Monthly Archives: October 2014

Sepi Pangeran Sandri

Burung itu terus bernyanyi. Seolah teriringi, para tamu mengayun-ayunkan tangan dan tubuh mereka, kemudian berputar, terus demikian. Raja pun merapatkan mata dalam tahtanya, terbuai dalam alunan. Semua yang di sana, di balairung kastil mewah itu, menari dan menggerakkan kaki, tersenyum memamerkan gigi. Sepekan sekali atau dua kali balairung terisi dengan pesta keluarga raja dan para bangsawan. Di sana tak ada yang berwajah muram, bermuka sedih, dan mengernyitkan dahi, karena adalah bahagia. Hingga larut malam para manusia pesta terhanyut, dan burung itu terus bernyanyi.

Kecuali seorang yang hanya duduk tanpa ekspresi. Ia bertelekan di tahta menawan, tepat di samping kiri raja. Tapi raja dan ratu sedang tak berada di tahta mereka, karena aroma malam serta rasa alcohol membuat mereka turun ke tengah untuk meletakkan sedikit kehormatan. Tapi seorang itu tetap saja diam. Matanya yang persis ayahnya dan rambutnya yang keriting persis ibunya hanya memandang melamun. Tanpa arti, sebagaimana hatinya yang sepi.

***

Raja dan ratu belum terbangun—percuma mengharapkan mereka, meski matahari mulai menaiki bukit. Samar-samar cahaya pagi yang malu memasuki celah-celah jendela, hingga Sandri mampu melihat wajahnya di cermin tanpa lilin. Tak pernah ada yang dirasakannya di kastil, karena tak pernah ada kehidupan yang berbeda. Sedikit ia melirik dua orang berbadan tegap yang menjaga pintu kamarnya dengan tombak panjang—namun dua orang itu diperintahkan tak bergerak seinci pun saat berjaga—kemudian berpapasan dengan bendaharawan kerajaan. Tak seperti semalam, kini mukanya yang tak bahagia menatap Sandri penuh harap. “Percuma”—begitu mata Sandri berkata. Tanpa kuasa untuk mengetuk pintu raja, kembali sang bendaharawan menekan kacamata tebalnya dan berputar dengan gelisah.

Lapangan tengah kastil selalu indah pada pagi cerah. Kebun yang dipangkas sedemikian rupa oleh para tukang dan air mancur tepat di tengahnya, dilengkapi kursi-kursi berjajar yang dihinggapi para bangsawan. Seorang pustakawan berkaca mata dan jenggot tebal sekilas menengadah, memandang Sandri yang menjadi gelisah. Tapi tak ada alasan baginya untuk gelisah karena sepekan sekali Sandri tak perlu dikurung di kamar baca sang pustakawan, dan itu adalah hari ini.

Layaknya anak-anak penduduk miskin yang diizinkan memasuki halaman kastil pada hari libur, Sandri mondar-mandir dan para penjaga tidak mengacuhkannya—sebagaimana sesuai harapan. Hingga ia tepat di sudut yang sudah sangat familiar. Sudut yang tak pernah berubah. Mengherankan memang kerajaan yang mengklaim kaya raya tak pernah memerhatikan bagian sudut kastil yang sedikit retak. Dan sandri kemudian sedikit membungkuk.

***

Padang rumput yang membentang luas ditemani bukit-bukit. Bukan bukit yang tinggi sehingga seorang bocah seperti Sandri tak perlu khawatir kelelahan. Juga pohon rindang di atas, semak-semak yang sedikit, dan petak-petak ladang. Adalah sempurna ciptaan Sang Maha yang menciptakannya tanpa ada cacat. Perlu waktu jutaan tahun? Ratusan juta tahun? Atau kah lebih untuk menciptakan kesempurnaan ini? Setidaknya tidak masuk akal perkataan sang pustakawan kalau ini semua terjadi begitu saja secara kebetulan—begitulah pikir Sandri setiap melintas padang rumput di luar kastil.

Tak lama, sebuah lembah beralaskan padang rumput membiarkan anak-anak desa berenang di danaunya. Tiga, empat, lima anak saling bersahut dan tertawa girang, yang kemudian diputus oleh suara nyaring bagaikan kicauan di tepian. Ia adalah anak yang lebih besar, mungkin sebaya dengan Sandri. Kemudian tangannya ditepukkan satu sama lain, yang membuat anak-anak danau menepi, memakai pakaian, kemudian berlari.

“Kamu tinggal di komplek kastil, bukan begitu?” si anak lelaki itu pun secepat kilat menghampiri Sandri. “Ah,” Sandri melihat pakaian lawan bicaranya, khas pakaian penduduk desa yang lusuh. “Ya,” pandangan Sandri beralih ke pakaiannya sendiri. Agaknya aneh bahwa si anak yang berpakaian baguslah yang merasa malu. “Bukan hal yang wajar anak penghuni komplek kastil berjalan tanpa pengawal di luar. Tapi kamu tidak perlu resah.”

“Ah, ya. Suasana kastil menyesakkan. Tak kutemukan ketenangan hati selain di sini, alam lestari.”

“Kalau begitu,” si anak lusuh membentangkan tangan lusuhnya. “Untuk ketenanganmu, maukah kau mendengarkanku bernyanyi?”

“Tentu menyenangkan sekali mendengar nyanyian di tepi danau ini. Aku akan mendengarkanmu.”

“Walaupun suaraku takkan sebagus para penyanyi di kastil,” ia menengadahkan kepala ke langit, seolah baitnya berada di awan. “Tapi dengarkanlah,” mulutnya membuka lebar, nada nyanyian dalam suara nyaring bagaikan kicauan pun keluar perlahan-lahan.

Padang pasir nan gersang dan terik, tak berbelas kasih kepada manusia

Walau ia kelaparan di hari ke tujuh, hingga tak ada lagi air tersisa di hari ke sepuluh

Tak sehembus nafas pun di sana, selain miliknya yang tersengal-sengal

Bahkan tak pula kudanya, yang terjatuh mati kehausan

Malang nasibnya, laki-laki gagah dari taman indah yang pergi berjelajah

Kulitnya kering, bibirnya pecah, dan halusinasi menggerogoti nyawanya.

Tak ada yang mampu menolongnya, hingga nyanyian merdu membangunkan jiwanya

Menggerakkan tangannya, memacu jantungnya, membuka matanya

Tak pernah semerdu ia mendengar nyanyian, tak pula di taman-taman istananya

Dan seeokor burung pun berbicara, bahwa ia utusan Sang Maha

Menyampaikan pesan bahwa tanah legenda hanya bisa dimasuki jiwa yang tenang

Maka masuklah ia ke tanah di balik padang pasir, tanah legenda yang memberi harapan

Bukit mentari, hingga sang laki-laki mendirikan kerajaan di sana, Kerajaan Kebahagiaan

“Aku tahu lagu itu,” Sandri memberikan senyuman penghargaan kepada sang penyanyi. “Tentu saja. Seluruh penduduk Bukit Mentari tahu lagu itu. Legenda Raja Tanriy. Asal mula berdirinya kerajaan ini,” balas si anak lusuh.”

“Dengan begini telahlah kita menjadi teman.”

“Teman?” Sandri terheran seolah pertama kali ia mendengar kata itu.

“Ya. Teman adalah orang yang mau mendengarkan kita bernyanyi, meskipun sumbang, meskipun sudah tahu lagunya.”

“Ah, ya. Baiklah, teman,” Sandri yang sedari tadi duduk tegak mulai melonggarkan posisinya. “Apa yang bisa kuberikan sebagai balas budi atas nyanyianmu, teman?”

“Ceritakan kepadaku mengenai kastil. Kami anak-anak desa hanya bisa melihat kegagahannya dari jauh. Terkadang kembang api meluncur tinggi pada hari Rabu atau Sabtu. Lagipula, bagaimana kau bisa ke sini tanpa pengawasan penjaga, teman?”

“Ada bagian dinding yang retak di sisi utara. Memang di sana adalah lapisan paling tipis. Para pekerja kastil yang dibuai oleh alkohol membuatnya selama bertahun-tahun dibiarkan. Komplek kastil sangatlah luas, kau tahu, teman? Bahkan di bawah tanah ada lorong dan jalan-jalan rahasia. Akan kuceritakan padamu besok bersama peta kastil.”

Si anak desa tersenyum memamerkan lebar bibirnya yang kotor. “Terima kasih, teman. Besok, di jam yang sama, mari saling bertukar cerita di tepi danau ini.”

***

Tidak biasanya pagi sudah berisik di gedung utama kastil. Seorang wanita kerabat Raja berteriak marah dan menangis, setelah semalam melihat cairan kekuningan dari kemaluan suaminya. Skandal perselingkuhan bukanlah yang pertama dan tidak lagi sebagai kejadian luar biasa. Gosip di antara penghuni kastil mengalir ke berbagai arah hingga ke setiap sudut sempit.

Tapi bukan itu keributan terbesar. Raja sakit. Burung bersuara merdu di sangkar yang sebelumnya mampu mengobati semua penyakit raja tak lagi dapat menyembuhkan. Berkali-kali Raja meminta sang burung bernyanyi, tapi tetaplah sama.

Keributan bukan hal yang menyenangkan bagi Sandri. Hingga ia tepat di sudut yang sudah sangat familiar. Sudut yang tak pernah berubah. Mengherankan memang kerajaan yang mengklaim kaya raya tak pernah memerhatikan bagian sudut kastil yang sedikit retak. Dan sandri kemudian sedikit membungkuk.

***

“Ada apa teman?” Sandri menghampiri teman barunya yang bermuka sedih.

“Ayah temanku di desa baru saja memejamkan mata untuk selamanya.”

“Ah, turut berduka, teman.”

“Masyarakat desa sangat miskin, kau tahu itu, temanku yang tinggal di komplek kastil?” ujar teman Sandri. “Ironis, bukan? Walau memiliki nama Kerajaan Kebahagiaan, seluruh rakyatnya kelaparan. Hampir setiap hari selalu ada warga yang meninggal, seolah nyawa mereka begitu murah.

“Tapi itu tak terjadi padamu bukan, teman penghuni kastil?” Sandri sedikit menundukkan kepala mendengarnya. “Walau pun, sering kami didatangi burung bulbul bersuara merdu. Ia adalah utusan Sang Maha, berkeliling negeri semenjak subuh. Adalah kesaksian atas penderitaan rakyat yang kan ia sampaikan, juga tugasnya melantukan melodi yang dapat menyembuhkan.”

“Burung bulbul?” Sandri teringat dengan apa yang menggantung di samping tahta ayahnya. “Ya. Kini ia sudah ditangkap oleh Raja, dan kabarnya burung mulia itu terus dipaksa bernyanyi hanya demi kepuasan Raja. Betapa malangnya dia.

“Tapi itu semua adalah skenario Sang Maha. Tak lama lagi, tugas burung bulbul kan segera selesai,” tetiba teman Sandri tersenyum lebar, pandangannya menusuk tajam langit. “Ah, teman, mari penuhi janji kita kemarin. Di tepian danau ini, mungkin saja kelak kan ada penyair yang menuliskan lagu tentang pertemanan anak desa dan anak penghuni kastil.”

“Ah. Aku ingin sekali mendengarnya, jika kan ada,” ujar Sandri.

“Aku yakin kelak kan ada. Sekarang, kau bawa peta kastilmu?”

***

Kaki Raja menghitam dan berbau busuk. Di tahtanya, Raja mencak-mencak kepada burung yang bertengger di sangkar mewah di samping tahtanya. Kemudian, burung itu tak terlihat lagi di sangkar, dan Sandri mendengar bahwa Raja akan menyantap hidangan khusus malam tersebut: daging burung.

Tapi keributan belum berhenti. Sepertinya para penasihat Raja, terutama panglima pasukan kerajaan, terlihat panik dan berkeringat deras. Sedikit Sandri mendengar pertemuan yang berisik itu. Bahwa ribuan pasukan berbaju besi dan ketapel api dan menara perang siap memberikan kunjungan. Tersiar juga desas desus masyarakat desa yang memberikan bantuan perbekalan—yang sangat sedikit itu—kepada mereka. Sebagai gantinya mereka diberi tombak, pedang, dan perisai: siap bergabung untuk menjatuhkan kastil.

Tapi Raja seolah tak peduli. Baru saja kakinya yang membusuk dipotong. Ia hanya berbaring dalam air mata dalam peraduannya, tak percaya dirinya yang begitu mulia menjadi manusia tanpa kaki. Akhirnya, dalam keadaan kehilangan pemimpin, panglima bergerak sendiri menyiapkan pasukan. Tapi kapan terakhir kali mereka berlatih perang? Pesta pora telah melemahkan pegangan mereka, meruntuhkan mental mereka.

Tak lama pun, di hari bersejarah itu—mungkin saja akan ada penyair yang menggubah lagu Tembok Rapuh Kerajaan Kebahagiaan—benteng dihancurkan dengan mudah. Di sana, di sudut yang tak pernah berubah. Mengherankan memang kerajaan yang mengklaim kaya raya tak pernah memerhatikan bagian sudut kastil yang sedikit retak. Pasukan musuh pun dengan mudah melewatinya, layak tamu yang sopan.

Raja dan Ratu entah di mana. Mereka sudah kabur melalui lorong rahasia, tapi tak lama. Entah bagaimana caranya namun sepertinya musuh sudah mengetahui detil seluruh lorong dan jalan rahasia. Raja dan seluruh keluarganya tak ada yang lolos dari hukuman pancung.

Sandri pun sendiri. Tak ada yang memedulikan kehadiran anak kecil di tengah perang. Tak ragu sedikit pun bahwa ia akan ditinggal kabur oleh orang tuanya. Seharian ia duduk di padang rumput di bukit mentari, memandangi kastil yang dulu didiaminya diporak-porandakan musuh.

Kemudian, bertepatan dengan terbitnya matahari di ufuk timur, perang usai. Bendera baru berkibar. Seluruh rakyat yang dahulunya bagian dari Kerajaan Kebahagiaan bersorak bahagia, meyambut harapan baru. Tapi Sandri hanya seorang diri, berjalan perlahan menuju reruntuhan kastilnya. Ia memandang keramaian selebrasi dalam lamunan. Tanpa arti, sebagaimana hatinya yang sepi.

Dua tiga manusia berbaju besi nan gagah pun menghampirinya, menaikkan tangan mereka untuk mengusirnya, namun diputus oleh suara nyaring bagaikan kicauan.

“Suatu saat, aku yakin akan ada yang menyanyikan lagu mengenai kita, teman.” Teman Sandri kini tak lagi lusuh, namun memakai baju megah dengan emblem kerajaan di dadanya. “Jika kita bertemu kembali nanti, maukah kau menyanyikan lagu itu untukku, teman?”

Sandri diam. Memandang temannya tanpa arti, sebagaimana kini fisiknya pun merasa sepi. “Ya, teman. Walaupun kelak kita bertemu dalam keadaan saling berhadapan, aku akan menyanyikannya. Hari ini adalah terakhir kalinya aku memanggilmu ‘teman’, tapi aku yakin, walau suaraku sumbang, walau kau sudah tahu lagunya, kau akan tetap mendengarkannya.” Sandri menatap tajam lawan bicaranya, tak memedulikan pasukan berbadan besar dan berwajah keras di sekitarnya. “ Aku akan sangat menunggu waktu itu, Sandri.”

“Ah, aku pun begitu, Pundra. Selamat tinggal.”

Bertepatan dengan terbitnya matahari di ufuk timur, Raja baru berdiri tegak di Bukit Mentari. Namun alam di sana masih sama. Padang rumput yang membentang luas ditemani bukit-bukit. Bukan bukit yang tinggi sehingga seorang bocah seperti Sandri tak perlu khawatir kelelahan. Juga pohon rindang di atas, semak-semak yang sedikit, dan petak-petak ladang. Namun, di balik semua keindahan itu, terdapat padang pasir yang tak berbelas kasihan kepada manusia. Enam ratus tahun lalu terdapat nyanyian mengenai raja pertama yang melintasi keganasan tersebut. Kini, seolah ingin mengulangi sejarahnya, seorang anak melangkahkan kakinya di sana dengan mantap.

Langkah anak tersebut penuh arti, walaupun hatinya selalu sepi.

Advertisements
Categories: narasi | 1 Comment

Halaman Terakhir

lastpageKapankah suatu cerita berakhir? Dalam novel-novel picisan yang suka kita baca, akhir suatu perjalanan dapat diketahui di halaman terakhir. Setebal apa pun buku itu, sepanjang bagaimana pun perjalanannya, selalu akan ada halaman terakhir untuk menutup kisah.

Apakah halaman terakhir adalah begitu ditunggu-tunggu? Mungkin kita telah berubah menjadi generasi instan. Kemudahan mendapat informasi dan kecanggihan fasilitas yang ada membuat manusia modern ingin serba praktis. Tidak perlu seseorang menulis panjang lebar di koran, majalah, atau website untuk mengutarakan pendapat. Kicauan-kicauan singkat di twitter dan status yang selalu diperbarui di facebook cukup untuk merangkum semua. Kita telah mempelajari di bangku sekolah mengenai komponen tulisan, tujuan-tujuannya, dan kesimpulan penutup. Namun tulisan singkat di media sosial tak pernah membutuhkan itu.

Kebiasaan menulis dengan singkat juga menumbuhkan budaya membaca dengan singkat. Dulu ada teknik membaca cepat dengan beragam caranya, tapi kini metodenya berubah: cara membaca singkat yaitu hanya baca tulisan yang singkat. Jika suatu tulisan terlalu panjang, segera ditutup dengan alasan agar tidak mebuang waktu—padahal seringnya waktu kita digunakan untuk hal yang tidak bisa dijelaskan.

Melompat langsung ke halaman belakang agar tahu kisah akhir dalam waktu pendek—itukah tujuan membaca suatu cerita? Tentu banyak pesan yang hendak disampaikan, tapi hal tersebut jarang sekali berada di halaman terakhir.

Suatu perjalanan bernilai berharga dan mendebarkan ketika berada di tengah, bukan di akhir. Apakah itu perjalanan yang menyedihkan ataupun membahagiakan, terkadang sang pelaku sendiri tidak ingin tahu bagaimana endingnya. Kesulitan, kesedihan, dan kesenangan membuatnya begitu sibuk dan asyik, tak peduli dengan halaman terakhir. Begitu pula seseorang yang begitu bekerja keras untuk mendapatkan kekayaan—pada akhirnya ia akan memahami bahwa petualangan keras untuk meraihnya jauh lebih berharga ketimbang harta itu sendiri.

Mungkin tidakhlah perlu berimajinasi bagaimana halaman terakhir berkisah, karena akhiran ditentukan oleh proses. Tentu seringkali ada hal yang tidak terduga, apakah musibah atau mukjizat, yang bisa sangat mengubah jalan cerita. Tapi tidak perlu khawatir, karena narasi memang tidak pernah menarik jika tidak ada hal yang mengejutkan di tengah-tengah.

Ketika menuliskan cerita, komponen konflik harus selalu ada: itulah yang membuatnya menarik. Tanpa konflik maka tidak ada cerita. Itu pula yang membuat sang pembaca tenggelam dalam keasyikan. Sang tokoh utama pun mungkin merasakan demikian. Di akhir narasi, kita pun sadar bahwa konflik adalah sesuatu yang sebaiknya disyukuri.

Akhir dari kehidupan selalu kematian. Ngeri, menyeramkan setiap kali dibayangkan. Katanya tak ada yang menandingi rasa sakit saat menuju kematian. Kemudian hal-hal sesudahnya, lebih merinding lagi untuk dipikirkan. Tapi tentu bukan akhiran tersebut yang menjadi cerita utama. Tidak ada tempat untuk menceritakan kematian, karena orang yang sudah mati tak pernah kembali. Sebaliknya, petualangan-petualangan di dalamnya seringkali menjadi sang penentu kualitas kematian. Apa yang dikenang oleh orang-orang pun bukanlah bagaimana akhir hidup atau proses kematian, melainkan cerita perjalanan hidupnya.

Tidak perlu tergesa membuka halaman terakhir, karena ia sesuatu yang mutlak. Jalan cerita yang dipaparkan oleh penulis di halaman awal dan akhir menentukan penutup cerita. Setiap manusia yang hidup adalah penulis bukunya masing-masing. Tinta yang ia torehkan di halaman awal dan tengah akan menentukan akhir hidupnya. Tentu saja, pembelokan plot cerita di tengah sangat mungkin dilakukan setiap penulis dan hal tersebutlah yang membuat cerita menjadi layak dibaca.

Namun kisah tidak selalu berakhir dalam satu buku. Pun ternyata kematian bukanlah penutup yang absolut, melainkan hanya istilah lain dari kata “bersambung”. Akan ada buku kedua atau sekuel. Cerita seperti apa yang akan ada di buku lanjutan? Seperti pada novel-novel picisan yang suka kita baca, bahwa isi cerita di buku kedua ditentukan oleh jalan cerita di buku pertama.

Categories: merenung | Leave a comment

Bukan Hanya Tentang Jas Putih

white coat

white coat

Tak perlu diragukan lagi bahwa profesi dokter adalah terhormat. Di mana-mana, baik di kota maupun di desa, begitu pula di luar negeri, dokter dianggap sebagai profesi berprestise tinggi. Seorang dosen ilmu kesehatan masyarakat pernah bercerita, bahwa di desa seorang dokter pun akan ditanyakan pendapatnya mengenai persawahan. Memang tidak banyak orang pintar alias berpendidikan tinggi yang mau membaktikan diri di desa atau tempat terpencil, kecuali dokter yang sedang dalam penempatan atau sengaja menetap. Pun di kota besar. Seorang yang mengenakan jas putih terkesan memiliki harta penghasilan yang besar karena pekerjaannya. Walau sebenarnya, tidak sedikit dokter yang hidupnya cukup sederhana.

Bila anak-anak kecil ditanyakan, “kalau gede mau jadi apa?” jawabannya biasanya antara “mau jadi presiden” dan “mau jadi dokter”. Gambaran status tinggi yang melekat pada diri dokter telah melekat pada benak masyarakat semenjak kecil. Setidaknya teman-teman dari fakultas lain pun berkomentar hal yang kurang lebih sama. Seolah dokter adalah orang yang paling pintar, terjamin kesuksesannya, dan berkedudukan tinggi. Memang isu bahwa banyak dokter yang kondisi ekonominya menengah ke atas—terutama dokter spesialis—adalah fakta.

Mungkin inilah salah satu alasan banyak yang berlomba-lomba kuliah kedokteran. Universitas-universitas swasta pun menyambutnya dengan berlomba pula membuka program studi tersebut. Tentu alasan menjadi dokter amatlah bervariatif, namun satu alasan ini bisa jadi irisan yang sama di antara alasan-alasan yang lain.

Saat tengah menjadi mahasiswa, rasanya adalah mimpi dapat mengenakan jas putih seperti para konsulen, diiringi tanda pengenal dengan titel “dr.” di belakang. Terkadang, berbekal jas laboratorium atau jas koas, serta stetoskop dikalungkan, sudah bisa menjadi foto yang bagus untuk dipajang di medsos.

Setelah pendidikan kedokteran yang panjang dan melelahkan selama 5 tahun atau lebih, akhirnya mimpi itu tercapai. Satu hal yang tidak boleh dilewatkan ialah berfoto sambil mengenakan jas dokter sungguhan dan kalung stetoskop. Ya, kebanggaan yang pantas setelah usaha yang keras dan lama untuk meraihnya.

Tapi sepertinya euphoria itu tidak berlangsung lama. Secara umum pendidikan kedokteran terkenal lama karena minimal ditempuh selama 5 atau 6 tahun. Walau demikian, pendidikan sekian tahun tersebut kemudian kan disadari serasa “tidak cukup”. Cakupan ilmu yang sangat luas ditambah tanggung jawab yang besar karena menangani kehidupan manusia tidak kan pernah membuat seorang dokter merasa cukup.

Lima atau enam tahun pendidikan dokter umum hanya menghasilkan pengetahuan yang sepotong-sepotong dan terbatas. Kasus-kasus yang butuh penanganan mendalam di rumah sakit ataupun pelayanan primer harus dikonsultasikan ke dokter spesialis. Seorang dokter untuk menjadi spesialis mesti sekolah kembali selama 4-5 tahun—ada pula yang 6 tahun. Terkadang—dan tidak jarang—seorang dokter spesialis berkonsultasi ke dokter subspesialis atau spesialis konsultan untuk kasus-kasus khusus. Begitu pula untuk menjadi subspesialis atau spesialis konsultan, diperlukan pendidikan formal alias sekolah kembali selama 2-3 tahun.

Ternyata tidak berhenti sampai di sana. Dokter yang memutuskan untuk menjadi dokter primer, begitu juga para spesialis, harus selalu mengikuti perkembangan ilmu kedokteran dengan mengikuti berbagai seminar dan workshop ilmiah—yang rata-rata biayanya tidak murah. Setiap 5 tahun sekali ada kewajiban memperbaharui regitrasi dokter. Untuk registrasi ulang tersebut membutuhkan nilai kredit tertentu, dan pundi-pundi kredit hanya bisa didapat dengan mengikuti simposium ilmiah tersebut.

Seminar akan memaparkan ilmu dan penatalaksanaan mutakhir. Penelitian terbaru mencabut penelitian sebelumnya, akibatnya prosedur tetap penanangan suatu penyakit berubah dari begini menjadi begitu. Juga penggunaan obat ini yang selama ini dipakai untuk penyakit itu, setelah diteliti, ternyata memiliki efek demikian, sehingga bla bla bla. Karena itu penanganan darah tinggi tidak lagi menggunakan guideline 2003 melainkan 2013. Dan sebagainya, dan sebagainya.

 

Artinya apa?

 

Ilmu mengenai kesehatan dan penyakit makhluk komplikatif yang disebut manusia sangatlah luas dan terus berubah. Masih banyak teori dan guideline yang dapat terus berubah seiring berkembangnya penelitian dan penelitian. Adalah merupakan tanggung jawab dokter untuk terus mempelajarinya agar dapat memberikan pelayanan optimal. Hal ini dikarenakan setiap orang yang bertitel “dr.” telah melantunkan sumpah profesi. Satu di antara 13 sumpah itu adalah “saya akan senantiasa mengutamakan kesehatan penderita”. Bagaimana mungkin dapat mengutamakan kesehatan penderita bila pengetahuan dan keterampilan tidak terus diasah dan diperbaharui?

Tapi ternyata bukan hanya ilmu kedokteran yang terus perlu ditempa. Dokter yang telah menjalankan tugasnya sesuai prosedur, namun tidak mampu mengkomunikasikannya ke pasien dan keluarga, dapat berakhir di penjara. Entah memang komunikasinya yang buruk, atau karena ada pengacara yang “berjaga” di rumah sakit.

Pada akhirnya, jas putih, kalung stetoskop, dan titel “dr.” tidak berarti apa-apa bila tidak diimbangi dengan ilmu yang harus terus diasah. Sebaliknya, hakikatnya mereka adalah beban yang direkatkan di pundak, untuk kelak dipertanggungjawabkan yang bukan hanya kepada manusia. Dan tetap, sejak zaman hipocrates hingga sekarang, dokter adalah profesi terhormat. Setiap dokter berkewajiban untuk menjaganya, sesuai yang telah diikrarkan, “saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhu jabatan kedokteran”.

Euforia memang tidak kan bertahan lama. Seorang dokter spesialis yang cukup populer di jagat maya pernah berujar di medsosnya, bahwa mahasiswa kedokteran atau dokter baru akan begitu bangga bekerja mengenakan jas putih, namun dokter yang sudah senior akan jarang memakainya. Mungkin alasannya beragam, bisa karena gerah, atau baginya jas putih bukanlah barang spesial lagi, melainkan yang terpenting adalah keilmuan dan kemampuannya menangani pasien dengan baik.

Profesi kedokteran adalah sama seperti yang lainnya. Terpenting bukanlah saling membangga-banggakan atas satu sama lain. Setiap profesi memiliki peran dan tanggung jawabnya masing-masing, dan kesemuanya diperlukan untuk menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan yang luhur.

 

White coat doesn’t make you a doctor; knowledge, skill, and attitude do

Categories: merenung, pembelajaran | Tags: , , | Leave a comment

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: