Cerita PTT: Apa yang Di Bintuni

Belum genap 2 bulan saya berada di pulau paling timur nusantara ini. Entahlah, tapi sepertinya waktu berjalan lambat sekali. Apakah memang saya belum betah, belum kerasan di sini, atau karena jenuh, karena minimnya aktivitas yang bisa dilakukan?

Rasa tidak nyaman pasti ada jika sangat jauh dari rumah untuk waktu yang lama pula. Namun, pilihan yang telah dibuat ini tidaklah untuk disesali karena banyak sekali hal-hal baru dan pengalaman yang tidak akan didapat jika tidak bergerak dari rumah.

Walau baru sebentar saja di Bintuni, ada beberapa hal yang saya perhatikan mengenai kota ini dan patut untuk dituliskan. Tentu belum semua hal tentang wilayah ini saya ketahui. Terlebih, selama ini saya bekerja di Rumah Sakit Umum yang terletak di distrik utama kabupaten yaitu distrik Bintuni. Daerah-daerah pinggiran, kampung, hutan, dan daerah benar-benar terpencil belum sempat dikunjungi. Interaksi saya pun kebanyakan dengan pegawai RS dan beberapa orang di kota yang kebanyakan merupakan pendatang. Intinya, saya belum banyak mengenal Bintuni maupun Papua secara mendalam.

Berikut adalah hal-hal yang tercatat selama 2 bulan di sini yang ingin saya bagikan.

  1. Banyak Pendatang

Kabupaten Teluk Bintuni merupakan wilayah pesisir. Banyak pendatang yang menetap, bekerja, dan melahirkan keturunan; hingga jadilah mereka “orang Bintuni”. Mereka datang dari berbagai wilayah: banyak yang dari pulau Jawa, baik Jawa Tengah maupun Jawa Timur, malah saya pernah berbicara bahasa Sunda dengan salah satu pasien. Kalau diperhatikan, kebanyakan dari para pendatang ialah berasal dari Makassar. Mungkin ini sesuai dengan kecenderungan masyarakat kota tersebut yang senang berlayar dan merantau. Tempat saya bekerja sebelumnya, yaitu pulau Lombok, juga banyak dihuni orang Makassar.

Kehadiran orang-orang nonpribumi tidak bisa dipungkiri amat menguntungkan Bintuni secara ekonomi maupun intelektual. Tidak bermaksud membeda-bedakan ras, namun sepertinya cara berpikir orang Papua tidak semaju orang-orang wilayah Indonesia barat. Di Teluk Bintuni, ada permukiman transmigran yang disebut dengan “SP” (saya tidak tahu apa arti dan kepanjangannya; ketika ditanyakan, orang-orang pun kebanyakan tidak tahu). Letaknya jauh dari dari distrik utama—distrik Bintuni—dan seseorang pernah berkomentar, “Penduduk SP lebih maju daripada orang asli sini. Kalau orang-orang asli Bintuni menunggu duit dari pemerintah untuk membangun, mereka berinisiatif untuk bangun ini dan itu pakai duit mereka sendiri.”

Roda perekonomian banyak digerakkan oleh para trasnmigran dan keturunannya. Banyaknya uang yang banyak diputarkan oleh pendatang juga bisa dilihat jenis warung makan yang ada. Dari atas sampai bawah, yang banyak ditemukan ialah warung jawa timur yang menjual lalapan ayam, dan kedua terbanyak ialah warung coto Makassar. Para pedagang jika saya lihat pun hampir semuanya merupakan pendatang, seperti pedagang-pedangang di pasar maupun pemilik toko kelontong.

Di Bintuni saya tidak pernah melihat orang pedalaman Papua yang masih menggunakan pakaian adat atau koteka. Mungkin masih bisa ditemukan jika masuk ke dalam-dalam hutan atau daerah yang terpencil sekali. Tapi setidaknya, seperti kata senior saya sebelumnya, masyarakat di Bintuni untuk ukuran Papua termasuk maju.

  1. Panas

Adalah kesan pertama saya ketika menginjakkan kaki di tanah Papua. Apakah ini alasan kebanyakan warga Papua berkulit hitam dan berambut keriting, seperti Afrika? Hmm, mungkin saja…

Pernah sekali saya berangkat menuju RS dari mess dokter umum menggunakan sepeda. Terbiasa gowes saat di Lombok selamat setahun membuat saya cukup percaya diri untuk mengayuh sepeda sejauh 2 kilometer. Memang perjalanannya tidak berat karena jaraknya yang termasuk pendek dan tanjakannya tidak banyak dan tidak terjal, tapi panasnya itu loohhh….Akhirnya, saya pun kapok untuk gowes lagi.

Jika Lombok, daerah pantai, begitu panasnya, maka Papua jauh lebih panas. Mandi di sini sepertinya percuma, karena baru saja selesai bersih-bersih, dalam hitungan menit badan sudah berkeringat. Bagi saya, mustahil jika di kamar tidak ada kipas angin yang menyala.

Perlahan, sepertinya saya mulai beradaptasi, Jika dulu tanpa kipas angin badan langsung mandi keringat, sekarang kelenjar keringat saya tampaknya bisa menahan diri untuk keluar. Tapi itu jika di dalam bangunan. Jika di luar berjam-jam, nasib saya bisa seperti teman yang kulitnya menghitam dan mengelupas seperti ular akibat gosong.

  1. Hutan yang Lebat dan Alami

Tanah Papua masih didiominasi hutan-hutan lebat alami tanpa terjamah manusia karena pembangunannya yang masih minim.

Kanan dan Kiri Jalan yang Ada Hanyalah Hutan

Kanan dan Kiri Jalan yang Ada Hanyalah Hutan

Hal ini akan terlihat jelas ketika terbang di atas pulau Papua. Pepohonan lebat memenuhi hampir seluruh pulau. Masih sedikit wilayah yang sudah menjadi perkotaan. Antarkota tidak terlihat adanya jalan raya penghubung, atau jika ada hanya satu dan itu pun kecil. Di antara kota yang satu dengan lainnya tidak ada bagunan, hanya hutan saja…membentang luas dari barat hingga timur.

Pulau Papua yang masih saja penuh hutan dan sedikitnya pembangunan membuat saya berpikir, Papua Barat yang sudah puluhan tahun gabung Indonesia mengapa masih begini-begini saja?

Tentu tidak sederhana menjawabnya. Ketimpangan ekonomi antara wilayah barat dengan timur masih menjadi salah satu permasalahan negeri ini. Selain itu, tampaknya hambatan juga berasal dari dalam alias dari masyarakatnya sendiri.

Begitu alaminya hutan Papua hingga gunung-gunung di pulau ini pun sepertinya tidak memiliki jalur pendakian. Indonesia sebagai negara kepulauan yang meiliki banyak gunung tinggi tentu menjadi daya tarik wisata tersendiri. Turis dari luar negeri pun berdatangan ke negara ini untuk mendaki gunung-gunung yang populer karena keindahannya seperti Semeru, Rinjani, dan Tambora—dan tentu saja Cartenz Pyramid.

Selain 3 puncak tertinggi pegunungan Jaya Wijaya, masih banyak gunung-gunung di Papua yang belum terjamah. Padahal, provinsi ini memiliki banyak gunung dengan ketinggian di atas 3.000 meter. Belum ada jalur pendakian resmi yang aman digunakan untuk mencapai puncak. Beberapa teman saya di Wanadri sempat berkeinginan membuat jalur rintisan suatu gunung di Papua, sayang belum kesampaian hingga sekarang. Sangat berbeda dengan gunung-gunung di Sumatera dan Jawa yang telah memiliki banyak jalur pendakian.

Selain itu, hutan Papua menjadi habitatnya hewan khas yang tidak dapat ditemukan di pulau lain. Hewan ini sebangsa dengan kangguru atau golongan marsupial namun ukurannya lebih kecil. Orang-orang di sini menyebutnya Lau-Lau. Saya sendiri belum pernah melihat hewan ini secara langsung karena hidupnya di hutan dan tidak pernah berkeliaran ke kota. Sayang sekali di Bintuni sini tidak ada kebun binatang. Lau-Lau termasuk hewan langka; saya mengetahuinya dari seorang pasien yang tengah malam tangannya tertebas golok saat sedang berburu Lau-Lau.

Lau-Lau

Lau-Lau

Yah, tapi tetap saja, walau banyak hutan rindang, Bintuni memiliki cuaca yang sangat panaaasss….

  1. Tidak Perlu Mengklakson Babi yang sedang Menyeberang, Percayalah, Itu Percuma

Karena babi tidak memiliki leher sehingga ia tidak bisa menoleh ke kiri dan kanan; pandangannya hanya lurus ke depan.

Banyak Babi Berkeliaran

Banyak Babi Berkeliaran

Untuk urusan nyeberang, anjing masih lebih baik daripada babi—walau tetap saja menyebalkan. Umumnya anjing menyeberang jalan pelan-pelan, dan jika diklakson, ia akan menoleh dan berhenti. Namun, temperamen anjing sepertinya agak berubah kalau hari sudah malam. Pernah saya naik motor melewati gerombolan anjing jam 11 malam; melewati mereka pelan-pelan tanpa mengklakson…tetiba salah seekor lari mengejar sambil menggonggong. Panik, motor pun menjadi tak terkendali, jadilah jatuh. Beruntung tidak ada yang patah…

Tetapi babi lebih parah. Jika menyeberang, mereka main seruduk tanpa melihat kiri-kanan sama sekali—ya iyalah, ga punya leher. Dan ini yang terpenting: jangan pernah sampai menabraknya. Jika akhirnya menabrak, sebenarnya yang pelu dikhawatirkan ialah kondisi motor sendiri karena babi memiliki kulit yang tebal dan tulang yang kokoh. Namun, sebisa mungkin segera pergi dari lokasi kejadian sebelum ada orang yang melihatnya. Jika tidak, siap-siap untuk mendapat denda.

Babi yang berkeliaran di jalan bukanlah babi liar tapi peliharaan, yang dibiarkan bebas begitu saja. Jika ada babi tertabrak, tidak peduli apakah babinya terluka atau baik-baik saja, tidak peduli apakah motor dan pengendara yang menabrak sekarat atau baik-baik saja, penabrak harus membayar denda. Beruntung jika yang ditabrak hanya anak babi kecil, dendanya paling “hanya” 10 juta. Tapi jika yang ditabrak babi besar, siap-siap dituntut 100 juta.

Apakah tidak bisa persoalan seperti itu diselesaikan secara damai atau ditengahi oleh polisi? Tergantung dari pemilik hewan ternaknya. Jika sang pemilik adalah orang yang keras dan memegang teguh hukum adat, maka tidak ada polisi maupun penegak hukum yang berani mengintervensi.

  1. Hukum Adat Lebih Diutamakan Ketimbang Hukum Formal

Mungkin ini salah satu penyebab mengapa Papua sulit maju. Kesukuan dan adat istiadat sangat dipegang teguh, walaupun berususan dengan kemaslahatan masyarakat. Kasus penabrakan babi hanya salah satu saja. Jika ada permasalahan antar pihak, kemudian salah satu pihak mengatakan, “Di sini yang dipakai hukum adat,” maka polisi pun angkat tangan.

Pembelian lahan di Bintuni—cerita teman saya—cukup rumit. Jika hendak membeli suatu lahan dengan maksud membangun jalan, maka banyak pihak yang mesti “dibayar”. Jika lahan itu adalah milik suatu suku, maka harus bayar puluhan hingga ratus juta rupiah untuk ketua suku tersebut. Terkadang, orang-orang di sekitar ketua sukunya pun harus dibayar. Teman juga cerita, pernah di tahun 2000an akan dibangun pelabuhan yang besar di Bintuni. Namun, karena tidak mampu bayar ratusan juta untuk “biaya pembebasan lahan”, akhirnya pelabuhan tersebut dibangun di kabupaten lain.

Kita juga tahu soal pemilu di daerah tertentu di Papua yang melalui prosedur khusus, yaitu “noken”. Noken sendiri sebenarnya adalah tas jaring buatan orang Papua untuk membawa barang-barang, mulai dari barang berukuran kecil hingga babi hutan. Di daerah itu, pemilihan suatu kepala daerah ditentukan oleh kepala suku. Jika kepala suku memilih salah satu calon, seluruh anggota suku pun memilih calon tersebut. Maka digunakanlah noken untuk mengumpulkan suara dari tiap suku.

  1. Karakter Orang Timur yang Keras

Tidak perlu jauh-jauh ke Papua, di Lombok pun jangan terkejut dengan karakter orang asli pulau yang keras. Tidak bisa dibandingkan suara orang Jawa yang pelan dengan orang Lombok yang keras dan sering berteriak.

Begitu pula Papua. Karakter masyarakat yang keras menjadi tantangan tersendiri bagi dokter PTT dari luar dalam berkomunikasi. Saya juga diingatkan adanya kasus seorang dokter di puskesmas ditonjok oleh pasien atau keluarganya akibat kesalahpahaman

Walau demikian, sekeras-kerasnya karakter dan suara orang, layaknya manusia biasa, jika kita dapat berbicara dan memberikan penjelasan dengan baik, niscaya mereka pun akan mengerti. Hanya saja, tidak perlu tersinggung jika mereka bersuara keras seperti membentak, padahal tidak ada maksud menyakiti. Hal tersebut mungkin tidak biasa di Jawa. Ibu pernah bilang ke saya, jika berhadapan dengan orang bersuara keras, balaslah dengan volume sura yang sama, biasanya mereka pun akan respek.

  1. Azan Dikumandangkan dengan Pengeras Suara

Pernah mendengar berita di media nasional maupun media sosial tentang penolakan masyarakat Manokwari terhadap pembangunan masjid dengan alasan “Manokwari adalah kota injil”? Itu benar adanya. Penyebaran agama Kristen dan katolik di papua cukup massif dan sepertinya banyak membentuk penganut yang militan. Mayoritas penduduk di Bintuni juga beragama nasrani—apakah lebih banyak protestan atau katolik, saya tidak tahu—dan banyak berdiri gereja.

Namun, karena Bintuni banyak pendatang dari berbagai wilayah, penganut agama Islam pun cukup banyak, terutama di daerah pesisir. Di Bintuni, daerah “bawah” atau kota, juga pemukiman transmigran, banyak berdiri masjid dan bisa didengar kumandang azan di lima waktu. Bila ke daerah “atas” atau ke arah bukit, maka mayoritas masyarakatnya menganut agama Kristen dan masih minim masjid.

Masjid Besar di Kota. Karena Banyak Pendatang, Jumlah Masjid Ada Beberapa dan Suara Azan Dikumandangkan dengan Pengeras Suara

Masjid Besar di Kota. Karena Banyak Pendatang, Jumlah Masjid Ada Beberapa dan Suara Azan Dikumandangkan dengan Pengeras Suara

Banyaknya penganut dua agama ini membuat pernikahan beda agama—Islam dan Kristen—banyak terjadi. Ya, pernikahan berbeda agama masih memungkinkan di Bintuni. Tapi saya tidak tahu apakah mereka tercatat di pencatatan sipil atau tidak. Sepertinya pernikahan beda agama tersebut juga tidak melalui pernikahan secara agama baik di gereja maupun masjid.

Kerukunan umat beragama di sini alhamdulillah cukup baik. Bahkan wakil bupati Teluk Bintuni sendiri (periode 2010-2015) merupakan orang asli Bintuni yang beragama Islam.

Memang ada banyak masjid berdiri, namun masih sulit untuk membangun masjid di daerah “atas”. Kesulitan bukan di urusan perizinan, karena sebenarnya banyak juga penduduk sekitar yang beragama Kristen yang setuju untuk dibangun masjid di wilayahnya dan sudah diurus ke pihak polisi. Tapi tetap saja ada pihak-pihak yang tidak setuju. Setahu saya, satu-satunya masjid di daerah atas hanyalah masjid di dalam komplek militer—tentu saja tidak ada yang berani mengintervensi pembangunan di daerah milik tentara.

Kondisi di Bintuni cukup kondusif, tapi saya tidak banyak tahu keadaan di luar. Seorang senior yang kemarin PTT di Tolikara mengatakan bahkan papan nama atau plang masjid saja tidak boleh terlihat mencolok. Semoga mereka yang berada di sana diberi kekuatan dan ketabahan.

Saya sangat bersyukur di sini bisa dibangunkan oleh suara azan subuh.

  1. Tidak Ada Tempat Hiburan

Yah, ini adalah pamungkasnya, yang membuat waktu di sini berjalah lambat sekali.

Mendengar kata “Teluk”, saya berpikir akan ada pantai yang bisa dijadikan sebagai tempat mengusir kebosanan. Walaupun ga bagus-bagus amat, tapi minimal sepertil Labuhan Haji di Lombok Timur lah….

Tapi ternyata saya salah menaruh ekspektasi di sini. Tidak ada pantai, yang ada hanyalah benar-benar “teluk”. Dan di daerah terpencil, tentu saja tidak ada toko besar apalagi mall, toko buku pun tak ada…mimpi kali yee mengaharap ada begituan di kampung.

Pelabuhan Teluk Bintuni

Pelabuhan Teluk Bintuni

Mungkin ini adalah seni bekerja di daerah: mencari aktivitas dan kesibukan. Hmmm, apa ya yang bisa dilakukan untuk mengisi waktu supaya ga bosan dan bermanfaat? Hmmm….

Bagi saya, itu adalah misteri yang masih belum terjawab.

——————————————————————————————————————————————

 

Begitulah beberapa hal yang bisa saya ceritakan saat ini. Sekali lagi, saya belum memahami Bintuni dan Papua dengan sesungguhnya. Jika ada tulisan di atas yang tidak akurat, saya meminta maaf karena tidak ada maksud lain selain menceritakan apa-apa yang dilihat dan didengar.

Setidaknya masih 10 bulan waktu yang harus dilalui di Bintuni. Seiring berjalannya waktu, semoga semakin memiliki banyak pengalaman dan interaksi dengan masyarakat maupun lingkugannya.

Advertisements
Categories: catatan perjalanan | Tags: , , , | 5 Comments

Post navigation

5 thoughts on “Cerita PTT: Apa yang Di Bintuni

  1. mao dikirim buku ga kam? brp lama ya sampe tapi ha ha..

    Like

  2. Hary

    Halo Mas Sayyid. Ada internet di sana? Kencang kah? Saya hary di nabire

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: