Betapa Islam Menyuruh Kita untuk Produktif

Apa hal terberat untuk kita lakukan di dunia ini? Salah satunya adalah bangun pagi. Kita tentu sering sekali merasakan daya tarik yang begitu besar dari sebuah kasur. Saking kuatnya, ia membuat kita enggan untuk mengangkat punggung darinya. Begitu pula dengan daya dorong langit yang masih gelap. Dorogannya amat kuat, sampai-sampai kita tak kuasa untuk membuka mata.

Orang kesehatan bilang, tidur yang paling sehat ialah 8 jam sehari. Jika kita perhatikan kebanyakan orang pada umumnya: orang-orang dewasa yang terbilang sukses dalam pekerjaannya, mereka benar-benar memanfaatkan tidur sebagai sarana untuk istirahat. Demi tubuh yang fit untuk menghadapi pekerjaan keesokan harinya, mereka pun baru bangun jam 6 pagi—atau saat matahari sudah terbit—supaya memiliki tidur yang cukup.

Tapi bagaimana Islam memerintahkan kita dalam hal istirahat di kasur? Allah SWT telah memanggil kita untuk bersujud kepadaNya saat langit masih gelap. Sekitar jam 4-5 subuh umat Islam harus sudah bangun menjalankan harinya, dan segala aktivitas hariannya dimulai dengan berdiri menghadapNya.

“Bangunlah pagi hari untuk mencari rezeki dan kebutuhan-kebutuhanmu. Sesungguhnya pada pagi hari terdapat barakah dan keberuntungan.” (HR. Thabrani dan Al-Bazzar)

Dimulai pagi hari, Rasulullah saw. memerintahkan kita untuk mencari rizki. Ini merupakan salah satu hikmah umat Islam diperintahkan untuk bangun sebelum matahari terbit: memulai aktivitas produktif. Mencari nafkah adalah perintah dalam agama Islam dan merupakan amal yang sangat mulia. Ada banyak hadis yang menunjukkan keutamaan bekerja mencari nafkah.

“Sesungguhnya, seorang di antara kalian membawa tali-talinya dan pergi ke bukit untuk mencari kayu bakar yang diletakkan di punggungnya untuk dijual sehingga ia bisa menutup kebutuhannya, adalah lebih baik daripada meminta-minta kepada orang lain, baik mereka memberi atau tidak.” (HR Bukhari)

Bagi umat Islam, memulai aktivitas produktif dengan mencari nafkah dimulai semenjak fajar.

Fatimah Az-Zahra meriwayatkan, “Pada suatu pagi Rasulullah Saw. lewat di depanku dalam keadaan aku sedang berbaring. Sambil membangunkan aku dengan kaki, Baginda berkata, ‘Hai Anakku, bangun, saksikanlah rizki Tuhanmu dan janganlah engkau menjadi orang yang lalai, sebab Allah membagikan rizki kepada manusia di waktu fajar mulai menyingsing hingga matahari terbit,” (HR. Baihaqi)

Bekerja mencari rizki wajib untuk dilakukan, namun ia adalah urusan dunia. Karena itulah, bukankah akan indah jika kita memulai aktivitas dunia kita dengan bersujud dan bertawakal kepadaNya?

Pentingnya untuk bangun pagi untuk segera beraktivitas produktif juga tergambarkan dalam hadis berikut:

“Seusai shalat fajar (subuh) janganlah kamu tidur sehingga melalaikan kamu untuk mencari rezeki.” (HR. Thabrani)

Seusai susah payah bangun sebelum matahari terbit untuk menunaikan solat subuh, tentu hal yang paling enak dilakukan adalah tidur kembali, bukan? Jam masih menunjukkan jam 5 atau setengah 6, sedangkan jam masuk kerja ialah jam 8…masih ada waktu untuk istirahat kembali sejenak.

Namun, bukan itulah yang diajarkan oleh Islam. Umat Islam sangat diperintahkan untuk produktif, menggunakan waktunya yang hanya 24 jam dalam sehari untuk beribadah dan bekerja. Umat Islam yang benar-benar beriman tidak menggunakan istirahat sebagai waktu untuk bermalas-malasan. Tempat tidur hanya didekati untuk mengisi kembali energi untuk beramal kembali keesokan harinya.

“Sesungguhnya orang yang benar-benar percaya kepada ayat-ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong. Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa-apa rizki yang Kami berikan.” (As-Sajdah: 15-16)

Orang-orang yang (benar-benar) beriman senantiasa menggunakan waktunya untuk beribadah kepadaNya dan menjemput rejeki dariNya. Kemudian, setelah rejeki itu didapat, digunakan untuk menafkahkannya.

Bukan untuk bermewah-mewahan. Tidak seperti orang-orang kekinian, yaitu bekerja keras kemudian menggunakan hasil jerih payahnya hanya untuk berbelanja dan berlibur, menikmati kemalasan dalam kemewahannya.

Ath-Thabarani meriwayatkan dari Abu Hurairah yang berkata, “Tatkala kami (para sahabat) duduk-duduk di sisi Rasulullah Saw, tiba-tiba ada seorang pemuda yang keluar dari jalan bukit. Ketika kami memperhatikannya, maka kami pun berkata, ‘Kalau saja pemuda ini menggunakan kekuatan dan masa mudanya untuk jihad di jalan Allah!’ Mendengar ucapan para sahabat itu, Rasulullah Saw bersabda, ‘Memangnya jihad di jalan Allah itu hanya yang terbunuh (dalam perang) saja? Siapa yang bekerja untuk menghidupi orang tuanya, maka dia di jalan Allah, siapa yang berkerja menghidupi keluarganya maka dia di jalan Allah, tapi siapa yang bekerja untuk bermewah-mewahan (memperbanyak harta) maka dia di jalan thaghut.’” (HR Thabrani, Al-Mu’jam Al-Ausath).

Beginilah Islam mengajarkan kita untuk bekerja. Hasil dari pekerjaan tersebut bukan untuk hal-hal yang berlebihan, yang menimbulkan kecemburuan sosial dan kesenjangan. Hasil dari ibadah kita dalam bentuk bekerja ialah untuk berbagi: memberi penghidupan kepada orang tua, keluarga, dan menafkahkannya untuk orang-orang yang membutuhkan. Selain itu, bekerja dan berpenghasilan adalah untuk menjaga kehormatan seorang muslim agar tidak meminta-minta.

“Tidaklah seseorang makan makanan yang lebih baik daripada hasil usahanya sendiri, sedang Nabi Daud Alaihissalam juga makan dari hasil usahanya sendiri.” (HR Bukhari)

Allah pun memerintahkan hambaNya agar setelah selesai solat untuk kembali bekerja…

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (Al Jumu’ah: 10)

…dan bila telah selesai satu pekerjaan, bukan bermalas-malasan dan bersantai-santai ria, namun

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (Asy Syarh: 7)

Islam adalah rahmat alam semesta. Ia bersifat syamil (menyeluruh) dan kamil (sempurna). Tidak hanya sebuah ajaran untuk berkutat dalam hal-hal ritual, ataupun melulu di dalam masjid tanpa mengenal dunia luar. Seorang muslim yang benar-benar menjalankan ajaran yang dibawa Rasulullah saw. akan bersungguh-sungguh melaksanakan pekerjaannya. Bukan adalah kaya atau hidup mapan alasan ia bekerja keras, namun untuk memakmurkan bumi, sebagaimana Allah berfirman,

“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (Al Baqarah: 30)

Tidak heran jika Islam menyimpan sejarah yang sangat manis. Kerajaan Persia yang telah berdiri dan berjaya ratusan tahun akhirnya runtuh istananya hanya puluhan tahun setelah Islam turun. Bukan hal yang mengejutkan pula Bagdad menjadi kota paling maju di planet kala dipimpin Harun Ar-Rasyid. Begitu pula kota Cordoba ketika ia dikenal sebagai kota seni dan sains. Juga Konstantinopel yang dikenal sebagai benteng yang tak mungkin dijatuhkan, menjadi kota yang damai dan penuh toleransi saat Muhammad Al Fatih menginjakkan kakinya.

Itu adalah karena Islam sejak awal memang mengajarkan umatnya untuk bekerja dan produktif.

Mari mengevaluasi diri. Seorang yang (benar-benar) beriman adalah orang yang paling bekerja keras di lingkungan kerjanya. Jika di tempat kerja atau sekolah atau kampus kita termasuk orang yang tidak maksimal dan totalitas, mungkin perlu diperbaiki solat kita, baca quran kita, mengaji kita…bahwa ketaatan seorang muslim dalam beribadah semestinya berdampak dalam produktivitas kesehariannya,.

Advertisements
Categories: merenung | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: