Romantisme 10 Malam Terakhir

Sangat dianjurkan bagi setiap muslim untuk meraih malam qadar. Berdasarkan hadis-hadis yang ada, Rasulullah saw. mengindikasikan bahwa malam tersebut berada di malam ganjil 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Dan di antara malam-malam ganjil tersebut, waktu yang paling besar kemungkinannya ialah malam 25, 27, dan 29.

“Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malma terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Cariah lailatur qadar di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan pada Sembilan, tujuh, dan lima malam yang tersisa.” (HR. Bukhari)

Sangat dianjurkan untuk beri’tikaf di 10 malam terakhir Ramadhan. Untuk mendapatkan malam qadar memang tidak disyaratkan untuk beri’tikaf, misalnya bagi wanita yang tidak diizinkan untuk I’tikaf oleh suaminya, insyaAllah ia tetap bisa mendapatkan malam kemuliaan dengan menegakkan solat di rumahnya. Meski demikian, bagi yang mampu sangat dianjurkan untuk mengerjakannya.

“Rasulullah saw selalu mengerjakan I’tikaf pada sepuluh hari yang terakhir Ramadhan, sampai saat beliau wafat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

I’tikaf merupakan amal ibadah dan momen yang sangat dirindukan. Saat itu ialah ketika orang-orang berkumpul memenuhi masjid, tilawah Al Quran, mengkaji Al Quran, dan berdiri tegak untuk solat. Mungkin tidak ada momen ketika masjid begitu penuh terisi manusia untuk membaca Al Quran dan mengerjakan solat malam selain i’tikaf di 10 malam terakhir.

Saya ingin berbagi pengalaman I’tikaf sepanjang hidup hingga saat ini. Selama berada di Bandung, seingat saya hanya ada 2 masjid yang pernah saya singgahi untuk I’tikaf. Maklum, saya tipe yang kalau sudah nyaman di satu tempat sulit untuk move on. Kedua masjid itu ialah Masjid Habiburrahman yang sudah disebutkan sebelumnya dan Masjid AnNur PT Biofarma.

Menikmati Elegannya Masjid An Nur PT Biofarma

Masjid ini terbilang baru. Saya ingat masjid An Nur mulai fungsional digunakan ketika menjalani program studi profesi dokter (koas) tahun 2012. Ukurannya begitu mencolok untuk masjid sebuah perusahaan, bahkan termasuk masjid megah bila dibandingkan dengan masjid-masjid yang ada di Bandung. Sulit terpikirkan bahwa masjid yang tujuannya digunakan oleh para karyawannya untuk melaksanakan solat di waktu istirahat siang bisa sebesar itu.

Masjid An Nur PT Biofarma

Masjid An Nur PT Biofarma

Semenjak awal didirikan, masjid An Nur mulai melaksanakan kegiatan-kegaitan syiar yang sifatnya terbuka untuk umum. Salah satu agenda syiar yang pertama kali dilakukan ialah I’tikaf di tahun 2012. Ketika saya pertama kali I’tikaf, di tahun 2008, masjid yang mengadakan I’tikaf di Bandung belum terlalu banyak. Masjid-masjid tersebut di antaranya ialah Habiburrahman, Salman ITB, Daarut Tauhid, dan Al Hikmah PT Telkom. Ketika An Nur mengadakan I’tikaf untuk pertama kalinya, di tahun 2012, masih banyak yang belum tahu dan pesertanya masih sedikit.

Saya datang di waktu isya. Jamaah mengadakan solat isya, ceramah taraweh, dan solat taraweh seperti biasa. Selesai taraweh, tidak ada acara khusus. Masing-masing peserta I’tikaf mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah masing-masing. Kemudian, waktu tidur pun hampir tiba.

Di saat itulah An Nur mulai memberikan kesan pertamanya. Pihak panitia membagian bantal! Saya yakin belum ada masjid lain yang menyediakan bantal untuk tidur peserta I’tikaf. Sontak seluruh peserta terkejut dan kegirangan.

Bantal untuk peserta i'tikaf

Bantal untuk peserta i’tikaf

Hanya saja, pembagian bantal tersebut hanya dilakukan di I’tikaf tahun 2012. Di tahun-tahun selanjutnya, popularitas An Nur meningkat, peserta semakin membludak; entah bantalnya rusak atau jumlahnya tidak mencukupi, tidak ada lagi bagi-bagi bantal. Syukur saya termasuk salah satu yang pernah menikmati bantal An Nur 😀

Peserta mulai bangun sekitar jam 2 atau 3 malam. Pihak panitia mengadakan qiyamulail berjamaah. Saat itu belum ada target bacaan surat sekian juz untuk qiyamulail. Imam membaca surat-surat yang memang tidak memiliki target tertentu. Kini, An Nur rutin mengadakan qiyamulail satu malam satu juz, atau total 10 malam I’tikaf qiyamulail sebanyak 10 juz. Alhamdulillah.

Kejutan selanjutnya pun muncul ketika qiyamulail selesai dilaksanakan. Saat pertama kali I’tikaf di An Nur, saya tidak membawa bekal sahur, berencana untuk pergi keluar cari makan seadanya. Tapi ternyata panitia datang membawa kotak-kotak makanan. Kotak-kotak itu pun dibagikan, dan ternyata di kotak itu bertuliskan “Nasi Pada Simpang Raya”, ada juga yang bertuliskan “McD”! Dibagikan cuma-cuma! Kami semua pun terkekeh dan mengembangkan senyum lebar sembari menikmati santap sahur.

Menu sahur

Menu sahur

Kini penyelenggaraan I’tkaf An Nur semakin terorganisasi dengan baik. Jadwal penceramah taraweh dan tausiyah subuh disusun dengan terencana, tak jarang pula mengundang ustadz kondang di Bandung, semisal ust. Darlis. Bahkan pernah juga An Nur mendatangkan syaikh dari Palestina yang sedang melakukan safari Ramadan. Acara qiyamulail pun diimami oleh santri tahfidz Quran dari Habiburrahman, dan setiap malam seluruh peserta berdiri berjamaah mendengarkan lantunan ayat Al Quran sebanyak 1 juz. Walaupun tidak pernah berdiam di dalam masjid An Nur hingga siang atau sore hari, saya mendengar bahwa di waktu siang dan sore pun diisi dengen aktivitas seperti kajian.

Semakin baiknya pelaksanaan I’tikaf, diisinya dengan aktivitas-aktivitas yang berbobot, berkualitasnya materi tausiyah dan penceramahnya, dan tentu saja buka puasa dan ifthor gratis, membuat kegiatan An Nur Biofarma semakin banyak peminat. Bahkan ada beberapa teman saya yang biasanya beri’tikaf di Habiburrahman beralih ke An Nur.

DKM An Nur Biofarma tidak hanya mengadakana kegiatan di bulan Ramadan. Di bulan-bulan biasa pun terkadang—mungkin program syi’ar bulanan—An Nur mengadakan kajian atau mabit mengundang pengisi-pengisi yang dikenal masyarakat, seperti walikota Bandung atau gubernur Jawa Barat.

Barakallahu para jajaran direksi PT Biofarma yang mau mengalokasikan dana sangat besar untuk masjid dan kegiata syi’ar Islam. Semoga Allah memberikan berkah kepada peusahaan dan para pekerja di dalamnya.

Habiburrahman yang Tak Mungkin Dilupakan

Masjid milik PT DI yang terletak di Bandara Husen Sastranegara Bandung merupakan lokasi I’tikaf primadona. Peserta I’tikaf tidak hanya berasa dari daerah Bandung, tapi juga dari kota-kota Jawa Barat sebelah timur seperti Kuningan dan Cirebon, bahkan seingat saya ada yang dari Sumatera dan Kalimantan! Ya, masjid yang mencetak para hafidz Quran ini merupakan pelopor pelaksana I’tikaf yang mengkhatamkan 30 juz Al Quran dalam qiyamulail-nya.

“Tempat I’tikafnya para ustadz”, begitulah Habiburrahman dikenal.

Saat saya baru masuk ke terasnya, atmosfer sudah dipenuhi oleh suara-suara tilawah; tidak hanya suara orang dewasa, tapi juga suara anak-anak. Karena selalu ramai, lapak dagangan pun banyak digelar di terasnya: ada yang jual buku bacaan islami, mushaf Al Quran, peci-sarung, parfum, cd murottal, dan makanan ringan.

Di teras masjid yang (insyaAllah) diberkahi tersebut juga dapat dilihat lingkaran-lingkaran kecil manusia. Tak jarang anak-anak sekolah berombongan ber’itikaf di sana. Ada juga yang di sela-sela waktu I’tikaf beberapa orang ikhwan dan akhawat mengadakan rapat atau syuro.

Ada juga di tepi sudut sana, seorang atau beberapa mahasiswa Fakultas Kedokteran membuka kertas flip chart, mengerjakan tugas learning objectives. Ada juga yang memegang buku atau kertas-kertas sambil ia memandanginya dengan serius, mempersiapkan diri untuk ujian esok harinya.

Salah satu yang khas dari masjid ini ialah disediakan area untuk mendirikan tenda. Peserta yang beri’tikaf bersama istri dan anak-anaknya banyak membawa dan membangun tenda di teras masjid. Benar-benar seperti bumi perkemahan.

Kamp pengungsi. Itu adalah kesan yang didapat saat melihat ke bagian utama masjid di jam 11 ke atas. Benar-benar berisi kerumunan manusia yang membaringkan diri. Sebelum jam 11, orang-orang melakukan berbagai macam hal di dalam. Kebanyakan sedang tilawah, ada sedang berdiri sambil bersedekap, ada juga yang menyengir sana-sini tengah berbincang hangat.

Suasana i'tikaf Habiburrahman

Suasana i’tikaf Habiburrahman

 

Banyaknya yang i'tikaf di habiburrahman, terutama di malam ganjil

Banyaknya yang i’tikaf di habiburrahman, terutama di malam ganjil

Saat saya ke Habiburrahman di masa mahasiswa, I’tikaf di Habib sudah sepeti reuni dengan teman-teman SMA. Ada saja wajah lama yang ditemui. Menanyakan kabar, apa kesibukannya, sudah menikah atau belum, saya beserta mereka turut serta menyengir dan berbincang.

Masjid Habiburrahman melayani para peserta yang ingin memesan makanan berbuka dan sahur. Tidak seperti An Nur yang memberikan secara gratis, panitia standby sekitar jam 15.30-17.00 untuk menerima pesanan berbuka dan jam 21.00-23.00 untuk melayani pemesanan sahur. Ada 4 macam jenis menu yang disedikan—kadang-kadang 3— dan tiap menu diwakili oleh kupon merah, kuning, biru, dan hijau. Saya ingat kalau kupon merah adalah menu nasi padang dan kupon hijau adalah menu nasi dan sayuran.

Tak perlu khawatir jika tidak sempat memesan makan ke panitia. Di area belakang masjid banyak pedagang kaki lima berjualan.

Panitia mulai mematikan lampu ruangan utama masjid jam 23.00. Para peserta yang masih ingin lanjut tilawah atau ngobrol atau lain-lain akan melanjutkannya di teras. Memang sebaiknya untuk segera tidur, karena para peserta akan dibangunkan jam 00.30, dan qiyamulail dilaksanakan jam 01.00

Itu adalah 3 juz, dan itu adalah berdiri di waktu malam sekitar 3 jam. Imam yang memimpin qiyamulail, ust. Abdul Aziz Abdur Rauf, mengucapkan ayat-ayat Al Quran penuh khidmat. Para makmum di belakang mendengarkan surat-surat panjang yang dibacakan, banyak yang berusaha mengikutinya dengan solat sambil membuka mushaf.

Kesan ketika pertama kali mengkuti QL tersebut ialah kaki pegal, telapak kaki terasa menebal, dan lutut bergetar. Kelopak mata terkadang menutup sedikit lalu membuka, dan mulut membuka lebar menelan oksigen. Setiap malamnya di masjid tersebut ialah begitu melelahkan.

Sekitar jam 4 kurang, witir dilaksanakan. Ketika imam di rakaat pertama membaca “sabbihisma robbikal a’la…” rasanya begitu lega. Maklum, karena di rakaat-rakaat sebelumnya bacaannya begitu panjang dan menguji kesabaran. Saat pertama kali ikut QL di sana, saya berpikir kelelahan telah berakhir di solat witir. Tapi ternyata tidak.

Di rakaat terakhir, saat I’tidal, imam membaca doa qunut. Dan bacaan doa qunut-nya terasa begitu panjang. Benar-benar panjang. Sebenarnya doa yang dibaca bernuansa kesedihan. Para makum yang kebanyakan mengerti bahasa arab turut menangis dengan khusyu. Sedangkan saya yang tidak paham, juga ikut khusyu…khusyu menahan rasa pegal :D.

Qiyamulail dimulai dari juz 1 di malam ke-21, dan berakhir di juz ke-30 pada malam ke-29, walau sekitar setengah juz atau lebih sudah dibacakan ketika taraweh. Di rakaat ke-8 di malam terakhir, ketika imam membaca surat An Naas, muncul keharuan di dalam benak para makmum—terutama bagi mereka yang benar-benar mengikuti I’tikaf dari hari pertama. Ya, akhirnya khatam Al Quran dalam 9 malam tersebut. Selesai membaca surat An Naas, imam melanjutkan dengan membaca doa; doa yang sangat panjang. Benar-benar panjang.

Berfoto dengan ust. Abdul Aziz Abdur Rauf pagi hari setelah QL terakhir, tahun 2011

Berfoto dengan ust. Abdul Aziz Abdur Rauf pagi hari setelah QL terakhir, tahun 2011

Sekarang mulai banyak masjid di Bandung yang mengadakan I’tikaf, tapi Habiburrahman takkan pernah bisa dilupakan. Ia adalah tempat kekhusyu’an, tempat kesabaran, dan tempat penuh kenangan.

Kini, di Selong, Lombok Timur

Sebagai daerah yang didominasi oleh Nahdhatul Wathan (NW, pecahan NU), seperti kebanyakan masjid NU, mereka tidak mengadakan I’tikaf—walau perayaan nuzulul Quran cukup ramai.

Ada dua masjid yang saya ketahui mengadakan I’tikaf, dua-duanya diselenggarakan oleh kader PKS. Para pesertanya pun kebanyakan (atau semuanya?) adalah para kader dan simpatisan PKS. Karena masjid yang dijadikan tempat I’tikaf tidak begitu besar, I’tikaf hanya dilakukan oleh kaum pria.

Lokasi masjid I’tikaf, yang saya dengar, berubah-ubah tiap tahunnya. Tahun ini, lokasi I’tikaf di selong ialah masjid khairu ummah yang berada di komplek DPD PKS Lombok TImur. I’tikaf di sini tidak menyelenggarakan QL berjamaah. Umumnya peserta bangun sekitar jam 3, lalu solat dan tilawah masing-masing.

DPD PKS lombok Timur

DPD PKS lombok Timur

Suasana i'tikaf di masjid khairu ummah

Suasana i’tikaf di masjid khairu ummah

Pemandangan yang menyejukkan 😊

Pemandangan yang menyejukkan 😊

Saya cukup salut dengan penyelenggaraan i’tikaf ini yang menyediakan buka puasa dan sahur gratis. Karena peserta tidak terlalu banyak, panitia membawa box-box yang berisi nasi, lauk, sayur, kerupuk, dll. Tentu saja ketika mengambil makanan—lauk terutama—harus dikira-kira agar seluruh peserta kebagian.

Walau peserta tidak banyak, suasana kekeluargaan benar-benar terasa di masjid yang tidak begitu luas ini.

———————————————————–

Apakah bila I’tikaf dilaksanakan sudah pasti akan mendapat lailatur qadr? Tidak ada yang menjamin. Bahkan seorang yang terbangun dan solat malam di rumahnya pun bisa mendapatkannya, jika Allah menghendaki.

Dapat atau tidaknya malam qadar, kita tidak tahu. Yang harus dilakukan hanyalah mengencangkan ibadah kita. Dan kita tidak boleh melupakana tujuan kita berpuasa Ramadan: bukan untuk ikut-ikutan, bukan untuk menurunkan berat badan, bukan untuk mendapatkan kehausan dan kelaparan; tapi untuk meraih peringkat taqwa.

Sudan sejauh manakah kita melangkah untuk menjadi pribadi bertaqwa semenjak hari pertama Ramadan? Sebesar apa progresnya?

Bulan Ramadan ialah bulan tarbiyyah. Dan layaknya proses pendidikan, hasil dari pendidikan sebulan Ramadan ini bisa dilihat dari bulan-bulan sesudahnya, apakah menjadi pribadi yang lebih berkualitas atau tidak.

Wallahu a’lam

Advertisements
Categories: gumam sendiri, merenung | Tags: , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: