Halaman Terakhir

lastpageKapankah suatu cerita berakhir? Dalam novel-novel picisan yang suka kita baca, akhir suatu perjalanan dapat diketahui di halaman terakhir. Setebal apa pun buku itu, sepanjang bagaimana pun perjalanannya, selalu akan ada halaman terakhir untuk menutup kisah.

Apakah halaman terakhir adalah begitu ditunggu-tunggu? Mungkin kita telah berubah menjadi generasi instan. Kemudahan mendapat informasi dan kecanggihan fasilitas yang ada membuat manusia modern ingin serba praktis. Tidak perlu seseorang menulis panjang lebar di koran, majalah, atau website untuk mengutarakan pendapat. Kicauan-kicauan singkat di twitter dan status yang selalu diperbarui di facebook cukup untuk merangkum semua. Kita telah mempelajari di bangku sekolah mengenai komponen tulisan, tujuan-tujuannya, dan kesimpulan penutup. Namun tulisan singkat di media sosial tak pernah membutuhkan itu.

Kebiasaan menulis dengan singkat juga menumbuhkan budaya membaca dengan singkat. Dulu ada teknik membaca cepat dengan beragam caranya, tapi kini metodenya berubah: cara membaca singkat yaitu hanya baca tulisan yang singkat. Jika suatu tulisan terlalu panjang, segera ditutup dengan alasan agar tidak mebuang waktu—padahal seringnya waktu kita digunakan untuk hal yang tidak bisa dijelaskan.

Melompat langsung ke halaman belakang agar tahu kisah akhir dalam waktu pendek—itukah tujuan membaca suatu cerita? Tentu banyak pesan yang hendak disampaikan, tapi hal tersebut jarang sekali berada di halaman terakhir.

Suatu perjalanan bernilai berharga dan mendebarkan ketika berada di tengah, bukan di akhir. Apakah itu perjalanan yang menyedihkan ataupun membahagiakan, terkadang sang pelaku sendiri tidak ingin tahu bagaimana endingnya. Kesulitan, kesedihan, dan kesenangan membuatnya begitu sibuk dan asyik, tak peduli dengan halaman terakhir. Begitu pula seseorang yang begitu bekerja keras untuk mendapatkan kekayaan—pada akhirnya ia akan memahami bahwa petualangan keras untuk meraihnya jauh lebih berharga ketimbang harta itu sendiri.

Mungkin tidakhlah perlu berimajinasi bagaimana halaman terakhir berkisah, karena akhiran ditentukan oleh proses. Tentu seringkali ada hal yang tidak terduga, apakah musibah atau mukjizat, yang bisa sangat mengubah jalan cerita. Tapi tidak perlu khawatir, karena narasi memang tidak pernah menarik jika tidak ada hal yang mengejutkan di tengah-tengah.

Ketika menuliskan cerita, komponen konflik harus selalu ada: itulah yang membuatnya menarik. Tanpa konflik maka tidak ada cerita. Itu pula yang membuat sang pembaca tenggelam dalam keasyikan. Sang tokoh utama pun mungkin merasakan demikian. Di akhir narasi, kita pun sadar bahwa konflik adalah sesuatu yang sebaiknya disyukuri.

Akhir dari kehidupan selalu kematian. Ngeri, menyeramkan setiap kali dibayangkan. Katanya tak ada yang menandingi rasa sakit saat menuju kematian. Kemudian hal-hal sesudahnya, lebih merinding lagi untuk dipikirkan. Tapi tentu bukan akhiran tersebut yang menjadi cerita utama. Tidak ada tempat untuk menceritakan kematian, karena orang yang sudah mati tak pernah kembali. Sebaliknya, petualangan-petualangan di dalamnya seringkali menjadi sang penentu kualitas kematian. Apa yang dikenang oleh orang-orang pun bukanlah bagaimana akhir hidup atau proses kematian, melainkan cerita perjalanan hidupnya.

Tidak perlu tergesa membuka halaman terakhir, karena ia sesuatu yang mutlak. Jalan cerita yang dipaparkan oleh penulis di halaman awal dan akhir menentukan penutup cerita. Setiap manusia yang hidup adalah penulis bukunya masing-masing. Tinta yang ia torehkan di halaman awal dan tengah akan menentukan akhir hidupnya. Tentu saja, pembelokan plot cerita di tengah sangat mungkin dilakukan setiap penulis dan hal tersebutlah yang membuat cerita menjadi layak dibaca.

Namun kisah tidak selalu berakhir dalam satu buku. Pun ternyata kematian bukanlah penutup yang absolut, melainkan hanya istilah lain dari kata “bersambung”. Akan ada buku kedua atau sekuel. Cerita seperti apa yang akan ada di buku lanjutan? Seperti pada novel-novel picisan yang suka kita baca, bahwa isi cerita di buku kedua ditentukan oleh jalan cerita di buku pertama.

Advertisements
Categories: merenung | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: