Menyembuhkan Homoseksualitas

Ini bukanlah hal baru. Sudah banyak negara-negara yang melegalkan pernikahan sesama jenis. Salah satu negara yang paling awal mengesahkan hal tersebut secara hukum ialah Belanda. Negeri kincir angin sudah membuka pintu bagi pernikahan sesama jenis sejak tahun 2000. Begitu pula Spanyol dan Canada yang meresmikannya pada tahun 2005. Juga negara-negara barat lain seperti Inggris, Perancis, Skotlandia, Portugal, dll.

Di Amerika sendiri pernikahan sesama jenis bukanlah hal asing. Sudah banyak yang melangsungkan peresmian hubungan homoseksual ini walaupun di mata hukum belum sah. Namun, diketuknya palu yang menyatakan bahwa pernikahan tersebut sah secara hukum membawa dampak bukan hanya bagi negeri paman sam tapi sedikitnya juga bagi negara-negara lain, seperti Indonesia.

Respon segera berdatangan menanggapinya, tak ketinggalan Indonesia (termasuk sy sendiri, heheh :P). Masyarakat biasa hingga pejabat DPR dan tokoh agama pun bersuara bahwa Indonesia takkan pernah mengesahkan pernikahan homoseksual. Tapi ternyata masyarakat negara yang mayoritas muslim ini tidak hanya lantang menyampaikan suara kontra; tak sedikit juga yang pro, ada juga yang tidak peduli. Para netizen tanah air sempat dibuat terkejut oleh twit dari selebriti Sherina Munaf yang menyatakan bahwa ia mendukung pernikahan sesama jenis.

Isu LGBT sudahlah lama, tapi adanya momen ini membuat topik yang dulu seru untuk dibahas sempat dibuka lagi: apakah homoseksual itu sesuatu yang normal? Benarkah bahwa mereka “terlahir sebagai gay”? Apakah gay sifatnya diturunkan? Bisakah masyarakat LGBT diterima sebagai orang-orang heteroseksual pada umumnya? Dan, apakah homoseksual bisa disembuhkan? Bertahun-tahun sebelumnya telah dilakukan beberapa penelitian dan dibuat teori-teori yang bersifat ilmiah yang membahas tentang homoseksualitas.

Transgender tidak dimasukkan dalam pembahasan ini. Ada manusia transgender yang terbentuk sejak lahir akibat kelainan susunan kromosom. Contohnya yang mengalami sindroma Klinefelter, yaitu laki-laki yang memiliki buah dada, pinggul lebar seperti wanita, dan rambut kemaluannya seperti rambut kemaluan wanita. Ada juga manusia hermaprodit, yaitu memiliki organ reproduksi laki-laki maupun perempuan. Transgender menurut sy di sini tidak termasuk laki-laki yang menyengajakan diri untuk mirip wanita seperti dengan melakukan operasi, terapi hormone, dll.

Golongan ini dipisahkan karena mereka sudah “terlahir menjadi demikian” karena suatu proses genetika; berbeda dengan gay atau lesbian walau banyak pendukung LGB yang ngotot bahwa mereka pun juga seperti itu semenjak lahir. Setidaknya penelitian-penelitian selama ini tidak pernah membuktikan klaim mereka.

“Terlahir Sebagai Gay” Hanya Mitos

Setidaknya ada 3 studi terkenal yang berusaha untuk mencari penyebab homoseksualitas secara biologis.

Pertama, ialah usaha dari Dr. Simon Levay pada tahun 1991. Ia meneliti suatu struktur otak manusia yang disebut dengan interstitial nuclei of anterior hypothalamus (INAH). Ditemukan bahwa ukuran struktur tersebut pada orang-orang gay lebih kecil daripada laki-laki heteroseksual dan sama dengan ukuran pada wanita. Melalui penemuan ini ia berasumsi bahwa homosexual berhubungan dengan faktor biologis.

Penelitian ini memiliki banyak masalah. Dari 19 gay yang diperiksa, semuanya meninggal karena AIDS. Pada penderita AIDS, level hormone testosteron menurun sehingga lebih dapat disimpulkan bahwa hal tersebut lah yang membuat struktur INAH lebih kecil. Selain itu, penelitian semacam ini tidak bisa direplikasi pada penelitian-penelitian selanjutnya. Pada 2001, Levay pun mengakui bahwa temuannya “tidak membuktikan bahwa homoseksual bersifat genetik”.

Masalah lainnya dari penelitian ini ialah Levay merupakan seorang gay dan penelitian di atas diindikasikan memiliki konflik kepentingan.

Kedua, studi saudara kembar. Penelitian yang cukup populer ini dilakukan oleh Michael Baley dan Richard Pillard. Mereka mempelajari beberapa subjek berupa 56 pasang kembar identik, 54 pasang kembar nonidentik, 142 bersaudara tidak kembar, dan 57 pasang saudara angkat. Hipotesis dari penelitian ini adalah jika homoseksual diwariskan dalam garis keluarga, seharusnya lebih banyak angka saudara kembar identik yang memiliki orientasi seksual sama dibanding saudara  kembar nonidentik dan saudara kandung nonkembar.

Hasil penelitian mereka adalah sebagai berikut:

  • 52% kembar identik laki-laki adalah homoseksual
  • 22% kembar nonidentik laki-laki adalah homoseksual
  • 2% saudara kandung nonkembar laki-laki adalah homoseksual
  • 11% saudara angkat laki-laki adalah homoseksual

Melalui penelitian ini, mereka mengumumkan bahwa orientasi seksual secara substansial adalah genetik. Yang perlu dikritisi dari hasil tersebut adalah tidak 100% kembar identik homoseksual. Jika terdapat gen gay, seharusnya semua kembar identik memiliki orintasi seks yang sama karena kembar identik berbagi gen yang sama. Selain itu, jumlah saudara angkat yang homoseksual lebih besar daripada saudara kandung nonkembar. Neil Reisch dan kolega dalam komentarnya di jurnal Science, “Saudara kandung dan saudara angkat memiliki angka yang hampir sama. Hasil ini menyarankan bahwa tidak ada komponen genetik, tapi lebih ke komponen lingkungan dalam keluarga.”

Ketiga, studi gen gay pada kromoson X. Dr. Dean Hamer melihat bahwa banyak laki-laki gay memiliki relatif gay dari hubungan keluarga ibu, sehinga ia menyimpulkan bahwa gen gay terdapat pada kromosom X. Dari 40 pasangan homoseksual bersaudara, pada 33 pasangan ditemukan DNA yang sesuai  yang disebut dengan q28.

Dr. Hamer menyatakan bahwa eksperimennya menunjukkan gen Xq28 berperan dalam menentukan orientasi seksual. Penting untuk dicatat bahwa penelitian tersebut tidak mengklaim menemukan gen gay.

Salah satu poin kritis penelitian tersebut adalah Dr. Hamer dan kolega tidak memeriksa apakah laki-laki heteroseksual pada keluarga subjek penelitian tersebut memiliki gen yang sama. Eksperimen di atas juga tidak menjelaskan mengapa 7 pasangan sisanya yang homoseksual tidak memiliki “gen gay” tersebut. Komentar juga diajukan ke jurnal Science bahwa penelitian tersebut tidak memiliki grup kontrol (heteroseksual). Juga, penelitian gen Xq28 ini tidak bisa direplikasi pada penelitian selanjutnya. Studi yang melibatkan jumlah sampel yang lebih besar gagal menemukan gen yang berperan dalam orientasi seksual pada posisi Xq28.

Untuk merangkum semuanya, hingga kini belum ada hasil penelitian ilmiah yang menyimpulkan dan membuktikan bahwa homoseksual bersifat genetik.

Penyebab Homoseksual

Ada beberapa teori diajukan yang dianggap sebagai penyebab kondisi orientasi seksual ini.

Teori genetik belum dapat diterima karena belum ditemukannya penelitian yang konsisten, walau para ilmuwan masih menganggap genetika “mungkin” berperan. Yang kedua ialah teori hormonal. Suatu studi menunjukkan proses hormonal, terutama pada masa di dalam kandungan, dapat mengakibatkan otak laki-laki kurang termaskulinisasi. Kondisi tersebut juga berperan dalam memengaruhi identitas gender. Dalam dunia nyata, kita dapat melihat beberapa laki-laki yang tingkah lakunya seperti perempuan atau biasa dikenal sebagai “laki-laki melambai”. Hal tersebut juga dapat memengaruhi orientasi seks seseorang.

Penyebab lainnya ialah faktor psikososial—ini sering dinafikan oleh para pendukung LGB. Angka statistik memaparkan bahwa lebih dari rata-rata lelaki homoseksual memiliki riwayat pelecehan seksual saat masih kanak-kanak oleh orang dewasa. Tomeo dan kolega melaporkan 46% laki-laki homoseksual mengalami pelecehan homoseksual di masa kecil dibandingkan dengan 7% laki-laki heteroseksual. Begitu juga 22% lesbian masa kanak-kanaknya dilecehkan oleh homoseksual dibandingkan dengan 1% perempuan homoseksual.

Pelecehan di sini bisa berupa tindakan seks langsung bisa juga bukan, seperti penyentuhan alat kelamin. Misal, anak laki-laki yang penisnya dipegang atau digenggam oleh laki-laki dewasa, akan menganggapnya sebagai pengalaman seksual pertama yang sangat berkesan. Memori tersebut akan sangat memengaruhi orientasi seksualnya.

Mayoritas seseorang mulai menyadari atau menjadi homoseksual ketika ia menjelang usia remaja. Studi menunjukkan bahwa para remaja tersebut ketika beranjak dewasa berkurang kecenderungannya mengidentifikasi diri mereka sebagai gay. Suatu penelitian di Minnesota melaporkan bahwa sebanyak 25.9% anak-anak usia 12 tahun tidak yakin apakah mereka homoseksual atau heteroseksual. Sebaliknya, hanya 2-3% dewasa yang melabeli diri mereka sebagai homoseksual. Ini artinya, anak-anak di usia pencarian orientasi seksual tersebut dapat menjadi gay apabila para pendukung LGB di sekitarnya memprovokasi mereka dengan mengatakan “homoseksual itu normal” atau “kau memang terlahir sebagai gay”.

Bisakah Homoseksual Disembuhkan?

TIDAK. Itu adalah jawaban yang didapat bila ditanyakan ke psikolog atau dokter jiwa (psikiater). Juga jawaban yang akan kita dapat bila mereka ditanya atau diminta untuk menyembuhkan homoseksual adalah “terapi homoseksual itu menentang etika kedokteran dan tidak diperbolehkan secara etika karena homoseksual BUKANLAH PENYAKIT JIWA. Usaha menyembuhkannya hanya akan membuat pasien menjadi depresi dan mengalami gangguan kecemasan”.

Sudah lama homoseksual ditarik dari klasifikasi penyakit gangguan jiwa. Alasan para psikiater tidak lagi menganggapnya sebagai penyakit ialah semenjak tahun 1973 para pelaku homoseksual tidak lagi mengalami depresi atau gangguan sosial lainnya. Seiring bertambahnya waktu dan opini publik terus mengalir layaknya sungai deras yang menghantam para penghalangnya, kaum gay mulai diterima oleh masyarakat dan bentuk diskriminasi pun perlahan-lahan menghilang. Akibatnya, tidak ada lagi alasan untuk menetapkannya sebagai penyakit karena gay dan lesbian bisa hidup normal layaknya heteroseksual.

Namun, apakah orang homoseksual tidak bisa berubah menjadi heteroseksual? Jawabannya bisa. Ada banyak orang yang mulanya homoseksual kemudian berganti orientasi seksualnya ke lawan jenis. Derajat homoseksual memang beragam: mulai dari “sedikit homoseksual” hingga “homoseksual total”. Semakin tinggi derajat homoseksualitasnya, semakin sulit ia menumbuhkan ketertarikan ke lawan jenis.

Skala Perilaku Seksual Menurut Kinsley

Skala Perilaku Seksual Menurut Kinsley

Usaha terapi untuk memperbaiki orientasi seksual atau “reparative therapy” tidaklah memiliki sejarah yang manis. Tidak sedikit yang melaporkan bahwa pasien yang menjalani reparative therapy mengalami depresi karena gagal dan merasa dirinya tidak diterima oleh masyarakat.

Meskipun demikian, banyak kisah “ex-gay” yang menuturkan bahwa mereka dapat menikah dengan lawan jenis dan memiliki kehidupan keluarga yang normal layaknya masyarakat pada umumnya. Namun, hasilnya variatif. Ada yang total sama sekali meninggalkan homoseksualitasnya, ada yang menikah dengan lawan jenis namun masih “tertarik secara seksual” dengan sesama jenis, ada yang sempat beralih ke heteroseksual namun akhirnya kembali ke kehidupan gay-nya.

Seorang psikolog asal Amerika Serikat, Joseph Nicolosi, menawarkan solusi reparative therapy bagi gay. Dalam websitenya disebutkan tujuannya bukanlah menyembuhkan, melainkan memberikan solusi dan alternatif kepada orang-orang homoseksual yang punya keinginan untuk memiliki kehidupan yang normal. Ia menekankan bahwa seorang yang mengikuti terapi tersebut harus berdasarkan keinginannya sendiri (jika ada anak yang dipaksa oleh orang tuanya untuk mengikuti terapi, makan Nicolosi akan menolaknya). Pasienlah yang menetukan apa tujuan dari terapi tersebut, dan sang psikolog akan berusaha untuk membantunya.

Intinya, belum ada usaha yang memuaskan untuk mengubah orientasi seksual seorang gay. Tidak ada eksperimen lanjutan mengenai ini, karena para dokter dan psikolog menganggap setiap usaha untuk mengubah orientasi seorang gay menjadi heteroseksual adalah pelanggaran etik.

Apa yang Bisa Dilakukan?

Di situs Salman ITB terdapat artikel yang bercerita tentang seorang “ustadz gay”. Sang ustadz sengaja diundang untuk menceritakan kisahnya sebagai gay dan usahanya hingga bisa menjadi seperti sekarang. Ia sekarang memang telah menikah dengan lawan jenis dan berkeluarga layaknya orang-orang kebanyakan.

Dalam pertemuan tersebut ia menyampaikan bahwa hasrat gay tak pernah bisa hilang dari dirinya meskipun ia telah menikah. Satu hal penting yang ia tekankan ialah “tidak semua hasrat harus dipenuhi”.

Manusia memiliki banyak sekali hasrat, bukan? Seorang laki-laki ketika melihat perempuan cantik tentu memiliki hasrat seksual terhadapnya. Hal itu adalah normal. Namun, apakah hasrat itu harus dipenuhi? Wanita memiliki hasrat yang sangat tinggi menghambur-hamburkan uangnya untuk berbelanja. Apakah hasrat untuk boros harus diikuti? Baru-baru ini para ilmuwan mempublikasikan hal mencengangkan bahwa kecenderungan memerkosa dipengaruhi oleh factor biologis. Jika memang ada “gen memerkosa”, apakah sifat gen tersebut harus dieksekusi, dengan alasan “beginilah Tuhan menciptakan saya”?

Begitu pula dengan homoseksual. Anggaplah ada yang disebut dengan gen gay. Genetika adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Seseorang tidak bisa memilih apakah ia memiliki gen tersebut atau tidak. Namun, seorang dengan gen tersebut bisa memilih, apakah ia akan melakukan tindakan homoseksual atau tidak.

Psikolog dan psikiater mengatakan, penolakan dan tindakan kasar kepada LGB tidak akan menyembuhkan mereka. Hasil dari tindakan responsif tersebut hanya akan membuat depresi dan menumbuhkan keinginan bunuh diri. LGB juga akan berpikir bahwa mereka telah ditolak, sehingga lebih baik terjerumus saja ke dalam homoseksualitas sekalian.

Pendekatan yang dilakukan oleh Joseph Nicolosi dapat kita ikuti. Bahwa yang perlu kita lakukan ialah “membantu” bukan “memaksa”. Kita membuka pintu bagi mereka yang memiliki kecenderungan homoseksual namun merasa menjadi gay bukanlah pilihan hidupnya. Keinginan untuk menjadi normal harus berasal dari diri mereka sendiri, bukan dari luar, bukan dari orang tua, bukan dari teman-temannya. Biarlah ia yang mulai bertanya kepada dirinya sendiri, apakah menjadi gay itu baik dan benar.

Pendekatan pendidikan moral dan terutama agama dapat berperan penting. Sang ustadz gay memutuskan untuk tidak berperilaku homoseksual ialah karena kesadaran agama. Apabila pemahaman agama diberikan dan ditanamkan dengan baik, seorang tersebut pun akan mulai sadar tindakannya salah, bahwa dirinya perlu berubah, hingga dirinya sendirilah yang memutuskan untuk menjadi heteroseksual, tanpa paksaan dan tanpa tekanan.

Dan tentu saja, istilah “mencegah lebih baik daripada mengobati” juga berlaku untuk hal ini. Orang tua berperan penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Peran pendidikan dan pengawasan harus melekat pada diri orang tua. Jika tidak, bukan hal yang mustahil pada pendukung LGB lah yang akan mengambil alih peran tersebut dan memberikan “pendidikan” ala mereka kepada anak yang masih mencari orientasi seksual.

Advertisements
Categories: gagasan, kesehatan | Tags: , , , | 2 Comments

Post navigation

2 thoughts on “Menyembuhkan Homoseksualitas

  1. denny

    Yakin bisa sembuh? Saya berkali2 searching ga ada satupun dikatakan sembuh dari orientasinya yang menyimpang bahkan setelah menikah dan memiliki anak. Mereka tetap dalam orientasi seksual semula. Yang bisa dilakukan hanyalah meredam semua hasrat yang dikatakan menyimpang dengan tetap menjalani kehidupan pernikahan normal. Disini dubutuhkan keyakinan yang sangat kuat terhadap konsep agama dan nilai-nilai dalam masyarakat. Sebagian orang bertahan dalam kondisi normal dengan keyakinan bahwa mungkin ini adalah cobaan hidup dan jihad seumur hidupnya. Sebagian lain beranggapan rugi jika hanya mendapatkan kenikmatan sesaat yang fana di dunia dan siksa yg kekal di akhirat. Orang yg menyerah dan memilih mengikut hawa nafsu hampir bisa dipastikan tidak memiliki keyakinan agama yang kuat, namun pada dasarnya mereka hanya mencari kebahagiaan namun cara yang ditempuh tidak tepat.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: