Imunisasi: Kontroversi (2)

Manfaat Vaksin

Variola ialah penyakit yang sangat menular dan sangat mematikan. Angka mortalitas mencapai 30%. Penyakit ini dipercaya memusnahkan satu generasi peradaban Aztec dan Inca. Ia bertanggung jawab terhadap kematian 400.000 masyarakat Eropa per tahun pada abad ke-18. Pada abad ke-20, terjadi kejadian luar biasa variola di benua Asia dan Afrika.

Tahun 1956, WHO berusaha untuk memusnahkan variola dengan menyebarkan vaksin secara global hingga ke ujung dunia. WHO kemudian mengumumkan bahwa planet bumi telah bersih dari virus variola—sebuah pencapaian yang luar biasa dalam sejarah kedokteran.

bw18

Cacar atau Variola Merupakan Penyakit yang Sangat Mematikan dan Sangat Menular. Kini, Berkat Vaksin, Penyakit Ini Sudah Musnah dari Planet Bumi

Pada tahun 1988, Indonesia menggalakkan program imunisasi nasional dengan tujuan mengeradikasi polio. Seluruh anak usia 0-59 bulan diberikan imunisasi polio 2 tetes tanpa memandang status imunisasinya. Selain itu juga dilakukan surveilan acute flaccid paralysis (lumpuh layuh). Tahun 1995, Indonesia menyandang status bebas polio. Namun, awal Maret 2005 di Jawa Barat muncul kembali kasus polio. Virus polio pun menyebar ke anak-anak yang tidak diimunisasi. Setelah program imunisasi yang dikuatkan kembali, Indonesia kembali meraih sertifikat bebas polio dari WHO pada 27 Maret 2014.

Manfaat vaksin mencegah terjadinya sakit bisa dilihat dari gambar statistik berikut:

Immunization-Vaccine-Effectiveness

Print

Data Statistik yang Menunjukkan Angka Kejadian Sakit Sebelum dan Sesudah Vaksinasi di AS

Bahaya Bila Tidak Mendapat Imunisasi

Difteri merupakan penyakit saluran nafas, bersifat menular, dan dapat dicegah dengan vaksinasi. Gejala yang khas ialah adanya selaput keabuan di dinding belakang mulut atau di tenggorokan. Toksin yang dihasilkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheria ini dapat mengakibatkan pembengkakan jaringan lunak di leher, yang mengakibatkan bull neck. Leher yang membengkak ini membuat anak tidak bisa makan dan bernafas, sehingga beresiko tinggi mengalami kematian. Beberapa daerah di Indonesia tengah mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri.

diphtheria

Difteri Dicirikan dengan Adanya Selaput di Rongga Mulut Belakang Anak

bull_neck

Bull Neck atau Leher Membengkak yang Merupakan Komplikasi Difteri. Pembengkakan ini dapat membuat anak tidak bisa makan, sulit bernafas, hingga kematian

Penyakit pertussis atau batuk rejan dicirikan dengan serangan batuk yang berat, yang disertai dengan rejan saat menarik nafas (whooping cough). Setelah batuk dapat diikuti dengan muntah. Batuk yang terus menerus akibat bakteri Bordetella pertussis ini dapat mengakibatkan sang anak kekurangan oksigen hingga sesak. Contoh batuk rejan bisa dilihat di link video ini.

Sebelum imunisasi, hapir 2 milyar umat manusia mendapat hepatitis B suatu saat dalam hidupnya, dengan 1 juta di antaranya meninggal dunia. Penyakit yang disebabkan oleh virus hepatitis B ini menular melalui darah dan cairan kelamin. Orang yang paling beresiko terkena penyakit ini adalah pengguna jarum suntik dan petugas medis. Hepatitis B yang tidak membaik akan menjadi kronis, yang ujungnya berakibat kerusakan sel-sel hati, atau dikenal dengan istilah sirosis. Manifestasi sirosis hati berupa perut bengkak berisi cairan, pembuluh vena yang terlihat jelas di perut, hingga muntah darah. Sirosis hati menghasilkan angka kematian yang tinggi.

Pembesaran Pembuluh Darah Vena akibat Sirosis Hati, yang Bisa Diakibatkan oleh Hepatitis B Kronis. Sirosis Hati Merupakan Penyakit Rumit dengan Harapan Sembuh yang Buruk

Pembesaran Pembuluh Darah Vena akibat Sirosis Hati, yang Bisa Diakibatkan oleh Hepatitis B Kronis. Sirosis Hati Merupakan Penyakit Rumit dengan Harapan Sembuh yang Buruk

Poliomyelitis merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus polio. Virus ini menyerang sistem saraf pusat, yang mengakibatkan kelemahan dan kelumpuhan otot secara permanen. Penyakit ini membuat sang anak cacat seumur hidup.

polio12

Penderita Polio harus Mengalami Cacat Seumur Hidup

Kontroversi Vaksinasi

Semenjak vaksinasi diperkenalkan, sudah ada orang-orang yang menentangnya. Seperti yang telah disebutkan di tulisan bagian ke-1, Inggris dan Eropa menentang vaksinasi yang dibawa oleh Lady Montagu, begitu pun ketika Edward Jenner mempublikasikan vaksin variola.

Gerakan antivaksin mencapai puncaknya ketika tahun 1998 seorang dokter bedah digestif, Andrew Wakefield, merilis penelitiannya tentang Penyakit Radang Panggul, Autisme, dan vaksin MMR (measles/campak, mumps, rubella) di The Lancet. Jurnalnya menyebutkan bahwa ditemukan antigen campak pada usus 12 anak penderita radang panggul, yang kemudian dikaitkan sebagai penyebab autism. Antigen campak yang ditemukan, menurut Wakefield, muncul dari vaksin MMR. Kondisi ini disebutnya sebagai sindroma autistic enterocolitis. Simpulan dari penelitiannya ialah Vaksinasi MMR menyebabkan autism juga penyakit radang panggul.

Publikasi Wakefield langsung disambut hangat oleh kaum antivaksin di Inggris. Para orang tua dari anak penderita austime langsung menyalahkan vaksin sebagai penyebabnya. Tidak hanya sampai di sana, Wakefield pun menyampaikan ceramahnya di AS, yang berpengaruh pada meningkatnya gerakan antivaksin.

Penelitian Wakefield, setelah ditelusuri, ternyata memiliki banyak masalah. Seorang jurnalis dari Inggris, Brian Deer, mengecek pemeriksaan diagnostic dan rekam medis ke-12 anak yang menjadi objek penelitiannya. Investigasinya menyimpulkan bahwa Wakefield “mengganti, salah menginterpretasikan, dan memalsukan” data-data tersebut.

Penelurusan lebih lanjut membuktikan bahwa penelitian Wakefield ini memiliki konflik kepentingan. Sebelum memulai penelitiannya, Wakefield menjadi konsultan seorang pengacara yang ingin menjatuhkan pabrik vaksin. Hasil dari kesepakatan mereka ialah Wakefield akan membuat penelitian yang bertujuan menjatuhkan vaksin MMR. Ke-12 anak objek penelitiannya ternyata adalah anak dari para klien pengacara tersebut. Konflik kepentingan lainnya, setelah publikasi jurnalnya, ia berencana membuat produk “vaksin campak yang lebih aman”.

The Lancet kemudian menarik kembali jurnal Wakefield. British Medical Journal mengumumkan bahwa penelitian Wakefield sebagai “penipuan”. Konsili Kedokteran Inggris mencabut registrasi Wakefield.

andrew wakefield

Andrew Wakefield. Penelitiannya tentang Vaksinasi dan Autisme Terbukti Palsu

Banyak sekali penelitian setelahnya membuktikan bahwa “tidak ada hubungan” atau “statistik tidak menunjukkan signifikan” antara vaksinasi ataupun bahan preservatifnya, thimerosal, dengan autism ataupun penyakit radang panggul. Simpulannya adalah “tidak ada hubungan antara vaksinasi dengan autism”. Namun, penelitian palsu Wakefield hingga sekarang masih dijadikan senjata oleh golongan antivaksin.

Di Indonesia, selain autism, ada jurus-jurus tambahan oleh antivaksin, yaitu “haram” dan “konspirasi yahudi/AS”.

Vaksin di Indonesia diproduksi oleh PT Biofarma, dan sudah mendapatkan fatwa halal oleh MUI. Selain itu, PT Biofarma mensuplai 2/3 kebutuhan vaksin dunia dan mengekspornya ke negara-negara Islam seperti Mesir, Turki, Senegal, Malaysia, dll Indonesia sudah memproduksi vaksin halal: http://www.beritasatu.com/kesehatan/35883-indonesia-sudah-memproduksi-vaksin-halal.html

Pun misalkan dalam proses pembuatan vaksin menggunakan enzim babi sebagai katalisator, berdasarkan kaidah fiqh, insyaAllah vaksin tersebut tetap HALAL. Kajian tentang halal atau tidaknya vaksin bisa dilihat di link berikut: http://rumaysho.com/umum/hukum-vaksinasi-dari-enzim-babi-2025

Vaksin sebagai konspirasi yahudi amatlah tidak benar. Teknik vaksinasi pertama, yaitu variolation, berasal dari Cina. Pada masanya, kekhilafahan Turki Utsmani melakukan program vaksinasi. Di tahun 2015 ini, AS sedang panik karena meningkatnya kalangan antivaksin. Akibatnya adalah tingginya angka kejadian pertussis dan campak. Kini AS tengah berusaha menggiatkan program vaksinasi. Kalaulah vaksin adalah konspirasi yahudi/AS, sudah pasti pemerintah AS tidak akan memvaksinasi anak-anaknya.

Di Indonesia, ada beberapa tokoh antivaksin, yang terkenal di antaranya adalah Ummu Salamah Al Hajjam alias USA (seorang sarjana hukum, herbalis) dan dr. Susilorini, SpPA alias SiPencari Cahaya (dokter spesialis patologi anatomi, dosen FK Unissula). Argumen USA ialah vaksin itu haram, berbahaya, dan konspirasi yahudi; semua argumen ini sudah dibantah. SiPencari Cahaya bukanlah ahli imunologi, namun ia membuat teori sendiri bahwa manusia memiliki imunitas yang cukup dan tidak membutuhkan vaksinasi. Semua teorinya hanyalah ASUMSI, tidak ada bukti ilmiah, bisa dilihat di page Facebook Stop Antivaks. Pada kenyataannya, 90% anak yang terpapar akan terkena campak bila tidak diimunisasi.

FAQs about vaccine

1. Efek Samping Vaksinasi

Terkadang, vaksinasi memilik efek samping, yang dikenal dengan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). KIPI tidak terjadi pada semua anak, bersifat ringan dan tidak berbahaya, namun kadang membuat resah orang tua. Gejala biasanya berupa anak menjadi panas/demam dan muncul ruam/bentol di bekas suntikan. Demam akan turun dalam waktu 2-3 hari, begitu pun ruam dapat hilang dalam 3-5 hari.

2. Efektivitas Vaksinasi

Vaksinasi tidaklah 100%, sebagaimana tidak ada pengobatan yang ada di planet bumi ini menjamin kesembuhan hingga 100%. Efektivitas vaksin adalah berkisar 85-95%, tergantung respon individu. Namun, data objektif/statistik menunjukkan vaksin sangat efektif mencegah penyakit.

3. Kapan Tidak Boleh Divaksin

Demam ringan dan batuk pilek biasa tidaklah menghambat anak untuk divaksin. Kondisi-kondisi umum yang membuat anak tidak boleh divaksin ialah sakit berat (tunggu hingga sembuh), kondisi imunitas yang buruk misalnya penderita kanker darah (leukemia) dan HIV, sedang mengonsumsi obat-obatan penurun imunitas (kortikosteroid) jangka panjang, dan memiliki riwayat alergi terhadap vaksin

Advertisements
Categories: gagasan, kesehatan | Tags: , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: