Imunisasi: Sejarah (1)

Orang tua yang baik akan membawa anaknya rutin ke posyandu sejak usia 1 bulan. Kegiatan posyandu amatlah penting untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan anak, salah satunya dengan mengukur berat badan dan tinggi badan anak. Jika anak memiliki tinggi badan dan berat badan yang tidak sesuai dengan umurnya, akan menjadi evaluasi bagi orang tua. Namun selain pengukuran tinggi dan berat badan, ada juga kegiatan yang sangat penting untuk menjaga kesehatan anak, yaitu imunisasi.

Imunisasi sudah merupakan hal yang diketahui oleh masyarakat luas. Ibu-ibu yang berada di kampung terpencil pun membawa anaknya untuk diimunisasi. Pemberian suatu zat kuman yang dilemahkan/dimatikan ini bertujuan memicu daya kekebalan anak yang notabene masih rendah. Peetapan program imunisasi nasional oleh pemerintah, yaitu pemberian imunisasi dasar kepada anak sebelum usia 1 tahun, merupakan tanda bahwa imunisasi sangatlah penting.

Namun, akhir-akhir ini—walau sebenarnya sudah dari zaman dulu—muncul kelompok orang yang menentang imunisasi. Tidak hanya menolak mengimunisasi anaknya, mereka juga menyebarkan paham mereka secara luas. Masa sekarang yang sudah berada di era media social pun mempermudah usaha mereka mengkampanyekan anti-vaksin. Berbagai dalil mereka ajukan, mulai dari imunisasi itu zat beracun dan berbahaya, konspirasi yahudi, haram, dll. Akibatnya, mulai bermunculan penyakit-penyakit menular dan berbahaya yang sebenarnya bisa dicegah karena orang tua enggan mengimunisasi anak-anaknya.

Apakah benar apa yang mereka kampanyekan? Sebegitu benarnyakah sehingga angka-angka kematian akibat tidak diimunisasi tetap menutup mata, telinga, dan hati mereka? Apakah imunisasi memang besar manfaatnya bagi kesehatan dan mencegah kematian?

Ada baiknya kita mengkaji imunisasi atau vaksinasi mulai dari sejarahnya. Semoga sedikit tulisan ini dapat bermanfaat dan memberikan pencerahan.

Pengertian Vaksinasi dan Imunisasi

Vaksinasi dan imunisasi sering kali diartikan sama, namun memiliki pengertian berbeda. Imunisasi ialah proses pemindahan antibody ke dalam tubuh seseorang, sehingga memberikan imunitas secara “pasif”. Vaksinasi adalah pemaparan antigen/materi kuman ke dalam tubuh seseorang, sehingga orang tersebut terangsang untuk membentuk antibody/imunitas. Vaksinasi memberikan imunitas secara “aktif”.

Materi kuman yang diberikan telah dibentuk sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan penyakit, namun memicu tubuh untuk membentuk materi-materi pertahanan tubuh.

Sejarah Vaksinasi

Pada 429 BC sejarawan Yunani, Thucydides, mengamati bahwa orang yang survive dari cacar api/variola/small pox tidak akan terinfeksi kembali

Thucydides

Thucydides

Tahun 900 AD, orang Cina diyakini sebagai penemu pertama teknik vaksinasi primitif, yang disebut dengan “variolation”. Tujuannya ialah mencegah dari cacar api dengan cara memaparkan orang sehat dengan jaringan kulit seorang yang terkena cacar api. Jaringan tersebut ditanam di bawah kulit atau dibentuk bubuk untuk dihirup

Pada awal abad ke-18, Turki Usmani (Ottoman) mengembangkan teknik vaksinasi berupa inokulasi. Istri seorang duta besar Inggris untuk Turki Usmani pada tahun tersebut, Lady Mary Wortley Montagu, bercerita mengenai vaksinasi cacar. Pada tahun 1717, ia menulis surat bahwa di Turki setahun sekali setiap musim gugur dilakukan injeksi bahan cacar ke pembuluh vena di tangan atau kaki. Anak yang divaksin tersebut mengalami demam 2 atau 3 hari, yang kemudian di hari ke-8 anak-anak tersebut kembali sehat total. Vaksinasi ini terbukti efektif mencegah cacar dan tidak mengakibatkan kematian, hingga Lady Montagu pun menerapkannya kepada kedua anaknya.

Fig07

Prangko Kerajaan Turki Utsmani yang Menggambarkan Vaksinasi dengan Inokulasi

Memorial_to_Lady_Mary_Wortley_Montague_in_Lichfield_Cathedral

Monumen untuk Mengenang Jasa Lady Montagu yang Membawa Inokulasi sebagai Teknik Imunisasi ke Eropa

Buku 1001 inventions – the Enduring Legacy of Muslim Civilizations terbitan National Geographic menerangkan usaha Lady Montagu membawa teknik vaksinasi ke Inggris mendapat pertentangan. Penolakan ini, dalam surat Lady Montagu, disebutkan karena penyakit menular ini “menguntungkan pemasukan para dokter di Inggris”. Namun, penolakan demi penolakan tidak menyurutkan usahanya, bahkan vaksinasi terus menyebar luas. Pada 1724, barulah vaksinasi diterima oleh Eropa setelah penjeleasan ilmiah di Royal Society oleh Dr. Emmanuel Timoni, yang merupakan dokter keluarga Lady Montagu.

Surat Lady Montagu bisa dilihat di sini.

Pada 1796 barulah Edward Jenner mengenalkan vaksinasi variola dengan menggunakan inokulasi materi cowpox. Jenner kemudian mempublikasikan temuannya. Bahasa latin dari “cow” adalah “vacca”, dan “cowpox” adalah “vaccinia”; Jenner pun menamai teknik ini dengan “vaccination”. Pada tahun 1980, WHO menyatakan virus variola yang mematikan itu telah musnah dari permukaan bumi.

Edward Jenner Mempublikasikan Vaksin Cacar dari Materi Cacar Sapi di Eropa. Ia Kini Dikenal sebagai Bapak Vaksinasi Dunia

Edward Jenner Mempublikasikan Vaksin Cacar dari Materi Cacar Sapi di Eropa. Ia Kini Dikenal sebagai Bapak Vaksinasi Dunia

edward jenner indtroduce innoculation

Edward Jenner Memperkenalkan Inokulasi Vaksin Cacar ke Masyarakat Eropa

Vaksinasi terus berkembang. Pada tahun 1880-an, Louis Pasteur membuat vaksin rabies. Emil von Behring menemukan vaksin difteri dan tetanus. Vaksin mulai menyebar secara global pada tahum 1920-an—walaupun vaksin tersebut masih “kasar”, namun ia berhasil menurunkan angka kematian. Tahun 1955 vaksinasi polio mulai diperkenalkan.

Louis Pasteur, Penemu Vaksin Rabies

Louis Pasteur, Penemu Vaksin Rabies

Vaksinasi terus dikembangkan. Pada tahun 2008, berhasil dibuat vaksin Human Papilloma Virus (HPV) yang menyebabkan kanker leher Rahim.

Advertisements
Categories: gagasan, kesehatan | Tags: , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: