Dokter yang Baik Itu Masih Banyak

investigasi tempo

investigasi tempo

Baru-baru ini saya dikejutkan oleh broadcast gambar yang menunjukkan bocoran isi majalah tempo yang akan terbit. Pada konten investigasi, tertulis besar judul “Jejak Suap Resep Obat”.

Broadcast tersebut cukup menyebar luas di kalangan dokter. Entah dari mana asal gambar tersebut, tapi tampaknya benar-benar menunjukkan isi dari majalah tempo yang akan terbit nanti.

Kolom investigasi tersebut berisi kurang lebih tentang maraknya kasus suap atau “gratifikasi” yang dilakukan perusahaan farmasi kepada para dokter dan rumah sakit. Disebutkan bahwa sebuah redaksi majalah tempo memiliki berkas berupa Microsoft excel yang berisi tentang jumlah uang atau servis yang diberikan kepada beberapa dokter dan rumah sakit. Tiap dokter menerima uang antara 5 juta – 1 milyar. Ada juga dokter-dokter yang mendapat servis tertentu seperti pembiayaan nonton balapan F1, pembelian mobil, sponsorship untuk mengikuti symposium atau seminar, dan lain-lain.

Entah dari mana tempo mendapatkan file milik sebuah perusahaan farmasi tersebut, tidak dijelaskan di artikelnya. Tertulis di dokumen itu bahwa sang perusahaan mengeluarkan 131 miliar rupiah selama 3 tahun untuk pemberian uang atau servis yang disebutkan di atas. Artikel tersebut juga menuliskan pernyataan seorang guru besar farmakologi sebuah universitas negeri bahwa biaya untuk menservis dokter mencapai 45% dari harga obat. Akibatnya, harga obat menjadi mahal.

Sebelum artikel ini, sempat beredar juga di media social tulisan sebuah blog mengenai kerja sama antara dokter dengan perusahaan farmasi yang diperantarai oleh orang-orang yang bertugas memberikan informasi suatu produk obat kepada dokter secara langsung, disebut dengan medical representative atau medrep. Perusahaan farmasi melalui medprep menjanjikan servis bagi dokter, apakah itu uang tunai, mobil, sponsor kegiatan symposium, atau yang lainnya dengan syarat sang dokter menuliskan resep obat dari perusahaannya hingga mencapai suatu target tertentu. Jika seorang dokter mendapat uang atau servis senilai sekian, maka dokter tersebut mesti menuliskan resep obat hingga mencapai lima kali lipat biaya servis tersebut.

Artikel tentang ini rencananya akan dimuat di majalah tempo tanggal 8 November 2015. Tidak tahu kenapa tiba-tiba media tersebut mengangkat tema tentang ini. Saya juga sebenarnya bertanya apakah tempo sudah mendapat izin untuk memasang foto-foto dokter yang disebutkan di dalam artikelnya dari pihak terkait.

Benarkah kondisi yang diceritakan tersebut?

Saya sebagai dokter baru tidak bisa memastikannya. Keadaan-keadaan di atas belum pernah dialami.

Memang sebuah rumah sakit banyak dipenuhi oleh para medrep yang bertugas menawarkan suatu produk obat kepada para dokter. Itu adalah tugas mereka. Ketika tengah menjalani program internsip, beberapa kali medrep pun datang kepada saya. Keadaan yang cukup mengherankan bahwa dokter yang masih internsip pun sudah menjadi sasaran para medrep.

Apa yang saya pahami adalah para medrep tersebut sedang menjalani tugas dan mencari nafkah. Sejujurnya apa yang disampaikan oleh mereka tidak menarik minat dan saya agak malas mendengarkannya. Namun saya mengerti, tanda tangan seorang dokter akan sangat bermakna bagi pekerjaan mereka. Sering para dokter ketika didatangi medrep mereka langsung tanda tangan tanpa mendengarkan penjelasan apa-apa terlebih dulu, sekedar untuk membantu para medrep tersebut. Yah, saya meniatkan tanda tangan untuk membantunya, tanpa ada keinginan sama sekali untuk menjalin kerja sama atau kesepakatan dengan pihak-pihak tertentu. Walau, hingga saat ini tidak ada yang datang untuk menawarkan keja sama. Ya tidak apa-apa sih, tidak berminat juga, heheh.

Umumnya Pasien Sendiri yang Minta Diresepkan Obat Bermerk/Paten

Perlu dipahami bahwa ketika seorang dokter meresepkan obat, hal itu dilakukan melalui berbagai pertimbangan. Banyak hal yang harus dipikirkan ketika menulis resep, tidak hanya apakah obat tersebut efektif menyembuhkan. Efek samping dan kontra indikasi juga perlu dipikirkan, terutama bagi pasien-pasien khusus seperti wanita hamil atau yang memiliki riwayat alergi.

Selain itu, salah satu faktor yang perlu dipikirkan juga ialah soal keekonomian. Dokter harus paham kisaran harga suatu obat dan kondisi ekonomi pasien yang dihadapinya. Tentu tidak sopan bila seorang dokter menanyakan penghasilan per bulan pasien. Itulah seni menjadi dokter—kemampuan menilai pasien secara kasar dan komunikasi yang baik harus dimiliki.

Adalah hal yang mustahil jika pasien tidak mampu—yang terlihat secara kasar dari penampilan luar—diresepkan obat paten yang begitu mahal. Apalagi pasien jamkesmas/BPJS. Lembaga jaminan sosial hanya mau membayar klaim obat-obatan yang terdaftar di formularium BPJS.

Bukan hal yang jarang pasien yang mampu alias menengah ke atas atau sebut saja kaya raya meminta obat paten atau bermerk. Apa jadinya jika orang-orang perlente diberi obat generik? Biasanya mereka kecewa dan minta digantikan dengan yang paten. Atau, setelah keluar dari ruang pemeriksaan muncul gossip seorang dokter yang dianggap tidak kompeten karena meresepkan obat generik. Tidak perlu menjadi kaya untuk menjadi demikian, pasien dengan penghasilan yang pas, jika berkunjung ke dokter spesialis, rata-rata akan meminta obat paten/merk.

Itu adalah kondisi nyata masyarakat saat ini. Diyakini bahwa obat paten dan bermerk lebih efektif menyembuhkan. Kondisi psikologis dapat berperan di sini. Saat mendapat obat paten, pasien merasa yakin akan sembuh, akhirnya pemikiran positif itulah yang mendorong tubuhnya untuk merespon kinerja obat lebih baik. Sebaliknya, prasangka yang buruk ketika mendapat obat generik mendorong dirinya sendiri untuk yakin bahwa ia tidak akan sembuh.

Apakah memang obat paten atau bermerk lebih efektif? Setidaknya pengalaman dan data-data empiris memang menunjukkan obat bermerk dapat lebih superior ketimbang generik.

Pasien Berhak Sepenuhnya Menentukan Pengobatan Atas Dirinya

Jadilah pasien cerdas. Tanyakan kepada dokter penyakit apa yang sedang dialami, apa penyebabnya, apa factor resikonya, apa saja pilihan-pilihan pengobatannya, apa pilihan terbaik, dan bagaimana peluang untuk sembuhnya. Jika Anda menderita penyakit jantung padahal baru berusia 30-an, dokter mungkin akan menyatakan bahwa sang penyakit disebabkan oleh rokok. Maka berhentilah merokok.

Pasien pun berhak meminta kepada dokter bila ingin diresepkan obat generic. Mungkin sang dokter akan mengatakan bahwa obat paten yang diresepkan memiliki nilai efektivitas yang lebih baik. Namun, jika pasien tetap ingin diresepkan obat generic, maka akan diganti saat itu juga. Dokter tidak akan pernah memaksa pasien untuk membeli obat paten/bermerk.

Sebelumnya saya pernah menulis tentang hak-hak pasien ketika berobat ke dokter, silakan jika ingin mampir di sini: Hak Pasien Ketika Berobat 😀

Apalagi Saat Ini Kita Hidup di Era BPJS

Sudahkah Anda daftar BPJS?

Sistem Jaminan Kesehatan Nasional atau JKN yang diselenggarakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial atau BPJS menjamin setiap warga negara yang mendaftarkan diri di sistem tersebut untuk mendapatkan pelayanan kesehatan—sesuai dengan prosedur yang diberlakukan oleh BPJS. Sistem asuransi ini seperti subsidi silang—iuran premi dari warga yang berduit mensubsidi warga miskin yang tidak perlu bayar premi namun tetap mendapat pelayanan. Tentu pemerintah juga mengalokasikan anggaran untuk mensubsidi warga miskin.

Ketika sakit, peserta BPJS tidak perlu membayar biaya pemeriksaan, pengobatan, dan obat-obatan. Kesemuanya akan dibayarkan oleh BPJS.

Penting diketahui bahwa BPJS hanya membayar klaim bila sesuai prosedur yang ditetapkan atau bila obat-obatan yang diresepkan sesuai dengan formularium BPJS—yang kebanyakan ialah generik. Contoh, jika seorang pasien ingin melahirkan, dan ia lahir secara normal tanpa ada komplikasi, maka BPJS hanya mau membayarkan jika proses persalinan dilakukan di puskesmas atau fasilitas kesehatan tingkat pertama. Begitu pula jika menderita demam berdarah tanpa adanya komplikasi shock/renjatan, BPJS tidak akan mau membayarkan pasien yang berobat ke rumah sakit atau ke spesialis. Demam berdarah tanpa renjatan dianggap bisa ditangani di puskesmas atau fasilitas yang setara.

Begitu pula dengan obat-obatan. Bila dokter meresepkan obat bermerk yang mahal dan tidak ada di formularium, atau ada namun tidak sesuai indikasi, BPJS tidak akan mau membayarkan. Akibatnya, rumah sakit akan rugi. Sehingga, bagi Anda pasien BPJS, tidak perlu khawatir soal resep obat-obat yang mahal.

Bagaimana penerapan BPJS hingga saat ini?

BPJS selalu merugi. Semenjak sistem diberlakukan, lembaga ini selalu terancam bangkrut. Penyebabnya ada beberapa. Di antaranya adalah banyaknya warga yang mampu dan sedang dalam kondisi sehat tidak mau mendaftar. Kebanyakan peserta sistem ini adalah warga miskin yang ditanggung oleh pemerintah dan mereka yang memiliki penyakit kronis sehingga secara rutin akan terus berobat. Sisanya adalah orang sehat yang hanya mendaftar ketika sakit. Setelah sakitnya sembuh, enggan untuk melanjutkan iuran per bulannya.

Kondisi ini diperparah dengan rendahnya angka premi yang ditetapkan. Jika ingin menaikkan premi demi meningkatkan kualitas pelayanan, masyarakat beserta para anggota dewannya pun protes. Bensin, tariff listrik, tabung gas, dan harga-harga komoditas boleh naik, namun biaya kesehatan dan jasa dokter tidak boleh—karena tugas tenaga kesehatan untuk mengabdi.

Tidak perlu bertanya mengenai kondisi dokter di era BPJS. Pihak yang paling rugi di era ini adalah para dokter bedah. Biaya operasi yang ditanggung oleh BPJS sangat rendah sehingga biaya yang banyak ditekan ialah jasa medis dokter. Tapi tak mengapa. Tugas dokter adalah mengabdi.

Dan banyak suara-suara protes dan tidak puas mengenani sistem jaminan sosial negara kita yang baru berjalan hampir 2 tahun ini. Jika tempo memiliki itikad baik untuk mengupas permasalahan kesehatan di Indonesia, seharusnya mereka banyak menulis tentang BPJS dan JKN.

Dan Dokter yang Baik Itu Masih Banyak

Tak terhitung malah.

Kita mungkin pernah mendengar kisah dokter Lo asal Solo. Ia membuka praktek tanpa sekalipun menetapkan tariff. Setiap pasien dibebaskan untuk membayar sesuai kemampuan. Menurut pengakuan beliau, setiap harinya sekitar 70% pasien tidak membayar karena tidak mampu. (kisah dokter Lo bisa dilihat di sini)

Mungkin kita juga pernah membaca berita tentang meninggalnya seorang dokter yang tengah bertugas di Papua akibat malaria ganas. Ya, kehadirannya seharusnya menyembuhkan orang-orang dari malaria, namun ternyata dokter sendiri tidak bisa menjamin dirinya selamat dari penyakit mematikan itu. Hanya tujuan mulia lah yang membawanya ke provinsi paling timur negara ini. Sebenarnya kontrak kerjanya sudah habis, namun ia memperpanjangnya sendiri karena masih mengabdi di bumi cenderawasih. (silakan cek di sini)

Juga kisah-kisah lainnya. Ketika kuliah, saya pernah mendengar senior yang tewas ketika tengah merujuk pasien karena mobilnya masuk jurang. Juga kisah para dokter yang rela bertugas di daerah-daerah sangat terpencil. Di sana sini banyak cerita, bahwa banyak warga-warga tidak mampu yang membayar jasa dokter dengan hewan ternak atau hasil panen. Dokter pun menerimanya dengan senang hati. Bahkan ketika pasien datang kembali hanya untuk menceritakan bahwa ia telah sembuh, itu seudah menjadi kebahagiaan bagi dokter karena ia berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik.

Pun jika pasien berterus terang ia tidak bisa membayar. Apa yang bisa dokter lakukan? Apakah menarik semua pemeriksaan yang telah dilakukan? Atau menuntutnya ke pengadilan karena tidak bisa membayar? Tentu ia dibebaskan dari biaya jasa dokter dan hanya perlu membayar obat. Itu pun tidak perlu dilakukan jika ia terdaftar di jamkesmas atau BPJS.

Apakah mungkin dokter menarik untuk dari pasien yang tidak mampu?

Apa pun Kata Media, Dokter Akan Terus Melayani

Dokter atau tenaga kesehatan atau rumah sakit sering kali dijadikan sebagai peran antagonis di media-media. Ketika ada orang yang tidak bisa dirawat karena tidak memenuhi syarat BPJS, akan diberitakan RS menolak pasien. Dokter yang sudah menjalani prosedur tetap namun tetap tidak bisa menyelematkan pasien akibat kondisi tak terduga, semisal emboli, diberitakan bahwa dokter malpraktik. Pun saat dokter mengeluhkan sistem BPJS yang masih belum baik, dikatakan dokter itu komersil atau hanya ingin mencari untung saja.

Sulit dimengerti mengapa media sering membuat berita tanpa melakukan konfirmasi terlebih dulu. Atau, sudah melakukan konfirmasi tanpa penjelasan yang ditulis hanya sepotong.

Tapi tak mengapa. Pemberitaan-pemberitaan yang ada tak akan membuat dokter pundung. Masih ingat ketika para dokter demo kasus dr. Ayu SpOG? IGD tetap buka. Operasi gawat darurat tetap dilakukan. Ada teman yang bercerita ketika ia tengah mengikuti demonstrasi, ia mendengar seorang dokter yang juga ikut demo menerima telpon dari RS, dan dokter tersebut langsung meluncur ke RS karena ada operasi gawat darurat.

Yap. Karena itu para teman sejawat, biarlah anjing menggonggong namun kita tetap memberikan pelayanan sesuai dengan sumpah yang pernah kita ucapkan 🙂

Advertisements
Categories: gumam sendiri, kesehatan | Tags: , , , , | 5 Comments

Post navigation

5 thoughts on “Dokter yang Baik Itu Masih Banyak

  1. Gara

    Kenapa ya Mas obat paten cenderung lebih bisa berpengaruh ketimbang obat generik? Padahal kan isi zatnya sama gitu… :hehe. Tapi sebagai pasien (BPJS) saya ya terima saja apa yang diresepkan dokter, soalnya saya nggak tahu apa-apa soal obat-obatan, jadi apa yang diresepin dokter ya diminum dan apa yang disuruh pak atau bu dokter dijalanken biar penyakitnya nggak balik dan cepet sembuh :hehe *tipe pasien penurut*.

    Like

  2. Asslkm.. perkenalkan saya sorg apoteker di salah satu balai kesehatan mata dan apotek, merasakan hal yg sama jg.. kadang2 di dalam resep dokter trcantum obat generik, tetapi pasien mintanya yg paten ato generik bermerk, ngotot pula mntany yg paten ( pasien BPJS ). sedangkan di dlm daftar obat2an yg dklaim oleh BPJS gak trcantum merk obat yg diminta.. disitu kadang sorg apoteker diuji… harus pintar2 mmberikan informasi ttg indikasi obat yg diberikan kpda pasien. pasien skrg sudah pintar2, palagi pasien yg sudah lama mngkonsumsi obat2an.. dia tau obatnya n merknya.. Next, saya setuju mengenai pernyataan anda yg menyebutkan obat generik, generik bermerk ato paten yg kandunganny sama memiliki indikasi yg sama.. jd buat apa memberikan obat yg mahal jika ada obat hargany jauh lebih murah yg memiliki indikasi yg sama. Disini saya gak membela siapa-siapa, tapi disini saya berpendapat yg sama bahwa obat generik gak kalah bagusnya dibandingkan obat bermerk. Yg penting kepatuhan pasien dalam pengobatan yg hrus ditingkatkan.. Terimakasi ( my blog : diditpharm.blogspot.com )

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: