[FOTO] Gowes Hingga ke Pantai Surga

Ini adalah pertama kalinya saya menulis tentang perjalanan gowes. Maklum, sebelumnya tidak punya sepeda, dan hanya bisa ngiler melihat orang-orang gowes dengan gagah. Selain untuk olahraga, perjalanan gowes juga menghadirkan sensasi bertualang. Beberapa kali mendengar cerita gowes berhari-hari yang membuat mereka nge-camp di tengah perjalanan, bahkan hingga melintasi berbagai negara. Baru-baru ini ada berita beberapa lansia yang gowes dari Indonesia melewati negara-negara Asia Tenggara. Tentu saja saya belum punya kapasitas untuk petualangan seperti itu. Selain kendala waktu dan biaya, kondisi fisik sendiri masih cupu, heheheh :p.

Keinginan untuk memiliki sepeda pun tercapai setelah menerima gaji dokter internship. Kendaraan yang akan menjadi teman hidup ini adalah Polygon tipe Monarch 27 inci. Sebuah toko yang cukup besar dan terkenal di kawasan Selong, Lombok Timur, menghargainya 2,3 juta. Untuk alasan safety, helm tidak bisa diabaikan, terutama jika ingin gowes jarak jauh. Demi pengaman kepala merk Nuke Head—tipe ini saya pilih karena selain untuk sepeda, helm ini juga bisa digunakan untuk ORAD atau panjat tebing—duit 220 ribu pun harus direlakan. Jangan lupa gembok pengaman, karena walaupun pencurian sepeda di tempat ini bukanlah hal umum—memang orang Indonesia tidak seperti orang Belanda yang senang mencuri sepeda—namun mengunci kendaraan adalah bagian dari tawakal, begitu menurut hadis Rasulullah saw. Ada dua tipe gembok merk polygon, yang kata sang penjual keduanya sama-sama tidak akan bisa digergaji atau dipoting pakai tang. Beralasan penghematan, gembok seharga 50 ribu pun akhirnya masuk kantong.

Peralatan sudah ada, kini tinggal menentukan waktu dan tempat perjalanan. Kostan yang tengah didiami terletak di kecamatan Selong, tepat seberang RSUD Dr. Soedjono, Kab. Lombok Timur. Memang di kabupaten ini tidak ada hiburan anak kota seperti mall atau warkop tempat nongkrong, namun ia tidak terlalu jauh dari pantai. Ada banyak pantai yang bagus di daerah selatan, yang paling terkenal adalah pantai pink. Ke sana menggunakan kendaraan mobil memerlukan waktu 2-3 jam, yang bila menggunakan sepeda sepertinya bisa memakan waktu 5-6 jam. Opsi ini pun di-skip, karena kalau bolak-balik bisa hingga 12 jam. Tidak masalah kalau setelahnya bisa full day recovery, namun apalah daya libur hanya sekali dalam seminggu.

Screenshot_2014-12-14-08-43-17

Lokasi Titik Start

 

20141214_090510

Kendaraan Tempur yang Digunakan, Polygon Monarch 27 inch

Pilihan lainnya adalah pantai-pantai yang menurut warga lokal lumayan bagus, yaitu pantai Cemara, Surga, dan Kaliantan. Sebenarnya 2 minggu sebelumnya saya pernah gowes ke pantai Cemara—pinjam sepeda teman—namun sayangnya tidak banyak melakukan dokumentasi sehingga tidak bisa dibuat catatan perjalanannya. Akhirnya, yang menjadi tujuan adalah pantai Surga. Kata-nya, pantai Surga tidak kalah bagus dengan pantai pink, namun jalan ke sananya sangat jelek dan hanya bisa dilalui mobil ukuran besar atau sepeda motor. Kalau bisa dilalui motor, tentu sepeda juga bisa, bukan? Penasaran, pedal pun kemudian kugowes dengan semangat.

Jam menunjukkan pk 09.00 WITA ketika memulai keberangkatan. Tak lupa perbekalan secukupnya disiapkan, seperti air minum, bekal makan siang, dan snack, begitu pula jaket hujan berhubung December is a rainy month. Di bawah matahari terik, sepeda pun meluncur menuju daerah Labuhan Haji.

Pantai Surga terletak di selatan Lombok Timur, tepatnya di Desa Ekas, kecamatan Jerowaru. Jalur yang dilewati adalah Selong-Labuhan Haji-Sakra Timur-Keruak-Jerowaru. Estimasi waktu tempuh sekali jalan adalah 3,5 jam plus istirahat 1 jam.

20141214_090809

Meluncur Turun di Pelabuhan Haji

20141214_091813

Saat Downhill, Gear Max pun Tak Masalah

Bagaikan angin, Monju (begitu nama sepeda saya) mengalir menuruni jalanan landai (jalur turun ini sangat landai, yang terasa signifikansinya ketika jalan pulang). Jalanan naik-turun mula terasa saat mencapai Sakra Timur. Ketika gowes naik, terasa semua otot di badan berkontraksi. Semua kelelahan itu terbalaskan saat downhill, momen yang sangat tepat untuk melemaskan otot-otot tadi.

20141214_092749

Berbelok Ke Arah Sakra Timur

Saat di Sakra Timur, garis pantai memanjang di sebelah timur. Sejenak pun disisihkan untuk menepi, melipir dari jalan raya menuju pantai Rambang. Di hari Minggu, beberapa warga kampung sekitar sering ke pantai tersebut. Pasir di lokasi ini agak hitam, tapi lumayan untuk foto-foto, dan tentu saja, selfie 🙂

20141214_094327

Mengintip Pantai Rambang

Screenshot_2014-12-14-09-49-40

Lokasi Pantai Rambang

20141214_094557

Monju Lagi Berpose

20141214_094454

Ada Ular Mati

20141214_094824

Maafkan Kalau Saya Tidak Jago Selfie :p

20141214_095616

Menyusuri Jalanan Pasir Pinggir Pantai Rambang

20141214_095916

Nemu Lagi Benda Aneh: Bangkai Bayi Kuda

Kembali ke jalan raya, jalanan naik-turun kembali mesti dilalui. Di sebelah kiri kanan terlihat sawah-sawah, walaupun tidak banyak. Pengairan masih menggunakan tadah hujan—tidak ada irigasi—sehingga memang kurang begitu produktif.

20141214_101122

Kembali Menyusuri Jalan Naik-Turun

20141214_101527

Muara Sungai

20141214_101543

Batu Besar di Pinggir Muara Sungai. Konon Jika Batu Ini Digelindingkan, Ia akan Kembali ke Atas Besoknya, yang Kemudian Si Penggelinding akan Terjatuh Menggantikannya

20141214_173650

Sapi-Sapi sedang Bersantai. NTB Memang Provinsi dengan Sapi yang Melimpah

Baju lumayan basah oleh keringat—hasil menggowes, namun yang terutama adalah hadiah dari matahari—dan akhinrya sekitar jam 10.45 sampai di pasar Keruak, di pertigaan. Jika belok kanan, akan segera menemukan tempat saya internship saat ini, yaitu puskesmas Keruak. Setelah istirahat secukupnya, Monju meluncur kembali, ke arah Jerowaru.

20141214_104400

Pertigaan Pasar Keruak

 

Screenshot_2014-12-14-10-56-05

Lokasi Pasar Keruak

Langit memang seolah enggan berbelas kasih. Mungkin karena kita sebagai manusia terlalu sombong terhadap alam, yang membuat awan-awan tidak mau melindungi para manusia dari panasnya siang hari. Lombok Timur memang cenderung panas, terutama area selatan yang dekat pantai. Jika umumnya hujan turun di bulan Oktober-November, namun ia membasahi daerah ini di bulan Desember. Dan menurut warga, musim hujan akan berakhir di bulan Februari. Ya, panas dan keringat, adalah teman perjalanan kali ini.

Kondisi minimnya hujan membuat dunia persawahan kurang subur, yang mendorong warga di sini beralih ke tanaman lain: tembakau. Surga tembakau, luasnya hamparan ladang penghasil asap ini agaknya sedikit memperbaiki kesejahteraan warga. Tak perlu ke warung, cukup linting tembakau hasil panen, dan duit hasil penjualannya pun bisa dipakai untuk naik haji.

20141214_110819

Bunga Flamboyan yang Berguguran di Tepi Jalan (y)

20141214_112742

Surga Tembakau

20141214_114110

Belok Kanan Menuju Pantai Surga. Jika Ingin Menuju Pantai Pink, Jalur yang Diambil adalah Lurus

Sekitar jam 11.55, Monju ingin beristirahat sejenak, lalu ia pun meringkuk di saung petani yang berada di tepian jalan. Kebetulan si petani tidak ada, saya pun berteduh sambil meregangkan otot-otot yang memendek. “Di mana pun kalian berada, berhenti jam 12 untuk istirahat siang,” agaknya instruksi itu masih terngiang-ngiang, yang membuat saya memilih istirahat di pinggir jalan—yang entah di mana, di sekitarnya pun tidak ada rumah penduduk.

Satu kesalahan mendasar pun baru disadari, yaitu membungkus bekal berminyak tanpa memisahkan nasi dengan lauknya. Alhasil, isi tas pun basah oleh minyak lauk. Ah, tapi itu semua bukanlah halangan untuk menikmati salah satu masakan khas Lombok: nasi puyung :D.

20141214_115742

Istirahat Siang di Saung Pinggir Jalan

Screenshot_2014-12-14-12-02-23

Lokasi Istirahat Siang

20141214_121158

Khas Lombok, Nasi Puyung: Nasi, Ayam Suwir Pedas, Kentang Kering, Kacang, dan Sambal yang Pedasnya Mantap. Foto Ini Mungkin Tidak Terlihat Menarik karena Hasil Dibungkus, tapi Rasanya Maknyus! 🙂

Jalanan yang seperti biasa, yaitu turun-naik kembali dihadapi Monju, setelah meyelesaikan istirahatnya jam 12.45. Kemudian, desa terakhir pun akhirnya dijumpai, yaitu Desa Ekas. Tak lama setelah melewati kantor desa, ada pertigaan dengan belokan ke kanan berupa jalan pasir berbatu. Ke sana lah arah pantai surga.

20141214_114354

Mengalir ke Desa Ekas

20141214_125126

Kantor Desa Ekas. Pantai Surga Sudah Tidak Terlalu Jauh Lagi

20141214_130055

Pertigaan. Belok Kanan untuk Menuju Pantai Surga. Terlihat Jalannya Berpasir Batu nan Jelek

Semoga saja ban Monju tidak langsung kempes dan tipis. Menurut penjual, ban sepeda bisa bertahan hingga 2 tahun, kalau jarang digunakan bisa sampai 3 tahun.

20141214_130424

Jalanan yang Mengikis Ban

Tak lama, muncul turunan yang cukup terjal—saya menyebutnya turunan planet, atau tanjakan planet kalau perjalanan pulang—tepat sebelum penginapan Heaven on The Planet. Memang ada beberapa penginapan bagi turis, terutama turis asing, di sepanjang jalan berbatu ini. Tapi saya sedikit penasaran dengan fasilitasnya. Tidak seperti Senggigi, pantai Selatan sangatlah minim sarana dan fasilitas. Jangankan penginapan, mencari warung pun agak sulit. Jalanan jelek tak perlu ditanya lagi. Tapi kabarnya pantai Surga banyak dikunjungi orang-orang bule yang ingin surfing, jadi mungkin karena itu lah di daerah ini ada banyak penginapan.

20141214_130844

Turunan/Tanjakan Planet. Saat Turun, Seolah Sedang Naik Roller Coster, Asyik namun Menegangkan karena Rentan Jatuh. Ketika Jalan Pulang, Saya Memilih Melewati Medan Ini dengan Menenteng Sepeda Ketimbang Menggowes :p

20141214_130916

Penginapan Heaven on The Planet, Penginapan Ini Cukup Dikenal oleh Warga Sekitar

Terus menelusuri jalan berbatu, kemudian menemukan belokan ke kanan yang jalannya berupa tanah. Di pertigaan itu ada papan penunjuk berukuran kecil, agak tidak terlihat jelas. Jalur ini tidak bisa dilewati oleh dua mobil secara parallel. Jalannya yang bertanah, yang akan menjadi lumpur jika hujan, menyarankan para pengunjung untuk menggunakan mobil ukuran besar. Sebaiknya juga kendaraan manual karena kondisinya yang naik turun. Sepeda motor pun bisa melewatinya, namun akan menjadi mimpi buruk jika tanahnya digenangi hujan.

20141214_131359

Belok Kanan Menuju Jalan Tanah

20141214_131438

Papan Petunjuk yang Ukurannya Kecil

20141214_131657

Jalur Tanah seperti Jalut Off Road. Ketika Hujan, Jalan Ini Berubah Menjadi Genangan Lumpur

20141214_132043

Memasuki Jalur Hutan Pinggir Pantai

Tak jauh, ada palang dan beberapa petugas yang siap menarik bayaran. Yahh, bukan petugas resmi, alias “preman”.

“Pantai surga, bos?” tanya saya penuh harap. “Ya,” jawabnya.

“Los?”

“Ya dah, lewat aja”

Begitulah keuntungan bagi para goweser.

Akhirnya setelah 3,5 jam gowes di bawah matahari serta 1 jam istirahat, pantai Surga terlihat juga. Saat itu waktu menunjukkan pk. 14.30. Untuk ke sana, mesti melewati pintu belakang suatu penginapan. Entah baru dibangun, atau ditinggalkan, atau hanya buka di musim libur, penginapan tersebut sepertinya tidak terurus, dan tidak ada penjaganya. Namun, terlihat adanya pembangunan fasilitas seperti ubin, kebun, dan banyak saung/gazebo.

20141214_132216

Foto Ini Membuktikan Bahwa Kendaraan Ini Mampu Melewati Medan Tadi

20141214_132429

Voila! Pantai Surga! 🙂

Screenshot_2014-12-14-13-33-15

Lokasi Pantai Surga

20141214_132455

Penginapan yang Tidak Ada Pengurusnya

20141214_132444

20141214_132505

Terlihat Adanya Ubin yang Dibuat, Mungkin Oleh Pihak Penginapan

20141214_132632

Terlihat di Atas Tebing Terdapat Saung

20141214_132707

Dikelilingi Tebing

20141214_132814

Monju Berpose

20141214_132917

20141214_133022

Pantai Ini Memiliki Ombak yang Deras


20141214_133124
20141214_133136
20141214_133202

Tidak banyak orang di jam saat itu…para pengungjung sudah banyak yang pulang. Mungkin sebelum jam 12 adalah waktu pantai ini ditemani oleh banyak manusia. Meskipun begitu, mengingat jalurnya yang agak sulit dan jelek, sepertinya lokasi wisata ini tidak seramai pantai pink. Mana lagi kondisi tempat yang begitu menyenangkan selain pantai indah dengan ombak perkasa, dan sepi pula?

Seperti yang tadi disebutkan, adanya pembuatan fasilitas di pinggir pantai ini membuat saya ingin meluruskan kaki di salah satu dari sekian banyak saung yang ada. Langit mendung dan gerimis pun turun, menambah keheningan yang sepi, yang dipecahkan oleh suara ombak. Sejenak menutup mata, melepas lelah sambil menikmati segala suasana yang ada. Mendarat di pantai dengan menggowes seperti ini memang berbeda: rasanya lebih puas.

20141214_135026

Istirahat Sambil Menikmati Pemandangan di Saung 🙂

Tapi, begitulah resiko menggowes, jika mencapainya harus dalam kelelahan, begitu pula pulangnya. Pikiran harus kembali menggowes berjam-jam agaknya sedikit mengganggu kekhidmatan deburan ombak pantai surga.

 

#catatan:

Kendaraan yang paling direkomendasikan ke pantai surga adalah yang tinggi dan beroda besar. Saat perjalanan pulang yang diguyur hujan, Monju begitu babak belur oleh jalanan yang telah berubah menjadi kolam lumpur, terlebih pengendaranya :D. Atau jika sayang kendaraan Anda, datanglah di waktu musim kering atau sebelum hujan turun.

20141214_155327

Dalam Perjalanan Pulang, Monju Babak Belur oleh Jalanan Berlumpur XD

 

Advertisements
Categories: catatan perjalanan, Foto | Tags: , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: