[FOTO] Catatatan Perjalanan Gunung Rinjani, Jalur: Berangkat Sembalun-Pulang Sembalun, 23-26 April 2015

Catatan: banyak foto di tulisan ini hasil tangkapan dari kamera digital yang belum di-setting tanggalnya; mohon dimaklumi hasil pengambilan gambar yang amatiran ini ^^’

Gunung Rinjani adalah salah satu gunung terindah di dunia. Danau Segara Anak yang menganga di kalderanya mampu menarik para pendaki maupun wisatawan—lokal dan asing—untuk mengunjunginya. Rinjani memiliki ketinggian 3.726 mdpl (meter di atas permukaan laut), gunung vulkanik tertinggi kedua di Indonesia setelah Kerinci, dan gunung tertinggi nomor 3 di Indonesia, dengan nomor satunya ialah Cartenz Pyramid.

Ada 2 gerbang pendakian utama untuk menuju puncak Rinjani, yaitu Desa Sembalun dan Desa Senaru. Umumnya turis maupun pendaki berangkat melalui gerbang Sembalun. Hal ini bisa dilihat dari peta topografi yang dipampang di kantor sekretariat Taman Nasional Gunung Rinjani. Di jalur desa Sembalun, pos terakhir sebelum puncak ialah pelawangan sembalun. Pendaki bisa langsung menuju puncak dari pos tersebut. Sedangkan bila dari desa Senaru, pos terakhir ialah pelawangan Senaru, dan bila ingin menuju puncak tertinggi, pendaki harus turun dulu ke danau Segara Anak, naik ke pelawangan Sembalun, lalu ke puncak. Tentu sangat tidak efektif dan melelahkan bila naik dari gerbang Senaru.

Senaru banyak digunakan sebagai jalur pulang. Menurut orang yang telah berkali-kali ke Rinjani, perjalanan dari danau Segara Anak ke desa Senaru hanya sekitar 6 jam, jauh lebih singkat jika dibandingkan ke desa Sembalun yang memakan waktu sekitar 9 jam. Hanya saja sayangnya sy dan teman-teman saat naik tidak mengetahui informasi ini, sehingga memilih Sembalun sebagai tujuan jalan pulang.

Pendakian dimulai di hari Kamis, 23 April 2015. Pendaftaran di sekretarian Taman Nasional Gunung Rinjani cukup sederhana. Pengunjung menuliskan nama peserta rombongan ke buku pendaftaran, membayar tiket 5000/hari/orang, dan mendapat label untuk dipasang di ransel. Karena estimasi perjalanan kami selama 4 hari dan jumlah kami 4 orang, kami pun membayar 80 ribu. Bagaimana jika ternyata lebih dari hari yang diperkirakan? Sepertinya tidak dilakukan pengecekan ulang, karena pelaporan ketika sudah selesai mendaki di sekretariat dilakukan seadanya.

Kantor Taman Nasional Gunung Rinjani

Kantor Taman Nasional Gunung Rinjani

Maket peta topografi gunung RInjani, bisa dilihat di Kantor TNGR

Maket peta topografi gunung RInjani, bisa dilihat di Kantor TNGR

Saung di sekretarian TNGR bisa dimanfaatkan sebagai tempat istirahat dan bermalam

Saung di sekretariat TNGR bisa dimanfaatkan sebagai tempat istirahat dan bermalam

Gunung Bukan Tempat Sampah

Gunung Bukan Tempat Sampah

Yang terlihat di gambar ini bukanlah puncak Rinjani

Yang terlihat di gambar ini bukanlah puncak Rinjani

Semenjak di sekretariat kita sudah bisa melihat banyak turis asing, entah dari Amerika, Eropa, atau Asia. Tampaknya turis asing diwajibkan menyewa guide dan porter; sy tidak melihat ada turis asing yang naik tanpa mereka. Pendaki lokal sendiri tidak diwajibkan menyewa porter. Dari informasi yang didengar, biaya sewa satu porter sebesar 200.000/hari, dengan seorang porter membawa beban maksimal 30 kg.

Pendaki bisa menyewa tumpangan mobil pick up seharga 80 ribu untuk menghemat perjalanan selama 30-45 menit. Pengguna porter bahkan—katanya—bisa nyewa kendaraan untuk mempersingkat perjalanan sampai ke pos 1.

Waktu yang dibutuhkan dari titik awal pendakian sampai pos 1 kurang lebih 3 jam. Tak lama dari lokasi start, dapat ditemukan gapura Taman Nasional Gunung Rinjani.

Berpose sebelum berangkat

Berpose sebelum berangkat

Numpang pick-up untuk menghemat perjalanan

Numpang pick-up untuk menghemat perjalanan

Gapura TNGR. Setiap hari banyak turis asing di Rinjani

Gapura TNGR. Setiap hari banyak turis asing di Rinjani

Total ada 4 pos sepanjang perjalanan, dengan pos terakhir ialah pelawangan. Khas jalur sembalun ialah kebanyakan jalan yang dilalui berupa padang rumput. Jika dilihat di peta, dari Sembalun menuju pelawangan pendaki akan menyeberangi punggungan-punggungan dan lembahan-lembahan, setidaknya sampai pos 3. Tidak heran jika jalur yang dilalui berupa naikan dan turunan. Sedangkan jalur Senaru—kata orang-orang—jalurnya berupa hutan rindang. Peta topografi menunjukkan jalur senaru ke pelawangan senaru lebih pendek, namun lurus menanjak.

Pemandangan padang savana sembalun benar-benar menyejukkan untuk diresapi. Hampir tidak adanya pepohonan membuat mata dapat menjangkau hingga ke horizon. Di tengah perjalanan, dapat ditemukan batang-batang tipis bunga lavender terayun-ayun oleh angin.

P1030153 - Copy P1030157 - Copy P1030161 - Copy

Cuaca saat itu didominasi oleh kabut dan hujan—yang tentu saja menghalangi pemandangan. Namun jika cerah, orang-orang bilang panasnya terik matahari di padang rumput bisa cepat membuatmu dehidrasi. Hmm, sy pun berpikir cuaca saat itu perlu disyukuri; walaupun sering menutupi keindahan alamnya, setidaknya tidak membuat kami kepanasan.

Seperti yang sudah sy sebutkan sebelumnya, jalan yang dilalui banyak menyeberangi lembahan. Jembatan-jembatan buatan dibentangkan untuk memfasilitasi turis maupun pendaki. Beberapa kali juga sungai-sungai kering dilewati. Satu hal yang perlu diwaspadai adalah, walaupun terbuka dan cenderung landai, pejalan perlu mewaspadai langkahnya karena banyak kotoran sapi bersilewaran.

Menyeberangi sungai kering

Menyeberangi sungai kering

Belok kiri untuk menuju jembatan

Belok kiri untuk menuju jembatan

Perjalanan dari gerbang Sembalun ke Pelawangan melintasi lembahan-lembahan, sehingga banyak didirikan jembatan

Perjalanan dari gerbang Sembalun ke Pelawangan melintasi lembahan-lembahan, sehingga banyak didirikan jembatan

Ketika tiba di pos 1, kabut sedang menebalkan diri. Ada pos yang bisa digunakan untuk berteduh, walaupun biasanya rame ditempati oleh turis dan pendaki lain. Untuk meneruskan perjalanan ke pos 2, pendaki mesti menemukan jalan setapak ke arah kanan. Waktu yang ditempuh ke pos 2 dari pos 1 sekitar 35 menit.

Pos 1, tertutup kabut

Pos 1, tertutup kabut

Setelah tiba di pos 1, belok kanan untuk menemukan jalan setapak menuju pos 2

Setelah tiba di pos 1, belok kanan untuk menemukan jalan setapak menuju pos 2

Perjalanan dari pos 1 ke pos 2 masih berupa punggungan dan lembahan landai. Pos 2 cukup luas, dan juga ada bangunan yang beratap. Saat itu jam menunjukkan setengah 12, jam makan siang. Para porter membentangkan tenda, mengeluarkan kompor dan bahan masakan. Wangi aroma makanan mengudara ke mana-mana. Yah, bagi turis yang menyewa porter, tidak hanya barang-barang dibawakan, tapi mereka juga dimasakkan makanan dan dipasangkan tenda. Masakan yang mereka hidangkan pun seperti yang bisa ditemukan di rumah atau warung makan. Bagaimana kualitas makanannya? Ada yang bilang enak, ada yang bilang kurang. Mungkin untung-untungan dapat porter yang jago masak atau tidak.

Pos 2

Pos 2

Para porter sedang menyiapkan makanan

Para porter sedang menyiapkan makanan

Para porter merupakan penduduk asli desa Sembalun. Menjadi porter ialah mata pencaharian mereka. Mungkin mereka sudah berpuluh atau ratusan kali mendaki Rinjani. Tidak hanya mampu memanggul beban 30 kg dan mendaki dengan kecepatan mengagumkan, pakaian mereka pun amat sederhana. Kaos tipis sudah cukup untuk bertahan dari suhu dingin—bahkan ada juga yang memilih hanya memakai celana pendek. Alas kaki pun hanya sandal jepit, ada pula yang nyeker.

Para porter membawa barang, beralaskan sendal jepit

Para porter membawa barang, beralaskan sendal jepit

Catatan-catatan perjalanan lain menuliskan kalau di pos 2 terdapat sumber air, namun harus jalan cukup jauh untuk mengambilnya. Selain di pos 2, sumber air juga bisa ditemukan di pelawangan Sembalun dan dekat danau Segara Anak. Para porter sendiri–dan juga para pendaki–paling sering mengisi air di pelawangan. Kami pun memutuskan untuk tetap bertahan dengan air yang ada hingga pelawangan nanti.

Perjalanan dari pos 2 ke pos 3—kata porter—membutuhkan waktu sejam,namun kenyataannya kami menempuhnya selama 1,5 jam. Jalanan mulai cenderung menanjak. Sekitar 10 menit sebelum pos 3 ada semacam saung dari besi. Berpikir bahwa pos 3 akan penuh oleh orang-orang, kami pun memutuskan istirahat di sana.

Padang lavender

Padang lavender

Makan siang di saung sebelum pos 3

Makan siang di saung sebelum pos 3

Pos 3 berada di dekat sungai kering. Seberangi sungai kering untuk menuju

Pos 3 berada di dekat sungai kering. Seberangi sungai kering untuk menuju “7 bukit penyesalan”

Istilah yang cukup populer untuk jalan dari pos 3 ke pelawangan sembalun ialah “7 Bukit Penyesalan”. Pernyataan itu untuk menunjukkan jalan yang terus-menerus menanjak. Sebenarnya istilah “bukit” kuranglah tepat, karena medan sepanjang perjalanan ialah punggungan. Jika sebelumnya menyeberangi punggungan dan lembahan landai, sehingga ada jalan naik dan turunnya, saat itu jalan yang ada ialah terus menanjak, dengan sedikit punggungan yang datar sebelum kemudian menanjak lagi.

Perjalanan menuju pelawangan sembalun merupakan yang paling melelahkan juga membosankan karena mulai tiadanya pemandangan yang bisa dilihat. Vegetasi pepohonan mulai muncul, walau tidak sampai membentuk hutan yang rindang. Mulai kelelahan, kami pun banyak berisitirahat. Bahkan ada yang merasa sangat berat untuk melanjutkan perjalanan. Namun, salah seorang dari kami memotivasi, “Manusia tidak akan pernah bisa menaklukkan gunung, namun dengan menaklukkan gunung manusia menaklukkan diri sendiri.”

Terus menanjak

Terus menanjak

Perjalanan yang melelahkan

Perjalanan yang melelahkan

Sekitar 3 jam, kami pun sampai di tanah datar yang luas. Untuk menuju pelawangan pendaki mesti belok kiri, mengikuti jalur setapak, dan 5 menit kemudian pun sampai di area perkemahan pelawangan.

Total waktu tempuh dari titik start sampai pelawangan ialah 9 jam, termasuk waktu isitrahat satu jam. Ketika menegakkan tenda, barulah kami tahu bahwa kebanyakan pendaki—yang membawa beban sendiri tanpa porter—berkemah dulu di pos 3, baru di hari kedua melanjutkan perjalanan dan berkemah di pelawangan.

Akhirnya sampai juga di pelawangan

Akhirnya sampai juga di pelawangan

Mendirikan tenda

Mendirikan tenda

Saat itu kami tidak banyak membuang waktu dan segera beristirahat. Kurang lebih waktu yang dibutuhkan untuk mencapai puncak tertinggi dari pelawangan ialah 5 jam. Agar tidak terlalu siang, kami berencana mulai summit attack jam setengah 2. Puncak Rinjani tidak seperti Semeru. Jika di puncak Semeru tidak boleh lebih dari jam 10 karena di atas jam tersebut mulai muncul asap beracun, puncak Rinjani tidaklah memberi batas waktu.

Harapan berangkat jam setengah 2, apa daya sy dan kawan-kawan baru mulai berangkat jam 3. Jika dilihat ke arah puncaknya, jalur summit attack Rinjani lebih panjang dari Semeru. Orang-orang juga bercerita tentang tanah berpasir menuju puncak. Namun, semua mengatakan bahwa pasir Rinjani tidaklah selicin pasir Semeru. Omong-omong tentang Semeru, sy jadi ingat summit attack yang memakan waktu 7 jam, yang sebagian besar waktunya habis oleh rasa lelah karena kaki merosot terus saking licinnya.

Tapi Rinjani tidaklah seperti Semeru. Di tengah-tengah perjalanan, permukaan tanah mulai berupa pasir. Pasirnya memang licin dan bisa membuat kaki merosot, namun di bawahnya masih terdapat tanah yang agak keras dan bisa diinjak. Tapi tetap saja, jika tekniknya salah kaki bisa merosot, dan jika terus-menerus merosot energi akan terkuras percuma.

Di catatan perjalanan ke Semeru, sy sudah menulis tentang teknik mendaki di jalur berpasir. Konsepnya ialah usahakan luas permukaan sepatu yang menginjak pasir sekecil mungkin, sehingga beban tubuh yang menimpa pasir tidak begitu besar. Semakin kecil beban tubuh, semakin kecil pula kemungkinan untuk merosot. Teknik agar bisa seperti ini ialah mendaki dengan menggunakan ujung sepatu atau seperti berjalan jinjit. Cara yang lebih sering dipakai ialah dengan mencangkulkan/menusukkan ujung sepatu ke pasir, kemudian naik dengan tumpuan ujung sepatu tersebut. Teknik ini sangat jitu ketika muncak di Semeru. Karena jika sekali saja merosot, energi dan waktu yang terbuang bisa begitu besar.

Di tengah pendakian, kita bisa melihat sunrise di pinggiran jalan setapak. Memandang garis putih matahari di ketinggian seperti ini seolah sedang mengintip subuh dari jendela pesawat terbang. Banyak pendaki berhenti sejenak untuk berfoto bersama mentari.

Bunga abadi, Edelweis, terdiam bisu menyaksikan para pendaki menuju puncak

Bunga abadi, Edelweis, terdiam bisu menyaksikan para pendaki menuju puncak

Sunrise

Sunrise

Memandangi awan di bawah

Memandangi awan di bawah

Terlihat danau Segara Anak

Terlihat danau Segara Anak

Jalur yang berpasir nan licin

Jalur yang berpasir nan licin

Mendaki terus ke puncak

Mendaki terus ke puncak

Jalur summit attack dilihat dari atas

Jalur summit attack dilihat dari atas

P1030286 - Copy

Sekitar jam 8 pagi akhirnya kami sampai di puncak. Voila! Inilah puncak rinjani, 3.726 meter di atas permukaan laut. Di sebelah kanan, jauh di bawah sana terlihat danau Segara Anak melintang berbentuk bulan sabit. Kawah Rinjani menganga di sebelah kiri puncak.

Cukup lama kami menghabiskan waktu di puncak, hingga jam 11. Kabut yang terus merangkak naik membuat kami mesti menunggu dengan sabar untuk memotret pemandangan. Ini keuntungan dari puncak Rinjani: tidak ada batas waktu. Hingga terik siang pun pendaki masih bisa menikmati puncak.

P1030287 - Copy

Kawah gunung Rinjani

Kawah gunung Rinjani

Kaldera Rinjani yang terisi air membentuk danau berbentuk bulan sabit

Kaldera Rinjani yang terisi air membentuk danau berbentuk bulan sabit

IMG_3945 IMG_3947 IMG_3952 IMG_3960wpid-img_7400723805189.jpeg

Bertemu seorang nenek berambut putih dari Malaysia yang mendaki ke puncak seorang diri

Bertemu seorang nenek berambut putih dari Malaysia yang mendaki ke puncak seorang diri

Jika perjalanan naik membutuhkan waktu sekitar 5 jam, perjalanan turun hanya membutuhkan waktu kurang dari setengahnya, sekitar 2 jam. Hari kedua ini kami putuskan untuk istirahat sepenuhnya. Maklum, hanya sempat tidur 3 jam-an. Apalagi, yang kami dengar, jarang ada pendaki yang langsung berkemah di pelawangan di hari pertama dan malamnya langsung summit attack. Memang sangat melelahkan. Begitu sampai tenda, kami pun terlelap hingga magrib.

Makan malam yang terasa spesial

Makan malam yang terasa spesial

Pemandangan sembalun di pagi hari

Pemandangan pelawangan sembalun di pagi hari

Pemandangan dari pelawangan

Pemandangan dari pelawangan

Danau Segara Anak dilihat dari pelawangan

Danau Segara Anak dilihat dari pelawangan

Hari ketiga direncakan untuk menikmati danau Segara Anak. Jarak dari pelawangan sembalun ke Segara Anak ternyata cukup jauh. Jalurnya bukanlah berupa garis lurus turun langsung ke danau, tapi—seperti jalan naik dari sembalun ke pelawangan—mesti melintasi lembahan-lembahan. Jalanan didominasi oleh bebatuan, sehingga pendaki harus melangkah dengan hati-hati. Di tengah perjalanan, kita bisa menikmati pemandangan yang begitu memukau: jurang lembahan, badan-badang gunung di seberang, dan tentu, danau Segara Anak di kejauhan.

Jalan turun ke Segara Anak berupa bebatuan

Jalan turun ke Segara Anak berupa bebatuan

Rasanya hendak memeluk Segara Anak

Rasanya hendak memeluk Segara Anak

Menyeberangi lembahan dan jembatan

Menyeberangi lembahan dan jembatan

2,5 jam adalah waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tepi danau. Terlihat banyak turis asing maupun pendaki memasang tenda di danau ini. Sebenarnya kami pun ingin bermalam di pinggir danau, namun karena berencana untuk pulang besoknya, yang dibentangkan pun hanya flysheet.

Selain genangan air yang amat luas, hal yang tidak bisa kami lupakan dari Segara Anak adalah sampah! Benar-benar memprihatinkan kondisi kebersihannya. Kalau pelawangan sembalun sudah benar-benar kotor, maka Segara Anak lebih kotor lagi. Begitulah. Menyedihkan benar kondisi alam terbuka kita. Memang manusia bukanlah makhluk yang pandai bersyukur: sudah dikarunai alam yang memesona, rasa terima kasih yang diberikan ialah tumpukan sampah.

Di tengah-tengah danau dapat terlihat pulau kecil dengan gunung yang mengeluarkan asap di puncaknya. “Gunung Baru”, begitu ucap salah satu porter ketika kami menanyakan nama gunung tersebut. Di pelawangan sembalun, pengunjung bisa melihat panel-panel yang menjelaskan proses pembentukan kaldera gunung rinjani secara historis. Adalah kaldera luas yang menaungi Segara Anak terbentuk sekitar abad ke-13. Letusan yang dahsyat mengangakan celah seluas 7×6 km berbentuk elips. Seiring berjalannya waktu, kaldera pun terisi air membentuk danau, dan anak-anak gunung Rinjani pun tumbuh. Hingga sekarang gunung Rinjani beserta anak-anaknya: gunung Barujari, gunung Rombongan, dan gunung Anak Barujari merupakan volcano yang masih aktif.

P1030325 P1030329

Gunung kecil di tengah-tengah danau

Gunung kecil di tengah-tengah danau

Landscape Segara Anak

Landscape Segara Anak

Waktu kami isi dengan memasak, memancing, dan berendam air panas. Ikan berlimpah di danau dan tidaklah terlalu sulit memancingnya. Satu ikan berukuran sedang dan empat ikan berukuran kecil berhasil mengisi kantong plastik kami. Terima kasih kepada rombongan pendaki dari Universitas Mataram (Unram) yang membantu untuk membuat api dan mengajarkan bagaimana membakar ikan. Setelah dikeluarkan isi perutnya dan disisik, mentega dilulurkan di badan ikan, yang kemudian aluminium foil membungkus tubuhnya untuk kemudian dibakar. Akibat api unggun yang tidak begitu sempurna, hanya satu ikan yang berhasil dibakar. Dimakan bersama saos dan kecap, hmmm, nikmat cooyy!

Yeah dapat ikan! Walau ga seberapa ukurannya

Yeah dapat ikan! Walau ga seberapa ukurannya

Mancing mania

Mancing mania

Bakar ikan dengan aluminium foil

Bakar ikan dengan aluminium foil

Ikan bakar Segara Anak :9

Ikan bakar Segara Anak :9

Di dekat danau ada sumber air panas. Dengan berjalan sekitar 5 menit, pendaki bisa melemaskan otot-otot dan melancarkan aliran darah. Searah dengan jalan menuju kolam air panas juga terdapat sumber air. Banyak informasi yang mengatakan kalau air danau segara anak tidak direkomendasikan untuk digunakan, kecuali kalau dimasak dulu. Namun kalau ingin memperoleh air yang langsung bisa diminum, lebih baik mengambilnya di area sumber air.

Kolam air panas di dekat danau Segara Anak

Kolam air panas di dekat danau Segara Anak

Sudah 4 jam waktu dihabiskan di Segara Anak, kami pun berjalan pulang ke pelawangan sembalun. Dari rombongan Unram lah kami tahu kalau waktu tempuh dari danau Segara Anak ke desa Senaru hanya 6 jam. Jika dari pelawangan sembalun menuju danau jalannya berupa penyeberangan lembahan-lembahan, jalan dari danau ke pelawangan senaru berupa tanjakan lurus. Apa daya nasi sudah menjadi bubur: tenda dan peralatan-peralatan lain kami tinggal di pelawangan sembalun. Sebenarnya riskan meniggalkan barang tanpa pengawasan. Dari pendaki lain kami mendengar kalau sering terjadi kehilangan barang-barang elektronik di pelawangan ketika tenda ditinggal. Bahkan ada yang perbekalannya diambil! Wah, mungkin memang sangat merugi kalau kehilangan barang elektronik, tapi kalau sampai tidak punya perbekalan itu akibatnya bisa sangat fatal.

Perjalanan naik kembali ke pelawangan ternyata memakan waktu yang sama dengan turun, yaitu 2,5 jam. Jalan naik dengan medan bebatuan di malam hari perlu kewaspadaan. Karena jalurnya sempit dan tidak sejelas jalan setapak, pendaki mesti memperhatikan jalannya dengan baik. Adanya coretan vandalisme di batu-batuan ironisnya membantu kami menemukan jalan.

Sekitar jam 18.30 kami tiba di pelawangan, tepat dengan waktu terjadinya badai! Entah kenapa waktu itu angin lembah sedang ribut-ributnya. Jam 00.00-01.00 adalah puncaknya badai. Bunyi angin yang berisik bagaikan bunyi ombak yang menderu, tapi saat itu bukanlah di pantai. Flysheet tenda kami hampir terbawa angin dan salah satu frame tenda remuk. Jam 01.00 kami terbangun untuk membenarkan tenda. Suara-suara lain juga terdengar, ada juga suara meminta pertolongan: salah satu penghuni tenda tetangga kami ada yang mengalami hipotermi. Beruntung ada tetangga yang lain bawa tabung oksigen.

Hingga jam 3 pagi kami terjaga, mewaspadai tenda kalau-kalau flysheet­nya lepas lagi atau bahkan roboh. Jam 6 pagi angin lembah masih belum berhenti bertiup, walau sudah lumayan mereda. Posisi tenda kami memang termasuk daerah yang terbuka menghadap lembah, namun berada di punggungan yang agak lebar. Agak sulit dibayangkan bagaimana nasib tenda-tenda turis yang membentang sepanjang punggungan sempit di jalan setapak yang mengarah ke puncak. Saat perjalanan turun kami berpapasan dengan satu keluarga turis asing dari Perancis, dan dari guide­-nya lah kami tahu kalau malam itu ada beberapa tenda yang roboh. Weww, malam itu kami termasuk yang beruntung. Pelajaran yang bisa diambil adalah, jika berkemah, sebaiknya hindari titik yang menghadap langsung ke lembah; carilah daerah yang tertutup oleh bukit atau batu yang bisa melindungi tenda dari angin.

Badai yang masih bertiup perlahan di hari MInggu, 26 Mei 2015 itu pun menjadi perpisahan kami dengan Rinjani.

Advertisements
Categories: catatan perjalanan, Foto | Tags: , , , , , , | 9 Comments

Post navigation

9 thoughts on “[FOTO] Catatatan Perjalanan Gunung Rinjani, Jalur: Berangkat Sembalun-Pulang Sembalun, 23-26 April 2015

  1. Pingback: [FOTO] Terpercik Dinginnya Butir Air Terjun Sendang Gile dan Tiu Kelep, Lombok Utara | Sayyid Hakam Satrio

  2. Wah….seru tuh bro mancingnya…kemaren kesana gak sempet mancing sayang banget 😦

    Like

  3. keren gan.. berapa hari perjalanan tuh gan?

    nitip

    Like

  4. Wiiiihhhhh… Cakep sekalu Bung. 😀

    Like

  5. waahh ngiri banget deh, pengen kesana juga ane …

    Like

  6. rian

    Mas nya pake jasa open trip gak??trus pake porter gak?

    Like

  7. manteb tulisannya banyak membantu

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: