Perlukah Lokalisasi Prostitusi?

Siapa yang menyangka kalau angka HIV/AIDS begitu tinggi di “Pulau 1000 Masjid” ini? Mungkin hal ini bukan aneh lagi, karena kita sering menyaksikan gap yang begitu besar antara ajaran Islam dengan ketaatan pemeluknya. Golongan yang paling beresiko terkena penyakit ini adalah muda-mudi yang bekerja di pantai barat Lombok, atau di Bali, atau TKW luar negeri. Namun, yang paling mengherankan adalah ketika seorang relawan suatu LSM menuturkan angka homoseksualitas di daerah ini meningkat.

Relawan memang pekerjaan yang mengagumkan. Kebetulan saja sy mengekor para relawan itu karena mereka tengah melakukan penjaringan di kecamatan Keruak. Tidak ada kerjaan, ajakan untuk screening di suatu kampung cukup efektif untuk membunuh waktu, pikir saya. Angka HIV di perkampungan memang sulit terdeteksi. Walaupun nyata melakukan aktivitas yang beresiko, kesadaran untuk memeriksakan diri begitu rendah. Jangankan untuk sukarela periksa HIV, pergi berobat pun enggan, hingga lebih memilih dukun. Para relawan pun harus memacu motornya memasuki jalan-jalan sempit berdebu, meneriaki para warga agar mau meneteskan darahnya ke alat pemeriksa.

“Memang susah mendeteksi HIV di sini. Angka laporan kasus yang rendah dikarenakan sulitnya melakukan screening,” seorang relawan bercerita dengan logat sasak. “Tidak seperti di Mataram. Di sana ada lokalisasi (prostitusi), sehingga mudah bagi kami untuk mendeteksi.”

Peryataan itu mengingatkan tentang peristiwa penutupan lokalisasi dolly di Surabaya. Banyak yang mendukung, namun banyak juga yang menentang. Mereka yang tidak setuju bukan cuma para PSK atau mucikari atau laki-laki bangsat, tapi juga para intelektualis. Tentu kita ingat lagunya Titiek Puspa yang berjudul “Kupu-Kupu Malam” (sy menafsirkan lagu itu memberikan pembelaan kepada PSK, maaf kalau salah tafsir/tidak sepakat). Pun dalam diskusi di televisi, seorang perempuan berbahasa cerdas mengatakan bahwa menutup lokalisasi sama saja dengan memelaratkan hidup mereka. Ada juga narasumber yang menunjukkan keyakinannya sambil tersenyum, bahwa “menutup bisnis prostitusi adalah tidak mungkin”. Juga argumen sama yang disampaikan oleh sang relawan, bahwa adanya lokalisasi mempermudah proses screening HIV (dan penyakit menular seksual lainnya).

Benar bahwa jual-beli kelamin tidak akan pernah bisa dihentikan? Dan, apakah adanya lokalisasi akan bermanfaat untuk program penanggulangan HIV?

Untuk mencegah penyebaran HIV, dilakukan berbagai edukasi dan penyuluhan. Empat poin populer dari edukasi ini adalah A: Anda jauhi hubungan sex berganti pasangan tanpa kondom, B: Bersikap saling setia, C: Cegah dengan kondom, D: Dihindari narkoba suntik. Saya sempat heran, kenapa penyuluhannya tidak “Jangan berbuat zina (sex bebas) dan menggunakan narkoba” saja? Mungkin kita masih ingat, ada kegiatan bagi-bagi kondom yang mengatasnamakan program pencegahan HIV/AIDS (ada yang mengatakan itu program Kemenkes, namun Menkes Nafsiah Mboi membantahnya). Apakah tidak ada tempat bagi pendidikan moral dan pendekatan religi untuk urusan ini? Penyuluhan yang massif mengenai penggunaan kondom secara tak langsung mengizinkan prostitusi, bukan?

Saya lupa siapa orang yang dengan yakinnya mengatakan prostitusi takkan bisa dihentikan, namun ternyata ada fakta sebaliknya, dan itu terjadi di negara Eropa.

Usaha Swedia dengan membuat Undang-Undang yang mengatur ini semenjak 1999 berbuah manis. Di Stockholm, ibukota Swedia, 2/3 prostitusi jalanan berhasil dibersihkan; di kota-kota lain bahkan ada yang benar-benar steril. Rumah bordil dan lokalisasi semua ditutup, dan ini terjadi di negara barat, negara eropa, negara sejahtera.

Hukum di sana menyebutkan bahwa menggunakan jasa prostitusi dianggap sebagai kejahatan kepada wanita dan anak-anak, sehingga sang pelanggan harus dihukum. Pihak wanita atau yang menjajakan dirinya dianggap sebagai korban, sehingga diberikan perlindungan. Tentu program ini didukung oleh komitmen pemerintah yang kuat—para prostitusi tersebut diberikan kompensasi dan diusahakan kesejahteraannya agar keluar dari bisnis kotor tersebut.

Mengapa kita tidak mengikuti langkah Swedia?

Semestinya tidak ada lagi pihak yang beralasan bahwa mereka menjadi PSK demi sesuap nasi. Adalah hak dan kewajiban setiap warga untuk berpenghasilan, namun tentu harus dengan cara yang benar. Melegalkan pelacuran sebagai usaha mencari nafkah sama saja mengizinkan pencurian—jika pencuri merampas hal material, maka pelacur merampas moral. Tentu pemerintah harus memiliki political will yang kokoh untuk memberantasnya dengan memikirkan kesejahteraan PSK yang keluar dari binis prostitusi.

Pemerintah Skotlandia menyusun penelitian mengenai dampak dari dilegalkannya prostitusi. Penelitian dilakukan di negara Australia, Irlandia, dan Belanda. Hasilnya, bahwa legalisasi prostitusi, memberikan dampak:

  • Peningkatan dramatis industri sex
  • Peningkatan dramais kejahatan terorganisasi di industri sex
  • Peningkatan dramaris prostitusi anak-anak
  • Peningkatan foreign women and girls trafficking
  • Indikasi peningkatan kekerasan terhadap wanita

Jadi, benarkah prostitusi tidak bisa dihentikan?

Lalu, apakah benar lokalisasi itu penting eksistensinya untuk penanggulangan HIV?

Lemabaga survey kesehatan AS, CDC, menyebutkan bahwa kondom sangat efektif untuk mencegah transmisi HIV. Namun, mereka mengakui bahwa pencegahan yang absolut adalah dengan abstinen (abses dari sex). Meminta manusia dewasa tidak berhubungan sex sama sekali tentu tidak terbayangkan. Hubungan seksual merupakan kondisi biologis manusia yang secara normal semestinya disalurkan. Karena itu, adakah hubungan sex yang lebih aman ketimbang hubungan dalam pernikahan?

Penelitian oleh Harvard ada tahun 2004 menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara menjadi seorang muslim dengan resiko HIV/AIDS, yaitu hubungan terbalik. Studi di subsahara Afrika menggambarkan negara yang populasinya muslim memiliki angka HIV yang sangat rendah dibandingkan negara yang populasi muslimnya minim.

Grafik Hubungan Prevalensi HIV dengan Populasi Muslim (sumber: http://www.academia.edu/676556/HIV_and_Islam_is_HIV_prevalence_lower_among_Muslims)

Grafik Hubungan Prevalensi HIV dengan Populasi Muslim
(sumber: http://www.academia.edu/676556/HIV_and_Islam_is_HIV_prevalence_lower_among_Muslims)

Mengapa demikian? Jelas, hal ini dikarenakan ajaran Islam, jika dipratekkan dengan benar, tidak membuka peluang sedikit pun terjadinya penyakit menular seksual. Hubungan seksual yang dibenarkan dalam Islam hanyalah pernikahan, sehingga tidak mengizinkan adanya prostitusi. Haramnya alcohol juga mencegah orang untuk berbuat sex beresiko. Selain itu, sunat/sirkumsisi juga dapat mengurangi resiko penularan.

Jika demikian, mengapa penyuluhan HIV/AIDS tidak dengan “No Free Sex & Drugs” saja? Penyebarluasan kondom akan meningkatkan sex bebas dan prostitusi, yang notabene meningkatkan resiko HIV. Yang lebih menyedihkan, ada poster penyuluhan (dari Kementerian Kesehatan) yang menggambarkan bahwa tidak mengapa homoseksual, asalkah memakai kondom (angka HIV lebih tinggi berkali lipat pada homoseksual).

Menghapus Stigma

Besarnya angka umat muslim di suatu negara memang tidak menjamin tidak tingginya angka HIV. Sepertinya beberapa umat muslim, seperti di Indonesia, lebih menyukai nilai dan perilaku barat ketimbang menaati agamanya. Yang juga menjadi salah satu PR terbesar ialah masalah stigma. Seorang yang terkena HIV cenderung dikutuk, dijauhi, dan dikucilkan. Padahal, tidak semua orang yang positif HIV melakukan sex bebas atau pecandu narkoba. Bisa saja ia petugas kesehatan yang kebetulan kurang telaten menangani alat medis. Atau, seorang anak yang tanpa dosa namun tertular melalui ibunya.

Pun ia positif karena cerita kelamnya, semestinya difasilitasi untuk kembali ke jalan yang benar. Masyarakat perlu tahu bahwa HIV tidak menular melalui kontak fisik; ia hanya menular melalui cairan sperma/vagina, darah, dan ASI. Karena itu, pergaulan yang baik kepada penderita pun adalah hal penting. Tidak adanya stigma akan mendorong orang yang beresiko untuk memeriksakan dirinya secara sukarela. Poin ini sangat penting, agar pencatatan dan pelaporan kasus berdasarkan fakta yang valid di lapangan. Masalah yang kini menghinggapi negara-negara muslim adalah minimnya kasus yang terdeteksi karena masalah stigma tersebut.

Selain itu, sebanyak apa pun lumpur kotor menggenangi seseorang, pintu penyucian diri selalu dibuka lebar olehNya. Pantaskah manusia membenci seorang penderita yang ingin kembali, padahal ampunanNya amatlah luas?

Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Az-Zumar 39: 53)

 

Referensi:

  1. Kebijakan Swedia mengenai prostitusi: http://matadornetwork.com/bnt/swedens-prostitution-solution-hasnt-anyone-tried/
  2. Penelitian hubungan antara populasi muslim dan HIV: http://www.academia.edu/676556/HIV_and_Islam_is_HIV_prevalence_lower_among_Muslims
Advertisements
Categories: gagasan, pembelajaran | Tags: , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: