Bertuhan Atas Dasar Iman atau Tradisi?

Pada malam itu, tampak banyak orang berbahagia. Jalan diisi oleh orang-orang pawai membawa obor dan bedug. Gema takbir menghiasi langit. Suasana di malam itu memang seharusnya dihiasi oleh aura kebahagiaan. Tak terkecuali bagi dokter yang sedang jaga IGD.

Yahh, hari apa pun, kondisi apa pun, pelayanan gawat darurat tetap harus diberikan. Istilah “tidak ada hari libur bagi tenaga kesehatan” sangat cocok menggambarkan malam itu. Ekspektasi awal, pasien yang datang akan sedikit. Maklum, pada malam atau hari lebaran, orang-orang enggan ke rumah sakit. Jika mereka sedang sakit, banyak yang menunda pergi ke RS karena ingin menikmati ketupat di rumah dulu. Begitu pula pasien-pasien di bangsal (ruang rawat inap), kebanyakan minta pulang atas permintaan sendiri alias pulang paksa.

Tapi ternyata tidak demikian. Berbondong-bondong pasien terus berdatangan. “Serangan” ini berlanjut hingga esok harinya. Jika biasanya jumlah pasien satu shift (7 jam) hanya 15 orang, kini jumlahnya mencapai 25 orang. Kasus yang banyak muncul pada waktu itu bisa ditebak: cedera kepala ringan. Kondisi cedera tersebut umum ditemukan pada korban kecelekaan lalu lintas, pengendara motor, tidak memakai helm, ugal-ugalan, dan/atau mabok.

Rasanya benar-benar miris, di malam hari raya, banyak yang ugal-ugalan bahkan mabok. Dan ini tidak hanya di RS tempat saya bekerja saja. Keluhan yang sama juga disuarakan di RS-RS lainnya. Entah maksud orang-orang ini ingin ikut “berhari raya” atau sekedar ikut-ikutan meramaikan malam itu—meramaikan yang membuat resah. Saya pun ragu orang-orang ini berpuasa Ramadan.

Hari raya adalah selebrasi yang diperintahkan oleh agama. Tuhan memerintahkan umat Islam untuk merayakannya dengan makan dan haram untuk berpuasa. Namun, dengan memandang kejadian seperti ini, saya menjadi bertanya, atas dasar apa kita merayakan hari raya? Apakah memang atas dasar keimanan, yaitu perintah dari Allah SWT, atau sekedar budaya atau tradisi?

Pertanyaan ini membawa kita kembali ke sebuah pertanyaan yang sangat klasik: adakah tempat bagi budaya dan tradisi dalam agama?

Perlu kita pahami bahwa agama bukan sekedar ritual ibadah seperti solat, puasa, dan haji. Ia adalah petunjuk hidup atau way of life yang diturunkan oleh Tuhan agar manusia selamat. Di dalamnya terdapat rambu-rambu yang perlu diperhatikan, mana yang wajib dikerjakan, sunnah dikerjakan, makruh untuk dikerjakan, dan tidak boleh dikerjakan. Adanya aturan-aturan tersebut bukan tanpa alasan: semuanya dimaksudkan agar manusia menempuh jalan yang selamat di dunia yang sementara ini maupuan dunia kekal nanti. Betapa sayangnya Allah pada manusia karena Ia mau memberikan petunjuk jalan agar kita selamat.

Segala sesuatu yang tidak bertentangan dengan rambu-rambu tersebut adalah hal yang mubah atau boleh, termasuk budaya atau tradisi. Selama ia tidak bertabrakan dengan apa yang dilarang oleh aturan syariat, maka ia sah-sah saja dikerjakan. Islam tidak menafikan suatu kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat secara turun-temurun sehingga menjadi tradisi dan budaya.

Tulisan ini tidak bermaksud memberikan fatwa, apakah budaya ini atau tradisi itu diperbolehkan atau tidak, haram atau tidak; tapi saya ingin merenung: kegiatan keagamaan kita selama ini dijalankan sebagai bentuk keimanan kita kepada Tuhan, atau sekedar mengikuti kebiasaan nenek moyang dan masyarakat sekitar belaka? Juga alasan kita beragama, apakah benar-benar karena iman kepada Allah SWT dan Rasulullah saw., atau karena mengikuti budaya beragama?

Islam turun ke muka bumi untuk semua umat, semua manusia, entah dia di belahan utara, belahan selatan, timur, tengah, atau barat. Jalan hidup ini ditujukan dan sesuai untuk semua manusia planet bumi ini. Begitu pula ia berlaku untuk selamanya, tidak akan ada lagi agama atau wahyu yang turun setelahnya. Tidak seperti agama Yahudi yang hanya ditujukan kepada Bani Israel, kemudian diutus Nabi Isa Al Masih as. untuk menyempurnakan agama kaum Israel tersebut.

Islam bersifat syumul, kamil, dan mutakamil. Syumul berarti menyeluruh, mencakup semua aspek kehidupan, mulai dari bangun tidur, masuk WC, hukum, ekonomi, dan kenegaraan. Kamil berarti sempurna, tidak perlu lagi ada pembaharuan atau revisi. Al Quran sebagai kitab suci umat Islam tidak perlu direvisi atau ada semacam pertemuan para ulama sejagat untuk membuat pembaharuan. Mutakamil yaitu menyempurnakan, Islam menyempurnakan agama yang dibawa oleh para rasul sebelumnya, yang dibawa oleh Musa as., Daud as., dan Isa as.

Tidak perlu ia disesuaikan dengan budaya setempat. Karena itu tidak perlu istilah islam nusantara, islam arab, atau yang lain-lain. Islam hanya satu, yaitu jalan hidup yang diturunkan oleh Allah SWT, disampaikan melalui Rasulullah saw. untuk segenap umat manusia. Jika disesuaikan dengan budaya maasing-masing, maka akan terjadi kebingungan. Islam di belahan bumi sebelah sini berbeda dengan belahan bumi sebelah sana. Jika ini terjadi, itu adalah sebuah kemunduran. Di zaman Rasulullah saw. tidak dikenal istilah “islam muhajirin” atau “islam anshar” atau “islam thaif’” atau “islam persia”. Semua pembeda akibat budaya atau letak geografis disatukan melalui ikatan iman.

Agama yang mengikuti kebudayaan pernah dicetuskan oleh salah satu proklamator negara kita, Ir. Soekarno. Beliau, ketika sidang BPUPKI, mengusulkan tentang dasar negara kepada majelis. Ada lima poin yang disampaikan, dengan poin kelima ialah “Ketuhanan yang Berkebudayaan”. Bahwa berketuhanan, atau memiliki tuhan, adalah bagian dari budaya. Tradisi yang diturunkan secara turun-temurun, yaitu tradisi bertuhan, menjadi landasan masyarakat Indonesia menyembah tuhan. Bahwa bertuhan dan menjalankan hidup beragama tak lebih dari budaya.

Sidang memang berarkhir dengan disahkannya Pancasila, sesuai yang kita kenal sekarang, sebagai dasar negara. Namun, sesuai apa yang Bung Karno bilang, kenyataan bahwa berketuhanan sebagai kebudayaan tidaklah hilang. Praktek dan ritual agama atas nama “Islam” yang kita jumpai saat ini banyak yang berasal dari warisan budaya ketimbang diajarkan Rasulullah saw. Adanya “islam kejawen” adalah salah satu contoh tercampurnya islam dengan budaya, dan gawatnya yang masuk ke dalamnya ialah unsur aqidah, hal yang tidak bisa ditawar dalam Islam. Keadaan ini membuat aktivitas keagamaan semakin buram: apa yang merupakan budaya dikira agama.

Implikasinya, seorang dapat melakukan ritual agama atau berhari raya atas dasar tradisi, bukan karena iman. Seorang solat dengan suatu tata cara tertentu karena tradisi yang diajarkan. Seorang berziarah kubur dengan tata cara tertentu pun karena tradisi turun-temurun. Apakah pernah orang-orang yang menajalankan tradisi ini mencari dalil dari Al Quran dan sunnah, bagaimana tata cara yang benar? Bukankah umat Islam diperintahkan untuk mengikuti sunnah Rasulullah saw. dalam beribadah?

“Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali Imran: 32)

Mungkin keadaan inilah yang membuat dideklarasikannya “islam nusantara” sebagai oposisi dari “islam arab”. Situasi timur tengah yang penuh konflik dan darah, munculnya gerakan khawarij seperti ISIS, serta melekatnya kebudayaan dalam aktivitas beragama hingga sekarang (dan juga tumbuhnya orang-orang liberal alias “JIL”) memicu apa yang disebut dengan islam nusantara ini. Hal ini memperkedil Islam, memecah-belahnya, sehingga ada islam nusantara, islam arab, mungkin juga islam eropa, islam amerika, dll. Padahal, Rasulullah saw. dahulu berjuang mempersatukan hati-hati kaum muslimin untuk meninggalkan dan bernaung di bawah iman.

Persaudaraan atas dasar iman lebih hakiki dan abadi ketimbang persaudaraan atas dasar kesukuan, kebudayaan, warna kulit, bahasa, dan letak geografis. Seorang tidak bisa memilih untuk lahir di mana, suku apa, warna kulit apa. Namun, ia bisa memilih secara sadar dan penuh akal sehat, apakah ia beriman atau tidak.

Jika seorang beragama karena budaya, adakah iman di dalamnya? Adakah ruh dalam tiap gerak sujud kepadaNya? Adakah cintanya kepada Rasulullah saw., dibuktikan dengan mengikuti sunnahnya ketimbang mengikuti tradisi?

“Apabila dikatakan kepada mereka, ‘Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul.’ Mereka menjawab, ‘Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.’ Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?” (Al Maidah: 104)

Wallahu a’lam.

Tidak ada iman dan ruh dalam ibadah membuatnya terasa hambar. Seorang solat namun tetap bermaksiat. Hal ini dikarenakan ia hanya melakukan aktivitas fisik ibadah tanpa ada penyertaan hati dan esensi. Jika seorang benar solatnya, maka seharusnya ia terlindungi dari perbuatan keji dan munkar. Bahwa ibadah bukan sekedar gerakan fisik belaka, tapi penyertaan hati dan iman didasari dengan ilmu yang benar, dan efeknya berdampak pada akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin ini yang menjadi rahasia kenapa Islam dahulu berkembang, meraih kejayaannya, dan mensejahterakan masyarakatnya.

Seharusnya itu semua tak lagi perlu terjadi, orang-orang berbondong-bondong masuk IGD karena ugal-ugalan dan mabok di malam hari raya. Kalau setiap dari kita menjalaninya atas dasar iman dan memahami esensinya, akhlak yang baik sudah otomatis terbentuk, dan “rahmat bagi semesta alam” bukan lagi sekedar angan-angan kosong belaka.

Semoga Allah memberi petunjuk dan melindungi kita semua dari kesesatan.

Advertisements
Categories: gajelas, merenung | Tags: , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: