Idul Adha Ikut Tanah Suci atau Pemerintah?

Pada tahun 2015 atau 1435 Hijriyah ini, negara Arab Saudi menetapan 10 Dzulhijah pada hari Sabtu, 4 Oktober. Hari raya penyembelihan kurban di sana pun akan dilaksanakan pada hari Sabtu dan para jamaah haji akan melaksanakan wukuf Arafah pada hari Jumat, 3 Oktober.

http://news.detik.com/read/2014/09/25/013121/2700346/10/arab-saudi-tetapkan-wukuf-3-oktober-sambut-haji-akbar

Di sisi lain, pemerintah melalui siding itsbat Kementerian Agama menetapkan 10 Dzulhijah atau hari raya Idul Adha pada Ahad, 5 Oktober (http://www.tribunnews.com/nasional/2014/09/25/sidang-itsbat-kemenag-menetapkan-idul-adha-1435-h-5-oktober-2014). Akhirya muncul pertanyaan, ikut yang mana, tanah suci atau pemerintah? Kalau mengikuti pemerintah, berarti puasa Arafah dilakukan hari Sabtu, 4 Oktober, padahal di tanah suci hari tersebut sudah memasuki waktu haram berpuasa!

Keutamaan puasa Arafah yang dilaksanakan pada 9 Dzulhijah tidak diragukan. Rasulullah saw. berkata, “Puasa satu hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah), aku berharap kepada Allah, Dia akan menghapuskan (dosa) satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya. Puasa hari ‘Asyura’ (tanggal 10 Muharram), aku berharap kepada Allah, Dia akan menghapuskan (dosa) satu tahun sebelumnya.” (HR. Muslim, no 1162, dari Abu Qatadah). An-Nawawiy ra. Berpedapat bahwa jenis dosa yang diampuni ialah dosa kecil bukan dosa besar (Al-Majmu’ Syarhul-Muhadzdzab, 6/382). Mengenai pengampunan dosa yang akan datang (belum dilakukan), ulama berbeda pendapat. Sebagian mengatakan jika nanti berbuat dosa, puasa Arafah yang telah dilakukan menjadi penghapus dosanya. Sebagian lagi berpendapat maksud dari hadis tersebut ialah Allah menjaga dirinya dari berbuat dosa (Al-Majmu’ Syarhul-Muhadzdzab, 6/381).

Jadi ikut yang mana?

Sebagaimana pada penetapan 1 Ramadhan dan 1 Syawal, yang terbaik ialah mengikuti mayoritas kaum muslim di wilayah masing-masing. Rasulullah saw. berkata, ““Puasa kalian ditetapkan tatkala mayoritas kalian berpuasa, hari raya Idul Fithri ditetapkan tatkala mayoritas kalian berhari raya, dan Idul Adha ditetapkan tatkala mayoritas kalian beridul Adha.” (HR. Tirmidzi no. 697. Hadits ini shahih kata Syaikh Al Albani).

Begitu pula cerita seorang sahabat ketika ia sedang berkunjung ke Syam. Di sana, ia telah melihat hilal, sehingga pendudukdi Syam memasuki hari raya berbuka (idul fithri). Ketika kembali ke Madinah, Ibnu Abbas mengatakan bahwa penduduk Madinah belum melihat hilal, sehingga menggenapkan puasa menjadi 30 hari. Ketika sang sahabat bertanya mengapa tidak mengikuti daerah yang sudah melihat hilal, dijawab, “Tidak, seperti ini yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kami.” (HR. Muslim no. 1087)

Yusuf Qardhawi dalam bukunya “Fiqh Puasa” telah menjelaskan panjang lebar bahwa bersatu dalam hal seperti ini harus lebih diprioritaskan ketimbang bersikukuh dengan pendapat masing-masing. Begitu pula dengan masalah penetapan hari raya pada satu negara. Beliau berpendapat adalah hal yang sangat disayangkan bila dalam satu negara—apalagi negara mayoritas muslim—ada perbedaan waktu hari raya. Kebersamaan umat Islam dalam satu waktu hari raya akan lebih indah dan mempersatukan umat.

Banyak yang berkilah “hargai perbedaan pendapat” atau “perbedaan itu indah”. Betul sekali bahwa berbeda dalam hal-hal prinsip bukalah masalah, tapi seharusnya penetapan hari raya umat Islam tidak termasuk dalam kategori ini. BIsa dibayangkan dalam satu kota, atau satu kecamatan, atau satu kelurahan/desa—atau malah satu rumah *geleng-geleng kepala*—sebagian ada yang sudah berhari raya (baca: makan-makan) dan sebagian masih berpuasa? Kita bersyukur perbedaan ini tidak menyebabkan konflik, namun tetap saja bersama-sama berhari raya akan lebih menumbuhkan persadaraan/ukhuwwah.

Berlapang dada atau mengalah dalam perbedaan pendapat di masalah cabang/nonprinsip demi kebersamaan dan persatuan insyaAllah lebih diutamakan. Karena itu, sangatlah dianjurkan umat Islam di Indonesia mengikuti jadwal hari raya yang ditetapkan oleh kebanyakan, atau dalam hal ini adalah pemerintah.

Wallahu a’lam

Eid-ul-Adha-9

Advertisements
Categories: pembelajaran | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: