[FOTO] Pulau Tanpa Air, Gili Maringkik

Pulang Maringkik di Timur-Selatan Pulau Lombok

Pulang Maringkik di Timur-Selatan Pulau Lombok

Apa jadinya menjadi penghuni pulau? Istilah “orang pulau” biasanya menunjukkan orang yang terbelakang dan jauh dari peradaban. Tinggal di pulau kecil, terpisah dengan pulau utama oleh laut, tentu fasilitas yang ada pun sangat terbatas. Termasuk kualitas pendidikan dan kesehatan orang-orang yang terpisah dari peradaban utama. Jika tiang listrik sudah ditegakkan, maka ia sudah beruntung.

Pulau Maringkik termasuk yang beruntung itu. Gili/pulau mini ini terletak di daerah selatan pulau Lombok, masuk ke kawasan kabupaten Lombok Timur. Jika mendengar kata pulau Lombok, mungkin yang terlintas adalah liburan, tempat berbulan madu, pantai yang indah, dan sebagainya. Memang bayangan indah itu bisa dilukiskan di pulau ini, tapi hanya di sebelah barat. Daerah tempat saya berteduh sekarang, yaitu Lombok Timur, bisa disebut sebagai “kampung”. Tidak ada apa-apa, tidak ada hiburan, wajar saja teman-temanku rela mengorbankan waktu berharga mereka untuk nongkrong di Mataram, setidaknya seminggu sekali.

Di sisi selatan Lombok Timur, terdapat kecamatan yang ruhnya merupakan pelabuhan, yaitu Tanjung Luar. Saya pernah menulis mengenai “Jika Ingin Mencari Penyakit, maka Pergilah ke Pelabuhan’. Anekdot ini untuk menggambarkan kondisi pelabuhan Tanjung Luar yang sumpek, kumuh, bau, jorok, dan padatnya minta ampun. Penyakit menular seperti campak dan TBC sangat mudah ditemukan. Namun, daerah ini merupakan tempat para nelayan mencari nafkah. Ada warga yang bilang bahwa penduduk lokal hanya bekerja sebagai buruh nelayan, sedangkan kebanyakan sang pemilik kapal—alias orang berduit—kebanyakan adalah pendatang. Entah bagaimana sejarahnya, tapi konon mudah untuk menemukan orang bugis di sudut ini—juga orang-orang dari daerah luar Lombok.

Pelabuhan Tanjung Luar

Pelabuhan Tanjung Luar

Nelayan Tanjung Luar

Nelayan Tanjung Luar

Pelabuhan Tanjung Luar

Pelabuhan Tanjung Luar

Mancing

Mancing

Tapi setidaknya pelabuhan ini masih merupakan bagian dari mainland. Jika melihat ke seberang laut, terdapat outerland yang dihuni oleh manusia. Nasibnya tak jauh beda: kumuh, kotor, padat, dll. Tapi apa jadinya penghuni pulau? Manusia di sana jika ingin mandi, mencuci, maupun memasak air, mesti membeli air bersih seharga 5000 per galon, dengan satu galon sekitar 33 liter. Saking tidak ada airnya, orang-orang menyarankan lebih baik meminta makanan daripada memohon air ke penduduk sana. Sebentar, jika tidak ada air, berarti ga ada toilet dong? Bagaimana jika ingin buang air? “Ke laut!” timpal seorang ibu Maringkik dengan suara keras.

Itu baru tentang air, mengenai fasilitas-fasilitas lain pun kita tidak bisa berharap banyak. Bagaimana dengan sarana transportasinya? Ada banyak kapal yang sudah bermotor—tidak perlu khawatir harus mendayung untuk menyeberang—namun seperti kata warga di atas, kebanyakan pemiliknya adalah orang-orang berduit. Konon harga satu kapal bisa mencapai ratusan juta rupiah—setara dengan harga mobil. Orang biasa jika ingin menyeberang mesti menggunakan kapal angkutan umum, yang beroperasi dari pagi hanya sampai jam 10 siang saja. Jika lebih dari jam tersebut, penyeberang harus menggelontorkan uang untuk sewa kapal. Akibatnya, jika ada orang pulau yang ingin berobat, tak jarang harus menginap di rumah kerabatnya di mainland.

20141203_100441

Sewa Kapal Meyeberang Menuju Maringkik

20141203_100456

Entah Berapa Harga Sewa Menyeberang. Kegiatan Sekarang Dibiayai oleh Puskesmas 😛

20141203_101915

Ada Beberapa Gili/Pulau yang Tidak Berpenghuni

20141203_102419

Di Tengah Perjalanan Ada Daerah yang Dangkal. Terlihat Terumbu Karang yang Sepertinya Masih Bagus

20141203_103237

Tiang-Tiang Listrik Didirikan di Perairan Dangkal/Berpasir. Listrik Membuat Hidup Jadi Lebih Baik ~PLN

20141203_103524

Dermaga Maringkik

Oh ya, bicara tentang transportasi kapal di Tanjung Luar, sebagian di antara kita mungkin pernah mendengar hikayat pantai pink nan indah di Lombok Timur. Pantai tersebut terletak lebih ke sebelah selatan. Bagi yang pernah jalan-jalan ke Lombok, mungkin pernah dapat tawaran tur ke pantai pink. Terkadang, ada beberapa travel yang enggan ke sana dikarenakan jalannya rusak. Sebenarnya, kadar kerusakan ga parah-parah amat, tapi ya tetap aja tidak menyenangkan. Wisatawan yang tidak ingin diganggu oleh jalan bergelombang dan berkawah bisa mencapai pantai pink dengan naik kapal di Tanjung Luar. Biasanya agen di sana menawarkan harga sekitar 500 ribu (atau lebih) untuk sewa kapal seharian. Selain ke pantai pink, penyewa bisa minta mampir untuk ke gili (pulau) kecil. Bisa juga snorkeling, namun ada biaya tambahan.

Kembali ke Gili Maringkik. Memang tidak bisa berekspektasi besar di sana, karena memang bukan lokasi wisata (jika ingin berwisata, ada beberapa wahana yang bagus di Lombok Timur, seperti Gili Kondo yang sedikit ke utara). Pulau tersebut telah menjadi desa semenjak tahun 2012 dan terbagi menjadi tiga dusun. Jika perumahan di pelabuhan begitu rapatnya, maka di pulau ini lebih lagi. Tidak ada aspal dan jalan—lantai pulau murni pasir—sehingga percuma membawa sepeda motor. Pulau yang mulanya datar terbuka telah berubah menjadi gang-gang kecil. Rumah di sana kebanyakan terbuat dari kayu dan bambu; ada yang menyentuh tanah, ada juga berupa rumah panggung. Tersesat di pulau kecil ini tidaklah mustahil, mengingat banyaknya gang yang kompleks diapet rumah-rumah. Duh, ingin kencing….wah, pilihannya antara harus tahan sampai kembali ke mainland atau langsung ke laut.

Hajat saya dan teman-teman ke pulau ini ialah menyertai rombongan puskesmas memberikan pelayanan KB. Kegiatan berlokasi di kantor kepala desa, dan sesuai dugaan, di kantor ini tidak ada toilet.

Di tepi-tepi rumah banyak ditemukan baskom; sekarang sedang musim hujan: berkah bagi penduduk pulau. Ketika air tumpah dari langit, baskom-baskom tersebut dijajarkan, anak-anak menyambut gembira air yang menggenang, dan baju-baju kotor dikeluarkan—waktu yang baik untuk mencuci, mumpung banyak air.

20141203_103957

Dari Dermaga Menuju Pemukiman Maringkik

20141203_104158

Rumah-Rumah Maringkik yang Begitu Rapat Seakan Berangkulan, Tak Ingin Kesepian

20141203_104226

Gang Sempit, Gang Sempit Everywhere

20141203_104355

Mungkin Anak-Anak di Sini Tidak Pernah Merasakan Selfie

20141203_104517

Lantai Maringkik Murni Hanya Pasir: Tak Ada Paving Block, Tak Ada Aspal

20141203_104523

Domba Dibiarkan Berkeliaran. Katanya Domba di Pulau Tidak Makan Rumput, Melainkan Kertas dan Batu, Katanya ya

20141203_105318

Anak Sekolah Baru Pulang dari UAS, Malu untuk Difoto. Di Pulau Hanya Ada Satu Atap Sekolah yang Menaungi SD dan SMP. Jika Ingin Lanjut SMA, Mereka Mesti Menyeberang

20141203_105418

Kantor Kepala Desa. Tidak Ada Toilet

20141203_131108

Baskom-Baskom Penampung Air

20141203_130035

Baskom Menampung Air. Terlihat di Belakang Beberapa Baskom Dijajarkan. Hujan adalah Berkah Bagi Maringkik

20141203_130733

Kambing pun Turut Berteduh Terhadap hujan 😀

Ketika tiba waktu pulang, hujan belum mau berhenti. Akhirnya pakaian pun direlakan untuk basah, karena tampaknya awan mendung belum mau menyingkir hingga sore hari.

Mengapa tak menunggu saja?

Maklum, mungkin sulit menemukan anak kota yang betah berlama-lama di pulau ini. Yahh, sulit membayangkan bagaimana mereka mampu hidup bertahun-tahun dalam kondisi sangat minim fasilitas. Hal seperti ini, selain menunjukkan kualitas kesejahteraan masyarakat negeri kita, pun seharusnya membuat kita lebih mampu bersyukur atas nikmat yang masih dikaruniai-Nya.

Advertisements
Categories: Foto, pembelajaran | Tags: , , , , , , , | 4 Comments

Post navigation

4 thoughts on “[FOTO] Pulau Tanpa Air, Gili Maringkik

  1. mantap artikelnya gan, semua jelas dan rapih 🙂
    salam sukses terus ya

    Like

  2. wah wisatawan sering menyebutnya sebagai gili tapi masyarakatnya menyebutnya sebagai pulau.
    saya ingin mengenalakan pulau lombok juga dari dunia maya. di tunggu kunjungannya ya bang http://www.sasakalombok.com

    Like

  3. Gue

    Miris, gan. Semoga ane punya jalan buat bantu mereka suatu saat. Ga sengaja nemu di channel trans 7 – indonesiaku.

    [INDONESIAKU – MEREKA YANG HIDUP TERCEKIK DI PULAU MARINGKIK]

    [Part 1] https://www.youtube.com/watch?v=uU5zToN-TpI&list=PLZinIqbK64U6iVY20QH_QTHmH6MbTQUdx&index=9
    [Part 2] https://www.youtube.com/watch?v=rjYBoycpwJs&list=PLZinIqbK64U6iVY20QH_QTHmH6MbTQUdx&index=8
    [Part 3] https://www.youtube.com/watch?v=CF_EoyJ3-4k&list=PLZinIqbK64U6iVY20QH_QTHmH6MbTQUdx&index=7

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: