Cacingan

Seorang guru besar ilmu kesehatan anak di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Prof. Ponpon S. Idjradinata, dr., SpA (K), pernah berkomentar menganai kualitas pemain timnas sepak bola Indonesia. Mungkin kita pernah atau beberapa kali melihat pemain-pemain negara kita sering terlambat merespon bila mendapat serangan dari negara lawan. Akibatnya gampang sekali gawang timnas dijebol. “Itu gara-gara pemain kita masa kecilnya kekurangan zat besi, makanya mereka telat responnya.” Kurang lebih begitu komentar sang professor konsultan hematologi anak.

Dokter pendamping internship sy bercerita tentang suatu penelitian yang dilakukan oleh Universitas Mataram ke suatu sekolah dasar di Lombok Timur. Hasilnya, didapatkan 100% murid SD tersebut mengalami cacingan. Hasil tersebut sebenarnya tidaklah mengherankan. Tidak hanya di Lombok Timur, cacingan merupakan masalah kesehatan yang sangat umum ditemukan, terutama di daerah terpencil.

Sekolah yang alasnya berupa tanah kemudian murid-muridnya berlarian tanpa alas kaki sudah sangat biasa. Begitu pun di ujung sana, rumah-rumah kecil yang sangat jorok. Tidak ada satu pun orang dewasa yang mengingatkan anak mereka yang bermain-main tanpa sandal. Alhasil, cacing tambang mengorek kulit kakinya dan bersemayam di usus anak-anak tanpa dosa itu, menghisap darah mereka bagaikan drakula. Ketika suatu sekolah dilakukan penjaringan kadar sel darah merah (hemoglobin), tidak perlu terkejut kalau hampir semua anaknya mengalami kurang darah (anemia). Bisa dibayangka performa sekolah mereka yang mengalami nasib demikian? Ah, tak perlu bicara performa sekolah—kita tidak bicara tentang sarana sekolah di daerah-daerah terpinggirkan, termasuk kualitas dan kuantitas guru.

salah satu jenis cacing tambang: Ancylostoma duodenale (sumber gambar: http://belajarterusbiologi.blogspot.com/2011/03/nemathelminthes.html)

salah satu jenis cacing tambang: Ancylostoma duodenale (sumber gambar: http://belajarterusbiologi.blogspot.com/2011/03/nemathelminthes.html)

siklus hidup cacing tambang (sumber gambar: http://eol.org/pages/2921231/overview)

siklus hidup cacing tambang (sumber gambar: http://eol.org/pages/2921231/overview)

Anak adalah asset bangsa. Masa depan peradaban suatu negeri ditentukan oleh kondisi anak-anaknya, termasuk kesehatannya. Sulit sekali melahirkan generasi cerdas apabila masa kecilnya kekurangan faktor pendukung kualitas pendidikan (baca: gizi).

Masalah kesehatan takkan pernah bisa diselesaikan dengan “pengobatan gratis”. Sebenarnya menyedihkan jika ada seorang pemimpin yang menyatakan bahwa visi kesehatannya adalah bagi-bagi kartu pengobatan gratis. Adanya pengobatan gratis hanya membuat orang yang tidak sakit menjadi sakit. Tak perlu memperhatikan pola hidup bersih dan sehat, toh tinggal ke RS, kan gratis? Mungkin berobat gratis dapat menyembuhkan penyakit pasien yang berobat—ini adalah hal yang harus kita syukuri—tapi apakah akan membuat mereka sehat? Apa yang dapat mencegah mereka agar tidak sakit dan berobat kembali? Apa yang bisa membuat mereka hidupnya semakin sehat sehingga tidak perlu bolak-balik ke RS?

Beruntung menteri kesehatan kita memasukkan program pencegahan dan promosi kesehatan dalam kartu sakti yang sekarang tengah dibagi-bagi. Namun kesehatan ialah hal yang sangat kompleks dan membutuhkan peran lintas sektoral. Salah satu program pencegahan dan promosi adalah penyuluhan kepada masyaraka, tapi adakah mereka mau mendengarkan? Pahamkah mereka dengan apa yang diucapkan oleh petugas puskesmas yang sudah capek-capek berkeliling untuk memberikan penyuluhan? Salah satu topik yang banyak diberikan adalah mengenai kebersihan, tapi apakah kualitas kebersihan akan benar-benar membaik setelah diberi pencerdasan, padahal jamban bersih saja mereka tidak punya? Bisakah kita hitung signifikansi penyuluhan mengenai anemia defisiensi besi jika rumah atau sekolah masih berlantaikan tanah?

Investasi jangka panjang untuk membangun negara sehat adalah pendidikan. Tingkat pendidikan yang baik akan mendorong setiap orang untuk berinisiatif sendiri meningkatkan dan menjaga kesehatan mereka. Pasien yang datang berobat pun tidak melulu harus dalam keadaan sakit, tapi mereka adalah sehat yang membutuhkan konsultasi dan kontrol dari tenaga kesehatan. Kualitas kesejahteraan yang baik pun memiliki peran besar. Rumah yang bersih, lantai yang layak, jamban yang terkontrol sanitasinya, kualitas air minum yang bebas kuman, dan menu makanan yang bergizi sangat berperan dalam membangun kesehatan.

Saat ini negara kita sedang berada dalam utopia akan para pemimpin baru. Wajah baru akan selalu melahirkan harapan baru. Namun bangsa bukanlah hanya presiden dan para menteri. Sy ingat perkataan Abah Iwan di saat konser beliau yang memukau, “Adalah sebuah kehormatan terlahir di negara yang belum baik, karena kita memiliki kesempatan untuk membuat sejarah memperbaiki bangsa ini.”

Advertisements
Categories: merenung, pembelajaran | Tags: , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: