Bukan Hanya Tentang Jas Putih

white coat

white coat

Tak perlu diragukan lagi bahwa profesi dokter adalah terhormat. Di mana-mana, baik di kota maupun di desa, begitu pula di luar negeri, dokter dianggap sebagai profesi berprestise tinggi. Seorang dosen ilmu kesehatan masyarakat pernah bercerita, bahwa di desa seorang dokter pun akan ditanyakan pendapatnya mengenai persawahan. Memang tidak banyak orang pintar alias berpendidikan tinggi yang mau membaktikan diri di desa atau tempat terpencil, kecuali dokter yang sedang dalam penempatan atau sengaja menetap. Pun di kota besar. Seorang yang mengenakan jas putih terkesan memiliki harta penghasilan yang besar karena pekerjaannya. Walau sebenarnya, tidak sedikit dokter yang hidupnya cukup sederhana.

Bila anak-anak kecil ditanyakan, “kalau gede mau jadi apa?” jawabannya biasanya antara “mau jadi presiden” dan “mau jadi dokter”. Gambaran status tinggi yang melekat pada diri dokter telah melekat pada benak masyarakat semenjak kecil. Setidaknya teman-teman dari fakultas lain pun berkomentar hal yang kurang lebih sama. Seolah dokter adalah orang yang paling pintar, terjamin kesuksesannya, dan berkedudukan tinggi. Memang isu bahwa banyak dokter yang kondisi ekonominya menengah ke atas—terutama dokter spesialis—adalah fakta.

Mungkin inilah salah satu alasan banyak yang berlomba-lomba kuliah kedokteran. Universitas-universitas swasta pun menyambutnya dengan berlomba pula membuka program studi tersebut. Tentu alasan menjadi dokter amatlah bervariatif, namun satu alasan ini bisa jadi irisan yang sama di antara alasan-alasan yang lain.

Saat tengah menjadi mahasiswa, rasanya adalah mimpi dapat mengenakan jas putih seperti para konsulen, diiringi tanda pengenal dengan titel “dr.” di belakang. Terkadang, berbekal jas laboratorium atau jas koas, serta stetoskop dikalungkan, sudah bisa menjadi foto yang bagus untuk dipajang di medsos.

Setelah pendidikan kedokteran yang panjang dan melelahkan selama 5 tahun atau lebih, akhirnya mimpi itu tercapai. Satu hal yang tidak boleh dilewatkan ialah berfoto sambil mengenakan jas dokter sungguhan dan kalung stetoskop. Ya, kebanggaan yang pantas setelah usaha yang keras dan lama untuk meraihnya.

Tapi sepertinya euphoria itu tidak berlangsung lama. Secara umum pendidikan kedokteran terkenal lama karena minimal ditempuh selama 5 atau 6 tahun. Walau demikian, pendidikan sekian tahun tersebut kemudian kan disadari serasa “tidak cukup”. Cakupan ilmu yang sangat luas ditambah tanggung jawab yang besar karena menangani kehidupan manusia tidak kan pernah membuat seorang dokter merasa cukup.

Lima atau enam tahun pendidikan dokter umum hanya menghasilkan pengetahuan yang sepotong-sepotong dan terbatas. Kasus-kasus yang butuh penanganan mendalam di rumah sakit ataupun pelayanan primer harus dikonsultasikan ke dokter spesialis. Seorang dokter untuk menjadi spesialis mesti sekolah kembali selama 4-5 tahun—ada pula yang 6 tahun. Terkadang—dan tidak jarang—seorang dokter spesialis berkonsultasi ke dokter subspesialis atau spesialis konsultan untuk kasus-kasus khusus. Begitu pula untuk menjadi subspesialis atau spesialis konsultan, diperlukan pendidikan formal alias sekolah kembali selama 2-3 tahun.

Ternyata tidak berhenti sampai di sana. Dokter yang memutuskan untuk menjadi dokter primer, begitu juga para spesialis, harus selalu mengikuti perkembangan ilmu kedokteran dengan mengikuti berbagai seminar dan workshop ilmiah—yang rata-rata biayanya tidak murah. Setiap 5 tahun sekali ada kewajiban memperbaharui regitrasi dokter. Untuk registrasi ulang tersebut membutuhkan nilai kredit tertentu, dan pundi-pundi kredit hanya bisa didapat dengan mengikuti simposium ilmiah tersebut.

Seminar akan memaparkan ilmu dan penatalaksanaan mutakhir. Penelitian terbaru mencabut penelitian sebelumnya, akibatnya prosedur tetap penanangan suatu penyakit berubah dari begini menjadi begitu. Juga penggunaan obat ini yang selama ini dipakai untuk penyakit itu, setelah diteliti, ternyata memiliki efek demikian, sehingga bla bla bla. Karena itu penanganan darah tinggi tidak lagi menggunakan guideline 2003 melainkan 2013. Dan sebagainya, dan sebagainya.

 

Artinya apa?

 

Ilmu mengenai kesehatan dan penyakit makhluk komplikatif yang disebut manusia sangatlah luas dan terus berubah. Masih banyak teori dan guideline yang dapat terus berubah seiring berkembangnya penelitian dan penelitian. Adalah merupakan tanggung jawab dokter untuk terus mempelajarinya agar dapat memberikan pelayanan optimal. Hal ini dikarenakan setiap orang yang bertitel “dr.” telah melantunkan sumpah profesi. Satu di antara 13 sumpah itu adalah “saya akan senantiasa mengutamakan kesehatan penderita”. Bagaimana mungkin dapat mengutamakan kesehatan penderita bila pengetahuan dan keterampilan tidak terus diasah dan diperbaharui?

Tapi ternyata bukan hanya ilmu kedokteran yang terus perlu ditempa. Dokter yang telah menjalankan tugasnya sesuai prosedur, namun tidak mampu mengkomunikasikannya ke pasien dan keluarga, dapat berakhir di penjara. Entah memang komunikasinya yang buruk, atau karena ada pengacara yang “berjaga” di rumah sakit.

Pada akhirnya, jas putih, kalung stetoskop, dan titel “dr.” tidak berarti apa-apa bila tidak diimbangi dengan ilmu yang harus terus diasah. Sebaliknya, hakikatnya mereka adalah beban yang direkatkan di pundak, untuk kelak dipertanggungjawabkan yang bukan hanya kepada manusia. Dan tetap, sejak zaman hipocrates hingga sekarang, dokter adalah profesi terhormat. Setiap dokter berkewajiban untuk menjaganya, sesuai yang telah diikrarkan, “saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhu jabatan kedokteran”.

Euforia memang tidak kan bertahan lama. Seorang dokter spesialis yang cukup populer di jagat maya pernah berujar di medsosnya, bahwa mahasiswa kedokteran atau dokter baru akan begitu bangga bekerja mengenakan jas putih, namun dokter yang sudah senior akan jarang memakainya. Mungkin alasannya beragam, bisa karena gerah, atau baginya jas putih bukanlah barang spesial lagi, melainkan yang terpenting adalah keilmuan dan kemampuannya menangani pasien dengan baik.

Profesi kedokteran adalah sama seperti yang lainnya. Terpenting bukanlah saling membangga-banggakan atas satu sama lain. Setiap profesi memiliki peran dan tanggung jawabnya masing-masing, dan kesemuanya diperlukan untuk menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan yang luhur.

 

White coat doesn’t make you a doctor; knowledge, skill, and attitude do

Advertisements
Categories: merenung, pembelajaran | Tags: , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: