Pembunuh 9 Centi

FB_IMG_1435332091203

Rokok Membuat Anda Rileks

Baru-baru ini kita mendengar kabar seorang pejuang kampanye antirokok meninggal dunia dalam usia muda. Seharusnya 27 tahun merupakan masa seseorang berada dalam kondisi produktifnya. Berpenghasilan, mencari nafkah, berkarya untuk negeri, memberi cinta kepada istri dan anaknya, mengabdi kepada orang tua…tapi itu semua pupus. Ia tutup usia, dibunuh—saya lebih memilih menggunakan istilah “dibunuh”—oleh benda yang amat kecil, hanya berukuran 9 centimeter.

Robby Indra Wahyuda

Robby Indra Wahyuda

Robby Indra Wahyuda hanyalah satu dari sekian banyak masyarakat Indonesia yang mengonsumsi rokok sejak kecil. Masih saja ia mengenakan seragam putih dan merah, kepulan-kepulan asap sudah menghiasi bibirnya. Apakah ia adalah satu-satunya? Tentu tidak, karena menurut Komnas Anak setidaknya terdapat 239 ribu anak Indonesia yang berusia di bawah 10 tahun menjadi perokok aktif. Begitu pula ketika Indonesia menjadi pusat perhatian dunia, bukan karena prestasi, namun karena seorang anak usia 2 tahun, Aldi Rizal, sehari-harinya menghabiskan 40 batang rokok.

Apakah perbedaan antara narkotik dengan rokok? Keduanya sama-sama zat adiktif, membuat orang yang mengonsumsinya ketagihan dan ketergantungan luar biasa. Pula keduanya sama-sama membunuh orang yang menikmatinya. Hanya saja narkoba memberikan efek yang cepat: seorang yang sudah ketagihan sudah menunjukkan tanda dan gejala yang mengenaskan yang membuatnya tidak produktif. Sedangkan rokok membuat penggunanya baru merasakan sakit—hingga sakit parah—dan berkurang produktivitasnya rata-rata setelah usia 40 tahunan.

Setelah 40 tahunan? Benarkah itu? Bukankah Robby harus menderita kanker esophagus (kerongkongan) pada usia yang sangat muda, yaitu 26 tahun?

Bukan hal yang aneh ketika Instalasi Gawat Darurat kedatangan seorang pasien laki-laki berusia 30-an dalam keadaan nyeri dada, sesak, hingga menurun kesadarannya. Itu adalah penyakit jantung coroner (PJK), yang dahulu dikenal sebagai penyakit yang diidap oleh manusia usia 40-an. Mungkin kita masih ingat Dodit, seorang komedian sambil berdiri asal Surabaya yang mampu membuat perut kita terkocok akibat lawakan dan muka datarnya. “Baru kali ini, seumur hidup, saya pingsan. Rasanya seperti sakaratul maut,” ujar sang comedian berusia 29 tahun. Rokoklah yang mengakibatkan sumbatan di pembuluh darah jantungnya.

Sialnya korban dari rokok bukan hanya mereka yang aktif mengepul. Seorang lansia harus menderita penyakit paru obstruktif kronis—penyakit yang hampir eksklusif disebabkan oleh asap rokok—padahal ia bukanlah perokok: nasib tidak beruntung membuatnya berada di lingkungan kerja perokok. Kemarin-kemarin juga kita melihat iklah di TV tentang wanita berusia 37 tahun yang dilubangi tenggorokannya dan kehilangan suara akibat menderita kanker pita suara. “Berhentilah merokok, asapmu membunuh orang-orang di sekitarmu,” ucap Ike dengan suara serak nyaris tak terdengar.

Sebutan dari Taufiq Ismail bahwa Indonesia surga bagi perokok tidaklah berlebihan. Ketika dunia mengalami tren penurunan jumlah perokok pada usia > 15 tahun, Indonesia mengalami kenaikan. Berdasarkan data Riskesdas, terjadi kenaikan dari 34,7% (2010) menjadi 36,3% (2013) jumlah anak-anak usia > 15 tahun yang merokok. Sekitar 62,5% dari seluruh perokok pertama kali menjadi perokok aktif pada usia < 19 tahun.

Surga Rokok Murah

Harga rokok di Indonesia sangatlah murah jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Jika Singapore menjual rokok senilai 90 ribu-100 ribu per bungkusnya, Indonesia menjualnya hanya seharga 13 ribu-15 ribu. Harga yang murah seperti ini—apalagi di Indonesia rokok dapat dibeli per batang—membuat ia dapat dijangkau oleh masyarakat miskin dan para remaja.

cigs-chart-corrected

Terlebih lagi pabrik-pabrik rokok tak pernah lelah untuk berburu para korban baru: generasi muda. Umumnya masyarakat ketika sudah berusia tua mulai meninggalkan rokok karena terkena getah penyakitnya. Ketika mulai banyak orang-orang meninggalkan rokok, maka industri rokok pun mencari konsumen baru, yaitu anak-anak muda.

Tak heran bila iklan rokok dikemas sedemikian menarik. Gambar yang ditayangkan oleh iklan rokok membentuk persepsi anak-anak muda bahwa merokok adalah sesuatu yang keren, gagah, dan kekinian. Penelitian menunjukkan bahwa 70% remaja menilai positif terhadap iklan rokok. Iklan-iklan yang menyesatkan itu pun membuat 50% remaja perokok merasa lebih pecaya diri seperti yang diiklankan rokok, dan 37% remaja perokok merasa keren seperti yang diiklankan rokok.

IMG-20150513-WA0000

Menanti Komitmen Pemerintah

WHO Global Reports on Trends in Tobacco Smoking pada Maret 2015 melaporkan bahwa terjadi pendurunan konsumsi tembakau di dunia. Pada 2010 terdapat 3,9 milyar manusia usia >15 tahun nonperokok; jika tren penurunan ini terus berlanjut, diproyeksikan di tahun 2025 terjadi peningkatan menjadi 5 milyar.

Bagaimana bisa ketika Indonesia terus mengalami kenaikan konsumen rokok, dunia pada umumnya mengalami penurunan?

Sejak 2003, WHO meluncurkan Konvensi Kerangka Kontrol Tembakau atau Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). Konvensi ini merupakan perjanjian internasional pertama yang dicanangkan WHO. FCTC memiliki beberapa artikel yang menuntut negara-negara di dunia melakukan upaya menurunkan permintaan dan suplai rokok.

Bagian utama dari konvensi tersebut berada di bagian III dan IV. Bagian III memiliki konten tentang upaya menurunkan permintaan tembakau. Terdiri dari artikel 6-14, bagian ini berisikan tuntutan-tuntutan di antaranya menaikkan cukai rokok, pemasangan gambar peringatan bahaya rokok yang mencakup 50% bungkus rokok, dan pelarangan segala bentuk iklan, promosi, dan sponsorship dari pabrik rokok. Bagian IV, terdiri dari artikel 15-17, bertujuan menurunkan suplai tembakau. Isinya adalah eliminasi perdagangan tembakau illegal, pelarangan penjualan ke anak di bawah umur dan penjualan per batang, dan pemberian bantuan ekonomi atau pekerjaan alternatif bagi petani dan buruh pabrik rokok.

Komitmen pemerintah merupakan kunci utama suatu negara dapat menyelamatkan rakyatnya dari pembunuhan massal oleh rokok. Cukai yang tinggi akan membuat rokok berharga mahal, sehingga tidak bisa diakses oleh masyarakat miskin—mirisnya rokok paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat miskin ketimbang golongan menengah ke atas—dan anak-anak muda. Kebijakan cukai rokok yang tinggi sukses menurunkan pengguna rokok, menurut data di negara Afrika Selatan. Selain itu, terlindungnya para remaja dari iklan-iklan pembodohan buatan industri rokok menurunkan probabilitas mereka tertarik untuk mencoba-coba. Tak hanya iklan, usaha perusahaan rokok menarik simpati masyarakat dengan memberikan beasiswa pendidikan dan bermurah hart dalam memberikan bantuan dana sponsor juga perlu dicegah agar perusahaan-perusahaan tersebut tidak menunjukkan eksistensinya di masyarakat.

Tingginya Cukai Rokok Efektif Menurunkan Angka Konsumsi Rokok

Tingginya Cukai Rokok Efektif Menurunkan Angka Konsumsi Rokok

Setidaknya ada 180 negara peserta di konvensi ini (terakhir yang bergabung adalah Zimbabwe. Iya, Zimbabwe, negara yang mata uangnya disebut “mata uang sampah” karena mengalami keterpurukan ekonomi) dengan 168 di antaranya sudah menandatanganinya. Anda tak perlu bertanya apakah Indonesia termasuk 180 negara itu atau tidak….

Produksi Tembakau Meningkatkan Pemasukan Negara. Benarkah?

“…mempertimbangkan nasib petani tembakau, pemerintah menerima 110 triliun rupiah dari cukai tembakau dan penerimaan negara 150 triliun rupiah dari PPH dan pajak daerah…” (Dipo Alam, Mensekab Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II)

Setidaknya ada 2 alasan retoris mengapa pabrik tembakau dipertahankan. Pertama ialah rokok salah satu penyumbang pemasukan negara yang besar. Kenyataannya, pada 2004 jumlah pengeluaran akibat tembakau (termasuk untuk kesehatan, pengobatan, dan kematian) ialah sebesar 127,4 triliun rupiah. Pada 2010, negara merugi sebesar 231,7 triliun rupiah akibat rokok.

Kedua ialah untuk melindungi nasib petani tembakau dan buruh pabrik rokok. Hal yang nyata ialah industri rokok sangat buruk dalam pengupahan pekerja. Menurut WHO, upah buruh pabrik rokok ialah yang terendah dibandingkan dengan upah buruh industri seluruh Indonesia. Sebagai perbadingan, pada 2008 upah buruh industri lain rata-rata sebesar 886,5 ribu rupiah, sedangkan upah buruh pabrik rokok hanya 753,4 ribu rupiah.

Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LDUI) mengungkapkan penemuan bahwa upah petani tembakau hanya 15-17 ribu rupiah/hari: sangat tidak sebanding dengan resiko pekerjaan mereka terhadap kesehatan. Masih menurut LDUI, mayoritas kondisi petani tembakau tidak terlalu baik dan akses terhadap air minum tidak memadai; untuk menyiasati rendahnya upah, petani turut memperkerjakan anak-anak mereka yang di bawah umur.

Tunggu Apalagi?

WHO menyampaikan data bahwa terdapat 6 juta orang meninggal/tahun akibat rokok, dengan 600 ribu di antaranya merupakan orang-orang nonperokok yang ikut kena musibah akibat lingkungan alias perokok pasif. Jika negara-negara di dunia tidak bertindak, diperkirakan terdapat 8 juta orang meninggal/tahun pada 2030.

Rokok tidak hanya membunuh orang yang menghisapnya, tapi juga orang-orang yang sama sekali tak terlibat dengan rokok namun ikut menghirup asapnya.

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menukarkan HIV-AIDS sesamanya,

Tapi kita tidak ketularan penyakitnya

Duduk kita di sebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus,

Kita ketularan penyakitnya

Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS

Begitu tulis Taufiq Ismail dalam gumamannya “Tuhan 9 Centi”.

Negara mengkampanyekan tentang bahaya HIV-AIDS dan semua lapisan masyarakat setuju akan bahayanya. Tapi kenapa untuk rokok yang jauh lebih “menular” ketimbang penyakit tersebut masih ada pihak yang mendukungnya? Semua kepala mengangguk ketika disampaikan bahwa pengedar narkoba pantas dihukum berat hingga mendapat hukuman mati. Tapi kenapa untuk pengedar rokok yang membuat orang-orang usia produktif tewas dan sama-sama membuat ketagihan tidak diberlakukan hal yang sama?

Tidak bisakah pemerintah menyelamatkan nyawa rakyatnya dengan ikut meratifikasi FCTC? Mungkin bukan hanya pemerintah enggan, tapi ada “mafia” yang berusaha agar industri tembakau tumbuh subur di Indonesia. Saat ini DPR tengah membahas RUU Pertembakauan, sebuah RUU yang sangat mendukung industri rokok dan bertolak belakang dengan RUU yang sudah diajukan sebelumnya yaitu RUU Pengendalian Tembakau.

Apa bisa dikata. Akibat lobi para “mafia” tersebut, RUU yang bisa masuk secara ajaib ini, tanpa naskah akademik, pembahasan yang tidak terbuka, menjadi prioritas dalam Prolegnas 2015. Ada yang bilang kalau RUU tersebut disusun oleh orang Sampoerna. Berarti jika disahkan, UU negara kita dibuat oleh pengusaha rokok (???)

Negara kita memang surga tembakau. Seperti yang disampaikan oleh Taufiq Ismail dalam puisinya:

Indonesia adalah surga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok.

Advertisements
Categories: gagasan, kesehatan, merenung | Tags: , , , | 1 Comment

Post navigation

One thought on “Pembunuh 9 Centi

  1. astagfirulloh… sangat berbahaya sekali rokok

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: