Mengabdi, Menjemput Kematian?

Baru-baru ini ramai di media sosial berita tentang meninggalnya salah satu dokter yang tengah bertugas di Papua. Dunia kedokteran dan kesehatan berduka setelah dr. Dhanny Elya Tangke tidak bertahan menghadapi malaria. Dokter lulusan Universitas Hasanudin tahun 2012 itu sedang menjalani tahun ketiganya mengabdi di distrik Weime, Kabupaten Pegunungan Bintang, Propinsi Papua. Berita kepergiannya menjadi viral di jagat dunia maya dan ucapan belasungkawa mengalir deras.

Indonesia timur memang terkenal sebagai daerah endemis malaria. Tidak hanya di Papua, tapi juga di Maluku bahkan di kepulauan Indonesia tengah seperti NTB dan NTT. Berita semacam ini sebenarnya bukanlah hal yang aneh. Jumlah dokter yang meninggal dalam tugas tak terhitung dengan berbagai penyebabnya. Selain malaria yang berkomplikasi ke otak, sering terdengar di telinga para dokter tentang gugurnya para sejawat mereka karena kecelakaan dalam tugas seperti tenggelam dan jatuh ke jurang.

Tugas ke daerah terpencil dan sangat terpencil tentu memiliki resiko lebih ketimbang di daerah kota padat. Sarana dan prasarana amatlah kurang, terutama fasilias kesehatan. Seorang yang terkena malaria yang berkomplikasi ke mana-mana tidak bisa ditangani di rumah sakit yang berada di pegunungan, namun harus dirujuk minimal ke rumah sakit rujukan propinsi (RSUP). Perjalanan ke RSUP sendiri membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Pada kasus dr, Dhanny, ia terlambat dievakuasi BEBERAPA HARI karena kendala cuaca.

Sangat banyak kasus pasien meninggal dalam perjalanan atau di RS daerah akibat terlambat dirujuk. Ada berapa banyak jumlah pasien meninggal akibat cedera kepala berat? Indonesia salah satu negara dengan angka kejadian cedera kepala berat yang tinggi. Penyebabnya bisa ditebak: banyaknya pengguna sepeda motor yang berkendara semena-mena, tanpa rem, tanpa kaca spion, bonceng 3 hingga 4, dan paling parah tanpa helm. Seorang yang terkena cedera kepala berat harus cepat dinilai melalui pemeriksaan CT-Scan dan SEGERA dievakuasi perdarahan otaknya di meja operasi. Sayangnya, fasilitas CT-Scan hanya ada di RSUP. Sebelum sempat discan pun banyak yang sudah tewas duluan.

Itu adalah sebagian cerita tentang menyedihkannya fasilitas sarana kesehatan kita. Alih-alih pemerintah menyediakan dana untuk meningkatkan sarana kesehatan yang merata, anggaran kesehatan yang tidak mencapai 5% banyak terpakai untuk program Jaminan Kesehatan Nasional atau yang kita kenal sebagai BPJS. Insan kesehatan sudah menyuarakan bahwa premi BPJS terlalu rendah, yang awalnya disarankan oleh Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) sebesar 66 ribu, setelah melewati DPR menjadi 23 ribu. Beberapa waktu lalu pun banyak masukan untuk menaikkan premi, namun lagi-lagi ditolak oleh DPR, dan mereka menyarankan untuk meningkatkan alokasi anggaran dari pemerintah untuk penanggungan BPJS. Memang program jaminan nasional berbasis asuransi ini banyak bermanfaat, namun bisakah terbayangkan alokasi untuk peningkatan kualitas jasa dan fasilitas kesehatan yang terkena dampaknya? Kondisi ini diperparah dengan belum tersebarluasnya kepesertaan BPJS, atau keadaan yang sangat sering dijumpai di RS: sudah sakit baru daftar BPJS. Jangan tanyakan besar jasa para tenaga kesehatan yang melayani jumlah peserta BPJS yang tiap harinya makin meningkat.

Tapi profesi kesehatan ialah pengabdian. Berapa pun besaran jasanya, dokter dan RS tak pernah boleh menolak untuk memberikan pelayanan. Para buruh dapat menurunkan massanya ke tengah jalan jika upah dirasa tak layak, namun dokter dan tenaga kesehatan lainnya tidak seperti demikian. Para dokter telah terikat dengan sumpah yang mereka ucapkan saat dilantik, “Saya aka membaktikan hidup saya demi kepentingan perikemanusiaan”.

Ributnya kondisi di atas tidak menyurutkan semangat pengabdian sebagian dokter untuk menjelajah ke pegunungan atau ke tengah hutan atau ke pualu terpencil. Daerah- daerah demikian tidak hanya minim fasilitas tapi juga tenaga kesehatan terutama dokter. Bertugas ke daerah terpencil tentu mengorbankan banyak hal. Terasing meninggalkan kenyamanan dan kemewahan metropolitan, jauhnya dari rumah dan keluarga, bertemu wajah-wajah asing dengan watak dan budaya yang sangat berbeda, dan berhadapan dengan ganasnya nyamuk anopheles atau jurang terjal atau amukan ombak atau bahkan adu parang dan peluru antarwarga.

Tentang malaria, ada kisah dari seorang senior yang pernah menjadi dokter PTT (pegawai tidak tetap) di Maluku. Umumnya, seorang yang akan datang ke daerah endemis malaria akan minum obat profilaksis (pencegahan). Dari 8 orang yang bertugas di sana, yang pertama kali terkena malaria adalah orang yang minum obat profilaksis! Senior saya sendiri selama PTT setahun sudah dua kali terkena malaria, sekali terkena malaria ringan (jenis malaria vivax) dan sekali malaria ganas (jenis malaria falciparum).

Ia juga bercerita tentang dokter satu almamater angkatan 2001 yang terkena malaria berkomplikasi ke otak (malaria cerebral). Ia dievakuasi ke RS Cipto Mangunkusumo dan berhasil selamat, setelah yang mengantarkannya selama perjalanan tidak bosan-bosannya melakukan resusitasi jantung paru dan menyuntikkan adrenalin.

“Untuk adik-adik yang mau PTT ke daerah endemik, saran saya ga usah repot-repot minum obat profilaksis…pasti kena,” petuah senior saya tersebut. Yang terpenting, menurutnya, yakinkan ada fasilitas pemeriksaan apus darah tepi dan obat malaria di puskesmas. Gejala awal malaria falciparum yang tidak khas, berupa nyeri perut, dikasih obat mag tidak mempan, setelah diberi obat malaria baru hilang. Ketika diperiksa apus darah tepi, positif malaria ganas….

DIGITAL CAMERA

Salah Seorang Dokter PTT Bertugas di Pedalaman Papua (sumber gambar: http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2013/01/15/dedikasi-dokter-di-daerah-terpenil-525430.html)

Itu baru malaria, belum kisah-kisah berbahaya lainnya yang tidak terekam media.

Tidakkah mengabdi itu seolah seperti menjemput kematian sendiri? Jika mengabdi itu memang berbahaya, apakah ia adalah alasan bagi kita untuk menghindarinya? Lalu, jika tidak ada satu pun yang mau mengabdi karena takut mati, masih adakah kata “kemanusiaan” di buku kamus bahasa?

“Hidup hakikatnya adalah perjalanan, dari satu waktu ke waktu lain menuju mati,” begitu seorang tokoh senior Wanadri dan seniman asal Bandung, Abah Iwan, bernyanyi. Jika yang dikhawatirkan adalah kematian, maka solusi terbaik ialah tidak pernah dilahirkan ke dunia. Sejak lahir pun seluruh sel dalam tubuh kita sudah memiliki kode untuk menghancurkan dirinya sendiri jika waktunya tiba. Kematian adalah keniscayaan; yang membedakan adalah bagaimana manusia berada di dalamnya, dalam kehinaan atau kemuliaan.

Adakah berada di kota besar akan mengamankan kita dari kematian? Tidak. Tak satu pun yang mampu lari darinya jika telah ditakdirkan.

“Setiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya akan disempurnakan pahala kalian pada hari kiamat. Barangsiapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka ia benar-benar telah beruntung. Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya” (QS. Ali Imran: 185)

Mengabdi bukanlah menjemput mati, melainkan justru menjemput kehidupan. Awalnya manusia berada di dalam ruangan yang sangat sempit, di dalam rahim sang ibu. Kemudian, sambil menghembuskan nafas ia keluar menuju tempat yang lebih luas, dunia. Di masa kanak-kanak, area kehidupannya hanya berkisar rumah dan sekitarnya. Setelah beranjak dewasa, kehidupannya tumbuh seiring dengan meluasnya tempat hidupnya. Hingga kemudian, nafas-nafas kehidupannya melebar ke sudut-sudut yang terlupakan, terpencil dan jauh dari keramaian manusia, untuk berbagi senyum kehidupan. Jika enggan untuk melakukan perjalanan hingga ke sudut-sudut tersebut, tidakkah kehidupan kan terasa terlalu sempit?

Mengabdi ialah melakukan perjalanan. Langkah demi langkah harus terus dijejakkan. Manusia takkan pernah bisa hidup diam dan tak bergerak. Pepatah Arab mengatakan kehidupan manusia bagaikan air; jika mengalir ia menjadi jernih, namun jika diam dan menggenang ia kan kotor.

Jika mendengar kisah betapa berbahaya dan menantangnya di jalan pengabdian, maka yang muncul seharusnya ialah bukan takut melainkan bertambah semangat. Tentu melakukan perjalanan bukanlah untuk bunuh diri.

Tujuan dari perjalanan ialah “sampai di tujuan dan pulang kembali dengan selamat”. Berhasil atau tidaknya perjalanan sangat ditentukan oleh matangnya persiapan. Prinsipnya ialah “jangan lakukan perjalanan jika tidak memiliki persiapan”. Kadar persiapan tiap perjalanan tentu berbeda. Mendaki gunung es tentu memiliki persiapan yang jauh berbeda ketimbang mendaki gunung non-es. Menempuh rimba selama seminggu butuh persiapan ekstra ketimbang berkemah hanya semalam. Begitu pun ketika bertugas ke pedalaman: lakukan persiapan sebaik mungkin dan gali informasi yang banyak sebelum berangkat.

Ini pula yang membedakan antara “nekat” dan “berani”: orang yang berani berjalan menantang bahaya namun telah memiliki perhitungan, berbeda dengan nekat.

Mungkin kita kan bertanya, menyesalkah dr. Dhanny masuk ke pedalaman Papua setelah ia tahu kondisinya demikian? Tidak ada yang tahu. Tapi saya yakin—maafkan saya yang sok tahu ini—ia tidak menyesal, karena ia sendiri pernah bertutur, “Adalah kegembiraan dan kehormatan bagi saya bila dapat membantu dan melayani masyarakat di daerah terpencil”.

Jasadnya telah mati, seperti kita semua yang juga akan mati. Tapi, apakah jasa-jasa kita juga kan terkenang? Adakah nama kita kan juga mengabadi dan memberi inspirasi? Itulah perbedaannya antara pengabdi dan orang biasa.

Di akhir, saya ingin mengutip lirik “Balada Prajurit” yang diciptakan oleh Abah Iwan, berisi tentang para prajurit yang bertugas demi tanah air. Ya, para dokter yang mengabdi dan profesi apa pun yang mencurahkan pengorbanannya demi bangsa dan negara pada hakikatnya adalah para prajurit tanah air.

BALADA SEORANG PRAJURIT

Bangunlah hai prajurit, Siagakan dirimu

Berlatih tak pernah kenal berhenti

Gembirakan hatimu, Kobarkan semangatmu

Putus asa jauhkan dari dirimu

 

Bertempur pantang mundur

Lebih baik hancur lebur

Bila perlu demi tugas rela gugur

Bagi seorang ksatria kehormatan yang utama

Keringat dan darah siap kukorbankan

 

Gunung-gunung kudaki, Jurang curam kuturuni

Biar siang biar malam tak peduli

Hutan rimba kuarungi, Sungai deras kuseberangi

Biar hujan biar panas tak peduli

 

Sungguh jauh dari rumah, Rasa rindu tak tertahan

Namun tugas bagiku lebih utama

Demi kehormatan bangsa, Demi rakyat yang tercinta

Jiwa raga bila perlu kukorbankan

Bangunlah hai prajurit Siagakan dirimu

Advertisements
Categories: kesehatan, merenung, pembelajaran | Tags: , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: