Monthly Archives: February 2016

Cerita PTT: Apa yang Di Bintuni

Belum genap 2 bulan saya berada di pulau paling timur nusantara ini. Entahlah, tapi sepertinya waktu berjalan lambat sekali. Apakah memang saya belum betah, belum kerasan di sini, atau karena jenuh, karena minimnya aktivitas yang bisa dilakukan?

Rasa tidak nyaman pasti ada jika sangat jauh dari rumah untuk waktu yang lama pula. Namun, pilihan yang telah dibuat ini tidaklah untuk disesali karena banyak sekali hal-hal baru dan pengalaman yang tidak akan didapat jika tidak bergerak dari rumah.

Walau baru sebentar saja di Bintuni, ada beberapa hal yang saya perhatikan mengenai kota ini dan patut untuk dituliskan. Tentu belum semua hal tentang wilayah ini saya ketahui. Terlebih, selama ini saya bekerja di Rumah Sakit Umum yang terletak di distrik utama kabupaten yaitu distrik Bintuni. Daerah-daerah pinggiran, kampung, hutan, dan daerah benar-benar terpencil belum sempat dikunjungi. Interaksi saya pun kebanyakan dengan pegawai RS dan beberapa orang di kota yang kebanyakan merupakan pendatang. Intinya, saya belum banyak mengenal Bintuni maupun Papua secara mendalam.

Berikut adalah hal-hal yang tercatat selama 2 bulan di sini yang ingin saya bagikan.

  1. Banyak Pendatang

Kabupaten Teluk Bintuni merupakan wilayah pesisir. Banyak pendatang yang menetap, bekerja, dan melahirkan keturunan; hingga jadilah mereka “orang Bintuni”. Mereka datang dari berbagai wilayah: banyak yang dari pulau Jawa, baik Jawa Tengah maupun Jawa Timur, malah saya pernah berbicara bahasa Sunda dengan salah satu pasien. Kalau diperhatikan, kebanyakan dari para pendatang ialah berasal dari Makassar. Mungkin ini sesuai dengan kecenderungan masyarakat kota tersebut yang senang berlayar dan merantau. Tempat saya bekerja sebelumnya, yaitu pulau Lombok, juga banyak dihuni orang Makassar.

Kehadiran orang-orang nonpribumi tidak bisa dipungkiri amat menguntungkan Bintuni secara ekonomi maupun intelektual. Tidak bermaksud membeda-bedakan ras, namun sepertinya cara berpikir orang Papua tidak semaju orang-orang wilayah Indonesia barat. Di Teluk Bintuni, ada permukiman transmigran yang disebut dengan “SP” (saya tidak tahu apa arti dan kepanjangannya; ketika ditanyakan, orang-orang pun kebanyakan tidak tahu). Letaknya jauh dari dari distrik utama—distrik Bintuni—dan seseorang pernah berkomentar, “Penduduk SP lebih maju daripada orang asli sini. Kalau orang-orang asli Bintuni menunggu duit dari pemerintah untuk membangun, mereka berinisiatif untuk bangun ini dan itu pakai duit mereka sendiri.”

Roda perekonomian banyak digerakkan oleh para trasnmigran dan keturunannya. Banyaknya uang yang banyak diputarkan oleh pendatang juga bisa dilihat jenis warung makan yang ada. Dari atas sampai bawah, yang banyak ditemukan ialah warung jawa timur yang menjual lalapan ayam, dan kedua terbanyak ialah warung coto Makassar. Para pedagang jika saya lihat pun hampir semuanya merupakan pendatang, seperti pedagang-pedangang di pasar maupun pemilik toko kelontong.

Di Bintuni saya tidak pernah melihat orang pedalaman Papua yang masih menggunakan pakaian adat atau koteka. Mungkin masih bisa ditemukan jika masuk ke dalam-dalam hutan atau daerah yang terpencil sekali. Tapi setidaknya, seperti kata senior saya sebelumnya, masyarakat di Bintuni untuk ukuran Papua termasuk maju.

  1. Panas

Adalah kesan pertama saya ketika menginjakkan kaki di tanah Papua. Apakah ini alasan kebanyakan warga Papua berkulit hitam dan berambut keriting, seperti Afrika? Hmm, mungkin saja…

Pernah sekali saya berangkat menuju RS dari mess dokter umum menggunakan sepeda. Terbiasa gowes saat di Lombok selamat setahun membuat saya cukup percaya diri untuk mengayuh sepeda sejauh 2 kilometer. Memang perjalanannya tidak berat karena jaraknya yang termasuk pendek dan tanjakannya tidak banyak dan tidak terjal, tapi panasnya itu loohhh….Akhirnya, saya pun kapok untuk gowes lagi.

Jika Lombok, daerah pantai, begitu panasnya, maka Papua jauh lebih panas. Mandi di sini sepertinya percuma, karena baru saja selesai bersih-bersih, dalam hitungan menit badan sudah berkeringat. Bagi saya, mustahil jika di kamar tidak ada kipas angin yang menyala.

Perlahan, sepertinya saya mulai beradaptasi, Jika dulu tanpa kipas angin badan langsung mandi keringat, sekarang kelenjar keringat saya tampaknya bisa menahan diri untuk keluar. Tapi itu jika di dalam bangunan. Jika di luar berjam-jam, nasib saya bisa seperti teman yang kulitnya menghitam dan mengelupas seperti ular akibat gosong.

  1. Hutan yang Lebat dan Alami

Tanah Papua masih didiominasi hutan-hutan lebat alami tanpa terjamah manusia karena pembangunannya yang masih minim.

Kanan dan Kiri Jalan yang Ada Hanyalah Hutan

Kanan dan Kiri Jalan yang Ada Hanyalah Hutan

Hal ini akan terlihat jelas ketika terbang di atas pulau Papua. Pepohonan lebat memenuhi hampir seluruh pulau. Masih sedikit wilayah yang sudah menjadi perkotaan. Antarkota tidak terlihat adanya jalan raya penghubung, atau jika ada hanya satu dan itu pun kecil. Di antara kota yang satu dengan lainnya tidak ada bagunan, hanya hutan saja…membentang luas dari barat hingga timur.

Pulau Papua yang masih saja penuh hutan dan sedikitnya pembangunan membuat saya berpikir, Papua Barat yang sudah puluhan tahun gabung Indonesia mengapa masih begini-begini saja?

Tentu tidak sederhana menjawabnya. Ketimpangan ekonomi antara wilayah barat dengan timur masih menjadi salah satu permasalahan negeri ini. Selain itu, tampaknya hambatan juga berasal dari dalam alias dari masyarakatnya sendiri.

Begitu alaminya hutan Papua hingga gunung-gunung di pulau ini pun sepertinya tidak memiliki jalur pendakian. Indonesia sebagai negara kepulauan yang meiliki banyak gunung tinggi tentu menjadi daya tarik wisata tersendiri. Turis dari luar negeri pun berdatangan ke negara ini untuk mendaki gunung-gunung yang populer karena keindahannya seperti Semeru, Rinjani, dan Tambora—dan tentu saja Cartenz Pyramid.

Selain 3 puncak tertinggi pegunungan Jaya Wijaya, masih banyak gunung-gunung di Papua yang belum terjamah. Padahal, provinsi ini memiliki banyak gunung dengan ketinggian di atas 3.000 meter. Belum ada jalur pendakian resmi yang aman digunakan untuk mencapai puncak. Beberapa teman saya di Wanadri sempat berkeinginan membuat jalur rintisan suatu gunung di Papua, sayang belum kesampaian hingga sekarang. Sangat berbeda dengan gunung-gunung di Sumatera dan Jawa yang telah memiliki banyak jalur pendakian.

Selain itu, hutan Papua menjadi habitatnya hewan khas yang tidak dapat ditemukan di pulau lain. Hewan ini sebangsa dengan kangguru atau golongan marsupial namun ukurannya lebih kecil. Orang-orang di sini menyebutnya Lau-Lau. Saya sendiri belum pernah melihat hewan ini secara langsung karena hidupnya di hutan dan tidak pernah berkeliaran ke kota. Sayang sekali di Bintuni sini tidak ada kebun binatang. Lau-Lau termasuk hewan langka; saya mengetahuinya dari seorang pasien yang tengah malam tangannya tertebas golok saat sedang berburu Lau-Lau.

Lau-Lau

Lau-Lau

Yah, tapi tetap saja, walau banyak hutan rindang, Bintuni memiliki cuaca yang sangat panaaasss….

  1. Tidak Perlu Mengklakson Babi yang sedang Menyeberang, Percayalah, Itu Percuma

Karena babi tidak memiliki leher sehingga ia tidak bisa menoleh ke kiri dan kanan; pandangannya hanya lurus ke depan.

Banyak Babi Berkeliaran

Banyak Babi Berkeliaran

Untuk urusan nyeberang, anjing masih lebih baik daripada babi—walau tetap saja menyebalkan. Umumnya anjing menyeberang jalan pelan-pelan, dan jika diklakson, ia akan menoleh dan berhenti. Namun, temperamen anjing sepertinya agak berubah kalau hari sudah malam. Pernah saya naik motor melewati gerombolan anjing jam 11 malam; melewati mereka pelan-pelan tanpa mengklakson…tetiba salah seekor lari mengejar sambil menggonggong. Panik, motor pun menjadi tak terkendali, jadilah jatuh. Beruntung tidak ada yang patah…

Tetapi babi lebih parah. Jika menyeberang, mereka main seruduk tanpa melihat kiri-kanan sama sekali—ya iyalah, ga punya leher. Dan ini yang terpenting: jangan pernah sampai menabraknya. Jika akhirnya menabrak, sebenarnya yang pelu dikhawatirkan ialah kondisi motor sendiri karena babi memiliki kulit yang tebal dan tulang yang kokoh. Namun, sebisa mungkin segera pergi dari lokasi kejadian sebelum ada orang yang melihatnya. Jika tidak, siap-siap untuk mendapat denda.

Babi yang berkeliaran di jalan bukanlah babi liar tapi peliharaan, yang dibiarkan bebas begitu saja. Jika ada babi tertabrak, tidak peduli apakah babinya terluka atau baik-baik saja, tidak peduli apakah motor dan pengendara yang menabrak sekarat atau baik-baik saja, penabrak harus membayar denda. Beruntung jika yang ditabrak hanya anak babi kecil, dendanya paling “hanya” 10 juta. Tapi jika yang ditabrak babi besar, siap-siap dituntut 100 juta.

Apakah tidak bisa persoalan seperti itu diselesaikan secara damai atau ditengahi oleh polisi? Tergantung dari pemilik hewan ternaknya. Jika sang pemilik adalah orang yang keras dan memegang teguh hukum adat, maka tidak ada polisi maupun penegak hukum yang berani mengintervensi.

  1. Hukum Adat Lebih Diutamakan Ketimbang Hukum Formal

Mungkin ini salah satu penyebab mengapa Papua sulit maju. Kesukuan dan adat istiadat sangat dipegang teguh, walaupun berususan dengan kemaslahatan masyarakat. Kasus penabrakan babi hanya salah satu saja. Jika ada permasalahan antar pihak, kemudian salah satu pihak mengatakan, “Di sini yang dipakai hukum adat,” maka polisi pun angkat tangan.

Pembelian lahan di Bintuni—cerita teman saya—cukup rumit. Jika hendak membeli suatu lahan dengan maksud membangun jalan, maka banyak pihak yang mesti “dibayar”. Jika lahan itu adalah milik suatu suku, maka harus bayar puluhan hingga ratus juta rupiah untuk ketua suku tersebut. Terkadang, orang-orang di sekitar ketua sukunya pun harus dibayar. Teman juga cerita, pernah di tahun 2000an akan dibangun pelabuhan yang besar di Bintuni. Namun, karena tidak mampu bayar ratusan juta untuk “biaya pembebasan lahan”, akhirnya pelabuhan tersebut dibangun di kabupaten lain.

Kita juga tahu soal pemilu di daerah tertentu di Papua yang melalui prosedur khusus, yaitu “noken”. Noken sendiri sebenarnya adalah tas jaring buatan orang Papua untuk membawa barang-barang, mulai dari barang berukuran kecil hingga babi hutan. Di daerah itu, pemilihan suatu kepala daerah ditentukan oleh kepala suku. Jika kepala suku memilih salah satu calon, seluruh anggota suku pun memilih calon tersebut. Maka digunakanlah noken untuk mengumpulkan suara dari tiap suku.

  1. Karakter Orang Timur yang Keras

Tidak perlu jauh-jauh ke Papua, di Lombok pun jangan terkejut dengan karakter orang asli pulau yang keras. Tidak bisa dibandingkan suara orang Jawa yang pelan dengan orang Lombok yang keras dan sering berteriak.

Begitu pula Papua. Karakter masyarakat yang keras menjadi tantangan tersendiri bagi dokter PTT dari luar dalam berkomunikasi. Saya juga diingatkan adanya kasus seorang dokter di puskesmas ditonjok oleh pasien atau keluarganya akibat kesalahpahaman

Walau demikian, sekeras-kerasnya karakter dan suara orang, layaknya manusia biasa, jika kita dapat berbicara dan memberikan penjelasan dengan baik, niscaya mereka pun akan mengerti. Hanya saja, tidak perlu tersinggung jika mereka bersuara keras seperti membentak, padahal tidak ada maksud menyakiti. Hal tersebut mungkin tidak biasa di Jawa. Ibu pernah bilang ke saya, jika berhadapan dengan orang bersuara keras, balaslah dengan volume sura yang sama, biasanya mereka pun akan respek.

  1. Azan Dikumandangkan dengan Pengeras Suara

Pernah mendengar berita di media nasional maupun media sosial tentang penolakan masyarakat Manokwari terhadap pembangunan masjid dengan alasan “Manokwari adalah kota injil”? Itu benar adanya. Penyebaran agama Kristen dan katolik di papua cukup massif dan sepertinya banyak membentuk penganut yang militan. Mayoritas penduduk di Bintuni juga beragama nasrani—apakah lebih banyak protestan atau katolik, saya tidak tahu—dan banyak berdiri gereja.

Namun, karena Bintuni banyak pendatang dari berbagai wilayah, penganut agama Islam pun cukup banyak, terutama di daerah pesisir. Di Bintuni, daerah “bawah” atau kota, juga pemukiman transmigran, banyak berdiri masjid dan bisa didengar kumandang azan di lima waktu. Bila ke daerah “atas” atau ke arah bukit, maka mayoritas masyarakatnya menganut agama Kristen dan masih minim masjid.

Masjid Besar di Kota. Karena Banyak Pendatang, Jumlah Masjid Ada Beberapa dan Suara Azan Dikumandangkan dengan Pengeras Suara

Masjid Besar di Kota. Karena Banyak Pendatang, Jumlah Masjid Ada Beberapa dan Suara Azan Dikumandangkan dengan Pengeras Suara

Banyaknya penganut dua agama ini membuat pernikahan beda agama—Islam dan Kristen—banyak terjadi. Ya, pernikahan berbeda agama masih memungkinkan di Bintuni. Tapi saya tidak tahu apakah mereka tercatat di pencatatan sipil atau tidak. Sepertinya pernikahan beda agama tersebut juga tidak melalui pernikahan secara agama baik di gereja maupun masjid.

Kerukunan umat beragama di sini alhamdulillah cukup baik. Bahkan wakil bupati Teluk Bintuni sendiri (periode 2010-2015) merupakan orang asli Bintuni yang beragama Islam.

Memang ada banyak masjid berdiri, namun masih sulit untuk membangun masjid di daerah “atas”. Kesulitan bukan di urusan perizinan, karena sebenarnya banyak juga penduduk sekitar yang beragama Kristen yang setuju untuk dibangun masjid di wilayahnya dan sudah diurus ke pihak polisi. Tapi tetap saja ada pihak-pihak yang tidak setuju. Setahu saya, satu-satunya masjid di daerah atas hanyalah masjid di dalam komplek militer—tentu saja tidak ada yang berani mengintervensi pembangunan di daerah milik tentara.

Kondisi di Bintuni cukup kondusif, tapi saya tidak banyak tahu keadaan di luar. Seorang senior yang kemarin PTT di Tolikara mengatakan bahkan papan nama atau plang masjid saja tidak boleh terlihat mencolok. Semoga mereka yang berada di sana diberi kekuatan dan ketabahan.

Saya sangat bersyukur di sini bisa dibangunkan oleh suara azan subuh.

  1. Tidak Ada Tempat Hiburan

Yah, ini adalah pamungkasnya, yang membuat waktu di sini berjalah lambat sekali.

Mendengar kata “Teluk”, saya berpikir akan ada pantai yang bisa dijadikan sebagai tempat mengusir kebosanan. Walaupun ga bagus-bagus amat, tapi minimal sepertil Labuhan Haji di Lombok Timur lah….

Tapi ternyata saya salah menaruh ekspektasi di sini. Tidak ada pantai, yang ada hanyalah benar-benar “teluk”. Dan di daerah terpencil, tentu saja tidak ada toko besar apalagi mall, toko buku pun tak ada…mimpi kali yee mengaharap ada begituan di kampung.

Pelabuhan Teluk Bintuni

Pelabuhan Teluk Bintuni

Mungkin ini adalah seni bekerja di daerah: mencari aktivitas dan kesibukan. Hmmm, apa ya yang bisa dilakukan untuk mengisi waktu supaya ga bosan dan bermanfaat? Hmmm….

Bagi saya, itu adalah misteri yang masih belum terjawab.

——————————————————————————————————————————————

 

Begitulah beberapa hal yang bisa saya ceritakan saat ini. Sekali lagi, saya belum memahami Bintuni dan Papua dengan sesungguhnya. Jika ada tulisan di atas yang tidak akurat, saya meminta maaf karena tidak ada maksud lain selain menceritakan apa-apa yang dilihat dan didengar.

Setidaknya masih 10 bulan waktu yang harus dilalui di Bintuni. Seiring berjalannya waktu, semoga semakin memiliki banyak pengalaman dan interaksi dengan masyarakat maupun lingkugannya.

Categories: catatan perjalanan | Tags: , , , | 5 Comments

7 Kuliner Lombok yang Patut Dicoba

Siapa yang tak kenal pulau Lombok? Tidak hanya di dalam negeri, reputasi pulau ini sudah dikenal hingga tingkat dunia. Setidaknya pulau ini popularitasnya menduduki urutan kedua di Indonesia setelah Bali.

Barangkali kita semua sudah tahu titik-titik memukau di pulau 1000 masjid (sebutan lain pulau Lombok) ini. Sebut saja pantai Senggigi, pantai Kuta, pantai Selong Belanak, air terjun Tiu Kelep, Gili Trawangan yang tersohor, hingga gunung terindah di dunia yaitu Rinjani. Pesona pulau ini takkan habis untuk dieksplorasi karena hampir setiap sudutnya menyimpan panorama yang mengagumkan. Masih banyaknya tempat menarik namun belum terkenal—sebut saja pantai Bisalyak di Taman Gunung Tunaq dan air terjun Benang Kelambu (sudah pernah ke sana?)—karena masih minimnya pengembangan dan promosi, menjadikan daratan bulat ini cukup asik untuk dijelajahi.

Ahh, mengarungi keindahan Lombok takkan ada habisnya…

Eiittss…kekaguman kita takkan berhenti hanya pada landscape alamnya. Beginilah Indonesia, negara yang begitu kaya: sebagaimana kebanyakan daerah, Lombok pun memiliki masakan khasnya tersendiri—yang membuat orang yang pernah mengunjunginya semakin rindu.

Setahun di Lombok adalah waktu yang tidak cukup bagi saya untuk benar-benar memahami pulau tersebut. Walau demikian, saya ingin berbagi beberapa makanan khas yang pernah dicicip selama berada di Lombok.

Makanan-makanan ini akan membuat Anda kangen Lombok, terlebih kebanyakan dari mereka tidak buka cabang di luar pulau. Berikut adalah kuliner khas pulau Bumi Gora yang patut dicoba:

  1. Ayam Taliwang
Ayam Taliwang dan Bumbu Taliwang

Ayam Taliwang dan Bumbu Taliwang

Mungkin sudah banyak yang tahu tentang makanan ini. Rumah makan yang menyediakan makanan ini pun sudah banyak di pulau Jawa. Ketika ditanyakan makanan Lombok, mungkin kebanyakan orang akan menjawab ayam taliwang.

Sebenarnya ayam taliwang bukanlah makanan khas Lombok. Masakan ini berasal dari suatu daerah yang disebut Desa Taliwang di pulau Sumbawa. Mungkin asal mulanya adalah orang dari pulau tetangga tersebut membuka warung di Lombok, pulau yang memiliki banyak turis. Masakan ini, yang khas dengan rasa pedasnya, akhirnya cukup digemari oleh para wisatawan. Karena kebanyakan orang mengenal ayam taliwang di Lombok ketimbang di daerah aslinya, jadilah makanan ini melekat dengan Lombok.

Ayam Taliwang adalah masakan ayam bakar yang ditaburi dengan bumbu khas. Makanan ini dimakan bersama dengan sambal taliwang yang pedas nan gurih. Sebagian dari kita mungkin mengenal ayam taliwang sebagai ayam pedas. Memakannya akan terasa lebih lezat jika bumbu sambalnya dilumuri ke ayam. Hmmm, dijamin bisa membuat Anda menjadi rakus.

Warung ayam taliwang kebanyakan buka di kota Mataram. Seperti yang telah disebutkan, ayam taliwang bukanlah masakan asli Lombok, sehingga tidak banyak orang lokal yang memakannya. Sepanjang saya lihat, kebanyakan yang mengunjungi warung makan ayam taliwang ialah turis, baik dalam negeri maupun asing.

Salah satu warung ayam taliwang yang cukup terkenal dan banyak dikunjungi ialah Rumah Makan Taliwang Irama di Jl. Ade Irma Suryani, kota Mataram.

  1. Plecing
20141109_162134

Plecing Khas Lombok

20150522_185841

Plecingnya Lombok

Nah, kalau ini asli masakan orang Lombok. Sayuran seperti urap ini ialah sajian sayur kangkung, toge, kacang, parutan kelapa, dan bumbu pamungkasnya yaitu sambal khas Lombok alias sambal beberuk.

Kita barangkali sering mendengar bahwa Lombok identik dengan cabai dan sambal. Ini bukan karena “lombok” yang berarti “cabai” dalam bahasa Jawa, kan? Heheh.

Sambal beberuk konsistesinya lebih cair dibandingkan sambal ulek kebanyakan. Kalau melihat proses pembuatannya, jumlah tomat yang digunakan cukup banyak, sehingga wajar kalau cair. Selain tomat dan cabai, ia juga dibuat dari bumbu yang disebut dengan bumbu beberuk, yang saya pun tak mengerti terbuat dari apa.

Plecing adalah benar-benar makanan orang Lombok. Apapun lauknya, plecing sering menjadi teman makannya. Apakah makan ayam goreng/bakar, ikan goreng/bakar, tahu, tempe, bahkan makan kerupuk pun pakai plecing.

Jadi jika ingat makanan orang Lombok, ingatlah plecing 🙂

  1. Sate Rembiga
Sate Rembiga yang Benar-Benar Membuat Ketagihan

Sate Rembiga yang Benar-Benar Membuat Ketagihan

Anda pernah makan sate maranggi dari Purwakarta? Rasa dan konsistensi sate rembiga sedikit mirip maranggi. Kalau maranggi manis, sate rembiga terasa pedas.

Menurut saya pribadi, sate rembiga merupakan sate daging sapi terenak yang pernah dicoba. Sensasi gurih dan pedas—dan tentu saja lezat—akan terus berasa di bibir dan lidah hingga membuat Anda tak sadar untuk mengambil tusuk kedua, ketiga, dan seterusnya.  Jika membelinya, 10 tusuk sate rembiga tidaklah cukup, heheh 🙂

Sate rembiga merupakan sate khas dari daerah Rembiga di kota Mataram. Sepanjang pengetahuan saya, sate ini hanya dijual di daerah tersebut, jarang ditemukan di tempat lain. Jadi, jika ke Lombok, sate ini sangat direkomendasikan untuk dicoba, bahkan kalau perlu dibungkus puluhan tusuk untuk dibawa pulang :p

Warung sate rembiga terletak di Jl. Wahidin Sudirohusodo, kota Mataram. Oh ya, warung sate rembiga juga menjual sop iga sapi khas Lombok yaitu Bebalung. Namun, saya merekomendasikan untuk membelinya di tempat lain untuk mendapatkan rasa yang terbaik.

Warung Sate Rembiga

Warung Sate Rembiga

  1. Bebalung
Bebalung, bersama sambal beberuk

Bebalung, bersama sambal beberuk

Iga sapi selalu menjadi idaman untuk dibuat sop. Jika Makassar memiliki Sop Konro, maka Lombok memiliki Bebalung.

Bebalung umumnya lebih cair dan tidak sekental gule atau pun konro. Warna kuahnya pun cenderung jernih. Walau demikian, rasanya yang khas dan berbeda dengan sop iga sapi lain membuat saya merekomendasikan siapa saja yang ke Lombok untuk menyicipnya. Selain itu, tidak pernah ditemukan warung bebalung selain di Lombok. Sebagaimana ciri orang pulau tersebut, bebalung biasanya dimakan bersama plecing atau dengan sambal beberuk.

Warung Bebalung yang paling enak sepanjang pengalaman saya dan teman-teman se-internsip berada di kota Mataram, tepatnya di jalan HOS Cokroaminoto. Yang cukup disayangkan, pemiliki warung ini, yaitu warung Klebet, tidak membuat dalam jumlah banyak. Mereka hanya masak dalam jumlah yang sudah ditentukan saja. Jika sudah habis, warung pun tutup. Alhasil, jika ingin makan di warung Klebet, datanglah sebelum jam 1 siang.

Warung Klebet

Warung Klebet

Kemungkinan warung tersebut sudah buka dari jam 8 pagi. Jadi, bebalung bisa dijadikan sebagai menu sarapan pagi yang sedap.

  1. Sate Bulayak

Selain rembiga, Lombok memiliki sate khas lain yaitu sate bulayak.

Bagi saya, sate bulayak agak seperti sate padang karena berupa daging sapi dan jeroan. Bumbu sate ini terbuat dari kacang tanah yang disangrai dan ditumbuk lalu direbus dengan santan, dan dimasak dengan bumbu-bumbu lain. Jika dicicip, bumbu tersebut seperti kuah kari.

Yang menjadi khas dari sate ini ialah ia dimakan bersama bulayak. Dalam bahasa sasak (bahasa asli penduduk Lombok), bulayak berarti lontong. Tidak seperti di Jawa, bulayak umumnya berukuran lebih kecil dan dibungkus dengan daun aren. Cara membungkusnya pun unik yaitu secara spiral, sehingga ketika konsumen hendak menyantapnya, ia akan membuka secara berputar. Bulayak memiliki aroma yang berbeda dibanding lontong biasa akibat dari pengaruh daun aren.

Hal lain yang unik dari masakan ini ialah biasanya pembeli tidak disediakan sendok atau garpu. Mencocol bulayak ke bumbu sate adalah cara yang benar untuk menikmatinya.

Warung Sate Bulayak di Dekat Toko Sasaku

Warung Sate Bulayak di Dekat Toko Sasaku

Waktu yang sempit di Lombok membuat saya tidak banyak mencoba makanan ini. Warung sate bulayak yang diketahui pun hanya satu yaitu di area parkir toko pakaian Sasaku di daerah Cakranegara, kota Mataram. Menurut referensi lain, warung sate bulayak bisa ditemukan di daerah Narmada, Lombok Barat.

  1. Sate Ikan Tanjung
Sate Ikan Tanjung. Hmmm, sedaaaapppp

Sate Ikan Tanjung. Hmmm, sedaaaapppp

Makanan ini tidak akan ditemukan di tempat lain; ia hanya dijual di daerah Tanjung, pusat kota dari Kabupaten Lombok Utara.

Bahan yang digunakan umumnya adalah ikan cakalang atau ikan langoan. Daging ikan yang dikumpulkan dan dibentuk dilapisi oleh kelapa, ditusuk, kemudian dibakar. Karena terbuat dari daging ikan, ukurannya tidak begitu besar. Namun karena rasanya yang mantap, makan 15 hingga 20 tusuk benar-benar tidak terasa 🙂

Jika ingin menyicipinya, Anda harus pergi ke Tanjung, Lombok Utara, kira-kira 1 jam dari pelabuhan yang menuju Gili Trawangan (a.k.a pelabuhan Bangsal). Para pedagang sate ini yang biasanya ibu-ibu berjejer di area pasar Tanjung atau terminal Tanjung. Untuk membelinya pun hanya bisa di waktu siang. Biasanya lapak sate ikan sudah digelar dari jam 2 siang dan hanya sampai jam 6 sore. Sebagaimana kebanyakan pedagang makanan di Lombok, mereka hanya masak dalam jumlah seadanya saja. Jika sudah habis, maka tutuplah warungnya.

Ada yang bilang, para pedagang sate ikan ini akan dengan senang hati berbagi resep dan cara memasaknya. Berhubung sate ini tidak akan ditemukan di tempat lain, ada baiknya juga untuk mengingat resepnya dan mencoba membuatnya di rumah.

  1. Nasi Puyung
Nasi Puyung

Nasi Puyung

Nasi Puyung

Nasi Puyung

Satu lagi makanan yang tidak akan ditemukan di luar pulau Jawa. Jika ingin menyantapnya, Anda pun tak perlu susah-susah: cukup keluar dari Bandara Internasional Lombok (BIL) dan warung nasi puyung dapat ditemukan di seberang.

Puyung adalah nama daerah di Kabupaten Lombok Tengah. Saya sedikit sulit mendefinisikan makanan ini. Secara umum, nasi puyung ialah nasih putih yang disajikan dengan ayam suwar-suwir dan kentang kering, dan juga sambal.

Warung nasi puyung seberang bandara akan menyajikan nasi puyung beserta potongan ayam dan juga sayur. Jika keliling Lombok, kita bisa menemukan warung nasi puyung yang cukup banyak cabangnya yaitu “D Rice”. Sajian nasi puyung warung ini berbeda: ia menyediakan ayam suwar-suwir yang sudah dilumuri bumbu pedas, kentang kering, juga kacang kedelai. Kita dapat menambah telur bacem jika mau.

Yang takkan terlupakan dari nasi puyung ialah rasanya yang pedas. Walau sudah minum air bergelas-gelas dan meninggalkan warungnya, tetap saja si rasa pedas menempel di bibir. Tapi tentu bukan sekedar pedas biasa; pedas nikmat nan gurih nan membuat ketagihan, yang akan membuat Anda tidak kapok untuk menyicipnya kembali.

————————————————————————————————————————————–

Di atas adalah beberapa kuliner yang pernah saya coba dan rekomendasikan jika Anda mengunjungi Lombok. Mungkin di antara kita sudah berkali-kali mengunjungi pulau indah tersebut namun belum sempat menikmati makanan khasnya.

Makanan khas daerah bukan hanya tentang rasa di lidah dan memenuhi rasa lapar, tapi ia juga merupakan bagian dari kekayaan bangsa Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke kita bisa menemukan berbagai masakan daerah yang tidak ditemukan di tempat lain. Jika berkunjung ke suatu tempat di negara ini, maka ciciplah makanan khasnya; hal itu akan membuat kita sadar bahwa betapa Indonesia kaya akan budaya 🙂

Categories: catatan perjalanan | Tags: , , , , , , , , , | 4 Comments

Betapa Islam Menyuruh Kita untuk Produktif

Apa hal terberat untuk kita lakukan di dunia ini? Salah satunya adalah bangun pagi. Kita tentu sering sekali merasakan daya tarik yang begitu besar dari sebuah kasur. Saking kuatnya, ia membuat kita enggan untuk mengangkat punggung darinya. Begitu pula dengan daya dorong langit yang masih gelap. Dorogannya amat kuat, sampai-sampai kita tak kuasa untuk membuka mata.

Orang kesehatan bilang, tidur yang paling sehat ialah 8 jam sehari. Jika kita perhatikan kebanyakan orang pada umumnya: orang-orang dewasa yang terbilang sukses dalam pekerjaannya, mereka benar-benar memanfaatkan tidur sebagai sarana untuk istirahat. Demi tubuh yang fit untuk menghadapi pekerjaan keesokan harinya, mereka pun baru bangun jam 6 pagi—atau saat matahari sudah terbit—supaya memiliki tidur yang cukup.

Tapi bagaimana Islam memerintahkan kita dalam hal istirahat di kasur? Allah SWT telah memanggil kita untuk bersujud kepadaNya saat langit masih gelap. Sekitar jam 4-5 subuh umat Islam harus sudah bangun menjalankan harinya, dan segala aktivitas hariannya dimulai dengan berdiri menghadapNya.

“Bangunlah pagi hari untuk mencari rezeki dan kebutuhan-kebutuhanmu. Sesungguhnya pada pagi hari terdapat barakah dan keberuntungan.” (HR. Thabrani dan Al-Bazzar)

Dimulai pagi hari, Rasulullah saw. memerintahkan kita untuk mencari rizki. Ini merupakan salah satu hikmah umat Islam diperintahkan untuk bangun sebelum matahari terbit: memulai aktivitas produktif. Mencari nafkah adalah perintah dalam agama Islam dan merupakan amal yang sangat mulia. Ada banyak hadis yang menunjukkan keutamaan bekerja mencari nafkah.

“Sesungguhnya, seorang di antara kalian membawa tali-talinya dan pergi ke bukit untuk mencari kayu bakar yang diletakkan di punggungnya untuk dijual sehingga ia bisa menutup kebutuhannya, adalah lebih baik daripada meminta-minta kepada orang lain, baik mereka memberi atau tidak.” (HR Bukhari)

Bagi umat Islam, memulai aktivitas produktif dengan mencari nafkah dimulai semenjak fajar.

Fatimah Az-Zahra meriwayatkan, “Pada suatu pagi Rasulullah Saw. lewat di depanku dalam keadaan aku sedang berbaring. Sambil membangunkan aku dengan kaki, Baginda berkata, ‘Hai Anakku, bangun, saksikanlah rizki Tuhanmu dan janganlah engkau menjadi orang yang lalai, sebab Allah membagikan rizki kepada manusia di waktu fajar mulai menyingsing hingga matahari terbit,” (HR. Baihaqi)

Bekerja mencari rizki wajib untuk dilakukan, namun ia adalah urusan dunia. Karena itulah, bukankah akan indah jika kita memulai aktivitas dunia kita dengan bersujud dan bertawakal kepadaNya?

Pentingnya untuk bangun pagi untuk segera beraktivitas produktif juga tergambarkan dalam hadis berikut:

“Seusai shalat fajar (subuh) janganlah kamu tidur sehingga melalaikan kamu untuk mencari rezeki.” (HR. Thabrani)

Seusai susah payah bangun sebelum matahari terbit untuk menunaikan solat subuh, tentu hal yang paling enak dilakukan adalah tidur kembali, bukan? Jam masih menunjukkan jam 5 atau setengah 6, sedangkan jam masuk kerja ialah jam 8…masih ada waktu untuk istirahat kembali sejenak.

Namun, bukan itulah yang diajarkan oleh Islam. Umat Islam sangat diperintahkan untuk produktif, menggunakan waktunya yang hanya 24 jam dalam sehari untuk beribadah dan bekerja. Umat Islam yang benar-benar beriman tidak menggunakan istirahat sebagai waktu untuk bermalas-malasan. Tempat tidur hanya didekati untuk mengisi kembali energi untuk beramal kembali keesokan harinya.

“Sesungguhnya orang yang benar-benar percaya kepada ayat-ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong. Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa-apa rizki yang Kami berikan.” (As-Sajdah: 15-16)

Orang-orang yang (benar-benar) beriman senantiasa menggunakan waktunya untuk beribadah kepadaNya dan menjemput rejeki dariNya. Kemudian, setelah rejeki itu didapat, digunakan untuk menafkahkannya.

Bukan untuk bermewah-mewahan. Tidak seperti orang-orang kekinian, yaitu bekerja keras kemudian menggunakan hasil jerih payahnya hanya untuk berbelanja dan berlibur, menikmati kemalasan dalam kemewahannya.

Ath-Thabarani meriwayatkan dari Abu Hurairah yang berkata, “Tatkala kami (para sahabat) duduk-duduk di sisi Rasulullah Saw, tiba-tiba ada seorang pemuda yang keluar dari jalan bukit. Ketika kami memperhatikannya, maka kami pun berkata, ‘Kalau saja pemuda ini menggunakan kekuatan dan masa mudanya untuk jihad di jalan Allah!’ Mendengar ucapan para sahabat itu, Rasulullah Saw bersabda, ‘Memangnya jihad di jalan Allah itu hanya yang terbunuh (dalam perang) saja? Siapa yang bekerja untuk menghidupi orang tuanya, maka dia di jalan Allah, siapa yang berkerja menghidupi keluarganya maka dia di jalan Allah, tapi siapa yang bekerja untuk bermewah-mewahan (memperbanyak harta) maka dia di jalan thaghut.’” (HR Thabrani, Al-Mu’jam Al-Ausath).

Beginilah Islam mengajarkan kita untuk bekerja. Hasil dari pekerjaan tersebut bukan untuk hal-hal yang berlebihan, yang menimbulkan kecemburuan sosial dan kesenjangan. Hasil dari ibadah kita dalam bentuk bekerja ialah untuk berbagi: memberi penghidupan kepada orang tua, keluarga, dan menafkahkannya untuk orang-orang yang membutuhkan. Selain itu, bekerja dan berpenghasilan adalah untuk menjaga kehormatan seorang muslim agar tidak meminta-minta.

“Tidaklah seseorang makan makanan yang lebih baik daripada hasil usahanya sendiri, sedang Nabi Daud Alaihissalam juga makan dari hasil usahanya sendiri.” (HR Bukhari)

Allah pun memerintahkan hambaNya agar setelah selesai solat untuk kembali bekerja…

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (Al Jumu’ah: 10)

…dan bila telah selesai satu pekerjaan, bukan bermalas-malasan dan bersantai-santai ria, namun

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (Asy Syarh: 7)

Islam adalah rahmat alam semesta. Ia bersifat syamil (menyeluruh) dan kamil (sempurna). Tidak hanya sebuah ajaran untuk berkutat dalam hal-hal ritual, ataupun melulu di dalam masjid tanpa mengenal dunia luar. Seorang muslim yang benar-benar menjalankan ajaran yang dibawa Rasulullah saw. akan bersungguh-sungguh melaksanakan pekerjaannya. Bukan adalah kaya atau hidup mapan alasan ia bekerja keras, namun untuk memakmurkan bumi, sebagaimana Allah berfirman,

“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (Al Baqarah: 30)

Tidak heran jika Islam menyimpan sejarah yang sangat manis. Kerajaan Persia yang telah berdiri dan berjaya ratusan tahun akhirnya runtuh istananya hanya puluhan tahun setelah Islam turun. Bukan hal yang mengejutkan pula Bagdad menjadi kota paling maju di planet kala dipimpin Harun Ar-Rasyid. Begitu pula kota Cordoba ketika ia dikenal sebagai kota seni dan sains. Juga Konstantinopel yang dikenal sebagai benteng yang tak mungkin dijatuhkan, menjadi kota yang damai dan penuh toleransi saat Muhammad Al Fatih menginjakkan kakinya.

Itu adalah karena Islam sejak awal memang mengajarkan umatnya untuk bekerja dan produktif.

Mari mengevaluasi diri. Seorang yang (benar-benar) beriman adalah orang yang paling bekerja keras di lingkungan kerjanya. Jika di tempat kerja atau sekolah atau kampus kita termasuk orang yang tidak maksimal dan totalitas, mungkin perlu diperbaiki solat kita, baca quran kita, mengaji kita…bahwa ketaatan seorang muslim dalam beribadah semestinya berdampak dalam produktivitas kesehariannya,.

Categories: merenung | Leave a comment

Cerita PTT: Bintuni, Kan Setahun Ku Di Sini

20160127_143302

Mengapa harus ke Papua?

Berulang kali pertanyaan tersebut diajukan. Sudah dari lama saya memutuskan ingin bekerja sebagai dokter PTT (pegawai tidak tetap) selama setahun di pulau paling timur nusantara ini. Walaupun cukup berat menjelaskan alasannya, terutama ke keluarga, kenyataannya sudah satu bulan saya berada di Papua.

Kota tempat saya bekerja ialah Kabupaten Teluk Bintuni. Tidak ada penerbangan langsung menuju Papua dari Tangerang (dari bandara Soekarno Hatta yang ada di Tangerang). Untuk menuju Bintuni, pertama terbang dulu tujuan Manokwari. Dari Manokwari menuju Bintuni terdapat dua pilihan: menggunakan pesawat perintis—Susi Air—atau melewati jalur darat menggunakan mobil double gearbox seperti Toyota Hilux.

Penerbangan paling cepat ke Manokwari dari Tangerang ialah pesawat Sriwijaya Air yang terbang jam 22.20 menuju Makassar. Di bandara Sultan Hasanuddin, transit hanya sekitar satu setengah jam, dan penerbangan dilanjutkan langsung ke Manokwari dan sampai di sana menurut jadwal sekitar jam 7 pagi WIT.

20151227_080230

Bandar Udara Rendani, Manokwari

Saya sendiri memilih menggunakan Garuda Indonesia karena kepercayaan orang tua yang lebih kepadanya. Garuda transit lebih lama di Makassar, sekitar 3 jam. Kemudian penerbangan pun tidak langsung ke Manokwari tapi transit sebentar di Sorong sekitar 20 menit (transit tanpa turun pesawat). Akhirnya saya menapakkan kaki di tanah Papua, tepatnya Manokwari, hari Minggu, 27 Desember 2015 jam 8 pagi waktu setempat.

Menuju Bintuni dengan menggunakan pesawat tentu lebih cepat. Waktu yang diperlukan hanya sekitar 20-30 menit jika lewat jalur udara. Namun, pengguna pesawat perintis harus rela menari-nari di udara selama penerbangan karena ukurannya yang kecil membuatnya gampang digoyang angin . Walaupun lebih lama—sekitar 8-9 jam—setidaknya dengan jalur darat saya bisa tidur lebih nyenyak.

Sayangnya tidak banyak yang bisa diceritakan tentang perjalanan saya dari Manokwari menuju Bintuni menggunakan mobil double gearbox 4×4. Entah kenapa saya selalu sulit dan hampir tidak bisa tidur jika terbang. Penerbangan yang larut dan lama, dari Tangerang jam 9 malam WIB dan baru mendarat sekitar jam 8 pagi WIT, membuat saya ngantuk berat. Alhasil, hampir selama perjalanan darat itu saya tertidur.

Manusia tidak bisa menggunakan mobil biasa untuk ke Bintuni dari Manokwari. Di awal-awal jalan memang mulus beraspal, namun di tengah-tengah hingga menjelang tujuan jalannya benar-benar hancur dan menanjak. Hilux yang digunakan berkali-kali harus mengatur gearboxnya yang ada dua supaya bisa menanjak di atas jalan tanah berkawah—mobil biasa tentu tidak akan kuat melewatinya, Perjalanan akan menjadi semakin sulit jika hujan.

Orang-orang bilang selama perjalanan bisa melihat pemandangan yang cukup memukau—hamparan laut dan gunug. Sayang, semua bagian itu terlewatkan. Sebagian besar perjalanan yang saya lihat–saat melek–didominasi oleh hutan di sebelah kiri-kanan jalan. Hutan yang masih alami tak tersentuh manusia karena pembangunan di Papua masih sangat minim.

Setiba di Bintuni langit sudah gelap. Tujuan saya ialah mess dinas kesehatan. Ia adalah rumah tinggal yang disediakan untuk dokter-dokter kontrak di RS maupun puskesmas. Mess terletak di Km 5—begitu orang-orang di sini menyebutnya—terletak di dalam komplek dinas kesehatan bagian belakang.

Mess Dokter, Belakang Dinas Kesehatan

Mess Dokter, Belakang Dinas Kesehatan

Ada 5 kamar tidur dan dua kamar mandi di mess, juga ada dapur dengan peralatan masaknya yang lengkap. Kamar-kamar itu juga diisi oleh dokter-dokter puskesmas, walau mereka lebih sering tinggal di puskesmasnya. Hal ini karena perjalanan ke puskesmas cukup jauh. Ada yang bisa mencapainya dengan jalur darat, namun banyak juga yang mesti digoyang-goyang ombak di atas kapal. Bukan berarti puskesmas tersebut berada di pulau; ia terletak di daratan utama juga namun tidak ada akses darat ke sana. Kadang-kadang dokter puskesmas datang dan menginap di mess untuk sekedar “refreshing”—ada tv kabel di mess—sekitar sekali dalam satu atau dua dalambulan. Jika dokter puskesmas tidak ada, hanya saya dan tiga dokter lainnya yang menghuni mess.

Di pagi hari esoknya, saya lebih bisa melihat jelas seperti apa “kota” Bintuni. Hanya ada satu jalan raya; membentang lurus dari ujung ke ujung. Kadang-kadang ada jalan arteri yang kecil dan tidak semulus aspal jalan raya. Di kiri-kanan jalan raya membentang pohon-pohon hutan tropis; di satu sisi terdapat laut, di sisi lainnya menuju hutan belantara.

Satu Jalan Raya Lurus di Bintuni

Satu Jalan Raya Lurus dari Ujung ke Ujung

Kanan dan Kiri Jalan Berupa Hutan Belantara

Kanan dan Kiri Jalan Berupa Hutan Belantara

Tidak banyak pembangunan dan jarak antarbangunan cukup jauh. Contoh saja dinas kesehatan dan rumah sakit berjarak 2 km, yang sepanjang jalan di antaranya hampir tidak ada bangunan kecuali warung-warung kecil. Di atas udara, kita bisa melihat pulau Papua yang kebanyakan berupa hutan belantara. Jarak antar satu kota dengan lainnya cukup jauh dan di antaranya hanya ada hutan–jalan hanya terlihat sedikit dan sangat kecil. Memang ini bagus untuk direnungkan: sudah puluhan tahun Papua Barat bergabung dengan Indonesia, tapi tetap saja kebanyakan isinya masih berupa hutan.

Rumah sakit berada di Km 7—kalau orang sini menyebutnya “ke arah atas”. Disebut demikian karena jika terus berjalan melewati rumah sakit, jalan akan membawa ke arah perbukitan. Arah sebaliknya dari rumah sakit, yaitu Km 0 dan setelahnya (sy tidak tahu disebutnya apa, tapi sepertinya bukan Km -1, Km -2, dst) ialah menuju “kota”. Jika mau ke “kota”, orang-orang akan menyebutnya “ke bawah”. Setelah melewati kota, jalan raya cenderung kosong dan tidak ada bangunan ke arah permukiman transmigran, yang orang di sini menyebutnya “SP”. Katanya, ada 5 SP dari paling jauh hingga paling dekat kota.

“Kota” adalah sebutan wilayah yang banyak toko-toko dan warung makan. Toko-toko dan warung yang ada berukuran kecil-kecil. Di kota terdapat pelabuhan tempat kapal-kapal pengangkut barang-barang dari Jawa, juga manusia, berlabuh. Berbagai barang yang dijual di toko dan bahan-bahan makanan kebanyakan berasal dari Jawa. Akibatnya, jika kiriman belum datang, stok barang akan habis dan mesti menunggu kapal untuk mendapat persediaan yang baru.

Pelabuhan Bintuni. Dari Sini Pula Sejawat Saya Naik Kapal untuk ke Puskesmas

Pelabuhan Bintuni. Dari Sini Pula Sejawat Saya Naik Kapal untuk ke Puskesmas

"Kota" Bintuni. Motor yang dengan Pengendara Berhelm Kuning ialah Tukang Ojek. Tarif Ojek Sekali Jalan Rata-Rata 10-15 Ribu

“Kota” Bintuni. Motor dengan Pengendara Berhelm Kuning ialah Ojek. Tarif Ojek Sekali Jalan Rata-Rata 10-15 Ribu

Masjid Besar di Kota. Karena Banyak Pendatang, Jumlah Masjid Ada Beberapa dan Suara Azan Dikumandangkan dengan Pengeras Suara

Masjid Besar di Kota. Karena Banyak Pendatang, Jumlah Masjid Ada Beberapa dan Suara Azan Dikumandangkan dengan Pengeras Suara

Di Bintuni Ada Bandara yaitu Bandara Steenkool. Hanya Pesawat Kecil yang Mendarat di Bandara Kecil Ini. Sore Hari, Saat Sudah Tidak Ada Penerbangan, Landasan Suka Digunakan Sebagai Tempat Joging

Di Bintuni Ada Bandara yaitu Bandara Steenkool. Hanya Pesawat Kecil yang Mendarat di Bandara Kecil Ini. Sore Hari, Saat Sudah Tidak Ada Penerbangan, Landasan Suka Digunakan Sebagai Tempat Joging

Seperti yang kita tahu semua, harga-harga lebih tinggi di Papua. Rata-rata sekali makan sekitar 15-30 ribu. Menu makanan pun tidak variatif; kebanyakan yang jualan ialah orang Jawa Timur yang masak pecel lalapan ayam. Juga ada beberapa warung menjual masakan Makassar seperti coto atau konro karena banyak pendatang dari Makassar.

Rumah Sakit Umum Bintuni ialah rumah sakit tipe D. Bangunannya berupa gedung baru—mungkin baru dibangun sekitar awal tahun 2010. Beberapa alat dan sarananya juga terlihat baru. Yang cukup tidak disangka, alokasi dana untuk pemenuhan sarana rumah sakit cukup tinggi. Baru-baru ini saja RS membeli 4 mesin ventilator, yang satu mesinnya saja setara dengan dua mobil Hilux. Bangunan ICU pun sedang dalam proses pembuatan.

20151227_143426

Papan Tulisan Rumah Sakit Tidak Terlihat dari Depan dan Tertutup Semak. Tulisan “Poliklinik” adalah yang Terlihat Mencolok Saat Melintasinya

20151227_143319

Tidak Seperti Kebanyakan Rumah Sakit, yang Berada di Depan dan Terlihat Jelas ialah Bangunan Poliklinik, Bukan UGD

Meskipun demikian, masih banyak kekurangan di RS. Jumlah pekerja seperti pegawai laboratorium masih kurang sehingga tidak ada petugas lab yang standby 24 jam—jika sore atau malam, mereka bersifat on call untuk pemeriksaan darurat. Begitu juga dengan petugas radiologi. Tenaga dokter juga sebenarnya perlu ditambah. Jumlah dokter umum hanya 7 orang ditambah 3 orang dokter internship yang akan selesai masa tugasnya akhir februari. Tiga dokter internship bertugas di ruangan melakukan follow up pagi. Jika sudah siang, maka hanya ada satu dokter yang jaga satu rumah sakit—UGD, rawat inap, ponek, ruang perinatology—hingga besok paginya. Di waktu siang dan malam, dokter jaga harus melayani pasien yang datang ke UGD. Di tengah-tengahnya, ia bisa saja dipanggil ke rawat inap karena ada pasien yang mengeluh atau dalam kondisi gawat, kemudian dipanggil juga ke ponek karena ada ibu-ibu mau melahirkan. Kondisi ini diperparah dengan banyaknya orang datang ke UGD sore-sore hanya untuk rawat jalan—tidak enak untuk menolak karena rata-rata rumah mereka jaraknya jauh dari RS. Alhasil, bekerja sebagai dokter PTT di RS Bintuni cukup melelahkan. Maaf ralat: sangat melelahkan.

Dokter spesialis baru ada tiga: dokter bedah umum, anestesi, dan dua dokter kandungan. RS belum memiliki dokter penyakit dalam dan dokter anak. Hingga kini, yang mengisi pos tersebut adalah dokter residen tingkat akhir (sudah selesai stase dan menunggu ujian nasional) yang dalam program pengabdian selama 6 bulan karena mereka penerima beasiswa Kementerian Kesehatan. Dokter penyakit dalam saat ini berasal dari RS Kariadi Universitas Diponegoro dan dokter anak dari RS Soetomo Universitas Airlangga.

Peralatan pun masih kurang. Sebagaimana RS daerah pada umumnya, tidak ada pemeriksaan analisis gas darah. Bahkan pemeriksaan elektrolit pun belum ada. Walaupun saat ini sudah ada ventilator, tidak adanya analisis gas darah dan eletrolit rasanya membuat peran ventilator yang ada tidak maksimal. Apalagi sebentar lagi akan ada ICU.

Setiap senin pagi, diadakan morning report untuk mempresentasikan kasus hari Sabtu. Yang melaporkan ialah dokter jaga di hari weekend tersebut. Di hari Kamis, umumnya dokter umum diminta untuk mempresentasikan kasus rawat inap yang tidak biasa, unik, rumit, dan yang membuat pasien meninggal. Dokter umum juga diberi kewajiban untuk menjadi asisten operasi, apakah operasi bedah atau obgyn—walau sementara ini yang turun sebagai asisten ialah dokter internship. Singkatnya, pekerjaan di RS cukup banyak.

Bosan? Sudah pasti. Terlebih di Bintuni tidak ada hiburan dan tidak ada tempat rekreasi. Yah, karena sudah terlanjur di sini, jalani dan nikmati saja semua aktivitas yang ada.

Mengapa harus ke Papua?

Semenjak awal-awal menjadi mahasiswa, sudah merupakan keinginan kuat untuk ke pulau ini. Alasan utama ialah karena ingin bertualang ke wilayang paling timur Indonesia. Papua dikenal sebagai daerah yang masih tertinggal. Karena itulah, saya ingin melihat-lihat kondisinya, melihat orang-orangnya, dan merasakan menetap di daerah tertinggal. Bekerja di sarana kesehatan yang serba terbatas dan dengan kondisi masyarakat yang kurang terjaga kesehatannya karena di daerah terpencil tentu merupakan tantangan tersendiri.

Memang Bintuni lebih maju dibandingkan daerah Papua yang lain. Karena letaknya di pesisir, ada banyak pendatang dan transmigran yang tinggal dan menjalankan aktivitas ekonomi. Jika dilihat, kebanyakan penggerak roda ekonomi Bintuni ialah para pendatang,

Tidak bisa dipungkiri juga keinginan saya untuk memiliki SMB (surat masa bakti). Surat sakti ini banyak dicari-cari sebagai senjata untuk daftar sekolah ppds (program pendidikan dokter spesialis) kelak. Saya akui, saya pun menginginkannya. Maklum, tidak ada prestasi, nilai kuliah yang biasa-biasa saja, dan tidak punya kenalan pejabat membuat saya harus bekerja lebih ekstra.

Namun apa pun itu, semua saya syukuri. Ini adalah bagian dari keinginan besar untuk terus melakukan perjalanan. Mimpi untuk mendaki gunung-gunung tinggi bahkan gunung es, walau mulai sedikit memudar, masih ada. Begitu pun keinginan untuk melihat-lihat keadaan, alam, bahasa, dan wajah manusia di berbagai belahan bumi.

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (Al Jumuah: 10)

Yah, yang terpenting, semua ini diniatkan ikhlas karena Allah. Baru sebulan di sini saya sudah mulai merasakan jenuh. Namun saya pun menyadari, jika kelelahan pekerjaan ini dijalankan dengan beban berat di pikiran, maka yang ada adalah rasa tersiksa. Tapi jika pikiran dijernihkan, hati diikhlaskan, semua sebagai bentuk pengabdian kepadaNya, segalanya akan terasa ringan dan dimudahkan. InsyaAllah.

Categories: catatan perjalanan | Tags: , , , , | 6 Comments

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: