Paranoid Belajar dan Long Life Learning

Terus Menerus Belajar Merupakan Tuntutan bagi Setiap Dokter agar Dapat Memberikan Pelayanan Terbaik

Suatu siang hari di hari libur di pertengahan tahun 2009, beberapa mahasiswa FK Unpad tengah berkumpul di ruang kuliah. Mereka sedang tidak kuliah, tentu saja, karena hari libur. Waktu libur banyak digunakan untuk kegiatan-kegiatan kemahasiswaan; itulah yang sedang kami lakukan saat itu.

Saya tidak ingat persis ketika itu sedang kegiatan apa—semacam pelatihan manajemen dan organisasi untuk pengurus senat mahasiswa. Kegiatan dilakukan di hari Sabtu-Minggu—menginap—dan di hari Minggu siang, saya ikut duduk berkumpul dengan para panitia dan peserta di auditorium kuliah tersebut. Di tengah-tengah pembicaraan, salah satu pengurus senat senior mengangkat tangan dan berkata (kurang lebih), “Mahasiswa FK sekarang sedang mengalami paranoid belajar. Walaupun sudah berkali-kali buka buku, tetap saja dirasa tidak pernah cukup. Hal ini membuat mereka agak enggan untuk ikut kegiatan kemahasiswaan dan memilih hanya untuk belajar.”

Kegiatan Belajar yang “Tidak Pernah Cukup”

Jumlah pengurus senat yang ikut pelatihan tersebut memanglah tidak banyak—mungkin kurang dari setengah total pengurusnya. Wajar, karena saat itu sedang menjelang musim ujian. Sebagaimana suasana kampus pada umumnya, masa-masa dekat ujian merupakan waktu yang paling suram. Khusus bagi mahasiswa FK Unpad, terdapat ujian presentasi kasus di hadapan dua penguji yang bobotnya sebesar 40% dari seluruh nilai. Jika nilai ujian tersebut jatuh, maka jatuhlah seluruh nilai di semester tersebut.

Bagi orang-orang luar, mahasiswa FK mungkin dianggap tidak membaur, menutup diri, dan eksklusif. Setiap kali saya bertanya ke mahasiswa FK dari universitas lain apakah mereka dicap “eksklusif” oleh mahasiswa dari fakultas lain, jawabannya adalah iya. Buku tebal, kuliah yang padat, dan “tiada hari tanpa belajar” mungkin identik dengan mahasiswa FK. Terlebih kurikulum yang diterapkan saat ini adalah problem based learning (PBL) yang menuntut mahasiswa untuk banyak belajar sendiri ketimbang menerima kuliah.

Berkali-kali buka buku, baca slide materi kuliah, membuat tugas; rasanya ada saja yang kurang. Ketika mendapat suatu tugas untuk mempresentasikan suatu materi, lalu mendiskusikannya ke teman-teman satu kelompok tutorial, hal tersebut tidaklah cukup. Sulitnya untuk mengerti materi yang disampaikan oleh teman atau yang disampaikan sendiri adalah satu hal. Hal lain adalah banyak informasi yang telah disampaikan ternyata tidaklah cukup sebagai bekal untuk menghadapi ujian nanti. Rasanya banyak sekali, bahkan tak ada habisnya, materi yang belum dipelajari namun sepertinya akan keluar di waktu ujian.

Mungkin faktor kurikulum PBL yang meminta mahasiswa untuk mencari informasi dan belajar sendiri membuat seolah kaburnya batasan yang perlu dipelajari. Terlebih, para dosen selalu berpesan kepada mahasiswa untuk tak pernah puas dalam mencari tahu, dan menekankan bahwa tak ada batasan ruang lingkup materi untuk dipelajari. Hal ini rasanya sangat berbeda dibanding masa sekolah yang sang guru memberikan batasan bahan ujian kepada para mahasiswa.

Namun Dokter Sangat Dituntut untuk Terus Belajar

Tapi memang sistem pendidikan yang diterima ketika kuliah dahulu tidaklah salah—bahkan sangat benar. Ini benar-benar disadari ketika saya sudah bekerja menjadi dokter (walau saat ini masih sebatas dokter internship). Ilmu kedokteran benar-benar tidak memiliki batasan. Tidak ada template yang benar-benar baku saat menangani pasien. Walau ada guideline, ada keadaan tertentu yang membuatnya tidak bisa diaplikasikan. Kondisi penyakit banyak yang tidak khas sesuai dengan di buku. Banyak pula suatu penyakit yang “menyamar” sehingga terlihat seperti penyakit lain. Terlebih, kondisi-kondisi medis yang pernah dipelajari ketika kuliah hanyalah secuil dari kasus-kasus nyata yang ditemukan.

Saat ngobrol dengan dokter-dokter internship lulusan universitas lain, banyak istilah medis atau penyakit atau guideline penatalaksanaan yang saya baru dengar. Begitu pun sebaliknya, ada informasi yang saya ketahui namun mereka baru mendengarnya (walau lebih banyak yang saya tidak tahu karena waktu kuliah dulu sering skip :p). Teori-teori yang ada di buku tidak semuanya dilakukan di lapangan nyata, apalagi di rumah sakit daerah yang ketersediaan peralatan medis tidak selengkap di kota besar. Tiap rumah sakit atau dokter spesialis juga punya kebiasaan atau pilihan yang berbeda antara satu dengan yang lain dalam menghadapi kasus yang sama.

Ketika pertama kali mulai bekerja di rumah sakit, maka keadaannya bisa ditebak: saya banyak bingung, banyak salah dalam penanganan, banyak dikritik oleh rekan kerja yang lain, dan juga kondisi pamungkas TIBO (tiba-tiba bodoh). Beruntung, status saya masih dokter internship: walau sudah dianggap dokter yang kompeten, masih diberikan pendampingan atau bimbingan oleh dokter-dokter umum senior dan spesialis.

Banyaknya kebingungan dan ketidaktahuan saat bekerja ini melahirkan kembali kegelisahan dahulu yang disebut dengan paranoid. Selesainya kuliah kedokteran selama 5-6 tahun tidak berarti bahwa proses belajar sudah selesai. Sebaliknya, dengan banyak bertemu dan menangani pasien langsung oleh diri sendiri semakin menyadarkan untuk terus dan tak pernah habisnya belajar. Apalagi yang ditangani bukan mesin, bukanlah benda mati, juga bukan makhluk bernyawa bernama hewan, melainkan manusia.

Saya pernah membaca buku karangan seorang professor dari FK Unpad yang berjudul “Playing God”.  Buku yang berisikan pengalaman-pengalaman berharga ini memiliki bagian yang menyebutkan bahwa sang professor kebingungan dalam menangani seorang pasien karena kondisinya yang rumit. Professor itu pun harus “mengurung diri di perpustakaan” dan “membuka berbagai literatur”. Ya, bahkan seorang dokter dengan gelar akademis tertinggi pun masih harus membuka literatur untuk menangani kasus yang sulit.

Setelah berada di lapangan inilah saya benar-benar memahami apa yang disebut dengan long life learning. Saya pun mulai mengangguk ketika dahulu dosen meminta untuk tidak pernah puas mencari tahu dan tidak memiliki batasan dalam belajar.

Menumbuhkan Pembiasaan

Lamanya waktu studi untuk menjadi dokter dan bagi residen untuk menjadi dokter spesialis juga mulai bisa dimengerti. Rata-rata untuk menjadi dokter spesialis, dibutuhkan sekolah selama 5 tahun; waktu yang sangat lama bila dibandingkan dengan sekolah magister selama 2 tahun dan doktor selama 4 tahun. Ibu saya, seorang dokter spesialis anak, bilang bahwa sekolah spesialis itu lama karena untuk menumbuhkan “pembiasaan”.

Seorang dokter umum yang sudah lama bekerja di rumah sakit terbiasa untuk menangani pasien sesuai dengan guideline rumah sakit tersebut. Pekerjaan juga akan menuntutnya untuk membuka kembali literatur dan berkonsultasi ke dokter spesialis. Jam terbang yang tinggi dan ilmu yang terus-menerus dipakai membuatnya terbiasa untuk bekerja dengan cepat. Hal yang berbeda terjadi bagi dokter baru yang baru saja lulus dari universitas. Pengalaman praktek yang minim membuatnya butuh untuk beradaptasi.

Karena hal inilah saya merasa program “dokter internship” sangat bermanfaat. Tujuan dari program ini adalah untuk “pemahiran” bagi dokter-dokter yang baru saja lulus. Selama masa sekolah kebanyakan dokter baru belum pernah memegang dan menangani pasien sendiri, sehingga minim pengalaman. Melalui program internship, dokter-dokter baru memulai pengalamannya dengan pendampingan dokter senior. Ini menepis anggapan sebagian orang bahwa program internship tidaklah diperlukan. Terlepas dari berbagai kekurangan yang ada, seperti terbatasnya anggaran, jumlah wahana yang sedikit dibandingkan dengan jumlah dokter baru, dan gaji dokter internship yang sangat tidak layak, program pemahiran dan pembiasaan ini dapat menjadi bekal yang sangat berharga untuk bekerja secara benar-benar mandiri kelak.

Membedakan Paranoid Belajar dengan Long Life Learning

Walaupun terbiasa, kebutuhan untuk terus membuka buku dan belajar tidak bisa dinafikan. Ilmu kedokteran tidaklah bersifat kaku melainkan terus berkembang. Ada banyak kondisi medis yang sifatnya belum banyak diketahui. Begitu pun pengobatan untuk beberapa penyakit yang hingga saat ini belum menemukan standar yang memuaskan. Penelitian di bidang keodokteran terus dikembangkan agar dapat memberikan pelayanan yang maksimal. Setiap dokter wajib untuk meng-update ilmu pengetahuannya dengan mengikuti simposium atau workshop yang memaparkan informasi dan ilmu berdasarkan penelitian terbaru.

Keikutsertaan dalam kegiatan ilmiah ini menjadi syarat bagi setiap dokter agar dapat memperpanjang surat tanda registrasinya. Inilah mengapa pendidikan kedokteran disebut dengan long life learning.

Karena bersifat seumur hidup, terus belajar dan menggali ilmu pengetahuan bukan hanya merupakan kewajiban tapi juga “kebutuhan”. Karena kebutuhan, diperlukan sebuah pengaturan agar kegiatan belajar bersama kebutuhan-kebutuhan yang lain, seperti makan, tidur, rekreasi, dan berkeluarga, dapat terpenuhi. Kita bisa melihat seorang yang disebut berhasil dalam hidupnya ialah yang mampu mengelola kebutuhan hidupnya sehingga terpenuhi dan mengontrol dirinya dari keinginan-keinginanan yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Proses learning perlu dikelola sedemikian rupa agar tidak bersifat sporadis sehingga hasil pembelajaran yang didapat menjadi optimal.

Kemampuan untuk mengorganisasi kebutuhan tersebut dengan baik akan membedakan seorang yang paranoid belajar dengan long life learning. Penderita paranoid belajar akan menganggap bahwa proses belajar merupakan sebuah paksaan yang bersifat menyakitkan, berbeda dengan long life learner yang menyadarinya sebagai kebutuhan. Seorang yang belajar karena keterpaksaan dan karena kebutuhan tentu akan memiliki output yang berbeda.

Long life learning sangatlah dibutuhkan bagi manusia, terutama bagi para dokter agar dapat menjalankan profesinya dengan baik. Kebutuhan ini perlu ditanamkan sejak masa mahasiswa—saya pun menjadi sadar mengapa ketika kuliah dulu lebih banyak ditekankan untuk belajar sendiri ketimbang diberi kuliah. Jika mampu mengubah sudut pandang paranoid belajar menjadi long life learning, maka tidak perlu khawatir para pengurus organisasi senat mahasiswa meninggalkan amanahnya walaupun sedang dalam masa menjelang ujian.

Advertisements
Categories: gumam sendiri, pembelajaran | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: