Monthly Archives: November 2014

Perlukah Lokalisasi Prostitusi?

Siapa yang menyangka kalau angka HIV/AIDS begitu tinggi di “Pulau 1000 Masjid” ini? Mungkin hal ini bukan aneh lagi, karena kita sering menyaksikan gap yang begitu besar antara ajaran Islam dengan ketaatan pemeluknya. Golongan yang paling beresiko terkena penyakit ini adalah muda-mudi yang bekerja di pantai barat Lombok, atau di Bali, atau TKW luar negeri. Namun, yang paling mengherankan adalah ketika seorang relawan suatu LSM menuturkan angka homoseksualitas di daerah ini meningkat.

Relawan memang pekerjaan yang mengagumkan. Kebetulan saja sy mengekor para relawan itu karena mereka tengah melakukan penjaringan di kecamatan Keruak. Tidak ada kerjaan, ajakan untuk screening di suatu kampung cukup efektif untuk membunuh waktu, pikir saya. Angka HIV di perkampungan memang sulit terdeteksi. Walaupun nyata melakukan aktivitas yang beresiko, kesadaran untuk memeriksakan diri begitu rendah. Jangankan untuk sukarela periksa HIV, pergi berobat pun enggan, hingga lebih memilih dukun. Para relawan pun harus memacu motornya memasuki jalan-jalan sempit berdebu, meneriaki para warga agar mau meneteskan darahnya ke alat pemeriksa.

“Memang susah mendeteksi HIV di sini. Angka laporan kasus yang rendah dikarenakan sulitnya melakukan screening,” seorang relawan bercerita dengan logat sasak. “Tidak seperti di Mataram. Di sana ada lokalisasi (prostitusi), sehingga mudah bagi kami untuk mendeteksi.”

Peryataan itu mengingatkan tentang peristiwa penutupan lokalisasi dolly di Surabaya. Banyak yang mendukung, namun banyak juga yang menentang. Mereka yang tidak setuju bukan cuma para PSK atau mucikari atau laki-laki bangsat, tapi juga para intelektualis. Tentu kita ingat lagunya Titiek Puspa yang berjudul “Kupu-Kupu Malam” (sy menafsirkan lagu itu memberikan pembelaan kepada PSK, maaf kalau salah tafsir/tidak sepakat). Pun dalam diskusi di televisi, seorang perempuan berbahasa cerdas mengatakan bahwa menutup lokalisasi sama saja dengan memelaratkan hidup mereka. Ada juga narasumber yang menunjukkan keyakinannya sambil tersenyum, bahwa “menutup bisnis prostitusi adalah tidak mungkin”. Juga argumen sama yang disampaikan oleh sang relawan, bahwa adanya lokalisasi mempermudah proses screening HIV (dan penyakit menular seksual lainnya).

Benar bahwa jual-beli kelamin tidak akan pernah bisa dihentikan? Dan, apakah adanya lokalisasi akan bermanfaat untuk program penanggulangan HIV?

Untuk mencegah penyebaran HIV, dilakukan berbagai edukasi dan penyuluhan. Empat poin populer dari edukasi ini adalah A: Anda jauhi hubungan sex berganti pasangan tanpa kondom, B: Bersikap saling setia, C: Cegah dengan kondom, D: Dihindari narkoba suntik. Saya sempat heran, kenapa penyuluhannya tidak “Jangan berbuat zina (sex bebas) dan menggunakan narkoba” saja? Mungkin kita masih ingat, ada kegiatan bagi-bagi kondom yang mengatasnamakan program pencegahan HIV/AIDS (ada yang mengatakan itu program Kemenkes, namun Menkes Nafsiah Mboi membantahnya). Apakah tidak ada tempat bagi pendidikan moral dan pendekatan religi untuk urusan ini? Penyuluhan yang massif mengenai penggunaan kondom secara tak langsung mengizinkan prostitusi, bukan?

Saya lupa siapa orang yang dengan yakinnya mengatakan prostitusi takkan bisa dihentikan, namun ternyata ada fakta sebaliknya, dan itu terjadi di negara Eropa.

Usaha Swedia dengan membuat Undang-Undang yang mengatur ini semenjak 1999 berbuah manis. Di Stockholm, ibukota Swedia, 2/3 prostitusi jalanan berhasil dibersihkan; di kota-kota lain bahkan ada yang benar-benar steril. Rumah bordil dan lokalisasi semua ditutup, dan ini terjadi di negara barat, negara eropa, negara sejahtera.

Hukum di sana menyebutkan bahwa menggunakan jasa prostitusi dianggap sebagai kejahatan kepada wanita dan anak-anak, sehingga sang pelanggan harus dihukum. Pihak wanita atau yang menjajakan dirinya dianggap sebagai korban, sehingga diberikan perlindungan. Tentu program ini didukung oleh komitmen pemerintah yang kuat—para prostitusi tersebut diberikan kompensasi dan diusahakan kesejahteraannya agar keluar dari bisnis kotor tersebut.

Mengapa kita tidak mengikuti langkah Swedia?

Semestinya tidak ada lagi pihak yang beralasan bahwa mereka menjadi PSK demi sesuap nasi. Adalah hak dan kewajiban setiap warga untuk berpenghasilan, namun tentu harus dengan cara yang benar. Melegalkan pelacuran sebagai usaha mencari nafkah sama saja mengizinkan pencurian—jika pencuri merampas hal material, maka pelacur merampas moral. Tentu pemerintah harus memiliki political will yang kokoh untuk memberantasnya dengan memikirkan kesejahteraan PSK yang keluar dari binis prostitusi.

Pemerintah Skotlandia menyusun penelitian mengenai dampak dari dilegalkannya prostitusi. Penelitian dilakukan di negara Australia, Irlandia, dan Belanda. Hasilnya, bahwa legalisasi prostitusi, memberikan dampak:

  • Peningkatan dramatis industri sex
  • Peningkatan dramais kejahatan terorganisasi di industri sex
  • Peningkatan dramaris prostitusi anak-anak
  • Peningkatan foreign women and girls trafficking
  • Indikasi peningkatan kekerasan terhadap wanita

Jadi, benarkah prostitusi tidak bisa dihentikan?

Lalu, apakah benar lokalisasi itu penting eksistensinya untuk penanggulangan HIV?

Lemabaga survey kesehatan AS, CDC, menyebutkan bahwa kondom sangat efektif untuk mencegah transmisi HIV. Namun, mereka mengakui bahwa pencegahan yang absolut adalah dengan abstinen (abses dari sex). Meminta manusia dewasa tidak berhubungan sex sama sekali tentu tidak terbayangkan. Hubungan seksual merupakan kondisi biologis manusia yang secara normal semestinya disalurkan. Karena itu, adakah hubungan sex yang lebih aman ketimbang hubungan dalam pernikahan?

Penelitian oleh Harvard ada tahun 2004 menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara menjadi seorang muslim dengan resiko HIV/AIDS, yaitu hubungan terbalik. Studi di subsahara Afrika menggambarkan negara yang populasinya muslim memiliki angka HIV yang sangat rendah dibandingkan negara yang populasi muslimnya minim.

Grafik Hubungan Prevalensi HIV dengan Populasi Muslim (sumber: http://www.academia.edu/676556/HIV_and_Islam_is_HIV_prevalence_lower_among_Muslims)

Grafik Hubungan Prevalensi HIV dengan Populasi Muslim
(sumber: http://www.academia.edu/676556/HIV_and_Islam_is_HIV_prevalence_lower_among_Muslims)

Mengapa demikian? Jelas, hal ini dikarenakan ajaran Islam, jika dipratekkan dengan benar, tidak membuka peluang sedikit pun terjadinya penyakit menular seksual. Hubungan seksual yang dibenarkan dalam Islam hanyalah pernikahan, sehingga tidak mengizinkan adanya prostitusi. Haramnya alcohol juga mencegah orang untuk berbuat sex beresiko. Selain itu, sunat/sirkumsisi juga dapat mengurangi resiko penularan.

Jika demikian, mengapa penyuluhan HIV/AIDS tidak dengan “No Free Sex & Drugs” saja? Penyebarluasan kondom akan meningkatkan sex bebas dan prostitusi, yang notabene meningkatkan resiko HIV. Yang lebih menyedihkan, ada poster penyuluhan (dari Kementerian Kesehatan) yang menggambarkan bahwa tidak mengapa homoseksual, asalkah memakai kondom (angka HIV lebih tinggi berkali lipat pada homoseksual).

Menghapus Stigma

Besarnya angka umat muslim di suatu negara memang tidak menjamin tidak tingginya angka HIV. Sepertinya beberapa umat muslim, seperti di Indonesia, lebih menyukai nilai dan perilaku barat ketimbang menaati agamanya. Yang juga menjadi salah satu PR terbesar ialah masalah stigma. Seorang yang terkena HIV cenderung dikutuk, dijauhi, dan dikucilkan. Padahal, tidak semua orang yang positif HIV melakukan sex bebas atau pecandu narkoba. Bisa saja ia petugas kesehatan yang kebetulan kurang telaten menangani alat medis. Atau, seorang anak yang tanpa dosa namun tertular melalui ibunya.

Pun ia positif karena cerita kelamnya, semestinya difasilitasi untuk kembali ke jalan yang benar. Masyarakat perlu tahu bahwa HIV tidak menular melalui kontak fisik; ia hanya menular melalui cairan sperma/vagina, darah, dan ASI. Karena itu, pergaulan yang baik kepada penderita pun adalah hal penting. Tidak adanya stigma akan mendorong orang yang beresiko untuk memeriksakan dirinya secara sukarela. Poin ini sangat penting, agar pencatatan dan pelaporan kasus berdasarkan fakta yang valid di lapangan. Masalah yang kini menghinggapi negara-negara muslim adalah minimnya kasus yang terdeteksi karena masalah stigma tersebut.

Selain itu, sebanyak apa pun lumpur kotor menggenangi seseorang, pintu penyucian diri selalu dibuka lebar olehNya. Pantaskah manusia membenci seorang penderita yang ingin kembali, padahal ampunanNya amatlah luas?

Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Az-Zumar 39: 53)

 

Referensi:

  1. Kebijakan Swedia mengenai prostitusi: http://matadornetwork.com/bnt/swedens-prostitution-solution-hasnt-anyone-tried/
  2. Penelitian hubungan antara populasi muslim dan HIV: http://www.academia.edu/676556/HIV_and_Islam_is_HIV_prevalence_lower_among_Muslims
Advertisements
Categories: gagasan, pembelajaran | Tags: , , , , | Leave a comment

Cacingan

Seorang guru besar ilmu kesehatan anak di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Prof. Ponpon S. Idjradinata, dr., SpA (K), pernah berkomentar menganai kualitas pemain timnas sepak bola Indonesia. Mungkin kita pernah atau beberapa kali melihat pemain-pemain negara kita sering terlambat merespon bila mendapat serangan dari negara lawan. Akibatnya gampang sekali gawang timnas dijebol. “Itu gara-gara pemain kita masa kecilnya kekurangan zat besi, makanya mereka telat responnya.” Kurang lebih begitu komentar sang professor konsultan hematologi anak.

Dokter pendamping internship sy bercerita tentang suatu penelitian yang dilakukan oleh Universitas Mataram ke suatu sekolah dasar di Lombok Timur. Hasilnya, didapatkan 100% murid SD tersebut mengalami cacingan. Hasil tersebut sebenarnya tidaklah mengherankan. Tidak hanya di Lombok Timur, cacingan merupakan masalah kesehatan yang sangat umum ditemukan, terutama di daerah terpencil.

Sekolah yang alasnya berupa tanah kemudian murid-muridnya berlarian tanpa alas kaki sudah sangat biasa. Begitu pun di ujung sana, rumah-rumah kecil yang sangat jorok. Tidak ada satu pun orang dewasa yang mengingatkan anak mereka yang bermain-main tanpa sandal. Alhasil, cacing tambang mengorek kulit kakinya dan bersemayam di usus anak-anak tanpa dosa itu, menghisap darah mereka bagaikan drakula. Ketika suatu sekolah dilakukan penjaringan kadar sel darah merah (hemoglobin), tidak perlu terkejut kalau hampir semua anaknya mengalami kurang darah (anemia). Bisa dibayangka performa sekolah mereka yang mengalami nasib demikian? Ah, tak perlu bicara performa sekolah—kita tidak bicara tentang sarana sekolah di daerah-daerah terpinggirkan, termasuk kualitas dan kuantitas guru.

salah satu jenis cacing tambang: Ancylostoma duodenale (sumber gambar: http://belajarterusbiologi.blogspot.com/2011/03/nemathelminthes.html)

salah satu jenis cacing tambang: Ancylostoma duodenale (sumber gambar: http://belajarterusbiologi.blogspot.com/2011/03/nemathelminthes.html)

siklus hidup cacing tambang (sumber gambar: http://eol.org/pages/2921231/overview)

siklus hidup cacing tambang (sumber gambar: http://eol.org/pages/2921231/overview)

Anak adalah asset bangsa. Masa depan peradaban suatu negeri ditentukan oleh kondisi anak-anaknya, termasuk kesehatannya. Sulit sekali melahirkan generasi cerdas apabila masa kecilnya kekurangan faktor pendukung kualitas pendidikan (baca: gizi).

Masalah kesehatan takkan pernah bisa diselesaikan dengan “pengobatan gratis”. Sebenarnya menyedihkan jika ada seorang pemimpin yang menyatakan bahwa visi kesehatannya adalah bagi-bagi kartu pengobatan gratis. Adanya pengobatan gratis hanya membuat orang yang tidak sakit menjadi sakit. Tak perlu memperhatikan pola hidup bersih dan sehat, toh tinggal ke RS, kan gratis? Mungkin berobat gratis dapat menyembuhkan penyakit pasien yang berobat—ini adalah hal yang harus kita syukuri—tapi apakah akan membuat mereka sehat? Apa yang dapat mencegah mereka agar tidak sakit dan berobat kembali? Apa yang bisa membuat mereka hidupnya semakin sehat sehingga tidak perlu bolak-balik ke RS?

Beruntung menteri kesehatan kita memasukkan program pencegahan dan promosi kesehatan dalam kartu sakti yang sekarang tengah dibagi-bagi. Namun kesehatan ialah hal yang sangat kompleks dan membutuhkan peran lintas sektoral. Salah satu program pencegahan dan promosi adalah penyuluhan kepada masyaraka, tapi adakah mereka mau mendengarkan? Pahamkah mereka dengan apa yang diucapkan oleh petugas puskesmas yang sudah capek-capek berkeliling untuk memberikan penyuluhan? Salah satu topik yang banyak diberikan adalah mengenai kebersihan, tapi apakah kualitas kebersihan akan benar-benar membaik setelah diberi pencerdasan, padahal jamban bersih saja mereka tidak punya? Bisakah kita hitung signifikansi penyuluhan mengenai anemia defisiensi besi jika rumah atau sekolah masih berlantaikan tanah?

Investasi jangka panjang untuk membangun negara sehat adalah pendidikan. Tingkat pendidikan yang baik akan mendorong setiap orang untuk berinisiatif sendiri meningkatkan dan menjaga kesehatan mereka. Pasien yang datang berobat pun tidak melulu harus dalam keadaan sakit, tapi mereka adalah sehat yang membutuhkan konsultasi dan kontrol dari tenaga kesehatan. Kualitas kesejahteraan yang baik pun memiliki peran besar. Rumah yang bersih, lantai yang layak, jamban yang terkontrol sanitasinya, kualitas air minum yang bebas kuman, dan menu makanan yang bergizi sangat berperan dalam membangun kesehatan.

Saat ini negara kita sedang berada dalam utopia akan para pemimpin baru. Wajah baru akan selalu melahirkan harapan baru. Namun bangsa bukanlah hanya presiden dan para menteri. Sy ingat perkataan Abah Iwan di saat konser beliau yang memukau, “Adalah sebuah kehormatan terlahir di negara yang belum baik, karena kita memiliki kesempatan untuk membuat sejarah memperbaiki bangsa ini.”

Categories: merenung, pembelajaran | Tags: , , | Leave a comment

Naluri Bersaing (2)

Pasukan robot Mekatopia pun akhirnya musnah. Empat makhluk (tepatnya satu robot kucing dan tiga manusia) akhirnya berhasil menyelamatkan bumi dari invasi pasukan robot alien. Ya, hanya empat makhluk bumi melawan ribuan—atau mungkin jutaan—pasukan robot tempur yang dilengkapi dengan peralatan perang nan canggih. Jika saja Shizuka tidak terpikirkan ide brilian untuk kembali ke masa lalu, dan jika saja Liley tidak memiliki keberanian untuk mengorbankan dirinya, tentu sejak tahun 1981—tahun komik Doraemon Petualangan nomor 7 diterbitkan—manusia bumi sudah dijadikan budak oleh robot-robot Mekatopia.

Hal penting yang membuat robot-robot penyerang Nobita dkk menghilang tak berbekas adalah diubahnya jalan takdir mereka. Profesor pencipta nenek moyang robot-robot Mekatopia menghilangkan sebuah unsur yang signfikan pengaruhnya, yaitu naluri bersaing. Sang professor mengatakan bahwa ia menyematkan naluri tersebut agar tercipta kemajuan. Namun bila disalahgunakan, yang kan terjadi hanyalah kehancuran.

Tak lama setelah robot-robot tersebut sirna, Doraemon mendatangi Nobita yang sendirian duduk termenung di kelasnya. “Doraemon, kira-kira Mekatopia sekarang menjadi negeri seperti apa ya?” tanya Nobita. Dengan senyuman lebar, Doraemon pun menjawab tanpa ragu, “Tentu menjadi negeri yang indah seperti surga.”

Surga? Benarkah demikian? Apakah negeri berisi orang-orang yang sudah tak lagi memiliki keinginan untuk bersaing atau berkompetisi akan menjadi begitu sempurna layaknya surga?

Persaingan dan kompetisi tak bisa disangkal adalah komponen penting—sangat penting—dalam perannya membentuk peradaban. Adalah naluriah bila manusia seiring berjalannya waktu hidupnya menghasilkan perubahan ke arah kemajuan. Mungkin perubahan tersebut berjalan linier terhadap waktu, namun bila terdapat jiwa bersaing dan berkompetisi, dapat mengalami akselerasi secara eksponensial.

Jika saja tidak ada bangsa lain yang melakukan invasi militer, mungkin saja suatu negeri tidak akan pernah belajar membangun dinding yang kokoh; tidak akan pernah belajar membela diri dan seni berperang. Selalu ingin lebih dibandingkan manusia lain mungkin merupakan sifat dasar yang dianugerahi oleh Tuhan. Seorang yang berhasil menghasilkan karya atau pencapaian secara langsung atau tidak langsung bisa mendorong orang-orang di sekitarnya untuk ikut berkarya menciptakan sesuatu yang lebih.

Seperti uang, “persaingan” bersifat netral. Baik atau buruknya tergantung dari bagaimana manusia memanfaatkannya. Ia bisa melahirkan hal yang sangat bermanfaat dan konstruktif bagi kehidupan. Sebaliknya, dapat pula ia membuat kehidupan menjadi musnah. Jika dimanfaatkan dengan baik, kemajuan yang timbul tidak hanya bagi orang tersebut, namun juga bagi lawan kompetisi atau saingannya, bahkan dunia.

Profesor Rhenald Kasali memaparkan dalam artikelnya bahwa ada 2 cara pandang terhadap kompetisi, yaitu favorable to development dan resistant societies.

Favorable to Development ialah sebuah perspektif bagaimana menjadikan kompetisi sebagai pemacu kinerja. Suasana ini memilii tujuan yang jelas dan terdeskripsikan. Kompetisi tercipta agar lahirnya iklim saling mendukung untuk mencapai tujuan yang lebih dan lebih baik lagi. Pada akhirnya, setiap kompetitor menggapai tujuan masing-masing yang telah ditetapkan. Tak perlu ia melirik orang di sebelahnya—yang mungkin saja telah mencapai tujuan yang dirasa lebih bergengsi—karena terpenting ialah tujuan utamanya tercapai. Jika saja tak terapai karena telah direbut oleh lawan saingnya, tak perlu lah khawatir karena tak pernah ada tetes keringat yang sia-sia. Selalu ada yang dicapai oleh sebuah perjuangan—jika bukan sebuah materi, setidaknya berupa nilai-nilai dan pembelajaran.

Namun penghayatan di atas tidak dikenal oleh resistant societies. Baginya tidak ada istilah “lawan”, yang ada hanyalah “musuh”. “Lawan” eksis sebagai bentuk peneguhan eksistensi masing-masing, mendorong dirinya dan lawannya untuk mencapai perubahan yang baik. Namun, “musuh” ada untuk dimusnahkan. Tidak ada tujuan suatu kompetisi melainkan hanya agar musuhnya kalah dan binasa. Jangan pernah tanyakan nilai atau proses pembelajaran, karena mereka tidak akan pernah mengerti. Adanya kehadiran orang lain selalu direspon dengan resistensi dan benci.

Kedua hal tersebut tentu dapat menghasilkan perubahan, begitu pula kemajuan. Tapi apalah arti kemajuan jika dampaknya adalah kehancuran? Adakah seorang benar-benar bahagia ketika berhasil meraih keuntungan dengan membuat orang lain menangis tersedu-sedu? Mungkin mulutnya tertawa lebar, tapi jauh di dalam hatinya tengah terisak sedih. Hati pun takkan pernah bohong dan rasa ketidaktenangan kan terus merasuki hingga sisa umur hidupnya.

Apakah tujuan manusia mencapai kemajuan? Apakah hanya serta merta agar dirinya tampak gagah di atas puncak gunung dan memandang eksistensi lainnya dengan mengangkat dagu?

Semenjak kecil kita telah dituntut oleh waktu untuk mencapai kemajuan. Itulah mengapa kita harus repot pergi sekolah, mendengarkan guru, dan membaca buku—tak lain adalah untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Semakin canggihnya sarana transportasi, sarana komunikasi, dan sarana-sarana lainnya kan membuat waktu hidup manusia terisi dengan hal-hal yang lebih bernilai. Manfaatnya pun terasa secara signifikan bagi manusia untuk mencapai tujuan hidupnya. Bukankah ini tujuan utama setiap orang berlomba dan berkompetisi?

Memang tak mungkin membayangkan kondisi bumi apabila manusia tidak memiliki naluri bersaing. Apakah ia akan menjamin tidak adanya perang? Takkan ada kah darah bersimbah sia-sia? Dan pertanyaan terpenting, akankah kita semua dapat hidup dengan kualitas seperti yang sekarang dirasakan?

Kita takkan bisa menjawabnya. Begitu pun Fujiko F. Fujio tak benar-benar menjawab pertanyaan Nobita, karena memang tak pernah dikisahkan bagaimana keadaan Mekatopia setelah dihilangkannya naluri bersaing. Hal yang tak terjadi memang tak bisa diandai-andai, namun tak pernah ada isitilah terlambat untuk menjadikan interaksi sosial lebih indah dengan menyehatkan naluri bersaing kita.

Categories: merenung, pembelajaran | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: