Naluri Bersaing (2)

Pasukan robot Mekatopia pun akhirnya musnah. Empat makhluk (tepatnya satu robot kucing dan tiga manusia) akhirnya berhasil menyelamatkan bumi dari invasi pasukan robot alien. Ya, hanya empat makhluk bumi melawan ribuan—atau mungkin jutaan—pasukan robot tempur yang dilengkapi dengan peralatan perang nan canggih. Jika saja Shizuka tidak terpikirkan ide brilian untuk kembali ke masa lalu, dan jika saja Liley tidak memiliki keberanian untuk mengorbankan dirinya, tentu sejak tahun 1981—tahun komik Doraemon Petualangan nomor 7 diterbitkan—manusia bumi sudah dijadikan budak oleh robot-robot Mekatopia.

Hal penting yang membuat robot-robot penyerang Nobita dkk menghilang tak berbekas adalah diubahnya jalan takdir mereka. Profesor pencipta nenek moyang robot-robot Mekatopia menghilangkan sebuah unsur yang signfikan pengaruhnya, yaitu naluri bersaing. Sang professor mengatakan bahwa ia menyematkan naluri tersebut agar tercipta kemajuan. Namun bila disalahgunakan, yang kan terjadi hanyalah kehancuran.

Tak lama setelah robot-robot tersebut sirna, Doraemon mendatangi Nobita yang sendirian duduk termenung di kelasnya. “Doraemon, kira-kira Mekatopia sekarang menjadi negeri seperti apa ya?” tanya Nobita. Dengan senyuman lebar, Doraemon pun menjawab tanpa ragu, “Tentu menjadi negeri yang indah seperti surga.”

Surga? Benarkah demikian? Apakah negeri berisi orang-orang yang sudah tak lagi memiliki keinginan untuk bersaing atau berkompetisi akan menjadi begitu sempurna layaknya surga?

Persaingan dan kompetisi tak bisa disangkal adalah komponen penting—sangat penting—dalam perannya membentuk peradaban. Adalah naluriah bila manusia seiring berjalannya waktu hidupnya menghasilkan perubahan ke arah kemajuan. Mungkin perubahan tersebut berjalan linier terhadap waktu, namun bila terdapat jiwa bersaing dan berkompetisi, dapat mengalami akselerasi secara eksponensial.

Jika saja tidak ada bangsa lain yang melakukan invasi militer, mungkin saja suatu negeri tidak akan pernah belajar membangun dinding yang kokoh; tidak akan pernah belajar membela diri dan seni berperang. Selalu ingin lebih dibandingkan manusia lain mungkin merupakan sifat dasar yang dianugerahi oleh Tuhan. Seorang yang berhasil menghasilkan karya atau pencapaian secara langsung atau tidak langsung bisa mendorong orang-orang di sekitarnya untuk ikut berkarya menciptakan sesuatu yang lebih.

Seperti uang, “persaingan” bersifat netral. Baik atau buruknya tergantung dari bagaimana manusia memanfaatkannya. Ia bisa melahirkan hal yang sangat bermanfaat dan konstruktif bagi kehidupan. Sebaliknya, dapat pula ia membuat kehidupan menjadi musnah. Jika dimanfaatkan dengan baik, kemajuan yang timbul tidak hanya bagi orang tersebut, namun juga bagi lawan kompetisi atau saingannya, bahkan dunia.

Profesor Rhenald Kasali memaparkan dalam artikelnya bahwa ada 2 cara pandang terhadap kompetisi, yaitu favorable to development dan resistant societies.

Favorable to Development ialah sebuah perspektif bagaimana menjadikan kompetisi sebagai pemacu kinerja. Suasana ini memilii tujuan yang jelas dan terdeskripsikan. Kompetisi tercipta agar lahirnya iklim saling mendukung untuk mencapai tujuan yang lebih dan lebih baik lagi. Pada akhirnya, setiap kompetitor menggapai tujuan masing-masing yang telah ditetapkan. Tak perlu ia melirik orang di sebelahnya—yang mungkin saja telah mencapai tujuan yang dirasa lebih bergengsi—karena terpenting ialah tujuan utamanya tercapai. Jika saja tak terapai karena telah direbut oleh lawan saingnya, tak perlu lah khawatir karena tak pernah ada tetes keringat yang sia-sia. Selalu ada yang dicapai oleh sebuah perjuangan—jika bukan sebuah materi, setidaknya berupa nilai-nilai dan pembelajaran.

Namun penghayatan di atas tidak dikenal oleh resistant societies. Baginya tidak ada istilah “lawan”, yang ada hanyalah “musuh”. “Lawan” eksis sebagai bentuk peneguhan eksistensi masing-masing, mendorong dirinya dan lawannya untuk mencapai perubahan yang baik. Namun, “musuh” ada untuk dimusnahkan. Tidak ada tujuan suatu kompetisi melainkan hanya agar musuhnya kalah dan binasa. Jangan pernah tanyakan nilai atau proses pembelajaran, karena mereka tidak akan pernah mengerti. Adanya kehadiran orang lain selalu direspon dengan resistensi dan benci.

Kedua hal tersebut tentu dapat menghasilkan perubahan, begitu pula kemajuan. Tapi apalah arti kemajuan jika dampaknya adalah kehancuran? Adakah seorang benar-benar bahagia ketika berhasil meraih keuntungan dengan membuat orang lain menangis tersedu-sedu? Mungkin mulutnya tertawa lebar, tapi jauh di dalam hatinya tengah terisak sedih. Hati pun takkan pernah bohong dan rasa ketidaktenangan kan terus merasuki hingga sisa umur hidupnya.

Apakah tujuan manusia mencapai kemajuan? Apakah hanya serta merta agar dirinya tampak gagah di atas puncak gunung dan memandang eksistensi lainnya dengan mengangkat dagu?

Semenjak kecil kita telah dituntut oleh waktu untuk mencapai kemajuan. Itulah mengapa kita harus repot pergi sekolah, mendengarkan guru, dan membaca buku—tak lain adalah untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Semakin canggihnya sarana transportasi, sarana komunikasi, dan sarana-sarana lainnya kan membuat waktu hidup manusia terisi dengan hal-hal yang lebih bernilai. Manfaatnya pun terasa secara signifikan bagi manusia untuk mencapai tujuan hidupnya. Bukankah ini tujuan utama setiap orang berlomba dan berkompetisi?

Memang tak mungkin membayangkan kondisi bumi apabila manusia tidak memiliki naluri bersaing. Apakah ia akan menjamin tidak adanya perang? Takkan ada kah darah bersimbah sia-sia? Dan pertanyaan terpenting, akankah kita semua dapat hidup dengan kualitas seperti yang sekarang dirasakan?

Kita takkan bisa menjawabnya. Begitu pun Fujiko F. Fujio tak benar-benar menjawab pertanyaan Nobita, karena memang tak pernah dikisahkan bagaimana keadaan Mekatopia setelah dihilangkannya naluri bersaing. Hal yang tak terjadi memang tak bisa diandai-andai, namun tak pernah ada isitilah terlambat untuk menjadikan interaksi sosial lebih indah dengan menyehatkan naluri bersaing kita.

Advertisements
Categories: merenung, pembelajaran | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: