunggu satu jam lagi untuk mengangkut barang-barang kiriman. Jika tidak mau capek-capek menunggu, bisa menyewa/carter satu mobil Hilux, namun biayanya lebih mahal daripada naik pesawat yaitu 2 juta rupiah.

Toyota Hilux, Kendaraan Primadona Papua

Toyota Hilux, Kendaraan Primadona Papua

Penulis pribadi lebih senang menggunakan Hilux. Selain bisa melihat-lihat pemandangan—yang sebenarnya kebanyakan hutan—aroma petualangan juga lebih terasa. Waktu tempuh ialah 7-9 jam, tergantung kondisi jalan. Jika sedang musim kering, supir Hilux akan mengekspresikan passion membalapnya sehingga bisa sampai ke Bintuni dalam 7 jam. Namun jika hujan dan jalanan basah, waktu yang diperlukan bisa 8-9 jam, tergantung kendala yang didapat.

Setelah keluar dari kota Manokwari, pengguna Hilux akan memasuki Kab. Manokwari Selatan. Daerah ini juga termasuk baru karena hasil pemekaran, dan bisa dibilang bukan kabupaten maju—jauh berbeda dibandingkan Manokwari yang merupakan ibukota propinsi. Berada di pinggir laut, pengunjung bisa melihat laut di sisi kiri. Memang tidak ada pantai yang bagus, namun cukup bisa menjadi hiburan mata dan pikiran.

Awal-awal perjalanan, kondisi jalan cukup baik: aspal mulus. Setelah melewati perkampungan transmigran, distrik Oransbari, dan distrik utama Manokwari Selatan, Ransiki, jalanan pun mulai rusak. Keadaan jalan yang parah mulai terasa ketika masuk ke jalur Gunung Botak.

Gunung Botak merupakan jalur perbukitan. Terlihat bahwa jalan ini hasil pengerukan bukit. Di sebelah kanan, tampak tebing-tebing sisa hasil pengerokan, dan di sisi kiri terbentang laut. Entah jalanan yang ada tidak pernah dirawat atau setelah dikeruk pihak pengembang tidak benar-benar membangun jalan aspal, jalur berupa pasir, kerikil dan bebatuan kasar. Memang dengan menggunakan mobil beroda besar, jalan hancur tidak menjadi kendala. Pemandangan laut pun sebenarnya cukup menarik. Penumpang yang mencarter Hilux biasanya ditawari oleh supir untuk berhenti sejenak dan memfoto pemandangan. Bukit-bukit berwarna hijau yang menjorok ke laut membuat landscape terlihat cukup eksotis.

Pemandangan Gunung Botak via http://www.kompasiana.com/eddypp86

Pemandangan Gunung Botak via http://www.kompasiana.com/eddypp86

Walaupun parah, jalur Gunung Botak dapat dilewati dengan mudah. Mobil kecil seperti Avanza pun masih bisa melewatinya. Jalur setelahnya lah yang bisa menyulitkan perjalanan, terutama jika hujan.

Setelah Gunung Botak terlewati, jalanan yang ada hampir tidak beralaskan aspal sama sekali. Jalur bebatuan yang tidak rata dan dalam dapat merusak mobil yang berbadan rendah. Bagi Hilux dengan roda besar dan badan tinggi, jalan ini belum menjadi masalah. Namun di hadapan, yaitu jalur Pintu Batu, ada beberapa titik yang jalannya berupa murni tanah merah. Jika hujan, tanah tersebut akan melunak dan hampir tidak memiliki gaya gesek.

Pada jalanan menanjak, jalur ini sama sekali tidak bisa dilewati jika tidak menggunakan kendaraan dengan double gearbox. Adanya gigi di kedua sisi, yaitu roda depan dan roda belakang, membuat keempat roda berputar sehingga sangat membantu mobil untuk terdorong. Itu pun jika jalanan sangat licin, para supir Hilux mesti berkali-kali mundur ke belakang untuk mencoba menerobos kembali. Lumpur yang sangat licin membuat roda menjadi slip.

Jalanan Lumpur dan Licin di Jalur Pintu Batu

Jalanan Lumpur dan Licin di Jalur Pintu Batu

Ban Slip

Ban Slip

Pernah suatu waktu ketika perjalanan Manokwari-Bintuni, di jalur Pintu Batu, Hilux yang saya tumpangi sama sekali tidak bisa maju melewati lumpur. Keempat roda benar-benar slip. Akhirnya supir mencoba mundur untuk kemudian gas lagi. Masih tidak bisa maju. Lalu mundur, mundur, mundur…hingga ke tepi jurang. Sama sekali tidak ada kemajuan, supir pun minta bantuan mobil Hilux yang lain untuk menariknya menggunakan tambang. Yahh, bunyi delapan roda berputar kencang mendominasi udara. Asap dan bau kopling tercium; beruntung mobil itu bisa tertarik dan akhirnya dapat melewati jalan licin yang bagaikan es tersebut.

Walau semua orang tahu bahwa hanya mobil Hilux dan sejenisnya yang bisa melewati jalur lumpur, terkadang ada saja orang yang membawa Avanza. Dengan pelan-pelan dan ditarik Hilux, kendaraan minibus masih memungkinkan melewati Gunung Botak. Tapi saya sendiri belum pernah melihat bagaimana ia melewati Pintu Batu. Mungkin akhirnya ia ditarik susah payah oleh Hilux. Saya hanya membayangkan nasib keempat roda mobil kecil tersebut yang menjadi “habis” dan bodinya yang penuh lumpur. Apa pemiliknya ga merasa sayang ya?

Seorang supir menceritakan bahwa saat ini kondisi lebih mendingan karena sudah ada jalan yang menghubungkan Manokwar-Bintuni dan ada mobil Hilux. Dahulu, katanya, untuk menuju Bintuni dari Manokwari, harus menggunakan mobil Hardtop atau Landcruiser, berombongan sekitar 5 mobil. Waktu yang diperlukan pun 1 minggu. Jadi, ketika akan melakukan perjalanan ke Bintuni, dibawa lah kompor, beras, dan bahan makanan lain sebagai bekal selama perjalanan yang berhari-hari itu.

Mobil besar jenis Hilux bisa melewati jalur tanah tersebut dengan lancar, tapi tidak bagi truk yang membawa banyak barang. Kadang-kadang, di tengah perjalanan, bisa ditemukan truk-truk berhenti di pinggir jalan. Mereka berhenti dan bermalam, menunggu jalanan kering kembali. Pengiriman barang dalam jumlah besar dari Manokwari ke Bintuni pun bisa memakan waktu berhari-hari. Maklum, kondisi geografis tidak memungkinkan adanya jalur laut yang menghubungkan kedua kota ini.

Begitulah perjalanan dari Manokwari ke Bintuni, yang menurut penulis menjadi cerita tersendiri. Setelah Pintu Batu, jalanan cenderung beraspal baik dan tidak ada penyulit. Cukup mengherankan kenapa belum ada upaya maksimal untuk memperbaiki jalan. Jika ada pejabat yang melewati jalur darat tersebut, tidak terpikirkan kah untuk memperlancar akses, yang pada akhirnya akan meningkatkan sirkulasi ekonomi di kedua kota tersebut? Atau, merasa nyaman kah pejabat jika mesti melewati jalanan yang begitu menyedihkannya seperti diurakan di atas?

“Kalau ada pejabat lewat, biasanya jalur yang benar-benar rusak diperbaiki”, kata supir Hilux. “Tapi itu hanya ditambal asal saja. Setelah sang pejabat lewat, jalanan jadi rusak lagi.”

Semoga Papua terus mengalami perbaikan dan semakin diperhatikan pembangunannya oleh pemerintah.

Categories: catatan perjalanan | Tags: , , , , , | 4 Comments

Pernikahan Jarak Jauh Mengajarkan Kita agar Saling Mendekat

Banyak penafsiran tentang cinta. Bagi saya, tidaklah sulit untuk menemukan maknanya. Setelah merenung dan berpikir dalam, saya pun paham bahwa cinta bisa disebut “sejati” hanya bila berada dalam wadah pernikahan.

Pemahaman itu yang menggerakkan kaki ini untuk menuju seseorang yang baru saya kenal selama 6 bulan. Disebut “kenal” pun hanya sebatas luarnya karena amat jarang berkomunikasi dengannya. Tidak mengapa; saya yakin, sesuatu yang diniatkan ibadah, insyaAllah, akan dimudahkan oleh Tuhan.

Setelah dengan cepat bertanya, “Boleh saya bertemu orang tuamu?”, hal-hal sesudahnya terjadi begitu saja dengan cepat. Alhamdulillah, semua pihak yang terlibat sepakat untuk menyegerakan status kami menjadi halal. Detil-detil yang memperlama, seperti resepsi pernikahan, adalah sesuatu sekunder yang bisa ditunda.

Begitulah. Saya yang berasal dari Bandung, ia yang berasal dari Jogja, dipertemukan di Lombok lalu menjalin “ikatan yang kuat”.

Ketika menaiki panggung perayaan cinta dengan relatif mudah, masing-masing dari kami tahu bahwa masa-masa sulit siap menghadang. Ia telah meneken kontrak untuk menempuh studi selama setahun di utara sana. Begitu pun saya sudah memiliki rencana untuk melawat ke pulang paling timur di nusantara. Yah, mungkin bisa dibilang keputusan untuk tetap ke Papua adalah egois, tapi kami sepakat untuk bersabar menjalani pernikahan jarak jauh.

Setahun mungkin terdengar sebentar, tapi bagi yang baru saja memadu cinta, setahun itu terasa selamanya. Mengucapkan kata “sabar” sangatlah mudah, namun ternyata butuh waktu bagi hati kami untuk berdamai dengan kenyataan. Meski demikian, dengan menjalani cinta yang memiliki perbedaan waktu 9 jam ini, ada beberapa hal yang dapat saya pelajari darinya.

Memang penulis belum setahun menjalani rumah tangga—masih bisa disebut pengantin baru. Tulisan ini hanya hasil dari perenungan atas apa yang dialami dan membaca buku tentang pernikahan. Apa-apa yang ada di sini saya niatkan utamanya untuk menasihati diri sendiri dan semoga bermanfaat bagi yang membaca.

  1. Laki-Laki dan Perempuan yang Terikat Pernikahan Fitrahnya adalah Saling Mendekat

Saat memberikan nasihat di akad pernikahan, bapak meminta kami agar seperti ikan “mimi lan mintuno”. Mimi dan mintuno, atau belangkas, merupakan sejenis hewan beruas (arthropoda) yang hidup di perairan dangkal daerah paya-paya dan hutan mangrove. Hewan ini jika dilihat dari atas berbentuk seperti kepiting, dan jika dilihat bagian bawahnya seperti udang berukuran besar. Mimi, sebutan bagi jenis jantan, akan segera mati jika dipisahkan dari mintuno, jenis betinanya. Hewan primitif ini harus hidup berpasangan untuk dapat hidup.

Begitu pula bagi sepasang kekasih yang terikat pernikahan.

Seorang suami tetnu tidak akan mati begitu saja jika jauh dari istrinya. Fisik memang tidak mati, tapi hati serasa kehilangan nyawanya. Penulis pribadi sebenarnya sudah biasa hidup sendiri karena tinggal di kota yang berbeda dengan orang tua sejak SD. Tapi, semenjak menikah, entah kenapa terasa sangat berat menjalani hari-hari tanpa ada yang menemani.

Ya, suami dan istri ada untuk saling mendekat. Keharmonisan rumah tangga terbentuk hanya bila sepasang kekasih menjalani hari-hari bersama. Sang laki-laki akan semakin mengenal dan memahami sifat dan karakter perempuan yang tentu sangat berbeda, begitu pun sebaliknya. Cinta akan semakin tumbuh dan tak akan kadaluarsa meski puluhan tahun terlewati.

  1. Apa pun yang Terjadi, Harus Terus Mendekat, Meskipun Ada Pihak yang Mesti Mengalah

Saat ini mungkin adalah hal yang lumrah bila suami dan istri—dan juga dengan anak-anak—hidup tidak bersama dalam waktu lama. Umumnya yang menjadi penyebab hal ini adalah faktor pekerjaan dan sekolah. Suami yang bekerja di luar kota hanya bisa pulang menengok keluarganya seminggu sekali, yaitu Sabtu-Minggu. Istri harus tinggal di luar kota untuk melanjutkan studinya.

Saya tidak menentang kaum hawa bekerja. Bukan hanya sekedar untuk mencari uang, bekerja merupakan kebutuhan manusia untuk berekspresi dan mengoptimalkan potensinya. Terlebih bagi mereka yang sudah susah payah sekolah hingga perguruan tinggi. Adalah wajar jika manusia ingin mengaktualisasikan apa yang dipelajarinya bertahun-tahun. Selain itu, kehidupan ini memang membutuhkan wanita yang bekerja. Contoh sederhana adalah dokter kandungan; ibu-ibu hamil akan merasa jauh lebih nyaman jika jalan lahirnya dipegang-pegang oleh dokter perempuan. Atau bagi wanita yang menderita kelainan atau kanker payudara, pasti sangat terganggu jika dokter bedah onkologi yang ada hanya laki-laki.

Suami dan istri sama saja: mereka sama-sama berhak untuk bekerja. Khusus bagi suami, bekerja merupakan kewajiban; tak peduli walaupun penghasilannya lebih kecil dari istri, ia tetap harus menafkahi pasangan dan anak-anaknya. Nah, adanya pekerjaan ini sering membuat suami istri terpisah. Hal ini harus dihindari bagaimana pun caranya. Apakah suami mencari kerja di kota tempat kantor atau sekolah istri berada, atau istri melepas pekerjaannya demi ikut suami. Harus ada yang mengalah, tidak peduli apakah pihak laki atau bini.

Seringkali hidup bersama tidak dapat dicapai karena tidak ada yang mau mengalah, dan yang membuat seseorang sulit mengalah ialah ego. Saran saya, buang semua ambisi duniawi. Membentuk rumah tangga yang penuh cinta dan kokoh jauh lebih penting daripada nafsu meraih uang, jabatan, atau gelar akademik. Keluarga yang sederhana namun terikat dengan kuat insyaAllah akan lebih bahagia daripada yang penuh kemewahan dan sanjungan namun tiada cinta.

  1. Jika Harus Terpisah, Janganlah Tidak Jelas Sampai Kapan, Harus Ada Batasan Waktu

Pasangan yang hidup berjauhan harus memiliki target jelas kapan mengakhiri pernikahan jarak jauh. Jika terpisah karena pendidikan, maka usai sekolah segeralah kembali ke suami/istri dan jangan berlama-lama. Setelah selesai S-2, jangan berpikir untuk lanjut S-3 di kota yang berbeda dengan tempat tinggal pasangan. Cari di tempat yang satu kota dengan pasangan, atau minta pasangan pindah kerja, atau tidak perlu lanjutkan sekolah. Seperti yang telah disebutkan, ambisi dunia itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rumah tangga yang harmonis, dan tiada keharmonisan bila tidak tinggal bersama.

Pun jika terpisah karena pekerjaan. Harus punya rencana berapa lama bekerja di tempat tersebut dan mencari kerja di tempat suami/istri berada. Jika terlalu lama hidup berpisah, masing-masing akan mulai terbiasa hidup sendiri sehingga keinginan untuk hidup bersama pun bisa hilang.

Niatkan tujuan dari bekerja dan sekolah bukan untuk meraih harta dan gelar sebanyak-banyaknya, namun bagaimana agar kedua hal tersebut dapat membuat kehidupan keluarga semakin penuh kedamaian dan kebahagiaan.

  1. Walau Terpisah Jarak, Penting untuk Terus Berkomunikasi Setiap Hari

Hal yang paling dikhawatirkan dari pernikahan jarak jauh ialah perasaan mulai terbiasa. Dahulu ketika SD, saya sering bersedih bahkan menangis karena tidak tinggal bersama orang tua. Namun, saat sudah masuk SMP, rasa sedih sudah tidak muncul. Aktvitas sehari-hari mulai terbiasa dijalani tanpa harus ada orang tua. Hal seperti ini tidak boleh terjadi dalam pernikahan.

Jika tidak ada lagi kerinduan dan keinginan untuk bertemu, hal ini menunjukkan manisnya cinta mulai memudar. Semakin lama akan menjadi hilang hingga rasanya menjadi hambar. Pernikahan yang tidak lagi terasa manis akan membuat kehidupan berumah tangga menjadi membosankan. Apabila sudah bosan, bisa jadi masing-masing pihak mulai mencari sesuatu di luar rumah yang dapat memenuhi dahaga mereka…

Komunikasi dengan pasangan tidak boleh terputus, seberapa jauh pun jarak yang ada. Syukur di tempat tinggal saya saat ini di Bintuni terdapat sinyal 3G sehingga dapat menelpon istri di London sana melalui internet. Dengan menelpon tiap hari, rasa rindu akan menguat, dan keinginan untuk kembali bersama semakin menggelora.

Bayangkan hubungan jarak jauh tanpa ada komunikasi. Masing-masing tidak ingin tahu apa yang sedang dilakukan dan apa terjadi pada pasangan. Apakah ia sedang bahagia, sedang sakit, atau sedang kesulitan, tidak tahu, tidak peduli. Ketika akhirnya bertemu, muncul rasa segan dan kagok, seolah baru pertama kali mengenal. Hilang sudah kehangatan cinta dalam pernikahan.

Cari cara untuk terus menjalin komunikasi. Tidak ada sinyal, berusahalah menulis surat, walau mungkin surat itu baru sampai sebulan kemudian. Justru mungkin ketika surat sampai, akan terasa lebih manis, seperti zaman dahulu seseorang yang menunggu tukang pos lewat untuk menyampaikan surat dari kekasihnya. Heheheh, klasik sekali J.

  1. Syukurilah Saat-Saat Bersama dengan Menghindari Pertengkaran

Konflik dalam rumah tangga mungkin tidak akan pernah bisa dihindari. Laki-laki pasti memiliki perbedaan dengan perempuan karena memang karakternya tidak sama. Pun kehidupan yang dijalani dengan intim dan terus-menerus akan membuka karakter asli masing-masing. Banyak orang memutuskan untuk pacaran bertahun-tahun agar bisa mengenal luar dan dalam pasangannya. Percayalah bahwa itu percuma: karakter asli hanya akan keluar setelah menikah. Saat sifat yang sesungguhnya dikeluarkan, muncullah rasa kecewa dan tidak puas karena tidak sesuai yang dieskpektasikan.

Mencintai bukanlah mencari orang yang dapat memenuhi ekspektasi. Jika itu adalah alasan mencinta, jadi saja Arjuna, yang mendaki gunung tertinggi dan mengarungi samudera hanya untuk mendapatkan kesimpulan “…mungkin cinta sejati memang tak ada dalam cerita kehidupan ini.”

Istri bukanlah makhluk sempurna, sebagaimana kita takkan pernah meraih predikat itu. Tidak akan pernah ada manusia yang dapat memeuhi seluruh harapan manusia lain. Istri bukanlah budak bagi suami, juga sebaliknya. Sudah, terima saja kelemahan-kelemahannya, maklumi saja ketidakmampuannya memenuhi ekspektasi kita. Berumah tanggah ialah berinteraksi timbal balik. Jika ada kelemahan pada istri, tugas suami untuk menguatkannya. Bila ada yang kurang pada suami, amanah istri untuk menambahkannya.

Rumah tangga bahagia bukanlah yang diisi oleh superman dan superwoman, melainkan oleh dua manusia yang sama-sama mau memperbaiki diri dan saling mengisi.

Pertengkaran suami istri juga sering dicetus oleh hal-hal sepele. Memang mulanya remeh, tapi jika masing-masing terus terbawa ego dan emosi, dapat berakhir ke hal yang sangat serius. Atau paling tidak saling diam-diaman berhari-hari karena tidak ada pihak yang mau minta maaf. Ya wajar, karena masing-masing merasa benar.

Satu hal yang pasti dalam konflik rumah tangga ialah jika berusaha mencari siapa yang salah, maka tidak akan pernah ketemu. Tidak akan pernah, walau dicari ke ujung dunia dan selama ribuan tahun sekalipun. Tidak penting siapa yang salah, melainkan berdamai untuk mencari penyelesaian atas masalah yang ada. Agar bisa move on dari pertengkaran, perlu ada yang rela melepas egonya untuk meminta maaf.

Siapa yang pertama kali harus meminta maaf? Jawabannya adalah Anda; tidak peduli apakah Anda itu pihak suami atau istri, pihak yang memulai pertengkaran atau bukan, pokoknya Anda lah yang harus pertama kali meminta maaf. Jika kata “maaf” sudah keluar, maka insyaAllah pertengkaran akan selesai saat itu juga.

  1. Jangan Sia-Siakan Waktu yang Ada, karena Kelak akan Berpisah Selamanya

Saat itu pasti tiba. Berdiri lemas menatap tanpa kata ke arah batu nisan yang bertuliskan nama pasangan kita; atau kita berbaring tanpa daya di bawah tanah, dipandang istri/suami yang berlinang air mata. Mau berupaya sebagaimana pun, atau mengeluarkan uang sebanyak apa pun, peristiwa tersebut takkan bisa dihindari.

Apakah yang terasa, jika saat menemui ajalnya, ia tak ada di samping kita? Nun jauh di sana, yang bahkan untuk menatap mayatnya butuh waktu berhari-hari. Atau bagaimana bila kita sekarat menghadapi kematian dalam keadaan kesepian? Isak dan air mata takkan bisa memutar balik waktu. Karena itu, masih ada kah alasan untuk berlama-lama hidup terpisah? Tidak ada yang mampu, tak satu pun ada yang kuasa memprediksi takdir Tuhan.

Kuatkan lah keingingan untuk terus mendekat. Pikirkan dan cari berbagai macam cara agar tidak terpisah. Pertemuan tidak lah selamanya karena ia punya batas waktu, sedangkan perpisahan adalah hal yang pasti. Hanya karena ego dan ambisi yang tanpanya pun insyaAllah masih bisa hidup dengan berkah, relakah mengikis waktu yang semakin tipis untuk dapat bersama kekasih?

Berusalah agar terus mendekat. Selain itu, berdoalah kepadaNya, agar di kehidupan kedua nanti dapat didekatkan kembali bersama sang kekasih.

Akan sangat indah jika di dunia ini bisa terus bersama orang yang dicintai. Begitu juga di dunia yang tak mengenal batas waktu nanti. Terus bersama, selamanya.

Categories: gagasan, merenung | Tags: , , , | Leave a comment

Yakin Mau Menjadi Dokter? Hal-Hal yang Perlu Kamu Ketahui Tentang Profesi Ini

DSC_0231

Dokter bisa dibilang merupakan salah satu profesi yang paling diidamkan. Adalah mimpi setiap orang tua bila bisa mengkuliahkan anaknya di fakultas kedokteran. Bagaimana tidak, profesi dokter sering diidentikkan dengan pekerjaan mulia yaitu memyembuhkan orang sakit. Jika diri kita atau orang tua menderita sakit, bahkan sakit parah, kita akan sangat berterima kasih dan mungkin kagum dengan dokter yang telah melakukan pekerjaannya. Selain itu, tidak bisa dipungkiri, dokter identik dengan penghasilan besar dan hidup mewah; barangkali ini merupakan faktor terbesar yang mendorong orang banyak untuk kuliah kedokteran.

Meskipun demikian, perjalanan untuk menjadi dokter sangatlah tidak mulus; bisa dikatakan cukup berat. Setelah menjadi dokter pun, belum tentu ekspektasi yang diharapkan bisa terpenuhi. Intinya, menjadi dokter tidaklah seindah yang dibayangkan kebanyakan orang yang tidak memahami profesi tersebut.

Kamu ingin menjadi dokter? Atau kamu ingin anak-anakmu menjadi dokter? Berikut adalah hal-hal yang harus diketahui sebelum benar-benar membulatkan tekad memilih profesi tersebut

  1. Sekolah yang Lama
Mahasiswa FK

Mahasiswa FK

Mungkin sudah banyak yang mengetahui bahwa perjalanan menjadi dokter tidaklah ringan. Di fakultas lain masa studi bisa diselesaikan dalam 4 tahun—bahkan ada yang 3,5 tahun bagi mereka yang pintar—namun untuk menjadi dokter waktu yang dibutuhkan minimal adalah 5 tahun. Malah, masih ada beberapa fakultas kedokteran (FK) di beberapa universitas yang masih menerapkan pendidikan 6 tahun.

Jenjang pendidikan kedokteran secara umum dibagi 2, yaitu tahap sarjana kedokteran dan pendidikan profesi yang lebih dikenal sebagai tahapan koas. Tahap sarjana bisa ditempuh minimal selama 3,5 atau 4 tahun, tergantung kebijakan masing-masing FK. Perlu diketahui, jika di fakultas lain mungkin ada program percepatan, maka di FK tidak ada. Tiga setengah atau empat tahun benar-benar waktu fix yang harus dilalui. Setelah diwisuda menjadi sarjana kedokteran (S.Ked), calon dokter pun langsung menjalani pendidikan profesi di rumah sakit.

Jika dihitung-hitung, saat mahasiswa fakultas lain rata-rata sudah lulus, berpenghasilan, punya istri dan anak, mahasiswa FK sedang jaga malam di RS :p

  1. Proses Pendidikan yang Berat
Ujian OSCE

Ujian OSCE (sumber: http://unprimdn.ac.id/)

Tidak hanya lama, pendidikan kedokteran juga dikenal sebagai pendidikan yang tidak mudah. Tanyakanlah kepada para mahasiswa fakultas lain yang bertetangga dengan fakultas kedokteran; mereka akan mengatakan bahwa teman-teman di FK menjalani pendidikan yang berat. Itu baru fase S.Ked; di masa koas, proses pendidikannya pun menjadi jaluh lebih menantang.

Kuliah kedokteran identik dengan banyaknya materi yang harus dipelajari. Tidak seperti kuliah teknik atau sains yang banyak bermain logika, orang yang mempelajari ilmu kedokteran dituntut untuk banyak membaca. Jika tidak banyak membaca, otomatis tidak akan banyak tahu dan dijamin ketika ujian pun bingung. Memang banyak yang harus “dihapal” layaknya pelajaran biologi ketika SMA, namun juga harus dipahami agar benar-benar bisa mengerti dan ilmunya tidak hilang begitu saja. Alhasil, pekerjaan mahasiswa FK ialah banyak membaca.

Sekarang hampir semua (atau semua ya?) FK sudah menerapkan sistem kurikulum yang menuntut mahasiswa untuk “belajar sendiri”, atau disebut dengan kurikulum problem based learning (PBL). Pada sistem ini, kuliah amat minim…di FK saya sendiri kuliah tentang ilmu kedokterannya hanya sekitar 6 jam per minggu. Sisanya dipelajari dalam kelompok diskusi PBL, yang notabene tiap mahasiswa harus mencari dan belajar sendiri. Bagaimana ketika diskusi bingung dan mentok? Jangan berharap bertanya ke dosen; mungkin ada dosen berhati malaikat yang mau menjawab, namun kebanyakan akan menjawab, “Baca sendiri, ya!” Begitulah, mahasiswa benar-benar harus membaca sendiri textbook.

Bentuk ujian di FK pun tidak hanya berupa ujian tulis. Ada bentuk ujian yang meminta mahasiswa untuk mempraktekkan keterampilan klinik, apakan itu berupa wawancara medis, pemeriksaan fisik, atau tindakan bedah. Ujian ini dikenal dengan OSCE. Keterampilan tersebut diujikan ke standard patient atau ke manekin, langsung di hadapan penguji, dan peserta rata-rata hanya diberi waktu 10 menit. Setelah selesai, peserta keluar ruangan dan berpindah ke ruangan selanjutnya untuk mempraktekkan keterampilan yang berbeda, tergantung soal. Dan, bagi yang pernah merasakannya, seperti naik roller coaster J.

Yahh, menurut saya pribadi, ujian OSCE “tidak seberapa” dibandingkan ujian SOOCA. Tidak semua FK menerapkan jenis ujian ini. Intinya, ada 15 kasus yang mesti dipelajari oleh mahasiswa. Saat ujian, kasus tersebut akan diundi, dan peserta diberi waktu 20 menit mempresentasikannya di hadapan 2 penguji. Bagi yang pernah mengalaminya, rasanya seperti jatuh dari gedung tinggi :p

  1. Tahapan Koas yang Melelahkan
Koas Jaga

Koas Jaga (sumber: https://ask.fm/abdichsan)

Koas atau “dokter muda” merupakan tahapan pendidikan profesi yang dijalani di rumah sakit. Peserta didik akan mengitari setiap departeman yang ada di RS, seperti depaertemen penyakit dalam, ilmu kesehatan anak, bedah, kebidanan dan kandungan, dst. Proses ini ditempuh selama 1,5 atau 2 tahun. Di tahapan ini, ilmu yang dipelajari di masa sarjana diterapkan di tiap bagian…walau kebanyakan sih “belajar lagi dari awal” karena apa yang ada di saat mahasiswa sudah dilupakan :p. Tidak heran kalau koas selalu dimarah-marahi oleh konsulen (dokter spesialis pengajar).

Sama seperti ketika sarjana, jangan berharap ada kuliah atau ada konsulen yang mau mengajarkan atau menjawab pertanyaan. Jika ada koas bertanya, kebanyakan akan ditanya balik, dan ujung-ujungnya disuruh belajar sendiri…dan benar-benar harus dipelajari karena keesokan hari sang konsulen bisa menagihnya. Ya karena itulah, penting untuk berdoa supaya dapat konsulen yang baik, heheh.

Kemudian, pamungkas dari tahap koas ialah jaga malam. Frekuensi jaga tergantung bagian, ada yang seminggu sekali, seminggu dua kali, dua minggu tiga kali…dan setelah selesai jaga malam, paginya langsung lanjut bertugas hingga sore. Jadi, masuk dari pagi dan baru pulang besok sorenya. Ya masih bisalah curi-curi waktu tidur. Berdoa saja residen (dokter yang sedang menempuh pendidikan dokter spesialis) baik hati dan tidak banyak menyuruh-nyuruh. Jadi tidak perlu heran setelah bertugas satu setengah hari nonstop kebanyakan koas menjadi zombie.

  1. Usai Pendidikan Selama 5-6 Tahun, Dihadapkan dengan Uji Kompetensi Nasional
Uji Kompetensi Dokter

Uji Kompetensi Dokter (sumber: https://ndinandina.wordpress.com/)

Ujian ini dulu dikenal dengan Uji Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI), sekarang berganti nama menjadi Uji Kompetensi Mahasiswa Pendidikan Profesi Dokter (UKMPPD). Setelah selesai masa koas, calon dokter belum bisa menjadi dokter jika belum lulus ujian ini.

Terdiri dari 2 bentuk, yaitu ujian tulis dan ujian OSCE, ujian ini diselenggarakan secara nasional dan standar soalnya pun skala nasional, seperti UN. Jika belum lulus ujian, calon dokter mesti menunggu 3 bulan berikutnya untuk ujian ulang. Dalam setahun, uji kompetensi diselenggarakan empat kali. Kalau belum lulus juga, terus saja ujian ulang sampai lulus. Saya dengar, ada yang ikut sampai belasan kali tapi belum lulus juga :O.

Ujian ini penting untuk menjaga kualitas dokter Indonesia. Saat ini ada 73 atau lebih FK di negeri ini dan belum semuanya terakreditasi. Ilmu kedokteran tidak berhubungan dengan mesin, benda mati, atau hewan; ia diaplikasikan untuk manusia hidup. Tentu mengerikan bukan jika kita atau keluarga kita diobati oleh dokter yang kualitasnya tidak jelas? Karena itulah, calon dokter benar-benar harus belajar keras menghadapi ujian ini, terlebih nilai minimal untuk lulus ialah 68. Weewww….

  1. Lalu Setelah Disumpah Menjadi Dokter, Wajib Mengikuti Program Penempatan Selama Setahun dengan Pemasukan di Bawah Gaji Standar Buruh
Dokter Internsip

Dokter Internsip

Program ini dikenal dengan Program Internsip Dokter Indonesia (PIDI) atau lebih dikenal dengan internsip. Program ini ialah syarat agar dokter yang baru lulus tersebut bisa menjalankan praktek. Kalau belum menjalani internsip, maka ia belum berhak untuk bekerja atau praktek.

Internsip dijalankan secara nasional dengan wahana kerja yang menyebar dari Sumatera hingga Papua. Jika beruntung, bisa dapat wahana kerja yang tidak jauh dari rumah, tapi jika kalah cepat, siap-siap untuk pergi ke daerah. Selama setahun, dokter internsip bekerja di puskesmas dan rumah sakit layaknya dokter, namun masih dalam bimbingan dokter senior. Yahh tergantung wahananya. Di daerah yang kekurangan dokter, peserta internsip akan bekerja layaknya dokter tetap.

Hal yang cukup disesalkan dari program ini ialah penghargaan kurang bagi dokter internsip. Gaji bagi mereka ialah 2.5 juta/bulan, sebelum dipotong pajak. Padahal, banyak dokter internsip yang bekerka layaknya dokter umum dan bahkan banyak juga yang sangat diberdayakan karena jumlah dokter yang kurang. Memang setiap wahana memiliki kebijakan apakah mau memberikan insentif tambahan, tapi banyak juga yang tidak memberikan apa-apa. Bisa dibayangkan bagi yang mesti ke daerah, berarti harus menyewa kostan dan mencari makan sendiri: gaji 2.5 juta tidak akan cukup memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Bagi saya, cukup menyedihkan sudah bergelar dokter namun untuk kebutuhan hidup sehari-hari masih harus disuport orang tua….

  1. Ke Depannya, Tahapan yang Harus Dilalui untuk Menjadi Dokter Sepenuhnya Terancam Menjadi 9 Tahun
Alur Pendidikan Kedokteran (sumber: http://www.slideshare.net/suhartimt/)

Alur Pendidikan Kedokteran (sumber: http://www.slideshare.net/suhartimt/)

Di Undang-Undang Pendidikan Kedokteran sudah tertuang apa yang disebut dengan Dokter Layanan Primer (DLP) untuk memenuhi kebutuhan era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Di peraturan disebutkan bahwa dokter yang ingin bekerja di fasilitas kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS di tingkat pertama (seperti puskesmas, klinik pratama, dll) WAJIB menempuh pendidikan tambahan selama 3 tahun untuk menjadi DLP (setelah menjalani internsip). Artinya, jika ingin menjadi dokter umum yang praktek di klnik atau puskesmas, tahapan yang harus ditempuh ialah 5 tahun kuliah kedokteran, 1 tahun internsip, dan 3 tahun pendidikan DLP—total 9 tahun!

Bagaimana jika ada dokter yang tidak mau menempuh DLP? Dokter tersebut tidak berhak untuk praktek. Pilihan baginya ialah menjadi peneliti atau dosen (yang tidak praktek), ambil sekolah spesialis (yang rata-rata lama pendidikannya 5 tahun), atau jadi pedagang. Apakah selama sekolah DLP digaji? Ooo…tentu tidak. Jadi setelah capek-capek kuliah 5 tahun, sudah bergelar dokter, bagaimana caranya menghidupi diri dan anak istri? Yahh, silahkan pikir sendiri.

  1. Siap-Siap Sering Digambarkan Miring oleh Media atau Dituntut Hukum
investigasi tempo

investigasi tempo

Seberapa sering laman media kita dipenuhi dengan berita-berita miring tentang dokter atau rumah sakit? Berita tentang pasien ditolak dokter atau rumah sakit selalu menarik minat pembaca. Setelah ditelusuri lebih jauh, kebanyakan berita tersebut memberikan informasi salah: bukan pasien ditolak, tapi kamar rawat inap penuh, atau pasien belum melengkapi berkas Jamkesmas/BPJS, atau tidak memenuhi kriteria perawatan menurut standar BPJS, dll. Tapi media ga mau tahu: pokoknya dokter dan rumah sakit menelantarkan pasien.

Terbaru ialah pemberitaan dari Tempo tentang suap dokter. Kewajiban setiap dokter untuk update ilmunya dengan mengikuti berbagai kegiatan ilmiah…dan untuk menyelenggarakan atau mengikuti acara ilmiah tersebut butuh biaya. Apakah negara mau membiayai? Jangan harap. Lalu dari mana lagi pembiayaan selain dari sponsor yaitu perusahaan farmasi? Namun sponsorship kegiatan ilmiah diartikan media sebagai gratifikasi.

Masih ingat kasus dokter Ayu spesialis kebidanan dan kandungan? Tidak ada prosedur yang dilanggar oleh dokter Ayu; kematian pasien terjadi akibat hal yang tidak diduga oleh dunia medis yaitu emboli paru. Tidak ada yang bisa memprediksi hal tersebut dan prosedur tetap sudah dijalankan oleh sang dokter. Tapi keberpihakan jarang kepada dokter. Media dan masyarakat lebih senang jika mendengar bahwa dokter melakukan malpraktik.

Jika menjadi dokter, bersiaplah untuk menghadapi hal-hal seperti ini.

  1. Waktu untuk Pribadi dan Keluarga Harus Rela Dikorbankan Demi Pasien
Dokter Operasi

Dokter Operasi (sumber: http://assets.kompas.com/)

Menurut saya, dokter ialah orang yang paling bisa memberikan excuse jika minimnya waktu yang diberikan untuk keluarga. Seorang pebisnis atau pegawai kantor banyak mendapat nasihat untuk mengutamakan keluarga karena mereka lebih berharga daripada pekerjaan. Tapi bagaimana dengan dokter? Bisakah menelantarkan orang sakit yang butuh bantuannya demi keluarga?

Dengan menjadi dokter, maka harus siap memiliki waktu yang sedikit untuk pribadi dan keluarga. Pun jika memiliki suami/istri/orang tua dokter, tidak perlu heran mereka pergi sangat pagi dan pulang sangat malam setiap harinya. Jaga malam, on call, dipanggil ke sana ke sini, operasi mendadak, kehangatan makan malam yang harus terganggu karena ada telepon dari RS, dll.

  1. Jangan Pernah Berpikir Ingin Menjadi Dokter Supaya Kaya
stethoscope-hand-money

Dokter dan Uang (sumber: http://www.cloudcontractmodeling.com/)

Kenyataan tidak seindah apa yang dibayangkan. Dokter internsip hanya bergaji 2.5 juta/bulan (belum dipotong pajak). Dokter umum, jika buka praktek pribadi atau bekerja di RS, pemasukannya standar gaji pegawai kantoran

Penghasilan lebih besar bisa didapat jika menjadi dokter spesialis. Kesan elegan dan berduit mungkin melekat pada dokter spesialis. Tapi tidak juga. Di era BPJS ini, jasa medis sangat sangat kecil untuk dokter spesialis. Biaya operasi yang normalnya memakan biaya belasan atau puluhan juta, hanya dihargai tidak sampai sepuluh juta oleh BPJS. Jika JKN teraplikasi sepenuhnya, maka praktek dokter spesialis ga akan laku: semua pasien harus ke praktek umum dulu dan meminta rujukan untuk menghadap dokter spesialis. Kalau mendapat pasien, ya tadi, jasa medis amatlah jauh dari ekspektasi. Kita belum berbicara proses sekolah dokter spesialis yang mahal, lama, dan sangat berat….

Percayalah, jika niatnya supaya banyak uang, lebih baik menjadi pengusaha. Sangat disayangkan jika seluruh tantangan di atas dihadapi hanya demi uang.

Jika telah membulatkan tekad ingin menjadi dokter, niatkan lah karena memang memiliki passion di profesi kesehatan, atau karena memiliki niat beramal sesuai dengan profesinya, atau karena ingin melihat senyum pasien yang telah berhasil diobati.

Jika memiliki niat mulia, maka kesulitan-kesulitan seperti yang disebutkan di atas, insyaAllah, akan dapat dilewati dengan senyuman.

Categories: gumam sendiri, kesehatan | Tags: , , , , , , | 29 Comments

Mari Bercermin dari Presiden Kita

Nasihat Jokowi untuk Ridwan Kamil di Koran Republika (sumber: https://www.facebook.com/iqbal.farabi)

Nasihat Jokowi untuk Ridwan Kamil di Koran Republika (sumber: https://www.facebook.com/iqbal.farabi)

Akhir-akhir ini media sosial menjadi riuh rendah akibat berita mundunya Ridwan Kamil dari kompetisi calon DKI 1. Mundurnya beliau bisa tidaklah diputuskan dengan mudah dan tergesa-gesa. Secara politik, menjadi gubernur DKI Jakarta bisa dibilang sebagai ‘naik jabatan’. Siapakah yang tidak ingin berkembang ke tingkat yang lebih tinggi? Nyatanya, orang nomor 1 kota Bandung itu memilih angkat tangan setelah berhari-hari merenung, berdiskusi dengan berbagai tokoh, bahkan bertanya ke warganya sendiri.

Walikota Bandung merupakan sosok yang banyak diidolakan, tidak hanya oleh warga Bandung, tapi juga masyarakat Indonesia pada umumnya. Kemampuannya ‘menyulap’ kota Bandung menjadi memukau juga mereformasi birokrasi banyak diacungi jempol. Program-programnya pun sangat inovatif dan kreatif; tak kalah penting juga ialah beliau sering melibatkan warga, yang disebut dengan kolaborasi. Penghargaan yang beliau terima pun tidak sedikit. Tak mengejutkan jika banyak yang menginginkan agar kang Emil ‘naik kelas’ menjadi gubernur ibu kota—walau kepemimpinannya di Bandung belum 5 tahun.

Menurut RK, salah satu yang membuatnya mempertimbangkan untuk batal mencalonkan diri di pilkada DKI ialah nasihat bapak presiden. Ungkapan sang presiden dikutip oleh media nasional dan mungkin kita semua sudah membacanya.

“Beliau bilang jangan semata-mata mengejar sesuatu lebih besar tapi di depan mata belum terselesaikan.”

Nasihat dari Jokowi didengar dengan baik oleh beliau, dengan mengatakan, “Nasehat bijak dan saya pahami dengan baik.”

Banyak yang cukup merasa geli dengan berita di atas. Seorang blogger dan netizen yang memiliki banyak follower, Jonru Ginting, mengatakan bahwa ia “terbahak-bahak” setelah membacanya. Komentar di media sosial pun cukup ramai: tidak hanya tentang kebesaran hati kang RK untuk menuntaskan amanahnya, tapi juga pernyataan Jokowi yang lebih tepat jika ditujukan untuk dirinya sendiri. Tak dipungkiri, saya pribadi salah satu orang yang terkekeh-kekeh mendengar nasihat bapak presdien.

Tidaklah mengherankan. Publik masih bisa mengingat jelas janji pak Jokowi saat kampanye pilkada DKI: beliau takkan maju di pemilu presiden jika terpilih menjadi gubernur. Masyarakat pun telah mendengar dengan seksama akan pernyataan beliau. Nyatanya, beliau tetap dielu-elukan untuk menjadi presiden di pemilu 2014 kemarin. Memang, pak Jokowi menyebutkan bahwa permasalahan di ibu kota akan lebih mudah diselesaikan jika menjadi RI 1.

Itu adalah sudut pandang yang terlalu menyederhanakan persoalan. Benar saja, masalah kemacetan dan banjir ibu kota masih ada. Malah, banjir di Jakarta, menurut gubernur yang sekarang, akibat sabotase.

Persoalan yang ada di pandangan pak Jokowi kala itu, sebagai gubernur Jakarta, belum selesai. Masalah di Jakarta begitu kompleks dan besar—sangat besar sehingga pasti terlihat oleh mata sendiri. Walau demikian, beliau tetap mengejar masalah yang lebih besar lagi. Selesaikah masalah yang ditinggalkan beliau? Kita semua tahu jawabannya.

Saya ingin mengambil pelajaran dari fenomena ini. Pertama, jika suatu tanggung jawab di depan mata tidak dituntaskan, alih-alih ingin mengambil amanah yang lebih besar—semulia apa pun niatnya, seperti yakin persoalan tersebut akan tuntas jika mengambil amanah yang lebih besar—yakinlah masalah yang ditinggalkan tidak akan beres. Malah, problem yang lebih besar akan muncul. Situasi politik dan ekonomi di masa-masa awal pak Jokowi menjabat sudah cukup menjadi pelajaran.

Kedua, kita manusia lebih suka menasihati orang lain tanpa bercermin terhadap diri sendiri. Tidak perlu hal yang berkaitan dengan kepemimpinan atau politik; hal yang sederhana saja: kita sering menasihati adik atau teman untuk ini atau itu, padahal diri sendiri belum tentu telah melakukannya. Seorang bisa menjadi motivator ulung menyemangati temannya yang sedang dalam masalah. Namun, jika orang tersebut mendapat kesulitan yang sama, belum tentu apa yang dinasihatkannya bisa diaplikasikan sendiri. Menasihati memang lebih gampang daripada mempraktekkanya.

Burukkah menasihati orang? Tentu tidak. Tindakan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran itu penting untuk eksistensi manusia. Bahkan jika orang-orang enggan menasihati keburukan, dengan alasan belum bisa mengaplikasikannya untuk diri sendiri, yang akan timbul ialah becana. Kejelakan akan terus saja terjadi, sedangkan manusia ialah makhluk yang sulit untuk melaksanakan semua yang dikatakannya.

Memberi nasihat tetap diperlukan. Lalu setelahnya, bercerminlah ke diri sendiri. Sudahkah diri ini melakukan apa yang baru saja dikatakan? Jika belum, mari berkomitmen untuk melaksanakannya. Karena itu, dalam setiap nasihat yang kita keluarkan, tujukan itu bukan hanya untuk lawan bicara, tapi juga untuk diri sendiri.

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (As-Saff: 2-3)

Saya ingin berprasangka baik; saya yakin pak Jokowi menasihati demikian ke kang Emil karena menyadari kesalahan yang dibuatnya. Beliau berharap agar RK tidak seperti dirinya yang mengejar masalah yang lebih besar tapi di depan mata belum terselesaikan.

Yahh, apa pun yang ada di dalam pikiran bapak presiden, marilah kita bercermin.

Categories: merenung | Tags: , , , | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: