Pulau 1000 Masjid, Tapi…

Apa yang terlintas dalam pikiran ketika mendengar kata pulau Lombok? Setidaknya bagi kebanyakan orang, pulau ini identik dengan tempat wisata, jalan-jalan, honeymoon, dan sejenisnya. Lombok pun bisa dikatakan destinasi wisata terpopuler kedua setelah Bali.

Umumnya biro Travel akan membawa para turis ke pantai Senggigi. Walau pantai ini tidak begitu bagus, lokasinya yang bersebarangan dengan Bali membuatnya cukup populer, dan yang terpenting adalah di sana banyak fasilitas seperti hotel dan tempat makan. Dan tentu saja, tempat yang menjadi primadona tidak lain tidak bukan ialah Gili Trawangan. Gili (pulau) yang berlokasi di Lombok utara ini ukurannya sangatlah kecil, namun sepenuhnya merupakan lokasi wisata. Lokasi lain yang biasanya dikunjungi juga ialah pantai-pantai di Lombok Tengah seperti Selong Belanak, Kuta, Mawun, dll. Selain pantai, wisata air terjun nan indah juga dapat dinikmati, seperti Sindang Gila dan Tiu Kelep.

Itu adalah beberapa tempat yang banyak dikunjungi oleh turis, baik lokal maupun asing. Jika mau, masih banyak keindahan alam di pulau ini yang patut untuk dinikmati. Tiga hari bukanlah waktu yang cukup untuk menikmati eksotisnya pulau Lombok. Hanya saja, tidak semua lokasi wisata telah memiliki sarana yang layak. Banyak objek yang sebenarnya lebih nikmat untuk dikagumi selain yang berada di Lombok barat atau utara, namun akses jalan yang buruk dan promosi yang kurang membuat kepopulerannya tengggelam.

Intinya, Lombok adalah keindahan yang dianugerahkan olehNya. Jika dimanfaatkan dengan baik sebagai potensi ekonomi, kesejahteraan hidup masyarakatnya dapat meningkatkan. Tiap tahun jumlah turis yang menyambanginya terus bertambah, dan kepopulerannya di level internasional hampir menyamai Bali.

Mungkin tidak begitu banyak yang tahu kondisi di dalamnya. Maklum, yang banyak kita ketahui terkait pulau ini kebanyakan mengenai wisatanya, namun tidak banyak bercerita tentang masyarakat, budaya, dan sosial

Oleh masyarakat lokal, Lombok memiliki sebutan “Pulau 1000 Masjid”. Jika diperhatikan, hampir semua masjid yang ada di pulau Lombok—terutama di Lombok Timur—ukurannya begitu besar. Sulit menemukan masjid berukuran kecil yang biasanya kita temukan di pinggir-pinggir jalan di pulau Jawa. Ya, masjid berukuran besar dan berpenampakan megah merupakan khas dari pulau ini. Jumlahnya pun begitu berlimpah. Hanya berselang beberapa ratus meter kita bisa menemukan bagunan berkubah menjulang tinggi. Hampir tiap desa, atau bahkan mungkin dusun, memiliki masjid kebanggaannya. Daerah boleh kumuh, rumah-rumah boleh kecil, sampah-sampah boleh berserakan di jalanan, namun tetap, masjid megah harus tegak.

Masjid Agung Lombok Timur

Masjid Agung Lombok Timur

Masjid di Keluarahan Pancor, Lombok Timur

Masjid di Kelurahan Pancor, Lombok Timur

Masjid di Kelurahan Kelayu, Lombok Timur

Masjid di Kelurahan Kelayu, Lombok Timur

Namun selain “Pulau 1000 Masjid”, ia memiliki julukan lain yang ironis, yaitu “1001 Maling”. Bagaimana kondisi kesejahteraan pulau Lombok, atau Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada umumnya?

Bali, sebagai destinasi wisata utama di Indonesia, tentu memiliki pemasukan yang besar dari industri pariwisata yang dikelolanya. Kepopulerannya bahkan mengalahkan Indonesia sendiri—kita tentu tahu anekdot bahwa orang asing lebih tahu Bali ketimbang Indonesia. Memang penulis tidak banyak tahu kondisi lebih mendetil mengenai kesejahterannya, tapi setidaknya Bali terus melakukan pembangunan layaknya area megapolitan seperti Jakarta.

Tapi tampaknya Lombok memiliki kondisi yang tidak sama. Area dengan fasilitas yang cukup baik untuk para turis hanyalah berada di area barat, dekat Senggigi, dan Lombok tengah, dekat pantai Kuta. Selebihnya amatlah tidak layak. Beberapa dari kita mungkin pernah mendengar tentang eksotisnya pantai pink di area timur Pulau Lombok, namun banyak agen perjalanan yang enggan membawa kliennya ke sana karena akses jalan yang menyedihkan. Terlihat bahwa potensi yang ada di keseluruhan pulau Lombok belum begitu termanfaatkan.

Provinsi NTB memiliki Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang amat rendah. Indeks yang menilai kualitas pembangunan manusia dari kesehatan, pendidikan, dan pendapatan per kapita menempatkan NTB di posisi kedua dari bawah, sedikit lebih baik dari Papua. Itu pun sebelum tahun 2005 NTB berada di posisi paling buntut.

Ironis sekali. Saat ke Gili Trawangan, saya sempat menyangka bahwa di sana bukanlah Indonesia: mayoritas manusia yang berkeliaran di sana ialah orang asing. Kafe dan hotel hampir selalu ada di setiap meternya. Orang-orang bilang, tiap malam botol miras berserakan di mana-mana, begitu pula kondom. Terlepas dari rendahnya kualitas moral, bisa dibayangkan nominal uang yang beredar tiap harinya di sana? Ini baru GIli Trawangan. Jika keelokan alam yang ada di tiap sudut Lombok dimaksimalkan, tak mustahil ia dapat tumbuh menjadi area megapolitan pula.

Pernah seorang supir asal Bali yang tinggal di Lombok bercerita mengenai julukan ironis tersebut. Sambil tesenyum ia berbagi mengenai sebuah lokasi yang menjadi pusat curanmor. Motor-motor hasil curian dikumpulkan di sana untuk kemudian dijual secara gelap. Pendamping internsip saya di Puskesmas juga bergumam tentang masyarakat di area Lombok Selatan. Daerah selatan begitu keringnya dan masyarakat masih bergantung dari tadah hujan untuk pengairannya. Panen hanya dilakukan setahun sekali. Lalu bagaimana jika musim hujan berakhir? Konon di musim kering orang-orang beralih profesi menjadi maling untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Kemudian bagaimana dengan sikap toleransi umat Islam di Lombok? Ini bukan tentang toleransi ke umat beragama lain, karena sejauh ini, alhamdulillah, belum pernah terdengar gesekan dengan nonmuslim. Tapi buruknya toleransi terjadi antara SESAMA umat Islam yang berbeda kelompok. Lombok merupakan tempat lahir dan basis jamaah Islam di Indonesia yang bernama Nahdlatul Wathan (NW). Konon NW ini merupakan pecahan dari NU, didirikan seorang tokoh ulama bernama Tuan Guru Haji Zainul Abdul Majid—kakek gubernur NTB sekarang. Namun karena suatu sebab, organisasi ini pecah menjadi dua, yang satu berbasis di Pancor dan satu lagi di Anjani, Lombok Timur. Saya mendengar bahwa konflik yang terjadi di antara mereka bukan hanya adu fisik, tapi sampai bakar rumah.

Agaknya kita harus berhati-hati terhadap hadis yang menyebutkan bahwa ada orang yang membaca Al Quran dan solat, namun hanya sebatas kerongkongan, tidak pernah sampai ke hati.

Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya diantara ummatku ada orang-orang yang membaca AlQuran tapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah berhala. Mereka keluar dari Islam secepat anak panah melesat dari busurnya. Sungguh, jika aku mendapati mereka, pasti aku akan bunuh mereka seperti terbunuhnya kaum Aad. (HR. Muslim)

“Akan keluar di akhir zaman suatu kaum yang usia mereka masih muda, dan bodoh, mereka mengatakan sebaik‑baiknya perkataan manusia, membaca Al Qur’an tidak sampai kecuali pada kerongkongan mereka. Mereka keluar dari din (agama Islam) sebagaimana anak panah keluar dan busurnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ancaman di hadis tersebut membuat merinding. Benar-benar buruk nasib orang yang solat dan membaca Al Quran, namun tidak pernah diaplikasikan dan diamalkan. Hanya diucapkan, tanpa menghasilkan buah perbuatan baik. Segala perintah dari Allah dikerjakan dengan taat, tapi ketika ada orang-orang yang bermaksiat dan meresahkan, mereka biarkan.

Tentu masalah ini bukan hanya milik Lombok semata, tapi juga Indonesia yang merupakan negara dengan umat Islam terbesar di dunia, bahkan negara-negara Islam pada umumnya. Mengapa pada dahulu kala banyak cerita kegemilangan kekhilafahan/kerajaan/negara Islam yang membuat kita terkagum-kagum, tapi kondisi sekarang seperti sebaliknya? Ah, memang pertanyaan klasik. Tapi hadis-hadis di atas setidaknya menjadi perenungan bagi kita. Jika saja seluruh penduduk negeri taat kepada Allah—yang bermula dari masing-masing pribadi—Allah akan menurunkan keberkahannya.

“Dan jika penduduk negeri beriman dan bertaqwa (kepada Allah) sesungguhnya Kami bukakan kepada mereka (pintu-pintu) berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka karena apa yang telah mereka kerjakan.” (Qs. Al-A’raf: 96)

“Kalau di sini banyak masjid besar, seharusnya daerahnya maju dong,” gumam teman saya yang nonmuslim. Miris memang mendengarnya. Tapi saya yakin, jumlah umat Islam yang sadar untuk kembali kepada Al Quran semakin bertambah. InsyaAllah dengan usaha sedikit demi sedikit yang kan semakin banyak, dan dimulai dari diri sendiri, disertai pertolongan dari Allah, kita akan mampu membuktikan kepada dunia bahwa Islam adalah rahmat bagi semesta alam.

Advertisements
Categories: gagasan, merenung | Tags: , | 5 Comments

Post navigation

5 thoughts on “Pulau 1000 Masjid, Tapi…

  1. irfan pratama

    Assalamuaalikum warakamatullah teman sejawat saya dokter sayid….pertama-tama ini izinkan saya memperkenalakan diri saya.nama saya irfan pratama biasa dipanggil irfan saya seorang dokter umum yang bekerja di RSUP NTB lebih tepatnya saya dokter UGD di RSUP NTB dan saya terlahir sebagai orang sasak walaupun sebenanarnya tidak dominan sasak karena ibu saya berasal dari jawa barat dan bapak saya yang asli sasak. pada kesempatan kali ini saya ingin sekali mengomentari tentang tulisan anda di atas.saya setuju sekali tentang tulisan anda diatas yang mengatakan rumah boleh kumuh asal masjid tetep megah dan saya juga ingin menambahkan selain kata-kata tersebut ada juga kalimat dari orang asli sasak yang mengatakan biarpun anak saya tidak berpendidikan yang layal asalkan masjid di kampung saya tetep megah itu akan menjadi kebanggan kita semua.jadi bisa dibayangkan bagaimana bisa terpuruknya IPM Provinsi NTB ini dan itu juga terjadi di kampung bapak saya yang berada di desa Meninting kecamatan batu layar kabupaten Lombok barat dan satu hal lagi yang membuat saya sedih melihat perkembangan di daerah saya ini adalah minimnya para pemuda khususnya di daerah kota mataram dan kabupaten Lombok barat yang bergelar sarjana kebanyakan dari mereka hanya menuntaskan pendidikan hanya samapi pada level sekolah menengah atas dan rata-rata dari mereka hanya mengandalkan warisan dari orang tua mereka yang akan mereka jual untuk menyambung hidup mereka tanpa sekalipun mereka berpikir untuk bekerja.pernah bapak saya bercerita dahulu daerah dasan agung dan daerah gomong di mataram jika anda tidak tahu daerah itu saya akan memberikan gambaran kedua daerah itu berada di sekitar Universitas Mataram sekaang berdiri adalah daerah yang sangat subur dan tanah kelas 1 sedangkan masyarakat setempat atau pemilik tanah2 tersebut tidak ada inovasi untuk mengembangkan tanah tersebut mereka pekerjaan mereka hanya duduk santai dan minum kopi dan berpesta pora dalam menyambut maulid nabi besar Muhammad Salalhu wualai wasalam dan pertanyaanya dari mana mereka mendapatkan uang tersebut yaitu hanya dengan menjual tanah-tanah mereka tersebut mereka pergi Haji berkali-kali tanpa memikirkan bagaimana nasib pendidikan anak-anak mereka.saya tidak menyalahkan tindakan mereka tersebut tapi di dalam rukun islam sudah jelas dikatakan berhaji jika mampu dan tidak dikatakan berapa kali harus pergi haji tersebut.kondisi riil daerah tersebut sunnguh memprihatinkan banyak pemuda di kedua daerah tersebut yang tidak bisa melanjutkan pendidikan S1 mereka yang jika kita lihat daerah tersebut sangat dekat dengan Universitas Mataram benar-benar miris melihatnya dan ini benar-benar terjadi sekarang daerah tersebut sudah menjadi daerah para bandar-bandar narkoba dan daerah para maling.jadi bisa dibayangkan lagi kenapa IPM NTB selalu berada di bawah kan hanya lewat gambaran kedua daerah tersebut yang notabene berada di daerah ibu kota provinsi NTB. mungkin sekian dulu yang sy bisa ceritakan tentang daerah saya yang tercinta saya tidak membuka Aib daerah saya sendiri tapi memang ini lah kenyataan pahit yang bisa saya terima dan saya juga tidak akan berdiam diri melihat betapa kacaunya daerah saya ini,saya mencoba merubahnya sesuai dengan bidang ilmu yang saya miliki.saya berterima kasih banyak kepada anda yang mau melihat secara langsung kondisi masyarakat NTB khususnya pulau Lombok yang anda tuangkan dalam tulisan diatas tersebut. semoga dengan tulisan anda tersebut bisa menggugah kesadaran masyarakat dalam arti pentingnya pendidikan dan arti pentingnya keislaman.
    Assalamualaikum Warakmatullah.

    Like

  2. betul sekali pak 🙂 sya orang lombok, sasak asli, tanpa campuran, tapi yaa begitulah..
    keluarga saya bahkan 2x kemalingan. ingin menegakan “keadilan” “kebenaran” tapi siapalah saya..
    saat maulid nabi misalnya, percis spt yg bapak katakan, tp di tempay saya lbh meriah lagi. orang berlomba2 membuat peraje (di kampung saya acara sunatan biasanya di adakan tiap maulid dan anak2nya akan di arak dgn peraje yg berbentuk hewan atau kendaraan) dgn di iringi musik2 khas islam (kan namanya maulid ya)
    tapi apa yang terjadi sekarang?? hanya saat saya masih kecil, 80% membuat peraje berbentuk masjid atau yg lain dgn musik pengiring yg berbau islam, atau solawat nabi.
    tapi sekarang, hanya 1 peraje saja yg berbentuk masjid tiap tahun nya. itu adalah perjae turun temurun, dan alhamdulillah, keluarga saya termasuk yg mempertahankan itu sejak tahun 1996 (pas paman sy sunatan kebetulan ada foto sy di samping peraje itu masih umur 1,5th)
    termasuk musik pengiring nya. hanya ada 1 yang memutar musik berbau islam. yg lain?? musik2 dangdunt oplosan, dj dj aneh + pesta miras :”)
    miris, tapi mau ngerubah nya gimana?? saya sendiri lah orang sekapung. memang yg sadar banyak, apalagi yg tua tua (yg kagi2 juga gak bisa berbuat apa2 karena yg berhak adalah keluarga si bocah), tapi banyak yg gak nya -_-
    termasuk juga lingkungan saya tinggal di atas sungai saluran repuk pancor namanya, yg kotor gak ketulungan. kalau hujan, bau nya naik ke rumah saya. alhasil, ibu saya dan bapak tetangga kami yg membersihkan nya. berdua saja sedang tiap hari org buang sampah di sana, nonton. entah di mana hati nurani mereka. sekali lg, saya dan keluarga pun tdk bsa apa apa.. rumah mewah pak RT juga berada di sebelah sungai dan mereka sepertinya juga masa bodo. paling yg peduli hanya saudara pak RT nya yang tidak menjabat sbg apa2, yaa mungkin kesadaran pribadi saja. kadang saya juga ikut turun ke sungai bersih2in dikit, atau melototin org yg buang sampai lwt jembatan hehe
    tapi sekali lagi, gak bisa ngapa2in.. setidaknya, saat hari pembalasan nanti kita sudah berusaha mealkukan, apa yg harus di lakukan walaupun tidak maksimal. setidaknya kami tidak ikutan..

    Like

  3. Yang diceritakan mas sayyid, pak dokter irfan, dan mba nilla betul banget banget banget. Saya memang bukan orang lombok asli, saya baru hijrah dari Jakarta tahun 2015 kemarin. Belum genap setahun, saya sudah mengalami yang namanya kecopetan dan kemalingan. Tentu sebagai ‘orang baru’ rasanya trauma, mengingat yang hilang adalah barang-barang yang cukup mahal. Mendengar cerita dari teman-teman saya yang memang orang lombok, katanya ada sebuah kampung di Mataram yang isinya hampir maling semua, namanya kampung Parampuan di selatan Mataram. Saya juga sempat cek GPS tablet saya yg kemalingan itu, posisi terakhirnya memang di kampung Parampuan tersebut. Ironis, saya juga diceritakan kalau di kampung itu ada penampungan motor-motor curian. Suami sepupu saya yang kebetulan adalah seorang TNI pernah datang kesana mau ‘grebek’ karena komandanya kehilangan motor, eh sampai disana beliau mau ditusuk pakai tombak. Katanya juga aparat gak berani kesana karena orang sana sudah maling, nekat, dan main ilmu hitam. Aaah… Lombok, sangat-sangat disayangkan perkembangan SDMnya minim sekal, padahal Lombok sangat potensial untuk maju bila bisa lebih ‘menjual’ tempat wisatanya yang merupakan anugrah Allah SWT. Entah kemajuan apa yang sudah dilakukan pak Gubernur sampai-sampai beliau begitu dielu-elukan… Masjid mewah dimana-manapun saya tengok kondisi toiletnya banyak sekali yang tidak layak pakai bahkan tempat wudhunya tak layak untuk tempat bersuci. Hanya segelintir dari sekian banyak masjid yang tempat bersuci dan wc’nya memenuhi standard karena masyarakat sekitar banyak yang memakainya sebagai tempat MCK umum. Selain itu Masjid-masjid tersebut masih menggunakan sumur bukan keran. Sangat kontras sekali dengan kemegahan masjidnya kan? Saya bandingkan dengan Bali (saya asli Bali dan banyak mengunjungi masjid-masjid di Bali), walau masjid tak sebanyak di Lombok, namun kebersihan, kerapihan, keindahan masjidnya lebih bisa dibanggakan daripada di Lombok. Dan semua masjid yang pernah saya kunjungi di Bali selalu ramai jamaah sholat 5 waktu, keren kan? Apalah arti masjid megah bila jamaahnya sedikit? Ah Lombok.. lagi-lagi saya kecewa denganmu…..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: